cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Stabilitas dan adaptabilitas daya hasil hibrida jagung manis padjadjaran berdasarkan analisis AMMI Dedi Ruswandi; Edy Suryadi; Muhammad Syafii; Anne Nuraini; Yuyun Yuwariah
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8153

Abstract

Evaluasi interaksi G x E melalui pengujian multilokasi merupakan tahapan penting untuk menentukan stabilitas dan adaptabilitas hibrida superior. Untuk menentukan interaksi G x E, stabilitas dan adaptabilitas hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat, enam belas hibrida Padjadjaran dan dua hibrida komersial diuji di tiga lokasi selama dua musim yang berbeda di Jawa Barat- Indonesia. Hasil memperlihatkan bahwa biplot AMMI dapat dengan akurat menentukan interaksi G x E, stabilitas, dan adapatabilitas hasil hibrida jagung manis Padjadjaran di Jawa Barat. Biplot AMMI mengidentifikasi bahwa hibrida jagung manis Padjadjaran G 10 sebagai jagung manis yang stabil di berbagai lokasi pengujian dan musim di Jawa Barat, sedangkan hibrida jagung manis Padjadjaran G5 dan Padjadjaran G11 sebagai hibrida yang spesifik lingkungan.  Biplot AMMI disarankan sebagai alat menentukan hibrida superior yang akan dilepas di Indonesia.Evaluation of genotype (G) x environment (E) interaction through multi-location testing is an important phase to determined stability and adaptability of superior hybrid. To determined G x E interaction, stability and adaptability of Padjadjaran sweet corn hybrids, sixteen new Padjadjaran sweetcorn hybrids and two commercial hybrids were tested in three locations for two different seasons in West Java, Indonesia.  Results showed that AMMI biplot was accurately determined G x E interaction, stability and adaptability of Indonesian sweet corn in West Java for yield. The AMMI biplot determined Padjadjaran G 10 sweetcorn hybrid as a stable hybrid across locations and seasons in West Java, while Padjadjaran G5 and G11 as the specific environment hybrid. The AMMI biplot is suggested to implement as a tool to release particular superior hybrid in Indonesia. Key words : Adaptability, AMMI, G x E interaction, Sweetcorn, Stabilit
Seleksi dan indeks sensitivitas cekaman kekeringan galur-galur padi sawah tadah hujan Wage Ratna Rohaeni; Untung Susanto
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/3654

Abstract

Cekaman kekeringan hampir terjadi setiap tahun pada sawah tadah hujan. Salah satu teknologi untuk mengatasinya adalah dengan penanaman padi toleran kekeringan. Perakitan varietas toleran kekeringan terus dilakukan dengan mengevaluasi galur-galur yang ditujukan untuk stress kekeringan. Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi, mengevaluasi penurunan hasil, dan mengetahui indeks sensitivitas cekaman kekeringan pada galur-galur tadah hujan hasil seleksi generasi lanjut. Percobaan seleksi cekaman kekeringan dilakukan pada Maret – November 2016 dengan materi genetik sebanyak 135 galur dan Cek Mekongga yang ditanam pada kondisi stress kekeringan (61-72 centibar/Kpa) dan evaluasi galur – galur terseleksi dilakukan pada Februari – Juli 2017 dengan menggunakan rancangan acak kelompok 3 ulangan. Hasil kegiatan seleksi memperoleh sebanyak 19 galur terbaik memiliki toleransi terhadap stres kekeringan untuk dilanjutkan pada kegiatan evaluasi lebih lanjut di kondisi sawah tadah hujan kondisi optimum. Hasil penelitian evaluasi 19 galur menunjukkan sebanyak 4 galur toleran yaitu BP17586-2-0-JK-3-IND-2-SKI-10-PWK-1-SKI-2 (ISK 0.49), BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (ISK 0.49), BP18360-2-3-JK-1-IND-1-SKI-7-PWK-2SKI-1 (ISK 0.16), dan BP18406c-JK-1-IND-0-SKI-3-PWK-2-SKI-1 (ISK 0.1). Galur BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (Y = 4,77 ton ha-1) adalah galur terbaik yang memiliki potensi hasil tinggi lebih baik dari cek Inpari 38 Tadah Hujan dan memiliki toleransi terhadap cekaman kekeringan. Galur ini potensial untuk diuji lebih lanjut dan dikembangkan di sawah tadah hujan.                                                     ABSTRACTDrought stress almost occurs every year in rainfed rice fields. One of the technologies to overcome is by planting drought tolerant varieties rice. Therefore, the assembly of drought tolerant varieties is carried out continuously by evaluating lines intended for drought stress. This study aimed to select, evaluate the decline in yield, and determine the drought tolerance index of rainfed lines resulting from advanced generation selection. Study-1 of drought stress selection experiment was carried out in WS 1 2016 (March – November) with 135 genetic lines and Mekongga as susceptible checks and Inpari 38 as resistant check planted in drought stress conditions (61-72 centibar / Kpa), and study-2 was an evaluation of selected strains carried out in WS 1 2017 (February – July) with 19 selected lines and 3 checks (Mekongga and Ciherang as susceptible check and Inpari 38 as resistant checks) by using a randomized block design with 3 replications. The results of the selection activities (Study-1) obtained as many as 19 of the best lines which had tolerance to drought stress and these lines were continued in further evaluation activities in rainfed lowland with optimum conditions (Study-2). The results showed that 4 of 19 lines were tolerant namely BP17586-2-0-JK-3-IND-2-SKI-10-PWK-1-SKI-2 (DSI - drought stress sensitivity index = 0.49), BP18354-1 -2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (DSI 0.49), BP18360-2-3-JK-1-IND-1-SKI-7-PWK-2SKI-1 (DSI 0.16), and BP18406c-JK-1-IND-0-SKI-3-PWK-2-SKI-1 (DSI 0.1). The BP18354-1-2-JK-3-IND-1-SKI-3-PWK-1-SKI-1 (Y = 4.77 tons ha-1) line was the best strain that had the potential for high yield better than the Inpari 38 Rainfed Check and had tolerance to stress. This strain has the potential to be further tested and developed in rain-fed rice fields.
Aplikasi Trichoderma viride menekan perkembangan Ganoderma boninense di main nursery kelapa sawit media gambut Yusmar Mahmud
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/7143

Abstract

Pembibitan kelapa sawit sering terkendala akibat pengelolaannya belum optimal, sehingga mempengaruhi  produksi  kelapa sawit. Salah satu kendala kelapa sawit adalah penyakit busuk pangkal batang disebabkan oleh Ganoderma boninense.  Pengendalian penyakit busuk pangkal batang diperlukan teknik yang tepat terutama pengendalian yang bersifat ramah lingkungan, seperti Trichoderma viride. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan antagonisme jamur Trichoderma viride untuk menekan perkembangan Ganoderma boninense secara in vitro dan bibit tanaman kelapa sawit umur 7-9 bulan (main nursery). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Januari 2019 – Maret 2019 di Laboratorium Patologi, Entomologi dan Mikrobiologi dan di Lahan Percobaan Fakultas Pertanian dan Peternakan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Metode Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) non faktorial dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa aplikasi 25 g Trichoderma viride mampu menurunkan intensitas serangan Ganoderma boninense menjadi 22,90%. Sehingga pemberian dosis 25 g merupakan dosis yang efektif untuk menurunkan intensitas serangan Ganoderma boninense pada kelapa sawit umur 7-9 bulan (main nursery). Elais guienensis Jacq seedlings in nursery main are often constrained due to less optimal management, affecting the oil palm production. One that opposes oil palm is a rotten disease caused by Ganoderma boninense. Control of stem rot disease requires appropriate suspended technique which is environmentally friendly, such as Trichoderma viride application. Trichoderma viride was applied to supress the development of Ganoderma boninense in in vitro and Elais guienensis Jacq seedlings aged 7-9 months (main nursery). This research was conducted in January - March 2019 at Pathology, Entomology and Microbiology Laboratory and at Experimental Field of Faculty of Agriculture and Animal Husbandry, UIN Sultan Syarif Kasim Riau. This research method used a non factorial completely randomized design with 4 treatments and 5 replications. The result proved that the application of 25 g of Trichoderma viride could supress up to 22.90% the development of Ganoderma boninense. Therefore dose of 25 g T. viride is more effective against Ganoderma boninense pathogen attack for Elais guienensis Jacq aged 7-9 months in main nursery.
Water saving technology package to improve shallot productivity for smallholder farmers in eastern Indonesia Ahmad Suriadi; Lia Hadiawati; Moh Nazam
Jurnal Agro Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/6461

Abstract

Dryland usage for shallot cultivation is very potential in West Nusa Tenggara (NTB) Province Indonesia. However, its utilization is faced with various obstacles such as soil low fertility, limited water availability, and high pest and disease attacks. Currently, farmers apply flood and furrow irrigation methods for shallot cultivation in NTB Province, which may not suitable on dryland, especially on coarse texture soils. The purpose of this study was to obtain a package of water-saving technology to increase the productivity of shallots in the dryland of NTB. There were three treatments of technology packages tested laid as Randomized Block Design: A (Trichoderma sp., bio-urine liquid fertilizer, sprinkler irrigation; B (bio-urine liquid fertilizer, furrow irrigation); and C (farmer practice), involving farmer group members from planning to evaluating for the technology package that being tested. The amount of water used was measured using a water meter. The results showed that package A had achieved the highest shallot yield at 31.6 tons ha-1, which was 14% and 45% higher compared to package B and C, respectively. Package A was also able to save water irrigation for 62.1% and 95.8% compared to package B and C, respectively. Thus, sprinkler irrigation not only can increase shallot yield but also better in saving water irrigation. Penggunaan lahan kering untuk budidaya bawang merah di Nusa Tenggara Barat sangat potensial. Namun hal tersebut terkendala oleh beberapa masalah seperti rendahnya kesuburan tanah, terbatasnya air irigasi, dan tingginya gangguan hama dan penyakit. Saat ini, petani di NTB mengairi tanaman bawang merah dengan cara direndam atau leb yang belum tentu sesuai dengan kondisi lahan kering terutama pada tanah dengan tekstur berpasir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan paket teknologi hemat air yang dapat meningkatkan hasil dan pendapatan budidaya bawang merah di lahan kering. Ada tiga perlakuan paket teknologi yang ditata dengan rancangan acak kelompok yaitu A (Trichoderma sp., pupuk organik cair bio-urine, dan irigasi curah); B (pupuk organik cair bio-urine, dan pengairan leb), dan paket C (cara petani: pengairan leb). Penelitian ini melibatkan petani mulai dari perencanaan sampai evaluasi paket teknologi yang diujikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa paket A menghasilkan produksi tertinggi sebesar 31,6 t ha-1, atau 14% dan 45% ebih tinggi dari paket B dan C. Paket A juga mampu menghemat air irigasi sebanyak 62,1% dan 95,8% dibandingkan dengan paket B dan C. Dengan demikian, penggunaan irigasi curah mampu meningkatkan hasil dan menghemat air irigasi.
Daya hasil dan indeks panen ubi jalar unggul baru berdaging kuning (Ipomoea batatas L. (Lam.)) Agung Karuniawan; Reviana Aulia; Haris Maulana; Debby Ustari; Neni Rostini
Jurnal Agro Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5704

Abstract

Estimasi daya hasil dan indeks panen dalam pemuliaan tanaman dibutuhkan untuk menyeleksi genotip ubi jalar. Genotip ubi jalar terseleksi yang berdaya hasil tinggi dapat digunakan sebagai bahan pendukung diversifikasi pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh genotip ubi jalar berdaya hasil tinggi serta memiliki indeks panen tinggi. Penelitian dilaksanakan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran Kabupaten Sumedang, Jawa Barat dari bulan November 2018 sampai April 2019. Penelitian ini menggunakan delapan genotip ubi jalar dan tiga genotip pembanding (Ac Putih, Kidal, dan Rancing). Metode yang digunakan adalah rancangan acak kelompok (RAK) dengan 11 perlakuan yang diulang sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah ubi per tanaman, jumlah ubi total, jumlah ubi ekonomis, bobot ubi per tanaman, bobot ubi total dan bobot ubi ekonomis menunjukan perbedaan yang nyata. Terdapat tujuh genotip yang berdaya hasil tinggi yaitu MZ 332, PR 91 (838), Awachy 4, KMDK, IND 38 (48), IND 8 (11), IND 264. Terdapat empat genotip ubi jalar unggul baru yang memiliki hasil indeks panen > 1 yaitu, Mz 332, PR 91(838), KMDK, dan IND 8(11).  ABSTRACT Estimation of yield and harvest index on sweet potato are needed to select new superior genotypes of sweet potato in the breeding program. Selected sweet potato genotypes with high yield can be used as supporting material for food diversification. The purpose of this study was to obtain new superior genotypes of yellow-fleshed sweet potato with high yield and high harvest index. The study was conducted in the Experimental field, Faculty of Agriculture, Universitas Padjadjaran, Sumedang Regency, West Java from November 2018 to April 2019. This study used eight sweet potato genotypes as treatment and three genotypes as check i.e. Ac Putih, Kidal and Rancing. The method used was randomized block design (RBD) with 11 treatments repeated three times. The results showed that the numbers of tuber per plant, numbers of tuber per plot, numbers of economic tuber, weight of tuber per plant, total weight per plot, weight of economic tubers were significantly different. There are seven genotypes with the high yield, i.e. MZ 332, PR 91 (838), Awachy 4, KMDK, IND 38 (48), IND 8 (11), IND 264. Four genotypes with harvest index > 1 i.e. Mz 332, PR 91 (838), KMDK, and IND 8 (11).
Bioaktivitas ekstrak biji bintaro terhadap kutu daun Aphis gossypii GLOVER dan pengaruhnya terhadap tanaman cabai Rial Mustiarif; Djamilah Djamilah; Nanik Setyowati; Agustin Zarkani
Jurnal AGRO Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/8380

Abstract

Aphis gossypii Glover hama penting tanaman cabai, dapat dikendalian dengan menggunakan pestisida nabati. Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi waktu aplikasi dan konsentrasi ekstrak kasar biji bintaro (Cerbera odollam G.) dalam mengendalikan A. gossypii Glover serta pengaruhnya terhadap pertumbuhan tanaman cabai. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap, dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama adalah waktu aplikasi ekstrak (waktu sebelum dan waktu setelah infestasi A. gossypii Glover). Faktor kedua adalah konsentrasi ekstrak bintaro (0%, 1%, 2%, 3%, 4% dan 5%). Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi 1% ekstrak biji bintaro menyebabkan mortalitas kutu daunnya 68% sedangkan pada konsentrasi 3% mortalitasnya mencapai 90%. Ekstrak biji bintaro yang diberikan sebelum hama diinfestasikan menyebabkan mortalitas kutu daun 59,5% sedangkan jika diberikan setelah hama diinfestasikan mortalitasnya meningkat menjadi 77,6%. Nilai LC50 dan LC90 ekstrak biji bintaro diaplikasikan sebelum dan setelah hama diinfestasikan secara berurutan adalah 1,8%; 4,4%; 0,57% dan 2,8%. A. gossypii Glover yang diinfestasikan pada tanaman berumur 4 minggu dan disemprot dengan ekstrak biji bintaro pada konsentrasi 1% dapat menurunkan intensitas kerusakan pada hari ke tujuh setelah infestasi dan tidak berpengaruh terhadap jumlah daun, bobot segar maupun bobot kering tanaman cabai. Ekstrak biji bintaro dapat dikembangkan sebagai pestisida nabati untuk mengendalikan hama A. gossypii Glover pada tanaman cabai. Aphis gossypii Glover is an important sucking insect pest of the pepper (Capsicum annum L.), Can be controlled by using natural pesticides. The study aimed to evaluate the application time and concentration of Cerbera odollam G. seed extract in controlling A. gossypii and their effects on pepper, C. annum. Complete randomized design was used in this experiment, with two factors, and was repeated three times. The first factor was the time of application of the extract, consisting of before and after A. gossypii infestation. The second factor was the concentration of C. odollam extract (0%, 1%, 2%, 3%, 4% and 5%). The results indicated the C. odollam seed extract affected the mortality of A. gossypii. At a concentration of 1% of C. odollam seed extract, the mortality of A. gossypii was 68% while at a concentration of 3% the mortality reached up to 90%. C. odollam seed extract applied before infestation, the mortality of A. gossypii was 59.5% whereas, after the infestation, the mortality increased up to 77.6%. LC50 and LC90 extract of C. odollam seeds applied before and after infestation were 1.8%; 4.4%; 0.57% and 2.8% respectively. A. gossypii infested at 8 weeks old pepper and sprayed with C. odollam seed extract at a concentration of 1% lowered the crop damage on the seventh day after infestation. On the other hand, the application of C. odollam seed extract did not affect the number of leaves, fresh weight, and dry weight of pepper. This study indicate that C. odollam seed extract can be developed as a natural pesticide to control A. gossypii on pepper..
Pengaruh konsentrasi Si biogenic dan N-total terhadap pertumbuhan dan konsentrasi nitrat tanaman selada hidroponik Salamet Ginandjar; Budy Frasetya Taufik Qurrohman; Panji Rahmatullah
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/11959

Abstract

Tanaman selada merupakan sayuran yang dikonsumsi dalam bentuk segar. Karakteristiknya sebagai tanaman akumulator nitrat perlu diimbangi pemupukan N dan aplikasi Silika (Si) sesuai kebutuhan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari interaksi ekstrak silika sekam padi (ESSP) dan N-total, serta memperoleh konsentrasi  ESSP dan N-total yang tepat untuk menghasilkan panen selada yang tinggi tetapi aman bagi kesehatan. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap Faktorial, faktor pertama adalah konsentrasi ESSP (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) dan faktor kedua adalah konsentrasi N-total (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm), setiap kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman 35 hari setelah tanam (HST), luas daun, berat kering tanaman, berat segar tanaman, kandungan nitrat pada daun selada. Data dianalisis dengan analisis varians taraf 5% dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5%, sedangkan parameter kandungan nitrat dianalisis secara deskriptif. Berdasarkan hasil analisis varians konsentrasi ESSP dan konsentrasi N-total berinteraksi pada tinggi tanaman dan berpengaruh mandiri terhadap berat kering tanaman dan berat segar tanaman. Aplikasi ekstrak silika sekam padi 30 ppm meningkatkan hasil panen 28% lebih tinggi dan menurunkan 12% kandungan nitrat tanaman selada pada N total 100-300 ppm.AbstractLettuce is a freshly consumed vegetable. Its characteristics as a nitrate accumulator plant need to be balanced with N fertilization and Silica (Si) applications according to the plant required. This research aimed to study the interaction between rice husk silica extract (ESSP) and total N to obtain the right ESSP and total N concentrations to produce high yield lettuce and safely consumed it. This study used a factorial completely randomized design. The first factor was ESSP concentrations (0 ppm, 30 ppm, 60 ppm, 90 ppm) and the second factor was total N concentrations (100 ppm, 200 ppm, 300 ppm). Each treatment combination was repeated 3 times. The parameters observed were plant height in 35 days after planting, leaf area, plant dry weight, fresh plant weight, and nitrat e content in lettuce leaves. The  data  were  analyzed  by analysis of variance at the 5%, and post-test by DMRT at the 5% significant level, the nitrate content used descriptive analysis. Based on the analysis of variance, ESSP concentration and total N concentration interacted on plant height. The ESSP concentration and total N concentration independently affected plant dry weight and fresh plant weight. Application of 30 ppm rice husk silica extract increased 28% higher yield and decreased 12% nitrate content of lettuce plants at N-total of 100-300 ppm.
Keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan silang pada hibridisasi interspesifik ciplukan (Physalis spp) Zainyah Salmah Arruum; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9368

Abstract

Tanaman ciplukan digunakan untuk menghasilkan buah segar, bahan baku nutraceutical, dan biofarmasi. Kapasitas genetik ciplukan dapat ditingkatkan dengan hibridisasi interspesifik. Ketidakcocokan adalah masalah yang muncul pada persilangan antarspesies. Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari keberhasilan dan kompatibilitas penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang hibridisasi interspesifik ciplukan. Penelitian dilaksanakan di Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya pada bulan Januari sampai Juni 2020. Penelitian menggunakan bahan 5 spesies ciplukan, yaitu Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, dan P. ixocarpa. Pola perkawinan dialel digunakan serta pengamatan terhadap hasil penyerbukan diamati. Hasil penyerbukan silang interspesifik memiliki derajat kompatibilitas yang berbeda. Kompatibilitas penyerbukan sendiri pada setiap spesies tinggi. Penyerbukan silang interspesifik P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) kompatibel. Inkompatibilitas parsial terdapat pada penyerbukan silang interspesifik P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2) , P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), dan P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Inkompatibilitas lengkap terjadi pada penyerbukan silang P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) dan P. ixocarpa (PIX-4418-2). Penyerbukan sendiri dan penyerbukan silang yang kompatibel menghasilkan perbedaan pada karakteristik buah dan benih. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), dan P. pubescens (PPB-68154-04) menghasilkan jumlah benih yang berbeda pada penyerbukan silang interspesifik.AbstractCiplukan is used as a fresh fruit, nutraceutical raw materials, and biopharmaceuticals. Genetic capacity of ciplukan can be increased by interspecific hybridization. Incompatibility is an issue obtained during the interspecific hybridization. Research objective was to study success rate and compatibility of self-pollination and cross-pollination ciplukan interspecific hybridization. Research was conducted at Seed and Nursery Industry, Agro Techno Park, Universitas Brawijaya from January to June 2020. Physalis P. angulata, P. peruviana, P. pruinosa, P. pubescens, and P. ixocarpa were species included in this study. A diallel mating design pattern was used as well as observations of pollination. Interspecific cross pollination was found to have differing degrees of compatibility. Compatibility of self-pollination in each species is high. Interspecific cross-pollination of P. pubescens (PPB-68154-04) x P. angulata (PAN-69281) is compatible. Partial incompatibilities exist in interspecific cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. pruinosa (PPN+3101) x P. angulata (PAN-69281), and P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2). Complete incompatibility occurred in cross-pollination of P. angulata (PAN-69281) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. angulata (PAN-69281) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pubescens (PPB-68154-04) x P. pruinosa (PPN+3101), P. pruinosa (PPN+3101) x P. pubescens (PPB-68154-04), P. pruinosa (PPN+3101) x P. ixocarpa (PIX-4418-2), P. peruviana (PPV-45311-03) and P. ixocarpa (PIX-4418-2). Compatible self-pollination and cross-pollination resulted differences in fruit and seed characteristics. P. pruinosa (PPN+3101), P. angulata (PAN-69281), and P. pubescens (PPB-68154-04) developed different numbers of seeds following interspecific cross-pollination.
Parameter genetik kultivar-kultivar jagung local pada cekaman salinitas sedang sakka bin samudin; Jeki Moh. Adnan Khalik; Ruli Akbar; Muliati Muliati; Mustakin Mustakin
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10280

Abstract

Produktivitas jagung di Sulawesi Tengah masih relatif rendah dibanding produksi nasional sehingga perlu ditingkatkan melalui pemuliaan tanaman. Penelitian bertujuan untuk mengkaji parameter genetik tanaman jagung pada cekaman salinitas sedang.  Penelitian dilaksanakan pada Juni sampai Agustus 2019, di Green House Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako, Palu. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri atas 6 perlakuan genotip dan diulang 3 kali serta 5 unit tanaman per perlakuan sehingga terdapat 90 unit percobaan. Parameter genetik yang di analisis adalah koefisiean keragaman genotipik, koefisien keragaman fenotipik, heritabilitas, kemajuan genetik, korelasi, dan analisis sidik lintas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kehijauan daun, bobot tongkol berkelobot, berat tongkol tidak berkelobot, dan berat biji pertongkol memiliki koefisien keragaman genetik tinggi. Kehijauan daun, berat tongkol berkelobot, bobot tongkol tidak berkelobot, panjang tongkol tidak berkelobot, diamater tongkol, berat biji per tongkol dan bobot 100 biji memiliki nilai heritabilitas dan kemajuan genetik tinggi. Seleksi secara tidak langsung dapat dilakukan pada umur panen agar diperoleh hasil jagung lokal yang tinggi pada kondisi tercekam salinitas sedang. Karakter-karakter tersebut dapat dijadikan acuan dalam menyeleksi tanaman jagung dengan cekaman salinitas sedang untuk program pemuliaan jagung.AbstractThe productivity of maize in Central Sulawesi is relatively low compared to national production and needs to be improved by plant breeding. The study aimed to examine the genetic parameters of the maize plant traits at moderate salinity stress. The research was conducted from June to August 2019, at the Green House of the Faculty of Agriculture, Tadulako University, Palu. The genetic parameters analyzed were genetic coefficient of variation, phenotypic coefficient of variation, heritability, genetic advance, correlation, and path analysis. The experimental design used a completely randomized design consisting of six genotypic treatments and repeated three times. The results showed that the leaves greenness, the weight of the cob with and without husk, and weight of seeds per cob had a high genetic coefficient of variation. Leaf greenness, the weight of the ear with and without husk, ear length without husk, ear diameter, seed weight per ear and yield have a high value of heritability and genetic advance. Indirect selection can be applied through harvest time trait to obtain a high local maize yield in moderate salinity stress condition. These traits can be used as a reference in selecting maize plants with moderate salinity stress for maize breeding programs.
The effect of shoot explant types of eleven stevia (Stevia rebaudiana Bertoni) accessions on in vitro growth Suseno Amien; Arini Zahra Azhari; Citra Bakti; Haris Maulana
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/13367

Abstract

Explants play an important role in thepropagation system of stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). A Completely Randomized Design (CRD) was used in this experiment with factorial pattern consisting of two factors, namely three types of explants (shoot tip, first node, and second node) and eleven accessions of stevia namely a1 (Bogor), a2 (Garut), a3 (Canada), a4 (Tawangmangu), a5 (STG1), a6 (SBG 4), a7 (SBG 10), a8 (SGB 2), a9 (BR5), a10 (SGR 7.5), a11 (TR 3.5). The results showed that shoot tip explant was the best explant than first node and second node for the number of shoots (18.11 shoots), number of leaves (93.49 leaves) and wet weight (3.56 grams). The best accession of shoot height was a10(SGR 7.5) (19.95 cm), the highest number of shoots wasa7(SBG 10) (21.87 shoots), the highest number of leaves wasa7(SBG 10) (138.00 leaves), the heaviest wet weight wasa7(SBG 10) (3.56 grams), the highest leaf chlorophyll content was a10 (SGR 7.5) (0.63 µg mL-1). Accessions with the fastest root initiation time at the rooting stage was a11 (TR 3.5) (4.00 DAC), the highest number of roots wasa10 (TR 3.5) (27.11 roots), the best root length wasa2(Garut) (4.51 cm). Information on the best explant types and stevia accessions in the in-vitro multiplication stage can be used as the basis for stevia breeding programs in Indonesia.AbstractEksplan berperan penting dalam sistem perbanyakan Stevia (Stevia rebaudiana Bertoni). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial yang terdiri dari dua faktor yaitu tiga jenis eksplan (ujung pucuk, ruas pertama, dan ruas kedua) dan sebelas aksesi stevia yaitu a1 (Bogor), a2 (Garut), a3 (Canada), a4 (Tawangmangu), a5 (STG1), a6 (SBG 4), a7 (SBG 10), a8 (SGB 2), a9 (BR5), a10 (SGR 7.5), a11 (TR 3.5). Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan ujung pucuk merupakan eksplan terbaik dibandingkan buku pertama dan kedua untuk jumlah tunas (18,11 tunas), jumlah daun (93,49 daun) dan berat basah (3,56 gram). Aksesi terbaik pada tinggi pucuk adalah a10(SGR 7.5) (19,95 cm), jumlah pucuk tertinggi a7 (SBG 10) (21,87 pucuk), jumlah daun terbanyak a7 (SBG 10) (138.00 helai daun), bobot basah terberat a7 (SBG 10) (3,56 gram), kandungan klorofil daun tertinggi adalah GR 7,5 (0,63 µg mL-1). Aksesi dengan waktu inisiasi akar tercepat pada tahap perakaran adalah TR 3,5 (4,00 HST), jumlah akar terbanyak adalah TR 3,5 (27,11 akar), panjang akar terbaik adalah a2(Garut) (4,51 cm). Informasi jenis eksplan dan aksesi stevia terbaik pada tahap multiplikasi in-vitro dapat dijadikan dasar program pemuliaan stevia di Indonesia.

Page 10 of 27 | Total Record : 263