cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Agro
ISSN : -     EISSN : 24077933     DOI : -
Core Subject : Agriculture,
Jurnal Agro aims to provide a forum for researches on agrotechnology science to publish the articles about plant/crop science, agronomy, horticulture, plant breeding - tissue culture, hydroponic/soil less cultivation, soil plant science, and plant protection issues.
Arjuna Subject : -
Articles 263 Documents
Kualitas ubi kentang pada dosis pupuk NPK dan umur panen yang berbeda Kusumiyati Kusumiyati; Diky Indrawibawa; Syariful Mubarok; Gustiono Tegar Prasetyo
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/12292

Abstract

Semakin tingginya permintaan bahan baku kentang untuk french fries khususnya, perlu diimbangi oleh peningkatan suplai kentang dengan kualitas yang memenuhi persyaratan skala industri. Aplikasi dosis pupuk NPK yang tepat serta umur panen yang sesuai merupakan strategi dalam meningkatkan kualitas kentang. Penelitian bertujuan untuk menentukan  dosis pupuk NPK dan umur panen yang dapat menghasilkan ubi kentang dengan kualitas olah terbaik. Percobaan dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok pola faktorial dengan dua faktor dan tiga ulangan. Faktor pertama, yaitu dosis pupuk NPK (50, 100, 150% dosis rekomendasi) dan umur panen (90, 105, 120 HST). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan dosis pupuk NPK dan umur panen tidak memperlihatkan interaksi. Kadar air dan gula reduksi tidak dipengaruhi oleh perlakuan dosis pupuk dan umur panen. Perlakuan dosis pupuk 150 kg N ha-1, 225 kg P ha-1, dan 225 kg K ha-1 menunjukkan kadar pati ubi tertinggi dengan tingkat kerenyahan french fries paling disukai. Perlakuan umur panen 120 hari setelah tanam (HST) memberikan kadar pati dan tingkat kesukaan warna dan kerenyahan french fries paling tinggi. AbstractThe potato demand is increasing, as a raw material for french fries in particular, yet followed by potato improvement to fulfil the industry requirement. The application of NPK fertilizer in appropriate dosage and harvesting time is the essential strategy to increase potato quality. This study aimed to determine the proper dosage of NPK and harvesting time to obtain the best characteristics of potato tuber for processing. The experimental design used a factorial randomized block design consisting of two factors; NPK fertilizer dosages (50, 100, 150% recommended dosage) and harvesting time (90, 105, 120 DAP). NPK fertilizer dosage had no interaction with harvesting time. Tuber water content and reducing sugars were not affected by NPK fertilizer dosage and harvesting time. The treatment of 150 kg N ha-1, 225 kg P ha-1 and 225 kg K ha-1 had the best tuber starch content, and after processing to be french fries, it showed the most favored crispness. Meanwhile, harvesting time at 120 DAP resulted in the highest tuber starch content, french fries colour and crispness score. Giving a certain dose of NPK fertilizer will affect the quality of potato tubers. The right harvesting time affects on the potato tuber quality.  
Pengaruh media tumbuh dengan aplikasi irigasi tetes terhadap pertumbuhan dan hasil melon Didi Carsidi; Saparso Parso; Kharisun Kharisun; Catur Rahardjo Febrayanto
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9514

Abstract

 Penggunaan media tumbuh dan volume air yang tepat menentukan pertumbuhan dan hasil tanaman melon. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui volume air optimum pada media tumbuh tertentu yang dapat menghasilkan pertumbuhan dan hasil yang optimum. Penelitian menggunakan rancangan split plot 4 x 3, dengan tiga ulangan. Petak utama yaitu volume irigasi tetes dengan empat taraf; 600 ml hari-1 tan-1, 1200 ml hari-1 tan-1, 1800 ml hari-1 tan-1 dan 2400 ml hari-1 tan-1 sedangakan anakan petak yaitu media tumbuh dengan tiga taraf; tanah + arang sekam, tanah + cocopeat, serta tanah + bokhasi. Parameter yang diamati yaitu tinggi tanaman, jumlah daun, total panjang akar tanaman, luas daun, kandungan air nisbi daun, prolin, lebar bukaan stomata, kerapatan stomata, kadar klorofil, umur berbunga, bobot tanaman basah, bobot tanaman kering, bobot buah, lingkaran buah, brix buah, kadar air buah melon, dan kandungan NPK jaringan daun melon. Hasil penelitian menunjukkan volume air 600 ml hari-1 tan-1 optimum dengan media tumbuh tanah + bokhasi pada bobot tanaman segar (1083.33 g) sedangkan volume air 1200 ml hari-1 tan-1 dengan media tumbuh tanah + bokhasi memberikan pengaruh terhadap bobot tanaman kering (95.80 g). Jenis media tumbuh memiliki kapasitas volume air yang berbeda untuk pertumbuhan dan hasil tanaman yang optimal. AbstractThe proper growing media and water volume provide the growth and yield of melon plants. This study aimed to determine the optimum water volume in certain growth media to optimize the growth and yield. The study used a 4 x 3 split plot design with three replications. The main plots were volume of drip irrigations i.e 600 ml day-1 tan-1, 1200 ml day-1 tan-1, 1800 ml day-1 tan-1, and 2400 ml day-1 tan-1 while the sub plots were growing media with three levels i.e soil + husk charcoal, soil + cocopeat, and soil + bokashi. The observed parameters  were plant  height,  leaf number, total plant root length, leaf area, leaf relative water content, proline, stomatal opening width, stomata density, chlorophyll content, flowering age, wet plant weight, dry plant weight, fruit weight, fruit circle, fruit brix, the fruit water content, and NPK content in leaf tissue. The water volume of 600 ml day-1 tan-1 is optimum with growing media soil + bokashi on fresh plant weight (1083.33 g) while the water volume of 1200 ml day-1 tan-1 with soil + bokhasi growing media had an effect on dry plant weight (95.80 g).The types of growing media have different water volume capacities for optimal plant growth and yields.  
Respon tanaman padi (Oryza sativa L.) terhadap sistem tanam dan jumlah bibit Ndari Retno Lestari; soni isnaini; Safiuddin Safiuddin; Yatmin Yatmin; Maryati Maryati
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10629

Abstract

Sistem tanam (ST) yang sering digunakan petani yaitu ST tegel. Sampai sekarang masih banyak petani yang menggunakan bibit lebih dari tujuh batang per lubang tanam (BpLT). Tujuan penelitian adalah untuk mempelajari respon tanaman padi terhadap  ST dan jumlah bibit per lubang tanam (JBpLT). Penelitian dilakukan di Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara, Lampung Timur pada bulan Februari sampai Mei 2016.  Perlakuan disusun dalam Rancangan Kelompok Teracak Lengkap dengan pola split plot.  Petak utama adalah ST jarwo 2:1, ST Jarwo 4:1, dan ST tegel 25 x 25 cm. Anak petak terdiri atas JBpLT: 1 BpLT, 2 BpLT, dan 3 BpLT. Data dianalisis ragam dan dilanjutkan uji orthogonal  kontras, semua pengujian dilakukan pada taraf 5%.  Hasil percobaan menunjukkan bahwa (1) ST jarwo 2:1 dan ST jarwo 4:1 meningkatkan pertumbuhan padi hibrida Mapan P-05 dibandingkan ST tegel 25 x 25 cm, (2) penanaman 1 BpLT meningkatkan komponen hasil padi dibandingkan penanaman 2 BpLT dan 3 BpLT, dan (3) penanaman 1 BpLT memberikan hasil GKG (6,86 t ha-1) yang lebih tinggi dari penanaman 2 BpLT (5,64 t ha-1) dan 3 BpLT (4,59 t ha-1) pada ST jarwo 2:1, ST jarwo 4:1 dan ST tegel 25 x 25 cm, secara berurutan.AbstractThe common planting system (PS) used by the farmers is Tegel system. Yet, many farmers still use more than seven seeds per planting hole (SpPH). The research objective was to study the reponse of rice plants to the planting system and the number SpPH. The research was conducted in Raman Aji Village, Raman Utara, East Lampung from February to May 2016. The treatments were arranged in a RCBD with a split plot pattern (the main plot were the PS i.e. jarwo 2: 1, jarwo 4: 1 and “Tegel” 25 x 25 cm; the subplots are the number of SpPH i.e. 1 SpPH, 2 SpPH, and 3 SpPH). The results showed that (1) the jarwo 2: 1 system increased rice growth compared to the 25 x 25 cm “Tegel”; (2) application of 1 SpPH increased the yield  component  of rice compared to planting 2 SpPH and SpPH; and (3) application of 1 SpPH (6.86 t ha-1) gave the higher weight of milled grain than using 2 SpPH (5.64 t ha-1) and 3 SpPH (4.59 t ha-1), both planted in the jarwo 2:1, jarwo 4:1 and 25 x 25 cm  “Tegel” System
Keragaman genetik dan heritabilitas 12 genotipe bawang merah (Alllium cepa L. var Aggregatum) di dataran tinggi Nurmalita Waluyo; Noladhi Wicaksana; Anas Anas; Iteu M. Hidayat
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9518

Abstract

Bawang merah (Allium cepa L. var aggregatum) salah satu komoditas hortikultura banyak di konsumsi. Peningkatan permintaan dalam kuantitas dan kualitas untuk komoditas ini meningkatkan ketersediaan varietas unggul. Penelitian dilakukan untuk menduga keragaman genotipe dan fenotipe serta nilai heritabilitas karakter pertumbuhan, komponen hasil dan hasil bawang merah di tiga lokasi dataran tinggi (Lembang 1.250 m dpl, Kab. Bandung Barat; Pacet 971 m dpl, Kab. Bandung; dan Samarang, 970 m dpl, Kab. Garut). Penelitian dilaksanakan dari September sampai Nopember 2019. Materi genetik yaitu 12 genotipe bawang merah terdiri dari 7 klon: B1, B19, B63, B72, B77, B102, dan B222, serta 5 varietas: Trisula, Bali Karet, Maja Cipanas, Bima Brebes dan Sumenep. Rancangan percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 3 ulangan. Hasil analisis ragam menunjukan genotipe berpengaruh sangat nyata terhadap seluruh karakter pertumbuhan, komponen hasil, dan hasil. Nilai koefisisen keragaman genotipe dan fenotipe yang tinggi diperlihatkan oleh karakter persentase tanaman berbunga (48,10 % dan 49,01 %), berat basah per umbi (29,71 % dan 30,87 %), dan berat kering per umbi (33,17 % dan 34,29 %). Nilai duga heritabilitas arti luas (Hbs) karakter pada 12 genotipe bawang merah berkisar antara 45,08-96,30 %. Semua karakter yang diuji memiliki nilai heritabilitas tinggi kecuali untuk karakter jumlah daun per rumpun nilai heritabilitasnya sedang. Seleksi bawang merah di dataran tinggi dapat dilakukan pada generasi awal.AbstractShallots (Allium cepa L. var aggregatum) are one of the most widely consumed horticultural commodities in Indonesia. Increased demand in quantity and quality for this commodity improved availability varieties. A study was conducted to estimate variability of genotypes and phenotypes as well as the heritability value of growth characters, yield components, and yields of shallot at three highland locations (Lembang 1.250 m asl, West Bandung District; Pacet 971 m asl, Bandung District; and Samarang 970 m asl, Garut District). The research was conducted from September to November 2019. The genetic material studied was 12 genotypes of shallots consisting of 7 clones: B1, B19, B63, B72, B77, B102, and B222, and 5 varieties: Trisula, Bali Karet, Maja Cipanas, Bima Brebes, and Sumenep. Every experiments in all locations was arranged in Randomized Block Design (RBD) with 3 replications. The analysis of variance results showed that the genotype had a very significant effect on all growth characters, yield components, and yields. High variation coefficient values of genotype and phenotype was found in the character of percentage of flowering plants (48.10% and 49.01%), freshweight per bulb (29.71% and 30.87%), and dry weight per bulb (33.17% and 34.29%). All characters tested had a wide phenotific variability. The estimated value of heritability (broad meaning) of the characters in 12 shallot genotypes ranged from 45.08 to 96.30%. All characters tested has high heritability except for the number of leaves per clump the heritability was moderate. The study is the shallot selection in the highlands can be carried out in the early generations.
Pengaruh pupuk guano dan media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak Esty Puri Utami; Indri Heryani; Liberty Chaidir
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10303

Abstract

Penurunan kualitas tanah karena akumulasi penggunaan pupuk kimia berdampak pada penurunan hasil tanaman buncis tegak. Teknik budidaya organik dengan menggunakan media tanam campuran tanah, arang sekam, dan cocopeat serta penggunaan pupuk guano dilakukan sebagai upaya alternatif peningkatan produksi buncis. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh dosis pupuk guano dan berbagai jenis media tanam terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman buncis tegak (Phaseolus vulgaris L.). Penelitian dilaksanakan dari April hingga Mei 2020 di Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Cileunyi, Kabupaten Bandung. Rancangan percobaan berupa Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor. Faktor pertama yaitu dosis pupuk guano terdiri atas 4 taraf: kontrol, 5 t ha-1, 10 t ha-1, dan 15 t ha-1. Faktor kedua yaitu media tanam dengan 5 taraf: tanah (kontrol), arang sekam padi, cocopeat, tanah + arang sekam padi, dan tanah + cocopeat. Hasil penelitian menunjukkan interaksi antara dosis pupuk guano dengan media tanam pada tinggi tanaman 28 HST. Dosis pupuk guano berkorelasi positif dengan variabel pertumbuhan tanaman dengan dosis terbaik yaitu 15 t ha-1. Media tanam campuran tanah dan arang sekam menghasilkan tanaman dengan tinggi tanaman, bobot polong segar, dan bobot polong kering tertinggi di antara semua perlakuan. Pupuk guano dapat di aplikasikan pada berbagai media tanam untuk menghasilkan pertumbuhan tanaman buncis yang optimal.AbstractThe decline in soil quality cause by chemical fertilizer affected to the growth and yield of bush bean. Organic farming using guano fertilizer and combination of soil, husk charcoal, and cocopeat as the planting media can be used as an alternative technology to increase bush bean production. This study aimed to determine the effect of guano fertilizer dosage and various type of growing media on growth and yield of bush bean (Phaseolus vulgaris L.). This study was conducted from April to May 2020 at Cikandang village, Cileunyi Kulon, Cileunyi, Bandung. The experimental design used was factorial randomized block design with two factors. The first factor was dosage of guano fertilizer consisted of 4 levels i.e. control, 5 t ha-1, 10 t ha-1, and 15 t ha-1. The second factor was growing media with 5 levels i.e. soil (control), husk charcoal, cocopeat, soil + husk charcoal, and soil + cocopeat. The results showed the interaction between dosage of guano fertilizer and growing media on plant height in 28 days after planting. The dosage of guano fertilizer had a positive correlation with plant growth traits, and 15 t ha-1 as the best dosage for bush bean growth and yield. The media soil + husk charcoal produced plants with the highest plant height, fresh pod weight, and dry pod weight among all treatments. Guano fertilizer can be applied to various growing media to produce the optimal bush bean growth.
Pengaruh faktor lingkungan terhadap pertumbuhan beberapa aksesi Dioscorea alata L terpilih koleksi kebun raya purwodadi Abban Putri Fiqa; Titik Helen Nursafitri; Fauziah Fauziah; Shofiyatul Masudah
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/10594

Abstract

Uwi (Dioscorea alata L.) merupakan jenis tanaman umbi-umbian berpotensi nutrisi. Namun pemanfaatannya sebagai bahan pangan alternatif masih jarang, karena keterbatasan informasi potensi nutrisi dan sistem budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan uwi. Penelitian dilakukan di lahan percobaan di Kabupaten Pasuruan, pada tujuh aksesi yang dipilih berdasarkan hasil penelitian sebelumnya, yaitu aksesi nomor 28, 36, dan 86 (Pasuruan), 42 dan 43 (Nganjuk), 57 dan 66 (Malang). Parameter lingkungan yang diamati meliputi suhu udara, kelembaban udara, intensitas cahaya, pH tanah, kelembaban tanah, jumlah dan jenis gulma. Hasil pengamatan dianalisis secara deskriptif dan statistik dengan uji Biplot menggunakan software Past 3. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intensitas cahaya dan jumlah jenis gulma merupakan faktor lingkungan yang paling berpengaruh pada pertumbuhan tanaman uwi. Terdapat tiga grup aksesi tanaman uwi berdasarkan perbedaan faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhannya. Aksesi 42, 43 dan 57 dipengaruhi oleh suhu dan kelembaban udara, aksesi 28, 36 dan 66 dipengaruhi oleh intensitas cahaya dan aksesi 86 dipengaruhi oleh pH tanah. Analisis deskriptif menunjukkan bahwa sebagian besar gulma yang tumbuh merupakan tanaman invasif yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman komoditas. Aksesi nomor 42, 43 dan 57 direkomendasikan untuk dibudidayakan di lahan sub optimal dengan kondisi pH asam dan minim air.AbstractWater yam (Dioscorea alataL.) is one of the tubers potentially as nutrition source. However, its utilization as the source of food alternative is still rare causes by limited information about its nutritional content and cultivation. The research aimed to determine the environmental factors effects the growth of water yam. The study was conducted in the trial site at Pasuruan with seven selected accessions of water yam based on previous research i.e. accessions number 28, 36 and 86 (Pasuruan), 42 and 43 (Nganjuk), 57 and 66 (Malang). The observed environmental parameters were the number and type of weeds, temperature, humidity, light intensity, soil pH, and soil moisture. The observations were descriptive and statistically analyzed using Biplot test with Past 3 software. The results showed that the light intensity and the number of weed species are the environmental factors that have the most affected on the growth of water yam plants. Accessions 28, 36 and 66 are affected by light intensity, accession 86 is affected by soil pH, and accessions 42, 43 and 57 are affected by air temperature and humidity. Most of the weeds grown in the study area are invasive species, which affect the growth of cultivated crops, so weeding is needed. Accession number 42, 43 and 57 adaptively grow in sub-optimum land with acidic pH conditions and minimum water capacity.
Daya gabung dan aksi gen komponen hasil jagung profilik hasil tinggi menggunakan analisis line X tester Roy Efendi; Slamet Bambang Priyanto; Muhammad Azrai
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/9209

Abstract

Peningkatan produktivitas jagung dapat dilakukan melalui perakitan varietas jagung yang memiliki tingkat prolifikasi tinggi. Ketersediaan galur-galur yang memiliki tingkat prolifikasi tinggi dan daya gabung yang baik akan memberikan peluang besar dalam perakitan jagung hibrida prolifik dengan hasil tinggi. Penelitian ini bertujuan memilih galur-galur prolifik yang memiliki daya gabung yang baik pada karakter prolifikasi dan mengevaluasi tingkat prolifikasi dan produktivitas jagung hibrida yang dibentuk dari galur-galur tersebut serta mengetahui aksi gen yang berperan pada karakter komponen hasil. Percobaan dilakukan dua tahap yaitu pembentukan hibrida dari galur-galur prolifik dengan metode testcross dan evaluasi hibrida yang terbentuk dengan menggunakan rancangan alfa lattice dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan galur G7 memiliki nilai daya gabung umum yang baik untuk karakter persentase tanaman prolifik. Hibrida G35/G102612 merupakan hibrida uji dengan persentase tanaman prolifik tertinggi 55,8%. Hibrida G7/Mal03 dengan hasil biji 12,9 t ha-1 dan persentase tanaman prolifik 53,9% merupakan jagung hibrida prolifik dengan hasil tinggi. Aksi gen non aditif lebih berperan dalam penampilan karakter komponen hasil pada jagung prolifik.AbstractMaize productivity can be increased by improving maize varieties with high prolificacy. The adequate of high prolificacy lines with a good combining ability will provide great opportunities to form a high yield prolific maize. The research aimed to select the prolific line which has good combining ability on the prolificacy and evaluate the prolificacy and productivity of the hybrid maize from these lines and to know the gene action which plays role in the yield component characters. The research was carried out in two stages, i.e. the formation of hybrids from the prolific line using the testcross method and evaluation of hybrids using the alpha lattice design with three replications. The results showed that line G7 had a good general combining ability for the percentage of prolific plants. Hybrid G35/G102612 was the test hybrid with the highest percentage of prolific plants of 55,8%. Hybrid G7/ Mal03 which had the yield of 12,9 t ha-1and percentage of prolific plants 53,9% was the prolific hybrid maize with the high yield. The non-additive effect played the main role for yield component characters of prolific hybrid maize.
The potency of mexican sunflower extract as the replacement of manure and rice husk charcoal in banana seedling Andre Sparta; Arifah Rahmi; Panca Jarot Santoso; Ida Fitrianingsih
Jurnal Agro Vol 8, No 1 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/11021

Abstract

In the nursery, media composition plays an essential role in the growth and development of plant seedlings. Extract of Mexican sunflower (Tithonia diversifolia) could be suitable for replacing organic manure and rice husk charcoal during the seedling phase. The purpose of this study is to examine the ability of Mexican sunflower extract to replace organic manure and rice husk charcoal as the source of nutrients for banana seedling. The study was arranged in a Completely Randomized Design with seven treatments and three replications. Extract of Mexican sunflower promotes plant growth (plant height, number of leaves, and leaf area), improves plant biomass, and improves soil chemical properties (pH (H2O), C organic, and total N). Application twice a week of Mexican sunflower into soil medium resulted superior in plant height, the number of leaves, leaf area, and total biomass of banana seedlings compared to other treatments. Extract of Mexican sunflower could replace organic manure and rice husk charcoal as the nutrient source in banana seedlings. AbstrakPada saat pembibitan, komposisi media memiliki peranan penting terhadap pertumbuhan dan perkembangan bibit tanaman. Ekstrak bunga matahari Meksiko (Tithonia diversifolia) dapat menjadi pilihan yang cocok untuk menggantikan peran dari pupuk kandang dan sekam bakar pada fase pembibitan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari kemampuan dari ekstrak bunga matahari Meksiko untuk menggantikan peran pupuk kandang dan sekam bakar sebagai sumber nutrisi bagi bibit pisang. Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan tujuh perlakuan dan tiga ulangan. Ekstrak bunga matahari Meksiko dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman (tinggi tanaman, jumlah daun, dan luas daun), biomassa tanaman, dan property dari kimia tanah (pH (H2O), karbon  organik  dan   total nitrogen). Aplikasi dari ekstrak bunga matahari Meksiko dua kali seminggu ke media tanah menghasilkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun dan total biomassa tanaman yang lebih baik dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil ini menunjukkan bahwa ekstrak bunga matahari Meksiko dapat menggantikan peran dari pupuk kandang sapi dan sekam bakar sebagai sumber nutrisi bagi bibit pisang.           
Induksi kalus daun binahong merah (Basella rubra L.) dengan pe,berian 2,4-D dan kinetin Fetmi Silvina; Isnaini Isnaini; Widya Ningsih
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14273

Abstract

Tanaman binahong merah (Basella rubra L.) merupakan salah satu tanaman yang mengandung senyawa metabolit sekunder berkhasiat obat. Kultur kalus adalah salah satu solusi dalam menghasilkan senyawa metabolit sekunder dengan jumlah yang besar.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian 2,4-D dan kinetin dalam menginduksi kalus daun binahong merah. Penelitian dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Tanaman Fakultas Pertanian Universitas Riau pada bulan November 2019 sampai Maret 2020. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok yang terdiri dari dua faktor yaitu 2,4-D dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm dan 2 ppm dan kinetin dengan empat taraf konsentrasi yaitu 0 ppm, 0,5 ppm, 1 ppm dan 2 ppm dengan tiga ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan tanpa 2,4-D dan 0,5 ppm kinetin memberikan respon terbaik pada saat muncul kalus 11,67 HST dan perlakuan 1 ppm 2,4-D dan 2 ppm kinetin memberikan respon terbaik pada persentase keberhasilan induksi kalus 62,50 %.  Red binahong (Basella rubra L.) is a plant that contains medicinal secondary metabolites.  Callus culture is one solution in producing secondary metabolites in large quantities. This research aimed to determine the effect of 2,4-D and kinetin in inducing callus on red binahong leaves. The research was conducted at the Laboratory of Plant Biotechnology, Faculty of Agriculture, the University of Riau from November 2019 to March 2020. The experiment used a randomized block design with two factors, namely four levels of 2,4-D 0, 0.5, 1, and 2 ppm and four levels of kinetin namely 0, 0.5, 1, and 2 ppm with three replications. The results showed that a combination of 0 ppm 2,4-D and 0.5 ppm kinetin and 1 ppm 2,4-D and 2 ppm had the fastest callus formation 11.67 DAP and a combination of 1 ppm 2,4-D and 2 ppm kinetin produced weigher callus 6.4 mg and had a percentage of callus formation 62.50%.
Kandungan karotenoid, antioksidan, dan kadar air dua varietas cabai rawit pada tingkat kematangan berbeda dan deteksi non-destruktif Kusumiyati Kusumiyati; Ine Elisa Putri; Wawan Sutari; Jajang Sauman Hamdani
Jurnal Agro Vol 8, No 2 (2021)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/14650

Abstract

Cabe rawit umumnya berwarna hijau, jingga dan merah. Tiap tingkat kematangan memiliki kualitas yang berbeda. Teknologi non-destruktif visible/near infrared spectroscopy (Vis/NIRS) telah banyak digunakan untuk memprediksi kualitas secara cepat dan akurat serta tidak merusak. Penelitian bertujuan untuk mengetahui kandungan kadar air, total karotenoid dan antioksidan dua varietas buah cabai rawit dengan tingkat kematangan berbeda dan memprediksi kualitas secara non-destruktif menggunakan Vis/NIRS. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hortikultura, Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan yaitu varietas ‘Manik’ dan ‘Domba’, yang dipanen pada 20 hari setelah bunga mekar (HSBM), 40 HSBM dan 60 HSBM, serta diulang 5 kali. Data dianalisis dengan analisis varians (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas ‘Manik’ and ‘Domba’ yang dipanen pada 20 HSBM memiliki kandungan kadar air dan antioksidan tertinggi sedangkan total karotenoid meningkat pada buah matang. Model kalibrasi dan uji validasi silang kadar air, total karotenoid, dan antioksidan mendapatkan nilai Rkal  ≥ 0,87 dan Rval  ≥ 0,84. Berdasarkan hasil tersebut, maka kandungan air dan antioksidan terbesar yaitu buah cabai rawit hijau sedangkan total karotenoid tertinggi pada buah cabai rawit merah. Vis/NIRS dapat digunakan untuk mendeteksi kandungan air, total karotenoid dan antioksidan pada buah cabai rawit. Generally, cayenne pepper is coloring in green, orange, and red. Each maturity level has a different quality.  A non-destructive technology, visible/near infrared spectroscopy (Vis/NIRS), has been widely used to predict the quality quickly and accurately without causing damage. The study aimed to determine water content, total carotenoids, and antioxidant of two varieties cayenne pepper with different maturity levels and to predict quality non-destructively using Vis/NIRS. The research was conducted at the Horticulture Laboratory, Agriculture Faculty, Universitas Padjadjaran. The research was arranged in a completely randomized design (CRD) with 6 treatments, namely ‘Manik’ and ‘Domba’ varieties harvested at 20 days after flowering (DAF), 40 DAF and 60 DAF, and 5 replications with analysis of variance (ANOVA). The results showed that ‘Manik’ and ‘Domba’ harvested at 20 DAF had the highest water content and antioxidant while the total carotenoids increased in ripe fruit. The calibration model and cross-validation of water content, total carotenoids, and antioxidants obtained values of Rcal 0.87 and Rval 0.84. Based on these results, the highest water and antioxidant content was green cayenne pepper, while the highest total carotenoids were in red cayenne pepper. Vis/NIRS can be used to detect water content, total carotenoids, and antioxidants in cayenne pepper.

Page 11 of 27 | Total Record : 263