cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
THE NEGOTIATION BETWEEN QUEER SPECTATORSHIP AND QUEER TEXT ON RIRI RIZA’S SOE HOK GIE Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 13, No 1 (2010): ATAVISME, Edisi Juni 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i1.140.1-13

Abstract

The emergence of young generation filmmakers who are more confident in depicting gender and sexual issues after the Soeharto era (1998), significantly changes the construction of sexual diversity in 2003-2006 Indonesian films. One of the considerable phenomena is the personal experience and social commitment to support sexual minorities such as gay and lesbian issues. At the same time Indonesian queer communities strive to read the discourse of homosexuality in different way. Physical contact and even intimacy between persons of the same-sex, in both public and private spaces, was common practice in Indonesian cultures, and did not carry any suggestion of homoerotic desire. In this Riri Riza?s film, Soe Hok Gie, however, cinematic technique, narrative and dialogue all contribute to an eroticising of same-sex relationships that is particularly perceptible in cultures that previously regarded physical and emotional interactions between persons of the same-sex as unremarkable. This article based on Benshoff and Griffin?s (2006) theory on queer film. Abstrak: Perkembangan film Indonesia setelah tumbangnya rezim Soeharto menunjukkan adanya fenomena di kalangan sutradara muda untuk mengeksplorasi tema tentang gender dan seksualitas. Isu tentang seksual minoritas seperti seksualitas gay dan lesbian adalah salah satu ciri yang cukup menonjol dalam film-film yang diproduksi setelah tahun 2003. Pada saat yang sama, penonton queer (seksualitas nonnormatif) terutama yang berasal dari komunitas queer membaca scene sebuah film terutama yang menampilkan kontak fisik dan keintiman antara orang-orang sesama jenis dengan cara yang baru. Dalam tradisi budaya Indonesia, kontak fisik dan keintiman itu tidak diterjemahkan dalam sebuah hubungan homoerotika . Pembacaan yang berbeda ditunjukkan pembaca dalam film Soe Hok Gie karya Riri Riza. Artikel ini menggunakan teori Queer Film yang dikemukakan oleh Benshoff dan Griffin (2006). Kata-Kata Kunci: queer spectatorship, homoerotisisme, Soe Hok Gie
EKSPLOITASI CONCUBINAGE DAN SUBJEK SUBALTERN: HEGEMONI ATAS PEREMPUAN INDONESIA DALAM TINJAUAN KRITIS PASCAKOLONIAL DAN FEMINISME NOVEL DE WINST KARYA AFIFAH AFRA Kartika, Bambang Aris
ATAVISME Vol 14, No 1 (2011): ATAVISME, Edisi Juni 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i1.102.51-64

Abstract

Tulisan ini membahas praktik kolonialisasi Belanda yang mengakibatkan terjadinya bias ketidakadilan gender terhadap posisi perempuan Indonesia dalam novel De Winst karya Afifah Afra. Bias ketidakadilan gender ini tercermin dari adanya eksploitasi secara seksual terhadap kaum perempuan dengan menjadikan mereka sebagai concubinage atau gundik dan menjadi subjek subaltern akibat praktikal hegemoni kekuasaan kaum laki-laki kulit putih kolonial Belanda. Melalui pendekatan teori pascakolonial dan ragam kritik sastra feminisme pascakolonial diperoleh suatu pemahaman bahwa kaum perempuan pada masa kolonial menjadi subjek yang termarginalkan, baik secara seksual maupun sosial. Kaum perempuan tidak memiliki bargaining power dalam ranah hukum untuk menuntut adanya pengakuan sebagai istri yang sah dan memiliki kedudukan yang terhormat, bukan menjadi korban dominasi kekuasaan laki-laki atas tubuh, baik secara seksual maupun tenaga untuk urusan domestik rumah tangga (double burden), termasuk juga stereotipe negatif yang cenderung merendahkan harkat dan martabatnya sebagai perempuan. Abstract : This paper discusses the practice of Dutch colonization which resulted in a gender injustice bias toward the position of Indonesian women in the novel De Winst author by Afifah Afra. This is reflected from the practical sexual exploitation against women by making them as concubines (concubinage) or ?wives? who are actually represented as a concubine because of no formal ?diperistri? by white people and become the subject of subaltern or oppressed because of the practical power of the male hegemony white man of Dutch colonial. Through a variety of postcolonial theory and postcolonial feminist literary criticism, the analysis gained an understanding that women in the colonial period became the subject of both sexually marginalized and social. These women had no bargaining power in the realm of law to demand the recognition of the legitimate as a wife and a respectable position, not a victim of male domination of power over the body, either sexual or domestic labor for their household affairs (double burden ), including negative stereotypes that tend to lower their dignity as women. Key Words: concubinage; subaltern; colonialism; theory of postcolonialism; postcolonial feminist literary of critics
KRITIK MITOS TENTANG “HANG TUAH” KARYA AMIR HAMZAH Santosa, Puji
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.17.29-39

Abstract

This study reveals the myth criticism on rhyme "Hang Tuah", an Amir Hamzah?s work expressing Malay myth. The Malay myth found in the rhyme "Hang Tuah" is placed as a meeting place of myth criticism study which includes (1) the structure of the text, (2) figure with its ideology, (3) setting presenting the myth, (4) type of myth, (5) method the poet displays the myth, and (6) the benefit or function of myth. The six elements of the review are expected to contribute in exposing and describing the element of mythology in modern Indonesian poetry and its relevance to the present situation. It is identified that Hang Tuah has an ideology of Malay heroism loyalty able to be a resource in national character building: willing to sacrifice and resilient in defending the country's sovereignty rights. The Malay heroic myth of Hang Tuah, delivered in the form of poetic ballads, adds to the classic aesthetic value. The present benefits of Hang Tuah myth, by his heroism in getting rid of European colonization, is certainly to boost the fighting spirit in defending the rights and dignity as an independent nation, free from occupation or colonialism.  This study reveals the myth criticism on rhyme "Hang Tuah", an Amir Hamzah?s work expressing Malay myth. The Malay myth found in the rhyme "Hang Tuah" is placed as a meeting place of myth criticism study which includes (1) the structure of the text, (2) figure with its ideology, (3) setting presenting the myth, (4) type of myth, (5) method the poet displays the myth, and (6) the benefit or function of myth. The six elements of the review are expected to contribute in exposing and describing the element of mythology in modern Indonesian poetry and its relevance to the present situation. It is identified that Hang Tuah has an ideology of Malay heroism loyalty able to be a resource in national character building: willing to sacrifice and resilient in defending the country's sovereignty rights. The Malay heroic myth of Hang Tuah, delivered in the form of poetic ballads, adds to the classic aesthetic value. The present benefits of Hang Tuah myth, by his heroism in getting rid of European colonization, is certainly to boost the fighting spirit in defending the rights and dignity as an independent nation, free from occupation or colonialism Key Words: myth criticism; heroism; loyalty; fighting spirit Abstrak: Penelitian ini mengungkapkan kritik mitos sajak ?Hang Tuah? karya Amir Hamzah yang menampilkan mitos Kemelayuan. Mitos Kemelayuan yang ditemukan dalam sajak ?Hang Tuah? tersebut ditempatkan sebagai pumpunan penelaahan kritik mitos yang meliputi (1) struktur teks, (2) tokoh dengan ideologinya, (3) latar yang menghadirkan mitos, (4) jenis mitos, (5) cara penyair menampilkan mitos, dan (6) manfaat atau fungsi mitos. Dengan keenam unsur penelaahan kritik mitos itu diharapkan dapat diungkapkan dan dideskripsikan adanya unsur mitologi dalam puisi Indonesia modern dan relevansinya dengan keadaan masa kini. Ternyata Hang Tuah memiliki ideologi loyalitas heroisme Kemelayuan yang dapat menjadi pembentuk karakter bangsa: rela berkorban dan tangguh mempertahankan hak kedaulatan negeri. Mitos kepahlawanan Melayu Hang Tuah dengan cara disampaikan dalam bentuk balada yang puitis menambah nilai estetika klasik. Manfaat bagi kehidupan masa kini mitos Hang Tuah, atas kepahlawanannya mengusir penjajahan bangsa Eropa, tentu sebagai pemompa semangat juang mempertahankan hak dan martabat diri sebagai bangsa yang merdeka, bebas dari penjajahan atau kolonialisme
ANALISIS MAKNA LAGU BUGIS “SAJANG RENNU” CIPTAAN YUSUF ALAMUDI MELALUI PENDEKATAN HERMENEUTIKA Herianah, Herianah
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.131.201-208

Abstract

Tulisan ini bertujuan membahas makna lagu Bugis Sajang Rennu ciptaan Yusuf Alamudi melalui pendekatan hermeneutika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik inventarisasi, baca-simak, dan pencatatan dalam pengumpulan datanya. Teknik analisis data melalui tahap identifikasi, klasifikasi, analisis, dan deskripsi. Analisis makna lagu dengan pendekatan hermeneutika ini dilakukan melalui tiga tahap, yaitu analisis kata dalam larik lagu, analisis larik dalam bait, dan analisis bait dalam lagu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa makna lagu Sajang Rennu ciptaan Yusuf Alamudi adalah adanya rasa sirik ?malu? dari seorang lelaki karena kekasih pujaan hatinya menikah dengan orang lain tanpa kabar berita. Konsekuensi dari rasa sirik ?malu? ini membuatnya berpikir untuk mengakhiri hidupnya. Abstract: This writing is intended to discuss the meaning of Buginese song Sajang Rennu by Yusuf Alamudi using hermeneutic approach. This research applies descriptive qualitative method by collecting data using inventory technique, reading-observing, and noting. The technique of data analysis is identification, classification, analysis, and description. The result of the research shows that the meaning of Sajang Rennu by Yusuf Alamudi is sirik or feeling embarassed of a man since his girl friend gets married to another man without any notification before. The consequence of sirik makes him think of suicide. It is figured by the statement that one day people will find a new grave, and he is in. Key Words: meaning; Buginese song; hermeneutic research
HUBUNGAN INTERTEKSTUAL “DAME DAN DUFUN” DENGAN “JAKA TARUB” Muntihanah, Muntihanah
ATAVISME Vol 16, No 2 (2013): ATAVISME, Edisi Desember 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i2.91.169-182

Abstract

?Dame dan Dufun? merupakan cerita yang berasal dari Suku Mooi yang mendiami Desa Maribu, Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua. Dengan menggunakan teori intertekstual, dapat ditemukan bahwa cerita ?Dame dan Dufun? berhipogram pada cerita ?Jaka Tarub?. Hubungan intertekstual kedua cerita terjadi pada tataran intrinsik dan ekstrinsik. Pada tataran intrinsik, ?Dame dan Dufun? banyak menyerap unsur cerita ?Jaka Tarub? ke dalam ceritanya. Hal ini terlihat dari banyaknya persamaan motif di dalam kedua cerita tersebut. Meskipun banyak memiliki kesamaan motif, sebagian besar motif tersebut terdapat dalam tahapan perkembangan alur yang berbeda. Pada tataran ekstrinsik terjadi penyimpangan berupa perlawanan terhadap hipogramnya, cerita ?Jaka Tarub?. Penyimpangan ini muncul karena adanya perbedaan pandangan kosmologi dan perbedaan pandangan mengenai konsep bidadari dengan cerita hipogramnya. Abstract: ?Dame and Dufun? is a story from Mooi Tribe which lives in Maribu Village, West Sentani District, Jayapura Regency, Papua Province. Using intertextual theory, it can be found that the story of ?Dame and Dufun? is similar to hypogram story of ?Jaka Tarub?. Intertextual relations on both stories happen in the intrinsic and extrinsic levels. At the intrinsic level, the story of ? Dame and Dufun? has absorbed many elements of ?Jaka Tarub? story. It can be seen from the resemblance of motifs of those stories. Although they have many common motifs, the most are found in different stages of plot development. At the level of extrinsic, distortions which controvert with its hypogram, story of ?Jaka Tarub?, occur. These distortions arise because of different views and perspectives on cosmology of angel concept with its hypogram. Key Words: intertextual relationship; hypogram; extrinsic level; intrinsic level
EKSOTISME, BAHASA, IDENTITAS, DAN RESISTENSI DALAM NOVEL INDONESIA KARYA SUPARTO BRATA: PEMBACAAN PASCAKOLONIAL Suwondo, Tirto
ATAVISME Vol 15, No 2 (2012): ATAVISME, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i2.56.147-162

Abstract

Penelitian ini secara khusus membahas novel­novel Indonesia karya Suparto Brata. Masalah yang dibahas meliputi eksotisme, bahasa, indentitas, dan resistensi terhadap kekuasaan kolonial ditinjau dari perspektif pascakolonial. Dari pembahasan yang dilakukan diperoleh hasil bahwa dalam novel­novel karya Suparto Brata tampak jelas bahwa kekuasaan kolonial (Belanda dan Jepang) masih memandang pribumi sebagai masyarakat yang eksotis, yang bodoh, yang perlu dibina agar menjadi pandai. Sementara itu, bahasa kolonial (Belanda dan Jepang) masih dipandang sebagai bahasa yang tinggi derajatnya sehingga jika pribumi hendak memperoleh derajat (identitas) yang setara harus mampu berbahasa Belanda dan Jepang. Berkenaan dengan hal itu, berkat kepandaian yang ditanamkan oleh pemerintah kolonial, yang antara lain melalui penguasaan bahasa dan pengetahuan atau budaya Barat, masyarakat pribumi justru memanfaatkan hal itu sebagai upaya untuk melakukan resistensi terhadap kekuasaan dalam rangka mencapai kemerdekaan (kebebasan) penuh. Abstract: The research is particularly a discussion on the Indonesian novels written by Suparto Brata. The problem under discussion involves the issues of exoticism, language, identity, and resistance against the colonial powers in the perspective of post­colonialism. From the analysis, Suparto Brata?s novels obviously delineate that the colonial powers (Dutch and Japan) were so underestimating the natives as exotic, unintelligent folks, that such people was necessary to be taught for them to be more educated. Also, the colonial languages (Dutch and Japanese) were so highly perceived that the natives were to be enforced to speak those languages if they wanted their social status (identity) to be regarded equal. Accordingly, owing to such intelligences endowed from the colonial rulers, among others are the language skill and the knowledge on Western cultures, the native people then took the benefits by way of making resistance against the colonial powers under the agenda of full independence (freedom). Key Words: Suparto Brata, exoticism, language, identity, resistance.
POLA PENCAPAIAN KESADARAN TOKOH UTAMA PEREMPUAN TERTINDAS DALAM NOVEL FAR FROM THE MADDING CROWD KARYA THOMAS HARDY DAN THE TENANT OF WILDFELL HALL KARYA ANNE BRONTE Leiliyanti, Eva
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.163.113-126

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan pola pencapaian kesadaran tokoh utama perempuan tertindas dalam novel Far from the Madding Crowd karya Thomas Hardy dan The Tenant of Wildfell Hall karya Anne Bronte dengan pendekatan feminis. Tokoh utama bemama Bathsheba dalam Far From the Madding Crowd, sadar bahwa hidupnya berada dalam lingkungan patriarkal dan tertindas oleh dominasi laki-laki ketika ditinggal pcrgi suaminya Meskipun akhimya mcnikah dengan laki-laki yang dianggap lebih mencintainya, Bathsheba tetap berada pada posisi tersubordinasi oleh laki-laki. Kesadaran tokoh utama perempuan bemama Helen pada posisinya yang tertindas oleh laki-laki dan lingkungan patriarki dalam The Tenant of Wildfell Hall muncul saat mengetahui perselingkuhan suaminya. Agar dapat hidup bebas dan mandiri, Helen melarikan diri dari suaminya. Pilihan Anne Bronte pada solusi menuju zona liar untuk membebaskan perempuan dari ketertindasan menunjukkan konsistcnsinya sebagai perempuan pengarang, sedangkan laki-laki pengarang (Thomas Hardy) memilih menempatkan tokoh perempuannya tetap bertahan dalam komunitasnya Abstract: This article aims to describe the awareness achievement pattern of the female main character being oppressed in Thomas Hardy's novel, Far From the Madding Crowd and Anne Bronte's novel. The Tenant of Wildfell Hall, by means of feminism approach. The main character in Far From the Madding Crowd, Bathsheba, realized that her life is in patriarchal surroundings and being oppressed by male domination when she was left by her husband. Although, she eventually got married to a man loving her more. Bathsheba is still in the position of subordinated by a male. The awareness of female character named Helen, in her position of being oppressed by male and patriarchal surroundings in The Tenant of Wildfell Hall, emerged when she found her husband adultery. To live free and liberated, Helen ran away from her husband. Anne Bronte's choice to a solution heading for the wild zone in Liberating women from oppression indicates her consistency as an author female; whereas. author male (Thomas Hanly) chose to set his female character to persist with her community. Keywords: awareness, oppressed woman, patriarchal, feminism
PEREMPUAN‐PEREMPUAN PENGARANG JAWA TIMUR (KAJIAN FEMINIS) Sungkowati, Yulitin
ATAVISME Vol 16, No 1 (2013): ATAVISME, Edisi Juni 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i1.81.57-69

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan perempuan­?perempuan pengarang Jawa Timur, karya­?karyanya, dan citra perempuan yang tergambar di dalamnya dengan perspektif feminis. Sumber data tulisan ini adalah tujuh perempuan pengarang Jawa Timur dan karya­?karyanya. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Perempuan pengarang Jawa Timur yang cukup produktif adalah Totilawati Tjitrawasita, Ratna Indraswari Ibrahim, Yati Setiawan, Sirikit Syah, Lan Fang, Zoya Herawati, dan Wina Bojonegoro. Karya­?karya Ratna Indraswari Ibrahim, Sirikit Syah, Wina Bojonegoro, Lan Fang, dan Yati Setiawan berada pada garis yang sama meskipun dalam spektrum yang berbeda dalam menghadirkan atau mencitrakan perempuan, yakni menampilkan perempuan yang berada di bawah bayang­?bayang laki­?laki. Citra perempuan yang tidak tergantung pada laki­?laki tampak pada karya­?karya Totilawati Tjitrawasita dan Zoya Herawati. Abstract: This study aims to describe the East Javanese woman writers, their works, and woman image using the feminist perspective. The sources of data are seven East Javanese woman writers and their works. The data was collected through librarian research. This study found the following findings. The East Javanese woman writers who are still productive are Totilawati Tjitrawasita, Etik Minarti, Ratna Indraswari Ibrahim, Yati Setiawan, Sirikit Syah, Lan Fang, and Wina Bojonegoro. Ratna Indraswari Ibrahim, Sirikit Syah, Wina Bojonegoro, Lan Fang, and Yati Setiawan are on the same way in presenting women who are under the shadow of men although in the different spectrum. The women positive image can be seen in the proses of Totilawati Tjitrawasita and Zoya Herawati. Key Words: woman writer; literary work; woman image; feminist
MELAWAN KEKUASAAN DENGAN PUISI Tjahjono, Tengsoe
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.47.49-58

Abstract

Puisi bukan hanya berurusan dengan bentuk ekspresi dan isi, namun juga aksi, yaitu ba­ gaimana puisi mampu terlibat dalam membangun kesadaran bagi masyarakat tentang persoalan hidup mereka. Tulisan ini mengaji perlawanan Rendra dan Wiji Thukul terhadap kekuasaan melalui puisi. Fokus kajian adalah alasan Rendra dan Wiji Thukul melakukan perlawanan dan bagai­mana konstruksi puisi perlawanan mereka. Kajian ini memakai analisis wacana kritis Fairclough yang meliputi langkah­langkah deskripsi, interpretasi, dan eksplanasi. Dari kajian itu disimpulkan bahwa Rendra dan Thukul sama­sama menulis puisi yang mengangkat keberpihakan mereka pada yang tertindas dan dimarginalkan dengan gaya dan latar pribadi yang berbeda. Abstract: Poetry is not just dealing with the type of expression and its content, but also action, that is how poetry can engage in building the community awareness on issues of their lives. This paper tries to analyze the resistance of Rendra and Wiji Thukul to power through poetry. Focus of the study is Rendra and Wiji Thukul?s reasons in taking the fight and how is the construction of their resistance poetry. This study uses Fairclough?s critical discourse analysis that consists of description, interpretation, and explanation. From the study, there is a conclusion that Rendra and Thukul have composed poetries trying to raise their alignment with the marginal community expressed in different styles and personal backgrounds. Key Words: poetry, resistance, power, critical discourse analysis
THE FAMOUS POET IN HARPUR’S POEM Nugroho, Henriono
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.154.23-30

Abstract

This research aims to discuss literary work through stylistic analysis based on sistemic functional linguistics and literature semiotic system. The research methods used are the librarian study, descriptive method and objective intrinsic approach. The research result shows that the semantic analysis has produced the automatized linguistic meaning and foregrounded linguistic meaning. Next, the first meaning produces the subject matter and the secong meaning produces the literary meaning. Later, the literary meaning produces theme. Finally, it is proved that the subject matter tells about harmony; the literary meaning is about Shelley?s fame; and, the theme is about a famous poet. Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengkaji karya sastra melalui analisis stilistika berdasarkan ilmu bahasa fungsional sistemik dan sistem semiotik karya sastra. Metode penelitian menggunakan studi pustaka, metode deskriptif, dan pendekatan intrinsik objektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa analisis semantik menghasilkan makna bahasa latar belakang (the automatized linguistic meaning) dan makna bahasa latar depan (the foregrounded linguistic meaning). Makna pertama menghasilkan masalah utama (subject matter) dan makna kedua menghasilkan makna sastra (literary meaning). Makna sastra menghasilkan tema. Masalah utama berkisah tentang harmoni, makna sastra tentang ketenaran Shelley, dan tema tentang seorang penyair terkenal. Kata kunci: makna bahasa latar belakang, makna bahasa latar depan, makna sastra, tema.