cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
PENOLAKAN TERHADAP TRADISI BARAT DALAM RADEN ADJENG MOERIA KARYA NJOO CHEONG SENG Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.8.178-190

Abstract

Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng  Moeria diasumsikan  sebagai bentuk tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi  pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok sosial diaspora peranakan Tionghoa dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat. Karya Njoo Cheong Seng, Raden Adjeng Moeria (1934) memberikan pandangan terhadap penolakan tradisi Barat. Raden Adjeng  Moeria  diasumsikan  sebagai  bentuk  tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial dari kelompok sosial tertentu. Penelitian ini bertujuan untuk (1)  mengidentifikasi  pandangan dunia dan kelompok sosial yang diwakili oleh Njoo Cheong Seng dan (2) mengeksplorasi hasil tanggapan Njoo Cheong Seng terhadap situasi sosial yang berkembang pada era itu. Pendekatan penelitian ini adalah sosiologi sastra. Hasil yang dicapai adalah bahwa  (1) Njoo Cheong Seng mewakili kelompok  sosial diaspora  peranakan Tionghoa  dan mendasarkan pandangan dunianya pada nilai dan tradisi leluhur (2) Raden Adjeng Moeria merupakan salah satu wujud  perlawanan kultural terhadap persoalan modernisasi dan liberalisme di kalangan masyarakat itu. Perlawanan kultural itu merupakan satu cara dalam mempertahankan identitas yang didasarkan atas nilai dan tradisi kebudayaannya agar tidak terjebak pada identitas yang ditawarkan dunia Barat.
LESBIAN CONTINUUM AS AN ALTERNATIVE STRATEGY IN NEGOTIATING HETERONORMATIVITY IN SARAH WATER’S FINGERSMITH Erwanti, Mega Hayuningtyas; Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 18, No 2 (2015): ATAVISME, Edisi Desember 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i2.116.209-220

Abstract

This study is conducted to examine the portrayal of a lesbian continuum in Sarah Waters? Fingersmith. To conduct the analysis, there are two research questions: first, how is the construction of lesbian continuum portrayed in the relationship between Susan Trinder and Maud Lilly and how does lesbian continuum become a strategy to negotiate compulsory heterosexuality. In doing the analysis, the theory of lesbian continuum which is proposed by Adrienne Rich will be used to elaborate the novel. This study is a qualitative research where the data are taken from the novel Fingersmith, library research, journals, and other relevant sources. To gain the comprehensive analysis, this study uses some methods which are: close reading, postulation the statements of the problems, data classification, and analysis using the lesbian continuum theory, supporting analysis through library research, books, and academic journals. This study finds that the characters of Susan Trinder and Maud Lilly can be identified as having a double life which constructs the lesbian continuum. Moreover, the lesbian continuum becomes a strategy to negotiate compulsory heterosexuality with denial and negotiation of women?s oppression. Abstrak: Artikel ini mengkaji representasi lesbian continuum dalam novel Sarah Waters yang berjudul Fingersmith. Dua pertanyaan utama penelitian ini adalah (1) bagaimana konstruksi lesbian continuum direpresentasikan dalam hubungan antara tokoh Susan Trinder dan Maud Lily dalam novel Fingersmith dan (2) bagaimana lesbian continuum menjadi strategi untuk menghadapi compulsory heterosexuality dalam novel Fingersmith. Teori lesbian continuum oleh Adrienne Rich akan menjadi teori utama untuk menjawab pertanyaan penelitian. Menggunakan teknik pembacaan novel dan analisis pustaka yang bersumber dari jurnal dan sumber lain yang mendukung. Untuk mendapatkan data yang komprehensip, metode yang dipakai adalah close reading, menjabarkan pertanyaan, klasifikasi data, dan analisis menggunakan teori lesbian continuum, analisis didukung menggunakan penelitian pustaka, buku dan jurnal. Dalam penelitian ini dapat disimpulkan hal-hal berikut: Pertama, tokoh Susan Trinder dan Maud Lily diidentifikasi memiliki kehidupan ganda (double life), yang merupakan ciri dari representasi Lesbian Continuum. Kedua, lesbian continuum adalah strategi untuk bertahan dalam masyarakat dengan cara menyangkal (denial) adanya relasi seksual di antara mereka dan untuk melawan tekanan terhadap perempuan pada masa itu. Kata-kata Kunci: compulsory heterosexuality; lesbian continuum; Fingersmith
STRATIFIKASI MASYARAKAT BALI DALAM TARIAN BUMI DAN KENANGA KARYA OKA RUSMINI Subardini, Ni Nyoman
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.70.214-227

Abstract

Ajaran catur warna dalam sastra suci Hindu, Weda, demikian luhurnya, tetapi yang tampak justru menjadi sistem budaya stratifikasi sosial yang tampaknya melanggar hak azasi manusia dan telah merusak citra agama Hindu dari zaman ke zaman. Penerapan sistem wangsa dalam menentukan catur warna itu sudah menimbulkan berbagai kericuhan di kalangan umat Hindu. Sebagai bukti banyaknya muncul kasus adat di berbagai daerah di Bali. Konflik soal wangsa ini sudah merupakan rahasia umum yang sering menghiasi media massa di Bali bahkan sampai mencuat ke tingkat nasional, seperti tampak dalam karya sastra berbentuk novel berjudul Tarian Bumi (2000) dan Kenanga (2003) karya Oka Rusmini. Hal itu terjadi karena supremasi adat kebiasaan feodalisme zaman kerajaan yang sudah terlalu lama tidak disempurnakan sesuai dengan ajaran catur warna. Abstract: The teaching of catur warna in Hindu sacred literature, the Vedas, is so exalted, but seems to be the cultural system of social stratification which appears to violate human rights and has damaged the image of Hinduisme throughout the ages. Application of wangsa system in determining the catur warna that has caused disquiet among many Hindus. The evidence is the many custom cases which appear in different regions of Bali. Conflicts about the wangsa is already an open secret that often decorate the mass media in Bali, even sticking to the national level; as shown in the form of literary novel titled Tarian Bumi (2000), and Kenanga (2003) work Oka Rusmini. It happens because of the supremacy of customary feudalism kingdom era that has been too long not being perfected in accordance with the teachings of catur warna. Key Words: catur warna, social criticism, stratification
IDENTITAS KEINDONESIAAN DALAM DRAMA INDONESIA DI ERA PUJANGGA BARU (1930—1942) Susanto, Dwi
ATAVISME Vol 19, No 1 (2016): ATAVISME, EDISI JUNI 2016
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v19i1.174.60-74

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengeskplorasi konstruksi manusia Indonesia yang ideal menurut subjek terjajah dan mengeskplorasi dampaknya secara politis dan ideologis atas konstruksi identitas yang ditawarkan dalam drama di era Pujangga Baru. Penelitian ini menggunakan sudut pandang kajian pascakolonial, terutama mengenai konsep identitas dalam masyarakat kolonial atau subjek terjajah dan bagaimana mereka mengartikulasikan identitas mereka. Data yang digunakan dalam penelitian adalah struktur drama (isi teks), latar sosial, dan gagasan di era drama itu. Sumber data penelitian ini adalah drama Sandhyakala ning Majapahit (yang terbit pertama kali tahun 1932) karya Sanusi Pane, Lukisan Masa (yang terbit pertama kali tahun 1937) karya Armijn Pane, dan Gadis Modern (yang terbit pertama kali tahun 1941) karya Adlin Affandi serta berbagai pustaka yang relevan dengan topik penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konstruksi identitas keindonesiaan dibangun atas dasar tradisi yang diadaptasikan dengan perubahan zaman. Subjek terjajah melakukan resistensi yang bersifat ambivalen sekaligus menunjukkan gagasan mimikri. Kata-Kata Kunci: identitas subjek terjajah, drama Pujangga Baru, kolonialisme Abstract: This research aims to explore the identity construction of ideal Indonesian, as well as colonial subject. In addition, the research also aims to explore the political and ideological implications of the identity construction. The identity construction is played by the Pujangga Baru?s plays. This research uses postcolonialism criticism especially the identity concept in the colonial society and how the colonial subject represents his/her identity. The research uses text structures, the ideas and concepts in those eras and the discourse of thinking as data. The data source is Sandhyakala ning Majapahit (1932) by Sanusi Pane, Lukisan Masa (1937) by Armijn Pane, and Gadis Modern (1941) by Adlin Affandi and other books relevant to this topic. The result of this research is that Indonesian identity construction is based on tradition adapted with the social changes or spirits of the ages. The colonial subject demonstrates resistance and ambivalence. Key Words: identity of colonial subject, Pujangga Baru?s plays, colonialism
KODE-KODE BUDAYA DALAM SASTRA LISAN BIAK PAPUA Sriyono, Sriyono; Siswanto, Siswanto; Lestari, Ummu Fatimah Ria
ATAVISME Vol 18, No 1 (2015): ATAVISME, Edisi Juni 2015
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v18i1.34.75-89

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kode-kode budaya yang terdapat dalam sastra lisan Biak di Papua. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan struktur dan semiotik Umberto Eco. Sumber data penelitian ini adalah sastra lisan Biak yang diambil di Kampung Opiaref, Distrik Biak Timur. Melalui analisis semiotik sistem sintaktik diperoleh kode­?kode yang signifikan antara lain: latar darat dan laut, tokoh Manarmakeri dan Marmar, serta mitos sebagai penanda hak ulayat. Dari analisis semiotik sistem semantik diperoleh kode­?kode yang signifikan seperti: nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilokal, eksistensi anak laki­?laki dalam kekerabatan patrilineal, ararem, abeyap srendi, munara, dan totem ikan sako. Makna dari kode­?kode budaya tersebut mengomunikasikan tentang proyeksi berfikir mereka yang bermuara pada eksistensi dan gengsi keret. Abstract: This research aims to describe the cultural codes in oral literature of Biak in Papua. It is a descriptive qualitative research with structure and Umberto Eco?s semiotic approach. The main data of this research are the oral literature of Biak, exactly from Opiaref Village, East Biak District. Based on the semiotic analysis of syntactic system, there are some significant codes such as the setting of land and sea, the characters of Manarmakeri and Marmar, and myth as a claim of land possession. Based on the semiotic analysis of semantic system, there are some significant codes such as nyambondi, tifa Aryam, farbuk idadwer, patrilocal custom, the existence of a man in patrilineal clan, ararem, abeyap srendi, munara, and totem of sako fish. The significance of those cultural codes communicate their way of thinking, emphasizes on clan existence and prestige. Key Words: oral literature; cultural codes; meaning
DONGENG THE SLEEPING BEAUTY: ANALISIS FUNGSI MENURUT VLADIMIR PROPP Allien, Astri Adriani; Juwita, Inosensia Dinda
ATAVISME Vol 13, No 1 (2010): ATAVISME, Edisi Juni 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i1.145.75-88

Abstract

Tulisan ini membahas sebuah dongeng klasik Eropa, The Sleeping Beauty yang hingga saat ini masih dibaca, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Dongeng ini bercerita tentang seorang puteri raja yang terkena kutukan sehingga tertidur selama seratus tahun dan kemudian diselamatkan oleh seorang pangeran dari negeri seberang. Sebagaimana dongeng pada umumnya, maka The Sleeping Beauty dianalisis menggunakan teori struktural yang dikemukakan oleh Vladimir Propp. Analisis yang dilakukan menunjukkan bahwa dongeng The Sleeping Beauty memiliki struktur sebagaimana dongeng-dongeng Rusia yang telah dianalisis oleh Propp. Abstract: This paper discusses the European classical folktale entitled ?The Sleeping Beauty?, which has so far been widely recognized by children and adults. This folktale tells about a princess who got cursed in such a way that she slept for a hundred years. She was then saved by a prince from another kingdom. In this paper, ?The Sleeping Beauty? is analyzed by using Propp?s structural theory. The result of the analysis shows that ?The Sleeping Beauty? has the structure similar to Russian folktales, the ones that have been analyzed by Propp. Key Words : folktale, Propp?s structural analysis
Ambitious For Power in Shakespeare’s Macbeth Mustafa Mustafa
ATAVISME Vol 14, No 1 (2011): ATAVISME, Edisi Juni 2011
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i1.107.101-102

Abstract

This paper aims to describe the ambition of a king’s servant in Shakespeare’s, 'Macbeth'. Because of three witches (astrologer) advice which said that if he wants to be a king later, and to reach his ambition, he must kill his king and his close friend, Banquo. It means that he must use all way to reach his goals. But in the end, he got killed because his deed in reaching for his goals goes through by wrong way. This writing is expected to contribute for further research focused on whom is interested in English literary. This writing also included in descriptive interpretative discourse analyzes. The technique of collecting data is done by using inventory technique. Abstrak: Tulisan ini bertujuan menggambarkan ambisi seorang abdi raja dalam Macbeth karya Shakespeare. Karena ucapan dari tiga penyihir (ahli nujun) yang mengatakan bahwa kelak akan menjadi raja dan untuk mencapainya harus membunuh raja serta teman dekatnya, Banquo, ia harus menggunakan berbagai macam cara agar tujuan tersebut tercapai. Namun, pada akhirnya, ia terbunuh karena perbuatan tersebut dilakukannya dengan cara yang salah. Tulisan ini diharapakan dapat memberikan sumbangan pemikiran utamanya bagi peminat kesusastraan Inggris. Tulisan ini menggunakan metode analisis wacana deskriptif interpretatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan inventory technique. Kata-Kata Kunci: ambisi; pengkhianatan; dan konspirasi.
PERBEDAAN MAKNA NOVEL DAN FILM AYAT-AYAT CINTA: KAJIAN EKRANISASI Karkono, Karkono
ATAVISME Vol 12, No 2 (2009): ATAVISME, Edisi Desember 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i2.168.167-180

Abstract

Proses adaptasi dari novel ke bentuk film disebut ekranisasi. Perbedaan yang sering muncul dalam proses ekranisasi selama ini lebih sering disebabkan oleh perbedaan sistem sastra (dalam hal ini novel) dan sistem film. Hal-hal teknis seperti media novel yang berupa kata- kata dan bahasa sementara media utama film adalah audio visual (suara dan gambar) memang menjadi kewajaran jika antara novel dan film menjadi berbeda. Dalam kasus novel dan film Ayat-Ayat Cinta (AAC), perbedaan yang ada bukan sebatas karena masalah teknis tersebut, tetapi adalah perbedaan yang disengaja. Hasil dari penelitian ini adalah menguraikan perbedaan-perbedaan antara novel dan film AAC yang kemudian bisa terdeskripsikan sebab- sebab perbedaan itu terjadi dan juga makna perbedaan tersebut. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perbedaan yang ada antara novel dan film AAC bukan sebatas karena perbedaan sistem sastra dan sistem film, tetapi perbedaan yang disengaja oleh tim produksi film dengan maksud tertentu. Dari pengayaan dan berdasar pada fakta yang diungkap, peneliti menyimpulkan bahwa film AAC lebih menekankan pada persoalan poligami, ini terlihat dengan banyaknya penambahan adegan di dalam film yang menampilkan kehidupan poligami yang tidak ada di novel, sementara novel AAC lebih berisi. penggambaran perjuangan seorang mahasiswa Indonesia yang kuliah di Mesir beserta perjalanan kisah asmaranya. Abstract Adaptation process from novel to film is called ecranization. The differences often show up in the process of ecranization all this time is more regularly because of the difference of art system (in this case novel) and the film system. Technical things as media or novel which consist of words and language, meanwhile film main media is audio visual (sow1d and picture) becomes a common thing if between novel and film become different. In the case of AAC's novel and film, the difference is not only because of that technical problem, but this is an intentional difference. From this research can be concluded that difference among AAC's novel and film is not one bounds because an system difference and film system, but intentional difference by film production team for the specific purposes. From enrichment and based on fact that revealing, researcher concludes that AAC's film more emphasizes on polygamy problem, this appears on many added scenes in film that feature polygamy life that is not tell in the novel, while AAC'S novel more consist of the struggle of an Indonesian college student that study at Egypt there with his love story. Keywords: ecranization, novel and film, struggle of an Indonesian college student, polygamy
PENYALINAN DAN PENYADURAN NASKAH PAKUALAMAN PADA MASA PAKU ALAM V (1878—1900) Saktimulya, S.R.
ATAVISME Vol 17, No 1 (2014): ATAVISME, Edisi Juni 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i1.22.95-106

Abstract

The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their r?r?nggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeur's hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking, but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualaman's ancestors. The purpose of this study is to discover the purpose of Paku Alam V, the supreme ruler of Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878-1900) in initiating the recopying of classic manuscripts by changing a number their r?r?nggan (illustrations), while at the same time adapting texts from newspapers to be written in Javanese with Javanese characters. In this study, the researcher used philology and hermeneutics approach. Philology was used because the research objects were old manuscripts. Paul Ricoeur's hermeneutics was utilized as a means to understand the text. The results of the study show that the creation of a number of copies at that time reflects the policies of Paku Alam V. Some of the policies were in the fields of economics and education. The economic slump at the end of the reign of Paku Alam IV forced Paku Alam V to live frugally. Despite this situation, Paku Alam V worked hard to support his daughters to study overseas and sought for the welfare of his people by providing good examples to encourage them to work hard. They were driven to have a modern way of thinking but they should still uphold Javanese teachings handed down from Pakualaman's ancestors. Key Words: copying; adaptation; r?r?nggan (illustration); Javanese teachings; a modern way of thinking Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah mengetahui maksud Paku Alam V, penguasa tertinggi Kadipaten Pakualaman Yogyakarta (1878?1900) memprakarsai penyalinan kembali naskah?naskah adiluhung dengan mengubah sejumlah r?r?nggan ?ilustrasi?­?nya, sekaligus menyadur teks dari surat kabar untuk ditulis dalam bahasa dan aksara Jawa. Dalam penelitian ini digunakan pendekatan filologi dan hermeneutika. Filologi digunakan karena objek penelitian adalah naskah karya masa lampau; sedangkan hermeneutika pemikiran Paul Ricoeur dimanfaatkan sebagai sarana untuk memahami teksnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penciptaan sejumlah naskah pada waktu itu mencerminkan kebijakan Paku Alam V, antara lain dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Keterpurukan ekonomi pada masa akhir Paku Alam IV menyebabkan Paku Alam V harus hidup hemat. Meski demikian, Paku Alam V berusaha keras memajukan pendidikan anak-anak perempuannya ke luar negeri dan menyejahterakan warganya dengan memberikan keteladanan agar mau bekerja keras. Mereka didorong berpikiran modern namun tetap harus memegang teguh piwulang Jawa yang diberikan oleh para leluhur Pakualaman
RESISTENSI PEREMPUAN MULTIKULTURAL DALAM NOVEL SEROJA KARYA SUNARYONO BASUKI: KAJIAN FEMINIS Turaeni, Ni Nyoman Tanjung
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.136.257-264

Abstract

Resistensi perempuan multikultural di Indonesia mengarah kepada bentuk eksistensi perempuan dalam mempertahankan jati diri yang dimiliki meskipun terkekang oleh budaya dan tradisi. Berbagai macam cara dilakukan oleh mereka bertujuan hanya ingin mencapai titik ke- sempurnaan sebagai seorang perempuan yang dihargai kedudukan dan peranannya. Dengan kajian feminis dan metode hermeneutika terungkap bahwa Seroja karya Sunaryono Basuki adalah salah satu dari sekian banyak contoh novel yang menggambarkan perempuan multikultural yang terikat oleh budaya dan tradisi akibat kepercayaan sisa-sisa peradaban leluhur. Hal itu memperlihatkan secara jelas bahwa perempuan tetap menjadi makhluk yang diatur, warga kelas dua/the other (terpinggirkan), dan korban tradisi. Abstract: The resistence of multicultural woman in Indonesia leads to the form of women existence in defending their identity from the culture and tradition restraint. They have taken many ways in order to just reach a perfection point as a woman whose position and role are respected. By using feminist study and hermeneutics method, the resistence realization in Indonesia literature shows that Sunaryono Basuki?s Seroja is one of the so many instances of multicultural women bound to culture and tradition resulted from a strong faith to ancestor civilization leftover. Thus, it can be seen that woman are still being controlled creatures, second class citizens/the other (marginalized), and tradition victim. Key Words: feminism, multicultural, tradition