cover
Contact Name
Hero Patrianto
Contact Email
jurnal.atavisme@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.atavisme@gmail.com
Editorial Address
Balai Bahasa Jawa Timur, Jalan Siwalanpanji, Buduran, Sidoarjo 61252, Indonesia
Location
Kab. sidoarjo,
Jawa timur
INDONESIA
ATAVISME JURNAL ILMIAH KAJIAN SASTRA
ISSN : 1410900X     EISSN : 25035215     DOI : 10.24257
Core Subject : Education,
Atavisme adalah jurnal yang bertujuan mempublikasikan hasil- hasil penelitian sastra, baik sastra Indonesia, sastra daerah maupun sastra asing. Seluruh artikel yang terbit telah melewati proses penelaahan oleh mitra bestari dan penyuntingan oleh redaksi pelaksana. Atavisme diterbitkan oleh Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Terbit dua kali dalam satu tahun, pada bulan Juni dan Desember.
Articles 284 Documents
THE 1965 INDONESIAN KILLING DISCOURSE BY GENERATION 2000 WRITERS Arimbi, Diah Ariani
ATAVISME Vol 14, No 1 (2011): ATAVISME, Edisi Juni 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i1.98.1-14

Abstract

The fall of Soeharto?s authority in 1998 has indeed impacted numerous sides of Indonesian life: political, social and cultural. The shifting of authoritative government to the state of ?reformation? and ?democratization? has forced the nation to redefine its authority to its members. This paper aims to look at these public responses which are narrated in contemporary Indonesian fiction. Although fiction may be seen as imaginative production, discursive ideologies can be examined clearly. By examining thematic significant of the narratives about G30S/PKI and the killings aftermath in the literary writings published in post 1998 by contemporary Indonesia writers, who are known as the Generation 2000 writers (who were mostly born in 1970s at least five years after the 1965 incident: also known as the millennials), this paper will attempt to answer whether or not this generation presents shift and creates its own notions of the incident. Abstrak: Jatuhnya kekuasaan Soeharto pada tahun 1998 berdampak pada berbagai sisi kehidupan di Indonesia: politik, sosial, dan budaya. Pergeseran dari pemerintahan yang dulunya otoritatif menjadi pemerintahan yang sarat dengan "reformasi" dan "demokratisasi" telah memaksa negara untuk mendefinisikan kembali wewenangnya kepada para anggotanya. Makalah ini bertujuan untuk melihat respons publik yang diceritakan dalam fiksi Indonesia kontemporer. Walaupun fiksi dapat dipandang sebagai produk imajinatif, ideologi diskursif dapat dilihat dengan je-las. Dengan memeriksa tema-tema yang secara signifikan dimunculkan dari narasi tentang G30S/PKI dan tragedi pembunuhan sesudahnya dalam tulisan-tulisan sastra yang diterbitkan pasca tahun 1998 oleh penulis Indonesia kontemporer, yang dikenal sebagai penulis Generasi 2000 (penulis yang kebanyakan lahir di tahun 1970-an setidaknya 5 tahun setelah 1965 kejadian: juga dikenal sebagai millenials), makalah ini berusaha menjawab apakah generasi baru mengalami pergeseran dalam memahami tragedi tahun 1965. Apakah mereka telah menciptakan sendiri arti peristiwa sejarah tersebut lewat karya mereka ataukah mereka mengukuhkan makna yang sudah ada adalah pertanyaan yang berusaha dijawab dalam makalah ini. Kata-Kata Kunci: ideologi; diskursus; tragedi tahun 1965; milenial
ILUMINASI DAN ILUSTRASI NASKAH JAWA DI PERPUSTAKAAN SANA PUSTAKA KARATON SURAKARTA (SEBUAH KAJIAN KODIKOLOGIS) Widodo, Sisyono Eko; Supardjo, Supardjo; Winarni, Endang Tri
ATAVISME Vol 15, No 2 (2012): ATAVISME, Edisi Desember 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i2.61.209-220

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi iluminasi dan ilustrasi di dalam naskah Jawa di Perpustakaan Sana Pustaka Karaton Surakarta dan mendeskripsikan bentuk­bentuknya. Data dikumpulkan dengan teknik analisis isi, fotografi, dan wawancara. Dari 700 naskah, terdapat 48 judul naskah yang mengandung iluminasi maupun ilustrasi dalam berbagai bentuk motif. Ada 15 naskah beriluminasi, 22 naskah berilustrasi, dan 11 naskah yang mengandung iluminasi dan ilustrasi. Berdasarkan fungsinya, iluminasi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu: iluminasi sebagai bingkai teks, iluminasi sebagai pembatas teks, dan iluminasi sebagai hiasan teks. Bentuk ilustrasi dapat diklasifikasikan ke dalam beberapa macam, yaitu duwung, kuluk, senjata, wayang, bendera, song­song, konstruksi kerangka rumah, dan kampuh. Adapun bentuk gabungan antara iluminasi dan ilustrasi berupa bentuk wayang, mahkota, senjata, dedaunan dan bunga­bungaan, bangunan rumah, serta mobil. Abstract: This research aims to identify illumination and illustration contained in the Javanese manuscripts in the Sana Pustaka Karaton Surakarta library and describe the form of them. The data collected through content analysis, photography, and interview. Among 700 manuscripts, there are 48 titles containing illumination and illustration in many forms and motifs. There are 15 manuscript illuminated, 22 manuscript illustrated, and 11 manuscript are the combination of illumination and illustration. According to the function, there are 3 classification of illuminations: 1) illumination as a text frame. 2) illumination as a text barrier, and 3) illumination as a text ornament. The form of Illustration can be classified into several types, namely duwung, kuluk, weapon, puppet, flag, song­song, construction of house structure, and kampuh. The combination form of illumination and illustration has the shape of puppet, thrown, weapon, foliage and flower, car, and house construction. Key Words: Javanese manuscript, illumination, illustration
INTRODUCING HELAEHILI, AN ORAL POETRY FROM SENTANI, PAPUA Modouw, Wigati Yektiningtyas
ATAVISME Vol 13, No 2 (2010): ATAVISME, Edisi Desember 2010
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v13i2.126.149-160

Abstract

This paper is partially taken from my research on a Sentani oral poetry, helaehili that is sung in mourning occasions or funerals. It is also usually known as a song of lamentation. The research was conducted in Sentani, Papua, for almost four years (2004-2008). The data were taken directly from the field through recording. The data were then transcribed, translated into English and analyzed. Through the research, it is found that helaehili is rarely heard. Not many people, especially those who live near Jayapura city and young generation, know the song. It is predicted that helaehili will extinct in some years. The research finds the composition, formula, theme, and notation of helaehili. Abstrak: Tulisan ini merupakan sebagian dari penelitian saya tentang lantunan lisan Sentani, helaehili yang biasanya dilantunkan ketika ada kedukaan atau penguburan jenazah. Lantunan ini juga disebut sebagai ratapan. Penelitian dilakukan di wilayah Sentani, Papua selama hampir empat tahun, pada 2004-2008. Data diambil melalui rekaman langsung dari para pelantun di lapangan, kemudian ditranskripsi, diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan dianalisis. Mela- lui penelitian ini ditemukan bahwa helaehili sudah jarang dilantunkan. Tidak banyak orang, terutama yang tinggal dekat kota Jayapura dan para generasi muda yang mengenalinya. Dengan demikian, diprediksi bahwa lantunan ini akan hilang pada beberapa tahun ke depan. Penelitan ini menemukan komposisi, formula, tema, dan notasi mayor helaehili. Kata-Kata Kunci: puisi lisan, formula, tema, helaehili
AROK DEDES DAN PARARATON: TRANSFORMASI DAN DINAMIKA SASTRA DALAM WACANA GLOBALISASI SASTRA Dewi, Trisna Kumala Satya
ATAVISME Vol 16, No 1 (2013): ATAVISME, Edisi Juni 2013
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v16i1.87.119-128

Abstract

Arok Dedes karya Pramoedya Ananta Toer (1999) merupakan sebuah potret dinamika sastra sebagai akibat transformasinya dari karya terdahulu, yaitu Pararaton karya sastra Jawa Kuna yang termashur. Novel Arok Dedes, dalam hal relevansinya dengan konteks sejarah pun, merupakan suatu gejala sastra yang dinamis sebab dinamika sastra tidak terlepas dari sejarah. Dalam novel Arok Dedes, lewat kepiawaian dan proses kreatifnya, Pramoedya Ananta Toer berusaha mengungkapkan kembali peristiwa pada abad ke-13 sebagai sebuah sindiran untuk peristiwa masa kini, khususnya pada abad 20-an. Arok Dedes mengisahkan perebutan kekuasaan pertama dalam sejarah bangsa Indonesia, yang konon merupakan pengulangan peristiwa masa lalu. Pramoedya Ananta Toer sebagai pengarang Arok Dedes cukup berhasil dalam mengangkat ?mitos? Dedes dan mengungkapkannya dalam wacana globalisasi. Peran Dedes cukup menonjol dalam percaturan politik, kekuasaan, dan negara sebab Dedeslah penyusun strategi pemindahan kekuasaan dari suaminya (Tunggul Ametung) ke tangan Arok. Mitos tentang Ken Dedes yang memiliki kharisma ?kebesaran? atau ?prabawa? (kewibawaan) yang digali oleh Pramoedya Ananta Toer dari Pararaton ini menjadikan Arok Dedes sebagai karya sastra modern yang patut disimak, khususnya dalam wacana globalisasi sekarang ini. Dedes, sebagai sosok perempuan, berkaitan dengan kekuasaan, politik, dan kenegaraan. Abstract: Pramoedya Ananta Toer?s Arok Dedes (1999) is a portrait of literary dynamics as the result of its transformation from the previous work, namely Pararatonan outstanding literary work of old Java. The novel of Arok Dedes, in its relevance with historical context, means a dynamic literary phenomenon because the literary dynamics cannot be separated from history. In the novel Arok Dedes, through his creative sophistication and process, Pramoedya Ananta Tour attempted to retell the 13th century of the event as a satire on present events, especially in the 20th century. Arok Dedes narrated the struggle for the first power in Indonesian history, which is a repetition of preceding events. Pramoedya Ananta Tour, as the author of Arok Dedes, was successful enough in presenting Dedes? myth and expressing it in globalization discourses. The role of Dedes was noteworthy in the political domain, power, and state because Dedes was the mastermind of power transfer from her husband (Tunggul Ametung) to Arok. The myth of Ken Dedes having prestige or wisdom dug by Pramoedya Ananta Tour from Pararaton makes Arok Dedes a significant modern literary work, particularly in the current globalization discourses. Dedes, as woman figure, was related to power, politics, and state. Key Words: transformation, discourse, globalization
CITRA PEREMPUAN JAWA DALAM CERITA PENDEK MAJALAH BERBAHASA JAWA Sungkowati, Yulitin
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.52.103-116

Abstract

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan citra perempuan Jawa dalam cerita pendek ma­ jalah berbahasa Jawa dengan pendekatan feminis. Sumber data yang digunakan dipilih secara purposive, yaitu cerita pendek yang menokohkan perempuan dan membicarakan persoalan perempuan dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit setelah bergulirnya re­formasi tahun 1998. Pemilihan terbitan sejak tahun 1998 karena sejak itulah terjadi perubahan sosial budaya yang cukup signifikan di Indonesia. Penelitian ini menghasilkan temuan sebagai berikut. Majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat yang terbit di era reformasi menampilkan citra perempuan aktif, citra perempuan pelawan, citra perempuan materialis, citra perempuan korban, dan citra perempuan penggerak pembangunan. Abstract: The aim of this paper is to describe Javanese women image in the short story of Javanese magazines using feminist approach. The source of data used are purposively selected, those are short stories characterizing woman and discussing the woman issues in the Javanese magazine Panjebar Semangat published after the reformation in 1998. Publication since 1998 was selected because, in Indonesia, it was the period that the significant social­cultural change took place. The study found the following findings. Javanese magazine, Panjebar Semangat, published in the reformation era showed the image of active women, rebellion women, materialistic women, victim women, and the image of development mover. Key Words: image, Javanese women, feminist
KARYA SASTRA PEREMPUAN: ANALISIS AWAL TENTANG PERANG GENDER Prakoso, Teguh; Khasanah, Venus
ATAVISME Vol 12, No 1 (2009): ATAVISME, Edisi Juni 2009
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v12i1.159.77-82

Abstract

Tujuan artikel ini adalah menjelaskan perang gender yang tercermin dalam novel karya pengarang- pengarang perempuan Indonesia dari generasi Ayu Utami. Perang gender adalah ?dendam abadi? pengarang-pengarang perempuan terhadap pengarang laki-laki yang, sampai sekarang, mengeksploitasi tubuh perempuan dengan besar-besaran dan memaksa mereka untuk membaca tubuhnya sendiri dari sudut pandang laki-laki. Melalui teks erotis sebagai bahasa ekspresi, pengarang perempuan mampu menulis tubuh mereka dengan sudut pandangnya sendiri. Abstract: This paper has the objective of explaining the gender struggle implied in the novels of Indonesian female authors of Ayu Utami generation. The gender struggle is female author?s ?eternal enmity? towards male authors who, up till now, have greatly exploited woman?s body and force them to read their own body from the male point of view. Through erotic texts as the language of expression, female authors are able to write their body with their own point of view. Keywords: gender struggle, female authors, Ayu Utami generation
STRUKTUR NARATIF CERITA RAKYAT SUMBAWA BARAT Alaini, Nining Nur
ATAVISME Vol 17, No 2 (2014): ATAVISME, Edisi Desember 2014
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v17i2.13.240-253

Abstract

Oral literature will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp?s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions. Oral literatures will always change according to the dynamic of their community. Some oral literary works in Indonesia are extinct already due to not yet documented. Oral literature is, actually, a cultural treasure of Indonesia able to show the rich variety of cultures and values and the incredible creativity of their community. Change and the loss of a variety of oral literature mean the extinction or change of property contained in them. One form of Indonesian oral literature still enjoyed today is folklores of West Sumbawa. Therefore, this study aims to document the oral literature of West Sumbawa in the form of folklores. Furthermore, the folklores collected will be analyzed by using Vladimir Propp?s theory of narrative structure. The result shows that the folklores of West Sumbawa have fourteen actor functions. The fourteen functions can be distributed into five environmental actions. Key Words: oral literature; folklore; narrative structure Abstrak: Kehidupan sastra lisan akan selalu berubah sesuai dengan dinamika komunitas pemiliknya. Ada beberapa sastra lisan di Indonesia, yang telah hilang karena belum didokumentasikan, sedangkan sastra lisan adalah kekayaan budaya Indonesia yang kaya akan khazanah kearifan lokal dan merupakan kreativitas yang luar biasa dari komunitas pemiliknya. Perubahan dan hilangnya sastra lisan berarti punahnya kearifan lokal dan khazanah budaya yang terkandung di dalamnya. Salah satu bentuk sastra lisan Nusantara yang masih hidup hingga saat ini adalah cerita rakyat Sumbawa Barat. Cerita rakyat yang berhasil didokumentasikan dikaji struktur naratifnya berdasarkan pada struktur naratif yang dikemukakan oleh Vladimir Propp. Penelitian ini akan mendokumentasikan sastra lisandari Sumbawa Barat yang berwujud cerita rakyat. Dari hasil kajian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa cerita rakyat Sumbawa Barat memiliki empat belas fungsi pelaku. Keempat belas fungsi pelaku tersebut dapat didistribusikan ke dalam lima lingkungan tindakan
TUBUH, SUBJEK SEKSUAL, DAN KEKUASAAN DALAM NOVEL TELEMBUK: DANGDUT DAN KISAH CINTA YANG KEPARAT KARYA KEDUNG DARMA ROMANSHA Santoso, Joko
ATAVISME Vol 22, No 2 (2019): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v22i2.587.172-184

Abstract

Women's bodies as sexual objects are always in power relations. In Telembuk Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat, the characters of Diva and Mak Dayem are the representations of women's bodies as well as sexual objects in the power relation circle. This study aims to illustrate how women (Diva and Mak Dayem) compete with power by trying to make their bodies as sexual subjects in the novel Telembuk. The theory used in this study was the Power of Discourse theory proposed by Michel Foucault. According to the type of data, this study was a qualitative research. The data source was Kedung Darma Romansha?s novel Telembuk: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat published in 2017. This study used discursive formation method to analyse the data. The results of this study were 1) the metaphysical body becomes the strategy of telembuk women to utter anti-power, 2) telembuk as a woman strategy to be a sexual subject.
SAYEMBARA SEBAGAI BENTUK RESISTENSI PEREMPUAN DALAM MENOLAK HEGEMONI LAKI-LAKI DALAM CERITA RAKYAT RORO JONGGRANG, RORO MENDUT, DAN SANGKURIANG Mustofa, Ali
ATAVISME Vol 14, No 2 (2011): ATAVISME, Edisi Desember 2011
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v14i2.75.182-193

Abstract

Makalah ini membahas secara singkat beberapa masalah dalam lingkup resistensi terhadap hegemoni patriarki dalam tiga cerita rakyat Indonesia; Roro Jonggrang, Roro Mendut, dan Sangkuriang. Teori subalterniti Gayatri Spivak dipergunakan untuk membingkai pembacaan kritis terhadap ketiga cerita. Ketiga cerita rakyat yang dikaji mendedahkan resistensi perempuan terhadap dominasi hegemonis pria dalam lingkup masyarakat patriarkis. Temuan dari pembahasan menunjukkan bahwa tokoh-tokoh perempuan dalam ketiga cerita berasal dari strata sosial tertentu dalam masyarakat mereka yang telah memiliki subjektifikasi dan identifikasi tersendiri. ?Sayembara? yang secara taktis direka dan diciptakan oleh ketiga tokoh perempuan merupakan alat alternatif untuk menolak dominasi dan kekuasaan pria. Katarsis ketiga cerita rakyat menunjukkan bahwa ketiga tokoh perempuan menemui ajal atau mengalami perubahan wujud yang merupakan konsekuensi dari pemberontakan. Citra perempuan dalam ketiga cerita rakyat berdasarkan berbagai versi penceritaan adalah pemberontak dan subversif. Abstract: This paper briefly shares some insights in the matters of resistance toward patriarchic hegemony in three Indonesian folktales; Roro Jonggrang, Roro Mendut, and Sangkuriang. Spivak?s subalternity is used to carve out the critical reading on the three stories. The three stories tell women?s resistances toward men?s hegemonic dominions in patriarchic societies. The findings of the discussion show that woman characters in the three stories come from certain social stratum in their own societies who have their own subjectification and identification. ?Sayembara? which was tactically created by those women characters is a means of their alternative weapon to resist men?s dominion and power. The catharsis of the three folktales shows that the three woman characters find their dead or evanescent as the consequences of their being rebel. The images of women in the three stories based on various versions of the folktales are rebellion and subversive. Key Words: resistance, hegemony, patriarchy, dominion
FLUIDITAS ANTARA MASKULINITAS DAN FEMININITAS: REPRESENTASI WARIA DALAM FILM DOKUMENTER DAN FIKSI Maimunah, Maimunah
ATAVISME Vol 15, No 1 (2012): ATAVISME, Edisi Juni 2012
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24257/atavisme.v15i1.43.1-14

Abstract

Dunia Waria menjadi salah satu tema yang muncul dalam perkembangan film Indonesia pasca Orde Baru. Penelitian ini mengkaji dua film dokumenter dan sebuah film fiksi yaitu Betty Bencong Slebor karya Benyamin Sueb (1978) serta dua film dokumenter Renita­Renita karya Tony Trimarsanto (2006) dan Ngudal Piwulang Wandu karya Kukuh Yudha Karnanta (2009). Meng­ gunakan metode penelitian kualitatif dan teori queer dalam membaca media film, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ketiga film tersebut terlihat perbedaan dalam memaknai tubuh dan gender. Tokoh Sholeh dalam Ngudal Piwulang Wandu berharap suatu hari nanti kembali menjadi lanang sejati, menikah secara heteroseksual dan memiliki anak. Renita membayangkan tubuh dan identitas gender sebagai perempuan sempurna, sedangkan Betty terlihat menikmati interplay antara tubuh feminine dan maskulinnya. Tubuh dalam konteks ini dapat dilihat sebagai suatu con­ tinuum, perpaduan antara femininitas dan maskulinitas, bukan suatu entitas yang statis. Perbe­ daan ketiga tokoh utama dalam memandang tubuh, seksualitas, dan gender mereka juga mere­ fleksikan bahwa tidak ada identitas dan entitas tunggal dari waria. Abstract: The growing visibility of waria/male to female transgender has become one of the do­ dominant features in Indonesia?s contemporary film industry. The research examines three waria films: Tony Trimarsanto?s Renita­Renita (2006), Kukuh Yudha Karnanta?s Ngudal Piwulang Wan­ du (2009), and Benyamin Sueb?s Betty Bencong Slebor (1978). Two basic research questions are, firstly: how is the fluidity of masculinity and femininity represented; secondly how do the waria per­ceive themselves (self­identity) in a heterosexual culture. Queer film theory will be used in analyzing the film diegesis. The research finds the fluidity and continuum of the waria main characters in de­fining the meaning of the self and their bodies. This fluidity offers a playful negotiation to the essen­tialist concept of gender binary system. Key Words: waria, film, gender identity