cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Suhuf
ISSN : 25272934     EISSN : 25272934     DOI : -
Core Subject : Education,
Arjuna Subject : -
Articles 235 Documents
KONSEP KONSIENTISASI PAULO FREIRE DAN RELEVANSINYA TERHADAP PENDIDIKAN ISLAM Agung Ilham Prastowo
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini akan membahas tentang konsep pendidikan Paulo Freire yang sering disebut dengan konsientisasi. Penelitian ini mencakup konsep kosientisasi Paulo Freire, ide-ide Paulo Freire dalam pendidikan dan relevansinya terhadap pendidikan Islam. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi pustaka (library research. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan Paulo Freire sangat berkaitan erat dengan pendidikan Islam, pertama kesesuaian tujuan dalam pendidikan yaitu membangun kesadaran dalam mengembangkan potensi diri manusia. Kedua, kesesuaian dalam konsep pendidik yaitu sebagai pembimbing, pengajar, fasilitator yang menciptakan proses belajar yang interaktif. Ketiga, kesuaian dalam konsep siswa yaitu siswa mempunyai kebebasan dalam mengembangkan dirinya.
SOLUSI METODOLOGIS AMIN ABDULLAH: PENCIPTAAN “JEMBATAN” ANTARA ILMU DAN AGAMA (Tinjauan Ontologis, Epistemologis dan Aksiologis) Waston waston
Suhuf Vol 27, No 1 (2015): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dikotomi yang begitu ketat antara ilmu-ilmu agama dan ilmu umum, sangat disayangkan karena telah mengarah pada pemisahan yang tidak bisa dipertemukan lagi antara keduanya dan bahkan cenderung pada penolakan keabsahan masing-masing dengan menggunakan metode yang sangat berbeda dengan sudut jenis dan prosedurnya. Demikian tegas pemisahan di antara mereka, sehingga kedua kelompok ilmu tersebut seakan akan takkan pernah bisa dipersatukan, dan harus dikaji secara terpisah dengan cara dan prosedur yang berlainan. Tulisan ini bermaksud mengungkap bagaimana Amin Abdullah memberikan solusi metodologis untuk menciptakan “jembatan” antara ilmu agama dan ilmu umum. Tulisan ini menggunakan pendekatan filsafat ilmu yaitu landasan ontologis, epistemologis dan aksiologis. Amin melihat bahwa dalam sistem ilmu yang integratif-interkonektif yang digagasnya pemisahan tersebut masih bisa diatasi dengan menemukan basis ontologis, yang didasarkan pada landasan teoantroposentrik-integralistik.Secara epistemologis, didasarkan pada landasan interconnected entities ( bergabungnya antara hadarah al-nas, hadarah al-ilm, dan hadarah al falsafah). Secara aksiologis, pemikiran Amin didasarkan pada landasan etik yang bersifat transformatif-liberatif. Sejalan dengan epistemologi M. Iqbal, Fazlur Rahman dan Whitehead, Amin berpendapat bahwateologi terbuka terhadap perubahan. Teologi lama bisa dimodifikasi dengan cukup radikal sebagai akibat ilmu pengetahuan  empiris baru tentang alam. Menurut penulis, teologi Amin akan tepat bila disebut “teologi proses” (yang diilhami dari filsafat proses ilmuwan-filosof A.N.Whitehead di awal abad ke-20). Amin biasa menyebutnya dengan istilah  “Qobilun li al niqas wa al-taghyir). Pendapat Amin ini memiliki persamaan dengan pendapat  Whitehead, karena teologi ini dia pandang lebih sesuai dengan teori-teori sains mutakhir. Penulis memberikan  beberapa kritik terhadap pemikiran Amin. Amin tidak pernah mempertanyakan legitimasi epistemik sains. Konsepnya tentang interconnected entities (bergabungnya nash, ilmu dan faslafah) selain memberinya dasar untuk menerima apa yang dinyatakan teori sains sebagai representasi alam, juga mengindikasikan penerimaannnya akan objektivitas dan netralitas sains. Pemikiran Amin memberikan tegangan pemikiran epistemologis dalam Islamic studies, namun jika ketegangan –yang tak selalu berkonotasi buruk- ini diubah menjadi sumber kreativitas, kita bisa berharap pemahaman Islamic studies yang diperoleh melalui pendekatan ilmiah  mampu memperkaya pemahaman keagamaan.
PENGGUNAAN KATA “لا” BERMAKNA “JANGAN” DALAM AL-QUR’AN (PERSPEKTIF PENDIDIKAN ISLAM) Abdulkarim Abdulkarim Zulfa Ahmadi; Mahasri Shobahiya
Suhuf Vol 29, No 2 (2017): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Beberapa pakar psikologi dan parenting mengingatkan pada guru dan orang tua untuk menghindari penggunaan kata “jangan” dalam mendidik anak, karena hal tersebut akan menjadikan anak tertekan serta menganggap bahwa dunia ini penuh dengan aturan yang menekan. Sementara itu, dalam Al-Qur’an tidak sedikit ayat yang menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”, bahkan lebih dari 300 ayat menggunakan kata tersebut.Penelitian ini menemukan bahwa ayat-ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dalam Al-Qur’an dan Terjemahnya, yang diterbitkan Kementerian Agama RI tahun 2012 terdapat dalam 358 ayat yang tersebar dalam 64 Surat. Ayat yang mengandung kata “لا” bermakna “jangan” dapat dikelompokkan dalam tiga bidang, yaitu Akidah, Akhlak, dan Syariat. Selain tiga bidang tersebut, beberapa ayat Al-Qur’an yang di dalamnya terdapat kata “لا” bermakna “jangan” merupakan sebuah do’a dan kisah-kisah masa lampau yang tertulis dalam Al-Qur’an, sehingga bukan termasuk ayat-ayat larangan yang dapat diterapkan dalam pendidikan Islam.Ayat-ayat yang mengandung larangan pada bidang Akhlak memiliki jumlah lebih banyak dibandingkan dengan bidang lainnya, karena bidang tersebut mencakup beberapa aspek kehidupan, baik berhubungan dengan Sang Pencipta, manusia, alam, dan diri sendiri. Sedangkan, untuk terbanyak kedua adalah dalam bidang Akidah, di dalamnya terdapat ayat larangan dengan redaksi yang sama diulang berkali-kali pada ayat ataupun surat yang berbeda. Tampaknya Allah bermaksud untuk memberikan penekanan lebih terhadap pendidikan Islam, terutama keimanan kepada Allah Swt. Ayat larangan pada bidang Syariat lebih sedikit dibandingkan dengan dua bidang lainnya. Hal itu bisa disebabkan, karena ketentuan-ketentuan syariat telah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak menggunakan kata “لا” bermakna “jangan”.
MODEL PEMBINAAN KOMPETENSI AIK GURU DI MADRASAH TSANAWIYAH MUHAMMADIYAH PONOROGO Rohmadi Rohmadi; Bambang Wahrudin; Wawan Kusnawan
Suhuf Vol 33, No 2 (2021): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan adalah salah satu pilar dakwah persyarikatan Muhammadiyah. Ibarat kata menjadi primadona bagi masyarakat jika membicarakan pendidikan Muhamamadiyah. Karena tak sedikit sekolah/Madrasah Muhammadiyah yang mampu menceatak alumni dengan kualitas yang baik sehingga kebermanfaatanya sangat dirasakan oleh masyarakat. Namun demikian, tidak semua sekolah/madrasah Muhammadiyah mampu menjadi lembaga pendidikan Islam yang unggul, melainkan banyak diantaranya yang dalam ekeadaan memprihatinkan. Muhammadiyah Ponorogo setidaknya memiliki 8 (delapan) madrasah tsanawiyah (MTs) atau setingkat dengan sekolah menengah pertama (SMP). Delapan MTs yang ada tersebut secara kuantitas siswa mayoritas tidak mencapai 100 siswa dalam satu sekolah. Hanya satu sekolah yang jumlah muridnya lebih dari 100 siswa yaitu MTs Muhammadiyah 2 Jenangan Ponorogo. Hal tersebut menjadi menarik untuk dilakukan penelitian bagaimana model pembinaan AIK guru yang ada di lembaga-lembaga tersebut mengingat bahwa maju mundurnya lembaga pendidikan sangat dipengaruhi oleh sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Sedangkan sebagai lembaga pendidikan Muhammadiyah Mengingat bahwa Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) merupakan menjadi indickator utama bagi kompetensi kepribadian dan kompetensi socsial bagi guru yang ada di sumber daya manusia yang ada di lembaga pendidikan Muhammadiyah. Penelitian ini bertujuan mengetahui dan menganalisis model pembinaan Al Islam Kemuhammadiyahan (AIK) guru di MTs Muhammadiyah yang berada di Ponorogo. Dengan Selain mengetahui model pembinaan AIK para guru juga akan dapat disimpulkan silabus dangambaran materi pembinaan AIK yang diterapkan di bagi guru SMP dan MTs Muhammadiyah se-Ponorogo sehingga yang mampudapat menjadi referensi bagi seluruh pengembangan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah yang jugadalam mengemban misi dakwah Muhammadiyah mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. 
ZIKR DAN FIKR: MENUJU TRANSFORMASI DIRI Abdullah Mahmud
Suhuf Vol 28, No 2 (2016): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebutuhan hati terhadap zikir adalah identik dengan kebutuhan ikan terhadap air, demikian kata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Sedang Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah berkata:”Sesungguhya zikr adalah makanan pokok bagi hati dan roh, apabila hamba Allah gersang dari siraman zikr, maka jadialah ia bagikan tubuh yang terhalang untuk memperoleh makan pokok”. Zikir merupakan hakekat ibadah dan menjadi sarana untuk mencapai ketinggian dan kemulian rohani.  Zikr adalah perbuatan atau keadaan yang diwajibkan bagi seluruh umat muslim, karena para Nabi terdahulu juga  diperintahkan Allah untuk berzikir.Sedangkan Dalam khazanah Islam, Tafakkur mempunyai padanan kata yang banyak dan agak mirip maknanya, seperti I’tibar (mengambil pelajaran), ta’amul (memikirkan), tadabbur (merenungkan), dan tazakkur (mengingat-ingat). Dalam kata tafakkur terkandung objek yang mesti menjadi sasaran perenungan.
MEMBENTUK KREATIVITAS DALAM DUNIA KERJA Zainal Abidin Marasabessy
Suhuf Vol 31, No 1 (2019): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan mendeskripsikan konsep tentang apa itu kreativitas dan menganalisis proses-proses upaya pembentukan kreativitas di dalam dunia perkerja sehingga organisasi mampu melihat dan memperhatikan hal tersebut untuk menghasilkan kreativitas. Dengan adanya kreativitas organisasi maupun individu mampu bersaing di dunia pekerjaan. Untuk menganalisis konsep kreativitas dan cara meningkatkan kreativitas itu sendiri dideskripsikan dengan menggunakan pendekatan analisis faktor pendukung kreativitas. Faktor-faktor yang dianalisis berpotensi meningkatkan kreativitas antara lain peran dari dukungan pimpinan, dukungan rekan kerja, efikasi diri kreatif, autonomi kerja, motivasi intrinsik, dan gaya kognitif. Sehingga faktor-faktor pendukung tersebut secara signifikan dapat menghasilkan kreativitas pekerja dalam suatu pekerjaan.
KOMPARASI SISTEM MONETER EKONOMI KAPITALISME DAN EKONOMI ISLAM Aries Indrianto
Suhuf Vol 28, No 1 (2016): Mei
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai kasus mutakhir krisis ekonomi global yang berulang –terutama krisis moneter (keuangan)– membuat banyak pakar ekonomi keuangan dunia sekarang ini berusaha mencari desain baru sistem moneter yang tahan banting dan tidak mudah mengalami krisis.Sepanjang sejarahnya selama 1.400-an tahun, negara Khilafah Islam –secara umum– menjadikan sistem moneternya berbasis bimetal currencies (dinar emas dan dirham perak). Dan dijumpai fakta bahwa dinar-dirham memiliki relevansi sebagai currency (mata uang) yang paling stabil dan cukup tangguh dalam sistem moneter.Berbeda dengan Kapitalisme yang menjadikan sistem moneternya berbasis fiat money yang mata uangnya tidak memiliki nilai intrinsik, dan hanya sekedar berdasar kepercayaan kepada institusi keuangan yang menerbitkannya.Sistem moneter kapitalisme yang saat ini diterapkan oleh mayoritas negara di dunia baru berusia sekira 240 tahun.Tapi dalam rentang waktu tersebuttelah puluhan kali mengalami krisis moneter yang berdampak pada hancurnya perekonomian suatu negara bahkan kemudian berimbas kepada negara-negara lain di dunia, dan tentu membuat kehidupan masyarakat dunia terpuruk.
AL-QUR’AN DAN MULTIKULTURALISME Abdullah Mahmud
Suhuf Vol 30, No 2 (2018): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel pendek ini berupaya untuk menggali kembali nilai-nilai multikultural dalam sejarah panjang akar kehidupan bangsa dalam rangka untuk menemukan formula membangun kehidupan bersama yang bebas dari prejudice, stereotipe, dan sentimen-entimen primordial lainnya, yang sewaktu-waktu dapat menjadi “bom waktu” yang mengancam ko-eksistensi kehidupan dari perspektif agama Islam, yakni menggali kembali nilai-nilai multikultural dalam al-Qur’an. Menurut penulis Pluratiltas dan multikulturalitas adalah sebuah keniscayaan dan merupakan sunnatullah yang terjadi di alam semesta dan manusia. Multikulturalitas adalah sebuah realitas yang kasat mata dan tidak perlu diingkari keberadaannya. Namun demikian, dalam perspektif Islam ia tidak harus dipandang sebagai suatu hal yang berdiri sendiri, akan tetapi sangat bergantung pada konsep lain sebagai satu kesatuan. Tawhid (keesaan Tuhan) adalah sebuah konsep sentral yang meletakan kesatuan sebagai inti pandangan dan sekaligus merupakan esensi ajaran dan kebudayaan Islam yang berfungsi sebagai kekuatan sentripetal (pengikat) dari berbagai pluralitas-multikulturalitas bangsa, suku, ras, agama, madzab/golongan, politik, dan berbagai unsur budaya. Bhineka Tunggal Ika (unity in diversity) adalah ungkapan padanan yang tepat untuk menggambarkan Islam dan multikulturalisme itu. Dalam berbagai agama, khususnya Islam, terdapat apa yang disebut great tradition atau high tradition dan litlle tradition atau low tradition, sebagai akibat bertemunya agama dan budaya. Demikian juga dialektika antara Islam yang bersifat universal sebagai agama langit dan budaya lokal yang bersifat partikular pada gilirannya, akan menghasilkan corak atau warna Islam yang berbeda-beda satu tempat dengan tempat lain.
PERAYAAN IMLEK MUSLIM TIONGHOA DALAM PERSPEKTIF AL-QUR’AN DAN MUSLIM TIONGHOA DI SURAKARTA Tri Yuliana Wijayanti; Hafizzullah Hafizzullah; Suharjianto Suharjianto
Suhuf Vol 32, No 1 (2020): MEI
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dalam konteks budaya, Islam bukanlah agama yang hanya mencakup sistem credo (kepercayaan) dan ritus (ibadah) saja, melainkan juga menyangkut masalah kebuadayaan. Ketika Islam bertemu dengan budaya dimana Islam didakwahkan, maka kebudayaan Islam baru akan terbentuk dari hasil akulturasi antara budaya lokal dengan nilai-nilai Islam. Hal ini terjadi pula pada diantara etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam. Muslim Tionghoa tetap melaksanakan perayaan imlek meski mereka telah memeluk agama Islam. Dengan demikian mereka tidak harus kehilangan identitas etnisnya, meski mereka telah memeluk agama Islam. Studi ini menarik ketika melihat adanya adaptasi budaya imlek dengan nilai-nilai Islam, terutama adanya simbol-simbol yang ada pada perayaan imlek dan dipandang dari sisi ajaran al-Quran dan Muslim Tionghoa.
INFILTRASI PEMIKIRAN DAN GERAKAN HTI DI INDONESIA Erni Sari Dwi Devi Lubis; Ma’arif Jamuin
Suhuf Vol 27, No 2 (2015): Nopember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) masuk dan berkembang di Indonesia pada tahun 1980an di Bogor. Organisasi ini didirikan sebagai organisasi politik Islamyang memiliki visi utama mendirikan Negara Islam. Untuk mewujudkan visi tersebut HT melakukan infiltrasi kebeberapa Negara yang dominan Islam. Salah satu infiltrasi HT adalah Indonesia. Paper ini membahas mengenai perjalanan HTI, pemikiran-pemikiran HTI dan Infiltrasi-infiltrasi yang dilakukannya  di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka dengan  menggunakan metode analisis deduktif. Hasil dari penelitian ini adalah HTI melakukan Infiltrasi pemikiran dan gerakan ke Indonesia dengan masuk ke organisasi-organisasi besar seperti Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan Majelis Ulama Indonesia