cover
Contact Name
buhari
Contact Email
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Phone
+6285241919232
Journal Mail Official
pend.sejarah.fkip@uho.ac.id
Editorial Address
Kampus Hijau Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Sulawesi Tenggara – Indonesia Telp Kantor/HP : 04013127180 / 085241919232
Location
Kota kendari,
Sulawesi tenggara
INDONESIA
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Published by Universitas Halu Oleo
ISSN : 25026666     EISSN : 25026674     DOI : https://doi.org/10.36709/jpps
Core Subject : Education, Social,
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan Sejarah Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Halu Oleo. Jurnal ini terbit empat kali dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Mei, Agustus dan November. Terbitan awal Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO yaitu Volume 1 nomor 1 Maret 2016. Tujuan dari adanya publikasi pada jurnal ini adalah untuk menyebarluaskan pemikiran konseptual dan hasil penelitian. Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO merupakan wadah ilmiah untuk mempublikasikan berbagai hasil penelitian mahasiswa, dosen, maupun guru, dengan Ruang lingkup Jurnal memuat tentang kajian Pendidikan Sosial-Budaya khususnya aspek: Pendidikan Sejarah, Etnopedagogik, Kajian Sejarah Lokal, Kajian kearifan lokal sebagai modal pendidikan dan penguatan karakter.
Articles 208 Documents
SENI BELA DIRI EWA WUNA DI KECAMATAN LASALEPA KABUPATEN MUNA Abd. Akbar H., Abd; Batia, La
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (268.02 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i1.7324

Abstract

ABSTRAK: Tujuan utama penelitian ini adalah: Untuk menjelaskan syarat, mendeskripsikan gerakan, menjelaskan perubahan yang terjadi dalam seni bela diri Ewa Wuna, dan untuk menggali serta mengungkapkan nilai- nilai yang terkandung dalam seni bela diri Ewa Wuna di Kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna.Hasil penelitian menunjukkan tahap dalam  memasuki perguruan Seni Bela Diri Ewa Wuna ada dua syarat: (1) Feoti depake parakano dana banggai be lomo Tujuanya agar mata menjadi tajam dan tidak takut terhadap benda- benda tajam, kedua dofokadiu nekontu kaghito, Tujuannya agar sang murid selalu taat kepada perintah Tuhan dan menjungjung nilai- nilai yang diajarkan oleh sang guru. (2) Setelah syarat diterima dan di setujui oleh murid, maka guru mulai membimbing murid melakukan gerakan dasar silat, di mana gerakan dasar ini terdiri atas dua tahap, yaitu: a. Gerakan pica bunga, langkah satu, langkah dua, langkah tiga, langkah empat, b. Gerakan menyerang dan bertahan. (3) Perubahan yang terjadi  dalam seni bela Ewa Wuna mengalami perubahan, antara lain dari segi pakaian dan fungsinya dimana periode pada masa kerajaan hanya menggunakan pakaian serba hitam dan diikatkan sarung Muna sedangkan sekarang pakaian yang digunakan hanya pakaian biasa, seperti pakaian modern yang kadang memakai sarung Muna di pinggang dan kadang tidak. 4.Untuk menggali dan mengungkapkan nilai-nilai yang terkandung dalam seni bela diri Ewa Wuna di kecamatan Lasalepa Kabupaten Muna. Kata Kunci: Syarat, Gerak, Perubahan, Ewa Wuna
SEJARAH BUDAYA MASYARAKAT BUGIS DI KELURAHAN BOEPINANG KECAMATAN POLEANG KABUPATEN BOMBANA Wawan, andi; M, Aswati
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jpps.v3i2.12141

Abstract

ABSTRAK: Tujuan utama penelitian ini adalah: (1) Untuk menjelaskan bentuk-bentuk kebudayaan masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana, (2) Untuk menjelaskan perkembangan kebudayaan masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana, dan (3) Untuk menjelaskan strategi masyarakat suku Bugis dalam mempertahankan kebudayaan di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana. Penelitian menggunakan pendekatan strukturis, dengan menggunakan sumber tertulis, sumber lisan, dan sumber visiual. Metode penelitaian menggunakan metode sejarah yang terdiri dari 1) pengumpulan sumber (Heuristik), 2) kritik sumber eksternal dan internal, 3) penulisan (historiografi). Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Budaya masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana adalah: mappalili, mappedendang, macceratasi, aqiqah, mabbarasani, mappaci, ammateang, marraga, maggasing, mallogo, majjeka, (2) Perkembangan budaya masyarakat suku Bugis di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana makin menurun akibat perkembangan teknologi. (3) Strategi masyarakat suku bugis dalam mempertahankan kebudayaan di Kelurahan Boepinang Kecamatan Poleang Kabupaten Bombana yakni dengan memberikan pemahaman tentang esensi nilai kearifan lokal, melaksanakan kegiatan budaya secara terus menerus dan berkesinambungan, menumbuhkan rasa percaya diri dan bangga pada masyarakat Boepinang tentang budaya dan adat istiadat bugis, membentuk lembaga adat Bugis di Poleang, memasukan kegiatan Budaya Bugis dalam kurikulum sekolah (Muatan Lokal). Kata Kunci: Sejarah, Budaya, Masyarakat Bugis  ABSTRACT: The main objectives of this study are: (1) To explain the cultural forms of the Bugis tribe in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency, (2) To explain the cultural development of the Bugis tribe community in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency, and (3) To explain the strategy of the Bugis people in maintaining culture in the Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency. Research uses a structuralist approach, using written sources, oral sources, and visionual sources. The research method uses the historical method which consists of 1) collection of sources (Heuristics), 2) criticism of external and internal sources, 3) writing (historiography). The results of this study are as follows: (1) The culture of the Bugis tribe community in Boepinang Village, Poleang District Bombana Regency are: mappalili, mappedendang, maceration, aqiqah, mabbarasani, mappaci, ammateang, marraga, maggasing, mallogo, majjeka, (2) cultural development Bugis tribe community in Boepinang Sub-District, Poleang District, Bombana Regency is decreasing due to technological developments. (3) The strategy of the Bugis tribe community in maintaining culture in Boepinang Village, Poleang District, Bombana Regency by providing an understanding of the essence of local wisdom values, carrying out cultural activities continuously and continuously, fostering self-confidence and pride in the Boepinang community about culture and customs. bugis, forming a traditional Bugis institution in Poleang, including Bugis Culture activities in the school curriculum (Local Content). Keywords: History, Culture, Bugis Society
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SOSIOLOGI PADA SISWA KELAS XI IPS-B SMA NEGERI 1 MAGINTI Juliati, Juliati; Jamiludin, H.
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.638 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i1.7343

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk:  1) Meningkatkan aktivitas belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS-B SMA Negeri I Maginti melalui penerapan model pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share, 2) Meningkatkan efektivitas mengajar sosiologi pada guru kelas XI IPS-B SMA Negeri I Maginti melalui penerapan model pembelajaran kooperatif Tipe Think Pair Share, 3) Meningkatkan hasil belajar sosiologi pada siswa kelas XI IPS-B SMA Negeri I Maginti melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share. Subjek penelitian ini adalah guru dan seluruh siswa kelas XI IPS-B SMA Negeri I Maginti sebanyak 25 orang siswa.Data yang diperoleh dari penelitian ini adalah aktivitas yang  diperoleh dari lembar observasi dan hasil belajar siswa yang diukur melalui tes siklus. Analisis data yang dilakukan adalah statistik deskriptif. Dari hasil analisis data diproleh kesimpulan bahwa: 1) Aktivitas belajar siswa pada siklus I mencapai 71.42% yang termaksud belum mencapai indikator, pada siklus II meningkat menjadi 100%. 2) Efektivitas mengajar guru rata-rata pada siklus I mencapai 83% belum mencapai kinerja indikator yang telah ditetapkan, pada siklus II meningkat menjadi 91,67% telah mencapai indikator. 3) Hasil belajar sosiologi pada siklus I nilai rata-rata mencapai 75,24 sedangkan pada siklus II nilai rata-rata mencapai 82,28. Peningkatan hasil belajar pada siklus I mencapai 60% atau 15 orang dari 25 siswa yang tuntas secara klasikal dan 40% atau 10 orang yang tidak tuntas secara klasikal dan pada siklus II hasil belajar siswa mencapai 84% atau 21 orang dari 25 siswa yang tuntas secara klasikal dan 16% atau 4 orang yang tidak tuntas secara klasikal . Kata kunci: Aktivitas, Efektivitas, Hasil Belajar
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN NUMBERED HEAD TOGETHER DALAM UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR IPS SISWA KELAS VII MTS.S ASH-SHIDDIQ TIKEP Ashar, Ashar; Mursidin T, Mursidin T
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.653 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v3i3.12840

Abstract

ABSTRAK: Tujuan utama dalam penelitian adalah 1) untuk meningkatkan aktivitas belajar siswa pada penerapan model Numbered Head Together dalam pembelajaran IPS Siswa Kelas VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep, 2) untuk meningkatkan keefektifan mengajar guru pada penerapan model Numbered Head Together dalam pembelajaran IPS Siswa Kelas VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep, 3) untuk meningkatkan hasil belajar siswa melalui penerapan model Numbered Head Together pada pembelajaran IPS Siswa Kelas VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep. Jenis penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 22 Maret sampai dengan tanggal 26 April 2018 yang dilihat sebanyak dua siklus dan setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan yang dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2017/2018 pada siswa kelas VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep. Prosedur penelitian ini meliputi: perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi dan evaluasi serta refleksi. Data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diambil dengan menggunakan lembar observasi, sedangkan data kuantitatif diperoleh melalui tes siklus. Berdasarkan analisis data menunjukan bahwa: 1) aktivitas siswa dengan penerapan model pembelajaran Numbered Head Togeteher pada skor rata-rata aktivitas siswa siklus I sebesar 2,8 yang termasuk pada kategori cukup meningkat pada siklus II menjadi 3,6 yang termasuk padakategori baik; 2) keefektifan mengajar guru ditunjukkan dengan skor rata-rata padasiklus I adalah 2,9 yang termasuk kategori baik dan meningkat lebih efektif lagi pada siklus II menjadi 3,7 yang berkategori baik mengarah ke sangat baik; 3). Terjadi peningkatan hasil belajar siswapada siklus I dari 26 orang siswa hanya 15 orang siswa yang tuntas dengan presentase ketuntasan 62,32% dengan nilai rata-rata 63,86. Pada siklus II mengalami peningkatan yaitu dari 26 orang siswa ada 23 orang siswa yang tuntas dengan presentase ketuntasan 90% dengan nilai rata-rata 85,62. Kata Kunci: Model, NHT, Hasil Belajar ABSTRACT: The main objective in this research is 1) to increase student learning activities on the application of the Numbered Head Together model in Social Studies learning for Class VII MTs.S students Ash-Shiddiq Tikep, 2) to improve the effectiveness of teaching teachers in the application of the Numbered Head Together model in Social Studies learning Students of Class VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep, 3) to improve student learning outcomes through the application of the Numbered Head Together model in social studies learning of Class VII Students of MTs.S Ash-Shiddiq Tikep. This type of research is Classroom Action Research. This research was conducted on March 22 until April 26, 2018 which was seen as many as two cycles and each cycle consisted of two meetings conducted in the even semester of the academic year 2017/2018 for students of class VII MTs.S Ash-Shiddiq Tikep. The procedures of this research include: planning, implementing actions, observing and evaluating as well as reflecting. The data in this study are qualitative data and quantitative data. Qualitative data were collected using observation sheets, while quantitative data were obtained through cycle tests. Based on data analysis shows that: 1) student activities with the application of the Numbered Head Togeteher learning model on the average score of cycle I students activities of 2.8 which included in the category quite increased in cycle II to 3.6 which included in both categories; 2) the teaching effectiveness of teachers is shown by the average score on the first cycle is 2.9 which belongs to the good category and increases even more effectively in the second cycle to 3.7 which categorizes good leads to very good; 3). An increase in student learning outcomes in the first cycle of 26 students only 15 students who completed with a percentage of completeness 62.32% with an average value of 63.86. In the second cycle, there was an increase, from 26 students there were 23 students who were completed with 90% completeness with an average value of 85.62. Keywords: Model, NHT, Learning Outcomes
KONFLIK TAPAL BATAS KELURAHAN LEMO DENGAN DESA MALALANDA KECAMATAN KULISUSU KABUPATEN BUTON UTARA TAHUN 2011 kendari, pendidikan Sejarah UHO; Hayari, H.
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (289.716 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i1.7348

Abstract

ABSTRAK            Permasalahan penelitian ini adalah: (1) Bagaimana proses terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda? (2) Apa faktor penyebab  terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda? (3) Bagaimana dampak terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda? (4) Apa Upaya penyelesaian konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode sejarah menurut Helius Sjamsudin, yaitu: (a) Heuristik (pengumpulan sumber), yang dilakukan dengan teknik pengamatan, wawancara dan studi dokumen, (b) Kritik, yang dilakukan melalui kritik eksternal dan kritik internal, (c) Historiografi, yang dilakukan secara sistematis melalui tahap interpretasi, eksplanasi, dan ekspose. Dalam tinjauan pustaka penulis menggunakan teori sejarah, teori konflik, konsep pemekaran wilayah, konsep tapal batas.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Proses terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda berawal karena adanya keinginan Desa Malalanda untuk memekarkan atau memisahkan diri menjadi desa yang mandiri dan mengurus masyarakatnya sendiri, (2) Faktor penyebab terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda adalah: a) Faktor intern, yaitu: 1) Status kepemilikan tanah, 2) tempat wisata. Faktor ekstern, yaitu: 1) keputusan pemerintah daerah dianggap tidak adil (2) Keputusan penjajah, (3) Tidak ada tapal batas permanen dari pemerintah daerah, (3) Dampak terjadinya konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda, yaitu: (a) Bertambahnya solidaritas, (b) Berkurangnya wilayah, (c) Pelaksanaan pelayanan administrasi pertanahan terhambat, (4) Upaya penyelesaian konflik tapal batas Kelurahan Lemo dengan Desa Malalanda, yaitu dengan mediasi dan penandatanganan surat persetujuan kedua belah pihak. Kata Kunci: Proses, Faktor, Dampak, Konflik
SEJARAH DESA TALAGA BESAR KECAMATAN TALAGA RAYA KABUPATEN BUTON TENGAH (1977-2017) Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (22.653 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v3i4.12860

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah: (1) Apa latar belakang terbentuknya Desa Talaga Besar Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah? (2) Bagaimana berkembangan Desa Talaga Besar Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah Tahun 1977-2017? Metode sejarah tersebut adalah: (a) Pemilihan topik (b) Heuristik (Pengumpulan Data) (c) Verifikasi (Kritik Sejarah) (d) Interpretasi (e) Historiografi (kritik sejarah). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa: (1) Desa Talaga Besar awalnya hanya dijadikan tempat untuk berkebun atau bercocok tanam, misalnya menanam jagung dan ubi kayu sebagai makanan pokok masyarakat setempat dan pada umumnya masyarakat Buton. Karena seiring berjalannya waktu dan peradaban serta jumlah penduduk semakin bertambah banyak. Pemerintah daerah berinisiatif memekarkan desa Talaga Besar menjadi desa definitif. Faktor-faktor yang mendukung terbentuknya Desa Talaga Besar ini ialah: (a) Adanya peranan pemimpin yang selalu memberikan motivasi kepada warga untuk aktif dalam setiap kegiatan yang sifatnya membangun. (b) Faktor pendukung diantaranya faktor geografis (wilayah), faktor demografi (penduduk), dan faktor ekonomi. (2) Perkembangan Desa Talaga Besar dalam bidang ekonomi, sebagian besar masyarakat Talaga Besar menggantungkan hidupnya di bidang pertanian dan perdagangan yang telah dilakukan dan dikembangkan secara turun temurun. Di bidang sosial, hubungan sosial kemasyarakatan antara warga Desa Talaga Besar cukup harmonis. Di bidang pendidikan, perkembangan pendidikan di Desa Talaga Besar pada khususnya dan Kecamatan Talaga Raya pada umumnya mengalami perkembangan pendidikan yang boleh dikatakan sudah cukup baik dan infrastruktur lebih baik bila dibandingkan dengan keadaan sebelumnya. Kata Kunci: Sejarah, Desa, Talaga BesarABSTRACT: The main problems in this study are: (1) What is the background of the formation of Talaga Besar Village, Talaga Raya District, Buton Tengah Regency? (2) How did the development of Talaga Besar Village, Talaga Raya District, Buton Tengah Regecy Year 1977-2017? The historical methods are: (a) Selection of topics (b) Heuristics (Data Collection) (c) Verification (Historical Criticism) (d) Interpretation (e) Historiography (historical criticism). The results of this study indicate that: (1) Talaga Besar Village was originally only used as a place for gardening or farming, for example planting corn and cassava as a staple food for the local community and in general the Buton people. Because over time and civilization as well as the population increases. The regional government took the initiative to split the village of Talaga Besar into a definitive village. The factors that support the formation of the Talaga Besar Village are: (a) There is a role of leaders who always motivate citizens to be active in any constructive activity. (b) Supporting factors include geographical factors (region), demographic factors (population), and economic factors. (2) The development of Talaga Besar Village in the economic field, most of the Talaga Besar people depend their lives on agriculture and trade which have been carried out and developed for generations. In the social field, social relations between the people of Talaga Besar Village are quite harmonious. In the field of education, the development of education in the village of Talaga Besar in particular and the Talaga Raya sub-district in general experienced a development of education which was arguably quite good and the infrastructure was better when compared to the previous situation. Keywords: History, Village, Great Talaga
SEJARAH SILAT SANGKAPURA DI KELURAHAN WANEPA-NEPA KECAMATAN LAKUDO KABUPATEN BUTON TENGAH Ude, Amrin; Ali Basri, La Ode; M., Aswati
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.797 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7353

Abstract

ABSTRAKFokus penelitian ini mengacu pada beberapa masalah yaitu; (1) Bagaimana Asal-usul Silat Sangkapura di Kelurahan Wanepa-nepa Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah?, (2) Bagaimana Gerakan Silat Sangkapura di Kelurahan Wanepa-nepa Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah?, (3) Mengapa Terjadi Perubahan Silat Sangkapura di Kelurahan Wanepa-Nepa Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah?, (4) Nilai-nilai apa yang terkandung dalam Silat Sangkapura di Kelurahan Wanepa-nepa kecamatan Lakudo kabupaten Buton Tengah?Penelitian ini menggunakan Metode Sejarah menurut Helius Sjamsuddin yang terdiri dari: (1) Teknik Pengumpulan Data (Heuristik), terdiri dari: (a) Penelitian Kepustakaan (Library research), (b) Pengamatan (Observasi), (c) Wawancara (Interview), (d) Studi Dokumen yaitu mengkaji dokumen yang ada hubungannya dengan permasalahan yang diteliti, (2) Kritik Sumber terdiri dari kritik eksternal dan internal, (3) Interpretasi (analisis dan sintesis), (4) Historiografi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Asal-usul lahirnya permainan silat sangkapura di Kelurahan Wanepa-nepa yakni berawal dari Guru Lampolea ia belajar silat sangakapura ini dari seorang toko persilatan di Johor Singapur yang bernama  Ua Senge, ia berasal dari pulau tomia yang telah menjadi Guru besar di pulau johor. Ua Senge mengajarkan silat ini hanya pada orang-orang Buton yang datang berlayar di Johor Singapur, dengan tujuan berdagang dan belajar silat dari Guru Ua Senge. Permainan silat ini kemudian diperkenalkan oleh Guru Lampolea secara diam-diam, ia mengajak keluarganya yaitu Guru Hamza untuk beradu ketangkasan secara rahasia antara Guru dan Murid. Silat sangkapura ini kemudian di lanjutkan oleh Guru Hamza dengan membuka perguruan silat sangkapura di Kelurahan Wanepa-nepa. Silat ini kemudian dipopulerkan dengan nama silat sangkapura (silakampo dari singapur). (2) Pelaksanaan gerakan permainan silat Sangkapura terdiri atas dua tahap yaitu: pertama tahap gerakan dasar dilakukan hanya satu orang, kedua tahap penyerangan dan pertahanan yang dilakukan oleh dua orang. (3) Perubahan yang terjadi Dalam silat tradisional Sangkapura yang dikembangkan di Kelurahan Wanepa-nepa Kecamatan Lakudo Kabupaten Buton Tengah telah mengalami perubahan antara lain dari segi pakaian yaitu pada masa kekesultanan hanya menggunakan pakaian hitam sedangkan sekarang hanya memakai pakaian bisa kadang dikombinasikan dengan sarung wolio. (4) permainan silat Sangkapura mengandung nilai budaya, agama, sosial, dan keindahan. Kata Kunci: Silat Sangkapura (Silakampo), Sejarah, Perkembangan
SEJARAH MASYARAKAT NELAYAN SUKU BUGIS DI DESA POLEWALI, KECAMATAN LAINEA KABUPATEN KONAWE SELATAN (1950-2017) Ibrahim, Ibrahim; Untarti, Dade Prat
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (981.84 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i3.12869

Abstract

ABSTRAK: Permasalahan utama dalam penelitian ini adalah: (1) Bagaimana sejarah kedatangan orang Bugis di Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan? (2) Bagaimana kondisi sosial ekonomi dan budaya masyarakat nelayan suku Bugis di Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan (1950-2017)? Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian sejarah yang dikemukakan oleh Helius Syamsuddin bahwa tata kerja penelitian sejarah terdiri dari tiga tahapan yaitu: (1) Pengumpulan Data (Heuristik) (2) Kritik Sumber (Verifikasi) (3) Penulisan Sejarah (Historiografi). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) Awal kedatangan orang Bugis di Desa Polewali untuk mengamankan diri  karena pada saat itu mereka dikira mata-mata dari tentara Jepang jadi mereka meninggalkan daerah asal mereka yaitu Bone Sulawesi Selatan dan kemudian mereka menuju di Desa Polewali. Hal yang mendorong mereka tinggal di Polewali karena kondisi laut yang bagus. Pada tahun 1950 pertama sekali orang Bugis berlabuh di Desa Polewali  Nama Desa Polewali berasal dari bahasa Bugis yang terdiri dari kata “pole” dan “wali”, pole artinya datang dan wali artinya empat penjuru, polewali berarti datang dari empat penjuru. Orang  Bugis  banyak yang menjadi nelayan di Desa Polewali karena Desa Polewali berada di pinggir laut dan mempunyai potensi laut yang bisa menunjang pendapatan nelayan. (2)  Kondisi kehidupan masyarakat Desa Polewali sejak tahun 1950-2017 dapat dilihat dari; (a) Kondisi  sosial dalam masyarakat yang dapat dilihat dari interaksi sosialnya. Interaksi sosial yang dimaksud dalam penelitian ini adalah hubungan sosial antara sesama masyarakat nelayan suku Bugis dengan orang lain, baik menyangkut hubungan kerjasama dan persaingan. Dalam menangkap ikan dan memasarkan hasil tangkapan. (b) Kondisi ekonomi masyarakat nelayan suku Bugis di Desa Polewali (c) Kondisi budaya merupakan salah satu bagian  terpenting  dalam kehidupan masyarakat nelayan yang digunakan sebagai tata aturan yang mengatur pola perilaku setiap anggota-anggota dalam kehidupan masyarakat Desa PolewaliKata Kunci: Sejarah, Kondisi Sosial EkonomiABSTRACT: The main problems in this study are: (1) What is the history of the arrival of the Bugis in the Polewali Village of Lainea Subdistrict, Konawe Selatan District? (2) What are the socio-economic and cultural conditions of the Bugis fishing community in Polewali Village, Lainea Subdistrict, Konawe Selatan Regency (1950-2017)? The method used in this study is the historical research method proposed by Helius Syamsuddin that the work of historical research consists of three stages, namely: (1) Data Collection (Heuristics) (2) Source Criticism (Verification) (3) Historical Writing (Historiography) . The results of this study indicate that: (1) The initial arrival of the Bugis in the Polewali Village to secure themselves because at that time they were thought to be spies from the Japanese army so they left their home region of Bone South Sulawesi and then they headed to Polewali Village. The thing that pushed them to stay in Polewali was because of the good sea conditions. In 1950 the Bugis first anchored in the Polewali Village The name Polewali Village came from the Bugis language which consisted of the words "pole" and "guardian", pole meant to come and guardian meant four directions, polewali meant to come from four directions. Many Bugis people become fishermen in Polewali Village because Polewali Village is located on the seafront and has sea potential that can support the income of fishermen. (2) The living conditions of the people of Polewali Village since 1950-2017 can be seen from; (a) Social conditions in society which can be seen from social interactions. The social interaction referred to in this study is the social relationship between fellow Bugis fishing communities with other people, both concerning the relationship of cooperation and competition. In catching fish and marketing the catch. (b) Economic conditions of the Bugis fishing community in Polewali Village (c) Cultural conditions are one of the most important parts of the fishing community's life which are used as rules governing the behavior patterns of each member in the Polewali Village community life. Keywords: History, Socio-Economic Conditions
SEJARAH PEMBUATAN KAPAL KAYU DI DESA SANTIRI KECAMATAN TIWORO UTARA KABUPATEN MUNA BARAT (1905 – 2017) Iskandar, Iskandar; Nur, Rifai
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.793 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v4i4.12877

Abstract

Abstrak: Latar belakang pembuatan kapal di Desa Santiri adalah karena letak geografis Desa Santiri yang merupakan pulau kecil yang indah dan untuk menunjang aktivitas pemenuhan kebutuhan hidup, maka mereka membuat sarana/ transportasi untuk menjangkau dari satu pulau ke pulau lainnya, yaitu dengan membuat kapal kayu yang digunakan untuk pelayaran dan perdagangan. Dan keahlian  pembuatan kapal diperoleh secara turun temurun.  Proses pembuatan kapal di Desa Santiri yaitu memiliki tahapan dari awal hingga akhir. Adapun tahapan dalam pembuatan kapal yaitu tahap perencanaan, tahap pemasangan papan dan rangka, tahap pendempulan, dan tahap penyelesaian. Dalam pembuatan kapal memiliki ukuran-ukuran tertentu, sedangkan jenis kayu yang digunakan tidak sembarangan karena dalam pembuatan kapal kayu diperlukan kayu yang tahan terhadap kedap air, dan tahan terhadap tembelu atau rutos, seperti kayu  Biti, Beropa, Tampate, Amaracoppo dan lain-lain. Faktor pendukung dan penghambat dalam pembuatan Kapal kayu di Desa Santiri yaitu faktor pendukung dalam pembuatan kapal kayu adalah adanya tekat dan keinginan yang kuat untuk meningkatkan ekonomi masyarakat, adanya orang-orang yang ahli dalam pembuatan kapal kayu, perkembangan teknologi yang bersifat modern, letak geografis Desa Santiri, adanya pengetahuan tentang dunia pelayaran dan perdagangan dan bertambahnya orang yang ahli dalam pembuatan kapal kayu. Sedangkan faktor penghambat adalah keterbatasan modal, terbatasnya jumlah kayu, adannya kerusakan pada alat yang digunakan, kondisi alam, dan lain-lain. Sedangkan.  Nilai-nilai yang tekandung dalam pembuatan kapal di Desa Santiri adalah nilai ekonomi, nilai gotong royong, nilai budaya, nilai pendidikan dan nilai kemaritiman. Kata kunci: Sejarah, pembuatan kapal kayu, teknologi, perubahanAbstract: The background of shipbuilding in Santiri Village is due to the geographical location of Santiri Village which is a beautiful small island and to support the activities of fulfilling the needs of life, so they make facilities / transportation to reach from one island to another, namely by making wooden ships that used for shipping and trade. And ship building expertise is hereditary. The shipbuilding process in Santiri Village has stages from beginning to end. The stages in shipbuilding are the planning stage, the board and frame installation stage, the landing stage, and the completion stage. In shipbuilding has certain sizes, while the type of wood used is not arbitrary because in shipbuilding wood is needed wood that is resistant to watertight, and resistant to copper or rutos, such as Biti, Beropa, Tampate, Amaracoppo and others. Supporting and inhibiting factors in wooden shipbuilding in Santiri Village are supporting factors in wooden shipbuilding are determination and a strong desire to improve the community's economy, the presence of people who are experts in making wooden ships, technological developments that are modern, geographical location of the Village Santiri, there is knowledge about the world of shipping and commerce and the increasing number of people skilled in shipbuilding. While the inhibiting factors are limited capital, the limited amount of wood, the damage to the tools used, natural conditions, and others. While. Values contained in shipbuilding in Santiri Village are economic values, mutual cooperation values, cultural values, educational values and maritime values.Keywords: History, wooden shipbuilding, technology, change
PERKEMBANGAN KEHIDUPAN MASYARAKAT TRANSMIGRAN ASAL JAWA DAN BALI DI DESA MARGA JAYA KECAMATAN RAROWATU UTARA KABUPATEN BOMBANA (1982-2015) Bintarum, Tri Rahayu; Hadara, Ali; Hayari, H.
Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO
Publisher : Jurusan Pendidikan Sejarah, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.041 KB) | DOI: 10.36709/jpps.v1i1.7360

Abstract

ABSTRAKFokus dan sasaran penelitian ini mengacu pada beberapa permasalahan yaitu; (1) Latar belakang kedatangan transmigran asal Jawa dan Bali di Desa Marga Jaya (2) Kondisi awal kedatangan transmigran asal Jawa dan Bali di Desa Marga Jaya (3) Perkembangan kehidupan transmigran asal Jawa dan Bali di Desa Marga Jaya 4) Akibat kedatangan transmigran asal Jawa dan Bali terhadap penduduk di Desa Marga Jaya.Penelitian ini dilaksanakan di Desa Marga Jaya Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana. Prosedur penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperti yang ditulis oleh Helius Sjamsudin (2007: 85), bahwa tata kerja penelitian sejarah terdiri dari tiga tahapan, yaitu: 1) Heuristik (Pengumpulan sumber), 2) Kritik Sumber, dan 3) Historiografi.Hasil penelitin menunjukkan bahwa: 1) Latar belakang kedatangan para transmigran asal Jawa dan Bali di Desa Marga Jaya Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana dapat dilihat dari beberapa faktor, baik faktor pendorong dari daerah asal  (faktor geografis dan ekonomi) maupun faktor penarik dari daerah tujuan (faktor geografis dan ekonomi). 2) Kondisi awal kedatangan transmigran asal  Jawa dan Bali dalam bidang sosial budaya dan ekonomi pada periode 1982-1990 yaitu hubungan sosial antara masyarakat transmigran dengan penduduk lokal pada awalnya kurang harmonis. Masyarakat belum bisa beradaptasi dengan cuaca di Desa Marga Jaya, menyebabkan mereka tidak dapat bercocok tanam apapun untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 3) Perkembangan kehidupan masyarakat transmigran asal Jawa dan Bali dapat dilihat dari dua periode yaitu periode 1982-1990 hingga periode 1990-2015 dalam bidang sosial budaya dan ekonomi yaitu hubungan sosial antara masyarakat transmigran dengan penduduk lokal yang awalnya kurang harmonis dan tidak terjalin keakraban semakin lama mereka saling mengenal dan mulai terjalin keakraban sehingga tercipta keharmonisan dalam masyarakat di Desa Marga Jaya. Perkembangan dalam bidang ekonomi dapat dilihat dari dua sektor mata pencaharian mereka yang sangat mendominasi yaitu sektor pertanian dan peternakan mengalami perkembangan. 4) Akibat kedatangan transmigran asal Jawa dan Bali di Desa Marga Jaya Kecamatan Rarowatu Utara Kabupaten Bombana yaitu meningkatnya kesejahteraan hidup masyarakat baik bagi masyarakat transmigran maupun masyarakat setempat. Kata Kunci: Perkembangan Kehidupan dan Masyarakat Transmigran

Page 2 of 21 | Total Record : 208


Filter by Year

2016 2022


Filter By Issues
All Issue Vol 7, No 2 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 4 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 3 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 2 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 6, No 1 (2021): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 4 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 3 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 5, No 1 (2020): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 4 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 3 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 2 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 4, No 1 (2019): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 4 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 2 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 3 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 4 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Penelitian Pendidikan Sejarah UHO More Issue