cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 250 Documents
FRAMING IN THE NEWS HEADLINES OF THE SHIA SAMPANG CONFLICT IN THE NATIONAL AND LOCAL MASS MEDIA: A Critical Discourse Analysis Millatuz Zakiyah; Siti Rohmah; Yulianto
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i1.6533

Abstract

ABSTRACT This study focuses on the news frame on the news title with the theme of the Shia conflict in Sampang. This qualitative descriptive research uses a critical paradigm. Data were obtained from Tempo.co, Kompas.com, Kabar Madura and Madura Indepth in 2011-2021. The media framed the Shia Sampang conflict in the government's frame, the Shia community's frame, and the case of intolerance. Tempo and Kompas frame the government as passive in dealing with conflicts and there is forced conversion of faith, but Kabar Madura and Madura Indepth frame the opposite. Furthermore, Tempo framed the government as being involved in intimidating Shia Sampang residents into converting their beliefs; Shia residents are framed as victims who suffer and are oppressed and peace initiators, and this conflict is a Sunni-Shia conflict. Meanwhile, Kompas framed that the government threw the responsibility for resolving the Shia Sampang conflict on other government institutions and did not anticipate the conflict; the Shia people of Sampang still empowered enough to resist; and this conflict is an internal family conflict. Kabar Madura and Madura Indepth framed that the Sampang Shia conflict had been completed, facilitated by the Sampang Regional Government and the Sampang Shia residents as citizens who were not persecuted and forced to convert. ABSTRAK Penelitian ini fokus mengkaji bingkai berita pada judul berita bertemakan konflik Syiah di Sampang. Penelitian deskriptif kualitatif ini menggunakan paradigma kritis. Data diperoleh dari media massa nasional, Tempo.co dan Kompas.com dan media massa lokal Kabar Madura dan Madura Indepth pada tahun 2011—2021. Dengan memanfaatkan pendekatan wacana kritis, ditemukan bahwa media membingkai konflik Syiah Sampang dalam bingkai pemerintah, bingkai warga Syiah, dan bingkai kasus intoleransi. Tempo dan Kompas membingkai pemerintah pasif dalam menangani konflik dan terdapat pemaksaan perpindahan keyakinan, dan Kabar Madura dan Madura Indepth membingkai sebaliknya. Selanjutnya, Tempo membingkai pemerintah terlibat dalam intimidasi warga Syiah Sampang agar berpindah keyakinan; warga Syiah dibingkai sebagai korban yang menderita dan terdzolimi dan inisiator perdamaian, dan konflik ini adalah konflik Sunni-Syiah. Sementara itu, Kompas membingkai pemerintah melemparkan tanggung jawab penyelesaian konflik Syiah Sampang pada lembaga pemerintahan yang lain dan tidak mengantisipasi konflik dan warga Syiah Sampang merupakan korban yang masih cukup berdaya untuk melakukan penolakan. Konflik ini merupakan konflik internal keluarga. Kabar Madura dan Madura Indepth membingkai konflik Syiah Sampang sudah selesai difasilitasi Pemerintah Daerah Sampang dan warga Syiah Sampang sebagai warga negara yang tidak didzholimi dan dipaksa berpindah keyakinan.
THE ROLE OF KIAI IN THE ISLAMIZATION OF “RUWAT DESA” TRADITION IN KALANGANYAR SEDATI, SIDOARJO Mad Sa'i; Yatin, Ainun
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i2.6229

Abstract

ABSTRAK Tradisi ruwat desa adalah cara yang diyakini masyarakat Jawa dalam meminta keselamatan dari arwah leluhur dengan menyajikan sesaji dan menggelar kesenian wayang kulit. Namun, berbeda dengan kegiatan tradisi ruwat desa di Desa Kalanganyar Sedati Sidoarjo, adanya islamisasi yang dilakukan oleh kiai sehingga ritual ini lebih sesuai dengan ajaran agama Islam. Tujuan penelitian ialah menjelaskan kegiatan islamisasi tradisi ruwat desa di Desa Kalanganyar Sedati Sidoarjo, menjelaskan peran kiai dalam Islamisasi kegiatan tradisi ruwat ini, dan dampaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis fenomenologi. Hasil penelitian menunjukkan kegiatan islamisasi tradisi ruwat desa di Desa Kalanganyar Sedati Sidoarjo berupa gotong royong, membersihkan makam, istighosah kubro, dan melaksanakan istighosah keliling. Sedangkan peran Kiai dalam hal ini adalah sebagai pemimpin non-formal, agen perubahan dan sebagai sumber rujukan. Adapun dampak dari peran kiai dalam islamisasi kegiatan tradisi ini adalah prosesi kegiatan tradisi ruwat desa lebih islami, peningkatan emosi keagamaan masyarakat, serta mengeratkan ukhuwah islamiyah. ABSTRACT Ruwat Desa tradition is a way that Javanese people believe in asking for salvation from the spirits of ancestors by presenting offerings and performing the art of shadow puppetry. However, unlike the traditional activities of ruwat desa in Kalanganyar Sedati Sidoarjo, there is Islamization carried out by kiai so that this ritual is more in accordance with the teachings of Islam. The purpose of this research is to explain the Islamization of ruwat desa tradition in Kalanganyar Sedati Sidoarjo, explain the role of kiai in Islamization of ruwat desa tradition, and its impact. This study uses a qualitative approach to the type of phenomenology. The results showed the activities of Islamization tradition ruwat desa in Kalanganyar Sedati Sidoarjo in the form of mutual cooperation, cleaning the Tomb, istighosah kubro, and carry out istighosah around. While the role of Kiai in this case is as a non-formal leader, agent of change and as a source of reference. The impact of the role of kiai in Islamization of this tradition is the procession of traditional activities ruwat desa more Islamic, increased religious emotion of the community, and strengthen ukhuwah islamiyah.
GLASS CEILING IN THE WORLD OF WORK (Burhani Epistemology Perspective) Alif Nur Fitriyani; Achmad Khudori Soleh
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i2.7001

Abstract

In addition to discrimination, the lack of respect for women's skills and the difficulty of women to get and achieve positions equal to or even higher than men in the world of work make many women tend to stay at home and refuse to enter the labor market. The purpose of this research is that women avoid the glass ceiling from a rational Burhani perspective in the contemporary era and not be studied only by textual studies. The research method used is descriptive analysis with Burhani epistemological syllogism, which is reviewed by literature from books, journals, and literature so that it uses a qualitative approach in the results. The results of the study state that the Glass ceiling phenomenon for women in the world of work is the influence of factors that still uphold patriarchy and only see it from the perspective of the text. In contrast to Burhani who uses reason (ratio). He views that women also have the same rights and share in the work and position of women in the world of work according to their abilities. The implication of this research is leadership, a taboo subject, and even other positive things that are not found in the leadership or performance of men. So that there will be other women who become leaders in the era of modernization in various fields of work. ABSTRAK Selain diskriminasi, kurangnya penghargaan terhadap keterampilan perempuan dan sulitnya perempuan untuk mendapatkan dan mencapai posisi yang sama atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki di dunia kerja membuat banyak perempuan cenderung tinggal di rumah dan menolak memasuki pasar kerja. Tujuan dari penelitian ini adalah agar perempuan terhindar dari glass ceiling dipahami dari perspektif burhani secara rasional di era kontemporer dan tidak hanya dikaji dengan kajian tekstual. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif analisis dengan silogisme epistimologi burhani, yang dikaji secara kepustakaan dari buku, jurnal, dan literatur sehingga menggunakan pendekatan kualitatif dalam hasilnya. Hasil penelitian menyatakan bahwa fenomena Glass ceiling bagi perempuan di dunia kerja merupakan pengaruh dari faktor-faktor yang masih menjunjung tinggi patriarki dan hanya melihatnya dari perspektif teks. Berbeda dengan Burhani yang menggunakan akal (rasio). Ia memandang bahwa perempuan juga memiliki hak dan andil yang sama dalam pekerjaan dan kedudukan perempuan di dunia kerja sesuai dengan kemampuannya. Implikasi dari penelitian ini adalah Kepemimpinan perempuan bukanlah hal yang tabu, bahkan ada hal positif lain yang tidak ditemukan dalam kepemimpinan atau kinerja laki-laki. Sehingga akan ada perempuan-perempuan lain yang menjadi pemimpin di era modernisasi ini dalam berbagai bidang kerja.
RESILIENCE OF SALAF ISLAMIC BOARDING SCHOOLS EDUCATION DURING A PANDEMIC: A Case Study of the Live Ngaos Kitab Kuning Program Albaburrahim, Albaburrahim; Alatas, Mochamad Arifin; Putikadyanto, Agus Purnomo Ahmad
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i2.7290

Abstract

ABSTRACT This research is motivated by the demands of Salaf Islamic boarding school education to survive in the face of covid-19. The purpose of this study is to describe the educational resilience of Salaf Islamic Boarding Schools during the pandemic through the live Ngaos Kitab kuning program. The method in this research is descriptive qualitative. Data collection techniques by observation, interviews, and documentation. The results of this study include the stages of preparation, implementation, and benefits of the live ngaos Kitab kuning program at the Salaf Islamic Boarding School in PPAH. 1) The stages of preparation include: Formation of the technical team of students, live facilities and infrastructure and live program. 2) The implementation stages include: setting the place, setting the sound, setting the picture, and the live recording process. 3) The benefits of the program include: students can complete the lack of meaning, students are accustomed to ngaos wherever and whenever, show that the existence of salaf pesantren can transform in technological progress, and Islamic da'wah media in distance learning. Thus, education in salaf Islamic boarding schools is able to survive during the pandemic through the live ngaos kuning program. ABSTRAK Penelitian ini dilatarbelakangi adanya tuntutan pendidikan pondok pesantren salaf bertahan dalam menghadapi covid-19. Adapun tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan resiliensi pendidikan pondok pesantren salaf pada masa pandemi melalui program live ngaos kitab kuning. Metode dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini meliputi tahapan persiapan, pelaksanaan, dan manfaat program live ngaos kitab kuning pondok pesantren salaf di PPAH. 1) Tahapan persiapan meliputi: Pembentukan tim teknis santri, sarana dan prasarana live dan program live. 2) Tahapan pelaksanaan meliputi: setting tempat, setting suara, setting gambar, dan proses rekaman live. 3) Manfaat program meliputi: santri dapat melengkapi kekurangan pemaknaan, santri terbiasa ngaos di manapun dan kapanpun, menunjukkan eksistensi pesantren salaf bisa bertranformasi dalam kemajuan teknologi, dan sebagai media dakwah Islam dalam pembelajaran jarak jauh. Dengan demikian, pendidikan dalam pondok pesantren salaf mampu bertahan pada masa pandemi melalui program live ngaos kitab kuning.
NU AND NATIONALISM: A Study of KH. Achmad Shiddiq's Trilogy of Ukhuwah as an Effort to Nurture Nationalism Spirit of Indonesian Muslims Ali Mursyid Azisi, Ali Mursyid Azisi; Agoes Moh. Moefad
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i2.7373

Abstract

ABSTRACT This article examines how the principles of Nahdlatul Ulama are related to the spirit of nationalism by analyzing the concept of the ukhuwah trilogy that was initiated by KH. Ahmad Siddiq, Jember. The ukhuwah trilogy consists of ukhuwah islamiyyah (to establish brotherhood with fellow Muslims), ukhuwah wathaniyyah (to establish brotherhood with fellow citizens), and ukhuwah basyariyyah (to establish brotherhood on the basis of fellow humans). The research method used in this research was qualitative descriptive analysis by utilizing primary and secondary literature sources. The analytical knife in this article borrowed Alvin L. Bertrand’s role theory, where the role of Kiai Achmad Shiddiq was so great in instilling brotherhood, nationalism or the spirit of nationalism in Indonesia without discriminating against culture, ethnicity, race, language, and even religion. The results of this study shows that the trilogy concept of ukhuwah is in accordance with Islamic principles, but is also important to be presented to the public in order to improve the quality of harmonious religion while instilling nationalism towards Indonesian Muslims. The prime goal is the common good. The benefit of this research is that it serves as an additional sub-material for academia (lecturers, students), religious leaders, and even the general public to further explore the excellent thoughts of an NU figure named KH. Ahmad Siddiq. ABSTRAK Artikel ini mengkaji tentang bagaimana prinsip Nahdlatul Ulama terkait semangat nasionalisme dengan menganalisis konsep trilogi ukhuwah yang dicetuskan oleh KH. Achmad Shiddiq, Jember. Trilogi ukhuwah terdiri dari ukhuwah islamiyyah (menjalin persaudaraan dengan sesama pemeluk Islam), ukhuwah wathaniyyah (menjalin persaudaraan dengan sesama anak bangsa), serta ukhuwah basyariyyah (menjalin persaudaraan atas dasar sesama manusia). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif analisis deskriptif dengan memanfaatkan sumber literatur primer dan sekunder. Pisau analisis dalam artikel ini meminjam teori peran Alvin L. Bertrand, di mana peran Kiai Achmad Shiddiq begitu besar dalam menanamkan sikap persaudaraan, nasionalisme atau spirit kebangsaan di Indonesia tanpa membeda-bedakan budaya, suku, ras, bahasa, bahkan agama. Hasil penelitian ini yaitu konsep trilogi ukhuwah selain sesuai dengan prinsip Islam, namun juga penting untuk dimunculkan ke muka publik dalam rangka meningkatkan kualitas beragama yang harmonis sekaligus menanamkan sikap nasionalisme terhadap muslim Indonesia. Tujuan besarnya bermuara pada kemaslahatan bersama. Manfaat penelitian ini adalah sebagai tambahan sub materi bahan ajar dan belajar bagi para akademisi (dosen, mahasiswa), agamawan, bahkan masyarakat umum, untuk lebih lanjut menggali pemikiran KH. Achmad Shiddiq.
THE UTILIZATION OF IT IN SALAF ISLAMIC BOARDING SCHOOL EDUCATION SYSTEM AT 4.0 ERA (Case Study of Salaf Islamic Boarding School of Lirboyo and Al Falah Ploso) Rudhad Ilaina; Anis Humaidi
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 9 No. 2 (2022)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v9i2.6610

Abstract

ABSTRAK Perubahan adaptive dan responsive zaman era 4.0 pada pondok pesantren salaf diperlukan untuk menjaga kelestarian ponpes salaf dengan menyiapkan santri untuk mampu beradaptasi dan bersaing di kedepannya. Tulisan ini bertujuan untuk membuka sudut pandang dari para pengasuh, pewaris, santri pondok pesantren dan juga masyarakat atas perlunya pemanfaatan TI di ponpes salaf. Tulisan ini menggunakan pendekatan descriptive kualitatif dengan pendekatan studi naskah dan studi lapangan. Ditemukan bahwa Ponpes Lirboyo dan Ploso saat ini sudah adaptive dan responsif terhadap TI yakni dengan adanya bukti penggunaan medsos untuk memperkenalkan lembaga pendidikan Lirboyo dan Ploso, penggunaan media sosial untuk dakwah Islam, publikasi kegiatan belajar, kegiatan ikatan alumni dan kegiatan bisnis. Media sosial yang digunakan untuk dakwah agama Islam yakni Youtube, Facebook dan Instagram yakni berupa rekaman ceramah agama dari “Kyai”, “Ning” dan “Gus”. Namun demikian, penggunaan handphone santri Lirboyo maupun Ploso untuk semua jenjang masih terbatas pada pengurus untuk kebutuhan komunikasi, kecuali pondok pesantren Darussalam Lirboyo, segmen santri khusus pendidikan tinggi, telah memperbolehkan penggunaan HP dan Laptop pada jam-jam tertentu.
RELATIONSHIPS OF HUMAN, RELIGION AND NATURE IN YUSUF QARDAWI'S PERSPECTIVE Muhammad Izul Ridho; Safrudin Edi Wibowo; Pujiono
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.8723

Abstract

ABSTRAK Kajian tentang alam dan lingkungan dari sudut pandang agama khususnya kajian tafsir penting dilakukan guna menjawab dan melihat sejauh mana peran dan solusi yang ditawarkan agama di dalam pelestarian lingkungan. Maka penelitian ini akan mengungkap dua hal utama yaitu; penafsiran Yusuf Qardawi atas ayat-ayat larangan merusak lingkungan dan implikasinya pada masa depan pelestarian alam. Penelitian ini menggunakan pendekatan penafsiran ma’na cum maghza, metode peneltian yang digunakan ialah kualitatif library resarch, dengan jenis penelitian diskriptif analitis. Penelitian ini berhasil mengungkap bahwa: pertama, Yusuf Qardawi menafsirkan ayat-ayat larangan merusak lingkukngan (ifsad) dengan menetapkan pada keumuman ma’na dari kata ifsad dan turunannya sebagai maghza al-mutaharrik al-mu’ashir dari ayat-ayat tersebut, sehingga yang dimaksud dengan ifsad mencakup pada kerusakan alam yang tampak maupun tidak tampak oleh indra (ifsad al-ma’nawi dan ifsad al-madi). Kedua, pada aktualisasi maghza ayat-ayat ifsad nampak implikasi dari penafsiran Yusuf Qardawi secara ekologis yaitu berupa adanya solusi tahapan-tahapan pelestarian alam sebagai berikut; tahap pencegahan, tahap perbaikan dan tahap perawatan. ABSTRACT Studies on nature and the environment from a religious perspective, especially interpretation studies, are important to be carried out to answer questions and see the extent of the role and solutions offered by religion in environmental preservation. Therefore, this research will reveal two main things: Yusuf Qardawi's interpretation of the verses prohibiting harming the environment and their implications for the future of nature conservation. This study used the interpretation approach of ma'na cum maghza. The research method used was qualitative library research, with analytical descriptive as the type of research. This study succeeded in revealing that: first, Yusuf Qardawi interpreted the verses prohibiting harming the environment (ifsad) by specifying the generality of the meaning of the word ifsad and its derivatives as maghza al-mutaharrik al-mu'ashir from these verses; thus, what is meant by ifsad includes damage to nature that is visible or invisible to the senses (ifsad al-ma'nawi and ifsad al-madi). Second, in the actualization of the maghza verses of ifsad, the implications of Yusuf Qardawi's ecological interpretation appear, namely in the form of a solution to the stages of nature conservation as follows: prevention stage, repair stage and maintenance stage.
REASON AS A SOURCE OF ISLAMIC LAW: Epistemological Approach A'yun Sufyan, Qurrotul; Mohammad Sugi Hartono
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.7835

Abstract

ABSTRACT The existence of reason in humans is a privilege given by Allah SWT. Humans with their intellect can think, do reasoning, and appreciate all of Allah's creations. Qur’an as a source of basic material in Islamic law provides a large portion of the use of human reason. The method used in this research was library research. The background to the recognition of the role of reason is the fact that the development of social life is followed by various life problems whose answers cannot be found in translation in the Qur’an or Hadith. The results of this study indicate that, first, reason is the power of thought which when used can lead a person to understand the problem he is thinking about. Second, reason functions as a tool for thinking, contemplating, experiencing, and developing intelligent concepts and ideas, very closely related to education. Therefore, reason in its implication towards the goals of Islamic education greatly determines the success or failure of a person in achieving the goals of Islamic education. ABSTRAK Keberadaan akal pada manusia merupakan keistimewaan yang diberikan Allah swt. Manusia dengan akal yang dimilikinya dapat berpikir, melakukan penalaran, dan penghayatan terhadap segala ciptaan Allah swt. Al-Qur’an sebagai sumber materi pokok dalam hukum Islam memberikan porsi yang besar terhadap penggunaan akal pikiran manusia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kepustakaan. Latar belakang dari diakuinya peranan akal ini merupakan kenyataan berkembangnya kehidupan masyarakat yang diikuti oleh berbagai permasalahan hidup yang tidak ditemui jawabannya secara harfiah dalam Al-Qur’an maupun Al-Hadits. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, pertama, akal adalah daya pikir yang bila digunakan dapat mengantarkan seseorang untuk memahami dan memahami masalah yang sedang dipikirkannya. Kedua, akal berfungsi sebagai alat berpikir, merenung dan mengalami serta mengembangkan konsep dan gagasan yang cemerlang, sangat erat hubungannya dengan pendidikan. Maka akal dalam implikasinya terhadap tujuan pendidikan Islam sangat menentukan berhasil atau tidaknya seseorang dalam mencapai tujuan pendidikan Islam.
DIMENSIONS OF ISLAMIC PHILOSOPHY IN OBSERVING RELIGIOUS MODERATION Vick Ainun Haq; Achmad Khudori Soleh; Asti Amelia
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.8128

Abstract

ABSTRACT One of the problems that happens regarding religious moderation is that many people do not claim a particular religion, whether or not religious moderation only applies to individuals or groups who have a religion. The role of Islamic Philosophy seems to be urged to solve the problem. To explore the variety of Islamic philosophical thoughts led this article to discuss the thoughts of Suhrawardi, the founder of Isyraqi philosophy. This article aimed to analyze the concept of Isyraqi philosophy related to the esoteric concept of religious pluralism and its relationship to human tolerance in the discourse of religious moderation. This research applied a literature review, collecting information sourced from books and journal articles, especially about Suhrawardi’s thoughts as the primary source and relevant studies as the secondary source. The results of the research showed that; (1) Allah SWT is the main source for the creation of knowledge, religions and beliefs (2) Isyraqi philosophy acknowledges the esoteric nature of pluralism as the basis of ethical concepts (3) Tolerance is based on the awareness to decline every single fanaticism towards reality. Thus, because of the implications of the philosophical thinking above, religious moderation should cover all levels of society, both the believers and non-believers. ABSTRAK Pada faktanya masih banyak masyarakat yang tidak mengklaim agama tertentu, disinilah masalah moderasi beragama, apakah moderasi beragama hanya berlaku untuk seseorang atau kalangan yang memiliki agama? Peran Filsafat Islam seakan didesak untuk menjawab pertanyaan tersebut. Menelusuri ragam pemikiran Filsafat Islam mengantarkan artikel ini untuk mendiskusikan pemikiran Suhrawardi, sosok pencetus Filsafat Isyraqi. Artikel ini bertujuan menganalisis konsep Filsafat Isyraqi terkait konsep esoteris pluralisme agama dan kaitannya dengan toleransi umat manusia dalam wacana moderasi beragama. Proses penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka, pengumpulan informasi bersumber dari buku maupun artikel jurnal, terutama tentang pemikiran Suhrawardi sebagai sumber primer dan yang relevan dengan tema-tema terkait sebagai sumber sekunder. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa; (1) Allah Swt merupakan sumber utama atas terciptanya ilmu, agama-agama dan keyakinan (2) Filsafat Isyraqi mengakui hakikat esoteris pluralis sebagai dasar konsep etika (3) Toleransi didasari dengan kesadaran menolak fanatisme tunggal terhadap realitas. Dengan demikian sebabagai implikasi pemikiran filsafat di atas maka selayaknya Moderasi Beragama harus mencakup seluruh lapisan masyarakat baik bagi penganut agama maupun tidak (penganut kepercayaan)
INTERPRETATION OF TASAWWUF IN ISLAMIC EDUCATION TO IMPROVE RELIGIOUS TOLERANCE Widia Astuti; Muhammad Hafizh; Sarah Dina; Mudzakkir Ali
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.9053

Abstract

ABSTRAK Problematika riset ini berupa maraknya sejumlah kasus dan isu terkait intoleransi dalam beragama yang terjadi di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir ini. Salah satu upaya Kementerian Agama yakni dengan program moderasi beragama yang disosialisasikan melalui internalisasi dalam dunia pendidikan hingga ke masyarakat umum. Penelitian ini menggunakan studi pustaka yang dikategorikan jenis kualitatif. Data diperoleh melalui teknik pengumpulan data dengan dokumen dan dianalisis dengan causal descriptive yang bertujuan untuk mengungkapkan dan mendeskripsikan relevansi pemikiran Syaikh Yusuf al-Makassari dalam Pendidikan Islam sebagai upaya dalam meningkatkan moderasi beragama. Hasil penelitian adalah pemikiran etika tasawuf Syaikh Yusuf al-Makassari dinilai relevan dengan Pendidikan Islam karena orientasi pada rasa dan etika religius yang bersifat adaptif. Pemikiran tersebut sangat menekankan pada nilai-nilai moderasi dan toleransi yang sangat tinggi berupa tawassuth, tawazun, i’tidal dan tasamuh. Nilai-nilai yang sejalan dengan moderasi beragama ini, maka patur diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khusunya di Indonesia yang majemuk. ABSTRACT The problem with this research is the rise in a number of cases and issues related to religious intolerance that have occurred in Indonesia in recent years. One of the Ministry of Religion's efforts is a religious moderation program that is socialized through internalization in the world of religion. This research used a literature study, which is classified as qualitative. Data were obtained through data collection techniques with documents and analyzed using causal descriptive, which aims to reveal and describe the relevance of Shaykh Yusuf al-Makassari's thoughts in Islamic education as an effort to increase religious moderation. The results of the research show that Syaikh Yusuf al-Makassari's Sufism (tasawwuf) ethical thoughts are considered relevant to Islamic education because of their orientation towards adaptive religious feelings and ethics. These thoughts place great emphasis on the very high values of moderation and tolerance in the form of tawassuth, tawazun, itidal, and tasamuh. These values are in line with religious moderation, so they should be applied in the life of the nation and state, especially in a pluralistic Indonesia.