cover
Contact Name
Mohammad Subhan Zamzami
Contact Email
mszamzami@iainmadura.ac.id
Phone
+6281232684323
Journal Mail Official
islamuna@iainmadura.ac.id
Editorial Address
Pascasarjana Institut Agama Islam Negeri Madura Jalan Raya Panglegur KM. 4 Pamekasan 69371 - Jawa Timur
Location
Kab. pamekasan,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Studi Islam
ISSN : 2407411X     EISSN : 24433535     DOI : http://doi.org/10.19105/islamuna
Islamuna specializes in Islamic Studies which are the results of fieldwork research, conceptual analysis research, and book reviews from various perspectives i.e. education, law, philosophy, theology, sufism, history, culture, economics, social and politics. This journal encourages articles that employ an interdisciplinary approach to those topics and aims at bridging the gap between the textual and contextual approaches to Islamic Studies.
Articles 250 Documents
LINEAGE CONTINUITY IN THE TRADITION OF POLYGAMY AMONG KYAI OF ISLAMIC BOARDING SCHOOLS IN MADURA Abdul Mukti Thabrani; Ah. Kusairi
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.7074

Abstract

ABSTRACT Polygamy is one of the problems in the marriage that many Islamic scholars often discuss. The case of polygamy is still considered taboo; however, others consider it a good and necessary practice as a solution and social alternative, as it is also mentioned in verse Qur’an about polygamy. This research examines and explores the spiritual values of polygamy in polygamous marriages by Kiai, who cares for Islamic boarding schools in Madura, which provides an overview of polygamous household life based on spiritual values. There are two main problems (1) What is the nature of polygamy in the view of the Madurese kiai: (2) What is the spiritual meaning for the Madurese kiai? The study was written by collecting data using the social definition paradigm, also known as the interpretive sociology paradigm. The study results explain that the family and the community highly guard the descentants of the Kiai to continue leadership and preach religious knowledge so that if a Kiai marries who does not have children, then a Kiai will practice polygamy. It is accepted by a wife to protect the descentants of the Kiai. ABSTRAK Poligami merupakan salah satu masalah dalam perkawinan yang sering dibicarakan oleh banyak ulama Islam. Kasus poligami masih dianggap tabu; Namun, sebagian berpandangan sebagai praktik yang baik dan perlu sebagai solusi dan alternatif sosial, sebagaimana juga disebutkan dalam ayat al-Qur’an tentang poligami. Fokus penelitian ini pada dua hal: Pertama, Praktik poligami dikalangan Kiyai pengasuh pondok pesantren di Madura. Kedua, mengungkap tentang orientasi praktik poligami Kiyai di Madura guna menjaga ketersambungan nasab (keturunan) dan kelestarian keilmuan. Penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologis. Data-data dalam penelitian ini ditulis dengan mengumpulkan data menggunakan paradigma definisi sosial atau dikenal juga dengan paradigma sosiologi interpretatif dengan teknik wawancara. Adapun hasil penelitian ini: pertama: praktik poligami adalah suatu hal yang biasa terjadi dikalangan Kiyai pengasuh pondok pesantren di Madura. Pada praktiknya poligami dilakukan dengan seorang yang masih ada keterikatan nasab guna menjaga keturunan Kiai untuk meneruskan estafet kepemimpinan dan mendakwahkan ilmu agama. Kedua, Praktik poligami juga bertujuan untuk menjaga kelestarian dan sanad keilmuan. sehingga jika seorang Kiai menikah dengan yang tidak memiliki anak, maka seorang Kiai akan berpoligami. Hal itu diterima oleh seorang istri untuk melindungi keturunan Kiai.
THE CONCEPT OF TARETAN DHIBI’ IN THE FRAME OF MADURESE RELIGIOUS MODERATION Nor Hasan; Nurul Qomariyah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.8146

Abstract

Taretan dhibi' is one of the cultural enculturations of the Madurese people. This study attempts to investigate the Madurese people's cultural concept of the taretan dhibi’. The term taretan for Madurese people is the concept of relatives with the ideology of Madurese people who have a cultural obligation to maintain emotional interactions and kinship ties between one another. It is quite fascinating to study the concept of religious moderation due to the social style of Madurese society itself which is different from other regions. therefore, despite all of their distinctions in terms of religion, customs, and traditions, the author will look at how the Madurese people carry out the concept of taretan dhibi. Through descriptive phenomenological analysis, this research reveals that taretan dhibi' is a manifestation of the emotional ties between Madurese people. Thus, the form of religious moderation in the cultural concept of taretan dhibi' is firstly respecting brothers and sisters (mentioned in Madura as taretan) by allowig any kind of differences and providing space for self-expression. The concept of "taretan dhibi," which is entwined with Madurese society's religious moderation, is essentially the fundamental ideology of the Madurese people, which regards sincerity as the foundation of brotherhood. Second, appreciate and respect the part of the taretan concept that can equalize social positions among Madurese people. Third, the city of Pamekasan is a ideal example of the strength of the concept of taretan dhibi' within the framework of religious moderation in Madurese society. ABSTRAK Taretan dhibi’ adalah salah satu enkulturasi budaya masyarakat Madura. Tulisan ini mencoba menelusuri konsep budaya taretan dhibi’ dalam kehidupan masyarakat Madura. Istilah taretan bagi masyarakat Madura adalah konsep kerabat dengan ideologi masyarakat Madura yang memiliki kewajiban kultural untuk menjaga dan memelihara hubungan emosional dan silaturahmi ikatan kekerabatan antara yang satu dengan yang lainnya. Tergolong menarik untuk dikaji dengan konsep moderasi beragama, karena corak bersosial masyarakat Madura sendiri berbeda dengan daerah yang lainnya. Oleh karena itu, penulis akan mengkaji bagaimana Masyarakat Madura menjalankan konsep taretan dhibi’' dengan semua perbedaan yang ada di antara mereka, baik agama, kebiasaan dan tradisi. Melalui analisis fenomenologi deskriptif, penelitian ini mengungkapkan bahwa taretan dhibi’ adalah wujud dari adanya ikatan emosional antar masyarakat Madura. Oleh karena itu, wujud moderasi beragama dalam konsep budaya taretan dhibi’ adalah Pertama menghormati antar saudara (taretan) dengan mengakomodir segala bentuk perbedaan dan memberi ruang untuk mengekspresikan diri. Konsep taretan dhibi’ yang terjalin dalam moderasi beragama masyarakat Madura yakni pertama, ideology dasar masyarakat Madura yang menjadikan keikhlasan dan ketulusan sebagai dasar bersaudara. Kedua, menghargai dan menghormati bagian dari konsep taretan yang dapat menyamaratakan kedudukan dalam bersosial antar masyarakat Madura. Ketiga, kota Pamekasan menjadi contoh nyata kuatnya konsep taretan dhibi’ dalam bingkai moderasi beragama masyarakat Madura.
THE ISLAMIC VALUES OF MYSTICAL REASON IN "KEBO-KEBOAN" TRADITION IN BANYUWANGI Puput Lestari; Khoirul Hadi Al Asy’ari
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i1.8147

Abstract

ABSTRACT One of the diversity of Indonesian manners and cultures is the Osing tribe lived in most Banyuwangi area. This tribe has an interesting traditional ritual, namely the "Kebo-keboan". The Osing tribe believe that this tradition is a heritage that must be perpetuated. The mystical dimension is often displayed by the Osing in this ritual. This study is interesting for it examines Islamic values ​​in the mysticism of the "Kebo-keboan" tradition in Banyuwangi district. There are three important questions in this study, 1) how is the ritual tradition of "Kebo-keboan" in Banyuwangi take place along with its practice and implementation?, 2) how does the Osing tribe understand the ritual of "Kebo-keboan"? and 3) what are the Islamic values ​​in the mystical of the "Kebo-keboan" tradition in Banyuwangi? In this study the method uses qualitative and descriptive analysis. the results of this study is expected to contribute toward Islamic studies in culture of society, especially those related to the ritual traditions of "Kebo-keboan" in Banyuwangi. ABSTRAK Salah satu keragaman adat dan budaya Indonesia yakni ada pada suku Osing yang mendiami sebagian besar wilayah Banyuwangi. Suku ini memiliki ritual adat yang menarik yaitu ritual adat “Kebo-keboan”. Masyarakat Osing meyakini bahwa ini adalah warisan adat leluhur yang harus di lestarikan. Dimensi mistis sering ditampakkan oleh masyarakat adat Osing dalam ritual ini. Penelitian ini menjadi menarik diangkat karena mengkaji nilai-nilai Islam dalam nalar mistisisme tradisi “Kebo-keboan” di kabupaten Banyuwangi. Ada tiga pertanyaan penting dalam penelitian ini, 1) bagaimana tradisi ritual adat “Kebo-keboan” di kabupaten Banyuwangi berlangsung dan bagaimana sejarah praktek dan implementasinya? 2) bagaimana pemahaman masyarakat Osing Banyuwangi terhadap ritual adat “Kebo-keboan”? dan 3) bagaimana nilai-nilai Islam dalam nalar mistisisme tradisi “Kebo-keboan” di kabupaten Banyuwangi? Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dan analisis diskriftif. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan sumbangsih tantang studi keislaman dalam budaya masyarakat, khususnya terkait dengan tradisi ritual adat “Kebo-keboan” di kabupaten Banyuwangi.
MAINTAINING MENTAL HEALTH BY DEVELOPING AN ISLAMIC LIFESTYLE Waharjani; Jailani, Mohammad
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.8428

Abstract

ABSTRAK Kajian ini bermula dari hasil analisis dan pengamatan literatur yang akhir-akhir ini mulai memperhatikan kesehatan mental. Kondisi ini ini mulai mendapatkan perhatian seiring majunya peradaban manusia dan tingginya tuntutan hidup. Kehidupan yang nyaman dimulai dari lingkup yang paling kecil yakni keluarga. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin juga memberi tuntunan bagaimana kehidupan dunia agar seimbang dan berdampak pada kebaikan akhirat. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan ingin mengkaji 1) bagaimana membangun kesehatan berdasarkan Islam dan 2) bagaimana membangun keluarga yang tenteram dan sejahtera. Dari penelitian ini diharapkan bisa mengarah pada kesehatan mental berbasis ajaran Islam. Penelitian ini merupakan penelitian literatur
ANALYSIS OF AMINA WADUD'S HERMENEUTIC WEAKNESSES THROUGH WASATIYYAH YUSUF QARDHAWI'S PERSPECTIVE Azizah, Khansa'
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.10902

Abstract

ABSTRACT The emergence of some activists from the feminist movement who consider the need for deconstruction and reconstruction as well as interpretation of the Al-Qur'an. This case is aimed at achieving a fairer meaning, and no party is marginalized. Amina Wadud is one of the feminist figures who is active and active in this field. Various issues of injustice contained in the Al-Qur'an are explained again according to his point of view. However, the spirit of interpretation with a hermeneutical style of gender equality needs to be analyzed from a wasat}iyyah perspective; in this case, the author takes Yusuf Qardhawi's wasat}iyyah principle. This writing was carried out using qualitative research methods based on data and library literature, data processing using concept analysis, and deductive-inductive analysis techniques in an exciting conclusion. Amina Wadud's description of thinking starts from the concept of human creation, so the main idea is called the hermeneutics of monotheism. Then, in applying the derivative language, it prioritizes ideal moral values ​​as ideas from Fazlur Rahman's ideas. However, in Yusuf Qardhawi's wasat}iyyah principle, there is an impression of imposing one's will and only focusing on issues of injustice, making the hermeneutic concept of gender equality less suitable to be applied. There is still a need for further exploration and interpretation rules that need to be taken into account. Even in its application, some characteristics of Islamic teachings tend to be ignored. ABSTRAK Munculnya sebagian aktivis dari gerakan feminisme menganggap perlunya dekonstruksi dan rekonstruksi sekaligus terhadap tafsir Al-Qur'an. Hal ini ditujukan untuk mencapai makna yang lebih adil dan tidak ada pihak yang termarjinalkan. Amina Wadud adalah salah satu tokoh feminis yang aktif dan bergerak dalam bidang ini. Berbagai isu ketidakadilan yang terkandung dalam nas} Al-Qur'an diuraikan kembali sesuai cara pandangnya. Namun, semangat penafsiran dengan corak hermeneutika kesetaraan gender perlu dianalisa dengan perspektif wasat}iyyah, yang dalam hal ini penulis mengambil prinsip wasat}iyyah Yusuf Qardhawi. Penulisan ini dilakukan dengan metode penelitian kualitatif berdasarkan data dan literatur kepustakaan, pengolahan data dengan analisis konsep dan teknik analisa secara deduktif-induktif. Dalam menarik kesimpulan. Uraian pemikiran Amina Wadud dimulai dari konsep penciptaan manusia menjadikan ide utamanya disebut hermeneutika tauhid. Kemudian dalam penerapan bahasan turunannya lebih mengedepankan nilai ideal moral sebagai ide dari gagasan Fazlur Rahman. Namun, dalam prinsip wasat}iyyah Yusuf Qardhawi, didapati kesan akan memaksakan kehendak dan hanya fokus pada permasalahan ketidakdilan membuat konsep hermeneutika kesetaraan gender ini kurang sesuai untuk diaplikasikan begitu saja. Masih perlunya pendalaman dan kaidah penafsiran yang perlu diperhatikan. Bahkan dalam implementasinya, sebagian karakteristik ajaran Islam sendiri cenderung diabaikan.
AN ISLAMIC PERSPECTIVE ON E-SPORT COMPETITION Bangkit Wira Malik; Harisah, Harisah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 10 No. 2 (2023)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v10i2.13620

Abstract

ABSTRACT This paper focuses on the study of a phenomenon that has just emerged due to the rapid development of technology, namely the e-sport competition which is much favored by millennials. The purpose of this study is to analyze how the law of e-sport competition is viewed from the arguments of the Al-Qur'an and Hadits, and how the law of the professional player profession, as well as maqashid sharia stipulation of a law. This research is a type of qualitative research whose data sources come from primary data sources through direct interviews with one of the professional players, and secondary data sources through studies of various literature such as books, articles in journals, and others. The results of this study indicate that: First, e-sport competitions are included in prize competitions that are forbidden in Islam because they have violated all the provisions contained in the Al-Qur'an and Hadith. Second, with the prohibition of e-sport competition, it will have implications for the law of the professional player profession which causes it to become an unlawful profession. Third maqashid sharia regarding the determination of a law is to protect and maintain the needs that are essential for humans, namely: religion, soul, mind, offspring, and property. So that this research makes an important contribution to the development of contemporary fiqh and Islamic law studies that are relevant to new phenomena in the digital era related to e-sport competitions. ABSTRAK Tulisan ini berfokus pada kajian mengenai fenomena yang baru muncul akibat pesatnya perkembangan teknologi yaitu tentang kompetisi e-sport yang banyak digemari oleh kalangan milenial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis bagaimana hukum kompetisi e-sport ditinjau dari dalil Al-Qur’an dan Hadits, dan bagaimana hukum profesi professional player, serta maqashid shariah penetapan suatu hukum. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang sumber datanya berasal dari sumber data primer malalui wawancara secara langsung kepada salah satu professional player, dan sumber data sekunder melalui kajian dari berbagai literatur seperti buku, artikel dalam jurnal, dan lain-lain. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa: Pertama, kompetisi e-sport termasuk ke dalam kompetisi berhadiah yang diharamkan dalam Islam karena telah melanggar semua ketentuan yang terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadits. Kedua, dengan diharamkannya kompetisi e-sport maka akan berimplikasi kepada hukum profesi professional player yang menyebabkannya menjadi profesi yang bathil. Ketiga maqashid shariahmengenai penetapan suatu hukum adalah untuk menjaga dan memelihara kebutuhan yang sifat nya esensial bagi manusia yaitu: agama, jiwa, akal, keturunan, beserta harta. Sehingga penelitian ini memberikan kontribusi penting terhadap pengembangan kajian fikih dan hukum Islam kontemporer yang relevan dengan fenomena baru di era digital terkait kompetisi e-sport.
ISLAMIC MORAL VALUES IN A MOVIE "BILAL: A NEW BREED OF HERO" BASED ON AL-GHAZALI’S PERSPECTIVE Fauzi, Ach; Rahmawati, Fithriyah
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 2 (2024)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v11i2.8701

Abstract

This study aimed at analyzing the Islamic moral values in a movie entitled “Bilal: A New Breed of Hero” by using al-Ghazali’s theory of moral principal virtues. This study used a qualitative approach with library research as the kind of research. The primary source was “Bilal: A New Breed of Hero”, a movie produced by Barajoun Entertainment. While the secondary sources were articles, books, and theses related to this research to complete the primary data. In collecting the data, the researcher implemented observation and documentation. As a result, the Islamic moral values (moral principle values) found in Bilal: A New Breed of Hero movie were al-Hikmah (wisdom), as-Syaja’ah (courage), al-Iffah (temperance), and al-Adl (justice). The current research contributes greatly to disseminating moral values, especially from the Islamic perspective through the movie.
THE PROBLEMATIC USE OF VEIL (NIQAB) AMONG FEMALE STUDENTS: A Study toward Lecturers’ Perceptions at the Faculty of Tarbiyah and Keguruan UIN North Sumatera Ahmad Darlis; Winda Sari; Irma Sulistia Silaen
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v11i1.10886

Abstract

ABSTRACT Research background: 1) more and more female students wear the veil. 2) negative stigma towards female students who wear the veil. 3) regulations regarding the veil during lectures are needed. 4) pros and cons regarding the veil during lectures. Research objectives: 1) to find out the lecturers' views about female students who wear the niqab in the lecture process. 2) to find out the positive and negative impacts of female students wearing the veil during the lecture process. The method of study employed in this research is qualitative. The results: This perception includes views about the veil in general, positive and negative impacts, and attitudes towards female students who wear the veil, divided into two large groups. Some lectures argued that the veil does not need to be a problem. They must still be treated well. Meanwhile, others perceived that female students who wear the veil during the lecture process are not good from an educational perspective. Because there are negative impacts whose consequences are quite fatal, namely the potential for cheating and fraud. Knowing the faces of female students is a must to avoid this. so there are lecturers who ask you to remove the veil personally. ABSTRAK Latar belakang penelitian: 1) semakin banyak mahasiswi bercadar. 2) stigma negatif terhadap mahasiswi bercadar. 3) dibutuhkan regulasi tentang cadar saat perkuliahan. 4 ) pro kontra tentang cadar saat perkuliahan. Tujuan penelitian: 1) untuk mengetahui pandangan dosen tentang mahasiswi bercadar dalam proses perkuliahan. 2) untuk mengetahui dampak positif dan negatif mahasiswi bercadar saat proses perkuliahan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif yang dilakukan di Fakultar Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Sumetera Utara. Hasil penelitian: persepsi dosen tentang mahasiswi bercadar saat perkuliahan meliputi pandangan tentang cadar secara umum, dampak positif dan negatif, dan sikap terhadap mahasiswi bercadar, terbagi menjadi dua kelompok besar. Sebagian mempersepsikan hal tersebut merupakan bagian dari hak mahasiswi yang memakainya, sehingga tidak perlu dipermasalahkan. Mereka harus tetap disikapi dengan baik sama seperti mahasiswi lainnya. Selain itu, memakai cadar juga tidak berdampak negatif persepektif pendidikan. Sedangkan sebagian lainnya mempersepsikan mahasiswi yang bercadar saat proses perkuliahan kurang baik dari perspektif pendidikan. Karena terdapat dampak negatif yang konsekuensinya cukup fatal, yaitu berpotensi terjadi kecurangan dan penipuan. Mengenal wajah mahasiswi merupakan sebuah keharusan untuk menghindari hal tersebut. Oleh karena itu saat proses perkuliahan mesti ada tretman tertentu, yaitu dengan memohon untuk membuka cadarnya secara personal kepada dosen.
MADIN PROGRAM FOR STUDENTS AS A TRANSFORMATIVE ISLAMIC EDUCATION MODEL FOR AGAINST RADICALISM AND TERRORISM Arifuddin, Nur; Nurcholis, Ahmad; Hidayatullah, Syaikhu Ihsan; Timbul, Timbul; Rudisunhaji, Muhamad Asngad
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v11i1.12118

Abstract

ABSTRACT This research examines the implementation of the Madrasah Diniyah program at UIN Satu Tulungagung as a model of Transformative Islamic education to prevent radicalism and terrorism. It used a qualitative approach, focusing on paradigms, strategies, and qualitative models. The grand theory of this study is Berkowitz's "holistic approach" which highlighting that effective character education involves transforming school culture and life, rather than just adding programs. This Madin program is unique following the curriculum that focused on Turats or kitab kuning (literally kitab kuning that refers to classical Islamic textbook) Its implementation do not always run well, sometimes there are some challenges can impede the process. Madin lecturers at UIN Satu Tulungagung faces various obstacles both direct and indirect that affect the execution of radicalism prevention strategies. The MADIN (Madrasah Diniyah) program implementation has had significant results in countering radicalism and terrorism on the campus. It combines traditional religious teachings with modern approaches that have proven effective. ABSTRAK Artikel ini menganalisis dan memberikan interpretasi terkait penerapan program Madrasah Diniyah khusus mahasiswa sebagai model pendidikan Islam Transformatif untuk melawan radikalisme dan terorisme di UIN Satu Tulungagung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang temuannya diperoleh berdasarkan paradigma, strategi, dan penerapan model secara kualitatif. Grand teori penelitian ini adalah “pendekatan holistik” Berkowitz, yang menekankan bahwa pendidikan karakter yang efektif bukanlah menambah program atau serangkaian program. Melainkan merupakan transformasi budaya dan kehidupan sekolah. Pembelajaran program Madrasah Diniyah di UIN Satu Tulungagung yang menggunakan jenis organisasi kurikulum tersendiri merupakan jenis pembelajaran yang berpusat pada Turats atau kitab kuning yaitu program Madrasah Diniyah. Penerapan strategi pencegahan radikalisme terkadang berjalan mulus dan sesuai rencana. Terkadang memang sesuai dengan yang diharapkan, namun seringkali ditemui hal-hal yang dapat menghambat pelaksanaan proses tersebut. Lebih lanjut dosen Madin menyadari banyak faktor yang menjadi kendala baik langsung maupun tidak langsung yang mempengaruhi penerapan strategi pencegahan radikalisme di UIN Satu Tulungagung.
COMMUNICATION PATTERNS OF RELIGIOUS PLURALITY COMMUNITIES IN SUMBERMULYO VILLAGE PESANGGARAN BANYUWANGI Turmudi, Imam; Sorayya, Dharma
Islamuna: Jurnal Studi Islam Vol. 11 No. 1 (2024)
Publisher : Madura State Islamic Institute (Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Madura)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/islamuna.v11i1.13223

Abstract

ABSTRACT Sumbermulyo Village is a replica of Indonesia in terms of multiculturalism. Sumbermulyo is a village located in the southern Banyuwangi region, precisely in Pesanggaran District, Banyuwangi Regency. This research aims to find out the Communication Patterns of Religious Plurality Communities in Sumbermulyo Pesanggaran Banyuwangi Village and Community Efforts to Resolve Conflicts with Socio-religious Backgrounds in Sumbermulyo Village, Pesanggaran District, Banyuwangi Regency. The research method in this study uses Qualitative used to answer research problems in the form of narrative related data obtained from various research techniques through interviews, observation, and documentation. The results of this research are the efforts of the Sumbermulyo community so that this diversity continues to run dynamically and harmoniously, some interfaith leaders respect different religions, such as attending invitations, attending celebrations and other celebrations. And also always work together in building places of worship despite religious differences. ABSTRAK Desa Sumbermulyo merupakan replika Indonesia dalam hal multikultural. Sumbermulyo merupakan sebuah desa yang terletak di wilayah Banyuwangi selatan tepatnya di Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Pola Komunikasi Masyarakat Pluralitas Agama Di Desa Sumbermulyo Pesanggaran Banyuwangi serta Upaya Masyarakat Menyelesaikan Konflik Yang Berlatar Belakang Sosial Keagamaan di Desa Sumbermulyo Kecamatan Pesanggaran Kabupaten Banyuwangi Metode penelitian dalam penelitian ini menggunakan Kualitatif digunakan menjawab permasalahan penelitian berupa data terkait naratif yang diperoleh dari berbagai teknik penelitian melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil Peneltian ini yaitu Upaya masyarakat Sumbermulyo supaya keberagaman ini tetap berjalan dinamisdan harmonis maka beberapa tokoh antar agama melakukan penghormatan terhadap beda agama, semisal menghadiri undangan, menghadiri selametan dan hajatan lainnya. Serta juga selalu gotong royong dalam membangun tempat ibadah meskipun memiliki perbedaan agama