cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surabaya,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Geosaintek
ISSN : 24609072     EISSN : 25023659     DOI : -
Core Subject : Science, Education,
Jurnal GEOSAINTEK adalah jurnal yang dikelola oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) ITS dan Departemen Teknik Geofisika ITS. Terbit pada bulan Januari-April, Mei-Agustus, dan Septermber-Desember pada setip tahunnya. Jurnal Goeaintek mempublikasi dan menerbitkan hasil kajian, penelitian, penerapan ilmu pengetahuan serta teknologi di bidang kebumian. Terbuka bagi peneliti, praktisi, serta akademisi dari berbagai lembaga.
Arjuna Subject : -
Articles 8 Documents
Search results for , issue "Vol 9, No 3 (2023)" : 8 Documents clear
ANALISIS DATA MAGNETOTELLURIK MENGGUNAKAN TENSOR FASE DAN PEMODELAN 2D BAWAH PERMUKAAN (STUDI KASUS CAMAS PRAIRIE, IDAHO, AMERIKA SERIKAT) Lita Maharani; Andri Yadi Paembonan; Selvi Misnia Irawati
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.17646

Abstract

Metode geofisika yang umum diaplikasikan dalam eksplorasi geotermal adalah metode Magnetotelurik (MT), yang memanfaatkan gelombang elektromagnetik alami. Pada pengukuran metode Magnetotelurik sering menghasilkan data lapangan yang terpengaruh oleh gangguan atau distorsi, yang dapat mengurangi keakuratan hasil interpretasi struktur di bawah permukaan. Oleh karena itu, untuk mendapatkan hasil yang akurat, diperlukan analisis seperti tensor fase guna mengidentifikasi struktur bawah permukaan yang tidak terpengaruh oleh distorsi galvanik. Hasil analisis di daerah penelitian menunjukkan dominasi dimensionalitas 2D yang mengarah ke Barat Laut-Tenggara dengan arah strike N1050E. Model inversi 2D mengungkapkan adanya lapisan resistivitas rendah (1-10 Ωm), yang diduga merupakan zona alterasi yang menjadi batuan penudung. Terdapat juga lapisan dengan nilai resistivitas 10-25 Ωm diduga sebagai lempung pasiran (Sandy Clay), dan nilai resistivitas 25-50 Ωm merepresentasikan lapisan pasir. Pada resistivitas 50-70 Ωm, diduga sebagai basal, sementara pada resistivitas tinggi (200-1000 Ωm) diduga sebagai granit yang berperan sebagai reservoir dengan tipe hot dry rock di dasar intrusif magma. Terlihat adanya struktur sesar dextral-normal Pothole sebagai daerah pelepasan di manifestasi air panas  Barron.
Analisis XRD dan Suseptibilitas Magnetik untuk Identifikasi Karakteristik Endapan Lumpur pada Wilayah Timur Laut Gunung Lumpur X Akbar Dwi Kurniawan
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.18325

Abstract

Gunung lumpur merupakan fenomena geologi yang menarik perhatian para peneliti karena potensinya sebagai sumber daya alam dan risiko bencana alam. Identifikasi karakteristik endapan lumpur menjadi penting dalam pemahaman proses pembentukan dan pemanfaatannya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara data geokimia dan suseptibilitas magnetik dalam mengidentifikasi karakteristik endapan lumpur pada gunung lumpur X. Analisis geokimia dilakukan dengan menggunakan metode XRD untuk memperoleh kandungan mineral penyusun endapan lumpur. Sementara itu, analisis suseptibilitas magnetik dilakukan dengan menggunakan Bartington MS2B Susceptibility meter, yang memberikan informasi mengenai sifat magnetik endapan lumpur. Hasil XRD mengungkapkan bahwa endapan lumpur hasil erupsi sebagian besar terdiri dari kuarsa, dan albit. Mineral lempung lain seperti kaolinit, montmorillonit dan illit juga terdeteksi pada sampel. Selain itu terdapat mineral lain seperti kalsit, siderit, dan pirit. Secara keseluruhan mineral yang terdeteksi mengindikasikan lingkungan pengendapan vulkaniklastik di lingkungan laut. Nilai suseptibilitas magnetik bervariasi pada rentang 0,27 × 10-6 m3/kg hingga 0,41 × 10-6 m3/kg, sehingga dapat dikatakan bersifat paramagnetik. Untuk nilai suseptibilitas magnetik bergantung frekuensi (χFD) memiliki rentang nilai dari 2,95% hingga 8,26%, sehingga hasil tersebut mengindikasikan bahwa sampel memiliki nilai χFD 2-10 % (sedang). Nilai χFD sedang berarti mengandung campuran SP dan butiran non-SP yang lebih kasar, atau butiran SP
UTILIZING POST PROCESSING KINEMATIC (PPK) UNMANNED AERIAL VEHICLE (UAV) TO ACCELERATE DETAILED LAND MAPPING Regita Faridatunisa Wijayanti; Niswah Selmi Kaffa; Taufik Kusetiyohadi; Hesekiel Sijabat; Angga Pratama Putra; Septa Erik Prabawa; Yunus Susilo
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.18657

Abstract

The accelerate of land registration is important to solve the land disputes. Start from 2022, BPN utilize UAV to make base maps quickly. One of photo map criteria is high horizontal accuracy of <0.5 meter by using Circular Error 90% (CE90). This research analyzes the effectiveness of PPK method on UAV survey to accelerate detailed land mapping in Indonesia. UAV fixed wing Vertical Takeoff and Landing (VTOL) model with Sony ILCE-6000 camera flown on 9.46 km2 areas, flying on 244 meters, and using 8 Ground Control Points (GCP) in Muktisari Village, Ciamis. First, UAV camera coordinates processed to obtain photo mosaic. Furthermore, geometric correction processed with GCP to obtain orthophoto for each mosaic photo. The UAV without PPK produced CE90: 0.02 meter (RMSE: 0.013 meter), whereas the UAV using PPK produced CE90: 0.008 meter (RMSE: 0.005 meter). According to the CE90 value on UAV showed resulting photo map included in 1:1000 scale aerial photo map in class 1. However, this research showed the UAV using PPK is 2.5 times more accurate. In conclusion, PPK can improve the performance of UAV to increase the photo map geometry accuracy. Hence, UAV using PPK are recommended to accelerate detailed land mapping in Indonesia.
PEMODELAN TSUNAMI DI KECAMATAN PACITAN DAN KECAMATAN NGADIROJO KABUPATEN PACITAN JAWA TIMUR Ferdian Yoga Aditama; Amien Widodo; Juan Pandu Gya Nur Rochman; Sugeng Pribadi
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.18056

Abstract

Selama kurun waktu tahun 1600 hingga 2007 telah terjadi kurang lebih 109 tsunami di Indonesia dengan 90% diakibatkan gempa tektonik. Pacitan berada pada daerah tunjaman (subduction) yang sangat rawan terhadap gempabumi dan tsunami. Kondisi morfologi pesisir Pacitan berpotensi besar terhadap bahaya tsunami. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan pemodelan tsunami yang dibangkitkan oleh gempa hipotetik megathrust segmen Jawa Timur berkekuatan Mw 8.7. Metode yang digunakan Cornell-Multi Grid Coupled dengan software COMCOT 1.7. Sistem nested grid menggunakan 4-layer terdiri dari 1-layer GEBCO, 2-layer batimetri, dan 1-layer integrasi untuk menghasilkan pemodelan tsunami dengan resolusi yang tinggi. Hasil penelitian menunjukkan skenario gempa hipotetik megathrust segmen Jawa Timur menyebabkan vertical displacement pada permukaan laut sebesar -4.59 m hingga 7.02 m. Propagasi tsunami ke arah utara menuju pesisir Pacitan memiliki amplitudo maksimum 33.16 m dengan waktu tempuh 23 – 29 menit kemudian menyebar ke segala arah. Jangkauan inundasi terjauh terjadi di Kecamatan Pacitan sejauh 4.19 km ke arah utara Pantai Ranuharjo, sedangkan run-up maksimum 21.82 m terjadi di Pantai Soge Kecamatan Ngadirojo. Berdasarkan peta bahaya tsunami, Kecamatan Pacitan memiliki luasan area terdampak inundasi paling luas 21.63 km2, sedangkan luasan area inundasi terkecil di Kecamatan Tulakan 0.33 km2.
PENDUGAAN POTENSI TINGKAT KOROSIFITAS LAPISAN BAWAH PERMUKAAN MENGGUNAKAN TEKNIK VERTICAL ELECTRICAL SOUNDING (Studi Kasus: Kabupaten Penajam, Kalimantan ) Emir Dzakwan Kamal Zein; Sandrila Marshela
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.19247

Abstract

Instalasi jaringan di bawah permukaan adalah hal yang sangat penting dan bermanfaat bagi suatu wilayah untuk mendistribusikan kebutuhan air, listrik, minyak, dan gas alam melalui pipa. Bahan logam biasanya dipilih karena memiliki kelebihan salah satunya dari segi kekuatan. Namun, kekurangan dari bahan logam adalah rentan mengalami korosi bila diinstalasi pada kondisi bawah permukaan yang kurang mendukung salah satunya akibat korosif tanah. Hal tersebut berbahaya bagi keselamatan dan keamanan lingkungan karena dapat menimbulkan terjadinya kebocoran pipa atau hal lainnya. Laju korosifitas tanah dipengaruhi oleh sifat fisik, listrik, kimia dari tanah, batuan, dan kandungan fluida di dalamnya. Resistivitas adalah salah satu variabel dari sifat listrik tanah yang berpengaruh besar terhadap laju korosifitas tanah. Solusi untuk mengestimasi nilai resistivitas tanah atau batuan yakni menggunakan metode geofisika geolistrik. Pengukuran 5 titik resistivitas dilakukan di wilayah Penajam, Kalimantan dengan menggunakan teknik Vertical Electrical Sounding (VES). Prosedur pengukuran resisitivitas berdasarkan American Standart Testing and Materials (ASTM) memakai Konfigurasi Wenner dengan 4 pin elektroda. Pengolahan data mengasilkan kurva resistivity sounding, model cross section, dan model konseptual geologi bawah permukaan. Perolehan galat hasil inversi dari kelima titik VES <10% sehingga interpretasi mengenai ketebalan, kedalaman, dan nilai resistivitas batuan mendekati kondisi aslinya. Litologi dari kelima titik VES pada kedalaman 0-40 meter diduga sebagai batu lempung yang mengandung mineral konduktif lebih banyak dengan nilai resistivitas 4.88-14.29 Ωm, batu lempung yang mengandung mineral konduktif lebih sedikit dengan nilai resistivitas 70.21-158 Ωm, dan batu pasir dengan nilai resistivitas 14.3-70.20 Ωm. Interpretasi tingkat korosifitas tanah berdasarkan National Association of Corrosion Engineers (NACE) dan ASTM menghasilkan pendugaan bahwa data VES 1, VES 2, VES 3, VES 4, dan VES 5 terdiri dari enam kelompok tingkat korosifitas tanah diantaranya sangat sedikit korosif/dapat diabaikan, sedikit korosif, cukup korosif, korosif, sangat korosif, dan paling korosif
SUSEPTIBILITAS MAGNETIK SISTEM PANASBUMI NON VULKANIK DESA TERAK MENGGUNAKAN METODE GEOMAGNETIK Tri Kusmita; Yuant Tiandho; Yekti Widyaningrum; Umi Alawiyah
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.15563

Abstract

Geothermal in Bangka Belitung islands are classified as radiogenic type of non-volcanic geothermal. Geothermal in this area was formed due to granite rocks that have been fractured, folded or faulted. Geothemal Terak has a surface temperature of 550C - 61.80C with a water discharge of 0.2 liters/second. This research aims to identify the forming rocks of geothermal system at Terak village based on magnetic field anomalies. Data acquisition was measured using a Proton Precession Magnetometer (PPM) along 2.5 km with 100 m spacing and 500 m spacing between lines. Data processing was analyzed using diurnal correction, IGRF correction, RTE (Reduce to the Equator) correction, anomaly separation using Upward Continuation. Modeling performed by applying 2D Inverse Modeling. The results indicated that the reservoir rock in Terak area with non-volcanic geothermal system was granite with susceptibility 42 x 103 - 49 x 103. The depth of the reservoir rock was partially at a depth of 30 - 125 meters above sea level and some were exposed on the surface (0 - 80 meters above sea level). Reservoir rocks are scattered in the northwest area of the study.
KARAKTERISTISASI BATU BARA BERDASARKAN ANALISIS PROKSIMAT PADA PASOKAN BATU BARA DI PLTU “PELITA” PERIODE 2019 Qori Fajar Hermawan; Nanda Khoirunisa; Muhammad Riza; Zetsaona Sihotang; Wasono Wasono
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.16572

Abstract

Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) “Pelita” menggunakan batu bara sebagai bahan bakar utama. Batu bara yang dipasok ke PLTU “Pelita” berasal dari Provinsi Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur. Pasokan batu bara yang diterima dilakukan analisis proksimat dan penentuan nilai kalor yang dilakukan oleh PT Surveyor Indonesia. Penelitian ini dilaksanakan untuk menentukan karakteristik batu bara pada PLTU “Pelita” periode 2019 berdasarkan hasil analisis proksimat dan nilai kalor. Korelasi antara nilai hasil analisis proksimat dan nilai kalor pada batu bara dilakukan berdasarkan analisis statistik menggunakan metode regresi linear. PLTU “Pelita” pada periode 2019 menerima batu bara sebanyak 17.485,537 ton dari Provinsi Kalimantan Selatan melalui dua kali pengiriman, 252.834,199 ton dari Provinsi Kalimantan Timur melalui 23 kali pengiriman dan 259.138,715 ton dari Provinsi Sumatera Selatan melalui 34 kali pengiriman. Pasokan batu bara periode 2019 ini memiliki nilai rata-rata untuk parameter kelembaban, kandungan zat terbang, kandungan abu, kandungan karbon dan nilai kalor batu bara secara berurutan sebesar 29,70%; 34,41%; 3,05%; 32,73%; dan 4.647,71 kkal/kg. Batu bara dari Provinsi Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur dan Sumatera Selatan memiliki nilai rata-rata untuk parameter kelembaban sebesar 27,45%; 29,98%; dan 29,58%; kandungan zat terbang sebesar 36,74%; 35,26%; dan 33,44%; kandungan abu sebesar 4,37%; 2,70%; dan 3,30%;  kandungan karbon sebesar 31,44%; 31,94%; dan 33,60% serta nilai kalor batu bara sebesar 4.845,54 kkal/kg, 4.504,92 kkal/kg dan 4.773,68 kkal/kg. Korelasi kuat ditunjukkan oleh pengaruh nilai kelembaban (0,663) dan kandungan karbon (0,756) terhadap nilai kalor pada batu bara. Berdasarkan nilai fuel ratio, jenis batu bara yang diterima oleh PLTU “Pelita” periode 2019 adalah bituminus dengan zat terbang menengah-tinggi dan seluruh golongan subbituminus.
PENDUGAAN LAPISAN AKUIFER MENGGUNAKAN METODE VERTICAL ELECTRICAL SOUNDING (VES) DI AREA PANTAI GOSONG, KABUPATEN BENGKAYANG Yusanneya Geulis; Muhardi Muhardi; Radhitya Perdhana
Jurnal Geosaintek Vol 9, No 3 (2023)
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j25023659.v9i3.19418

Abstract

Sebagian besar masyarakat di sekitar area Pantai Gosong masih memanfaatkan sumur dangkal yang bersumber dari akuifer bebas dalam memenuhi kebutuhan air bersih. Ketersedian air bersih pada akuifer bebas dinilai masih relatif terbatas, sehingga perlu juga dilakukan identifikasi keberadaan lapisan akuifer tertekan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi keberadaan lapisan akuifer menggunakan metode Vertical Electrical Sounding (VES). Kedalaman dan ketebalan lapisan akuifer diinterpretasi berdasarkan sebaran nilai resistivitas secara sounding. Akuisisi data dilakukan pada 4 titik pengukuran menggunakan konfigurasi Schlumberger dengan panjang bentangan masing-masing sejauh 500 m. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebaran nilai resistivitas secara sounding di lokasi penelitian adalah 0,17 Ωm – 43.743 Ωm, hingga kedalaman 250 m. Akuifer bebas terdapat di setiap titik pengukuran dengan kedalaman 0,36 m – 9,36 m. Sedangkan akuifer tertekan berada pada titik 1 dan titik 4, yang masing-masing berada pada kedalaman 47,82 m dan 55,45 m. Hasil interpretasi menunjukkan bahwa lapisan akuifer bebas diduga berupa pasir dan pasir kerikilan, sedangkan lapisan akuifer tertekan diduga berupa pasir kerikilan.

Page 1 of 1 | Total Record : 8