cover
Contact Name
Titik Rahmawati
Contact Email
sawwa@walisongo.ac.id
Phone
+6281249681044
Journal Mail Official
sawwa@walisongo.ac.id
Editorial Address
Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) Jl. Prof. Hamka - Kampus 3, Tambakaji Ngaliyan 50185, Semarang,Indonesia
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Sawwa: Jurnal Studi Gender
ISSN : 19785623     EISSN : 2581121     DOI : 10.21580/sa
Core Subject : Social,
Sawwa: Jurnal Studi Gender focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines
Articles 441 Documents
The Construction of Women’s Image and the Narrative of Nationalism among Face veiled-University Students in West Nusa Tenggara Wardatun, Atun; Wahid, Abdul
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (263.723 KB) | DOI: 10.21580/sa.v15i1.4466

Abstract

This article discusses the image of women and nationalism in the view of 15 female students of the Islamic Religious University (PTKI) in West Nusa Tenggara behind their face-veils (cadar). Methodologically, this study encourages the interpretation of facts from the perspective of the agents by involving the voices of women as subjects who are able to describe their choices and explain their actions responsibly. The choice of female university students as subjects for veil-related research is short among the general trends of research on veils targeting women from militant groups. This research reveals the meaning of the veil as a dynamic and open contestation of women’s identity, gender ideology, and nationalism. The dynamics and openness are possible due to the fact that female students are still in the formation phase of identities while veiling existence nowadays more about fashion trends and lifestyle. The dynamics appear in the ambiguity of the self-image of women they hold by placing women as sources of defamation (fitnah) as well as being pillars of the state. Openness is seen in the narrative of their nationalism which is wrapped in a strong inclusive and tolerant attitude, in addition to the tendency of exclusivism and conservatism of a small number of them. The findings of this study contribute to ideas for emancipatory movements such as gender equality and strengthening nationalism. The movements are to continue to be active and more creative in offering alternatives to the establishment of those female students’ identity and ideology in a more progressive direction.
SUARA SUNYI PEKERJA PABRIK PEREMPUAN Salama, Nadiatus
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2012): April 2012
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.14 KB) | DOI: 10.21580/sa.v7i2.648

Abstract

Peran pengembangan wawasan yang terkait dengan masalah pembangunan bangsa merupakan hal yang penting karena peran gender bisa meningkatkan ke­adilan dan persamaan hak. Meski demikian, ke­tidakadilan dalam dunia kerja masih kerap terjadi. Ketidakadilan sistem kerja telah menyebabkan pe­kerja perempuan menjadi miskin, bodoh, dan ter­asing. Selain itu, pekerja perempuan juga masih mendapat perlakuan yang melecehkan, memarjinal­kan, dan mengsubordinasi. Perempuan perlu di­berdaya­­kan agar mereka bisa menggapai masa depan yang lebih baik. Padahal, masih banyak pekerja perempuan yang belum menge­tahui hak-haknya. cenderung pasif, dan pasrah pada keputusan perusahaan yang terkait dengan pengurangan pegawai dan pengurangan jam kerja. Ditambah lagi, mereka masih me­nyandang predikat sebagai mahluk domestik yang memiliki setumpuk pekerjaan rumah tangga. Mereka bekerja seperti mesin selama 24 jam tanpa sempat me­mikirkan pengembangan dirinya. Kekhususan kondisi biologis perempuan juga turut ber­peran dalam meningkatkan labor turn over pada pekerja perempuan, sehingga pengusaha lebih memilih pekerja laki-laki karena mereka lebih meng­untungkan bagi per­usahaan, kecuali jika pekerja perempuan tersebut mau diberi upah rendah. Sementara, sebagai pekerja dalam struktur pabrik, mereka bekerja pada unit paling bawah (unit pro­duksi) yang tidak memiliki kuasa untuk me­munculkan eksistensi dirinya. Hal-hal seperti ini bisa menyebabkan pekerja perempuan sangat tergantung kepada atasannya maupun sistem yang diterapkan di pabrik.
STATUS ANAK DI LUAR PERKAWINAN PASCA PUTUSAN MAHKAMAH KONSTITUSI NO. 46/PUU -VIII/2010 Rokhmadi, Rokhmadi
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.779 KB) | DOI: 10.21580/sa.v11i1.1444

Abstract

Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 46/PUU-VIII/2010 ter­tanggal 17 Februari 2012 mengenai anak di luar perkawinan men­dapat pengakuan hukum perdatanya kepada bapak biologisnya, dan dalam diktumnya me-review ketentuan pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 menjadi “Anak yang dilahir­kan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya serta dengan laki-laki sebagi ayahnya yang dapat dibuktikan berdasarkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan/atau bukti lain menurut hukum mempunyai hubungan darah, termasuk hubungan perdata dengan keluarga ayahnya”. Maka UU Perkawinan No. 1 Tahun 1974 mengalami perubahan yang sangat signifikan, khusus­­­­­­nya pasal 43 ayat (1), karena UUP belum di­amandemen, se­hing­ga meresahkan masyarakat. Padahal Putusan MK adalah suatu putusan final yang berkaitan dengan uji materiil UUP, khususnya pasal 43 ayat (1). Oleh karena itu, Putusan MK ini berlaku sebagai undang-undang, sehingga substansinya berlaku general, tidak individual dan tidak kasuistik. Putusan MK menjadi norma hukum yang berlaku untuk seluruh warga negara Indonesia tentang hubung­an hukum antara anak dengan kedua orang tuanya beserta segala konsekuensi­nya, baik anak itu yang dilahirkan dalam ikatan perkawinan maupun di luar ikatan perkawinan yang sah.
SUNAT PADA ANAK PEREMPUAN (KHIFADZ) DAN PERLINDUNGAN ANAK PEREMPUAN DI INDONESIA: Studi Kasus di Kabupaten Demak Farida, Jauharotul; Elizabeth, Misbah Zulfa; Fauzi, Moh; Rusmadi, Rusmadi; Filasofa, Lilif Muallifatul Khorida
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 3 (2017): Oktober 2017
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (402.18 KB) | DOI: 10.21580/sa.v12i3.2086

Abstract

Female circumcision is one of the continuing practices in some countries of Africa, Europe, Latin America, and Asia, including Indonesia. In Arab, tradition of female circumcision has been widely known before the Islamic period. While in Indonesia, some areas practicing female circumcision include Java, Madura, Sumatra, and Kalimantan. This research used qualitative-ethno­graphic method. Data were collected through in-depth interviews to the traditional birth attendants who performed circumcision and to the baby's parents who sent their children for circumcision. In addition, Focus Group Discussion (FGD) involving medical personnel (doctors and midwives), traditional birth attendants, the parents, community leaders, religious leaders, academics, and government, was also conducted to explore the data. Then, the obtained data were analyzed by using descriptive analytical technique. The result shows that the practice of female circumcision in Demak Regency was done in 2 ways, namely symbolically and truly. Symbolically means that the practice of female circumcision was done by not cutting a female genital part, ie clitoris, but using substitute media, namely turmeric. On the other hand, the real meaning means that female circumcision was actually done by cutting little tip of the clitoris of a daughter. The time for practicing female circumcision in Demak regency was generally coincided with Javanese traditional ceremonies for infants / young children. The purpose for the daughters was in order to become sholihah and be able to control their lusts (not become "ngintil kakung" or hypersexual). Indeed, the motivation to practice this tradition is to preserve the ancestral tradition and to implement the religious command._________________________________________________________Sunat perempuan merupakan salah satu praktik yang saat ini masih dilakukan di beberapa negara di Afrika, Eropa, Amerika Latin, dan juga di Asia, termasuk Indonesia. Pada masyarakat Arab, tradisi sunat perempuan sudah dikenal luas sebelum periode Islam. Sementara Indonesia, beberapa wilayah yang mempraktikan sunat perempuan meliputi Jawa, Madura, Sumatera, dan Kalimantan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif-etnografis. Teknik pengumpulan data: Wawancara mendalam dengan dukun bayi yang melakukan sunat dan juga orang tua bayi yang mensunatkan anaknya. Focus Group Discussion (FGD) yang melibatkan tenaga medis (dokter dan bidan), dukun bayi yang melakukan sunat per­empuan, orang tua anak yang disunat, tokoh masyarakat, tokoh agama, akademisi, dan pemerintah.Teknik analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis Pada masyarakat di Kabupaten Demak. Praktik sunat perempuan pada Kabupaten Demak dilakukan de­ngan 2 cara, yakni secara sim­bolik dan secara sesungguhnya. Yang dimaksud secara simbolik adalah praktik sunat perempuan dilaku­kan tidak dengan memotong se­bagain anggota kelamin per­empuan, yakni klitoris, melainkan menggunakan media peng­ganti, yakni kunyit. Sedangkan yang di­maksud secara sesungguhnya ada­lah bahwa sunat perempuan benar-benar dilakukan dengan cara memotong sebagian kecil ujung klitoris anak perempuan. Waktu pelaksanaan sunat perempuan di masya­rakat Kabupaten Demak pada umumnya bersamaan dengan upacara-upacara adat Jawa untuk bayi/anak kecil. Tujuan dilakukan sunat perempuan bagi masyarakat di Kabupaten Demak adalah agar anak perempuan tersebut menjadi anak shalihah dan dapat mengendali­kan nafsu syahwatnya agar tidak “ngintil kakung” (hyperseks). Motivasi men­jalankan tradisi sunat perempuan bagi masyarakat di Kabupaten Demak menjalankan tradisi leluhur dan menjalankan perintah agama.
REVITALISASI PERAN ORANG TUA DALAM MENGURANGI TINDAK KEKERASAN TERHADAP ANAK Munita Sandarwati, Evi
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 2 (2014): April 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.716 KB) | DOI: 10.21580/sa.v9i2.637

Abstract

Institusi keluarga dipandang sebagai sebuah lembaga yang paling berperan dalam kehidupan sosial yang sehat terutama terkait pembentukan pribadi anak. Sebagai lingkungan pertama dan utama tumbuh kembang anak, sebuah keluarga khususnya orangtua diharapkan mampu mengoptimalkan peranannya ter­utama dalam bersosialisasi dan berinteraksi dengan anak-anak mereka. Pola asuh yang sesuai serta pengajaran yang ber­orientasi pada kebutuhan dasar anak, selayaknya diupaya­kan tanpa melanggar hak-hak anak. Dalam hal ini, orang tua di­harap­kan bisa menjadi model dan teladan bagi anak serta bijak­sana dalam memberikan sanksi bagi anak yang melakukan kesalahan dengan mempertimbangkan tindakan–tindakan yang sifatnya “ramah anak”. Menyikapi berbagai fenomena sosial terkait masalah anak yang rawan tindak kekerasan saat ini, pe­nulis mencoba menggambarkan upaya–upaya revitalisasi peran keluarga khususnya orangtua dalam mengurangi tindak ke­kerasan terhadap anak.
KEKERASAN TERHADAP PEREMPUAN DAN ANAK DALAM RUMAH TANGGA PERSPEKTIF PEMBERITAAN MEDIA Hasanah, Hasyim
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2013): Oktober 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.055 KB) | DOI: 10.21580/sa.v9i1.671

Abstract

Informasi yang disajikan media secara nyata mampu mengkonstruksi relasi gender di masyarakat. Pemberitaan media bukan sekadar memberitakan peristiwa kekerasan. Ada ke­cenderungan media melakukan konstruksi realitas atas tindak kekerasan yang dialami masyarakat, khususnya perempuan dan anak. Secara kualitatif, proses konstruksi realitas sosial ke­kerasan mempengaruhi citra publik khususnya di kalangan keluarga, masyarakat, elit maupun akademisi untuk segera memberikan informasi tindak kekerasan, faktor penyebab serta dampak kekerasan. Selanjutnya, proses ini dapat mem­pe­ngaruhi kebijakan dan strategi penyelesaian tindak kekerasan khususnya terhadap perempuan dan anak. Meski media ber­sikap netral ternyata fakta yang ditampilkan dalam pem-beritaan mengkonstruksi perempuan dan anak menjadi korban tindak kekerasan, sehingga muncul dinamika psiko-sosiologis tertentu. Opini dan peran media yang dirasa cukup besar dalam mengkonstruksi realitas secara sosial belum mampu meberikan kontribusi yang optimal terhadap penye­lesaian kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak.
PENDAMPINGAN KELAS IBU HAMIL MELALUI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM UNTUK MENGURANGI KECEMASAN PROSES PERSALINAN Mintarsih, Widayat
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.063 KB) | DOI: 10.21580/sa.v12i2.1545

Abstract

Physical and psychological changes cause problems for pregnant women such as: lack of confidence, dependence on partner, even worried and anxious. To reduce the anxiety, women need assistance through the process of Islamic guidance and counseling services. It is an effort to help individual overcome such deviations of religious nature as well as accept his role as khalifah that create good relationship with God, man and the universe. The lack of Islamic guidance and counseling services provided by health workers from hospital or village midwives brings the enthusiasm to get Islamic counseling especially for pregnant women, their families, integrated services post (Posyandu) cadres, and society in general to be able to overcome their problems. Method of PAR (Participatory Action Research) through awarenes actions towards their condition was used in this research. Assistance through Islamic counseling services meets the needs of pregnant women to reduce anxiety in order to maintain physiological, psychological, and spiritual health. In addition, this kind of services gives an increasing knowledge and insight cognitively, affectively, and psycho­motor for pregnant women. Internal cares both medically and through Islamic guidance and counseling services to reduce anxiety for pregnant women is done by themselves, their husband and family while external assistance can be done by the cadres of integrated services post, midwives, and community leaders. An increase and decrease in anxiety were measured by Hamilton Rating Scale for Anxiety’s theory (HRS-A) in Hawari. The result analysis showed that there were 11 clients experiencing decreased anxiety after receiving the Islamic counseling services. Before services, it was found a person suffering from slight category of anxiety, in which indicated the range of 14-20. Moreover, it was found 10 people suffering from medium category of anxiety, with total criteria of assessment from range 21-27._________________________________________________________Perubahan fisik dan psikologis menyebabkan problematika bagi ibu hamil, seperti kurang percaya diri, ketergantungan kepada pasangan, bahkan sampai merasa khawatir dan cemas Untuk mengurangi kecemasan dibutuhkan pendampingan melalui pro­ses layanan bimbingan dan konseling Islam. Minimnya layan­an bimbingan dan konseling Islam yang diberikan oleh petugas ke­sehatan dari Puskesmas atau bidan desa menyebab­kan antusias warga khususnya ibu hamil menginginkan diadakannya layanan bimbingan dan konseling Islam khususnya ibu hamil, keluarga ibu hamil, kader Posyandu, dan masyarakat pada umumnya agar mampu mengatasi masalah yang mereka alami. Metode Peng­abdian yang dilakukan berbasis PAR (Participatory Action Research) melalui penyadaran tindakan menuju perbaikan kon­disi kehidupan mereka. Pendampingan melalui layanan bim­bingan dan konseling Islam memenuhi kebutuhan ibu hamil untuk mengurangi kecemasan sehingga bisa menjaga ke­sehatan fisiologis, psikologis, dan spiritual, serta ada pe­ningkat­an pe­nge­tahuan dan wawasan dari segi kognitif, afektif, dan psiko­motorik. Pendampingan secara medis dan melalui layanan bim­bingan dan konseling Islam untuk mengurangi ke­cemasan inter­nal ibu hamil dilakukan oleh diri sendiri, suami, dan keluarga sedangkan pendampingan eksternal bisa dilakukan oleh kader Posyandu, para bidan, dan tokoh masyarakat. Pe­ningkatan dan penurunan kecemasan didiagnosa mengguna­kan alat ukur teori Hamilton Rating Scale for Anxiety (HRS-A) dalam Hawari yang menghasilkan analisis bahwa terdapat 11 klien yang mendapat­kan layanan bimbingan dan konseling Islam meng­alami pe­nurunan kecemasan. Sebelum mendapatkan laya­n­an, ter­dapat 1 orang mengalami kecemasan kategori ringan dengan kriteria total penilaian dari rentang 14-20 dan kategori ke­cemasan sedang ada 10 orang dengan kriteria total penilaian dari rentang 21-27.
The Changes in the Daily Activities Cycle of Women Informal Workers during the COVID-19 Pandemic: Vulnerability and Resilience Asriani, Desintha Dwi; Fatimah, Dati; Mardhiyyah, Mida; Zubaedah, Aminatun
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol. 16 No. 1 (2021): April
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.503 KB) | DOI: 10.21580/sa.v16i1.7112

Abstract

Productive work is often identified with public work that generates money, even though productive work is work that has production value. This article is based on research discussing the daily activities cycle of women that work in the informal sector during the Pandemic of COVID-19 in Yogyakarta. The research method is qualitative, followed by gender perspective, to affirm the narrative based on women’s experiences and gender analysis. On one side, economic recession due to the Pandemic of COVID-19 has increased the vulnerability of women in the informal sector because their income depends on daily economic activity. Conversely, implementing social distancing has increased women’s workload at home. However, culturally, women’s works in private sectors such as care work and mothering, tend to be normalized. Economic activity is associated with men’s jobs as breadwinners and is limited to public space. Therefore, women seem unproductive economically despite endless work (at home). This article does not only explore one single aspect of women’s double burdens but discusses how women’s identical activity with care work has been disconnected from the economic cycle chain itself. Meanwhile, living during the COVID-19 pandemic time shows that women’s works become a vital pillar of resilience in handling health and economic crises. Therefore, it is important to reconstruct the meaning of productive roles from a gender perspective, namely roles that have production value both at the public and domestic levels.
KESETARAAN LAKI-LAKI DAN PEREMPUAN DALAM HUKUM PERKAWINAN ISLAM Harahap, Rustam Dahar Karnadi Apollo
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (335.533 KB) | DOI: 10.21580/sa.v8i2.662

Abstract

Perkawinan merupakan sebuah kontrak antara dua orang pasang­an yang terdiri dari seorang laki-laki dan seorang per­empuan dalam posisi yang setara. Seorang perempuan se­bagai pihak yang sederajat dengan laki-laki dapat menetap­kan syarat-syarat yang diinginkan sebagaimana juga laki-laki. Per­kawinan secara mendasar berarti melibatkan diri dengan pem­bicaraan mengenai kasih sayang (mawaddah wa rahmah), dan hal inilah yang me­rupa­kan pokok pondasi suatu per­kawinan. Dengan demikian hubungan antara suami dan isteri adalah hubungan horizontal bukan hubungan vertikal, sehingga tidak terdapat kondisi yang mendominasi dan didominasi. Semua pihak setara dan sederajat untuk saling bekerja sama dalam se­buah ikatan cinta dan kasih sayang. Permasalahan perkawinan seringkali menjadi pemicu muncul­nya isu ketidaksetaraan dalam keluarga, padahal sejatinya Islam membawa norma-norma yang mendukung terciptanya suasana damai, sejahtera, adil dan setara dalam keluarga. Untuk men­jawab berbagai berbagai pertanyaan seputar ke­duduk­an laki-laki dan perempuan dalam hukum perkawinan Islam, tulisan ini akan mengungkapkan tentang berbagai ke­setaraan dalam hukum per­kawinan yang selayaknya dipahami agar tidak menimbulkan pandangan yang berat sebelah ter­hadap kelompok jender tertentu.
PERSELINGKUHAN SUAMI TERHADAP ISTRI DAN UPAYA PENANGANANNYA Muhajarah, Kurnia
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (288.018 KB) | DOI: 10.21580/sa.v12i1.1466

Abstract

Perselingkuhan pada umumnya banyak terjadi pada anggota keluarga yang kurang memiliki kualitas keagamaan yang mantap, lemahnya dasar cinta, komunikasi yang kurang lancar dan harmonis, sikap egois dari masing-masing, emosi yang kurang stabil, dan kurang mampu mem­­buat penyesuaian diri. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa pro­blematika per­selingkuhan suami terhadap istri adalah bahwa perselingkuhan dapat menjadi sumber stres yang luar biasa. Ke­gagalan pasangan untuk saling menyesuaikan diri dan memecahkan masalah-masalah secara efektif dapat memicu konflik yang ber­kepanjangan. Dari keseluruhan proble­matika perselingkuhan, pro­blematika yang paling utama dari perselingkuhan adalah per­ceraian, karena perselingkuhan merupakan salah satu masalah putus­nya perkawinan. Upaya penanganan per­selingkuhan antara lain adalah mengawasi pergaulan suami atau istri, berupaya sekuat tenaga menciptakan suasana rumah tangga yang har­monis, berupaya mem­beri contoh yang baik, membangun ling­kung­­an yang kondusif, me­ningkatkan kualitas nilai-nilai keagama­an, landasan cinta yang kokoh, mewujudkan komunikasi secara transparan dan har­monis, meningkat­kan kekuatan dan ketahanan diri yang dilandasi de­ngan konsep diri dan rasa percaya diri secara mantap, mengembangkan kontak sosial secara baik dan sehat, bergaul dengan orang baik. 

Filter by Year

2012 2025


Filter By Issues
All Issue Vol. 20 No. 2 (2025): October Vol. 20 No. 1 (2025): April Vol. 19 No. 2 (2024) Vol. 19 No. 2 (2024): October Vol. 19 No. 1 (2024): April Vol 18, No 2 (2023): October Vol. 18 No. 2 (2023): October Vol 18, No 1 (2023): April Vol. 18 No. 1 (2023): April Vol 17, No 2 (2022): October Vol. 17 No. 2 (2022): October Vol 17, No 1 (2022): April Vol 16, No 2 (2021): October Vol. 16 No. 2 (2021): October Vol. 16 No. 1 (2021): April Vol 16, No 1 (2021): April Vol. 15 No. 2 (2020): October Vol 15, No 2 (2020): October Vol 15, No 1 (2020): April Vol 14, No 2 (2019): October Vol 14, No 2 (2019): Oktober Vol 14, No 1 (2019) Vol 14, No 1 (2019): April Vol 13, No 2 (2018): Oktober Vol 13, No 2 (2018): Oktober Vol 13, No 1 (2018): April Vol 13, No 1 (2018): April Vol 12, No 3 (2017): Oktober 2017 Vol 12, No 3 (2017): Oktober 2017 Vol 12, No 2 (2017): April 2017 Vol 12, No 2 (2017): April 2017 Vol 12, No 1 (2016): Oktober 2016 Vol 12, No 1 (2016): Oktober 2016 Vol 11, No 2 (2016): April 2016 Vol 11, No 2 (2016): April 2016 Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015 Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015 Vol 10, No 2 (2015): April 2015 Vol 10, No 2 (2015): April 2015 Vol 10, No 1 (2014): Oktober 2014 Vol 10, No 1 (2014): Oktober 2014 Vol 9, No 2 (2014): April 2014 Vol 9, No 2 (2014): April 2014 Vol 9, No 1 (2013): Oktober 2013 Vol 9, No 1 (2013): Oktober 2013 Vol 8, No 2 (2013): April 2013 Vol 8, No 2 (2013): April 2013 Vol 7, No 2 (2012): April 2012 Vol 7, No 2 (2012): April 2012 More Issue