Sawwa: Jurnal Studi Gender
Sawwa: Jurnal Studi Gender focuses on topics related to gender and child issues. We aim to disseminate research and current developments on these issues. We invite manuscripts on gender and child topics in any perspectives, such as religion, economics, culture, history, education, law, art, communication, politics, and theology, etc. We look forward to having contributions from scholars and researchers of various disciplines
Articles
439 Documents
Survivor of Sexual Violence in Quranic Perspective: Mubādalah Analysis toward Chapter Joseph in Tafsir al-Azhar
Fauzi, Muhammad Haris;
Affandi, Yuyun;
Arikhah, Arikhah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol. 15 No. 2 (2020): October
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (231.321 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v15i2.6154
This research aims to examine and understand cases of sexual violence that befell the Prophet Joseph that was recorded in the verses of the Quran. The Prophet Joseph as a survivor of sexual violence suffered from verbal sexual harassment, attempted rape compulsion, and victim-blaming. The data is obtained by library research and analyzed using the socio-historical approach and qirā’ah mubādalah to analyze the method. The research results indicate that men and women must create a safe space of sexual violence and avoid destructive actions. The Prophet Joseph's strategic move came out of the circle of sexual violence and became a survivor by implementing the unity of God's values in various conditions.
WOMEN’S POLITICAL RIGHTS IN ISLAMIC LAW PERSPECTIVE
Fauzi, Moh.
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2014): Oktober 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (228.132 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v10i1.627
Di sebagian besar Negara Islam, masyarakatnya selalu diÂdominasi kaum laki-lakinya. Hal ini disebabkan sistem patrilinial yang dianut masyarakatnya. Di dalam kehidupan masyarakat seperti ini, hak-hak perempuan, termasuk hak untuk berÂpartisipasi dalam politik sangat sedikit sekali memberikan hak ini kepada perempuan sebagai pemilik sejatinya. Padahal kalau perempuan diberikan hak berpolitik ini mereka akan mampu ikut menentukan kehidupan masyarakat bahkan keÂhidupÂan berbangsa dan bernegara. Tulisan ini mendiskusikan hak politik perempuan dalam pandangÂan Hukum Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa Islam sangat menjunjung tinggi hak-hak perempuan. SebagaiÂmana patnernya kaum laki-laki, perempuan pun memiliki hak untuk memainkan peran public, termasuk dalam ranah politik.
PEMBERDAYAAN WANITA BERBASIS POTENSI UNGGULAN LOKAL
Lutfiyah, Lutfiyah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2013): April 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (209.667 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v8i2.653
Perempuan memiliki potensi untuk melakukan berbagai kegiatÂan produktif yang menghasilkan dan dapat membantu ekonomi keluarga. Lebih luas lagi ekonomi nasional, apalagi potensi terÂsebut menyebar di berbagai bidang. Suatu kenyataan bahwa dewasa ini keikut-sertaan wanita dalam mencapai tujuan pemÂbangunÂan sangat diharapkan. Berbagai peran dan tugas diÂtawarÂÂÂÂkan bagi wanita, dalam hal ini tentunya kita harus selalu selektif jangan sampai terkecoh sehingga lupa pada kodratnya. Melalui program Desa Vokasi ini diharapkan terbentuk kawasan desa yang menjadi sentra beragam vokasi, dan terbentuknya kelompok-kelompok usaha yang berasal dari sumber daya wanita yang memanfaatkan potensi sumberdaya dan kearifan lokal. Dengan demikian, warga masyarakat dapat belajar dan berÂÂÂlatih menguasai keterampilan yang dapat dimanfaatkan untuk bekerja atau menciptakan lapangan kerja sesuai dengan sumberÂÂÂdaya yang ada di wilayahnya, sehingga taraf hidup masyarakat semakin meningkat.
MENELAAH ULANG POLIGAMI DALAM HUKUM PERKAWINAN
Imron, Ali
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 11, No 1 (2015): Oktober 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (251.692 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v11i1.1449
Marriageis essentially areunification ofmen and womenconsistingof elements ofsouland body arefusedinto one inahouseholdframeforemotional and physicalwelfare. Regulationof marriageembracedthe principlethata manmay onlyhavea wifeand vice versa. The court maygrant permissionto the husbandtoa wifemorethanacertain requirements.QualitativeandquantitativeJusticeas a condition ofpolygamydifficultand evenimpossible to berealized. Polygamy issynonymouswiththe exploitation ofwomenfor the sake ofgreedandsexuallust. Â
The Relationship of Parenting Style and Perception of Sexuality, Gender and Norm of Reproductive Health among Adolescents
Wulandari, Eka Aprilia;
Susanto, Tantut;
Nur, Kholid Rosyidi Muhammad
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 15, No 1 (2020): April
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (204.967 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v15i1.3416
Parenting is an interaction between children and parents, including fulfilling physical, psychological needs, and socializing norms in society. The results of the adaptation of parenting styles include sexuality, gender, and norm perception (SGNP) in adolescent reproductive health. This study aims to analyze the relationship between parenting style with SGNP in adolescent reproductive health in Patrang District, Jember Regency. This study was a correlational analytic with a cross-sectional approach conducted among 158 participants with a cluster random samÂpling technique. Data collection used a questionnaire to identify the characteristics of participants, parenting with Parenting Style Dimension Questionnaire (PSDQ), and SGNP in adolescent reproÂducÂtive health with Sexuality, Gender, and Norms Questionnaire. Spearman Rank Correlation as an analysis method was used to answer the objectives of this study. Among 158 participants, 65.8% were authoritative parenting, 20.9% were authoritarian and 13.3% were permissive. Besides, 53.2% of adolescents had positive of SGNP in reproductive health. There is a relationship between parenting style and SGNP in adolescent reproductive health (r = 0.193; p = 0.015). Therefore, a planned intervention is needed such as educating parents and adolescents to be able to apply proper parenting to form positive perceptions.
PERAN GANDA PEREMPUAN PADA KELUARGA MASYARAKAT AGRARIS: KASUS 10 ISTRI BURUH TANI DI DESA PUTAT PURWODADI GROBOGAN
Arsini, Arsini
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 1 (2014): Oktober 2014
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (280.764 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v10i1.642
Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi mengenai Peran Ganda Perempuan pada Keluarga Masyarakat Agraris (Kasus 10 istri buruh tani di Desa Putat, Purwodadi, Grobogan ). Secara spesifik tujuan yang ingin dicapai adalah (1) untuk mengetahui peran istri buruh tani dalam meningkatkan ekonomi keluarganya, (2) untuk mengetahui bentuk partisipasi yang dilakukan istri buruh tani dalam meningkatkan ekonomi keluarganya.Metode penelitian dilakukan dengan pendekatan deskriptif. Penelitian ini dilakukan di desa Putat, Purwodadi, Grobogan. Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) peranan istri buruh tani di Desa Putat dalam peningkatan ekonomi banyak terkonsentrasi pada sektor informal. Bias gender dalam kehidupan ekonomi keluarga sudah tampak kabur karena para istri juga di tuntut untuk memenuhi kebutuhan keluarga, sehingga mereka tidak hanya tinggal diam di rumah untuk menanti dan membelanjakan penghasilan suami mereka dari sawah, namun mereka juga ikut terlibat dalam kegiatan mencari nafkah. Konsep yang terkait dengan penelitian ini adalah mengenai stratifikasi sosial, di mana adanya pembedaan antara kelas atas, kelas menengah dan kelas bawah gender, yang mengarah kepada pemikiran bagaimana gender diÂperÂmasalahkan. (2) Partisipasi istri dalam meningkatkan keÂsejahteraÂan keluarga di desa Putat diwujudkan dalam ketiga perannya baik dalam lingkungan rumah tangga, dalam bidang ekonomi, maupun dalam masyarakat. Peran ibu rumah tangga sangatlah dominan di Desa Putat karena mereka harus meÂngerjaÂkan pekerjaan rumah tangga sendiri dan perbekalan bagi suami untuk ke sawah. Mereka harus menyelesaikan segala tugas di dalam rumah tangga yang memang secara kodrati telah menjadi tanggung jawab mereka dan membantu baik secara langsung maupun tidak langsung proses produksi. Ibu-ibu di Desa Putat juga masih aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan seperti kegiatan PKK, arisan dan pengajian sebagai wujud partisipasinya di dalam kehidupan bermasyarakat. Namun dalam ekonomi bentuk partisipasi seorang istri buruh tani di Desa Putat ada dua hal yaitu menjadi pengrajin batik tulis , selain itu juga biasanya istri-istri buruh tani memilih profesi sebagai pedagang (penjual sayur keliling atau membuka warung di rumah).
PEMBELAJARAN PERKALIAN PECAHAN BIASA BERBANTU MEDIA BENDA KONKRET: Studi Kasus Perbedaan Gender terhadap Kemampuan Matematika Siswa Kelas V SDN Sambiroto 3 Semarang
Purwanti, Kristi Liani
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 10, No 2 (2015): April 2015
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (347.438 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v10i2.1431
AbstrakPembelajaran operasi kali dua pecahan di sekolah dasar masih menggunakan cara instan. Pembelajaran dengan cara tidak menggenal konsep dasar matematika, teringatnya tidak akan lama dibandingan menggunakan media pembelajaran. Didalam pembelajaran juga berdasarkan teori belajarnya Bruner yang bisa digunakan dalam pembelajaran perkalian pecahan. Anak diajak menemukan secara langsung konsep perkaliannya. Media yang digunakan hanya seÂlembar kertas HVS, ini merupakan tahap enaktif dari teori belajaran Bruner. Setelah anak mulai mengerti bagaimana membuat perkalian pecahan dengan kertas HVS, dilanjutkan dengan menggambar pada kertas berpetak, ini merupakan tahap ikonik di dalam teori belajar Bruner. Terakhir tahap simbolik anak menggunakan simbol secara langsung tentang perkalian pecahan. Pembelajaran ini diterapkan pada anak kelas 5 di SDN Sambiroto Tembalang Semarang dapat meningkatkan hasil pemahaman anak perempuan dan anak laki-laki terhadap perkalian pecahan. Kemampuan anak laki-laki dan perempuan tidak ada perbedaan. Hasil evaluasi sama, saat proses berbeda ada kecenderungan anak perempuan lebih cepat menguasi dibandingkan anak laki-laki
MENILIK PEREMPUAN SEBAGAI SOCIAL CLIMBER DALAM PANDANGAN EKONOMI ISLAM
Nurudin, Nurudin;
Muyassarah, Muyassarah
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 2 (2017): April 2017
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (301.906 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v12i2.1710
Social climber is described as a person who is eager to gain a higher social status in his or her society. In the globalization era, many women show off their styles that are not in accordance with their belongings. Those who look glamorous do not pay attention to the Islamic economic value. Therefore how women restrict the future generations not to be excessive in appearing their performance to avoid undesirable social and psychological impacts. Principally, Islam does not justify social climber because in Islamic economics istishod is recognized as the balance between the world and the hereafter which is in line with the Islamic economic goal namely al-falah. It means a balanced luck between the world and the hereafter. But it does not mean showing off glamorous behaviour in the world as such so it causes jealousy among the surrounding environment and induces criminals to commit crime such as theft, robbery and others. Social climber is also regarded as isrof means extravagance. Islamic economics forbids people to live extraÂvagantÂly and miserly regardless of its impact because Islamic economics advocate simple life._________________________________________________________Social climber digambarkan sebagai seseorang yang ingin menÂdapatkan status sosial yang lebih tinggi di sekitarnya. Dalam kondisi zaman globalisasi banyak perempuan yang bergaya pamer tidak sesuai dengan kondisi materi yang dimilikinya. Mereka yang berÂpenampilan glamor tidak memperhatikan nilai-nilai ekonomi Islam. Oleh karena itu bagaimana para perempuan membatasi agar generasi-generasi mendatang tidak berlebihan dalam berpenampilÂan untuk menghindari dampak sosial dan psikologi yg tidak diinginÂkan. Pada prinsipnya, Islam tidak membenarkan social climber karena di dalam ekonomi Islam dikenal istilah istishod yakni keÂseimbangan antara dunia dan akhirat yang sejalan dengan tujuan ekonomi Islam yang disebut al-falah. Artinya keberuntungan yang seimbang antara dunia dan akhirat, jangan hanya untung dunia yang justru pamer atau berperilaku glamor yang menyebabkan kecemburuan lingkungan sekitar dan mengundang penjahat meÂlakuÂkan kejahatan misalnya pencurian, perampokan dan lain-lain. Social climber juga termasuk isrof yakni pemborosan. Ekonomi Islam melarang hidup boros berfoya-foya dan kikir tanpa memperhatikan dampaknya karena ekonomi Islam menganjurkan hidup sederhana.
STRATEGI COPING STRESS PEREMPUAN DENGAN HIV/AIDS
Hidayanti, Ema
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 9, No 1 (2013): Oktober 2013
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (284.149 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v9i1.667
Penyakit merupakan salah satu stressor psikososial dalam kehidupan seseorang. Apalagi bagi penderita HIV/AIDS, penyakit ini tergolong kronis sekaligus terminal. Dimana penderitaÂnya selain dihadapkan pada pengobatan seumur hidup, juga diÂhadapÂkan pada ancaman kematian mengingat belum diÂtemuÂkan obatnya. ODHA (orang dengan HIV/AIDS) pasti mengalami stress yang berat baik yang bersumber dari penyakitnya sendiri ataupun dampak psikososialnya. Setiap orang memiliki beragam cara mengatasi stress yang dihadapi dalam hidupnya. Sebagian mengembangkan strategi coping yang positif dan sebagian yang lain justru memilih strategi yang negatif yang merugikan. PeÂmilihan dan pengembagan strategi coping akan sangat meÂnentukan perjalanan ODHA dalam menghadapi penyakitnya. Gambaran ini pula yang terjadi pada para perempuan dengan HIV/AIDS yang dengan cara mereka masing-masing berjuang menaklukan stress yang dialami dalam hidupnya.
ANALISIS SEMIOTIKA PENDIDIKAN MORAL ANAK USIA DINI DALAM KITAB TARBIYAT AL-AULAD FI AL-ISLAM
Filasofa, Lilif Muallifatul Khorida
Sawwa: Jurnal Studi Gender Vol 12, No 1 (2016): Oktober 2016
Publisher : Pusat Studi gender dan Anak (PSGA) Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (408.169 KB)
|
DOI: 10.21580/sa.v12i1.1471
Pendidikan moral harus dilakukan sejak dini. Sehingga saat dewasa, seorang anak akan menjadi pribadi yang berakhlaqul karimah. Banyak masalah yang muncul di wilayah anak. Yaitu tidak memanfaatkan waktu senggang untuk membentuk psikis ataupun psikis, dan peÂngaruh menonton film sadis-porno baik dilakukan secara langsung maupun tidak. Salah satu pemikir pendidikan Islam yang pernah membahas tersebut adalah Abdullah Nasih Ulwan. Ia selain membahas masalah tersebut juga membuat solusi untuk menangani bahkan mencegah. Tulisan ini menganalis kitab Tarbiyat al-Aulad fi al-Islam dalam kacamata semiotik. Adapun teori yang dipakai adalah tingkatan dua tahap; denotasi dan konotasi oleh Roland Barthes. Dua teks permasalahan yang dianalisis adalah kurangnya pemanfaatan waktu dan penanggulanganya, dan dampak negatif menonton film sadis dan porno.Hasil analisis teks kurangnya pemanfaatan waktu dan penanggulanganya dalam tingkat denotasi adalah waktu senggang anak harus dimanfaat orangtua untuk membentuk moral anak. Dalam tingat konotasi, pendidikan moral anak tidak hanya dibangun dalam ranah psikis atau jasmani. Maka dalam ranah operasionalnya yang harus dilakukan adalah melatih anak berlari-lari, melompat-lompat, menulis, dan sholat. Dimana semua aktifitas tersebut dapat meÂmeÂngaruhi kondisi psikis maupun jasmani anak. Selanjutnya, dalam anaÂlisis teks pengaruh menonton film sadis-porno dan penanggulÂanganÂnya dalam tingkat denotasi adalah Ulwan hendak menegaskan bahwa pengaruh dari tontonan sangat mempengaruhi karakter dan moral anak. Pengaruh ini karena indra pengelihatan disuguhi gambar-gambar yang dapat merangsang pikiranya. Sehingga mendorong anak mencontoh apa yang ditonton oleh anak. Dalam tingkat konotasi, film yang baik akan mempengaruhi karakter penonton.