cover
Contact Name
Very Julianto
Contact Email
jpsi@uin-suka.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
very_psi07@yahoo.com
Editorial Address
-
Location
Kab. sleman,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
Jurnal Psikologi Integratif
ISSN : 23562145     EISSN : 25807331     DOI : -
Core Subject : Social,
This journal is focusing on providing the public with understandings of integrated psychological studies and presenting researches and developments in psychology by articles and reviews. Psikologi Integratif scopes in particular psychological studies in general studies and integrated studies. This journal intends to bring up current issues in psychology subject by contributing to public with researches from psychology and related disciplines.
Arjuna Subject : -
Articles 186 Documents
The moderating effect of coping behavior on academic stress and subjective well-being in students during the Covid-19 pandemic Quarta, Dicky Listin; Nugraha, Sumedi P
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2476

Abstract

 This study aimed to observe the correlation between academic stress and subjective well-being, with coping behavior as a moderator in students during the COVID-19 pandemic. This involved 212 students in the UII. This study used the Perceived Stress Scale (18 items, a = 0.757), stress coping scale (44 items, a = 0.880), and college student subjective well-being questionnaire (16 items, a = 0.893). This study showed a significant negative correlation between academic stress and subjective well-being (β = -0.562; p < 0.05). Furthermore, the moderator regression analysis (MRA) results showed that the R² value of the interaction between academic stress and coping behavior as the moderator in the third regression model was higher than that of the other models (0.213). However, the increase was not statistically significant. The results showed that coping behavior did not have a moderating effect on the relationship between academic stress and subjective well-being.  Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran perilaku coping sebagai noderator hubungan antara stres akademik dan kesejahteraan subjektif pada mahasiswa selama pandemi COVID-19. Sebanyak 212 orang mahasiswa Universitas Islam Indonesia telah terlibat dalam penelitian ini. Perceived stress scale (18 item, a = 0.757), skala coping stress (44 aitem, a = 0.880), dan college student subjective well-being questionnaire (16 item, a = 0.893) merupakan alat ukur dalam penelitian ini. Penelitian ini menemukan hubungan antara stres akademik dan kesejahteraan subjektif yang negatif dan signifikan (β = -0.562; p < 0.05). Selanjutnya, hasil moderator regression analysis (MRA) menunjukan bahwa nilai R² pada model regresi ke-3 (i.e., model interaksi antara stress akademik dan perilaku koping) meningkat sebesar 0,213 meskipun peningkatan ini tidak signifikan. Peneliti menyimpulkan bahwa perilaku coping tidak mampu menjadi moderator dalam hubungan antara stres akademik dan kesejahteraan subjektif 
Hubungan Dukungan Sosial, Keseimbangan Kerja-Keluarga, dan Lama Pernikahan dengan Kepuasan Pernikahan Istri pada Pasangan bekerja (Dual-Earner Couple) Husna, Dias Rahmanti; Karyani, Usmi
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2327

Abstract

  In working couples, the wife’s responsibility looks heavier because she has several roles. Women who have had children face role tension which can eventually lead to marital dissatisfaction. Factors such as social support from husband, family, and children; also work-family balance are important. The length of marriages is one of determinants to the length of adaptation that carried out marital satisfaction. The sampling technique was purposive random sampling. The were working women aged 20-50 years, had a working husband. The data were analyzed by using multiple linear regression analysis method. The result, there is a significant relationship between social support, work-family balance, and length of marriage with marital satisfaction with a sig value 0.000 and F value 39.970. The major hypothesis in this study is acceptable. Social support and work-family balance have a positive and significant relationship with marital satisfaction; while length of marriage has no relationship with marital satisfaction (has a negative relationship direction). Marital satisfaction can be explained by social support and work-family balance by 36%, both of these factors have the same contribution 18%.    Pada pada pasangan bekerja, tanggung jawab istri lebih berat karena memiliki beberapa peran. Faktor seperti dukungan sosial dan keseimbangan kerja-keluarga menjadi penting. Lama pernikahan merupakan salah satu penentu lamanya adaptasi yang dilakukan untuk mencapai kepuasan pernikahan. Penelitian ini mengungkap hubungan dukungan sosial, keseimbangan kerja-keluarga, dan lama pernikahan dengan kepuasan pernikahan. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling, subjek wanita bekerja (20-50 tahun), telah menikah, dan memiliki suami bekerja. Metode analisis regresi linear berganda yang digunakan mendapatkan hasil hubungan yang signifikan antara dukungan sosial, keseimbangan kerja-keluarga, dan lama pernikahan dengan kepuasan pernikahan dengan sig. 0,000 dan nilai F 39,970. Hipotesis mayor dalam penelitian ini dapat diterima. Dukungan sosial dengan kepuasan pernikahan r 0,447 dan sig. 0,000<0,05, keseimbangan kerja-keluarga r 0,454 dan sig. 0,000<0,05 keduanya memiliki hubungan positif yang signifikan dengan kepuasan pernikahan, sedangkan lama pernikahan tidak memiliki hubungan dengan kepuasan pernikahan, r 0,142 dan sig. 0,863>0,05) dengan arah hubungan negatif. Kontribusi variabel dukungan sosial dan keseimbangan kerja-keluarga sebesar 36%. 
Peran Dukungan Sosial Keluarga dan Kemandirian Belajar terhadap Flourishing pada Mahasiswa yang Terancam Drop Out Ridha, A. Ahmad
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2615

Abstract

Flourishing is the highest level of human psychological well-being. Flourish conditions are needed by students who nearly drop out in completing their education at college. This study aims to determine the role of family social support in the flourishing of students who nearly drop out, moderated by independent learning. This study uses a quantitative approach at university X in Tarakan, North Kalimantan. The subjects of this study were 70 students who nearly dropped out. The results of the moderated regression analysis show that family social support and independent learning play a positive role in student flourishing. However, learning independence still needs to be proven to strengthen the role of family social support for flourishing students who nearly drop out. This means that independent learning does not have a significant moderating effect as a moderating variable. Flourishing merupakan tingkatan tertinggi dari kesejahteraan psikologis manusia. Kondisi flourish sangat dibutuhkan mahasiswa yang terancam drop out dalam menyelesaikan pendidikannya di institusi pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peranan dukungan sosial keluarga terhadap flourishing mahasiswa yang terancam drop out yang dimoderatori oleh kemandirian belajar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif di Universitas X di kota Tarakan, Kalimantan utara. Subjek penelitian ini adalah 70 orang mahasiswa yang terancam drop out. Hasil moderated regression analysis menunjukkan bahwa dukungan sosial keluarga dan kemandirian belajar secara bersama-sama berperan positif terhadap flourishing mahasiswa, namun kemandirian belajar tidak terbukti memperkuat peranan dukungan sosial keluarga terhadap flourishing mahasiswa yang terancam drop out. Ini berarti bahwa kemandirian belajar tidak memiliki efek moderator yang signifikan sebagai variabel moderator 
Menemukan Kembali Identitas Diri : Proses Resosialisasi pada Orang Dengan Skizofrenia Rahmatika, Akrimna; Palila, Sara
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 10 No. 2 (2022): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v10i2.2579

Abstract

 This research aims to identify the process of resocialization people with schizophrenia (ODS) go through to rediscover their identity and social functioning in society. The participants of the research consisted of two key informants and three significant others who were selected using a purposive technique. The research used a qualitative method with a case study approach. The data were collected through semi-structured interviews and observations and were analyzed by applying thematic analysis techniques. The results showed that both key informants went through various processes to find their social functioning. The first process was the emergence of early symptoms. The second process was desocialization. The third process was the course of the disorder, which includes the appearance of advanced symptoms, stages of treatment, and post-hospitalization changes. The fourth process was the dynamics of society toward ODS. And the next process is ODS’s adjustment to the new identity. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses resosialisasi yang dialami oleh penderita skizofrenia (ODS) untuk menemukan kembali identitas dan fungsi sosialnya di masyarakat. Partisipan penelitian terdiri dari dua informan kunci dan tiga orang significant others yang dipilih dengan teknik purposive. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara semi terstruktur dan observasi serta dianalisis dengan teknik analisis tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua informan kunci melalui berbagai proses untuk menemukan fungsi sosialnya. Proses pertama adalah munculnya gejala awal. Proses kedua adalah desosialisasi. Proses ketiga adalah perjalanan gangguan, yang meliputi munculnya gejala lanjut, tahap pengobatan, dan perubahan pasca rawat inap. Proses keempat adalah dinamika masyarakat menuju ODS. Dan proses selanjutnya adalah penyesuaian ODS dengan identitas baru
Gambaran Efikasi Diri Mahasiswa Santri Penghafal Al-Qur’an Noor, Hana Nabila; Pihasniwati, Pihasniwati
Jurnal Psikologi Integratif Vol. 11 No. 2 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2774

Abstract

College students who memorize al-qur’an are expected to have high self-efficacy because memorizing al-qur’an requires a long process and takes a long time. This study aims to explore and to understand self-efficacy of college students who memorize al-qur’an and to explore what factors influence their self-efficacy. This qualitative research used phenomenological approach with three participants. The data analysis used is an explication technique. The results showed three participants have strong self-efficacy. The three participants interpret the process they need to face during memorizing Al-Qur’an and following academic schedule as a challenge that must be completed. They managed their activities well, as well as they have successfully mastered various tasks. One participant focused on maximizing the process of memorizing al-qur’an and following academic schedule, while two other participants were maximizing their process in memorizing al-qur’an, following the lecture and also joining the organization. Three participants have also good confidence in their own ability to complete their target in memorizing al-qur’an and their study as well. Factors that influenced their self-efficacy are included their previous achievements, motivation to seek knowledge and emulating the success of others, and parental support. Mahasiswa yang menghafal al-qur’an diharapkan memiliki efikasi diri yang tinggi karena menghafal al-qur’an membutuhkan proses yang panjang dan membutuhkan waktu yang lama. Penelitian ini bertujuan untuk menggali dan memahami efikasi diri mahasiswa penghafal al-qur’an serta menggali faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi efikasi diri mahasiswa tersebut. Penelitian kualitatif ini menggunakan pendekatan fenomenologis dengan tiga partisipan. Analisis data yang digunakan adalah teknik eksplikasi. Hasil penelitian menunjukkan tiga partisipan memiliki efikasi diri yang kuat. Ketiga partisipan memaknai proses yang harus mereka hadapi selama menghafal al-qur’an dan mengikuti jadwal akademik sebagai tantangan yang harus diselesaikan. Mereka mengatur kegiatannya dengan baik, mereka berhasil menguasai berbagai tugas. Satu partisipan fokus memaksimalkan proses menghafal al-qur’an dan mengikuti perkuliahan, sedangkan dua peserta lainnya memaksimalkan proses menghafal al-qur’an, mengikuti perkuliahan dan juga berorganisasi. Tiga partisipan juga percaya diri dengan kemampuan mereka sendiri untuk menyelesaikan target mereka dalam menghafal al-qur'an dan studi mereka. Faktor-faktor yang mempengaruhi efikasi diri mereka meliputi prestasi sebelumnya yang telah diraih, motivasi mencari ilmu dan meniru keberhasilan orang lain, dan dukungan orang tua.
The Attitude of Help-Seeking Behavior Preventing from Mental Health Problems among Adolescents Living in District of Bondowoso Nandy Agustin Syakarofath; Dian Caesaria Widyasari
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2737

Abstract

The onset of mental health problems during adolescence often manifests into internalizing and externalizing problems. Seeking help to deal with mental health problems suggested better well-being outcomes. This study investigated the contribution of attitude and intention of seeking help for mental health problems among adolescents. Further analysis examined preferences of formal and informal mental health providers and gender-related patterns on help-seeking behaviors and mental health problems among adolescents. A total of 300 adolescents based on multistage random sampling (mean age = 16.49, male = 131 (43.7%), female = 169 (56.3%)) were selected to participate in this study. They completed three questionnaires online, including The Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ), Mental Help Seeking Intention Scale (MHSIS) and Mental Help-Seeking Attitudes Scale (MHSAS). The results showed that attitude to help-seeking contributes significantly to adolescents internalizing and externalizing problems. Female adolescents were more susceptible to experiencing internalizing and externalizing problems. They showed a more positive attitude and stronger intention to seek mental health assistance than their male counterparts. Finally, teachers and friends are the preferred sources of help in dealing with mental health problems. Munculnya masalah kesehatan mental pada masa remaja seringkali bermanifestasi menjadi masalah internalisasi dan eksternalisasi. Mencari bantuan untuk menangani masalah kesehatan mental menunjukkan hasil kesejahteraan yang lebih baik. Penelitian ini menyelidiki kontribusi sikap dan niat mencari bantuan untuk masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Analisis lebih lanjut memeriksa preferensi penyedia kesehatan mental formal dan informal dan pola terkait gender pada perilaku mencari bantuan dan masalah kesehatan mental di kalangan remaja. Sebanyak 300 remaja berdasarkan multistage random sampling (usia rata-rata = 16,49, laki-laki = 131 (43,7%), perempuan = 169 (56,3%)) dipilih untuk berpartisipasi dalam penelitian ini. Mereka mengisi tiga kuesioner online, termasuk Kuesioner Kekuatan dan Kesulitan (SDQ), Skala Niat Mencari Bantuan Mental (MHSIS) dan Skala Sikap Mencari Bantuan Mental (MHSAS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sikap mencari pertolongan berkontribusi secara signifikan terhadap internalisasi dan eksternalisasi masalah remaja. Remaja putri lebih rentan mengalami masalah internalisasi dan eksternalisasi. Mereka menunjukkan sikap yang lebih positif dan niat yang lebih kuat untuk mencari bantuan kesehatan mental daripada rekan pria mereka. Terakhir, guru dan teman adalah sumber bantuan yang lebih disukai dalam menangani masalah kesehatan mental.
"Together We Are Stronger": Pencapaian Kepuasan Perkawinan Pasangan dengan Anak Penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) Faqihul Muqoddam; Nono Hery Yoenanto; Dewi Retno Suminar
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2578

Abstract

Couples caring for children with Autism Spectrum Disorder (ASD) are always associated with lower marital satisfaction and higher divorce potential. But not all of them are like that, because they can also maintain and be able to achieve marital satisfaction while caring for children with ASD. The study aims to explore the experience of achieving marital satisfaction in couples caring for children with ASD. Qualitative research methods with a phenomenological approach are used in this study. Data was collected using semi-structured interviews, while data were analyzed through Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). The participants involved consisted of 7 marriages couples and 4 informants. The Couple Satisfaction Index (CSI-16) questionnaire was used as a preliminary study to identify couples who have high marital satisfaction. Validity test using member check technique and triangulation of data sources. The results of the study resulted in 5 main themes, such as the first experience of couples while caring for a child with ASD; fulfillment of couples needs while caring for a child with ASD; fulfillment of couple's expectations; actions taken to achieve marital satisfaction; and duration of marital satisfaction achievement. The process of achieving marital satisfaction in couples caring for children with ASD varies according to duration, but always begins with a downturn and continues with the desire to achieve marital satisfaction.Pasangan dengan anak penyandang Autism Spectrum Disorder (ASD) selalu dikaitkan dengan kepuasan perkawinan yang rendah dan potensi perceraian yang lebih tinggi. Namun tidak semuanya demikian, karena mereka juga bisa mempertahankan dan mampu mencapai kepuasan perkawinan selama mengasuh anak penyandang ASD. Tujuan penelitian untuk mengeksplorasi pengalaman pencapaian kepuasan perkawinan pada pasangan dengan anak penyandang ASD. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur, sedangkan data dianalisis melalui Interpretative Phenomenological Analysis (IPA). Partisipan yang terlibat terdiri dari 7 pasangan dan 4 informan. Kuesioner Couple Satisfaction Index (CSI-16) digunakan sebagai preliminary study untuk mengidentifikasi pasangan yang memiliki kepuasan perkawinan yang tinggi. Uji validitas menggunakan teknik member check dan triangulasi sumber data. Hasil penelitian menghasilkan 5 tema utama, seperti pengalaman awal pasangan selama mengasuh anak penyandang ASD; pemenuhan kebutuhan pasangan selama mengasuh anak penyandang ASD; pemenuhan harapan pasangan; tindakan yang dilakukan dalam mencapai kepuasan perkawinan; dan durasi pencapaian kepuasan perkawinan. Proses pencapaian kepuasan perkawinan pada pasangan yang mengasuh anak penyandang ASD cenderung berbeda sesuai durasi, namun selalu diawali dengan keterpurukan dan berlanjut pada keinginan untuk mencapai kepuasan perkawinan.
Apakah Overprotektif Orang Tua Berkorelasi Dengan Agresivitas? Studi Pada Mahasiswa Rantau Asal Daerah Yang Pernah Berkonflik Sosial Marice Meigy Wattimena; Arthur Huwae
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2478

Abstract

Aggressive behavior is a form of action whose purpose is to hurt or injure another person, physically or verbally. There are several factors behind the emergence of aggressive behavior, one of which is overprotective parenting. Overprotective parenting causes children to feel pressured and less free. Moving on from this, this study aims to find out the correlation between overprotective parents and the aggressiveness of wander students from regions who have had social conflicts. The research method used is correlational quantitative. The study participants were 60 students who came from areas that had experienced social conflict (Moluccas, Papua, Central Borneo and Central Sulawesi) using the incidental sampling technique. Data collection used the Parent Overprotectiveness Scale (α = 0.863) and the Aggressiveness Scale (α = 0.898). The research results prove that the research hypothesis is accepted (r = 0.387 and sig. = 0.002). It can be concluded that the increased aggressiveness of wander students from regions who have had social conflicts is due to an increase in parental overprotectiveness. Perilaku agresif merupakan bentuk tindakan yang tujuannya meyakiti atau melukai orang lain, secara fisik maupun verbal. Terdapat beberapa faktor yang melatarbelakangi timbulnya perilaku agresif, salah satunya pola pengasuhan orang tua yang overprotektif. Pengasuhan orang tua yang overprotektif menyebabkan anak merasa tertekan dan kurang bebas. Beranjak dari hal tersebut, maka penelitian ini bertujuan mencari tahu korelasi antara overprotektif orang tua dan agresivitas mahaswa rantau asal daerah yang pernah berkonflik sosial. Metode penelitian yang digunakan yaitu kuantitatif korelasional. Partisipan penelitian sebanyak 60 mahasiswa yang berasal dari daerah yang pernah berkonflik sosial (Maluku, Papua, Kalimantan Tengah, dan Sulawesi Tengah) dengan teknik insidental sampling. Pengumpulan data menggunakan Skala Overprotektif Orang Tua (α = 0,863) dan Skala Agresivitas (α = 0,898). Hasil penelitian membuktikan bahwa hipotesis penelitian diterima (r = 0,387 dan sig. = 0,002). Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya agresivitas mahasiswa rantau asal daerah yang pernah berkonflik sosial, karena adanya peningkatan overprotektif orang tua yang diterapkan.
Peran Regulasi Diri dalam Belajar terhadap Prokrastinasi Akademik pada Siswa Madrasah Tsanawiyah Yoga Achmad Ramadhan; Rio Adi Nugroho; Siti Khumaidatul Umaroh; Silvia Eka Mariskha
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2757

Abstract

Academic procrastination is a detrimental behavior, including in the context of students at Madrasah Tsanawiyah. This study aims to analyze the role of self-regulated learning towards academic procrastination in Madrasah Tsanawiyah students. The study population was students from class VII to class IX at Madrasah Tsanawiyah IB, totaling 215 students consisting of 111 male students and 104 female students. Determination of research samples using cluster random sampling technique and obtained a sample of 140 students. The research data was obtained using a self-regulation scale in learning with a reliability value of 0.899 and an academic procrastination scale with a reliability value of 0.903. Simple linear regression was chosen as the research data analysis. Based on the results of the analysis it is known that self-regulation in learning is negatively related to academic procrastination with a regression coefficient of -0.817 with a value of p = 0.000 (p <0.05). The role of self-regulation in learning towards academic procrastination is shown by the R-Square of 0.421, meaning that the variable of self-regulated learning plays a role of 42.1% on the variable of academic procrastination. Prokrastinasi akademik merupakan perilaku yang merugikan, tidak terkecuali dalam konteks siswa di Madrasah Tsanawiyah. Penelitian ini bertujuan untuk emnganalisis peran regulasi diri dalam belajar terhadap prokrastinasi akademik pada siswa Madrasah Tsanawiyah. Populasi penelitian adalah para siswa kelas VII sampai dengan kelas IX Madrasah Tsanawiyah, berjumlah 215 orang yang terdiri dari 111 orang siswa laki-laki dan 104 orang siswa perempuan. Penetapan sampel penelitian menggunakan teknik cluster random sampling dan didapatkan sampel sebanyak 140 siswa. Data penelitian diperoleh menggunakan skala regulasi diri dalam belajar dengan nilai reliabilitas sebesar 0,899 dan skala prokrastinasi akademik dengan nilai reliabilitas sebesar 0,903. Regresi linier sederhana dipilih sebagai analisis data penelitian. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa regulasi diri dalam belajar berhubungan negative dengan prokrastinasi akademik dengan koefisien regresi sebesar -0,817 dengan nilai p = 0,000 (p < 0,05). Peran regulasi diri dalam belajar terhadap prokrastinasi akademik ditunjukkan R-Square sebesar 0,421, bermakna variabel regulasi diri dalam belajar berperan sebesar 42,1% terhadap variabel prokrastinasi akademik.
Peran Mediasi Network Heterogeneity pada Hubungan Online Subjective Well-Being dan Social Media Fatigue pada Pengguna Media Sosial Adhyatman Prabowo
Jurnal Psikologi Integratif Vol 11, No 1 (2023): Psikologi Integratif
Publisher : UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jpsi.v11i1.2586

Abstract

The use of social media has many implications for individuals. One of the impacts that arises is users’ Online Subjective Well-Being (OSWB). This study aims to explore the relationship between OSWB and Social Media Fatigue (SMF) mediated by network heterogeneity; privacy concern, social comparison and selfdisclosure. This correlational research design used early adult respondents of a range of ages 20 - 30 years (N = 337) which was taken using non-probability quota sampling. Data was analyzed using SPSS Process (Model 4) by Hayes. The results showed that OSWB was able to predict SMF directly. The factors which succeed in mediating OSWB and SMF were self-disclosure, while privacy concerns and social comparison were unable to act as mediator. However, all three mediating variables have a positive correlation with SMF. Individuals with high OSWB are predicted to have lower SMF. In addition, the role of self-disclosure greatly determines the occurrence of SMF. Penggunaan media sosial membawa banyak implikasi bagi individu. Salah satu dampak yang muncul adalah Online Subjective Well-Being (OSWB) pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara OSWB dan Social Media Fatigue (SMF) yang dimediasi oleh network heterogeneity; privacy concren, social comparison dan self-disclosure. Penelitian koreasional ini melibatkan responden dewasa awal dengan rentang usia 20 - 30 tahun (N = 337) dengan pengambilan sampling menggunakan non probability quota sampling. Analisis data melalui SPSS Process (Model 4) oleh Hayes. Hasil penelitian menujukkan OSWB mampu memprediksi SMF secara langsung. Adapun faktor yang berhasil menjadi mediasi adalah self-disclosure sedangkan privacy concerns dan social comparison tidak mampu menjadi mediator. Namun demikian, ketiga variabel mediasi berkorelasi positif dengan SMF. Individu dengan OSWB yang tinggi diprediksi memiliki SMF yang lebih rendah. Selain itu, peran self-disclosure dalam diri sangat menentukan proses terjadinya SMF.