cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Kelautan Tropis
Published by Universitas Diponegoro
ISSN : 14108852     EISSN : 25283111     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 451 Documents
Kondisi Geologi Lingkungan di Wilayah Pesisir Sluke Kabupaten Rembang Provinsi Jawa Tengah Sugeng Widada
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (778 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.603

Abstract

 Rembang is one of the most strategic residence in Central Java Province. It is located in the Northern main road that is connecting West Java and East Java. The strategic potentials in Rembang residence are industries, mines, services and trading. Recently a PLTU plant and an early construction of some cement factories, such as PT. Indonesia Rembang in Sluke subdistrict. PLTU Rembang and Pabrik Semen Indonesia Rembang in Sluke subdistrict affected the geological condition in the area. This research aimed to know the lithological structure and the hydrooceanography process occured in the study area and their effect to the pysical condition the regarded area. A descrriptive-explorative method was used in this research.  Primary data used in this research including water current, wave and basic sediment data. While the secondary data including bathimetry, topography, wind speed and direction,  and tidal data obtained from Bakosurtanal and Dishidros. Base on those data and the mathematical modelling, the coast line dynamic was described. The result of the research showed that Sluke coastal area had  land slope < 2% and 2-6 m dpl elevasion close to border on the hills in the back with a slope > 15%. The lithology composed the land was silt with natural rocks composed of sand and limestone. The sediment in the surface coastal area was dominated by sand that contains shell.  While the sediment in the deeper waters bottom composed of clay and silt. Abrassion occured in the study area affected in the vanishing of  the path in the ricefields in the northern of PLTU Rembang, the collapse of the coconut trees  and the damage of the wall in the government’s land in the north of PLTU Rembang. Kabupaten Rembang merupakan  salah satu Kabupaten di Provinsi Jawa Tengah yang sangat strategis, karena terletak pada lintasan jalur pantai utara Jawa yang menghubungkan antara propinsi Jawa Barat dan Jawa Timur. Potensi strategis Kabupaten Rembang adalah bidang industri, pertambangan, jasa dan perdagangan. Pada saat ini telah berdiri PLTU Rembang dan tahap awal pembangunan beberapa  pabrik semen diantaranya adalah  PT. Indonesia Rembang di Kecamatan Sluke. Keberadaan PLTU Rembang dan Pabrik Semen Indonesia Rembang di Kecamatan Sluke bepengaruh terhadap kondisi geologi lingkungan wilayah tersebut Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tatanan litologi dan proses hidrooseanografi yang terjadi di daerah kajian dan dampaknya terhadap lingkungan fisik daerah yang bersangkutan. Penelitian ini menggunakan metode diskripstif - eksploratif dari daerah studi dengan cara mengungkapkan kondisi daerah penelitian dengan aktual, akurat sesuai dengan fakta yang terdapat di lapangan serta pendekatan pemodelan matematis untuk menggambarkan perubahan garis pantai pantai. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini adalah meliputi data arus, data gelombang, dan data sedimen dasar. Sedangkan data sekunder berupa batimetri, topografi, angin dan pasut diperoleh dari Bakosortanal dan Dishidros. Hasil penelitian menunjukan Pesisir Sluke mempunyai morfologi dataran pantai dengan kelerengan < 2 % dengan elevasi 2 – 6 m dpl yang bebatasan langsung dengan perbukitan di belakangnya yang berlereng > 15 %. Litologi penyusun dataran tersebut adalah pasir lanau dengan batuan dasar berupa batupasir dan batugamping. Sedimen dasar pada tepi pantai didominansi oleh pasir dengan kandungan cangkang, sedangkan sedimen dasar di perairan yang lebih dalam berupa lempung dan lanau. Abrasi yang terjadi di daerah penelitian berdampak pada hilangnya jalan di sawah penduduk sebelah barat PLTU Rembang, robohnya pohon kelapa karena tanah tempat perakarannya terabrasi dan rusaknya dinding pelindung pantai pada lahan milik Pemda di sebelah barat PLTU Rembang.  
Aktivitas Antioksidan dan Kandungan Senyawa Fenolik Makroalga Coklat Sargassum sp. Sri Sedjati; Suryono Suryono; Adi Santosa; Endang Supriyantini; Ali Ridlo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 2 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.632 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i2.1737

Abstract

Present research was to evaluated the antioxidant activities of extracts from macroalga Sargassum sp.  In this study, seven filtrates from maceration (methanol pa and technical grade, ethanol pa and techinal grade, methanol technical grade 50%,  infused hot water, boiled water) were analyzed for total phenolic compound (TPC) and for antioxidant activities (DPPH method).  The results revealed that the water filtrates possessed more TPC and antioxidant antivity than alcoholic filtrates, and the highest was water filtrate from boiled Sargassum sp. (TPC =1,36±0,01 mgGAE/g  dry weight; % inhibtion DPPH = 81,35±0,42 %). The high positive correlation between TPC and antioxidant activity (r = 0.99 ) suggested that phenolic compound  were the mayor antioxidant components.  The effect of TPC (dependent variable) on DPPH radical inhibition (independent variable) with regression formula y = 55,39 x + 5,18.  Penelitian ini mengevaluasi potensial aktivitas antioksidan ekstrak Sargassum sp.  Pada kajian ini, 7 filtrat hasil maserasi (metanol pa dan teknis, etanol pa dan teknis, metanol teknis 50%, perendaman air panas/hot infused, dan perebusan dengan air) dianalisis kandungan total fenoliknya (TPC) dan aktivitas antioksidannya (metoda DPPH).  Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa filtrat air memiliki kandungan TPC dan antioksidan yang relatif lebih tinggi dibanding filtrat alkohol dan yang tertinggi adalah filtrat hasil perebusan Sargassum sp. (TPC =1,36±0,01 mgGAE/g  berat  kering;  inhibisi DPPH = 81,35±0,42 %),  Korelasi positif yang tinggi antara TPC dan aktivitas antioksidan (r = 0.99) menunjukkan bahwa  kandungan senyawa fenolik merupakan komponen utama yang menghasilkan  aktivitas  antioksidan.  Pengaruh  TPC (variabel bebas)  terhadap inhibisi radikal DPPH (variabel terikat)  sesuai dengan persamaan regresi  y = 55,39 x + 5,18.  
Karakterisasi Senyawa Bioaktif Kapang Laut Trichoderma asperellum MT02 dengan Aktivitas Anti-Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli Mada Triandala Sibero; Aninditia Sabdaningsih; Ocky Karna Radjasa; Agus Sabdono; Agus Trianto; Subagiyo Subagiyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 1 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (497.413 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i1.3528

Abstract

The Trichoderma asperellum MT02 has been reported to has antibacterial activity against the Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli based on the screening results through an agar plug method. This study aimed to evaluate the antibacterial activity of T. asperellum MT02 and characterize the composition of the bioactive compounds group possessed in its crude extract. The isolate was cultured in the Malt Extract Broth (MEB) media (static, 27 oC, 15 days). The intracellular metabolites from mycelium were extracted using methanol while extracellular metabolites from broth media were extracted using ethyl acetate. The antibacterial activity of crude extracts was tested using the paper disc diffusion method while bioactive compounds were characterized using the phytochemical method. The results showed that the antibacterial activity of the broth media extract performed a greater activity than the crude extract from the mycelium. The crude extract from mycelia only contained flavonoid and phenol hydroquinone compounds while the crude extract from broth media contains alkaloids, flavonoids, phenols hydroquinone and saponins. Kapang Trichoderma asperellum MT02 telah dilaporkan memiliki potensi sebagai penghasil senyawa antibakteri melawan Extended Spectrum β-Lactamase (ESBL) E. coli berdasarkan hasil penapisan melalui metode agar plug. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak kasar kapang T. asperellum MT02 serta komposisi golongan senyawa bioaktif yang dimiliki. Kapang dikultur pada media Malt Extract Broth (MEB) (statis, 27 oC, 15 hari) di mana metabolit intraseluler dari miselium diekstrak menggunakan metanol sedangkan metabolit ekstraseluler dari media kaldu diekstrak menggunakan etil asetat. Aktivitas antibakteri ekstrak kasar diuji menggunakan metode difusi kertas cakram sedangkan senyawa bioaktif dikarakterisasi menggunakan metode fitokimia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas antibakteri asal ekstrak media kaldu lebih baik dibandingkan ekstrak kasar asal miselium kapang. Ekstrak kasar kapang asal miselia hanya mengandung senyawa golongan flavonoid dan fenol hidrokuinon sedangkan ekstrak kasar asal media kaldu mengandung alkaloid, flavonoid, fenol hidroquinon dan saponin.
Pola Pertumbuhan Siput Gonggong Strombus turturella, Röding, 1798 (Gastropoda: Strombidae) di Pulau Bangka, Bangka Belitung Okto Supratman; Okto Supratman; Indah Auliana; Mualimah Hudatwi; Eva Utami
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.442 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.5479

Abstract

Strombus turturella on Bangka Island is under pressure and threatens the effects of anthropogenic activity. This condition is necessary to carry out various efforts to manage the dog conch on an ongoing basis. Based on these problems, it is necessary to conduct research related to various parameters of the growth of the dog conch on Bangka Island. The purpose of the study was to determine the growth parameters of the dog conch which included growth patterns, estimation of growth model von bertalanffy and length-weight relationship. The research was carried out in several stages, namely: 1) Sampling in the field conducted in Teluk Kelabat waters, Ketawai Island and Anak Air Island, 2) Measurement of shell length and weight, and 3) Analysis of growth parameters using the FiSAT II application, then estimated von Bertalanffy's growth. The results of the frequency distribution of the size of the gonggong snail class in Teluk Kelabat were 47.85- 66.35 mm, on Ketawai Island 44.10-77.45 mm, while those on Anak Air Island were 44.10-62.65 mm. The results of Von Bertalanffy's growth model in the first year or age of one year growth accelerated with the length of the shell in Teluk Kelabat (44.46 mm), Ketawai Island (46.63 mm) and Pulau Anak Air (32, 80 mm). Then in the following year the growth slowed down to asymptotic length with around 11 years of age in T. Kelabat, 14 years in P. Ketawai and 15 years in P. Anak Air. The relationship between the length and weight of the dog conch in three locations on Bangka Island with a value of b <3 so that a negative allometric growth pattern can be determined. The negative allometric growth pattern shows an increase in the length of the snail bark faster than the weight gain. Siput gonggong (Strombus turturella) di Pulau Bangka mengalami tekanan dan ancaman dampak dari aktivitas antropogenik. Kondisi ini maka perlu dilakukan berbagai upaya pengelolaan siput gonggong secara berkelanjutan. Berdasarkan permasalahan tersebut maka perlu dilakukan penelitian berkaitan berbagai parameter pertumbuhan siput siput gonggong di Pulau Bangka.  Tujuan penelitian yaitu menentukan beberapa parameter pertumbuhan siput gonggong yang meliputi distribusi kelas ukuran, pendugaan model pertumbuhan von bertalanffy dan hubungan panjang berat. Penelitian dilakukan beberapa tahapan yaitu 1) Pengambilan sampel di lapangan yang dilakukan di Perairan Teluk Kelabat, Pulau Ketawai dan Pulau Anak Air, 2) Pengukuran panjang cangkang dan berat, dan 3) Analisis parameter pertumbuhan dengan menggunakan aplikasi FiSAT II, selanjutnya dihitung pendugaan pertumbuhan von Bertalanffy. Hasil distribusi frekuensi kelas ukuran siput gonggong di Teluk Kelabat yaitu 47.85 mm s.d 66.35 mm, di Pulau Ketawai 44.10 mm s.d 77.45 mm, sedangkan di Pulau Anak Air yaitu 44.10 mm s.d 62.65 mm. Hasil model pertumbuhan Von Bertalanffy pada tahun pertama atau umur satu tahun pertumbuhan mengalami percepatan dengan panjang cangkang di Teluk Kelabat (44,46 mm), Pulau Ketawai (46,63) dan Pulau Anak Air (32, 80) mm. Kemudian pada tahun selanjutnya pertumbuhan semakin melambat sampai mecapai panjang asimtotik dengan umur sekitar 11 tahun di T. Kelabat, 14 tahun di P. Ketawai dan 15 tahun di P. Anak Air. Hubungan panjang dan berat siput gonggong di tiga lokasi di Pulau Bangka dengan nilai b < 3 sehingga dapat ditentukan pola pertumbuhan alometrik negatif. Pola pertumbuhan alometrik negatif  menunjukan pertambahan panjang siput gonggong lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan berat.
The Influence of Temperature - Food Availability on the Shell Growth of Sea Scallop Placopecten magellanicus (Gmelin, 1791) Adi Santoso
Jurnal Kelautan Tropis Vol 19, No 1 (2016): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.763 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v19i1.594

Abstract

A study of the growth of the sea scallop, Placopecten magellanicus, under suspended culture conditions was carried out over a seven month period at a culture site in Graves Shoal, Mahone Bay,Nova Scotia – Canada. Scallop spat were cultivated in pearl nets at a density of 30-35 per net set at four locations corresponding to the surface (7 m) and bottom (14 m) at the outer edge and the center of the site. Shell height was measured at monthly intervals. Environmental conditions represented as temperature and food availability at the surface and bottom over the same period were also monitored. Shell Height growth rate was slightly greater at the surface than at the bottom. At the surface sites growth was greater at the outside (SUROUT) than at the center locations, but at the bottom growth was greater at the centre location (BOTIN). The only significant relationship between shell growth and temperature - food variables was chlorophyll a concentration.Sebuah studi tentang pertumbuhan kerang Placopecten magellanicus, di bawah kondisi budidaya yang dilakukan selama tujuh bulan di Graves Shoal, Mahone Bay, Nova Scotia - Kanada. Kerang dibudidayakan dalam jaring mutiara dengan kepadatan 30-35 per set di empat lokasi yang sesuai dengan permukaan (7 m) dan bawah (14 m) di tepi luar dan pusat Graves Shoal. Ketinggian cangkang diukur pada interval bulanan. Kondisi lingkungan direpresentasikan sebagai suhu dan ketersediaan makanan di permukaan dan bawah selama periode yang sama juga dimonitor. Tingkat pertumbuhan  tinggi cangkang sedikit lebih besar di permukaan daripada di bagian bawah. Pada pertumbuhan situs permukaan lebih besar di luar (SUROUT) daripada di lokasi pusat, tetapi pada pertumbuhan bawah lebih besar di lokasi pusat (BOTIN). Satu-satunya hubungan yang signifikan antara pertumbuhan kulit dan suhu - variabel makanan adalah konsentrasi klorofil.  
Inventarisasi Bio-Ekologi Terumbu Karang Di Pulau Panjang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah Suryono Suryono; Munasik Munasik; Raden Ario; Gentur Handoyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.359 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1363

Abstract

The inventarization of coral bioecology is highly needed to identify the real condition of the observed coral, as a database in ecosystem management, as well as an attempt to rehabilitate critical coastal area. Coral condition valuation is conducted by counting the percentage of live coral coverage, by using the Line Intercept Transect method. This research shows that coral condition in Panjang Island falls into moderate category (with 29-49% of live coral coverage), which represent up to 57% from total observed area. Coral that falls under "bad" category (live coral coverage below 20%) is 29%, and only 7% of the observed area can be categorised as good (more than 50% coverage) and "very bad" (less than 5% of coverage). This condition is primarily caused by the decline of water ecology quality caused by sedimentation, west season wave activity, along with human activities like tourism, swimming, fishing, or shellfish gathering. These contributes many instances of coral-breaking caused by gleening.  Inventarisasi bio-ekogi terumbu karang sangatlah diperlukan guna mengetahui kondisi nyata terumbu karang yang dilakukan pemantauan, sebagai basis data dalam pengelolaan ekosistem serta upaya rehabilitasi kawasan kritis pesisi. Penilaian kondisi terumbu karang dilakukan dengan perhitungan persentase penutupan karang hidup menggunakan metode  LIT  (Line Intercept Transect). Hasil penelitian menunjukan bahwa Kondisi terumbu karang di Pulau Panjang termasuk dalam kategori sedang (dengan persen tutupan karang hidup 29 – 49 %)  mencapai 57 % dari keseluruhan area pengamatan. Selanjutnya kondisi terumbu karang dengan kategori buruk (persen tutupan karang hidup 20 %) mencapai 29 % dan hanya 7 % dalam kategori baik (50%) dan buruk sekali (persen tutupan karang hidup 5 %). Kondisi tutupan terumbu karang yang relative buruk diduga  diakibatkan oleh menurunnya kualitas ekologi perairan yang diakibatkan oleh  sedimentasi, aktivitas gelombang musim barat,serta aktivitas manusia seperti wisata, berenang, memancing ataupun pencari kerang turut serta memicu banyaknya pecahan karang akibat terinjak – injak (gleening).   
Pertumbuhan Artemia sp. dengan Pemberian Ransum Pakan Buatan Berbeda Ali Djunaedi
Jurnal Kelautan Tropis Vol 18, No 3 (2015): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.891 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v18i3.525

Abstract

Silase ikan sebagai pakan buatan Artemia sp mempunyai beberapa keunggulan diantaranya memiliki kandungan nutrisi yang tinggi dan kontinuitas ketersedian sebagai pakan dapat terpenuhi. Keunggulan yang dimiliki silase ikan ini sangat tepat diterapkan dalam menunjang pertumbuhan Artemia sp. Penelitian ini bertujuan untuk megetahui pengaruh berbagai dosis silase ikan terhadap pertumbuhan Artemia sp. Metode yang digunakan adalah eksperimental laboratories. Perlakuan yang diterapkan terdiri dari 4 perlakuan yaitu pemberian silase ikan A (10 mg/L), B (20 mg/L), C (30 mg/L) dan D (40 mg/L) dengan ulangan masing-masing 3 kali. Parameter ukur adalah Pertambahan berat mutlak, pertambahan panjang dan tingkat kelulushidupan. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa rata-rata pertambahan berat mutlak dan pertumbuhan panjang tertinggi diperoleh perlakuan D yaitu 7,99 ± 0,05 mg dan 8,8 ± 0,25 mm, terendah diperoleh perlakuan A yaitu 6,46 ± 0,27 mg dan 7,2 ± 0,32 mm serta untuk tingkat kelulushidupan tertinggi diperoleh perlakuan D yaitu 31,09 ± 1,29 %, terendah diperoleh perlakuan A yaitu 9,67 ± 2,96 %.Kata Kunci : Artemia sp. Silase, Laju Pertumbuhan, Tingkat KelulushidupanSilase is a liquid protein made from trash fish which is decomposed by enzims. Silase has some advantages ie, high nutrition value, easy to produce, economic value and could be produce easily. These could be aplied to support the growth of Artemia sp. The aim of this research is to investigate effect of the various dose of silase on the growth level of Artemia sp. These research was conducted at Laboratorium Pakan Alami Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau(BBPAP), Jepara. Experimental laboratories was used with completely randomized design. The treatments were doses of silase : A (10 mg/L); B (20 mg/L); C (30 mg/L) and D (40 mg/L). The individual weight, length and survival rate were measured. The result showed that the highest average of individual absolute growth (weight) was reached on treatment D (7,99 + 0,05 mg), while the lowest on treatment A (6,46 + 0,27 mg). The highest length growth was reached on treatment D (8,8 + 0,25 mm), while the lowest on theatment A (7,2 + 0,32 mm). The highest survival rate of Artemia sp was reached on treatment D (31,09 + 1,29%) and the lowest on treatment A (9,67 + 2,96%).Keywords : Artemia sp, Silase, Growth rate, Survival rate
Kandungan Pigmen Polar Dan Biomassa Pada Mikroalga Dunaliella Salina Dengan Salinitas Berbeda Ali Djunaedi; Chrisna Adi Suryono; Sardjito Sardjito
Jurnal Kelautan Tropis Vol 20, No 1 (2017): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.403 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v20i1.1347

Abstract

Polar pigments content and biomass of Dunaliella salina are affected by salinity related to osmotic pressure and density of media. This study was to determine the effect of salinity on pigment contents and dried biomass of microalgae D. salina. The cultivation used microalgae derived from Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara. Research method was the Laboratory study with a Completely Randomized Design (CRD). Consisting of one treatment with five stages of salinity treatments: 20 ppt, 25 ppt, 30 ppt, 35 ppt, and 40 ppt and using three times of repetition. Analysis of pigments used UV-Vis spectrophotometric extracted with acetone as the solvent. Harvesting time was when it reached at the stationair phase using flocculation method. The results showed that salinity had the significant effect (P <0.05) on polar pigment and dry biomass. The treatments of 35 ppt showed that the highest content phycocyanin and allophycocyanin pigments were 11.341 mg/gram and 9.644 mg/gram respectively. The highest dry biomass was achieved at 35 ppt salinity treatment at 0.789 gram/L. Kandungan pigmen polar dan biomassa Dunaliella salina dipengaruhi oleh salinitas yang berkaitan dengan tekanan osmotik dan densitas media. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh salinitas terhadap kandungan pigmen polar dan biomassa kering D. salina. Biota uji diperoleh dari Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Payau (BBPBAP), Jepara. Metode penelitian adalah eksperimen laboratoris dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 1 perlakuan dengan 5 taraf perlakuan salinitas, yaitu: 20 ppt, 25 ppt, 30 ppt, 35 ppt, dan 40 ppt dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Analisis pigmen dengan metode spektrofotometer UV-Vis yang diekstraksi menggunakan larutan aseton. Pemanenan biomassa pada fase stasioner dengan menggunakan metode flokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salinitas berpengaruh terhadap kandungan pigmen dan biomassa kering Dunaliella salina. Perlakuan salinitas 35 ppt menghasilkan kadar pigmen fikosianin dan allofikosianin tertinggi, yaitu 11,341 mg/gram, dan 9,644 mg/gram, serta  menghasilkan biomassa kering tertinggi, yaitu 0,789 gram/L. 
Kondisi Terumbu Karang Di Pantai Empu Rancak Kabupaten Jepara Suryono Suryono; Edi Wibowo; Raden Ario; Nur Taufiq SPJ; Ria Azizah
Jurnal Kelautan Tropis Vol 21, No 1 (2018): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.676 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v21i1.2301

Abstract

 Empu Rancak coastal  waters in Karanggondang village, Mlonggo District is one of the coral reef ecosystem location in coastal area of  Jepara Regency. Following the growth of culinary and Marine  tourism bring the need for monitoring the condition of coral reefs so that such activity does not provide ecological impacts against the condition of coral reefs. The method used to assess the condition of coral reefs  is Line Intercept Transect which done by percentage calculation of living coral coverage. The research results shows that the condition of the coral reefs in a depth of 3 metres found coral cover percentage of 4.5%, while at a depth of 6 meters found coral cover percentage of 9.7%. From this result indicates the coral reefs in critical condition,however the high biodiversity and dominance index value is presumed that these coral reefs was in good condition. It`s showed by the high percentage of coral die either at a depth of 3 metres (95.54%) or at a depth of 6 meters(90.30%). The diversity of species of coral were found at a depth of 3 meters consist of 6 genus, they are: Goniastrea sp., Favia sp., Galaxea sp., Porites, Acropora sp. and Montipora sp., whereas at a depth of 6 meters were found more species of coral diversity for at least 11 genus, they are: Acropora sp., Favites sp., Echinopora sp., Goniastrea sp. Symphyllia agaricia sp, Favia sp., Goniopora sp., Porites sp., Montipora sp., Platygyra sp., and Montastrea sp. The condition of coral reefs cover which relatively critical are caused by decreasing the quality of waters ecology that caused by sedimentation rate and runoff processes of land activity, high waves in northwest monsoon and the growth of culinary tourism as well as marine  tourism in Empu Rancak coastal  waters gradually worsen the condition of coral reefs.  Perairan pantai Empu Rancak desa Karanggondang, Kecamatan Mlonggo merupakan salah satu lokasi ekosistem  terumbu karang yang berada pesisir di kabupaten Jepara. Dengan berkembangnya aktivitas wisata kuliner serta wisata  bahari, maka perlu dilakukan pemantauan kondisi terumbu karang agar kegiatan tersebut tidak tidak memberikan dampak ekologi terhadap kondisi terumbu karang. Metode yang dipergunakan untuk menilai kondisi terumbu karang adalah  dengan metode perhitungan persentase penutupan karang hidup menggunakan Line Intercept Transect. Hasil penelitian menunjukan bahwa Kondisi terumbu karang di kedalaman 3 meter ditemukan prosentasi tutupan karang sebesar 4,5 %, sedangkan pada kedalaman 6 meter ditemukan prosentase tutupan karang sebesar 9,7 %, maka kondisi terumbu karang di perairan pantai empu rancak Mlonggo, dalam kondisi buruk sekali, namun tingginya keanekaragaman dan nilai indeks dominasi, maka diduga bahwa terumbu karang dilokasi penelitian pernah dalam kondisi baik sebelumnya. Hal ini ditunjukan dengan tingginya prosentase karang mati baik pada kedalaman 3 meter (95,54 %) maupun pada kedalaman 6 meter (90,30 %). Keanekaragaman jenis karang yang ditemukan pada kedalaman 3 meter terdiri atas 6 genus yaitu : GoniastreaSp., Favia Sp., Galaxea Sp., Porites Sp., Acropora Sp.,dan Montipora Sp.,sedangkan pada kedalaman 6 meter ditemukan keanekaraamanan jenis karang yang lebih banyak (11 genus), yaitu : Acropora sp., Favites sp., Echinopora sp., Goniastrea sp., Symphyllia agaricia, Favia sp., Goniopora sp., Porites sp., Montipora sp., Platygyra sp. ,dan Montastrea sp. Kondisi tutupan terumbu karang yang relatif buruk sekali  diduga  diakibatkan oleh menurunnya kualitas ekologi perairan yang diakibatkan oleh oleh tekanan  laju  sedimentasi serta proses  run off dari aktivitas didaratan, tingginya paparan  gelombang pada saat musim barat serta  berkembangnya  wisata kuliner serta wisata bahari  di perairan Pantai Empu rancak yang  memperburuk kondisi terumbu karang.  
Pengaruh Cahaya Terhadap Produksi Fukosantin Chaetoceros calcitrans (Paulsen) Takano 1968 (Bacillariophyceae: Chaetocerotaceae) Sri Sedjati; Endang Supriyantini; Ali Ridlo; Ervia Yudiati; Linggar Dirgantara Prasetyo
Jurnal Kelautan Tropis Vol 22, No 2 (2019): JURNAL KELAUTAN TROPIS
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.617 KB) | DOI: 10.14710/jkt.v22i2.5633

Abstract

Fucoxanthin is a pigment of the carotenoid group that can be used in the food and human health. The demand for natural carotenoid in the global market is quite high for food nutrition, food colorant, medicine, and cosmetic. Chaetoceros calcitrans included sea diatom rich in carotenoid, mainly fucoxanthin. This research aim  is to optimize C. calcitrans cultivation using different light intensity treatment to create high fucoxanthin quantity. Light intensity treatment consisted of 4 levels : 1.000, 1.500, 2.000, and 2.500 lx with 2 replications. The culture process was done in medium-scale (60 L) for 14 days, enriched with diatom’s fertilizer, vitamin B, silica at  temperature 25-27oC, salinity 32-33‰, pH 8-8,5, and DO 7-9 mg/g. Biomass and pigments were harvested in stationer phase, two days after the peak of logarithmic growth. Pigments analysis used Spektrofotometry method, absorbance values were measured in wavelengths 445, 632, 649, 663, 665, and 696 nm. The results showed that light intensity treatment was not significant in biomass weight (p=0,06), but it is very significant to cells density (p=0,01) and fucoxanthin production (p=0,01).  In conclusion, the light intensity of 2.500 lx was effective to  obtain the highest fucoxanthin  at the amount of 10,13 ±1,62 mg dw with productivity at  0,17±0,03 mg/g culture media. The increase of light intensity correlated positively with the increase of fucoxanthin production with regression equation  y = 0,006x-4,938 (r = 0,96). The increase in light intensity reaching 2500 lx in Chaetoceros calcitrans culture is proven can accelerate fucoxanthin biosynthesis, therefore the method can be applied to increase its  production. Fukosantin merupakan salah satu karotenoid yang bermanfaat dalam bidang pangan dan kesehatan manusia. Permintaan karotenoid alami di pasar global besar sekali untuk berbagai kegunaan dalam bidang nutrisi makanan, pewarna makanan, obat-obatan, dan kosmetik. Chaetoceros calcitrans  termasuk diatom laut yang kaya karotenoid, terutama fukosantin. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimasi kultur C. calcitrans dengan menggunakan perlakuan intensitas cahaya berbeda agar memproduksi fukosantin yang tinggi. Perlakuan intensitas cahaya terdiri dari 4 taraf : 1.000, 1.500, 2.000, dan 2.500 lx dengan 2 kali ulangan.  Kultur dilakukan dalam skala medium (60 L) selama 14 hari, diperkaya dengan pupuk diatom, vitamin B, silikat pada suhu 25-27oC, salinitas 32-33‰, pH 8-8,5, dan DO 7-9 mg/g.   Pemanenan biomassa dilakukan saat fase stasioner, yaitu 2 hari setelah puncak logaritmik.  Analisis pigmen menggunakan metode Spektrofotometri, nilai absorbansi diukur pada panjang gelombang 445, 632, 649, 663, 665, dan 696 nm.  Hasil penelitian membuktikan bahwa perlakuan intensitas cahaya tidak berpengaruh nyata (p=0,06) terhadap berat biomassa, tetapi sangat berpengaruh nyata terhadap kepadatan sel (p=0,01) dan produksi fukosantin (p=0,01). Pemberian intensitas cahaya 2.500 lx menghasilkan produksi fukosantin tertinggi, yaitu sebesar 10,13 ±1,62 mg dw dengan produktivitas sebesar 0,17±0,03 mg/g media kultur. Kenaikan intensitas cahaya berkorelasi positif dengan kenaikan produksi fukosantin dengan persamaan regresi  y = 0,006x - 4,938 (r = 0,96).  Peningkatan intensitas cahaya sampai 2500 lx  pada kultur Chaetoceros calcitrans terbukti dapat memacu biosintesis  fukosantin, sehingga metode tersebut  bisa diaplikasikan untuk menaiknya produksinya.

Page 9 of 46 | Total Record : 451