cover
Contact Name
Eko Suhartono
Contact Email
esuhartono@ulm.ac.id
Phone
+6281251126368
Journal Mail Official
jbk@ulm.ac.id
Editorial Address
Jalan Veteran No.128 Banjarmasin
Location
Kota banjarmasin,
Kalimantan selatan
INDONESIA
Berkala Kedokteran
ISSN : 14120550     EISSN : 25485660     DOI : http://dx.doi.org/10.20527
Core Subject : Health, Science,
Berkala Kedokteran is a journal contains scientific articles from original research and literature review in medical and health scope. It is published twice in a year, on February and September.
Articles 478 Documents
POTENSI ANTIINFLAMASI JUS BUAH BELIMBING (Averrhoa carambola L.) TERHADAP DENATURASI PROTEIN IN VITRO Erianti, Farizka; Marisa, Dona; Suhartono, Eko
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 1 (2015): Februari 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v11i1.183

Abstract

Starfruit (Averrhoa carambola L.) is an Asian tree that has been used in traditional medicine. Flavonoids, saponins, and tannins is thought to have antiinflammatory in inhibiting protein denaturation. Protein denaturation is a cause of inflammation.  This study aims to determine the antiinflammatory potential of starfruit in inhibiting protein denaturation in vitro. This study is a quasi experimental, using a model reaction between 5 % BSA were heated to form protein denaturation by two groups: the juice as the test group and diclofenac sodium as the standard group, which is divided to a concentration of 10%, 20%, and 30%. Potential inhibition of protein denaturation is known to determine the value of IC50 . The results of this study indicate that the starfruit juice has the IC50 value of 11.896 % (r=0.842), whereas for diclofenac sodium by 11.872 % (r=0.866). Positive r values indicate the existence of a positive relation between  concentration and inhibiting protein denaturatiom potential. These results indicate that the starfruit juice as a potential inhibitor of protein denaturation for inflamamatory process in vitro. Keywords: antiinflammatory, Averrhoa carambola L., protein denaturatin
Korelasi antara Kadar Kolesterol Total dengan Jumlah Monosit pada Pasien Penyakit Jantung Koroner Salim, Fransiska Anggriani; Arifin, Miftahul; Asnawati, Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.361

Abstract

Abstract: Coronary heart disease (CHD) is one of three leading causes of death in the world. CHD is a disease resulting from narrowing or blockage of the arteries that supply blood to the heart muscle. Total cholesterol and monocytes play an important role in the process of atherosclerosis that causes CHD. This study aimed to analyze the correlation between total cholesterol levels and monocytes count in patients with CHD in  RSUD Ulin Banjarmasin in August 2014 to May 2015. This study use observational analytic study with cross-sectional approach. 92 samples selected according to the inclusion criteria. The results showed the average of total cholesterol levels and monocytes count are 198.41 mg/dL and 0.58 thousand/uL. The analysis with Pearson correlation test and give a result r=0.033 and p=0.758. The conclusion is there is a very weak, not significant and positive correlation between total cholesterol levels and monocytes count in patients with CHD. Keywords: total cholesterol, monocytes, coronary heart disease Abstrak: Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan satu dari tiga penyebab utama kematian di dunia. PJK adalah penyakit yang timbul akibat penyempitan atau penyumbatan arteri yang memasok aliran darah ke otot jantung. Kolesterol total dan monosit berperan penting dalam proses aterosklerosis yang menyebabkan PJK. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kadar kolesterol total dengan jumlah monosit pada pasien penyakit jantung koroner di RSUD Ulin Banjarmasin periode Agustus 2014-Mei 2015. Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. 92 sampel dipilih sesuai  kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata kadar kolesterol total dan jumlah monosit sebesar 198,41 mg/dL dan 0,58 ribu/uL. Kemudian dilakukan análisis dengan uji korelasi Pearson dan didapatkan nilai r=0,033 dan p=0,758. Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat korelasi yang sangat lemah, tidak signifikan dan searah antara kadar kolesterol total dengan jumlah monosit pada pasien PJK. Kata-kata kunci: kolesterol total, monosit, penyakit jantung koroner
Perbandingan Perubahan Kepekaan Staphylococcus aureus ATCC 25923 Pada Pemaparan Amoksisilin-Asam Klavulanat Dan Eritromisin Kadar Subinhibisi In Vitro Rifasanti, Diah Puspita; Budiarti, Lia Yulia; Yasmina, Alfi
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 2 (2013): September 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i2.943

Abstract

ABSTRACT: Staphylococcus aureus is an organism that causes infections that can spread widely in the human body. The therapy for infection by S. aureus is amoxicillin-clavulanic acid or erythromycin, but resistance has been reported to both of them, and one of the causes was exposure to subinhibitory level of antibiotic. This study was aimed to determine whether there were any changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by the exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin and to compare the time needed to cause changes in sensitivity between the two antibiotics. It was an experimental study, using a completely randomized design, which consisted of 14 treatments based on duration of exposure, with three repetitions. Kirby Bauer disk diffusion method was used to evaluate the inhibitory effect. The result showed that there were changes in the sensitivity of S. aureus ATCC 25923 after being exposed to subinhibitory level of both antibiotics, and exposure to amoxicillin-clavulanic acid caused faster changes in sensitivity compared with exposure to erythromycin. Data analysis using the Mann-Whitney test indicated that there was a significant difference between the exposure to subinhibitory level of the two antibiotics (p = 0.025). It was concluded that there was a significant difference in changes in sensitivity of S. aureus ATCC 25923 caused by in vitro exposure to subinhibitory level of amoxicillin-clavulanic acid and erythromycin.                                          ListenRead phoneticallyKeywords: amoxicillin-clavulanic acid, erythromycin, sensitivity, Staphylococcus aureus, subinhibitory level ABSTRAK: Staphylococcus aureus merupakan organisme penyebab infeksi yang dapat menyebar luas. Terapi untuk infeksi oleh S. aureus diantaranya adalah antibiotik amoksisilin-asam klavulanat atau eritromisin. Telah dilaporkan adanya resistensi pada kedua antibiotik tersebut dan salah satu penyebabnya adalah akibat pengaruh antibiotik kadar subinhibisi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi dan membandingkan waktu yang diperlukan yang dapat menimbulkan perubahan kepekaan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental, menggunakan rancangan acak lengkap, terdiri dari 14 perlakuan antibiotik berdasarkan lama pemaparan dan pengulangan sebanyak 3 kali. Metode ujinya adalah metode difusi Kirby Bauer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perubahan kepekaan pada S. aureus ATCC 25923 setelah dipaparkan pada antibiotik kadar subinhibisi, dan pada pemaparan antibiotik amoksisilin-asam klavulanat memerlukan waktu lebih cepat untuk menimbulkan perubahan kepekaan dibandingkan dengan pemaparan kadar subinhibisi eritromisin. Hasil uji Mann-Whitney menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro (p = 0,025). Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan perubahan kepekaan S. aureus ATCC 25923 pada pemaparan amoksisilin-asam klavulanat dan eritromisin kadar subinhibisi in vitro. Kata kunci: amoksisilin-asam klavulanat, eritromisin, kadar subinhibisi, kepekaan, Staphylococcus aureus
KORELASI PANJANG LENGAN BAWAH DENGAN TINGGI BADAN PRIA DEWASA SUKU BANJAR Abdul, latif; Aflanie, Iwan; Mashuri, Mashuri
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 11, No 2 (2015): September 2015
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v11i2.169

Abstract

Tinggi badan adalah salah satu bagian yang paling penting dan berguna dalam parameter antropometri dan estimasi tinggi badan mendapat perhatian khusus dalam bidang Antropometri Forensik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui korelasi dan dapat mengestimasi tinggi badan dari pria dewasa suku Banjar dari panjang lengan bawah dari setiap orang yang berusia 20-25 tahun di Universitas Lambung Mangkurat, Banjarmasin. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Setiap orang diukur untuk mendapatkan tinggi badan dengan mikrotoa dan panjang lengan bawah dengan pita meter.Data yangdidapatkan dihitung secara komputasi statistik untuk mendapat rumus regresi.Hasil yang didapatkan menunjukkan bahwa panjang lengan bawah berkorelasi signifikan pada pria dewasa suku Banjar. Kata-kata kunci: panjang lengan bawah, tinggi badan, antropologi, forensik, suku banjar
Perbedaan Efektivitas antara Cilostazol dan Aspirin terhadap Peningkatan Suhu Sela Jari: Tinjauan terhadap Kaki Diabetik Wagner Derajat II dan III Noor, Zairin; Al Audhah, Nelly
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.932

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus is a multisystem disease characterized by hyperglycemia due to abnormalities in insulin secretion, insulin mechanism, or both. Hyperglycemia in diabetes will lead to long-term complications, such as, several organs failure or disfunction, especially the eyes, kidneys, nerves, heart and blood vessels. One of the diabetic complications is diabetic foot. The appearance of diabetic foot mainly occurs due to repetitive trauma to the foot. After the appearance of ulcers, diabetic foot was compounded with decreased vascular in the patients, making it more difficult to recover. The poor vascularization for diabetic foot patients implicates falling temperatures of the toes. Cilostazol and aspirin are antithrombotic medicines that cause inhibition activation and aggregation trombosit, and vasodilatation. This study aimed to examine the effect of cilostazol and aspirin on toes temperature of the feet of diabetic patients. This research is an experimental research by calculating the average temperature of the toes of diabetic foot patients before and after the administration of cilostazol and aspirin . The results showed the average temperature of the subject toes before giving cilostazol and aspirin is 33.340C and 33.970C, and after administration is 33.540C and 34.720C. From this research it can be concluded that there is an increase in the temperature of the toes after administration of cilostazol and aspirin on the toes of diabetic foot patients. Keywords : Aspirin, Cilostazol, Diabetes Mellitus, Diabetic Foot ABSTRAK: Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit multisistem dengan ciri hiperglikemia akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau kedua-duanya. Hiperglikemia pada diabetes akan mengakibatkan komplikasi jangka panjang seperti, disfungsi atau kegagalan beberapa organ tubuh, terutama mata, ginjal, saraf, jantung dan pembuluh darah. Salah satu komplikasinya adalah kaki diabetik. Kemunculan kaki diabetik terutama terjadi karena adanya trauma berulang pada kaki. Setelah munculnya ulkus, kaki diabetik diperparah dengan daya vaskuler pasien yang menurun, sehingga sulit untuk sembuh. Buruknya vaskularisasi pasien kaki diabetik berimplikasi pada turunnya suhu sela jari kaki. Cilostazol dan aspirin adalah obat antitrombotik yang menyebabkan terjadinya inhibisi aktivasi dan agregasi trombosit, serta vasodilatasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh cilostazol dan aspirin terhadap suhu sela jari kaki pada pasien kaki diabetik. Penelitian ini bersifat eksperimental dengan menghitung rata-rata suhu sela jari kaki pasien kaki diabetik sebelum dan setelah pemberian cilostazol dan aspirin. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata suhu sela jari kaki subyek sebelum pemberian cilostazol dan aspirin adalah 33,340C dan 33,970C, dan setelah pemberian adalah 33,540C dan 34,720C. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan suhu sela jari kaki setelah pemberian cilostazol dan aspirin pada sela jari kaki pasien kaki diabetik. Kata-kata Kunci : Aspirin, Cilostazol, Diabetes Mellitus, Kaki Diabetik.
Gambaran Kejadian Insomnia pada Wanita Menopause di Kelurahan Teluk Dalam Tahun 2013: Kajian Berdasarkan Usia Responden dan Lama Menopause Wijayanti, Devita; Husein, Achyar Nawi; Arifin, Syamsul
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.966

Abstract

ABSTRACT: Insomnia is a sleep disorder which manifest as difficulty to start sleep, difficulty to maintain sleep or wake up with feeling of dissatisfied sleep. Women showed the higher prevalence of insomnia than men due to the occurrence of menopause is associated with declining of estrogen levels in postmenopausal women. The aim of this study was to describe the incidence of insomnia in menopausal women based on menopausal age and menopausal periode in Teluk Dalam Area in Banjarmasin 2013 . The research method was descriptive with  cross - sectional approach . The number of samples according to Fraenkel and Wallen were 100 people with cluster random sampling technique. The results between menopausal women showed 60 % had insomnia and 40 % did not have insomnia . Based on the menopausal age, the incidence of insomnia in menopausal women aged 45-46 years old were 6.7 % , 47-48 years old were 8.3 % , 49-50 years old were 13.3 % , 51-52 years old were 8.3 % , 53-54 years old were 15 % and the most common age were 55 years as 48.4%. Based on the menopausal periode, 58.3%  women who experienced insomnia were less than five years and 41.7% were more than five years. It can be concluded that the most common age of woman who experienced insomnia was 55 years old and the most common menopausal periode of woman who experienced insomnia was less than 5 years.Key words: menopause, insomnia, usia, periode menopause. ABSTRAK: Insomnia merupakan gangguan tidur yang dapat berupa kesulitan untuk memulai tidur, kesulitan mempertahankan tidur atau bangun pagi dengan perasaan tidak puas tidur. Wanita menunjukkan prevalensi insomnia lebih sering dibanding pria disebabkan terjadinya menopause yang berhubungan dengan menurunnya kadar estrogen pada wanita menopause. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran kejadian insomnia pada wanita menopause berdasarkan usia menopause dan lama menopause di Kelurahan Teluk Dalam Banjarmasin Tahun 2013. Metode penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Jumlah sampel menurut Fraenkel dan Wallen sebanyak 100 orang dengan teknik pengambilan sampel cluster random sampling. Hasil penelitian menunjukkan 60% mengalami insomnia dan 40% tidak mengalami insomnia. Berdasarkan usia menopause yang dialami, kejadian insomnia pada wanita menopause usia 45-46 tahun sebanyak 6,7%, usia 47-48 tahun sebanyak 8,3%, usia 49-50 tahun sebanyak 13,3%, usia 51-52 tahun sebanyak 8,3%, usia 53-54 tahun sebanyak 15% dan paling banyak terjadi pada usia 55 tahun sebanyak 48,4%. Jumlah responden yang mengalami insomnia berdasarkan lama menopause, maka pada wanita yang mengalami menopause kurang dari lima tahun sebanyak 58,3% dan pada wanita menopause lebih dari lima tahun sebanyak 41,7%. Kesimpulan penelitian ini yaitu jumlah wanita menopause yang paling banyak mengalami insomnia adalah pada usia 55 tahun dan pada wanita yang mengalami menopause  kurang dari 5 tahun. Kata-kata kunci: menopause, insomnia, age, menopausal periode
PERBANDINGAN TINGKAT REPRESENTATIF PEMERIKSAAN PAP SMEAR METODE KOMBINASI SPATULA AYRE–CYTOBRUSH DENGAN METODE CERVEX BRUSH Kusumawati, Erika; Rahardja, Suka Dwi; Armanza, Ferry
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 10, No 1 (2014): Februari 2014
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i1.395

Abstract

ABSTRACT: One way of early detection for cervix cancer is the Pap smear. This study aim is to compare the level of representative Pap smear method using combiation Ayre spatula-cytobrush with cervex brush method. This study is a descriptive analytic study with cross sectional approach. 47 pieces of preparat were selected according to inclusion criteria over the period of January-September 2013. Representative results of Pap smear using the combination of Ayre spatula-cytobrush and the used of brush cervex were 36 (76.60%) and 40 (85.10%). The results of data analysis using the Wilcoxon test with 95% confidence level indicates no statistically significant difference between the use of a combination of Ayre spatula-cytobrush methods with cervex brush method, the value of p = 0.157 (p> 0.05). It can be concluded that the representative rate of Pap smear using a combination of Ayre spatula-cytobrush method is not better than cervex brush method. Keywords: Pap smear, ayre spatula, cytobrush, cervex brush  ABSTRAK: Salah satu cara deteksi dini kanker servik adalah pemeriksaan Pap smear. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat representatif pemeriksaan Pap smear metode kombinasi spatula ayre-cytobrush dengan metode cervex brush. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Preparat penelitian sebanyak 47 buah dipilih sesuai kriteria inklusi pada periode bulan Januari – September 2013. Hasil representatif Pap smear menggunakan kombinasi spatula ayre-cytobrush yakni 36 (76,60%) dan yang menggunakan cervex brush sebanyak 40 (85,10%). Hasil analisis data menggunakan uji wilcoxon dengan tingkat kepercayaan 95% , didapatkan hasil bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna secara statistik antara penggunaan metode kombinasi spatula ayre-cytobrush dengan metode cervex brush yaitu dengan nilai  p = 0,157 (p > 0,05). Dapat disimpulkan bahwa tingkat representatif pemeriksaan Pap smear menggunakan metode kombinasi spatula ayre-cytobrush tidak lebih baik dibandingkan metode cervex brush. Kata-kata kunci: Pap smear, spatula ayre, cytobrush, cervex brush
Efek Pemberian Cairan Koloid dan Kristaloid terhadap Tekanan Darah Azizah, Rebika Nurul; Sikumbang, Kenanga Marwan; Asnawati, Asnawati
Berkala Kedokteran Vol 12, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v12i1.352

Abstract

Abstract: Maternal hypotension is a serious problem that most commonly occurs after spinal anesthesia in cesarean section. To reduce the incidence of maternal hypotension, mother with spinal anasthesia for cesarean section can be given fluids intravenously using crystalloid or colloid.The purpose of this study was to determine the effect of colloid and crystalloid fluid to blood pressure in mother with spinal anesthesia for cesarean section. This study was cross sectional observational analytic. There were 2 groups in this study, crystalloid group and colloid group. Sampels in each group were 20 subject. Generalized linier models test showed the value of P > 0.05 for each hemodynamic markers (Systolic and diastolic pressure at 5th, 10th, and 15th minutes). On the statistical test value of systolic ( P= 0.379) and diastolic ( P= 0.654). It can be concluded that crystalloid and colloid fluid were equally efective to defend blood pressure in patients with spinal anesthesia for caesarean sectionKeywords: blood pressure, spinal anesthesia, cesarean section, crystalloid, colloid. Abstrak: Hipotensi pada ibu hamil adalah masalah serius yang paling umum terjadi pasca anestesi spinal pada seksio sesarea. Untuk mengurangi kejadian hipotensi tersebut dapat diberikan cairan intravena berupa kristaloid atau koloid. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan efek penggunaan cairan koloid dan kristaloid terhadap tekanan darah pasien seksio sesaria dengan anestesi spinal. Penelitian ini bersifat observasional analitik cross sectional. Dua puluh pasien yang telah diberikan cairan kristaloid dan 20 pasien lainnya yang diberikan cairan koloid. Dari uji statistik dengan generaliz linier model didapatkan nilai P= >0.05 pada setiap penanda hemodinamik (TDS dan TDD pada menit ke-5, 10, dan 15). Pada uji statistik tersebut nilai TDS (P = 0.379) dan TDD (P = 0.654). Dapat disimpulkan bahwa cairan kristaloid dan koloid sama efektifnya dalam mempertahankan tekanan darah pada ibu hamil dengan seksio sesarea yang dilakukan anestesi spinal. Kata-kata kunci: tekanan darah, anestesi spinal, seksio sesarea, kristaloid, koloid.
Perbandingan Vo2 Maksimal Pada Siswa Dan Siswi Kelas V Sekolah Dasar: Di Desa Tabanio Kecamatan Takisung Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan Noor, Krisna Augustian; Huldani, Huldani; Biworo, Agung
Jurnal Berkala Kedokteran Vol 9, No 1 (2013): April 2013
Publisher : Pendidikan Dokter Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v9i1.923

Abstract

ABSTRACT: VO2 maximum is maximum volume that can be processed and O2 consumed by the body that delivered from the lungs to the all of human muscles during physical activities or intense activities until fatugue. Maximum consumption of oxygen was calculated in mililitres/minutes/kilos of body weights. VO2max value was influenced not only by physical characteristhic like age, sex, heights, and weights, but also cardiovascular, respiratory, hematology, and oxydative muscle abilities. The study was conducted by measuring VO2max values for boys and girls grade fifth elementary school in Tabanio village in order to compare both them VO2 max value when they have similarities physical activities cause both of them was helping their parents since childern age. The research approached amount cross-sectional method  with samples from 23 boys and 14 girls who includes criteria in non-probability purposive sampling technique. How to measure that is using Multistage Fitness Test that is run back and trajectory as far as 20 m. The results was analyzed by chi-square test with the value expected count < 5, so that the test using an alternative test, the Fisher’s test with p = 0.724. P-value > 0,05 indicating there are non significant difference between maximum VO2max values for boys and girls fifth grade elementary school in Tabanio village with average results of VO2max value is 28,38 for boys and 25,83 for girls. Keywords: VO2max, gender, physical activity ABSTRAK: VO2 maks adalah jumlah volume maksimal O2 yang dapat diproses dan dikonsumsioleh tubuh yang dihantarkan dari paru-paru ke otot manusia pada saat melakukan aktivitas fisik maupun kegiatan intensif sampai terjadi kelelahan. Konsumsi Oksigen maksimal ini dinyatakan dalam satuan mililiter/menit/kilogram berat badan. Nilai VO2 maks dipengaruhi karakteristik fisik seperti umur, jenis kelamin, tinggi badan, dan berat badan. Selain itu, nilai VO2 maks juga bergantung pada keadaan kardiovaskular, respirasi, hematologi, dan kemampuan oksidatif otot. Penelitian dilakukan dengan mengukur nilai VO2 maks siswa dan siswi kelas V sekolah Dasar di desa Tabanio dengan tujuan untuk mengetahui perbandingan nilai VO2 maks keduanya dilihat dari aktivitas fisik yang sama karena disana baik laki-laki maupun perempuan membantu pekerjaan orangtuanya sejak kecil. Pendekatan penelitian menggunakan metode  cross-sectional dengan jumlah sampel 23 siswa dan 14 siswi yang memenuhi kriteria inklusi dengan menggunakan teknik non-probability purposive sampling. Cara pengukuran memakai Multistage Fitness Test yaitu lari bolak-balik lintasan sejauh 20 m. Data yang dianalisis dengan menggunakan uji chi-square dengan taraf kepercayaan 95 % antara siswa dan siswi terdapat 1 cell dengan nilai expected count < 5, sehingga uji yang dipakai adalah uji alternatifnya, yaitu uji Fisher dengan nilai p = 0,724. Nilai p > 0,05 menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara nilai VO2 maksimal siswa dan siswi kelas V Sekolah Dasar di desa Tabanio dengan hasil rata-rata nilai VO2 maks 28,38 pada siswa dan 25,83 pada siswi. Kata kunci: VO2 maks, Jenis Kelamin, Aktivitas Fisik
Perbedaan Kadar Ureum Serum Pasien yang Menderita Diabetes Melitus Tipe 2 kurang dari 5 Tahun dan lebih dari sama dengan 5 Tahun: Studi Kasus di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013 Kharismawati, Lucky Bintang; Arifin, Miftahul; Noor, Meitria Syahadatina
Berkala Kedokteran Vol 10, No 2 (2014): September 2014
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jbk.v10i12.957

Abstract

ABSTRACT: Diabetes mellitus (DM) is uncontaminated diseases which has chronic progressive characteristic. Type 2 diabetes patients with a long duration can lead to microvascular complication, one of which is diabetic nephropathy. Serum urea levels are significant parameters for kidney function tests. Kidney damage caused by type 2 DM can lead to elevated levels of serum urea. This study aimed to determine differences between serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. The research used observational analytic with cross sectional approach. Method of sampling used by purposive sampling. A total of 72 subjects based on inclusion and exclusion criteria, consisting of 33 people who suffered type 2 DM < 5 years and 39 people who suffered type 2 DM ≥ 5 tahun. Research showed that  the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 44,67 mg/dL and the mean serum urea levels who suffered type 2 DM was 58,05 mg/dL.  Data were analyzed by unpaired T-test with 95 % confidence level showed that there was difference serum urea levels of patients who suffered type 2 DM for < 5 years and ≥ 5 years in RSUD Ulin Banjarmasin period June-August 2013. Key words: serum urea, diabetes mellitus type 2 ABSTRAK: Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit tidak menular yang bersifat kronik progresif. Pasien DM tipe 2 dengan durasi yang lama dapat menyebabkan terjadinya kompilkasi mikrovaskular, salah satunya adalah nefropati diabetik. Kadar ureum serum adalah parameter yang signifikan untuk tes fungsi ginjal. Kerusakan ginjal yang disebabkan oleh DM tipe 2 dapat menyebabkan terjadinya peningkatan kadar ureum serum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Penelitian ini bersifat observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Cara pengambilan sampel dengan menggunakan purposive sampling. Sebanyak 72 subjek penelitian sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang terdiri dari pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebanyak 33 orang dan pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebanyak 39 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun sebesar 44,67 mg/dL dan rerata kadar ureum serum pada pasien yang menderita DM tipe 2 ≥ 5 tahun sebesar 58,05 mg/dL. Hasil analisis data menggunakan uji T tidak berpasangan dengan tingkat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kadar ureum serum pasien yang menderita DM tipe 2 < 5 tahun dan ≥ 5 tahun di RSUD Ulin Banjarmasin Periode Juni-Agustus 2013. Kata-kata kunci: ureum serum, diabetes melitus tipe 2

Page 8 of 48 | Total Record : 478