cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
HUMANIS
Published by Universitas Udayana
ISSN : 25285076     EISSN : 2302920X     DOI : -
Core Subject : Humanities, Art,
Jurnal online Humanis adalah jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana. Salah satu indikator kualitas perguruan tinggi ialah diukur dari seberapa banyak karya ilmiah yang dihasilkan dan telah dipublikasikan. Penulisan karya ilmiah harus mencerminkan budaya ilmiah seperti mengutamakan kebenaran obyektif, kejujuran, tidak memiliki unsur-unsur kecurangan atau plagiat. Penerbitan e-jurnal Humanis ini juga sesuai dengan kebijakan pimpinan Universitas Udayana (Surat Pembantu Rektor I Nomor 1915/UN14 1/DT/2012 tanggal 30 Mei 2012), yang mewajibkan mempublikasikan karya tulis ilmiah sebagai salah satu syarat kelulusan mahasiswa, yang mulai diberlakukan pada wisuda bulan November 2012.
Arjuna Subject : -
Articles 40 Documents
Search results for , issue "Vol 18 No 1 (2017)" : 40 Documents clear
Imperative and Politeness in " Presidential Debates Between Barrack Obama and Mitt Romney " Transcript Putu Jessica Dewi Anggraeni; A. A. Sagung Shanti Sari Dewi
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.106 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi dari kalimat imperatif serta menentukan tipe kesantunan yang terkandung didalam kalimat imperatif pada transkrip debat presidensial. Sumber data diambil dari sebuah transkrip debat presidensial antara Barrack Obama dan Mitt Romney. Metode pengumpulan dan analisa data dilaksanakan menggunakan metode dokumentasi dan observasi langsung, serta menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif. Teori yang digunakan dalam mendukung penelitian ini adalah teori tindak tutur dikemukakan oleh John L. Austin (1962) ; teori kesantunan dikemukakan oleh Brown dan Levinson (1987), teori struktural mengenai tata bahasa dikembangkan oleh Quirk, Geoffrey Leech, dan Jan Starvik di dalam buku" A Comprehensive Grammar of the English Language (1985) yang didukung dengan teori "A Practical English Grammar (1986)" dikembangkan oleh Thomson and Martinet serta "Practical English Usage (1995)"dikembangkan oleh Michael Swan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat 4 bentuk dan fungsi imperatif yaitu komando, memberikan nasehat, permintaan, dan sugesti. Selain itu, tipe kesantunan yang ditemukan dalam kalimat imperatif tersebut adalah kesantunan negatif yang didukung adanya faktor situasi, kekuasaan, serta perbedaan usia.
The Translation of Implicit Situational Meaning in Jacqueline Wilson’s The Suitcase Kid and Its Translation Anak Tanpa Rumah Ni Komang Ayu Sri Lestari
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.483 KB)

Abstract

Artikel ini berjudul "Terjemahan Makna Situasional Implisit pada Jacqueline Wilson The Suitcase Kid dan terjemahannya Anak Tanpa Rumah". Penelitian ini difokuskan pada pengklasifikasian jenis makna situasional implisit, jenis istilah budaya dalam makna situasional implisit yang disebabkan oleh latar belakang budaya pembicara dan penanggap, dan prinsip-prinsip dasar penerjemahan yang terdapat dalam terjemahan makna situasional implisit. Data diambil dari sebuah novel (buku anak-anak) yang dikarang oleh Jacqueline Wilson berjudul The Suitcase Kid dan terjemahannya dalam versi Bahasa Indonesia Anak Tanpa Rumah yang diterjemahkan oleh Novia Stephani. Penelitian ini menerapkan metode penelitian perpustakaan dan dianalisis menggunakan metode deskriptif kualitatif. Penelitian ini menggunakan teori yang diusulkan oleh Larson (1998) tentang jenis makna situasional implisit, didukung oleh teori Peter Newmark (1988) tentang klasifikasi istilah budaya, dan prinsip-prinsip dasar terjemahan oleh Eugene Nida (1975 ). Semua jenis makna situasional implisit ditemukan dalam novel, yaitu makna situasional implisit karena hubungan pembicara dan penanggap, tempat dan waktu di mana komunikasi terjadi, latar belakang budaya pembicara dan penerima, dan anggapan yang membawa ke komunikasi. Selanjutnya, empat dari lima jenis istilah budaya ditemukan dalam novel, seperti ekologi, budaya material, sosial budaya, dan organisasi sosial. Sedangkan, sikap dan kebiasaan tidak ditemukan dalam novel. Terkait dengan jenis prinsip dasar terjemahan, kehilangan informasi, penambahan informasi, dan perubahan bentuk informasi ditemukan di sumber data.
Pergeseran Makna Carok Bagi Masyarakat Pulau Sapudi Kabupaten Sumenep Madura 1970 – 2010 Supriyadi *; I Ketut Ardhana; Anak Agung Ayu Rai Wahyuni
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.984 KB)

Abstract

Bas kally every culture has rules that apply. To people who embrace the culture, as well as the culture carok in Madura.this culture was originaly to have rules and methods applicabe for ad herents. For exsemple: the ritual, then only about ho nor wemen who can couse carok. But now it began to erode any of the above, it is due to cack of public know ledge Madura againt carok actual ordinanes, carok is bascally a fight thay has been overshad owed by the abuse of dignity of women and the approval of his opponeny. In contrast to carok happens now, with out the consent and with out the above back groud, so that the meaning is in the curren carok certainly been a shit very for from the actual meaning carok.
The Nominal Group Structure of Barack Obama’s Speech in Indonesia I Gusti Bagus Narabhumi; Ni Luh Ketut Mas Indrawati
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.149 KB)

Abstract

Skripsi ini berjudul " Struktur Grup Nominal dalam Pidato Barack Obama di Indonesia" dan utamanya ditujukan untuk menganalisis elemen tertentu dalam struktur grup nominal yang terdapat dalam pidato tersebut serta frekuensi kemunculannya. Dalam menganalisis struktur grup nominal, peneliti menerapkan teori Functional Grammar yang diusulkan oleh Halliday sebagai dasar teori dan metode deskriptif kualitatif sebagai metode penelitian. Menurut teori Functional Grammar, grup nominal terdiri dari struktur experiential dan logical. Struktur experiential terdiri dari enam elemen termasuk: Thing, Deictic, Numerative, Epithet, Classifier dan Qualifier. Sedangkan dalam struktur logical, terdapat elemen Head dan Modifier (Premodifier dan Postmodifier). Sumber data dalam penelitian ini diambil dari transkrip pidato Barack Obama di Universitas Indonesia pada tahun 2010. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua jenis elemen experiential dan logical muncul dalam struktur grup nominal pidato Barack Obama di Indonesia. Thing, Deictic, dan Qualifier adalah tiga unsur yang paling sering digunakan oleh Barack Obama dalam membangun struktur kelompok nominal nya, diikuti oleh elemen Classifier, Epithet, dan Numerative. Kedua, tidak setiap elemen Head di struktur logical muncul bertepatan dengan elemen Thing di struktur experiential. Selain itu, grup nominal Barack Obama pada umumnya memiliki konstruksi yang relatif sederhana.
Direct and Indirect Expressive of Illocutionary Acts in the Movie “Big Hero 6” Luh Gede Novita Rahayu; I Nengah Sudipa; Ni Wayan Sukarini
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.864 KB)

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis tindak ekspresif ilokusi dan untuk menganalisis arti ujaran yang diinterpretasikan oleh pendengar di film yang berjudul “Big Hero 6”. Sumber data diambil dari sebuah film yang bejudul “Big Hero 6” dimana banyak terdapat ujaran ekspresif didalamnya dan ujarannya mudah dimengerti. Metode deskritif kualitatif digunakan untuk menganalisa data. Teori yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis tindakan ekspresif ilokusi dikemukakan oleh Searle (1996) yang didukung oleh Yule (1996) tetapi untuk menganalisis arti dari ujaran tersebut menggunakan teori yang dikemukakan oleh Hymes (1972). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa keenam tipe ujaran ekspresif  (ujaran untuk berterima kasih, meminta maaf, memberi selamat, mengucapkan salam, pengharapn, dan untuk menyampaikan ketidakpuasan) ditemukan baik itu tindak tutur secara langsung maupun tidak langsung.
Address Terms Use In Manuscript Of the Movie “Final Destination Two” Kadek Andriana Dersen; Sang Ayu Isnu Maharani
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (430.604 KB)

Abstract

Penelitian ini berjudul Address Terms Use In Manuscript Of Movie “ Final Destination Two ‘’. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan mengklasifikasikan jenis-jenis penyebutan untuk seseorang yang di temukan di dalam film serta menjelaskan penggunaan pemanggilan tersebut pada film tersebut. Sumber data diambil dari film horror asal Amerika yang dirilis tahun 2003 yang berjudul Final Destinaton 2. Film ini disutradarai oleh David R. Ellis dan dibintangi oleh Ali Carter da A.J. Cook. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari teori politeness yang dikemukakkan oleh Brown and Levinson (1987). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif. Diawali dengan menonton film tersebut. Kemudian membaca skrip film dari Final destination 2. Setelah membaca, beberapa penggunaan pemanggilan untuk seseorang dipilih secara intensif. Setelah itu, mencatat data yang terkait. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat lima macam variasi penggunaan pemanggilan seseorang yang ditemukan. Sedangkan tujuan pemanggilan seseorang yang ditunjukkan melalui film ini mempunyai banyak tujuan seperti cara seseorang untuk saling perduli antara satu sama lain, untuk menunjukkan kasih saying, dan sebagaginya
Prepositional Phrases and Their Translation Shifts in Catching Fire and in Tersulut I Dewa Nyoman Tri Adnyana
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (339.728 KB)

Abstract

Studi ini berjudul “Prepositional Phrases and Their Translation Shifts in Catching Fire and in Tersulut”. Studi ini bertujuan untuk menganalisis jenis preposisi dan menentukan jenis pergeseran dalam terjemahan frasa preposisi pada dua novel tersebut. Studi ini menjawab 2 rumusan masalah yaitu, jenis dari shift terjemahan yang ditemukan pada novel Catching Fire dan terjemahannya pada novel Tersulut, dan kesepadanan terjemahan yang digunakan dalam penerjemahan frasa preposisi. Teori yang digunakan untuk menganalisis penerjemahan shift pada novel Catching Fire adalah teori tentang shift terjemahan olehCatford (1965) yang mengklasifikasikan shift terjemahan menjadi level shift dan category shift dan teori tentang kesepadanan terjemahan oleh Catford (1965) yang ada pada buku oleh Shuttleworth dan Cowie (1997). Data pada studi ini didapatkan dari novel berbahasa inggris yang berjudul Catching Fire yang di tulis oleh Suzanne Collins (2009) dan dalam bahasa Indonesia yang berjudul Tersulut (2010) yang diterjemahkan oleh Hetih Rusli. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah metode studi pustaka, dimana data dikumpulkan dengan cara membaca dan mencatat. Data pada studi ini dianalisis dengan metode kualitatif. Data yang didapatkan di tampilkan dalam bentuk tabel. Preposisi yang dianalisis pada studi ini yaitu, preposisi in, on, at dan into. Shift Terjemahan dalam frasa preposisi pada novel Catching Fire dan Tersulut didapatkan pada jenis pergeseran level dan pergeseran kategori. Pergeseran kategori didapatkan dalam tatanan pergeseran struktur, pergeseran kelas, unit dan intra-sistem. Kesepadanan terjemahan yang diterapkan pada studi ini adalah korespondensi formal dan kesepadanan tekstual.
Eksistensi Gamelan Selonding di Desa Bungaya, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, Bali Ni Putu Diah Paramitha Ganeshwari; I Nyoman Suarsana
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.506 KB)

Abstract

Gamelan becomes one important part in a ceremony of Balinese Hindu community. This is not out of the presence of gamelan as part of the "Panca Nada". One type of Balinese gamelan used in a religious ceremony is gamelan selonding. In some regions, it is very sacred gamelan, one of them is Bungaya Village, District Bebandem, Karangasem, Bali. This study will reveal the history, function, and meaning of gamelan selonding in Bungaya village. This study uses the functionalism theory that proposed by Robert K Merton and theory of interpretative symbolic by Clifford Geertz. The functionalism theory used to uncover the manifest function and latent functions of gamelan selonding, while the interpretive theory used to reveal the symbolic meanings in the gamelan selonding for Bungaya Village community. This qualitative study done by ethnography method. Gamelan selonding Bungaya consisting of ten (10) compositions. Selonding Bungaya is one of the largest selonding in Bali i.e. 92 pieces of blades with varying sizes. Gamelan selonding Bungaya very rarely sounded, just in the usaba gede (usaba dangsil) which held in ten years. However, since the 1990s, the orchestra is also sounded at the time of the ceremony maligia in Puri Karangasem. Technology development leads to some changes in people's views about the gamelan selonding Bungaya. In the past, was so sacred and people are not allowed to record gamelan selonding in any form. Some elder figure in Bungaya still retain the rule, but among young people today no longer considers the efforts of documentation as something wrong, it had a positive impact on conservation efforts. Nonetheless, the gamelan Selonding Bungaya agreed that in the village they are holy and sacred.
Derivational English Suffixes Forming Nouns With Reference to Condé Nast Traveller UK e-Magazine Yunita Sari; Ni Luh Ketut Mas Indrawati
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.299 KB)

Abstract

Artikel ini berjudul “Akhiran derivasional Bahasa Inggris yang dipakai dalam pembentukan nomina pada majalah elektronik Condé Nast Traveller UK”. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis akhiran derivasional bahasa Inggris dalam pembentukan nomina pada majalah Condé Nast Traveller UK dan untuk menjelaskan makna dari bentuk derivasi nomina. Sumber data diambil dari majalah Condé Nast Traveller UK edisi Mei 2016. Penelitian ini menerapkan metode dokumentasi dalam mengumpulkan data. Data-data yang telah terkumpul kemudian dianalisis dengan metode kualitatif. Penelitian ini menerapkan teori yang dipaparkan oleh McCharty (2002) untuk mengidentifikasi jenis akhiran derivasional bahasa Inggris dan juga menerapkan teori yang dipaparkan oleh Haspelmath and Sims (2010) untuk menganalisis struktur dan makna dari bentuk derivasi nomina. Selain itu, penelitian ini juga menerapkan teori lain yang relevan yaitu teori oleh Carnie (2013). Hasil dari penelitian ini adalah sebagai berikut: akhiran yang membentuk nomina dari nomina adalah akhiran –ess, -er, -ian, -ship, -hood, and –ist; akhiran yang membentuk nomina dari adjektif adalah akhiran –ity, -ness, dan –ism; akhiran yang membentuk nomina dari verba adalah akhiran –ance/ence, -ment, -ing, -ation, -al, and –er/-or. Makna derivasi yang ditunjukkan oleh nomina denomina adalah female noun, status noun, dan inhabitant noun; makna derivasi yang ditunjukkan oleh nomina deadjektiva adalah quality noun; dan makna derivasi yang ditunjukkan oleh nomina deverba adalah agent noun, instrument noun, dan action noun.
Flouting of Grice’s Maxims in The Age of Adaline Movie Gusti Ayu Indah Lestari; I Gusti Ayu Gde Sosiowati; Ni Putu Ayu Asty Senja Pratiwi
Humanis Vol 18 No 1 (2017)
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.746 KB)

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis-jenis pelanggaran maksim dan untuk menganalisis makna yang tersirat dari pelanggaran maksim tersebut di film yang berjudul “The Age of Adaline”. Sumber data diambil dari sebuah film yang bejudul “The Age of Adaline” dimana banyak terdapat ujaran yang melanggar maksim didalamnya.  Metode deskritif kualitatif digunakan untuk menganalisa data. Teori yang digunakan untuk mengidentifikasi jenis-jenis pelanggaran maksim dan makna yang tersirat disalamnya dikemukakan oleh Grice (1975). Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terjadi pelanggaran semua jenis maksim di film ini. Terdapat sembilan percakapan yang melanggar maksim. Secara umum, ada lima alasan para tokoh pemain di film ini melanggar aturan maksim. Diantaranya; Tokoh ingin menjelaskan sesuatu dengan lebih lengkap, tokoh mengharapkan sesuatu dari lawan bicaranya, tokoh mencoba menyembunyikan sesuatu, tokoh ingin bercanda, atau tokoh ingin menghindari pertanyaan ataupun hanya ingin mengakhiri percakapan.

Page 1 of 4 | Total Record : 40


Filter by Year

2017 2017


Filter By Issues
All Issue Vol 28 No 4 (2024) Vol 28 No 3 (2024) Vol 28 No 2 (2024) Vol 28 No 1 (2024) Vol 27 No 4 (2023) Vol 27 No 3 (2023) Vol 27 No 2 (2023) Vol 27 No 1 (2023) Vol 26 No 4 (2022) Vol 26 No 3 (2022) Vol 26 No 2 (2022) Vol 26 No 1 (2022) Vol 25 No 4 (2021) Vol 25 No 3 (2021) Vol 25 No 2 (2021) Vol 25 No 1 (2021) Vol 24 No 4 (2020) Vol 24 No 3 (2020) Vol 24 No 2 (2020) Vol 24 No 1 (2020) Vol 23 No 4 (2019) Vol 23 No 3 (2019) Vol 23 No 2 (2019) Vol 23 No 1 (2019) Vol 22 No 4 (2018) Vol 22 No 3 (2018) Vol 22 No 2 (2018) Vol 22 No 1 (2018) Vol 21 No 1 (2017) Vol 20 No 1 (2017) Vol 19 No 1 (2017) Vol 18 No 1 (2017) Vol 17 No 3 (2016) Volume 17. No. 2. Nopember 2016 Volume 17. No. 1. Oktober 2016 Volume 16. No. 3. September 2016 Volume 16. No. 2. Agustus 2016 Volume 16. No. 1. Juli 2016 Volume 15. No.3. Juni 2016 Volume 15. No.2. Mei 2016 Volume 15. No.1. April 2016 Volume 14. No.3. Maret 2016 Volume 14. No.2. Pebruari 2016 Volume 14. No.1. Januari 2016 Volume 13. No.3. Desember 2015 Volume 13. No.2. Nopember 2015 Volume 13. No.1. Oktober 2015 Volume 12. No.3. September 2015 Volume 12. No.2. Agustus 2015 Volume 12. No.1. Juli 2015 Volume 11. No3. Juni 2015 Volume 11. No2. Mei 2015 Volume 11. No 1. April 2015 Volume 10. No 3. Maret 2015 Volume 10. No 2. Februari 2015 Volume 10. No 1. Januari 2015 Volume 9. No. 3. Desember 2014 Volume 9. No. 2. November 2014 Volume 9. No. 1. Oktober 2014 Volume 8. No. 3. September 2014 Volume 8. No. 2. Agustus 2014 Volume 8. No. 1. Juli 2014 Volume 7. No. 3. Juni 2014 Volume 7. No. 2. Mei 2014 Volume 7. No. 1. April 2014 Volume 6. No. 3. Maret 2014 Volume 6. No. 2. Februari 2014 Volume 6. No. 1. Januari 2014 Volume 5. No. 3. Desember 2013 Volume 5. No. 2. November 2013 Volume 5. No. 1. Oktober 2013 Volume 4. No. 3. September 2013 Volume 4. No. 2. Agustus 2013 Volume 4. No. 1. Juli 2013 Volume 3. No. 3. Juni 2013 Volume 3. No. 2. Mei 2013 Volume 3. No. 1. April 2013 Volume 2. No. 3. Maret 2013 Volume 2. No. 2. Pebruari 2013 Volume 2. No. 1. Januari 2013 Volume 1. No. 2. Desember 2012 Volume 1. No. 1. November 2012 More Issue