cover
Contact Name
Aris Widodo
Contact Email
aris13saja@gmail.com
Phone
+62271781516
Journal Mail Official
-
Editorial Address
Fakultas Syari'ah Institute for Islamic Studies (IAIN) Surakarta Jl. Pandawa, Pucangan, Kartasura, Central Java, Indonesia, 57168
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
ISSN : 25278169     EISSN : 25278150     DOI : http://dx.doi.org/10.22515/al-ahkam
Al-Ahkam journal aims to facilitate and to disseminate an innovative and creative ideas of researchers, academicians and practitioners who concentrated in Sharia and Law. It covers textual and fieldwork with various perspectives of Islamic family law, Islamic economic law, Islam and gender discourse, and also legal drafting of Islamic civil law.
Articles 152 Documents
Studi Komparatif Fikih Bencana Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama Farkhan Farkhan; Kamsi Kamsi; Asmuni Asmuni
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 5 No. 2 (2020): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v5i2.3281

Abstract

The background of the study is the existence of Fiqh Muhammadiyah and Fiqh Nahdlatul Ulama in coping with disaster, in response to the phenomenon of disasters happened in Indonesia, which has taken many victims and caused various losses. Muhammadiyah and Nahdlatul Ulama are two largest Islamic community organizations in this country, so the way on managing the society is always interesting to study, including FIQH (ISLAMIC JURISPRUDENCE) of coping the disaster. Based on the reasons above, the backgrounds of the study are how do muhammadiyah and nahdhatul ulama apply their fiqh (islamic jurisprudence) to cope with disaster? and why do they apply their fiqh? This study is library research using qualitative design and comparing between the two fiqhs from both Muhammadiyah and Nahdatul ulama. The researcher applies Philosophical approaches, through the term epistemilogi bayani, burhani dan irfani as instruments to clarify the content of both fiqhs to find the answer for both research problems above. The findings are the guideline and methodhology used both Muhammadiyah and Nahdatul ulama covered in both fiqhs; there are several differences on the Basic conceptions related to beliefs and Aqida; ethical and moral formulations and practical things. Muhammadiyah Fiqh explained in details regarding with practical procedures and steps of worship in coping with disaster, while Nahdlatul Ulama Fiqh explained only practical guidelines in coping with disaster. The other finding is related to the triple epistimology. The point of bayani on both fiqhs are relatively similar, same level and size. The point of burhani on Muhammadiyah fiqh gave deeper understanding than Nahdlatul Ulama fiqh. And the point of irfani neither muhammadiyah nor Nahdlatul Ulama seem to use it. The fact of the differences refers to the basic methodology from both organizations; Muhammadiyah refers from verse and hadith, while Nahdlatul Ulama refers from aqwal ulama, although both of them refer to the verse, hadith and the decree of classical ulama (preachers)
Penggunaan, Perhitungan, dan Akurasi Jam Bencet dalam Tinjauan Software Accurate Times dan Aplikasi Muslim Pro Izza Nur Fitrotun Nisa'
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 1 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i1.3410

Abstract

The bencet clock Tegalsari Mosque was indicated inaccurate, because on October 20, 2019 there was an additional caution on the bencet clock from 12.04 to 12.20 WIS (the Ihtiyath time is more than 4 minutes). While it was confirmed to be WIB at around 11:40 WIB. Based on the schedule of Religion Ministry in the Republic of Indonesia, start of Zuhur time on October 20, 2019 was 11:25 WIB. There is any differences 15 minutes from it of Indonesia with the Zuhur prayer time schedule in the Tegalsari Mosque. Futhermore, the old Istiwa’ clock is organizer of Tegalsari Mosque every day. This thesis aims to find out the analysis of the use, calculation and accuracy of the bencet clock in Tegalsari Mosque at Jajar Village, Laweyan Subdistrict, Surakarta City with analyzing the accuracy by using Accurate Times Software and Muslim ProApplications. The kind research is qualitative in the form of field research for proving the data in the field. The object of this research are the use, calculation and accuracy of the bencet clock in Tegalsari Mosque by observation, interviews and documentation. Data sources in this research are primary data sources and secondary data sources, including Acccurate Times software data and Muslim Pro applications. The results of research is showing that in the use and calculation of the bencet clock in Tegalsari Mosque only turn out by looking at the position of the Sun's shadow without using a formula, however the bencet clock has met the physical requirements as a horizontal sundial but it less spesific clock pointer. The accuracy of the bencet clock by using the Accurate Times software and the Muslim Pro application are accurate, but it should be noted that the accuracy of the use ihtiyath time must be consistent with 3-4 minutes. In order to increase the accuracy of the bencet clock.   Jam bencet di Masjid Tegalsari ini terindikasi tidak akurat, karena pada tanggal 20 Oktober 2019 ada penambahan kehati-hatian jam bencet dari 12.04 menjadi 12.20 WIS (waktu ihtiyath lebih dari 4 menit). Sedangkan dikonfirmasikan menjadi WIB sekitar pukul 11.40 WIB. Padahal dalam jadwal Kementerian Agama Republik Indonesia, awal waktu Zuhur pada tanggal 20 Oktober 2019 yaitu 11.25 WIB. Terdapat selisih 15 menit dari jadwal yang dibuat Kementerian Agama Republik Indonesia dengan jadwal waktu salat Zuhur di Masjid Tegalsari. Selain itu, jam istiwa’ yang sudah cukup tua di Masjid Tegalsari diputar sendiri setiap harinya oleh takmir Masjid Tegalsari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui analisis penggunaan, perhitungan dan akurasi jam bencet Masjid Tegalsari Kelurahan Jajar Kecamatan Laweyan Kota Surakarta dengan menganalisis keakuratan memakai Software Accurate Times dan Aplikasi Muslim Pro. Jenis penelitian yang digunakan yaitu kualitatif yang berbentuk penelitian lapangan (field research) untuk membuktikan data di lapangan. Adapun objek penelitian adalah penggunaan, perhitungan, dan akurasi jam bencet di Masjid Tegalsari yang dilakukan dengan menggunakan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Sumber data dalam penelitian adalah sumber data primer dan sumber data sekunder, termasuk data-data software Acccurate Times dan aplikasi Muslim Pro. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam penggunaan dan perhitungan jam bencet di Masjid Tegalsari hanya dengan melihat posisi bayangan Matahari tanpa menggunakan rumus, akan tetapi jam bencet tersebut telah memenuhi syarat fisik sebagai sundial horizontal hanya saja kurang garis penunjuk jamnya lebih detail. Akurasi jam bencet tersebut dengan menggunakan software Accurate Times dan aplikasi Muslim Pro sudah akurat hanya saja perlu diperhatikan ketelitian penggunaan waktu ihtiyath harus konsisten 3-4 menit. Supaya bertambah tingkat keakuratan jam bencet tersebut.
Perbandingan Perhitungan Waktu Shalat Menggunakan Astrolabe RHI dan Accurate Times Hasrian Rudi Setiawan; Arwin Juli Rakhmadi; Muhammad Hidayat; Abu Yazid Raisal; Hariyadi Putraga
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3416

Abstract

This study aims to determine the comparison of the calculation of prayer times using the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. In addition, this study also describes in detail the steps in determining prayer times using the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. The research method used in this study is experimental. The results of this study indicate that there is a difference in the calculation of prayer times on December 20 between the RHI Astrolabe and Accurate Times Software. The difference between Asr is 8 minutes, Isha 6 minutes and Fajr 1 minute. Meanwhile, during Zuhr, Maghrib and Shuruq there is no difference in the calculation of the RHI Astrolabe with the Accurate Times Software.   Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan perhitungan waktu shalat menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times. Tujuan penelitian lainnya adalah untuk menjelaskan secara rinci langkah-langkah dalam menentukan waktu shalat menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksperimen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat selisih perbedaan perhitungan waktu shalat pada tanggal 20 Desember antara Astrolabe RHI dengan Software Accurate Times. Adapun selisih pada waktu Ashar 8 menit, Isya 6 menit dan Subuh 1 menit. Sedangkan waktu Zuhur, Maghrib dan Syuruq tidak ada perbedaan pada perhitungan menggunakan Astrolabe RHI dan Software Accurate Times.
Perjanjian Kerjasama Pengadilan Agama Sawahlunto dengan Bank BRI Perspektif Fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2004 Laila Afni Rambe
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3548

Abstract

This article describes the cooperation agreement of the Sawahlunto Relious Court whit the BRI Bank. The backgroud of this research is the cooperation  agreement between Sawahlunto Religious Court and BRI Bank in financing the cost of case down-payment and capital expenditure that contradicts the fatwa DSN MUI Number 1 of 2004 concerning bank interest which prohibits conducting transactions with Conventional Banks based on interest caalculation. This research is a field research with data analysis method using a qualitative descriptive approach. Based on research result, the Sawahlunto Religious Court cooperation agreement with BRI Bank is included in the permiitted cooperation agreement (mubah), because it sees an emergency aspect and does not conflict with the treaty law.   Artikel ini menjelaskan tentang perjanjian kerjasama Pengadilan Agama Sawahlunto dengan Bank BRI. Latar belakang penelitian ini adalah adanya perjanjian kerjasama antara Pengadilan Agama Sawahlunto dengan Bank BRI dalam pembiayaan biaya perkara uang muka dan belanja modal yang bertentangan dengan fatwa DSN MUI Nomor 1 Tahun 2004 tentang Bunga Bank yang melarang melakukan transaksi dengan Bank Konvensional berdasarkan perhitungan bunga. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan dengan metode analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, perjanjian kerjasama Pengadilan Agama Sawahlunto dengan Bank BRI termasuk dalam perjanjian kerjasama yang diperbolehkan (mubah), karena melihat aspek darurat dan tidak bertentangan dengan hukum perjanjian.
Kedudukan Undang-Undang Perlindungan Anak Terhadap Anak Sebagai Korban Pelecehan Seksual di Aceh Krisna Nanda Aufa
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3662

Abstract

This article is motivated by the number of cases of sexual harassment that have occurred in Aceh Province today, experienced by children and adolescents, especially women. In general, victims of sexual harassment are children and adolescents who are under 18 years of age, only in some cases of sexual harassment where the victim is an adult woman. As for one of the legal efforts made by the Banda Aceh Police Criminal Unit by using the Child Protection Law related to the case of children as victims of sexual harassment. The formulation of the problem in this research is what is the position of the Child Protection Law against children as victims of sexual harassment in Aceh and why Polri investigators apply the Child Protection Law instead of the Qanun in enforcing law enforcement. The aim of this research is to find out and explain the position of the Child Protection Law against children as victims of sexual harassment in Aceh and to find out and explain that Police Investigators apply the Child Protection Law compared to Qanun in enforcing law enforcement. This research is a field research (field research) using qualitative methods that collect data through observation and interviews. When viewed from the use of laws used by investigators of the Banda Aceh Police Criminal Investigation Unit from 2018 to September 2020 with a total of 45 cases both completed and in the process of investigation and investigation, all using the Child Protection Law, none. using both the Qanun  and the Criminal Code. If the investigator applies the Qanun  for perpetrators of sexual violence against children and it is feared that a potential conflict or problem will occur between the victim and the perpetrator if the investigator continues to use the Qanun, that perpetrators of sexual violence against children will be sentenced to imprisonment instead of being punished by caning so that This is considered to provide a sense of justice for the victim and will have a deterrent effect on the perpetrator.   Artikel ini dilatarbelakangi oleh banyaknya kasus pelecehan seksual yang terjadi di Provinsi Aceh saat ini yang dialami oleh anak-anak dan remaja khususnya perempuan. Pada umumnya korban pelecehan seksual adalah anak-anak dan remaja yang berusia di bawah 18 tahun, hanya pada beberapa kasus pelecehan seksual dimana korbannya adalah wanita dewasa. Adapun salah satu upaya hukum yang dilakukan oleh Satuan Reserse Kriminal Polres Banda Aceh dengan menggunakan UU Perlindungan Anak terkait kasus anak sebagai korban pelecehan seksual. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana kedudukan UU Perlindungan Anak terhadap anak sebagai korban pelecehan seksual di Aceh dan mengapa penyidik ​​Polri menerapkan UU Perlindungan Anak bukan Qanun dalam penegakan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan kedudukan UU Perlindungan Anak terhadap anak sebagai korban pelecehan seksual di Aceh serta untuk mengetahui dan menjelaskan bahwa Penyidik ​​Polri menerapkan UU Perlindungan Anak dibandingkan dengan Qanun dalam penegakan hukum. Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (field research) dengan menggunakan metode kualitatif yang mengumpulkan data melalui observasi dan wawancara. Jika dilihat dari penggunaan hukum yang digunakan penyidik ​​Satuan Reserse Kriminal Polres Banda Aceh dari tahun 2018 sampai dengan September 2020 sebanyak 45 kasus baik yang sudah selesai maupun dalam proses penyidikan dan penyidikan semuanya menggunakan UU Perlindungan Anak tidak ada. menggunakan Qanun dan KUHP. Jika penyidik ​​menerapkan Qanun bagi pelaku kekerasan seksual terhadap anak dan dikhawatirkan akan terjadi potensi konflik atau masalah antara korban dan pelaku jika penyidik ​​terus menggunakan Qanun, maka pelaku kekerasan seksual terhadap anak akan dipidana. dipidana penjara bukannya dihukum cambuk sehingga hal ini dianggap memberikan rasa keadilan bagi korban dan akan memberikan efek jera bagi pelaku.
Nalar Konstruktif Maqashid Syariah Dalam Studi Hukum Islam (Sebuah Studi Pengantar dalam Ilmu Maqashid Syariah) Fahrudin
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 1 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i1.3744

Abstract

This study is an attempt to explore the discourse of maqashid sharia, as one of the tools of analysis of texts or sources of Islamic law. Like other disciplines, which also try to approach the sacred text with their own reasoning and specialization. During widespread disagreements over various interpretations of a text, the maqashid sharia reasoning approach as one of ijtihad reasoning, has a very urgent position, of course, to reason problems in a unique way. There is no longer a sanction, that by continuing to turn on maqashid reasoning, as one of the important tools in legal formulation, it is a necessity that every juris (mujtahid) must have. By using several main sources on the science of maqashid sharia, this paper tries to present a maqashid perspective across generations, from the classical era to the modern era. Since the era of al Hakim Tirmidhi to Jaser Audah and other contemporary scholars who continue to spread the knowledge of maqashid. The various cases that occurred and covered the life of the mukallaf (legal subject), from the early days of Islam to the present and future generations, became an important orientation in every legal formula that must be presented. This is nothing but to make Shari'a an entity that continues to live across ages. The benefit of the mukallaf, which is an important point in the descent of the Shari'a, must always be a consideration in every legal formulation.   Penelitian ini merupakan sebuah upaya untuk menbedah diskursus maqashid syariah, sebagai salah satu pisau analisis (tools of analysis) terhadap teks atau sumber hukum Islam. Sebagaimana disiplin ilmu yang lain, yang juga mencoba mendekati teks suci dengan nalar dan spesialisasinya masing-masing. Di tengah maraknya silang pendapat akan berbagai interpretasi suatu nas, pendekatan nalar maqashid syariah sebagai salah satu nalar ijtihad, memiliki posisi yang sangat urgen, tentunya untuk menalar problematika dengan caranya yang khas. Tidak sanksi lagi, bahwa dengan terus menghidupkan nalar maqashid, sebagai salah satu piranti penting dalam formulasi hukum, menjadi keniscayaan yang harus dimiliki oleh setiap juris (mujtahid). Dengan menggunakan beberapa sumber pokok tentang ilmu maqashid syariah, makalah ini mencoba untuk menghadirkan perspektif maqashid lintas generasi, sejak era klasik sampai era modern. Sejak era al Hakim Tirmidzi sampai Jaser Audah dan ulama kontemporer lain yang terus mengibarkan ilmu maqashid. Beragam kasus yang terjadi dan menyelimuti kehidupan mukallaf (subjek hukum), sejak masa awal Islam sampai generasi kini dan nanti, menjadi orientasi penting dalam setiap formula hukum yang harus dihadirkan. Hal tersebut tidak lain untuk menjadikan syariat sebagai entitas yang terus hidup lintas zaman. Kemaslahatan mukallaf yang menjadi titik poin penting turunnya syariat, harus selalu menjadi pertimbangan dalam setiap formulasi hukum.
Pengaruh Pandemi Covid 19 terhadap Perceraian Masyarakat Rembang Berdasarkan Aspek Sosial dan Angka di Pengadilan Abdul Rozak; Mu'tashim Billah; Diky Faqih Maulana
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3757

Abstract

Maintaining the integrity of the household is not easy, the dynamics of life as husband and wife must be lived with patience and caution. However, this circumstances are sometimes seems insufficient to maintain the household. This indication could be seen that number of couples who prefer to end their marital relationship with dissolution. This article attempts to answer two main questions, namely: first, what are the main factors that cause the divorce in Rembang City; second, does the COVID-19 pandemic affect the divorce rate in Rembang City. This article is a qualitative research using a normative-empirical approach. The results of the analysis of this study show that the COVID-19 pandemic does not significantly affect changes in the divorce rate in Rembang City. This is due to the background of the Rembang community which is dominated by santri. Spiritual values ​​are still a solid foundation that can maintain the unity of the household when some couples choose to divorce due to the economic and mental depression that caused by the pandemic.   Mempertahankan keutuhan rumah tangga bukan perkara mudah, dinamika kehidupan sebagai suami dan istri harus dihadapi dengan penuh kesabaran serta kehati-hatian. Akan tetapi, sikap tersebut terkadang dirasa kurang cukup untuk mempertahankan rumah tangga. Hal ini ditandai dengan banyaknya pasangan yang lebih memilih untuk mengakhiri hubungan perkawinannya dengan jalur perceraian. Artikel ini berusaha untuk menjawab dua persoalan utama, yaitu: pertama, apa saja faktor utama yang menjadi alasan perceraian di Kota Rembang; kedua, apakah pandemi COVID-19 berpengaruh terhadap angka perceraian di Kota Rembang. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif menggunakan metode pendekatan normatif-empiris. Hasil dari analisis penelitian ini menggambarkan bahwa faktor yang menyebabkan perceraian di Rembang adalah: kekerasan fisik dan psikologis, perselingkuhan, kurangnya tanggung jawab suami dalam menafkahi istri dan anak serta komunikasi yang buruk sekali pandemi COVID-19 tidak terlalu berpengaruh secara signifikan atas perubahan angka perceraian di Kota Rembang. Hal ini disebabkan oleh latar belakang masyarakat Rembang yang didominasi kalangan santri. Nilai-nilai spiritual masih menjadi landasan kokoh yang dapat mempertahankan keutuhan rumah tangga di saat beberapa pasangan memilih untuk bercerai karena depresi ekonomi dan mental yang disebabkan pandemi. 
Implementasi Akad Mudharabah Peternakan Sapi Menurut Hukum Ekonomi Syariah Chamim Tohari
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 1 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i1.3845

Abstract

This study specifically examines the implementation of the mudharabah contract in the field of cattle husbandry which has been practiced by residents in Addrejo Village, Kanor District, Bojonegoro Regency. This research includes field research because the data is collected directly from the specified research location. The research approach used is a qualitative descriptive research approach. Data collection techniques were carried out in three ways, namely through interviews, observation, and documentation. The data analysis technique was carried out through several stages, namely editing, organizing, analyzing, and finding results or inferences. The results of this study conclude that the implementation of the mudharabah contract on cattle farming in Addrejo Village, Kanor District, Bojonegoro Regency has fulfilled all the pillars and requirements for the validity of the mudharabah contract contained in Sharia Economic Law, and is carried out based on agreement, willingness, and honesty, so that in line with the principles that form the basis of fiqh muamalah. Because of that, the author can confirm that the practice of cooperative mudharabah for cattle carried out by the residents of the Village of Addrejo, Kanor District, Bojonegoro Regency is in accordance with Sharia Economic Law and the Principles of Fiqh Muamalah.   Penelitian ini secara khusus mengkaji tentang pelaksanaan akad mudharabah dalam bidang peternakan sapi yang selama ini dipraktikkan oleh para penduduk di Desa Tambahrejo Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro. Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research) karena data dihimpun secara langsung dari lokasi penelitian yang ditentukan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan tiga cara, yaitu melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu editing, organizing, analyzing, dan penemuan hasil atau penyimpulan. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa implementasi akad mudharabah terhadap peternakan sapi di Desa Tambahrejo Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro dilakukan telah memenuhi seluruh rukun-rukun dan syarat-syarat keabsahan akad mudharabah yang terdapat dalam Hukum Ekonomi Syariah, dan dilakukan berdasarkan kesepakatan, kerelaan, dan kejujuran, sehingga sejalan dengan prinsip-prinsip yang menjadi landasan dalam fiqh muamalah. Karena itu dapat penulis pastikan bahwa praktik kerja sama mudharabah hewan ternak sapi yang dilakukan warga Desa Tambahrejo Kecamatan Kanor Kabupaten Bojonegoro tersebut telah sesuai dengan Hukum Ekonomi Syariah dan Prinsip-Prinsip Fiqh Muamalah.
Penyelesaian Sengketa Akad Musyarakah di Badan Arbitrase Syariah Nasional (Analisis Putusan Basyarnas Yogyakarta No X/Tahun 2017) Ahmad Faizun
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i2.3864

Abstract

This research will examine how the Musyarakah Contract Dispute Settlement at the National Sharia Arbitration Board (BASYARNAS) literature study of BASYARNAS Yogyakarta No. X/Year 2017. The aim is to determine the settlement of sharia economic disputes in BASYARNAS Yogyakarta, especially in Musyarakah contract disputes. This research is a descriptive qualitative research with case study method. This research took place at BASYARNAS, Special Region of Yogyakarta. In making the decision, the BASYARNAS DIY Arbitrator has used Islamic law as contained in the Qur'an and hadith, Islamic economic principles. However, there are several aspects that were not analyzed by the arbitrator, particularly regarding the contract used and how the contract was implemented by both the applicant and the respondent.   Penelitian ini akan mengkaji penyelesaian sengketa akad musyarakah di Badan Arbitrase Syariah Nasional (BASYARNAS) Studi Putusan BASYARNAS Yogyakarta No X/Tahun 2017. Tujuannya yaitu untuk mengetahui penyelesaian sengketa ekonomi syariah di BASYARNAS Yogyakarta khususnya dalam sengketa akad musyarakah. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Penelitian ini mengambil tempat di BASYARNAS Daerah Istimewa Yogyakarta. Dalam pengambilan putusan, Arbiter BASYARNAS DIY telah menggunakan hukum Islam sebagaimana terdapat dalam Al-Qur’an maupun hadist, prinsip-prinsip dan asas-asas ekonomi syariah. Namun, ada beberapa aspek yang tidak dianalisa oleh arbiter, khususnya mengenai akad yang digunakan serta bagaimana akad tersebut dilaksanakan baik oleh pemohon maupun termohon.
Negara, Politik Identitas, dan Makar: Pandangan Organisasi Massa Islam Tentang Makar dan Upaya Pencegahannya Melalui PERPPU Ormas Sulhani Hermawan; Sidik Sidik
Al-Ahkam Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum Vol. 6 No. 1 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum
Publisher : IAIN Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/alahkam.v6i1.3993

Abstract

The discourse of mass organization dismissal of Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) by the government through the Government Regulation in Lieu of Law No. 2/2017 (Perppu), that now has been officially being the mass organization regulation, causes pro and contra.This article analyses the substance of the differencies of HTI, NU, and Muhammadiyah opinion about violant attack (makar) and Perppu as its rule to protect it. It also analyses the rationale and reason of their opinion. This article finds two points: First, HTI noted that their activities were not a violant attack but the religious proselytizing (dakwah) so that the dimissal act through Perppu, according to them, was not appropriate. Meanwhile, NU said that HTI activities were a violant attack and they supported itsdismissal through Perppu. Whereas Muhammadiyah argued that the contradiction toward national idology is a violant attack but it dimissal has to be constitutional. Second, based on the social dialectic theory, this article notes that the differencies of these mass organization opinion were influenced by their different conception on nation that internalized when they looked at the problem of violant attack and Perppu. According to the political identity theory, each mass organization brings religious knowledge identity that fitted together, especially concerning Perppu.   Diskursus terkait penonaktifan organisasi massa (ormas) Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang No. 2 tahun 2017 (Perppu Ormas), yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas, memunculkan pro-kontra. Artikel ini mengkaji bagaimana substansi perbedaan pandangan HTI, Nahdhatul Ulama (NU), dan Muhammadiyah (MU) tentang makar dan Perppu sebagai payung hukum pencegahannya. Lantas, apa sebenarnya yang melandasi perbedaan pandangan tersebut. Kajian ini menemukan beberapa hal. Pertama, HTI berpandangan bahwa aktivitas mereka bukan makar melainkan aktivitas dakwah sehingga pembubarannya melalui Perppu dinilai tidak beralasan. Sementara NU memandang aktivitas HTI adalah makar dan mendukung pembubarannya melalui Perppu. Adapun Muhammadiyah berpandangan bahwa yang bertentangan dengan ideologi negara adalah makar, tapi pencegahannya harus secara konstitusional. Kedua, merujuk pada teori dialektika sosial, perbedaan sikap masing-masing ormas dipengaruhi oleh pandangan mereka tentang konsepsi negara yang terinternalisasi dalam menyikapi persoalan makar dan pencegahannya melalui Perppu. Sementara berdasarkan teori politik identitas, masing-masing ormas mengusung identitas pemahaman keagamaan yang saling beririsan terkait Perppu.

Filter by Year

2016 2023


Filter By Issues
All Issue Vol. 8 No. 1 (2023): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 7 No. 2 (2022): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 7 No. 1 (2022): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 6 No. 2 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 6 No. 1 (2021): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 5 No. 2 (2020): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 5, No 2 (2020): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 5, No 1 (2020): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 5 No. 1 (2020): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 4, No 2 (2019): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 4 No. 2 (2019): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 4 No. 1 (2019): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 4, No 1 (2019): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 3, No 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 3 No. 2 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 3, No 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 3 No. 1 (2018): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 2 No. 2 (2017): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 2, No 2 (2017): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 2 No. 2 (2016): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 2 No. 1 (2017): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol 2, No 1 (2017): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 1, No. 2 (2016): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 1, No. 1 (2016): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum Vol. 1 No. 1 (2016): Al-Ahkam: Jurnal Ilmu Syari'ah dan Hukum More Issue