cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI
ISSN : 24425133     EISSN : 25277227     DOI : -
Core Subject : Education,
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI is a peer-reviewed journal that focuses on critical studies of basic education. Investigated the dynamics of learning of children at the primary level / Madrasah Ibtidaiyah (Islamic elementary school). Besides focusing on the development of studies issues of basic education.
Arjuna Subject : -
Articles 282 Documents
Elementary School Teachers' Understanding of Inquiry Skills and Scientific Attitude Anam, Rif'at Shafwatul; Rahayu, Ucu; Sekarwinahyu, Mestika; Sapriati, Amalis
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12844

Abstract

AbstractThis study aims to assess elementary school teachers' inquiry skills and scientific attitudes related to science. The instrument used in this study evaluates four groups of skills: conceptualizing and planning design, implementation, analysis, interpretation, and communication. Additionally, it assesses six categories of scientific attitudes: the nature of science, the basis of science, characteristics of scientists, goals of science, benefits of science, and responses regarding scientists. This research instrument underwent validation by two experts in the field of science. Validation results using Kendall's Tau calculations showed a value of 0.853 for the inquiry ability instrument and 0.807 for scientific attitude, and both falling into the ‘very high’ category. The study involved 49 elementary school teachers. Findings revealed that teachers' inquiry skills were categorized as 'weak', indicated by an average percentage below 50% in each skill group. Regarding scientific attitude, respondents' responses varied significantly between positive and negative statements, despite similarities found in two categories: 'basic science' and 'purpose of science'. This study highlights the necessity to consider the the learning process science, particularly emphasizing the development of inquiry skills and fostering positive scientific attitudes, from elementary school through university education.Keywords: inquiry skills, scientific attitudes, elementary teacher.                                                             AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterampilan inkuiri guru baik dari sisi proses maupun sikap ilmiah terkait dengan sains. Proses yang diujikan dalam instrument ini terdiri dari empat kelompok keterampilan: mengkonsepsi dan merencanakan desain, implementasi, analisis dan interpretasi, serta mengkomunikasikan. Pada sikap ilmiah terdiri dari enam kategori yaitu: sifat dari ilmu sains, dasar ilmu sains, hal yang dimiliki ilmuan, tujuan ilmu sains, manfaat ilmu sains, dan tanggapan mengenai ilmuan sains. Instrumen penelitian ini telah dilakukan validasi pada dua orang doktor pada bidang sains. Berdasarkan hasil validasi menggunakan perhitungan Kendall’s Tau memiliki nilai sebesar 0,853 untuk instrument kemampuan inquiry dan nilai sebesar 0,807 untuk sikap ilmiah serta keduanya termasuk ke dalam kategori sangat tinggi. Responden dalam peneitian ini terdiri dari 49 orang guru sekolah dasar yang didapatkan bahwa keterampilan inkuiri berada pada kategori “lemah” hal ini ditunjukkan dengan persentase rata-rata responden pada setiap kelompok dibawah 50%. Sedangkan pada sikap ilmiah didapatkan bahwa respon responded terhadap pernyataan sikap ilmiah antara pernyataan positif dan negatif cukup berbeda walaupun ada dua kategori sikap ilmiah yang sama responnya. Dua kategori itu adalah pada “dasar ilmu sains” dan “tujuan dari sains”. Studi ini menunjukkan bahwa proses pembelajaran sains dari SD sampai dengan perguruan tinggi perlu untuk diperhatikan terutama hal yang berkaitan dengan keterampilan inkuiri dan sikap ilmiah.Kata kunci: kemampuan inkuiri, sikap ilmiah, guru sekolah dasar
The Competence of Islamic Education Lecturers in the Elementary School Teacher Education Study Program Aeni, Ani Nur; Jenuri, Jenuri; Djuanda, Dadan; Abdullah, Mulyana
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.14927

Abstract

AbstractThis study aims to find the competence degree of Islamic education lecturers based on the evaluation results of the teaching and learning process. This is motivated by the fact that evaluating lectures is an essential part of the lectures themselves. The evaluation results are used as sources for reflection and improvement for the next lectures. This is a case study conducted at an Elementary School Teacher Education Study Program at a state university in Sumedang, Indonesia. Data were obtained by document analysis, interviews, and observations. Data sources were obtained from primary data and secondary data. Data processing was carried out descriptively with a qualitative approach while the data validity was carried out through source triangulation and methodological triangulation. The results showed an average score of 8.33, signifying that the students perceived the lecturers to be very competent. The highest score is in the personality competence. There are 4 competences that have been demonstrated by the Islamic Religious Education lecturers, and 20 indicators, namely 8 indicators on pedagogic competence, 3 indicators on social competence, 5 indicators on personality competence and 4 indicators on professional competence. Based on the results of this study, it is concluded that the teaching and learning process of Islamic religious education has run very well because it is supported by lecturers who have excellent competence.Keywords: evaluation of teaching and learning process, lecturer competence, Islamic religious education, elementary school.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menemukan derajat kompetensi dosen pendidikan agama islam berdasarkan hasil evaluasi proses belajar mengajar. Hal ini dilatarbelakangi bahwa melakukan evaluasi perkuliahan itu menjadi bagian yang sangat penting dalam perkuliahan, untuk dijadikan bahan refleksi dan perbaikan pada perkuliahan selanjutnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan lokasi penelitian di program studi pendidikan guru sekolah dasar universitas pendidikan indonesia kampus sumedang. Data diperoleh dengan cara analisis dokumen, wawancara, dan observasi. Sumber data didapatkan dari data primer dan data sekunder. Pengolahan data dilakukan secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif, keabsahan data dilakukan melalui triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompetensi dosen pendidikan agama islam sangat baik dengan nilai 8,33. Nilai yang paling tinggi adalah kompetensi kepribadian. Terdapat 4 kompetensi yang telah dimiliki oleh dosen Pendidikan Agama Islam, dan 20 indikator, yaitu 8 indikator pada kompetensi pedagogik, 3 indikator pada kompetensi sosial, 5 indikator pada kompetensi kepribadian dan 4 indikator pada kompetensi profesional. Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa proses belajar mengajar pendidikan agama islam sudah berjalan dengan sangat baik karena ditunjang oleh dosen yang memiliki kompetensi yang sangat baik.Kata kunci: evaluasi proses belajar mengajar, kompetensi dosen, pendidikan agama islam, sekolah dasar.
The Effect of Team Games Tournament (TGT) in Social Science Learning to Improve Student Learning Outcomes Matitaputty, Jenny Koce; Susanto, Nugroho; Fadli, Muhammad Rijal; Ramadhan, Iwan; Manuputty, Christofer Judy
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.15037

Abstract

Abstract The Team Games Tournament (TGT) method is effective for improving student learning outcomes in social science learning, but there are still very few teachers who apply this method. The TGT method creates a competitive and collaborative learning environment where students engage in group games to deepen their understanding of social science concepts and develop social skills. This study aimed to investigate the TGT in social science learning to improve student learning outcomes. This study used a quasi-experimental with two experimental and control classes. The population used was fifth-grade elementary school students in Lampung, and the number of samples was 133. The sampling technique used cluster random sampling in determining the sampling, while the data collection was in the form of a questionnaire instrument. Questionnaires were analyzed using the n-gain score and Kruskal-Wallis tests to determine whether there was an increase in historical research skills with the help of SPSS 25. The results showed that the influence of the TGT in social science learning significantly improved student learning outcomes. The TGT method uses a competitive and collaborative group play approach to create an interesting and motivating learning environment for students. By applying the TGT, students become more involved and enthusiastic in social science learning. They actively participate in group play that involves discussion, teamwork, and joint problem-solving.Keywords: learning methods, teams games tournament (TGT), social science,      learning outcomes.AbstrakMetode Team Games Tournament (TGT) merupakan metode efektif untuk meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS, namun masih minim guru yang menerapkan metode ini. Metode TGT digunakan untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang kompetitif dan kolaboratif, di mana siswa terlibat dalam permainan kelompok untuk memperdalam pemahaman konsep IPS dan mengembangkan keterampilan sosial. Tujuan penelitian ini adalah untuk menginvestigasi TGT dalam pembelajaran IPS untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Penelitian ini menggunakan quasi eksperimen dengan dua kelas eksperimen dan control. Populasi yang digunakan siswa kelas V sekolah dasar di Lampung dan jumlah sampel 133. Teknik sampling menggunakan cluster random sampling dalam menentukan sampling, sedangkan pengumpulan data berupa instrument angket. Angket dianalisis menggunakan uji n-gain score dan Kruskal-Wallis untuk mengetahui adanya peningkatan pada keterampilan meneliti sejarah dengan bantuan SPSS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh TGT dalam pembelajaran IPS memiliki dampak yang signifikan dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Metode TGT menggunakan pendekatan permainan kelompok yang kompetitif dan kolaboratif untuk menciptakan lingkungan pembelajaran yang menarik dan memotivasi siswa. Dengan menerapkan TGT, siswa menjadi lebih terlibat dan antusias dalam pembelajaran IPS. Mereka berpartisipasi aktif dalam permainan kelompok yang melibatkan diskusi, kerja tim, dan pemecahan masalah bersama.Keywords: metode pembelajaran, teams games tournament (TGT), IPS,       hasil belajar.
Assessing the Character of Pancasila Student Profiles: Challenges Encountered by Teachers Wulandari, Medita Ayu; Ruqoyyah, Siti; Sutinah, Cucun; Riyadi, Arie Rakhmat
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.14963

Abstract

AbstractAdministering assessment is essential in education, including, in the implementation of character building in the Pancasila Student Profiles. This study was conducted to examine the implementation of the P5 (the Project for Strengthening Pancasila Student Profiles) in primary schools and the challenges teachers encountered in assessing the P5 character. Descriptive analysis was used in this study. Data collection was carried out using questionnaires and interviews given to 160 teachers representing 160 schools in 16 sub-districts in West Bandung, Indonesia. The results of the data analysis show that several elements are dominantly used from each dimension. Particularly noteworthy is that the creativity dimension is rarely taught. In terms of assessments, summative assessment is the most frequently practiced assessment among teachers. The number of teachers who carried out diagnostic and formative assessments is relatively small (<5%). Furthermore, the challenges or difficulties faced by the teachers in preparing the assessment encompass aspects such as the P5 comprehension, how to cultivate the P5 character, the main obstacles in instilling the P5 character, and measuring the P5 character.Keywords: character education, assessment, primary teachers, Project to Strengthen the Pancasila Student Profiles (P5), Merdeka curriculum. AbstrakPelaksanaan kegiatan asesmen di sekolah merupakan suatu hal yang penting untuk dilakukan. Begitupun halnya pada pelaksanaan pembelajaran karakter Profil Pelajar Pancasila. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan gambaran pelaksanaan asesmen dalam Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di sekolah dasar dan kesulitan apa saja yang dihadapi guru dalam mempersiapkan dan melaksanakannya. Analisis deskriptif digunakan dalam penelitian ini. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket dan wawancara yang diberikan kepada 160 guru terbaik yang mewakili 160 sekolah di 16 kecamatan di kabupaten Bandung Barat, Indonesia. Hasil analisis data menunjukkan bahwa dari setiap elemen terdapat beberapa elemen yang dominan digunakan; hal yang paling mencolok adalah adanya salah satu dimensi yang tingkat pengajarannya masih rendah yaitu kreativitas. Kemudian dalam pelaksanaan penilaian, kegiatan yang paling sering dilakukan guru adalah penilaian sumatif. Jumlah guru yang melaksanakan penilaian diagnostik dan formatif masih sedikit (<5%). Selanjutnya kesulitan yang dihadapi guru dalam mempersiapkan evaluasi itu sendiri terbagi dalam beberapa kategori, seperti pemahaman P5, cara menumbuhkan karakter P5, kendala utama dalam menanamkan karakter P5 dan mengukur karakter P5.Kata kunci: pendidikan karakter, asesmen, guru sekolah dasar, projek penguatan profil pelajar pancasila (P5), kurikulum merdeka.
The Implementation of Merdeka Curriculum in Piloting Madrasa; A Case Study at State Madrasah Ibtidaiyah of Semarang City Imron, Ali
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.14749

Abstract

AbstractThis research examines the implementation of the Merdeka Curriculum at State Madrasah Ibtidaiyah (MIN) of Semarang City, Central Java, Indonesia. This type of research is qualitative research with a descriptive-analytical approach. The Data of this study are collected through interviews and documentation, while the analysis technique used is the Miles and Huberman model, including data reduction, data presentation, and conclusions. The results showed that the implementation of the Merdeka Curriculum at MIN of Semarang City has been effective despite facing obstacles. Some obstacles are a lack of experience in implementing the Merdeka Belajar approach, the references and access to learning resources, the facilities and the amenities, and the understanding of scoring and assessment. However, these obstacles can be overcome with several supporting actors, including the active participation of teachers and madrasahs, the use of Merdeka Belajar platforms, the continuity of evaluation and improvement, and assistance from supervisors. The impact of implementation, including the changes in learning methods, innovation, the development of student independence, increased creativity and initiative, the relevance of learning, and increased student collaboration, bring positive impacts in improving the quality of learning and the outcomes of the student.Keywords: implementation of merdeka curriculum, madrasa piloting, continuous improvement.AbstrakPenelitian ini mengkaji tentang implementasi kurikulum merdeka di MIN of Semarang City, Jawa Tengah, Indonesia. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif sehingga pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini ialah pendekatan deskriptif-analitis.. teknik pengumpulan data pada penelitian ini melalui wawancara dan dokumentasi, sedangkan teknik analisisnya menggunakanmodel Miles dan Huberman yang mencakup tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi Kurikulum Merdeka di MIN of Semarang City telah berjalan efektif, meskipun menghadapi kendala seperti kurangnya pengalaman dalam menerapkan pendekatan merdeka belajar, keterbatasan referensi dan akses ke sumber belajar, keterbatasan sarana dan fasilitas, dan keterbatasan pemahaman dalam penilaian dan asesmen. Akan tetapi hambatan tersebut dapat diatasi dengan beberapa faktor pendukung yang meliputi partisipasi aktif guru dan madrasah, pemanfaatan platform merdeka belajar, evaluasi dan perbaikan terus-menerus, dan pendampingan dari pengawas. Dampak implementasi termasuk perubahan metode pembelajaran, inovasi, pengembangan kemandirian siswa, peningkatan kreativitas dan inisiatif, relevansi pembelajaran, dan peningkatan kolaborasi siswa, membawa dampak positif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan hasil belajar siswa secara keseluruhan.Kata kunci: Implementasi kurikulum merdeka; Madrasah percontohan; perbaikan berkelanjutan.
The Challenges of Literacy Culture in the Digital Era: The Role of Fairy Tales through the Country in Improving Literacy and Numerical Literacy Monica, Bella; Wibowo, Setiawan Edi; Harsono, Arta Mulya Budi
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.12412

Abstract

AbstractThis study aims to uncover (1) the challenges to foster literacy culture in the digital era, (2) the value of literacy conveyed through fairy tales, (3) the role of fairy tales for literacy and numeracy, and (4) the outcomes observed in literacy and numeracy development through fairy tales. The research used the qualitative approach with the case study method. Interviews, observations, and documentation were employed as data collection techniques. The collected data were analyzed through data collection, data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The research results show that (1) the challenges of literacy culture in the digital era starts with finding and evaluating; (2) the literacy value conveyed through fairy tales includes literacy values encompassing listening, speaking, reading, and writing, while the value of numeracy includes skills in symbols and number, information analysis, and problem solving; (3) the role of fairy tales is as a medium to capture student’s attention. Fairy tales provide entertainment and moral teachings, which are engaging young learners since most children today prefer to see images rather than text. Therefore, the role of fairy tales is considered as a tool to enhance literacy among children.Keywords: fairy tales, literacy culture, numeracy. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengungkap (1) tantangan budaya literasi di era digital, (2) nilai literasi yang disampaikan melalui dongeng, (3) peran dongeng untuk literasi baca tulis dan numerasi, dan (4) hasil literasi dan numerasi melalui dongeng. Pendekatan penelitian menggunakan kualitatif dengan metode studi kasus. Penelitian ini menggunakan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data berupa pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian adalah (1) tantangan budaya literasi di era digital dimulai dengan menemukan dan mengevaluasi, (2) nilai literasi yang disampaikan melalui dongeng meliputi nilai literasi, yaitu menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Sedangkan nilai literasi numerasi adalah keterampilan simbol dan angka, menganalisis informasi, dan memecahkan masalah, (3) peran dongeng sebagai media untuk menarik perhatian peserta didik. Dongeng memberikan hiburan dan ajaran moral sehingga akan menarik bagi peserta didik untuk dilihat, karena sebagian besar anak saat ini lebih suka melihat gambar daripada teks. Oleh karena itu, peran dongeng dikatakan sebagai alat untuk meningkatkan budaya literasi kepada anak.Kata kunci: dongeng, budaya literasi, literasi numerasi.
Analyzing Trends in Blended Learning for Professional Growth: A Scopus Bibliometric Review miati, siti; Siregar, Eveline; Kustandi, Cecep
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.14984

Abstract

AbstractThis bibliometric review study investigates the current state of research on blended learning models for professional development based on articles indexed in the Scopus database. The study utilized various bibliometric methods to analyze publication trends, influential authors, institutions, journals, and keywords related to the topic. The search resulted in a total of 1,349 articles published from 2001 to March 2023, indicating a noticeable increase in publications in recent years. The analysis revealed that the United Kingdom is the leading country in research output, with Griffith University being the most productive institutions. The BMC Medical Education was identified as the top publishing outlet in the field. The study identified four keywords that represent the most commonly used terms in the literature: blended learning, online learning, assessment, and professional development. This study provides insights into the current research trends and gaps in the field of blended learning for professional development, which can inform future research directions and support the design of effective professional development programs.Keywords: bibliometric review, blended learning, professional development, Scopus database, research trends. AbstrakStudi tinjauan bibliometrik ini menyelidiki keadaan penelitian saat ini tentang model pembelajaran campuran untuk pengembangan profesional, berdasarkan artikel yang diindeks di database Scopus. Studi ini menggunakan berbagai metode bibliometrik untuk menganalisis tren publikasi, penulis berpengaruh, institusi, jurnal, dan kata kunci yang terkait dengan topik tersebut. Pencarian menghasilkan total 1.349 artikel yang diterbitkan dari tahun 2001 hingga Maret 2023, dengan peningkatan publikasi yang nyata dalam beberapa tahun terakhir. Analisis mengungkapkan bahwa Inggris adalah negara terdepan dalam hasil penelitian, dengan Universitas Griffith menjadi institusi paling produktif. BMC Medical Education diidentifikasi sebagai outlet penerbitan teratas di lapangan. Studi ini mengidentifikasi empat kata kunci yang mewakili istilah yang paling umum digunakan dalam literatur, termasuk pembelajaran campuran, pembelajaran online, penilaian, dan pengembangan profesional. Studi ini memberikan wawasan tentang tren dan kesenjangan penelitian saat ini di bidang pembelajaran campuran untuk pengembangan profesional, yang dapat menginformasikan arah penelitian di masa depan dan mendukung desain program pengembangan profesional yang efektif.Kata kunci: tinjauan bibliometrik, blended learning, pengembangan profesional, database Scopus, tren penelitian.
Merdeka Curriculum Based EBA Learning Model in Elementary Schools Husni, Miftahul; Al Ihwanah, Al Ihwanah; Wibowo, Djoko Rohadi; Lubis, Maulana Arafat
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.15069

Abstract

Abstract Merdeka Curriculum is the main gate to developing the potential of elementary school-level students to learn independently through teacher guidance. Currently, the government of the Republic of Indonesia hopes that the Program for International Student Assessment (PISA) results from data in 2018 can be improved. The research objective was to improve the learning outcomes of Pancasila and Civic Education in the aspects of spiritual attitudes, social attitudes, knowledge, and skills of students by applying the EBA learning model to the subject matter of ethnic, social, and cultural diversity in Indonesia. The research subjects were 24 students of class IV of a public elementary school in Padangsidimpuan City, Indonesia. This research used the Kemmis & McTaggart class action research method, which involved planning, acting, observing, and reflecting. Data were collected by using tests, observations, and interviews. The data were analyzed descriptively with qualitative and quantitative approaches. The study's results prove that after applying the EBA learning model, students’ learning outcomes have increased from pre-test, post-test I, and II to post-test III with an average score of 86.71 and a completeness percentage of 87.5%.Keywords: curriculum merdeka, EBA learning model, elementary school.  AbstrakKurikulum Merdeka merupakan gerbang utama untuk mengembangkan potensi siswa jenjang sekolah dasar agar mampu belajar mandiri melalui bimbingan guru. Saat ini, pemerintah Republik Indonesia berharap agar hasil Program for International Student Assessment (PISA) dari data tahun 2018 dapat ditingkatkan. Tujuan penelitian adalah untuk meningkatkan hasil belajar PKn pada aspek sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan dan keterampilan siswa dengan menerapkan model pembelajaran EBA pada mata pelajaran keberagaman suku, sosial dan budaya di Indonesia. Subyek penelitian adalah 24 siswa kelas IV di sebuah sekolah dasar negeri di Kota Padangsidimpuan, Indonesia. Penelitian ini menggunakan metode penelitian tindakan kelas Kemmis & McTaggart yang meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Pengumpulan data menggunakan tes, observasi, dan wawancara. Data dianalisis secara deskriptif dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian membuktikan bahwa setelah diterapkan model pembelajaran EBA, hasil belajar siswa mengalami peningkatan dari pretes, postes I, dan II menjadi postes III dengan skor rata-rata 86,71 dan persentase ketuntasan 87,5. %.Kata kunci: kurikulum merdeka, model pembelajaran EBA, sekolah dasar
An Analysis of Student’s Difficulties in Learning Mathematics at Madrasah Ibtidaiyah Supriatin, Atin; Latifah, Aeni; Annisah, Siti
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 10, No 2 (2023): October 2023
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v10i2.13718

Abstract

AbstractThis study aims to describe the level of difficulty of students in solving story problems in mathematics learning at Madrasah Ibtidaiyah. This research is a descriptive-analytical study. The participants of the study were third-grade students at one Madrasah Ibtidaiyah in Palangka Raya City, which numbered 34 people and fifth-grade students at one Ibtidaiyah Madrasah in East Lampung City, which amounted to 40 people. Data collection techniques use tests in the form of 10 questions. The tests given to the research sample have met the criteria of validity and reliability. Data analysis techniques use descriptive statistics in the form of tables and graphs through the calculation of averages and percentages. The results of this study explain that, in general, students have difficulty solving story problems. The most difficulty experienced by third graders is associating mathematics with daily life problems, which is 83.82%. In comparison, the most difficulty experienced by fifth-grade students is changing the language of everyday problems into the language of mathematics (making mathematical models or making a solution plan), which is 82%. This research produced a novelty in describing the difficulty of students solving story problems in mathematics learning by linking mathematics to daily life problems in Madrasah Ibtidaiyah.Keywords: analysis of difficulty levels, story problems, mathematics learning. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tingkat kesulitan siswa dalam memecahkan masalah cerita dalam pembelajaran matematika di Madrasah Ibtidaiyah. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitis. Subjek penelitian adalah siswa kelas III Madrasah Ibtidaiyah Kota Palangka Raya yang berjumlah 34 orang dan siswa kelas lima Madrasah satu Madrasah Kota Lampung Timur yang berjumlah 40 orang. Teknik pengumpulan data menggunakan tes berupa 10 pertanyaan. Tes yang diberikan kepada sampel penelitian telah memenuhi kriteria validitas dan reliabilitas. Teknik analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa tabel dan grafik, melalui perhitungan rata-rata dan persentase. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa pada umumnya siswa mengalami kesulitan dalam memecahkan masalah cerita. Kesulitan yang paling banyak dialami oleh siswa kelas tiga adalah mengaitkan matematika dengan masalah kehidupan sehari-hari, yaitu 83,82%. Sedangkan kesulitan yang paling banyak dialami oleh siswa kelas V adalah mengubah bahasa soal sehari-hari menjadi bahasa matematika (membuat model matematika atau membuat rencana solusi) yaitu 82%. Penelitian ini menghasilkan kebaruan berupa deskripsi kesulitan siswa memecahkan masalah cerita dalam pembelajaran matematika dengan mengaitkan matematika dalam masalah kehidupan sehari-hari di Madrasah Ibtidaiyah.Kata kunci: analisis tingkat kesulitan, permasalahan cerita, pembelajaran matematika.
Analysis of Student Errors in Solving Numeracy Literacy Problems of Graph Representation Model in Elementary School Rufiana, Intan Sari; Arifin, Slamet; Randy, Mohammad Yusuf; Amaliya, Fierda Nursitasari
Al Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol 11, No 2 (2024): October 2024
Publisher : UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/al.ibtida.snj.v11i2.18720

Abstract

AbstractThis study aims to describe the types of student errors in solving numeracy literacy problems of graph representation models. This study used a mixed methods research design with a sequential exploratory type. The data collection techniques used were tests and interviews. The participants in this study were 30 elementary school students tested and six students selected by purposive sampling to be interviewed. The results showed that students experienced conceptual errors and procedural errors. In conceptual errors, 40% of students make errors in reading data, 43% between data, and 60% of students make errors beyond data. Conceptual errors occur when students cannot understand the context of the problem, cannot read the data, do not master the basic concepts of statistics, and do not understand number patterns. In procedural errors, 63% of students make errors in reading data, 73% of students make errors in reading between data, and 80% of students make errors in reading beyond data. Procedural errors occur when students are wrong in choosing the solution procedure, calculating, and predicting. Therefore, educators need to design appropriate learning strategies to minimize errors made by students in numeracy literacy questions on graph representation models, such as applying contextual learning-based numeracy problems.Keywords: student errors, graphic literacy, numeracy literacy, elementary school. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis-jenis kesalahan siswa dalam menyelesaikan soal literasi numerasi model representasi grafik. Penelitian ini menggunakan desain penelitian mixed methods dengan tipe eksploratori sekuensial. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes dan wawancara. Partisipan dalam penelitian ini adalah 30 siswa sekolah dasar yang dites dan enam siswa yang dipilih secara purposive sampling untuk diwawancarai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa mengalami kesalahan konseptual dan kesalahan prosedural. Pada kesalahan konseptual, 40% siswa melakukan kesalahan dalam membaca data, 43% di antara data, dan 60% siswa melakukan kesalahan di luar data. Kesalahan konseptual terjadi ketika siswa tidak dapat memahami konteks soal, tidak dapat membaca data, tidak menguasai konsep dasar statistika, dan tidak memahami pola bilangan. Pada kesalahan prosedural, 63% siswa melakukan kesalahan dalam membaca data, 73% siswa melakukan kesalahan dalam membaca antar data, dan 80% siswa melakukan kesalahan dalam membaca di luar data. Kesalahan prosedural terjadi ketika siswa salah dalam memilih prosedur penyelesaian, menghitung, dan memprediksi. Oleh karena itu, pendidik perlu merancang strategi pembelajaran yang tepat untuk meminimalisir kesalahan yang dilakukan siswa dalam soal literasi numerasi pada model representasi grafik, seperti menerapkan soal literasi numerasi berbasis pembelajaran kontekstual.Kata kunci: kesalahan siswa, literasi grafik, literasi numerasi, sekolah dasar.