cover
Contact Name
Jurnal Tamaddun
Contact Email
jurnaltamadun@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
jurnaltamadun@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kota cirebon,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Tamaddun
ISSN : 23441917     EISSN : 25285882     DOI : -
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (ISSN 2528-5882) was published by the Department of History of Islamic Civilization Faculty of Ushuluddin, Adab and Da`wah IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Its mission is to disseminate the results of studies and research on the history, specifically Islamic Cultural History which includes science, theory, and historical concepts related to Islam and regional studies, Islamic civilization, Islamic intellectuals, Islamic culture and traditions. The manuscripts contained in this journal are the results of studies, research and literature review conducted by researchers, academics, and observers of Islamic Cultural History. This Tamaddun Journal is published twice in one year, July and December.
Arjuna Subject : -
Articles 189 Documents
Rekonstruksi Sejarah Perlawanan Sultan Matangaji melalui Naskah Babad Nurhata Nurhata
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.6858

Abstract

Banyak peristiwa masa lalu Cirebon yang belum terungkap yang darinya memunculkan banyak spekulasi. Satu diantaranya tentang sejarah Cirebon pada masa Sultan Sepuh V, Sultan Matangaji. Dengan menggunakan pendekatan filologi penelitian ini berusaha merekonstruksi sejarah Sultan Matangaji melalui naskah-naskah babad atau historiografi tradisional. Sultan Matangaji adalah tokoh kunci untuk memahami “sejarah  peteng” Cirebon pada awal abad ke-19. Perlawanan Sultan Matangaji terhadap Belanda dengan mengerahkan dua panglima perang, Raden Welang dan Raden Kertawijaya ke Batavia, menjadi titik balik bagi arah sejarah Cirebon di masa-masa berikutnya. Begitu banyak dampak yang diakibatkannya. Catatan kolonial menyebutkan sejumlah jabatan tidak lagi dibawah wewenang sultan Cirebon tetapi seorang residen. Sementara naskah babad menyebutkan luas kekuasaan Cirebon dibatasi menjadi 1000 pasagi.
Membangkitkan Jiwa Nasionalisme Generasi Millenial Dengan Mengurai Benang Sejarah Perjuangan Bangsa Indonesia varidlo fuad
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7234

Abstract

Abstract: Dewasa ini tingkat kepercayaan generasi millenial terhadap pemerintah semakin menurun. Hal tersebut mungkin terjadi karena belum adanya figur pemimpin dan tokoh bangsa saat ini yang dapat meneladani beberapa tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, seperti halnya Soekarno yang saat itu masih aktif sebagai Presiden pertama Republik Indonesia terkendala masalah ekonomi hingga akhirnya membuatnya untuk melelang salah satu peci kepunyaanya, seperti halnya Mohammad Hatta yang pantang tergoda dengan uang dan kekuasaan karena selalu memikirkan citranya sebagai seorang pemimpin dan tokoh publik, seperti halnya Mohammad Natsir yang terkenal sebagai pemimpin dan tokoh bangsa yang sedari awal selalu memilih untuk hidup sederhana karena berupaya untuk dapat memberikan suri tauladan yang baik bagi rakyatnya.
Preanger Stelsel: Kisah Tentang Bisnis Kopi Belanda di Tanah Cirebon-Priangan Syatori Syatori
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7292

Abstract

Pada hakekatnya, VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) didirikan dengan tujuan tidak lain kecuali berdagang. Demi kepentingan usaha dagangnya, hal yang paling esensial adalah upaya intervensi VOC terhadap penguasa lokal (raja dan bupati), pertama-tama lewat jalur politik dengan menggunakan kewenangan dan kekuasaan mereka. Lalu, meminjam tangan penguasa lokal itu untuk menguasai sektor-sektor ekonomi adalah pilihan yang paling masuk akal. Untuk kepentingan ini, karenanya politik yang dijalankan VOC adalah mengalihkan dan memindahkan kekuasaan para penguasa lokal dan loyalisnya kepadanya. Demikianlah, pengaruh yang mula-mula disemai lewat perjanjian dengan sultan-sultan Cirebon merupakan strategi pembukanya. Melalui perjanjian-perjanjian ini, di samping melakukan intervensi kebijakan politik, VOC juga mulai menguasai dan mendominasi sektor-sektor penting perekonomian Kesultanan Cirebon, seperti bea cukai, ekspor impor dan yang paling strategis adalah proses produksi dan penyerahan hasil produksi pertanian sebagai komoditas utama.
MAKNA RITUAL MAULIDAN BAGI MASYARAKAT BUNTET PESANTREN KECAMATAN ASTANAJAPURA KABUPATEN CIREBON Naila Farah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7262

Abstract

Maulid bermakna hari lahir. Belakangan istilah maulid digunakan untuk sirah Nabi SAW, karena, seperti telah dipahami, sejarah dimulai dengan kelahiran atau saat-saat jelang kelahiran. Sirah, atau sejarah hidup Rasulullah SAW, hal ini banyak menimbulkan sebuah nilai-nilai ritual yang berbeda dan unik dalam menciptakan sebuah identitas sosial ditengah-tengah masyarakat yang majemuk, sehingga penulis dapat menggambarkan satu tradisi maulidan di suatu daerah Pesantren Buntet.Korelasinya adalah nilai-nilai Tradisi, etnik, kultur, ukhuwah, toleransi, sosial dan lainnya yang bertendensi terhadap perkembangan Islam di Indonesia secara membumi. Dalam kajian Penelitian ini, penulis akan menggunakan pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif menurut pendapat Lexy Moeleong Adalah penelitian yang hasinya berupa data deskriptif melalui pengumpulan fakta–fakta dari kondisi alami sebagai sumber langsung dengan instrument dari penelitian sendiri.Berdasarkan beberapa pernyataan dari kalangan santri, kyai dan masyarakat setempat menanggapi tentang makna maulidan beragam pendapat yang diutarakan diantaranya, menurut sawal (santri) saya selalu mengikuti muludan di Masjid karena diperintahkan oleh kyai saya dan merasa lebih dekat dengan Nabi Muhammad SAW. Senada dengan penuturan diatas pula Misnen (Warga Buntet) merasakan hal yang sama dan sudah menjadi kewajiban untuk mengagungkannya. Sedikit berbeda ketika ditanyakan kepada Kyai Ahmad (tokoh Masyarakat) beliau memberikan pernyataan jauh lebih mendalam bahwa maulid Nabi Muhammad adalah gerbang untuk mendapatkan keridhaan Allah SWT yang bermuara pada nilai-nilai ketauhidan, keimanan, ketakwaan kita selama hidup di dunia.
Menaklukkan Malam: Perkembangan Konsumsi Kopi di Negara Usmani pada Periode Modern Awal Frial Ramadhan Supratman
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7081

Abstract

Kopi merupakan minuman yang sangat disukai pada hari ini. Namun, sedikit sekali para peneliti yang memfokuskan penelitian mengenai kopi, khususnya di negara-negara Muslim, seperti Negara Usmani. Setelah kopi pertama kali datang di Istanbul pada abad ke-16, kontroversi mengenai produk kopi itu sendiri dimulai. Abad ke-16 dan 17 menunjukan bahwa para sultan Usmani tidak selalu dapat menerima kopi sebagai produk yang halal. Makalah ini menunjukan dinamika konsumsi kopi di Negara Usmani pada periode modern awal. Penulis ingin mengetahui bagaimana konsumsi dan persepsi terhadap kopi di Negara Usmani. Untuk itu penulis menguraikan sejarah kemunculan kopi di Istanbul, relasi kedai kopi dengan penguasa Usmani hingga bisnis kedai kopi yang dikuasai oleh tentara Janisari. Dalam makalah ini penulis berargumen bahwa kopi mengalami perkembangan yang dinamis dari waktu ke waktu. Semakin lama kopi semakin disukai karena  keberadaan kedai kopi telah menyediakan sarana komunikasi yang efektif bagi masyarakat Usmani pada periode modern awal.
WACANA BELA ISLAM DAN KEBENCIAN STRUKTURAL (2016-2017) Musahwi Musahwi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7266

Abstract

Studi ini mengulas fenomena kebencian dari wacana ke struktur sosial dengan fokus pada wacana bela Islam 2016-2017. Kekuatan wacana bela Islam 2016-2017 tidak saja mendorong Basuki Tjahaja Purnama/Ahok ke penjara, tetapi juga mengeskalasikan kebencian melalui berbagai kekerasan yang meluas menggunakan simbol-simbol Islam. Agensi di sekitar wacana bela Islam memiliki peran penting, karena melibatkan figur/pemimpin yang menduduki kelas sosial elit dalam struktur keagamaan dan politik. Agensi wacana bela Islam meciptakan ketegangan, bersifat devaluatif, dan dimediasi oleh kebencian antar-kelompok. Untuk menghasilkan kajian yang mendalam, studi ini menggunakan metode kualitatif melalui critical discourse analysis (CDA) dengan berpijak pada perspektif teori dialektika agen dan struktur. Fenomena kebencian ditunjukkan dengan jelas melalui teks dan interaksi sosial di balik wacana bela Islam. Teks yang tersebar di media sosial mengandung kekerasan simbolik terhadap kelompok yang berbeda ideologi agama dan politik. Sementara dalam interaksi sosial, ditunjukkan oleh berbagai kekerasan langsung melalui aksi persekusi terhadap orang/kelompok yang dianggap menghina ulama/pimpinan mereka di sosial media. Fakta ini menunjukkan kebencian pada level yang akut membuncah menjadi kekerasan yang massif dan mewariskan mindset kebencial kolektif satu sama lain.
SYEKH NURJATI, ISLAMISASI DAN BASED RESEARCH SYSTEM: THE TURNING POINT FOR UIN SYEKH NURJATI CIREBON Anwar Nuris
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7321

Abstract

AbstrakSyekh Nurjati dianggap sebagai salah satu peletak awal proses Islamisasi di Cirebon. Kemampuannya dalam mensosialisasikan ajaran Islam dengan cara sinergisitas eksoterik dan esoterik agama Islam membuat Pangeran Walangsungsang dan Nyai Rara Santang memeluk agama Islam. Dalam tradisi keilmuan Islam, sinergisitas eksoterik dan esoterik agama merupakan aktifitas ilmiah antara syariah dan sufisme sebagaimana yang dilakukan oleh Imam al-Qusyairi dan Imam Abu Hamid al-Ghazali. Kemampuan Syeikh Nurjati ini menginspirasi penamaan lembaga pendidikan tinggi Islam di Cirebon melalui penisbatan nama menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon. Penisbatan nama Syekh Nurjati ini diharapkan mengambil inspirasi pola dan metode ilmiah yang digunakan oleh Syekh Nurjati dalam proses Islamisasi di Cirebon. Pada perkembangannya, IAIN Syekh Nurjati Cirebon sedang bermetamorfosa menjadi UIN Syekh Nurjati Cirebon. Dengan mengambil pola yang sama pada akarnya, UIN Syekh Nurjati Cirebon diharapkan mampu menjalankan Based Research System sebagaimana yang telah dipraktekkan oleh Syekh Dzat al-Khafi atau Datuk Kafi atau Syekh Idhofi Mahdi atau Syekh Nurjati. 
PERAN DAN PERKEMBANGAN PERKERETAAPIAN CIREBON BARAT PADA MASA HINDIA BELANDA Yana Maulana Firdaus; Dedeh Nur Hamidah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7238

Abstract

ABSTRAKPemerintah Hindia Belanda pada tahun 1870 mengeluarkan kebijakan perdagangan liberal, dimana modal-modal swasta mulai masuk ke Hindia Belanda. Hasil dari kebijakan tersebut adalah masuknya investasi di sektor industri perkebunan, salah satunya tebu. Sejalan dengan itu, dibangunlah transportasi darat kereta api yang pada mulanya untuk memfasilitasi distribusi produk industri tebu. Di wilayah Cirebon sendiri pembangunan jalur kereta dimulai pada tahun 1897, yakni dengan dibangunnya jalur Cirebon-Semarang, kemudian tahun 1901 dibangun jalur Cirebon-Kadipaten, serta tahun 1912 dibangun jalur Cirebon-Cikampek. Peran dari jalur-jalur baru di Cirebon Barat dalam sektor perekonomian antara lain adalah memberikan kelancaran proses produksi pabrik gula di wilayah Cirebon Barat. Selain itu, dalam peran sosial dari adanya jalur kereta di Cirebon Barat ini adalah memberikan akses mobilitas barang antar wilayah yang semakin lancar. 
Memahami Bentuk Gerakan Perlawanan Rakyat dalam Perang Kedongdong (1802-1818 M) Aah Syafaah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v8i2.7322

Abstract

AbstrakPenjajahan Belanda yang terjadi selama bertahun-tahun di atas tanah Cirebon mengakibatkan eksploitasi sumber daya alam dan manusia yang berimbas pada penderitaan yang berkepanjangan. Tentu menyisakan penderitaan yang berkepanjangan bagi rakyat. Melihat hal ini, para ulama Cirebon kemudian memassifkan gerakan sosial yang dibangunnya sebagai bentuk reaksi rasional rakyat untuk merebut kemerdekaan dan memperjuangkan hak-haknya atas dominasi dan penjajahan bangsa lain di atas tanah airnya sendiri. Selain tentu saja, hal ini juga dilakukan karena masyarakat sudah terlebih dahulu menyadari bahwa mereka tidak dilengkapi persenjataan yang lengkap dan canggih. Para ulama dalam hal ini memainkan peran sebagai tokoh sentral yang mampu menggerakkan kekuatan rakyat dan melakukan berbagai perlawanan terutama untuk memperjuangkan kesejahteraan rakyat di bidang keagamaan, politik, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Meski melibatkan elemen massa yang beragam mulai dari petani, pejabat keraton, dan para dalang wayang kulit, dengan bekal jihad yang terus didengungkan mendapatkan aksi balasan yang kemudian membuatnya dipenjara, diasingkan bahkan sampai dibunuh. Sementara pesantren-pesantren yang dibangun oleh para ulama ini juga mendapatkan bombardir dari pihak kolonial tersebut.
Sejarah Kesultanan Demak: Dari Raden Fatah Sampai Arya Penangsang Zuliani Putri
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/tamaddun.v9i1.8082

Abstract

Abstract: The Sultanate of Demak was founded in the late 15th century and was the first Islamic sultanate on the island of Java, after the Kediri kingdom attacked and destroyed the capital of the Majapahit kingdom in Trowulan by 1474. The Sultanate of Demak was led by a son from Brawijaya V with a daughter from Campa, namely Raden Fatah. This paper will discuss the formation of the Demak Sultanate until its collapse. The purpose of this research is to determine the process of the formation of the Sultanate of Demak until the process of its collapse. This article uses the library research method. Library research is a data collection technique by reviewing books, documents, notes, and various reports related to the problem to be solved. Demak is the first Islamic sultanate on the island of Java. Demak is the area given by Brawijaya V to his son Raden Fatah. Since Raden Fatah became the ruler, Demak also had a large port, which became a means of transportation for fishermen and trade, until this Sultanate became the first Islamic sultanate in Java. The Sultanate of Demak was founded by Raden Fatah in 1478. Keywords: Sultanate of Demak, Raden Fatah, Islam

Page 9 of 19 | Total Record : 189