Jurnal Tamaddun
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam (ISSN 2528-5882) was published by the Department of History of Islamic Civilization Faculty of Ushuluddin, Adab and Da`wah IAIN Sheikh Nurjati Cirebon. Its mission is to disseminate the results of studies and research on the history, specifically Islamic Cultural History which includes science, theory, and historical concepts related to Islam and regional studies, Islamic civilization, Islamic intellectuals, Islamic culture and traditions. The manuscripts contained in this journal are the results of studies, research and literature review conducted by researchers, academics, and observers of Islamic Cultural History. This Tamaddun Journal is published twice in one year, July and December.
Articles
189 Documents
Islam dan Paradoks (Budaya) Carok di Madura: Tinjauan Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi
Mawaidi Mawaidi;
Darmiyati Zuchdi
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.8410
Carok merupakan salah satu dari dua kearifan budaya yang dilestarikan di Madura. Kearifan budaya yang kedua yaitu kerapan sapi. Pandangan yang pertama tersebut cenderung urakan, nirmakna dalam konteks kebudayaan. Penelitian ini berusaha secara maksimal memberikan pemahaman secara teoretis filsafati keliru tentang tradisi carok sebagai tradisi orang Madura dengan memperoleh tempat terhormat dan istimewa. Penelitian ini merupakan studi pustaka menggunakan skripsi “Tradisi Carok Pada Masyarakat Madura Menurut Perspektif Teori Relativisme Moral” yang ditulis oleh Liberatus Pogolamum. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan menggunakan analisis konten. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek penelitian ini yang berasumsi bahwa carok merupakan tradisi dan budaya mengalami gagal interpretasi. Berdasar pada kegagalan interpretasi ini sehingga mengakibatkan wacana stereotip negatif dikonsumsi publik. Temuan pertama, kegagalan tersebut diawali dengan pendeksipsiannya dalam memaknai carok yaitu sebagai budaya. Kedua, dalam memaknai carok objek penelitian ini tidak mempertimbangkan aspek epistemologis. Ketiga, mengabaikan konteks nilai masyarakat Madura yang dikenal sebagai kaum sarungan.
PERADABAN ILMU ANDALUSIA : MASA PUNCAK DAN KEHANCURANNYA
iwan setiawan
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.8905
Andalusia is face from bright Muslim civilization in west region. If the researchers identified Islam as pasrt of eastern civilization, it should be correction. Andalusia as a part of history of Muslim civilization will show that the part of Islam in the west has a great gold of Islam history. This is the important of reading the past time for looking the future. The Andalusia Muslim civilization is not popular Muslim civilization in Baghdad era Al-Makmum for Muslim. It is needed as make writing toward the role of Muslim scientist in Andalusia. Between Baghdad in the east and Andalusia in the west constitutes the authentic prove of Muslim scientist civilization in the past time. A part of the past time, the writing about history of Andalusia knowledge is not just for romantic. Andalusia is a part of Muslim knowledge civilization tradition needs to be studied again. Studying on the making of knowledge civilization in Andalusia and study on the reasons decrease of the knowledge civilization in Andalusia. Keywords: Andalusia, Knowledge Civilization, Peak and Destruction
IDENTIFIKASI ASPEK ALAT DAN ARTEFAK KULTURAL DALAM DAKWAH SUNAN KALIJAGA
Elfara Hajjar Sujani;
Mahmud Arif
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.8640
Sunan Kalijaga is one of the famous and influential Wali Songo in Java. As a preacher, Sunan Kalijaga spread Islam from one area to another. The Islamization process was carried out by Sunan Kalijaga does not force people to abandon the culture and beliefs they have embraced, but is carried out with an interesting approach and the islamitation procces followed the customs that exist in the area. The cultural approach taken includes various aspects, ranging from music, vocal arts to fine arts. The da'wah carried out by Sunan Kalijaga on the island of Java has produced a lot of various cultural tools and artifacts that have an influence not only on Muslims, but also it becomes Indonesian cultural relics that are dissolved to this day. Puppets, gamelan, suluk, modifications of surjan to agricultural tools are tools that are a legacy of Sunan Kalijaga which are still easy to find. Mosques and tombs in the city of Demak become one of the pilgrimage destinations for Muslims, which shows that Sunan Kalijaga has a great influence to this day.
HISTORIOGRAFI ISLAM: TELAAH SEJARAH DALAM MUQADDIMAH AL-KAMIL Fi AL-TARIKH IBN ATHIR AL-JAZARI
Ahmad Zainuri
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.8934
Abstrak: Artikel ini akan menjelaskan tentang sebuah karya dari sejarawan terkemuka pada masa dinasti Zengid dibawah dinasti Seljuk, yakni Ibn al-Athir al-Jazari. Sejarawan yang muncul pada periode Islam klasik akhir dan menjelang pertengahan ini merupakan sosok yang telah melahirkan karya monumental pada bidang sejarah, yakni Al-Kamil Fi Al-Tarikh dan beberapa kitab lainnya. Fokus kajian ini ialah pada telaah karya Ibn Al-Athir dalam Muqaddimahnya. Yang akan penulis uraikan dengan menjelaskan biografi, karya Ibn Athir dan telaah karya Al-Kamil fi Al-Tarikh. Adapun metode yang penulis gunakan ialah metode historiografi historis. Artikel ini lebih menelaah daripada kajian historiografi dari Ibn Athir sendiri. Hasil kajian menunjukkan bahwa Al-Kamil fi Al-Tarikh merupakan karya yang monumental dalam kesejarahan Islam. banyak makna yang dapat diambil dalam tulisan agung dari Ibn Athir ini. Selain Ulama, ia sebagai sejarawan, sehingga nuansa tulisan sejarahnya penuh dengan khazanah keislaman, motivasi untuk menulis sejarah dan pelajaran apa yang bisa dipetik dibalik peristiwa sejarah yang terjadi, ini yang paling penting. Intinya bahwa sejarah ditulis harus menyeluruh, jangan terputus-putus, agar nampak bahwa sejarah itu selalu berkesinambungan, dan tidak dihitamkan atau dikaburkan, dihilangkan dalam periodesasi sejarah, tulislah apa adanya dan ambil ibrah-nya sebagai pelajaran hidup.
Sejarah Perawatan Rohani Islam Pada Masa Nabi Muhammad Tahun 570-632 Masehi
Asriyanti Rosmalina;
Tia Khaerunnisa
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.8803
Perawatan rohani Islam telah ada sejak pada masa periode kenabian Rasulullah Saw. Perawatan rohani islam praktekan oleh Rufaidah Al-Asalmiya dan Ayahnya Sa’ad As-salami ketika Rasulullah Saw hijrah dari Kota Makkah ke Kota Madinah. Penelitian kepustakaan ini dibuat berdasarkan data deskriptif tentang sejarah perawat islam. Penelitian ini mengkaji bagaimana sejarah perawatan rohani Islam pada masa Rasulullah Saw pada tahun 570-632 Masehi mulai pada sebelum peperangan, masa peperangan hingga pasca peperangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metode pengobatan dan perawatannya yang semula menggunakan metode Jahiliyyah yaitu dengan membaca mantra-mantra dan jimat-jimat menjadi metode yang berlandaskan pada Al-Qur’an dan anjuran Rasulullah Saw dengan do’a dan shalawat. Setelah banyak perubahan pada metode pengobatan dan perawatannya, Rufaidah meminta izin kepada Rasulullah untuk mendirikan sekolah perawat. Dengan mendirikan sekolah perawat, beliau memimpin dan mendidik para wanita untuk berkarir dalam dunia kesehatan. Pada saat peperangan terjadi, Rufaidah dan para perawat wanita berperan penting dalam proses peperangan, yaitu sebagai pihak medis yang membantu prajurit perang yang terluka, selain memberikan pertolongan, pengobatan dan perawatan medis, juga memberikan bimbingan rohani Islam agar pasien atau prajurit yang terluka senantiasa bersabar, ikhlas dan tawakal kepada Allah SWT atas sakit yang dideritanya.
Fase Dalam Gerakan Pembaharuan Islam di Minangkabau: Dari Reformis ke Modernis
Yelda Syafrina
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.9039
AbstrakArtikel ini membahas tentang gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau. Gerakan pembaharuan Islam di Minangkabau terjadi dalam tiga fase yakni fase pertama pada abad ke-18 yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo dari Koto Tua, fase kedua pada abad ke-19 yang digerakkan oleh tiga Haji berfaham Wahabi dan fase ketiga awal abad ke-20 oleh pemuka-pemuka agama berfaham modernis yang melakukan berbagai upaya pembaharuan atau modernisasi ke dalam institusi Pendidikan Islam. Artikel ini menggunakan metode sejarah mulai dari proses Heuristik (pengumpulan Sumber), Kritik terhadap sumber-sumber tertulis baik primer maupun sekunder, interpretasi dan penulisan. Artikel ini menyimpulkan bahwa (1), fase pertama gerakan pembaharuan yang dipelopori oleh Tuanku Nan Tuo dari Koto Tuo dilakukan dengan cara-cara yang persuasif dengan tujuan mengubah perilaku jahiliah Minangkabau, (2) Fase gerakan pembaharuan yang kedua terjadi lewat sejumlah tindakan kekerasan, bersifat memaksa dan berujung konflik antara kaum adat dan kaum Padri, dimana tujuan utamanya memurnikan ajaran Islam (3) fase ketiga bertujuan untuk mengubah berbagai perilaku bid’ah yang masih dipraktekkan dan pembaharuan ditempuh dengan melakukan modernisasi dalam sistem Pendidikan Islam. Tiga fase ini berperan penting dalam proses masuknya Islam sebagai identitas khas Minangkabau yang sangat identik dengan Islam dan masih dipertahankan hingga saat ini.Kata Kunci; Minangkabau, Gerakan Pembaharuan Islam, Identitas
Kajian Filologis Naskah Batak Panuratan Ni Poda Aji Mangalo Musu
Hidayani, Fika;
Pinem, Desy Natalia;
Ladyanna, Sonezza
Jurnal Tamaddun: Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.9403
Batak manuscript entitled Panuratan Ni Poda Aji Mangalo Musu is unique in its existence. Beside this manuscript was found only one, the text in it contains the word basmallah. The word basmallah was found in the word of mantra. This is show occurred religious acculturation of the Batak tribe when this manuscript was made. The manuscript, totally 76 pages, was written in Batak Toba script and language. Because there is only one manuscript, so it uses the diplomatic method in editing the script. This manuscript contains spells to protect oneself from enemies in the environment around the place of residence or outside the area of residence, as well as knowledge about the culture of the Batak people, such as habits in determining good and bad days, how to reject reinforcements, astrology predictions, and how to shoot the enemy well (mamodil).
Gerakan reformis di Tunisia : Studi Pemikiran Khaeruddin Pasya At-Tunisi
Hasbiyallah Hasbiyallah
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.9122
Tunisia merupakan salah satu negara yang berpenduduk mayoritas muslim di Afrika Utara. Negara ini memiliki peran yang sangat penting, terutama dalam penyebaran dan pengembangan agama Islam di Eropa karena secara geografis letaknya sangat strategis.Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode sejarah, yakni peneliti mengkonstruksi masa lalu dari objek yang diteliti dengan studi kepustakaan.Dalam sejarah Islam moderen di Tunisia, pembaruan pemikiran Islam dirintis oleh Khairuddin Pasya seorang budak Rusia yang setelah dibeli dari seorang bangsawan di Turki oleh Bey Ahmad, penguasa Tunisia masa itu. Gagasan-gagasan reformis Khairuddin terlihat ketiak ia menjabat sebagai pejabat tinggi di Tunisi seperti ketika menjadi Menteri Peperangan, Ketua Majelis Syura, Duta Besar di negara-negara Eropa, Ketua Komisi Keuangan hingga menjadi Perdana Menteri Tunisia.
Peranan K.H Anwar dalam Perkembangan Pesantren Nurul Islam Seri Bandung 1932-1959
syarifuddin syarifuddin;
Supriyanto Supriyanto;
Ajimiliansyah Ajimiliansyah;
Tedi Rizki;
Muhammad Fikri
Jurnal Tamaddun : Jurnal Sejarah dan Kebudayaan Islam Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v9i2.7554
This paper discusses the role of K.H Anwar in the development of the Nurul Islam Seri Bandung (1932). K.H Anwar's discussion regarding his process in building the Nurul Islam Pesantren Seri Bandung, Ogan Ilir, South Sumatra which originated from K.H Anwar's journey to study in various places in Ogan Ilir, Jambi to Mecca and Medina. Furthermore, from the beginning he preached in the village of Seri Bandung and held recitation or cawisan, until he planned to establish a boarding school which was realized in 1932 through a long process because licensing was very strict at that time by the Dutch colonial government. K.H Anwar is a scholar who plays a role in Islamic education in Ogan Ilir district, he has works which later became a reference for use in the Nurul Islam Seri Bandung Islamic boarding school. Pesantren Nurul Islam is one of the oldest Islamic boarding schools in South Sumatra which is currently 92 years old. In this paper, K.H Anwar focuses on building the Islamic Nuru pesantren such as the pesantren curriculum, writing Islamic boarding school books, the rules of the pesantren that he designed and is still being implemented. This paper uses the historical method with the object of research in the development of the Nurul Islam Seri Bandung (1932). The purpose of this research is specifically to examine the role of K.H Anwar in the development of the Nurul Islam Islamic Boarding School Series Bandung 1932-1959. The result of this research is the history of K.H Anwar's role in the development of the Nurul Islam Islamic Boarding School Series Bandung 1932-1959.
Jejak Moderasi Beragama di Kesultanan Aceh di bawah Pemerintahan Sultanah Safiatuddin
Gumilar Irfanullah;
Varidlo Fuad
Jurnal Tamaddun Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : IAIN Syekh Nurjati Cirebon
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.24235/tamaddun.v10i1.10572
This paper discusses the traces of religious moderation, inclusivicity and tolerant policies during the reign of the sultan Sri Tajul Alam Safiatuddin. Starting from the conflict and religious polemics in Aceh during the Iskandar Thani administration, who supported ar-Raniri's resistance to religious beliefs which he considered deviant, Safiatuddin fought them by issuing policies that led to the formation of a more tolerant, inclusive, and non-violent attitude. Safiatuddin did this by fully supporting moderate scholars such as Sheikh Abdur Rauf Singkel. This paper uses a theory about the effect of education on a person's level of tolerance and acceptences, which can trace the reasons behind Safiatuddin's policies in favor of tolerance and inclusivism. Using historical methods and literature studies, this study finds that after Iskandar Thani and ar-Raniri's return to his home country in India, Aceh's religious life is relatively harmonious and inclusive. Abdur Rauf Singkel wrote many books and essays that mediate polemic religious discourses. Abdur Rauf's efforts are fully supported by Safiatuddin, who also believes that a moderate attitude can maintain political stability and harmony in religious life in society despite various differences in religious interpretation.