cover
Contact Name
Sri Handayani Nofiyanti
Contact Email
handayaninofiyanti@unud.ac.id
Phone
+6281339409979
Journal Mail Official
jurnalbetatep@unud.ac.id
Editorial Address
Jl. Raya Kampus Unud No.2013, Jimbaran, Kec. Kuta Sel., Kabupaten Badung, Bali 80361
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian)
Published by Universitas Udayana
ISSN : -     EISSN : 25023012     DOI : https://doi.org/10.24843/JBETA.2025.v13.i02
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) memuat hasil penelitian di bidang teknik biosistem (biosystem engineering). Cakupan dari jurnal ini merentang dari aplikasi ilmu keteknikan untuk pertanian. Diantara bidang ilmu tersebut, yang menjadi fokus adalah Bidang Manajemen Keteknikan Pertanian, Teknologi Pascapanen khususnya produk Hortikultura, Rekayasa dan Ergonomika, Konservasi Sumber Daya Alam, serta khusus tentang aplikasi Instrumentasi dan Sistem kontrol dalam bidang pertanian.
Arjuna Subject : -
Articles 740 Documents
Pengaruh Variasi Teknik Irigasi dan Amandemen Biomassa Jerami terhadap Sifat Kimia dan Ketersediaan Hara Tanah Ni Made Dwi Tunjung Febriyanti; Sumiyati; I Putu Gede Budisanjaya; Ni Nyoman Sulastri; I Wayan Tika; I Putu Agus Arnadi; Muhamad Khoiru Zaki
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i01.p20

Abstract

Sustainable agriculture requires effective strategies for managing soil and water resources, one of whichis through the application of appropriate irrigation techniques and rice straw biomass amendments. Thisstudy aims to analyze soil nutrient content in variations of irrigation techniques and rice straw biomassamendments. The research was conducted at Subak Suala, Pitera Village, Penebel District, TabananRegency, using a Completely Randomized Design (CRD) consisting of two factors: variations inirrigation techniques (Ngenyatin, Flooding, and Alternate Wetting and Drying or AWD) and variationsin rice straw biomass amendments (burned rice straw and incorporated rice straw). Data were obtainedfrom treatments that were replicated five times, resulting in a total of 30 experimental plots. Parameterswere tested in the laboratory, and the data were analyzed using two-way analysis of variance (two-wayANOVA). The parameters analyzed included total nitrogen content, organic carbon, ammonium, andnitrate. The results of data analysis showed that the total nitrogen content ranged from 0.247% to0.412%, with an increase observed after the growing period in the incorporated rice straw-floodingtreatment. Organic carbon content ranged from 2.576% to 3.312%, with a decrease after the growingperiod noted in the incorporated rice straw-AWD treatment. Ammonium concentration ranged from4.551 to 8.248 ppm and decreased across all treatments, with the highest decline after the growing periodfound in the incorporated rice straw-Ngenyatin treatment. Meanwhile, nitrate concentration ranged from8.267 to 94.224 ppm, with a significant increase occurring in the burned rice straw-Ngenyatin treatment.Based on the analysis conducted, it can be concluded that the most effective treatment in maintaining181the balance of total nitrogen, C-organic, ammonium, and nitrate is incorporated rice straw (not burned)with the AWD (Alternate Wetting and Drying) irrigation technique.
Rancang Bangun Sistem Fertigasi Otomatis Berbasis Mikrokontroler dan IoT (Internet of Things) Yogi Anggayana; I Putu Gede Budisanjaya; Ida Bagus Putu Gunadnya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 1 (2025): April
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i01.p21

Abstract

Hydroponic systems can be a solution in producing more quality and sustainable vegetables. The useof nutrient solutions through fertigation systems is an important part of hydroponic systems. However,many of the control of the fertigation equipment is done manually, so workers often have difficulty incarrying out routines. The purpose of this research is to design and build an automated system onfertigation equipment using microcontroller technology and the Internet of Things. The researchmethod was carried out by designing a prototype of an automated fertigation system that involves thefunctional design and structural design of hardware and software for data processing. The results ofthe design of the automatic fertigation prototype using ESP 32 as a microcontroller, KS0429 TDSmeter sensor, DS18B20 temperature sensor, pH 4502C sensor, JSN-SR04T sensor as water levelmeter, RTC DS3231 SN as a timer, relay as an output switch, water pump as an output to increasenutrients and water, 16x2 LCD, buzzer and button as a monitoring and control system, and Blinksoftware as a monitoring system through smartphones. The performance test of the tool is carried outby means of sensor test and system test. Tests on TDS meter sensors, ultrasonic sensors, temperaturesensors, pH sensors show value of Sig. (2-tailed): 0.000 < 0.05, meaning there is a significantcorrelation, and Pearson Correlation = 1, indicating a perfect correlation, and the test results of thesystem with RMSE = 0.042, then the microcontroller-based and IoT-based automatic fertigationprototype can be declared to work well.
Estimasi Evapotranspirasi Potensial Kabupaten Tabanan Berdasarkan Suhu Permukaan Daratan Menggunakan Citra Landsat 8: Estimation of Potential Evapotranspiration in Tabanan Regency Based on Land Surface Temperature Using Landsat 8 Imagery Ni Nyoman Sulastri; Taruli Lasmaria Simanjuntak; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p10

Abstract

Evapotranspirasi Potensial (ETp) merupakan parameter iklim yang berguna untuk memperkirakan kebutuhan air tanaman sesuai kondisi cuaca setempat. Penentuan ETp di kabupaten Tabanan dilakukan mengingat Kabupaten Tabanan merupakan daerah yang memiliki luas lahan sawah terluas di Pulau Bali. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk menentukan Land Surface Temperature (LST) yang berada di Kabupaten Tabanan, Bali dan untuk mengestimasi nilai evapotranspirasi potensial estimasi evapotranspirasi potensial berdasarkan LST yang berada di Kabupaten Tabanan, Bali. Penentuan LST dan ETp dilakukan dengan menggunakan Google Earth Engine (GEE) dan perangkat lunak QGIS 3.28.11. ETp ditentukan dengan menggunakan metode Blaney Criddle. Data Citra Satelit yang digunakan adalah Citra Landsat 8 dari tahun 2018 – 2022 pada Bulan Mei – Oktober dengan penutupan awan kurang dari 20%. Sebaran LST bulan Mei - Oktober tahun 2018 sebaran untuk daerah bagian utara Kabupaten Tabanan yang meliputi Kecamatan Baturiti, sebagian Kecamatan Penebel dan sebagian Kecamatan Pupuan memiliki kisaran suhu 10°C-30°. Untuk daerah selatan Kabupaten Tabanan yang meliputi Kecamatan Kediri, Kecamatan Tabanan, Kecamatan Kerambitan, Kecamatan Selemadeg Timur, Kecamatan Selemadeg, dan Kecamatan Selemadeg Barat memiliki kisaran suhu 25°C-45°C. Peta distribusi spasial ETp pada bulan Mei-Oktober tahun 2018-2022 di Kabupaten Tabanan menunjukkan pola sebaran yang menyerupai pola sebaran LST. Daerah Pesisir Tenggara mempunyai ETp berkisar 5 mm/hari sampai lebih dari 6 mm/hari. Sedangkan pada daerah bagian utara Kabupaten Tabanan memiliki nilai ETp berkisar 4 mm/hari kurang dari 5 mm/hari. Dapat disimpulkan bahwa makin tinggi LST nilai ETp makin tinggi. Nilai rata-rata LST dan ETP adalah adalah 29,7 oC dan 5,32 mm/hari.
Modifikasi dan Efisiensi Pengeringan Jagung Pipil Menggunakan Alat Pengering Vertical Dryer dan Pengeringan Secara Konvensional: Modification and Efficiency of Drying Corn Husks using Vertical Dryer and Conventional Drying Made Febri Hadiputra; Ni Luh Yulianti; I Putu Gede Budisanjaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p11

Abstract

Salah satu tindakan yang dilakukan setelah panen jagung adalah pengeringan, yang dilakukan untuk mempertahankan kualitas jagung dan memperpanjang masa penyimpanan. Karena jagung tidak terpengaruh oleh cuaca, pengering mekanis vertikal adalah cara terbaik untuk mengeringkannya. Untuk memperbaiki kekurangan dari rancangan alat sebelumnya, modifikasi dilakukan. Kekurangan ini termasuk kehilangan energi yang signifikan karena bahan yang digunakan memiliki rongga dan kurang praktis karena tidak ada tempat untuk mengeluarkan jagung. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menciptakan dan mengubah perangkat pengering vertikal untuk proses pengerigan. Selain itu, untuk mengetahui seberapa efektif dan efisien pengeringan jagung menggunakan pengering mekanis dan pengering konvensional. Metode yang digunakan termasuk perubahan pada rancangan fungsional dan struktural unit kerangka, ruang pengering, ruang pemanas, alat kontrol suhu, dan sistem blower. Pada ruang pengering, material yang digunakan diubah untuk mengurangi kehilangan energi, dan ruang pengeluaran jagung ditambahkan untuk kinerja alat yang lebih efisien. Parameter yang diuji termasuk waktu pengeringan, kadar air awal dan akhir, kualitas jagung pipil setelah pengeringan, dan analisis efisiensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pengering mekanis vertical dryer mampu mengurangi waktu pengeringan dibandingkan dengan metode konvensional, dengan kadar air akhir mencapai 14%+ 1%bb yang memenuhi standar penyimpanan. Selain itu, kualitas jagung pipil yang dikeringkan menggunakan vertical dryer memiliki kualitas yang lebih bagus karena terhindar dari kontaminasi debu dan factor external. Alat pengering mekanis vertical dryer merupakan alternatif yang lebih efektif dan efisien untuk pengeringan jagung pipil dibandingkan dengan metode konvensional, terutama dalam hal waktu dan kualitas hasil pengeringan.
Karakteristik Larutan Mikroorganisme Lokal (MOL) Berbasis Kotoran Kelelawar: Charateristics of Bat Dung-Based Local Microorganism (MOL) Solution Irwansyah Irwansyah; Ida Ayu Gede Bintang Madrini; I Nyoman Sucipta; Hertiyana Nur Annisa; Mentari Kinasih
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p12

Abstract

Kotoran kelelawar kaya akan mikroba, termasuk bakteri pelarut fosfat yang mendukung ketersediaan fosfat bagi tanaman. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh konsentrasi dan lama fermentasi terhadap pembuatan larutan MOL dari kotoran kelelawar. Dalam penelitian ini, dilakukan perlakuan dengan dua faktor utama: konsentrasi kotoran kelelawar dan lama fermentasi. Kotoran kelelawar dilarutkan dalam air kelapa dan ditambahkan gula aren, dengan variasi konsentrasi 150 g, 300 g, 450 g, dan 600 gram. Fermentasi dilakukan selama 1 minggu, 3 - 5 minggu. Tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali, hingga total terdapat 36 unit percobaan. Parameter pengamatan meliputi Total Plate Count (TPC) dan Bakteri Asam Lactat (BAL). Data diperoleh dianalisis mengunakan analisis ragam Analysis of Varriance (Anova) dengan analisis uji F sesuai perlakuan pengolahan data dengan Software IBM SPSS Statistic versi 25. Hasil uji menyatakan bahwasanya kombinasi perlakuan terbaik untuk pembuatan MOL dari kotoran kelelawar adalah pada perlakuan konsentrasi 300 gram kotoran kelelawar dan lama fermentasi 5 minggu dengan jumlah koloni bakteri terbanyak sebesar 7.28 x 1010cfu/ml dan jumlah Bakteri asam laktat (BAL) sebesar 3.67 x 108 Penelitian ini memberikan informasi penting dalam mengoptimalkan pembuatan MOL dari kotoran kelelawar untuk meningkatkan kesehatan tanah dan pertumbuhan tanaman.
Residu Pestisida pada Tanah dan Kotoran Cacing di Lahan Pertanian Sayur Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan: Pesticide Residues in Soil and Worm Feces on Vegetable Farms in Baturiti District, Tabanan Regency I Gusti Ngurah Made Prabhaswara; Ni Luh Kartini; Anak Agung Istri Kesumadewi
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p13

Abstract

Pertanian konvensional identik dengan penggunaan agrokimia untuk meningkatkan produksi, namun intensitas pestisida dapat menekan populasi organisme tanah seperti cacing tanah. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi residu pestisida pada tanah dan kotoran cacing di lahan sayur organik dan konvensional di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, serta menganalisis korelasi sifat tanah dan karakteristik kotoran cacing terhadap residu pestisida. Sampel diambil dengan metode purposive sampling dan minipit (0,5 × 0,5 m), lalu dianalisis menggunakan Gas Chromatography untuk mendeteksi Klorpirifos dan Profenofos. Lahan sayur organik adalah lahan sayur yang tidak menggunakan bahan kimia dan telah tersertifikasi. Parameter tanah meliputi tekstur, berat volume, kadar air, pH, dan C-organik. Hasil menunjukkan residu yang terdeteksi hanya berasal dari Klorpirifos, yakni pada tanah Candikuning (0,1307 ppm) dan kotoran cacing Titigalar (0,0768 ppm), sementara Profenofos tidak terdeteksi. Tekstur tanah didominasi fraksi pasir dengan berat volume rendah (1,080– 1,285 g/cm³), kadar air 4,585–5,932%, pH 5,9–6,5, dan C-organik 2,332–3,013%. Residu Klorpirifos berkorelasi negatif sangat kuat dengan fraksi liat (r = –0,89) dan positif kuat dengan fraksi debu (r = 0,72). Residu pestisida klorpirifos terdeteksi pada tanah dan kotoran cacing di lahan pertanian sayur konvensional, dengan akumulasinya dipengaruhi oleh sifat fisik tanah, terutama fraksi debu dan liat. Temuan ini menegaskan pentingnya pengelolaan pestisida secara bijak untuk menjaga kesehatan tanah dan keberlanjutan organisme tanah.
Pemetaan Risiko Longsor Berbasis Slope, Aspect, dan Curvature pada Agroindustri Tahu (Studi Kasus di Desa Sambak, Magelang) Anak Agung Caresasha Adinda Dea; Ni Nyoman Sulastri; Ngadisih Ngadisih; Ida Bagus Ary Purnayama Parbawa; Komang Ratih Indah Pradnyani
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 14 No 2 (2026): INPRESS
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tanah longsor merupakan salah satu bencana geologi yang berpotensi menimbulkan dampak signifikan terhadap keberlanjutan kegiatan sosial dan ekonomi masyarakat, khususnya pada wilayah perbukitan. Desa Sambak, Kecamatan Kajoran, Kabupaten Magelang, merupakan kawasan dengan kondisi topografi curam yang berkembang sebagai sentra agroindustri tahu, sehingga memiliki tingkat risiko longsor yang perlu dikaji secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan memetakan risiko longsor sebagai dasar perencanaan mitigasi yang berkelanjutan bagi keberlangsungan agroindustri tahu di wilayah tersebut. Analisis dilakukan menggunakan data digital surface model (DSM) resolusi 0,45 m yang diolah untuk menghasilkan parameter kemiringan lereng (slope), arah hadap lereng (aspect), dan kelengkungan lereng (curvature). Metode frequency ratio (FR) digunakan untuk menentukan tingkat kerawanan dan bahaya longsor berdasarkan hubungan antara parameter topografi dan kejadian longsor, sedangkan variabel kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) dianalisis menggunakan interpolasi inverse distance weighted (IDW). Seluruh pengolahan data spasial dilakukan dengan perangkat lunak QGIS 3.18. Hasil analisis menunjukkan bahwa wilayah penelitian terbagi ke dalam tiga kelas risiko longsor, yaitu risiko rendah, sedang, dan tinggi. Sebagian besar lokasi agroindustri tahu berada pada kelas risiko sedang, sementara dua lokasi teridentifikasi berada pada kelas risiko tinggi. Kondisi ini mengindikasikan perlunya upaya mitigasi yang terarah guna menjaga keberlanjutan usaha agroindustri serta mengurangi potensi kerugian akibat bencana longsor.
Rancang Bangun Aplikasi Mobile Berbasis Kivy untuk Estimasi Biomassa Tanaman Microgreen: Design and Development of a Kivy Based Mobile Application for Microgreen Plant Biomass Estimation Nelson Titoes Atetamia Pinem; I Putu Gede Budisanjaya; Sumiyati Sumiyati; Ni Nyoman Sulastri
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p14

Abstract

Biomassa merupakan indikator penting pertumbuhan tanaman, untuk memprediksi nilai biomassa dapat menggunakan indeks luas daun. Indeks Luas Daun (ILD) adalah variabel yang menunjukkan kondisi daun tanaman yang sangat mempengaruhi proses biofisik tanaman, terutama dalam proses fotosintesis dan penyerapan radiasi matahari. Microgreen merupakan sayuran hijau berukuran kecil yang mengandung sumber vitamin dan mineral yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk merancang aplikasi mobile yang dapat mengestimasi nilai biomassa tanaman microgreen berbasis Kivy dan mendapatkan akurasi estimasi nilai biomassa yang telah dilakukan. Jenis microgreen yang digunakan pada penelitian ini adalah microgreen lobak, microgreen brokoli, dan microgreen pakcoy. Budidaya microgreen dilakukan sebanyak empat kali dengan teknik budidaya indoor menggunakan penyinaran LED pink. Budidaya I – III digunakan sebagai data latih dan Budidaya IV digunakan sebagai data uji. Aplikasi mobile estimasi biomassa tanaman microgreen dibuat dengan bahasa pemrograman Python, berbasis framework Kivy dan library OpenCV. ILD tanaman microgreen diperoleh dari proses pengolahan citra yang dirancang pada aplikasi. Perhitungan estimasi nilai biomassa tanaman microgreen pada aplikasi diperoleh dari persamaan regresi linier ILD dengan biomassa. Aplikasi mobile yang telah dirancang dalam mengestimasi biomassa microgreen diuji keakuratannya menggunakan metode Root Mean Square Error (RMSE). Persamaan regresi linier yang diperoleh yaitu y = 153.12x - 54.113 dengan koefisien determinasi sebesar 0,880 untuk biomassa basah dan y = 11.552x - 3.4614 dengan koefisien determinasi sebesar 0,585 untuk biomassa kering. Pengujian keakuratan aplikasi estimasi biomassa tanaman microgreen dengan menggunakan metode RMSE mendapatkan hasil yang baik. Diperoleh nilai RMSE yang cukup kecil yaitu 3,238 untuk estimasi biomassa basah dan 0,393 untuk estimasi biomassa kering.
Modifikasi Mesin Pencacah Sampah Organik dengan Kemiringan Sudut Hopper terhadap Karakteristik Hasil Pencacahan: Modification of Organic Waste Shredding Machine with Inclination of the Hopper Angle on the Characteristics of the Shredding Results Adelia Lany Diana; I Nyoman Sucipta; I Made Anom Sutrisna Wijaya
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin pencacah sampah organik digunakan untuk mengecilkan ukuran sampah organik seperti limbah pertanian dan limbah rumah tangga. Pada mesin pencacah di TPS 3R Punggul Hijau, ditemukan masalah kemacetan selama proses pencacahan yang disebabkan oleh sudut kemiringan hopper 40 derajat yang kurang optimal. Kemiringan yang tidak sesuai dapat mempengaruhi kelancaran aliran sampah organik dan kapasitas produksi mesin. Untuk mengatasi permasalahan ini, dilakukan modifikasi hopper dengan melebarkan lubang pemasukan dan memvariasikan sudut kemiringan hopper menjadi 50 derajat, 60 derajat, dan 70 derajat. Kapasitas berat ditentukan dengan mengisi hopper dengan sampah organik hingga batas maksimum lalu ditimbang. Modifikasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas kerja mesin dan memperlancar aliran sampah organik ke dalam ruang pencacahan. Hasil pengujian menunjukkan bahwa kapasitas produksi mesin setelah modifikasi berkisar antara 230 kg/jam hingga 406 kg/jam. Sebagai perbandingan, kapasitas pada sudut 40 derajat sebelum modifikasi adalah 274,5 kg/jam dengan efisiensi 97,74%. Setelah modifikasi, kapasitas tertinggi dicapai pada sudut 60 derajat yaitu 401,11 kg/jam dengan efisiensi 98,76%. Sebaliknya, kapasitas terendah terjadi pada sudut 70 derajat sebesar 225,42 kg/jam dengan efisiensi 95,52% serta sudut kemiringan 50 derajat menghasilkan sebesar 339,93 kg/jam dengan tingkat efisiensi 97,12%. Dapat disimpulkan bahwa sudut kemiringan hopper sebesar 60 derajat merupakan sudut optimal karena mampu memberikan kinerja mesin yang paling tinggi dan lebih efisiensi untuk mengurangi risiko penyumbatan.
Pengaruh Pelapisan Nanokitosan terhadap Perubahan Karakteristik Mutu Filet Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer sp) selama Penyimpanan: Effect of Nanokitosan Coating on Changes in Quality Characteristics of White Snapper Fish Filets (Lates calcarifer sp) during Storage I Wayan Widia; Anak Agung Ngurah Satya Purwananda; Ni Luh Yulianti
Jurnal BETA (Biosistem dan Teknik Pertanian) Vol 13 No 2 (2025): September
Publisher : Program Studi Teknik Pertanian dan Biosistem, Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Udayana, Badung, Bali, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/j.beta.2025.v13.i02.p15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pelapisan nanokitosan terhadap perubahan karakteristik mutu filet ikan kakap putih (Lates calcarifer sp.) selama penyimpanan pada suhu 4°C. Penelitian ini menerapkan metode Rancangan Acak Lengkap dengan perlakuan pelapisan nanokitosan pada konsentrasi 0% (kontrol), 0,1%, 0,3%, dan 0,5%. Filet ikan yang telah dilapisi kemudian disimpan selama 12 hari dengan pengamatan parameter mutu mencakup kadar air, tekstur, pH, total plate count (TPC), dan total volatile base (TVB). Hasil penelitian memperlihatkan bahwasanya pelapisan nanokitosan berpengaruh signifikan dalam mempertahankan mutu filet ikan kakap putih selama penyimpanan. Filet yang dilapisi nanokitosan memiliki kadar air yang lebih stabil, tekstur yang lebih baik, dan nilai pH yang lebih rendah dibandingkan kontrol. Selain itu, pertumbuhan mikroorganisme pembusuk juga terhambat, dibuktikan dengan nilai TPC dan TVB yang lebih rendah pada filet berlapis nanokitosan. Konsentrasi nanokitosan 0,5% memberikan hasil terbaik dalam menjaga kualitas filet selama penyimpanan. Edible coating berbasis nanokitosan efektif dalam memperpanjang umur simpan dan menjaga mutu filet ikan kakap putih.