cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
INTEGRASI ILMU AGAMA DAN SAINS: STUDI PENULISAN SKRIPSI DI UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA Saifudin Saifudin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 21, No. 1, Special Issue 2020
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v21i1.11650

Abstract

Integrasi ilmu di UIN Syarif Hidayatullah  Jakarta (UIN Jakarta) adalah mandat utama transformasi perubahan status IAIN menjadi UIN. Pemikiran dan gagasan ini menegaskan bahwa secara filosofis antara (ilmu) agama atau sains tidak ada pertentangan. Keduanya berwatak Islami karena keduanya bersumber dari Allah SWT, baik berupa wahyu maupun alam semesta. Oleh karena itu, sains tidak bebas nilai  dan tidak dikhotimis. Kendati demkian,  hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gagasan integrasi ilmu agama dan sains di UIN Jakarta belum terimplmentasi pada regulasi,  metode, petunjuk pelaksanaan (juklak) serta petunjuk teknis (juknis) dengan konsepsi atau narasi yang disampaikan UIN Jakarta. Sebanyak 45 skripsi di bidang sains yang dijadikan sample penelitian ini tidak ditemukan pemikiran atau model integrasi ilmu agama dan sains. Integrasi di UIN Jakarta hanya tampak pada kebijakannya, yaitu para Surat Keputusan Rektor. Masalah pokok yang dikaji dalam penelitian adalah bagaimana model, rupa atau bentuk implementasi integrasi ilmu agama dan sains dalam penulisan karya skripsi di UIN Jakarta.
IMPLEMENTASI PENDAYAGUNAAN ZAKAT DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI PRODUKTIF DI LAZISMU KABUPATEN DEMAK JAWA TENGAH TAHUN 2017 Sudarno Shobron; Tafrihan Masruhan; Muthoifin Muthoifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6340

Abstract

Zakah is a treasure worship that is believed to be able to overcome social and economic problems. Not just to meet the basic needs of the mustahiq Zakat has the ability to develop people's economy. To get the maximum results zakat institutions need to do a lot of new studies and breakthroughs. Lazismu of Demak utilizes zakat for the development of productive economy with the goal of creating jobs, reducing unemployment and poverty. This is what makes researchers interested in conducting research to find out what kind of zakah implementation in the development of productive economy as well as the economic development mustahik after the implementation of zakat as a productive economy. Because it includes field research researchers used the Phenomenological approach data collected through observation, documents,questionnaires and interviews. Then, the data was analyzed sequentially and interactively consisting of three stages, namely: 1) data reduction, 2) data presentation, 3) conclusion drawing or verification. The productive use of zakat in developing productive economy consisted of traditional and creative uses. Traditional economic productive use was realized by providing working tool to mustahiq. Creative economic productive was conducted by providing capital in from of pure grant to mustahiq, provide a capital loan in a very easy way, not burdening the mustahiq and invest zakat funds into the real business sector. The zakat institution will receive capital invested and benefit from the businesses, then the capital and benefits will be used for ummah advantages. From the findings, it can be known that some participants of productive economy were able to develop their business well. Some others were only able to meet their basic daily needs. While some more others were less trustworthy in using capital loan provided.Zakat adalah  ibadah maliyah yang mampu mengatasi masalah-masalah sosial dan ekonomi. Selain memenuhi kebutuhan pokok para mustahiq, zakat mampu mengembangkan perekonomian ummat. Untuk mendapatkan hasil maksimal tersebut, lembaga-lembaga zakat perlu banyak melakukan kajian dan terobosan-terobosan baru. Seperti LAZISMU Demak yang mendayagunakan zakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tujuan  menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran serta  kemiskinan.  Inilah yang mendorong diadakannya penelitian guna mengetahui seperti apa implementasi pendayagunaan zakat dalam pengembangan ekonomi produktif serta perkembangan ekonomi mustahiq setelah diimplementasikannya zakat sebagai ekonomi produktif. Karena termasuk  penelitian lapangan (field research), peneliti menggunakan pendekatan Phenomenologis, data dikumpulkan melalui     observasi, dokumen, angket dan wawancara, kemudian  akan dianalisis secara berurutan dan interaksionis yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1) Reduksi data, 2) Pernyajian data, 3)  Penarikan simpulan atau verifikasi.  Dari penelitian tersebut didapatkan hasil  bahwa bentuk pengembangan ekonomi produktif di LAZISMU DEMAK meliputi tradisional dan kreatif. Ekonomi  produktif  tradisional meliputi pembelian  alat kerja untuk mustahiq. Adapun ekonomi produktif kreatif melaui pemberian modal dalam bentuk hibah murni, memberikan pinjaman modal dengan cara yang sangat mudah, tidak membebani mustahiq dan menginvestasikan dana zakat ke sektor usaha nyata. Hasil investasi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mustahiq. Dengan cara ini sebagian peserta ekonomi produktif mampu mengembangkan usahanya dengan baik, sebagian lagi hanya mampu  memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan sisanya  kurang amanat dalam menggunakan pinjaman modal yang diberikan.
PENERAPAN SYARI’AH DALAM SISTEM PEMERINTAHAN NATION-STATE PERSPEKTIF HISTORIS DAN FIQH SIYASAH Rupi'i Amri
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 2, Desember 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i2.8115

Abstract

Abstract: The tendency to apply sharia to the state or government by some Muslims is a very interesting new phenomenon in many Muslim countries. Several Muslim countries, such as Indonesia, Pakistan, Jordan, Sudan, Egypt, Morocco, Kuwait and Iran are examples of countries where "Islamist" groups want to implement sharia into government. Of course this desire raises different views from Islamic figures, some support and some oppose it. This paper seeks to find answers to the problems that arise from the views of supporters and opponents of the Islamic state, with the core of the problem are:  (1) seeking and knowing the concept of Islam and Caliphate in the Islamic political system; (2) explaining the government system according to historical perspective; namely in the era of the Prophet Muhammad and Khulafa ar-Rasyidin; and (3) explaining the relationship between religion and state in the concept of siyasa fiqh. The conceptual framework used in this paper is that there are two important things to be achieved in politics, namely (1) politics as anything related to state administration; and (2) politics as all activities directed to seek and maintain power in society. In relation to this, there is often a "tension" between groups that want to implement the Shari'ah into the rules of government with groups that oppose it. If the desires of the two groups cannot be met, then there is no possibility of various acts of violence in a country, and can even lead to a coup against the current government. Some findings from this study are that (1) System of government in an Islamic perspective is not clearly stated in the Quran and Sunnah so that Islamic political thinkers disagree over what government system must be applied in a nation state; (2) In a historical perspective, the system of government in the time of the Prophet Muhammad was more concerned with the substance of Islamic values into the system of state government. This can be seen rules of the Madina Constitution, while the government of the Khulafa ar-Rasyidin used a system of power of autocracy and monarchic dynasty; (3) Islamic political thinkers differ in their views on the relation between religion and state in the concept of siyasa fiqh into three groups, namely (1) religion and state must be integrated and cannot be separated because the state is a political and religious institution; (2) religion and state are not related at all because the Prophet Muhammad was only an ordinary prophet like the previous prophet with the single task of inviting people back to noble life; (3) religions and state relate reciprocally and need each other. Abstrak: Kecenderungan untuk menerapkan syariah Islam ke dalam negara atau pemerintahan oleh sebagian orang Islam merupakan gejala baru yang sangat menarik di banyak negara Muslim. Beberapa negara muslim, seperti Indonesia, Pakistan, Yordania, Sudan, Mesir, Maroko, Kuwait dan Iran merupakan contoh negara-negara di mana kelompok-kelompok “Islamis”-nya ingin menerapkan syariah ke dalam pemerintahan. Tentu saja keinginan tersebut menimbulkan pandangan yang berbeda-beda dari tokoh-tokoh Islam, sebagian ada yang mendukung dan sebagian lagi menentangnya. Tulisan ini berusaha untuk mencari jawaban terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari pandangan para pendukung dan penentang  negara  syariah, dengan inti permasalahannya adalah : (1) mencari dan mengetahui konsep Islam dan Kekhalifahan dalam sistem politik Islam; (2) menjelaskan sistem pemerintahan dalam perspektif historis, terutama pada masa Nabi Muhammad dan Khulafa ar-Rasyidin, dan (3) menjelaskan hubungan agama dan negara dalam konsep fiqh siyasah. Kerangka konseptual yang dipergunakan dalam tulisan ini adalah bahwa terdapat dua hal penting yang hendak dicapai dalam politik, yaitu       (1) politik sebagai segala yang berkaitan dengan penyelenggaraan negara; dan (2) politik sebagai segala kegiatan yang diarahkan untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan dalam masyarakat. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, seringkali terjadi “ketegangan” antara kelompok yang ingin menerapkan syari’ah ke dalam aturan-aturan pemerintahan dengan kelompok yang menentangnya. Apabila keinginan dari kedua kelompok tersebut tidak dapat dipertemukan, maka tidak menutup kemungkinan akan terjadi berbagai tindak kekerasan dalam suatu negara, dan bahkan dapat menimbulkan kudeta terhadap pemerintahan yang sedang berjalan. Beberapa temuan dari peneletian ini adalah (1) Sistem pemerintahan dalam perspektif Islam tidak disebutkan secara jelas dalam al-Quran dan Sunnah sehingga para pemikir politik Islam berbeda pendapat tentang sistem pemerintahan apa yang harus diterapkan ke dalam sebuah negara-bangsa (nation-state); (2) Dalam perspektif historis, sistem pemerintahan pada masa Nabi Muhammad lebih mementingkan substansi nilai-nilai Islam ke dalam sistem pemerintahan negara. Hal ini dapat dilihat pada aturan-aturan yang tertuang dalam Piagam Madinah, sedangkan pemerintahan pada masa Khulafa’ ar-Rasyidin menggunakan sistem “autocratic power” (kekuatan autokrasi) dan a dynastic monarchy” (dinasti monarkhi); (3) Para pemikir politik Islam berbeda pandangan dalam menyikapi relasi agama dan negara dalam konsep fiqh siyasah menjadi tiga kelompok, yaitu pertama, agama dan negara harus terintegrasi dan tidak dapat dipisahkan sebab negara merupakan lembaga politik dan sekaligus keagamaan, kedua, antara agama dan negara tidak berhubungan sama sekali (terpisah) karena Nabi Muhammad hanyalah seorang Rasul biasa seperti halnya rasul-rasul sebelumnya, dengan tugas tunggal mengajak manusia kembali kepada kehidupan yang mulia, ketiga, agama dan negara berhubungan secara timbal balik dan saling membutuhkan.
PENGKADERAN ORANG TUA TERHADAP ANAK DI MUHAMMADIYAH: STUDI PADA KELUARGA DI PIMPINAN CABANG MUHAMMADIYAH CAKRU JEMBER Safrizal Muhammad Arifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 22, No. 2, Desember 2021
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v22i2.16672

Abstract

Meskipun peran kader orang tua terhadap anak sangat strategis dalam membentuk manusia yang baik dan berkualitas, penelitian tentang kader orang tua terhadap anak dalam organisasi Muhammadiyah sampai saat ini masih sedikit. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap proses pengkaderan orang tua terhadap anak dalam organisasi Muhammadiyah, tujuan pengkaderan dalam keluarga, hubungan pola asuh dalam keluarga dengan proses pengkaderan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif fenomenologis dengan orang tua dan anak dari 3 keluarga di Pimpinan Cabang Muhammadiyah Cabang Cakru Jember. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan diskusi kelompok terfokus yang dianalisis secara induktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengkaderan yang dilakukan oleh orang tua bervariasi bahkan dalam menerapkan pola asuh yang ditemukan bersifat lunak dimana orang tua menggunakan salah satu dari dua gaya asuh (gaya asuh campuran). Dengan kata lain, orang tua tidak semata-mata menerapkan salah satu pola asuh dalam mendidik anaknya menjadi kader aktif organisasi otonom Muhammadiyah. Tidak semua pola asuh yang diterapkan orang tua kepada anaknya bersifat negatif. Dalam situasi dan kondisi yang sama di mana orang tua ingin menunjukkan otoritasnya, gaya pengasuhan otoriter atau permisif dapat diterapkan. Dalam penelitian ini, partisipan berbagi pengalaman dalam proses pengkaderan Muhammadiyah dalam lingkup keluarga dan hambatan yang dialami keluarga selama terlibat aktif di Muhammadiyah. Temuan penelitian ini dapat menjadi referensi yang berguna dalam bidang Psikologi Pendidikan Islam dalam memahami peran orang tua sebagai faktor penting kader keluarga dalam organisasi Muhammadiyah.  
PENETRASI ISLAM PURITAN DI PEDESAAN: Kajian tentang Pola Kepengikutan Warga Majlis Tafsir Al-Quran Mutohharun Jinan
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 14, No. 2, Desember 2013
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v14i2.2011

Abstract

This paper discusses about the expansion of the MTA, as a puritan movement,in the countryside, with a sociological approach and a theory about the characteristicsof the purification. MTA is a purification movement, based on the Jama’ah and Imamateteachings. The implementation of the Imamate doctrine makes all followers of thepeasants, workers, and employees very obedient to a single leader. Their following iscaused by internal and external factors. The internal factors include the expertise of themissionary actors in dialogic preaching, the application of Imamate teaching, and socialsolidarity and brotherhood among the followers. The external factors included the moreopening chances for the Islamic missionary movements as the implications ofdemocratization. The relationship pattern between the elite and the followers is moreinfluenced by the charisma of the leader or authority positioned as an Imam to befollowed. The most prominent follower development pattern is that of sermons, whichcover general, branch, group (usrah), and special group sermons.Key words: Islamic puritanism, rural areas, Majlis Tafsir Al-Quran (MTA)Makalah ini membahas perkembangan Majlis Tafsir Al-Quran (MTA)sebagaigerakan puritan di pedesaan, dengan pendekatan sosiologis dan teori tentangkarakteristik gerakan purifikasi. MTA merupakan gerakan purifikasi yang berbasispada ajaran jamaah dan imamah. Pengikut dari kalangan petani, buruh, dan pegawaisangat taat kepada pemimpin tunggal. Kepengikutan mereka disebabkan faktor internaldan eksternal. Faktor internal meliputi kepiawaian aktor dalam berdakwah secaradialogis, penerapan ajaran imamah, dan ukhuwah atau solidaritas sosial antarpengikut.Faktor eksternal meliputi semakin terbukanya gerakan dakwah Islam sebagai implikasidari demokratisasi. Pola hubungan pengikut dan elite lebih dipengaruhi oleh kharismaatau kewibawaan pemimpin diposisikan sebagai imam yang wajib diikuti. Polapembinaan warga yang paling utama adalah melalui pengajian, yaitu pengajian umum,pengajian cabang, pengajian kelompok (usrah), pengajian gelombang khususi.Kata kunci: Islam puritan, pedesaan, Majlis Tafsir Al-Quran
DISTORSI SEJARAH ISLAM PADA MASA AL-KHULAFĀ AR-RĀSYIDŪN DAN DAULAH UMAYYAH (Tinjauan Kritis Buku Ajar Sejarah Kebudayaan Islam Madrasah Aliyah) Luthfi Romdhon Andri Permana
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5298

Abstract

Distortion in the history of Islam has been occured since the first codification of the history of Islam which supported by Shi’ites historian such as Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya and others. Distortion in modern era refers to hegemony of orientalism which has big influence and power in this field. Distortion was caused by religion, sect, money motive etc. This distortion spread from society to school. The distortion happened at Rashidun Caliphate’s time, which was started by rebellion toward Uṡmān. The rebelllion cause Uṡmān death. That killing has great implications; Jamal and Siffīn wars, Kharijites revolts, hatred from some groups toward Umayyad Caliphate and in other effects at ummah. This writing aims to find out a method in studying the history of Islam, distortion and its implications, different opinions between ṣaḥābat and Islamic view toward it. Author applied in writing this thesis bibliography method with historic-philoshopic approach from datas and evidences.  Based on datas and evidences, the author can conclude that methods at researching, writing and teaching history of Islam is very important to purify the history of Islam from distortion. Distortion means attempt to mislead datas or misinterpert intentionally or unintentionally. Distorsions have bad effects at Islam and ummah. If datas and histories are distorted, it will estrange people from Islam slowly which found out at some people and groups. Teaching history of Islam at schools which also distorted need to be totally reformed started from researching, writing and teaching method. The different opinions between ṣaḥābat because of the death of Uṡmān. Ṣaḥābat had different opinions about hastening or postponing qiṡās to Uṡmān murderers which cause Jamal and Siffīn wars. The implications of different opinions between ṣaḥābat have big influence in people creed toward ṣaḥābat from that day until now. It also causes hatred from some people and sects toward Umayyad Caliphate because Mu’āwiyah; founder Umayyad Caliphate has some different opinions with Ali-raḍiyallahu’anhuma- besides other hatred factors.  Distorsi sejarah Islam terjadi sejak masa awal penulisan sejarah Islam yang terutama dimotori oleh Syiah melalui periwayatan sejarawan seperti Abu Miḥnaf Luṭ bin Yahya dan lainnya. Pada masa sekarang terutama karena hegemoni orientalisme yang begitu kuat. Distorsi tersebut terjadi karena motif agama, sekte, materi dan lainnya. Hal tersebut menyebar di masyarakat hingga level sekolah. Distorsi tersebut terutama pada fase khulafaurrasyidin dengan pemberontakan terhadap Uṡmān hingga ia terbunuh yang berimplikasi panjang; perang Jamal dan Siffīn, pemberontakan Khawārij, kebencian sebagian kalangan kepada Daulah Umawiyyah dan efeknya yang lain di tubuh umat dalam banyak bidang. Penelitian ini bertujuan mengetahui cara orisinil dalam studi sejarah Islam untuk menangkal distorsi, distorsi dan dampaknya serta perselisihan diantara para ṣaḥābat dan pandangan Islam menyikapi perselisihan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian bibliografi dengan pendekatan historis-filosofis dari data yang didapatkan. Berdasar data dapat disimpulkan bahwa metode studi sejarah Islam penting dalam upaya menjaga kemurnian sejarah Islam dari distorsi. Distorsi itu sendiri bermakna upaya menghancurkan Islam terlepas sengaja atau tidak sengaja. Dampak distorsi berpengaruh pada Islam dan umat, ketika informasi dan sejarah yang diterima terdistorsi, hal itu akan menjauhkannya dari agama secara perlahan-perlahan sebagaimana yang terjadi pada sebagian kalangan. Pengajaran sejarah Islam di sekolah pun ikut terdistorsi yang menunjukkan urgensi perbaikan menyeluruh yang harus dimulai dari metode penelitian, penulisan dan pendidikan yang orisinil. Perselisihan antar ṣaḥābat dipicu kematian Uṡmān yang terzalimi. Mereka berbeda ijtihad antara menyegerakan atau menunda qiṡās yang menyebabkan terjadinya perang Jamal dan Siffīn. Dampaknya di umat terasa terutama dalam masalah akidah terhadap ṣaḥābat sejak itu hingga sekarang. Hal tersebut juga mempengaruhi pandangan sebagian kalangan terhadap Daulah Umawiyyah mengingat posisi Mu’āwiyah; pendiri Daulah Umawiyyah yang berselisih dengan Ali -raḍiyallahu’anhuma- disamping sebab-sebab kebencian yang lain.
PENERAPAN METODE UMMI DALAM PEMBELAJARAN AL-QUR’AN Didik Hernawan; Muthoifin Muthoifin
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 19, No. 1, Juni 2018
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v19i1.7751

Abstract

This study aims to describe and compare the implementation of Quran learning usingthe Ummi method, the results of student achievement in the application of Ummi method, the advantages and weakness of Ummi method in the ElementarySchool Daar El-Dzikir Sukoharjo and the Islamic Elementary School Integrated Insan Kamil Karanganyar. This research is included in qualitative research by describing the data collected as the scope of research and the field as a place of research (field research). The nature of this study is more in the direction of comparative study research with data collection techniques in the form of interviews that are validated by observation, and documentation. The results of research from this study are the application ofUmmi method in learning of the Quran at SDU Daar El-Dzikir and SDIT Insan Kamil by using ten pillars that have been formulated by the Ummi Foundation. The ten Pillars are goodwill management, teacher certification, stages of good and right, clear and measurable targets, consistent mastery learning, adequate time, proportional teacher and student ratios, internal and external controls, progress reports of each student and a reliable coordinator. The application of the ten pillars of Ummi method at SDU Daar El-Dzikir and SDIT Insan Kamil is different in determining targets, adding training time (driling), teacher and student ratios, student progress reports, and internal controls. The results of student achievement in the application of Ummi method are measured from students who have passed the exam by completing the reading material. Students are able to read Quran with tartil and fasahah. SDU Daar El-Dzikirhas graduated 89 students for three examinations. While SDIT Insan Kamil has passed 87 students for two examinations. The advantages of Ummi method are qualitybased systems, systematic stages, continuous material, and strict control. The weakness ofUmmi method is needed a lot of teachers, a long time and a large cost.Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan membandingkan pelaksanaan pembelajaran al-Qur’an dengan menggunakan metode Ummi, hasil pencapaian siswa dalam penerapan metode Ummi, kelebihan dan kekurangan metode Ummi di Sekolah Dasar Unggulan Daar El-Dzikir Sukoharjo dan Sekolah Dasar Islam Terpadu Insan Kamil Karanganyar. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya danlapangan sebagai tempat penelitiannya (field research).Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi dengan teknik pengumpulan data berupa wawancara yang divalidasi dengan observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini adalah penerapan metode Ummi dalam pembelajaran al-Qur’an di SDU Daar El-Dzikir dan SDIT Insan kamil dengan menggunakan sepuluh pilar yang telah dirumuskan oleh Ummi Foundation yaitu goodwill manajemen, sertifikasi guru, tahapan baik dan benar, target jelas dan terukur,mastery learning yang konsisten, waktu memadai , rasio guru dan siswa yang proporsional, kontrol internal dan eksternal, progress report setiap siswa dan koordinator yang handal.Penerapan sepuluh pilar metode Ummi di SDU Daar El-Dzikir dan SDIT Insan Kamil berbeda dalam penentuan target, penambahan waktu latihan (driling), rasio guru dan siswa, progress report siswa, dan kontrol internal. Hasil pencapaian siswa dalam penerapan metode Ummi diukur dari siswa yang telah dinyatakan lulus ujian dan melaksanakan khataman dengan menyelesaikan jilid 1 sampai jilid tajwid sehingga menguasai tartil dan fasahah. SDU Daar El-Dzikir telah meluluskan 89 siswa selama tiga kali khataman. Sedangkan SDIT Insan Kamil sudah meluluskan 87 siswa selama dua kali khataman. Kelebihan metode Ummi yaitu sistem yang berbasis mutu, tahapan yang sistematis, materi yang kontinu, dan kontrol yang ketat. Kelemahan metode Ummi yaitu membutuhkan guru yang banyak, waktu yang lama dan biaya yang besar.
KRITIK TERHADAP EPISTEMOLOGI UNIVERSAL DECLARATION OF HUMAN RIGHTS: PERSPEKTIF ISLAM Afdal Afdal; Waston Waston
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 16, No. 2, Desember 2015
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v16i2.1845

Abstract

Since established, Universal Declaracion of Human Rights (UDHR) upheldas a global value by all the countries in the world. UDHR through the UN as a referenceas a common standard for measuring the level of success of a country in upholdinghuman rights. How this study focus on the implications of the secular epistemologyagainst the substance of the Universal Declaration Of Human Rights? and How doesIslam look at epistemology Universal Declaration Of Human Rights? To answer thesequestions used the data of literature with a philosophical approach as research methodsand using several analytical tools such as interpretation, induction and deduction,internal coherence, holistika and description. Results from this study indicate that thesecular epistemology epistemology UDHR as the foundation material implicationsfor cargo. Substance of the UDHR can be translated very freely and without limitvalues mengabaiakan even religiosity. Humans are considered as central, source anddestination at the same time the fi nal orientation of each human behavior. Religionand God are not regarded as something sacred, but only considered as a complement tohuman life into the realm of free privatization adopted or not by each individual. Such aview is contrary to Islam. Islam holds that religion and God is something that is sacredand can not be separated from every facet of human life. God is central, as well as sourceand destination end orientation every human behavior.Keywords: epistemology; human rights; the Islamic human rights.
KADERISASI MUHAMMADIYAH DALAM ASPEK SOSIAL DI AMBARAWA PRINGSEWU LAMPUNG Nihayati Nihayati; Faza Miftakhul Farid
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 20, No. 1, Juni 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v0i0.8946

Abstract

An organization that want to exist needs qualified human resouces because it can strengthen the organiztion and become a leadership connector.  Muhammadiyah is an organization that needs qualified human resources called militant cadre. Muhammadiyh generation is necessary because without it, Muhammadiyah  will become weak organization. The problem happened is the difficulty in generating militant cadre in Muhammadiyah. From the beginning, Muhammadiyah  has Al Maun spirit and become one of the imlementations that Muhammadiyah is social movement. Based on the problem mentioned, it is necessary to disclose the extent to which Muhammadiyah genertion in social aspect. Then, this study used descriptive qualitative method and the data gained from branch leader and assembly chairman of LazisMu, Dikdasmen, and Tabligh. The result of this study is appropriate with social theory such social act, cooperation between assembly in social activities and be able to find social consensus / social agreement that generates  militan and less mlitant  Muhammadiyah cadre.Abstrak: Sebuah organisasi yang ingin terus eksis perlu memiki Sumber Daya Manusia berkualitas, karena SDM yang berkualitas akan memperkuat organisasi dan siap menjadi penyambung estafet kepemimpinan. Muhammadiyah merupakan sebuah organisasi yang memerlukan SDM berkualitas, ini disebut sebagai kader militan. Kaderisasi Muhammadiyah sebuah keniscayaan yang perlu dilakukan oleh Muhammadiyah, tanpa kaderisasi Muhammadiyah akan menjadi organisasi yang keropos. Permasalahan yang terjadi adalah sulitnya melahirkan kader-kader militan di Muhammadiyah. Muhammadiyah sejak awal berdirinya telah memiliki spirit al-Ma’un dan ini menjadi salah satu implementasi bahwa Muhammadiyah adalah gerakan sosial. Dari permasalahan tersebut, perlu diungkapkan sejauh mana kaderisasi Muhammadiyah dalam aspek sosial. Selanjutnya, dalam penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan mengambil data dari Pimpinan Cabang dan Ketua Majelis LazisMu, Dikdasmen, dan Tabligh. Hasil dari penelitian ini sesuai dengan teori sosial yaitu tindakan sosial, bekersamanya antar Majelis dalam melakukan kegiatan sosial mampu menghasilkan konsensus sosial/kesepakatan sosial yaitu melahirkan kader muhammadiyah yang militan dan kurang militan.  
DERADIKALISASI AGAMA MELALUI PENDIDIKAN MULTIKULTURAL-INKLUSIV (Studi pada Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo) Rohmat Suprapto
Profetika: Jurnal Studi Islam Vol. 15, No. 2, Desember 2014
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v15i02.2001

Abstract

Lately religious life in Indonesia experienced a fairly loud dynamics with theemergence of many cases of religious radicalism background. This has resulted in lossof lives wasted and physical damage to the building. But more horrible is the breakdownof social relations between the nation and the erosion of social capital of trust betweenone another. Though the government has taken various measures such as theestablishment of BNPT, Detachment 88 anti-terror legislation and government regulationon the prohibition of blasphemy/desecration of religion. However, this step does notreduce the percentage of religious radicalism. Even more days of religious radicalismincreasingly fertile. Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo Central Java have developedand internalized models of religious education curriculum-based multicultural inclusivismin order to counteract the movement of religious radicalism. The curriculum is a set ofvalues that are as straight as implemented by students, such as living together,understand each other differentness, diversity of teaching. The students are taught to live in peace, side by side with each other, in the middle of the variance differences exist between them. In addition, the value Uswah Khasanah (good role models) from Kyai and the Ustadz/Theacer of the main pillars in the internalization efforts multiculturalinclusivism values in Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo.Keywords: deradicalised of religion; pesantren; multicultural-inclusiv.Akhir-akhir ini kehidupan beragama di Indonesia sangat dinamis denganmunculnya berbagai kasus yang berlatar belakang radikalisme keagamaan. Radikalismekeagamaan telah mengakibatkan ribuan nyawa melayang dan kerusakan fisik yangluarbiasa. Tetapi yang lebih mengerikan adalah jalinan hubungan dan kepercayaanantarwarga sebagai modal social mengalami erosi yang cukup dalam. Pemerintah telahmengambil berbagai langkah seperti pembentukan BNPT, Densus 88, undang-undanganti-teror dan peraturan pemerintah tentang larangan penghujatan / penodaan agama.Namun, langkah ini tidak mengurangi persentase radikalisme agama. Semakin lamaradikalisme agama semakin subur. Pesantren Imam Syuhodo Sukoharjo Jawa Tengahtelah mengembangkan dan menginternalisasikan model kurukulum agama berbasisinklusivisme multikultural untuk menangkal gerakan radikalisme agama. Kurikulummerupakan seperangkat nilai-nilai yang disusun dan diterapkan oleh siswa, sepertihidup bersama, saling memahami keperbedaan satu dengan yang lain, dan keragamanmengajar. Para siswa diajarkan untuk hidup dalam damai, berdampingan satu samalain, di tengah-tengah ragam perbedaan diantara mereka. Selain itu, nilai UswahKhasanah (teladan yang baik) dari Kyai dan Ustadz menjadi pilar utama dalam upayainternalisasi nilai-nilai multikultural-inklusivisme di Ponpes Imam Syuhodo Sukoharjo.Kata kunci: deradikalisasi agama; pesantren; multikultural-inklusif.