cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota surakarta,
Jawa tengah
INDONESIA
Articles 473 Documents
MODEL PENGUATAN SEKOLAH MADRASAH UNTUK MELAYANI SISWA BERKECERDASAN TINGGI MELALUI IMPLEMENTASI PEMBELAJARAN BERBASIS SISTEM KREDIT SEMESTER (SKS) supriyanto, eko
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5294

Abstract

By services regular of education, so become accomplish service for gifted student ignore. It has been nesecerry streghtening the Madrasa institution for competent give of serve through diversivication of learning so that gifted student avoid the underachievement and potential of inovaton and productie them not lost. one of method of empowering to the Madrasa institution through implementation of semester credit system that have capacity to follow of character and learning style of gifted students. Methode of the research used R&D and method of gathering data with interview method. Data analysis with folw analysis. Final result of this research is conversion of packet curriculum method to SKS and application of curriculum based SKS method special for gifted SKS. Research location in Madrasa Amanatul Ummah at Pacet Mojokerto east Java. Model of pocket curriculum convertion appreciated 1.88 hours  and model of proposing of curriculum based SKS using duration time about 4 semester with long time have been instruction 4 months. SKS that taken every semester on everage as many as 40 SKS. For accomplish of curriculum applied compacting curriculum to discovery essential courses.  Dengan layanan pendidikan yang regular, maka layanan untuk siswa cerdas menjadi terabaikan. Diperlukan penguatan kelembagaan Madrasah untuk mampu melayani melalui diversifikasi layanan belajar agar siswa cerdas tidak mengalami underachievement dan potensi inovatif dan produktifnya hilang. Satu cara untuk menguatkan Madrasah melalui penerapan sistem kredit semester yang mampu mengikuti karakter dan irama belajar siswa cerdas.Metode penelitian menggunakan metode R&D dan metode pengumpulan data menggunakan metode interview. Analisis data menggunakan analisis mengalir. Hasil akhir penelitian ini adalah menemukan model konversi kurikulum paket kedalam SKS dan model penerapan kurikulum berbasis SKS khusus siswa berkecerdasan tinggi, lokasi penelitian di Madrasah Amanatul Ummah Pacet Mojokerto.Model konversi kurikulum paket dihargai 1.88 jam dan model penyusunan kurikulum berbasis SKS menggunakan durasi waktu 4 semester dengan 4 bulan kegiatan belajar. SKS yang ditempuh setiap semester rata-rata 40 SKS. Untuk keterlaksanaan kurikulum dilakukan pemampatan kurikulum untuk menemukan materi esensial.
KINERJA GURU BERSERTIFIKASI DALAM MENINGKATKAN MANAJEMEN MUTU PENDIDIKAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH MUHAMMADIYAH SUDUNG KEDUNGTUBAN BLORA TAHUN 2015 Shobron, Sudarno; Suyanto, Suyanto
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2100

Abstract

The performance of school teachers be one of the important factors in improving theschools quality. Certified teachers in Ibtidaiyah Elementary School of Muhammadiyah SudungBlora include planning and implementation of education quality development has been carriedout effectively and efficiently. It is characterized by the realization of the development of theimplementation of learning and learning outcomes in accordance with the vision and missionof the madrassa. support Factor in improving education quality management are 1) Availabilityof adequate learning media and support ongoing learning activities; 2) The interest andenthusiasm of students is increasing in participating in learning activities; 3) Preparation ofteachers in teaching is increasing; 4) The climate in the classroom learning environment moreconducive; 5) There is full support of the school community, society, and government; 6) Suppliedfacilities for picking up the students to and from school by teachers. Inhibiting factors inimproving the quality of education management in MI Muhammadiyah Sudung are 1) Lackof facilities to support the library and its contents; 2) Many teachers who are still miss match(not in accordance with the latest science education qualifications); 3) Lack of infrastructureeg. UKS room, and laboratory, so it is still a hard time in learning practices.Keywords: teacher performance; certification; management quality; education.Abstrak: Kinerja guru disekolah menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkanmutu sekolah. Guru bersertifikasi di Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Sudung KabupatenBlora meliputi perencanaan dan pelaksanaan pengembangan mutu pendidikan telahdilakukan secara efektif dan efisien. Hal ini ditandai dengan terwujudnya pengembanganpelaksanaan pembelajaran dan hasil pembelajaran sesuai dengan visi dan misi madrasah. Fakorpendukung dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan ialah 1) Tersedianya mediapembelajaran yang memadai dan menunjang berlangsungnya kegiatan belajar mengajar; 2)Minat dan semangat siswa semakin meningkat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran; 3)Persiapan guru dalam pembelajaran semakin meningkat; 4) Iklim lingkungan belajar dalamkelas yang semakin kondusif; 5) Adanya dukungan penuh dengan warga sekolah, masyarakat,dan pemerintah; 6) Disediakan fasilitas antar jemput siswa saat berangkat dan pulang sekolaholeh guru-guru. Faktor penghambat dalam meningkatkan manajemen mutu pendidikan di MIMuhammadiyah Sudung ialah 1) Kurangnya fasilitas pendukung perpustakaan beserta isinya;2) Tenaga pengajar masih banyak yang miss match (tidak sesuai dengan kualifikasi ilmupendidikan terakhir); 3) Kurangnya sarana prasarana misalnya ruangan UKS, dan laboratorium, sehingga masih kesulitan saat praktek pembelajaran.Kata Kunci: kinerja guru; sertifikasi; manajemen mutu; pendidikan.
PENGARUH HAFALAN AL-QUR’AN DAN INTENSITAS SHOLAT TAHAJUD TERHADAP PRESTASI BELAJAR MATA PELAJARAN QUR’AN-HADIS Awaliah, Sayidatun Wihardina; Hasan, Moh. Abdul Kholiq; Anshori, Ari
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6339

Abstract

The aim of the compiling of the study was to find out and explain the academic matters, was to find out how big the effect of memorizing al-Qur’an and the intentity of tahajud prayer toward academic achievement of Qur’an Hadis either collectively or partially. The study was quantitative with education as its scope. Rather it used the combination of library and field research as its research place. The collecting data used questionnaire and documentation. The validation of the research instrument by analizing items was counted with correlation formula ‘Product Moment’, and the reliability was counted by formula Alpha Cronbach. The technique of analizing data to examine hypothesis was correlation analysis technique of Product Moment and technique double regression two predictors. The result of the study showed that significance level 5% was acquired by the value of t count of either memorizing al-Qur’an or intentity of tahajud prayer was 0,182 and 0,579, whereas the value of t table was 2,026. Since t count < t table, it can be inferred that neither memorizing al-Qur’an nor intentity of tahajud prayer has significant effect toward academic achievement of Qur’an Hadis. In addition, based on the result of the study, the test value of F count was 0,389 and based on the table, the value of F table was 3,245. Since F count < F table, the conclusion was that there was no significant effect of memorizing al-Qur’an and intentity of tahajud prayer on academic achievement of Qur’an Hadis collectively. Based on the analizing, the researcher found the other factor that could influence students academic achievement was motivation, either motivation of memorizing al-Qur’an or tahajud prayer.Disusunnya penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menjelaskan hal-hal yang terkait dengan problem akademik, yaitu:mengetahui seberapa besar pengaruh hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud baik secara bersama-sama atau parsial terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif dengan pendidikan sebagai ruang lingkup penelitiannya dan menggabungkan kepustakaan (library research) dan lapangan (field research)sebagai tempat penelitiannya.Metode pengambilan data menggunakan angket dan dokumentasi. Validitas instrument penelitian dilakukan dengan analisis butir hitung dengan rumus korelasi product moment. Reliabilitas instrument dihitung dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach. Teknik analisis data yang dipakai untuk menguji hipotesis adalah teknik analisis korelasi Product moment dan teknik regresi ganda 2 prediktor.Hasil penelitian menunjukkan dengan taraf signifikan 5% diperoleh nilai t hitung hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud secara berurutan sebesar 0,182 dan 0,579, sedangkan  t tabel 2,026.  Karena  t hitung < t tabel  maka dapat disimpulkan bahwa  baik hafalan al-Qur’an maupun intensitas salat tahajud tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap prestasi belajar Qur’an Hadis. Kemudian berdasar hasil penelitian diperoleh nilai uji F hitung sebesar  0,389 dan berdasar tabel diperoleh nilai F Tabel sebesar 3,245. Karena F hitung < F tabel  maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat pengaruh yang signifikan secara bersama sama antara hafalan al-Qur’an dan intensitas salat tahajud terhadap nilai mata pelajaran Qur’an Hadis. Berdasarkan analisis yang dilakukan, peneliti menemukan faktor lain yang bisa mempengaruhi prestasi belajar santriwati, yaitu motivasi. Baik motivasi menghafal al-Qur’an ataupun motivasi salat tahajud.
AHLU KITAB MENURUT SAYYID QUTHB DALAM TAFSIR FI ZILAL Al-QUR’AN Mustakim, Heru
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5299

Abstract

The destination that Allah created human being is to whorship to Allah as an instruction and explanation about whorship. Then Allah sent down his Qur’an and delivered his Prophet as conveyars of the role of the Allah and the lost Kitab that has been sent down to Muhammad SAW as the instruction and figure for the moslems people untill the end of time. The meeting among Islam and Christian and Jew has been running since the birth of Islam in Jazeera. The first century of Masehi, in tht meeting the holy Qur’an is a holy book for moslems took its possision as the corrector for the holy books before. Especially the holy book that has been brought by christians, it’s called Al Kitab. The problems about Ahlu Kitab (Jew and Christian) are very important to be explained, because these problems impact to our aqidah, whorship, relationship many kinds of aspect of life for moslems, beside that the meaning of Ahlu Kitab who is Ahlu Kitab is still cuarreled by ulama, especially still cuarreted by ulama, that this kitab is only for Jew and Christian or there is still group out of them that include in them. Sayyid Qutb is controversi Mufassir among moslems and far ikhwaanul Muslimin. Sayyid Qutb is a figure that was loved by Moslems and as an inspirator for them but in another way the thought of Sayyid Qutb was given comment by ulama’ because of trouble understanding the verse of Holy Qur’an, and some deviation in his aqidah, especially about takfir to the people that have different understanding. After his death Sayyid Qutb’s ideology doesn’t lose away and decrease, in other hand it develope more not only in Egypt but spread to all of countries in the world, finally fondamentalist movement appeared. So that the writter wanted to analyze about the Ahlu Kitab  depended on Sayyid Qutb’s book, called Tafsir fie dhilail Qur’an to be applied in Indonesia. The research method that used by the writter is analysist description with library research, this research about Sayyid Quthb’s thought which spreaded in many creation of writting that written became the book that written by someone or many other people. Ahlu Kitab depended on Sayyid Quthb are Jew and Christian generally, the meaning of that statement Sayyid Quthb didn’t limit only for Israel scion (Ya’kub) but all of people who have ideologist as Jew and Christian ideologist, so that they are called Jew and Christian. Depended on Sayyid Quthb, Ahlu Kitab are infiedels politheist. Including people that have religion except Ahlu Kitab and the religions except Islam was still considered as infidel untill they believed in Muhammad and Al Qur’an. The research of this thesis is still about describing generally so that it still needs analysis deeply and in detail. In order to make new knowledge that can be guide for moslem in communication among them and not moslems.  Tujuan Allah SWT menciptakan manusia adalah untuk menyembah kepada-Nya. Kemudian Allah SWT menurunkan kitab suci al-Quran dan mengutus nabi-Nya sebagai penyampai kabar tentang peran Allah SWT dan Kitab yang hilang yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW sebagai instruksi dan gambaran untuk orang-orang muslim sampai akhir zaman. Pertemuan antara Islam, Kristen, dan Yahudi telah berjalan sejak lahirnya Islam di Jazeera pad abad pertama Masehi, al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam berfungsi sebagai penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Terutama kitab yang telah dibawa oleh orang-orang Kristen (al-Kitab). Masalah Ahlu Kitab (Yahudi dan Kristen) sangat penting untuk dijelaskan, karena masalah ini berdampak pada aqidah dan berbagai aspek kehidupan umat Islam. Sayyid Qutb adalah seorang Mufassir di kalangan umat Islam, ia merupakan sosok yang sangat dicintai serta sebagai inspirator bagi umat Islam. Akan tetapi, di sisi lain, ia juga sering dikritik oleh para ulama lain, karena dianggap terlalu sulit dalam memahami tafsir-tafsirnya. Setelah kematiannya, ideologi Sayyid Qutb tidak hilang dan menurun, di sisi lain ia lebih berkembang tidak hanya di Mesir tapi menyebar ke semua negara di dunia, akhirnya gerakan fundamentalis muncul. Sehingga penulis ingin menganalisis tentang Ahlu Kitab berdasarkan pada buku Sayyid Qutb, yang disebut Tafsir fi dilalil Qur'an untuk diterapkan di Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskripsi analitik, jenis kepustakaan. Hasil penelitian adalah, bahwa Ahlu Kitab yang berpedoman pada Sayyid Quthb adalah orang Yahudi dan Kristen pada umumnya, artinya Sayyid Quthb tidak membatasi hanya untuk bani Israel (Ya'kub), tetapi semua orang yang memiliki ideologi Yahudi dan Kristen mereka dipanggil Yahudi dan Kristen. Berdasarkan pada Sayyid Quthb, Ahlu Kitab adalah anti politisi. Termasuk orang-orang yang beragama kecuali Ahlu Kitab dan agama-agama kecuali Islam masih dianggap sebagai kafir sampai mereka percaya kepada Muhammad dan al-Qur'an. Penelitian tesis ini masih membahas secara umum sehingga masih memerlukan analisis secara mendalam dan secara rinci. Untuk mendapatkan pengetahuan baru yang bisa menjadi panduan bagi umat Islam dalam berkomunikasi di antara mereka dan dan juga dengan umat non Islam.
PEMIKIRAN MOHAMMAD ILYAS TENTANG PENYATUAN KALENDER ISLAM INTERNASIONAL Amri, Rupi’i
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2096

Abstract

The object of this study is Mohammad Ilyas’s concept of the unification of InternationalIslamic calendar. The Method of analysis is descriptif-analysis. The results of this researchshow that Mohammad Ilyas’s concept of the unification of International Islamic Calendarbased on the hisab of the crescent visibility and the International Lunar Date Line (ILDL).The Ilyas’s criteria of the crescent visibility use two parameter, i.e. geocentric relative altitudeand relatif azimut. The application of Mohammad Ilyas’s concept of the crescent visibility asthe unification of International Islamic calendar can’t accepted by Indonesia Moslem. Thisproblem is caused by the difference criteria between Indonesia Moslem (Indonesia ReligiousAffair) of the crescent visibility and Ilyas. Ilyas’s concept of International Lunar Date Line isalways change every month. This condition is cause the difference in the beginning of the dayon the first month in the region of the country.Keyword: unification, International Islamic calendar, crescent visibility.Abstrak: Umat Islam sampai saat ini masih berbeda-beda dalam menentukan awal bulankamariah. Perbedaan ini mengakibatkan perbedaan pula dalam memulai peribadatan-peribadatantertentu, yang paling menonjol ialah perbedaan dalam memulai puasa Ramadan, IdulFitri, dan Idul Adha. Perbedaan penetapan awal bulan tersebut membuat para tokoh falakdan astronomi bekerja keras untuk memikirkan upaya penyatuan kalender Islam, baik tingkatnasional maupun internasional. Salah satu tokoh yang gigih memperjuangkan upaya penyatuankalender Islam Internasional adalah Mohammad Ilyas. Penelitian ini menunjukkanbahwa konsep pemikiran Mohammad Ilyas tentang Kalender Islam Internasional bertumpupada hisab imkan ar-rukyah (crescent visibiliy/visibilitas hilal) dan Garis Tanggal KamariahAntar Bangsa (International Lunar Date Line). Kriteria visibilitas hilal Ilyas menggunakankombinasi dua parameter, yaitu parameter ketinggian relatif geosentrik (geocentric relativealtitude) dan azimut relatif (relative azimut). Kriteria visibilitas hilal yang digunakan olehIlyas adalah: (1) Beda tinggi Bulan-Matahari minimum agar hilal dapat teramati adalah 4°jika beda azimut Bulan-Matahari lebih dari 45°. Jika beda azimutnya 0°, maka beda tinggi Bulan-Matahari harus lebih dari 10.5°, (2) Terbenamnya Bulan sekurang-kurangnya 41 menitlebih lambat daripada terbenamnya Matahari dan memerlukan beda waktu yang lebih besaruntuk daerah yang lintangnya tinggi, (3) Hilal harus berumur lebih dari 16.5 jam bagi pengamatdi daerah tropis dan lebih dari 20 jam bagi pengamat di daerah yang lintangnya lebihtinggi. Aplikabilitas pemikiran Mohammad Ilyas tentang kriteria visibilitas hilal (crescentvisibility) sebagai upaya penyatuan kalender Islam Internasional sampai saat ini belum dapatditerima oleh umat Islam di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh perbedaan kriteria visibilitashilal yang dipakai oleh umat Islam di Indonesia (Kementerian Agama RI) dengan kriteriaIlyas. Garis Tanggal Kamariah Antar Bangsa (International Lunar Date Line) yang digagasIlyas juga selalu berubah-ubah setiap bulan sehingga seringkali menimbulkan perbedaan haridalam memulai bulan baru di suatu daerah atau negara.Kata Kunci: penyatuan; kalender Islam Internasional; visibilitas hilal.
CIVIC EDUCATION AT MUHAMMADIYAH HIGHER EDUCATION: DEVELOPMENT STUDY OF HAND BOOK OF MENUJU KEHIDUPAN YANG DEMOKRATIS DAN BERKEADABAN Suidat, Suidat; Husaini, Adian; Saefuddin, Didin; Mujahidin, Endin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6296

Abstract

Civic education is one of the basic courses that must be taken by every student at the College. The regulation of the course is based on the mandate contained in the law on the National Education System. Through Civic Education courses, the students can be directed national personality, that is how they love their homeland Indonesia, being a democratic, civilized, tolerant and so on. Muhammadiyah through the Council of Higher Education, Research and Development of Muhammadiyah head quarter published a textbook on Civic Education with the title Civic Education toward a Democratic and Civilized Life. The book became a staple in reference Civic Education Course in Universities of Muhammadiyah (PTM). However when elaborate on the Indonesian ideology or, in the book does not contain the formulation history of state basic ideology which was done by the founding fathers. Also how the role and Islamic thought figures who participated in formulating the state basic ideology be part of the material that was duly presented in the book. It is important that students who study in PTM to know and understand the history and struggle of Islamic figures in formulating the basis of the state and the dynamics that occurred at that time. So that their knowledge is complete and in understanding the Pancasila as the state basic ideology of Indonesia. Ki Bagus had very important role in the Committee for Indonesian Independence (PPKI) experienced of dead lock about the change of first principle of Pancasila, and there was serious debate and dynamic. Likewise, the role and thought of Kasman Singodimedjo was also important on the basis state in both the trial PPKI, as well as in the Constituent Assembly. Perpsektif Kasman about Pancasila based on Islam became important after the implementation of 1945 Constitution and Presidential Decree July 5th 1959. The role of Abdul Kahar Mudzakkir as a witness to the history of the struggle of Muslims cannot be neglected; especially Mudzakkir included in the Committee of Nine which develops the basic state eventually became the Jakarta Charter and accepted unanimously by BPUPKI. Furthermore, in the Constituent Assembly Mudzakkir remain committed to make Islam as the basis of the state, where the Constituent Assembly is the foundation of the momentum of the second volume formulation. The core of the Civics book is how the problem of state ideology especially Pancasila can be described in a comprehensive, complete and not partial. Including the relationship between the Jakarta Charter and the Constitution 1945. Other matters concerning aspects of citizenship is derived and the meaning of ideology or basic state. Therefore, this paper presents the role and thought of Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, and Abdul Kahar Mudzakkir become material development of Civic Education in the book of Civic Education toward a Democratic and Civilized Life.Pendidikan Kewarganegaraan merupakan salah satu mata kuliah dasar yang mesti ditempuh oleh setiap mahasiswa dalam studinya di Perguruan Tinggi. Ketentuan adanya mata kuliah ini berdasarkan amanat yang tertuang dalam undang-undang tentang Sistem Pendidikan Nasional. Melalui mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan ini mahasiswa diarahkan dapat berkepribadian nasional, yaitu bagaimana mereka cinta tanah air Indonesia, bersikap demokratis, beradab, toleran dan lain sebagainya. Muhammadiyah melalui Majelis Pendidikan Tinggi, Penelitian dan Pengembangan (Diktilitbang) Pimpinan Pusat Muhammadiyah (PP Muhammadiyah) menerbitkan satu buku teks tentang Pendidikan Kewarganegaraan (Civic Education) dengan judul Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban. Buku ini menjadi referensi pokok dalam Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM). Akan tetapi ketika menguraikan tentang ideologi atau dasar negara Indonesia pada bagian yang membahas tentang “Membangun  Identitas Nasional”, tidak memuat bagaimana sejarah perumusan dasar negara yang dilakukan para founding fathers. Bagaimana pemikiran tokoh-tokoh Islam seperti Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir tidak menjadi bagian dalam materi yang sepatutnya disajikan dalam buku tersebut. Hal ini penting agar mahasiswa mengetahui dan memahami sejarah dan perjuangan tokoh-tokoh Islam dalam merumuskan dasar negara serta dinamika yang terjadi saat itu. Sehingga pengetahuan mereka menjadi utuh dan tidak parsial dalam memahami Pancasila sebagai dasar negara Indonesia. Peran Ki Bagus sangat penting ketika Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) mengalami deadlock soal perubahan sila pertama dasar negara Indonesia. Demikian juga pemikiran Kasman Singodimedjo tentang dasar negara baik dalam sidang PPKI, maupun dalam sidang Konstituante. Perpsektif Kasman tentang Pancasila yang berbasis pada Islam menjadi penting setelah diberlakukan kembali UUD 1945 dengan lahirnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Demikian juga pemikiran Abdul Kahar Mudzakkir sebagai saksi sejarah perjuangan umat Islam tidak bisa dilupakan begitu saja, Abdul Kahar Mudzakkir termasuk dalam Panitia Sembilan yang bertugas menyusun dasar negara yang pada akhirnya menjadi Piagam Jakarta. Dalam Sidang Konstituante Mudzakkir tetap komitmen menjadikan Islam sebagai dasar negara, di mana Sidang Konstituante adalah momentum perumusan dasar negara jilid kedua. Inti dari buku PKn adalah bagaimana masalah ideologi negara khususnya Pancasila dapat dijelaskan secara komprehensif, utuh dan tidak parsial. Termasuk hubungan antara Piagam Jakarta dan UUD 1945. Oleh karena itu disertasi ini membahas pemikiran Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, dan Abdul Kahar Mudzakkir menjadi bahan pengembangan materi Pendidikan Kewarganegaraan dalam buku ajar Pendidikan Kewarganegaraan Menuju Kehidupan yang Demokratis dan Berkeadaban.  
METODE PEMBELAJARAN TAḤFĪẒ AL-QUR’AN DI MADRASAH ALIYAH TAḤFĪẒ NURUL IMAN KARANGANYAR DAN MADRASAH ALIYAH AL-KAHFI SURAKARTA Suryono, Suryono; Anshori, Ari; Muthoifin, Muthoifin
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5295

Abstract

Madrasah Aliyah (MA) is an educational institution under the ministry of religion affair that have special features to deliver next-generation learners become knowledgeable, proficient in science and morality. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta, both these madrassas have a role in educating students, families and the nation by organizing educational programs with the national curiiculum, ministry of religion affairs and the flagship program in the form of taḥfīẓ al-Qur'an. This study was a qualitative research to describe the data collected as the scope of its research and field as a place of research (field research). The nature of this research more towards research comparative studies, since the object of research comparing the learning method taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Analyzed is done by way of organizing data. The data collected by using documentation, observation and interviews. All data that has been collected by a variety of techniques organized, sorted, grouped and categorized so you can find an appropriate theme taḥfīẓ method of learning the al-Qur'an at MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar and MA al-Kahfi Surakarta. Researchers concluded that the method applied in teaching taḥfīẓ al-Qur'an in MA Taḥfīẓ Nurul Iman there are seven methods, namely: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, linking verses with meaning and kitābah, and its implementation has been effective and efficient. Whereas in MA al-Kahfi Surakarta there are five methods, namely: juz'i, jama’, simā’i, tasmī’, and muraja'ah. The operation has been effective but not efficient. Then bring up a comparison that in target taḥfīẓ al-Qur’an  in MA Taḥfīẓ Nurul Iman are more than the target MA al-Kahfi, MA Taḥfīẓ Nurul Iman methods applied more than in MA al-Kahfi and the views of the value produced both have been equally effective, MA Nurul Iman has been efficient while MA al-Kahfi has not been efficient. Madrasah Aliyah (MA) merupakan sebuah lembaga pendidikan di bawah kementerian agama yang memiliki ciri khusus untuk mengantarkan peserta didik menjadi generasi yang berwawasan luas, cakap dalam keilmuan dan berakhlak mulia. MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta, kedua madrasah ini memiliki peran dalam mencerdaskan peserta didik, keluarga dan kehidupan bangsa dengan menyelenggarakan program pendidikan dengan kurikulum pendidikan nasional (diknas), kementerian agama (kemenag) dan program unggulan berupa Taḥfīẓ al-Qur’an. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kualitatif dengan menjabarkan data-data yang terkumpul sebagai ruang lingkup penelitiannya dan lapangan sebagai tempat penelitiannya (field research). Sifat dari penelitian ini lebih ke arah pada penelitian studi komparasi, karena objek penelitian membandingkan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Data-data dikumpulkan dengan menggunakan teknik dokumentasi, observasi dan wawancara. Semua data yang telah dikumpulkan dengan berbagai teknik diatur, diurutkan, dikelompokkan dan dikategorikan sehingga dapat ditemukan tema yang sesuai dengan metode pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman Karanganyar dan MA al-Kahfi Surakarta. Peneliti menyimpulkan bahwa Metode yang diterapkan dalam pembelajaran taḥfīẓ al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman terdapat tujuh metode yaitu: juz’i, simā’i, tasmī’, murāja’ah, jama’, mengaitkan ayat dengan maknanya dan kitābah, serta pelaksanaannya sudah efektif dan efisien. Sedangan di MA al-Kahfi Surakarta terdapat lima metode yaitu: juz’i, jama,’simā’i, tasmī’, dan  murāja’ah. Adapun pelaksanaannya sudah efektif akan tetapi belum efisien. Kemudian memunculkan perbandingan bahwa target hafalan al-Qur’an di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada target di MA al-Kahfi, metode yang diterapkan di MA Taḥfīẓ Nurul Iman lebih banyak dari pada di MA al-Kahfi dan dilihat dari nilai yang dihasilkan keduanya sudah sama-sama efektif, MA Nurul Iman sudah efisien sedangkan MA al-Kahfi belum efisien.
STUDI DESKRIPTIF KINERJA DOSEN DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA Aly, Abdullah
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 1, Juni 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i01.2101

Abstract

Entering the age of 56, UMS still need to make improvements and development inthe learning process. For the sake of improvement and development, this study was conductedin order to map the performance of UMS lecturer in lesson plan, in the implementation oflearning and in the evaluation of learning outcomes. Based on non-experimental descriptivestudy of the survey form, by questionnaire, review of documents, and FGD, the study foundthree important findings. First, UMS lecturer has a good performance in lesson planning. Second,UMS lecturer’s performance in the implementation of the learning process has not beenentirely good, because they are not using a variety of learning methods. Third, UMS lecturer’sperformance in the evaluation of learning outcomes is quite good. By the three findings abovecan be said that the performance of UMS lecturer in the learning process nearly meet the liabilitycomponent required by Law on Teachers and Lecturers in 2005 and has been referred tothe PP 19 on National Education Standards (NES) in 2005.Keywords: Lecturer’s Performance; Law on Teachers and Lecturers; the National Standards;Student Centered Learning (SCL).Abstrak: Memasuki usianya ke-56, UMS masih harus melakukan perbaikan dan pengembangandalam proses pembelajaran. Untuk kepentingan perbaikan dan pengembangan tersebut,studi ini dilakukan dengan tujuan untuk memetakan kinerja dosen UMS dalam prencanaanpembelajaran, kinerja dosen UMS dalam pelaksanaan pembelajaraan, dan kinerja dosen UMSdalam evaluasi hasil pembelajaran. Berdasarkan studi deskriptif non-eksperimental berbentuksurvei, dengan metode angket, telaah dokumen, dan FGD, studi ini menemukan tiga temuanpenting. Pertama, dosen UMS memiliki kinerja yang baik dalam perencanaan pembelajaran.Kedua, kinerja dosen UMS dalam pelaksanaan proses pembelajaran belum sepenuhnya baik,karena belum menggunakan metode pembelajaran yang beragam. Ketiga, kinerja dosen UMSdalam evaluasi hasil pembelajaran cukup baik. Dengan tiga temuan di atas dapat dikatakanbahwa kinerja dosen UMS dalam proses pembelajaran selama ini hampir memenuhi komponenkewajiban yang diminta oleh UU Guru dan Dosen Tahun 2005 dan telah mengacukepada PP No. 19 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) Tahun 2005.Kata kunci: Kinerja Dosen; UU Guru dan Dosen; Standar Nasional Pendidikan; StudentCentered Learning (SCL).
IMPLEMENTASI PENDAYAGUNAAN ZAKAT DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI PRODUKTIF DI LAZISMU KABUPATEN DEMAK JAWA TENGAH TAHUN 2017 Shobron, Sudarno; Masruhan, Tafrihan
Profetika Jurnal Studi Islam Vol, 18. No, 1 Juni 2017
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v18i1.6340

Abstract

Zakah is a treasure worship that is believed to be able to overcome social and economic problems. Not just to meet the basic needs of the mustahiq Zakat has the ability to develop people's economy. To get the maximum results zakat institutions need to do a lot of new studies and breakthroughs. Lazismu of Demak utilizes zakat for the development of productive economy with the goal of creating jobs, reducing unemployment and poverty. This is what makes researchers interested in conducting research to find out what kind of zakah implementation in the development of productive economy as well as the economic development mustahik after the implementation of zakat as a productive economy. Because it includes field research researchers used the Phenomenological approach data collected through observation, documents,questionnaires and interviews. Then, the data was analyzed sequentially and interactively consisting of three stages, namely: 1) data reduction, 2) data presentation, 3) conclusion drawing or verification. The productive use of zakat in developing productive economy consisted of traditional and creative uses. Traditional economic productive use was realized by providing working tool to mustahiq. Creative economic productive was conducted by providing capital in from of pure grant to mustahiq, provide a capital loan in a very easy way, not burdening the mustahiq and invest zakat funds into the real business sector. The zakat institution will receive capital invested and benefit from the businesses, then the capital and benefits will be used for ummah advantages. From the findings, it can be known that some participants of productive economy were able to develop their business well. Some others were only able to meet their basic daily needs. While some more others were less trustworthy in using capital loan provided.Zakat adalah  ibadah maliyah yang mampu mengatasi masalah-masalah sosial dan ekonomi. Selain memenuhi kebutuhan pokok para mustahiq, zakat mampu mengembangkan perekonomian ummat. Untuk mendapatkan hasil maksimal tersebut, lembaga-lembaga zakat perlu banyak melakukan kajian dan terobosan-terobosan baru. Seperti LAZISMU Demak yang mendayagunakan zakat untuk pengembangan ekonomi produktif dengan tujuan  menciptakan lapangan pekerjaan, mengurangi pengangguran serta  kemiskinan.  Inilah yang mendorong diadakannya penelitian guna mengetahui seperti apa implementasi pendayagunaan zakat dalam pengembangan ekonomi produktif serta perkembangan ekonomi mustahiq setelah diimplementasikannya zakat sebagai ekonomi produktif. Karena termasuk  penelitian lapangan (field research), peneliti menggunakan pendekatan Phenomenologis, data dikumpulkan melalui     observasi, dokumen, angket dan wawancara, kemudian  akan dianalisis secara berurutan dan interaksionis yang terdiri dari tiga tahap, yaitu: 1) Reduksi data, 2) Pernyajian data, 3)  Penarikan simpulan atau verifikasi.  Dari penelitian tersebut didapatkan hasil  bahwa bentuk pengembangan ekonomi produktif di LAZISMU DEMAK meliputi tradisional dan kreatif. Ekonomi  produktif  tradisional meliputi pembelian  alat kerja untuk mustahiq. Adapun ekonomi produktif kreatif melaui pemberian modal dalam bentuk hibah murni, memberikan pinjaman modal dengan cara yang sangat mudah, tidak membebani mustahiq dan menginvestasikan dana zakat ke sektor usaha nyata. Hasil investasi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk mustahiq. Dengan cara ini sebagian peserta ekonomi produktif mampu mengembangkan usahanya dengan baik, sebagian lagi hanya mampu  memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari dan sisanya  kurang amanat dalam menggunakan pinjaman modal yang diberikan.
THE LEGALITY OF INTERRELIGIOUS MARRIAGE IN THE PERSPECTIVE OF ISLAMIC LAW AND INDONESIAN POSITIVE LAW Ichsan, Muchammad
Profetika Jurnal Studi Islam Vol. 17, No. 2, Desember 2016
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/profetika.v17i02.5300

Abstract

This study aims at examining the legality of interreligious marriage according to Islamic law and Indonesian positive law. To reach the goal set by this research, a descriptive method is used in the writing while an analytical method is employed to scrutinize the relevant problems. This study finds that interreligious marriage has spread widely among Indonesians that it has now become a phenomenon. However, Islam does not recognize a Muslim woman's marriage unless she is married by a man belonging to the same religion, i.e. a Muslim. A Muslim man is not permitted to marry a mushrik (polytheist) woman. It is lawful for him to marry a woman from the Ahlul Kitaab (Jews and Christians), but Indonesian ulemas prohibit such a marriage as well because of the negative outcomes. Meanwhile, the 1974 Indonesian Marriage Law fails to address the issue of interreligious marriage in a clear manner. This brings forth at least three interpretations: firstly, the law does not regulate interreligious marriage at all; secondly, the law allows it; and thirdly, the law denies it. Through an analysis, the last interpretation is found to have stronger reasons than the others.  Penelitian ini bertujuan untuk menguji legalitas pernikahan antaragama menurut hukum Islam dan hukum positif Indonesia. Agar tercapai tujuan yang diinginkan, maka penelitian ini menggunakan metode deskriptif untuk menganalisis masalah yang sedang diteliti. Studi ini menemukan bahwa pernikahan antaragama telah menyebar luas di kalangan masyarakat Indonesia yang kini telah menjadi fenomena. Namun, Islam tidak mengenali pernikahan wanita Muslim kecuali jika dia menikah dengan pria yang memiliki agama yang sama, yaitu seorang Muslim. Seorang pria Muslim tidak diizinkan untuk menikahi wanita musyrik (politeis). Dan halal baginya untuk menikahi wanita dari Ahlul Kitaab (Yahudi dan Kristen), namun sebagian ulama Indonesia tetap melarang pernikahan semacam ini, karena beberapa alasan. Sementara itu, Undang-Undang Perkawinan Indonesia 1974 gagal menangani masalah pernikahan antaragama dengan cara yang jelas. Ini setidaknya menghasilkan tiga interpretasi: pertama, hukum sama sekali tidak mengatur pernikahan antaragama; Kedua, hukum mengizinkannya; Ketiga, undang-undang tersebut menolaknya. Melalui sebuah analisis tersebut di atas, disimpulkan bahwa jenis interpretasi yang terakhir ditemukan memiliki alasan yang lebih kuat daripada alasan yang lainnya.

Page 7 of 48 | Total Record : 473