cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kab. kudus,
Jawa tengah
INDONESIA
Jurnal Psikologi Perseptual
ISSN : 25281895     EISSN : 25809520     DOI : -
Core Subject : Humanities, Social,
Jurnal Psikologi Perseptual adalah jurnal ilmiah yang mengkaji penelitian empiris dari berbagai bidang serta sebagai media publikasi ilmiah dalam disiplin ilmu psikologi. Diterbitkan dua kali dalam setahun, setiap bulan Juli dan Agustus.
Arjuna Subject : -
Articles 145 Documents
KOMUNIKASI NON VERBAL HOMOSEKSUAL (Studi Fenomenologi Simbol Komunikasi Kaum Gay di Pekanbaru) Raja Widya Novchi; Khusnul Hanafi; Shally Isaura Zulietta
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v3i1.2317

Abstract

Keberadaan gay di Indonesia tidak dapat diterima masyarakat, alasan apapun yang diberikan oleh kaum homoseksual ditolak masyarakat karena tidak sesuai dari segi moral, agama, dan norma budaya. Permasalahan yang berkembang di masyarakat membuat kelompok gay harus menggunakan simbol-simbol yang secara tidak langsung menunjukkan identitas dirinya dengan menggunakan komunikasi non verbal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui simbol komunikasi yang digunakan oleh kaum gay di Pekanbaru dalam mencari pasangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dalam bentuk studi fenomenologi dengan melakukan observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam terhadap subjek penelitian yang terdiri dari empat orang gay, satu orang teman gay, dan satu orang psikolog. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kaum gay menggunakan komunikasi non verbal dalam mencari pasangan adalah sebagai berikut: pertama, simbol kontak mata ditandai dengan menatap pria lain secara lirik-lirikan beberapa kali dan menatap lebih lama ke arah pria yang menjadi target, biasanya lebih dari tiga detik dan dilakukan secara berulang-ulang. Kedua, simbol gerakan tubuh lebih terlihat pada gay yang berperan sebagai wanita, cara berjalan, gerakan tangan, pembawaan diriya yang gemulai bahkan dari cara memegang benda dapat terlihat dengan sangat jelas. Ketiga, simbol penampilan, jika gaya tipe top seperti pria metroseksual sedangkan bottom berpenampilan feminim. Keempat, simbol ekspresi wajah, yaitu menampilkan ekspresi wajah bahagia, senyum-senyum yang menggoda dan mengedipkan mata.Kata Kunci: Komunikasi non verbal, Gay, LGBT, Fenomenologi
Analisis Dan Pengukuran Kesiapan Sekolah Anak Taman Kanak Kanak Latifah Nur Ahyani; Rr. Dwi Astuti; Ridwan Budi Pramono
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v2i2.2673

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesiapan sekolah anak. Analisa dilakukan untuk mengetahui kebutuhan yang paling diperlukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan prasekolah di kabupaten Kudus. Penelitian ini menggunakan metode pengambilan data kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif diambil dengan menggunakan alat tes psikologi Denver II, Bender-Gestalt II, Child Development Inventory (CDI), sedangkan data kualitatif menggunakan teknik observasi dan wawancara. Subjek penelitian adalah 40 anak Taman Kanak-Kanak (TK) dengan rincian 20 anak TK A dan 20 anak TK B yang terdiri dari empat TK di Kabupaten Kudus. Pemilihan subjek dalam penelitian ini menggunakan purposive sampling. Jumlah subjek penelitian terdiri dari 160 anak. Peneliti menyimpulkan dari keseluruhan data, bahwa ada perbedaan antara sekolah yang terletak di kota dan dengan sosioekonomi yang lebih tinggi dibandingkan dengan sekolah yang berada di pinggiran kota. Walaupun secara kategorisasi tidak jauh berbeda, namun secara rata-rata skor tiap anak menunjukkan perbedaan.
PENGARUH PENERAPAN METODE MIND MAPPING TERHADAP HASIL BELAJAR BAHASA INDONESIA SISWA SD KELAS 3 Dovian Syafril Umam; Latifah Nur Ahyani
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v1i2.1637

Abstract

Hasil belajar merupakan pencapaian tujuan pendidikan pada siswa yang mengikuti proses belajar mengajar di sekolah. Hasil belajar dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal yaitu faktor yang berasal dari dalam diri siswa, salah satunya adalah faktor kecerdasan. Sedangkan faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari luar, salah satunya adalah metode belajar yang digunakam oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penerapan metode Mind Mapping terhadap hasil belajar Bahasa Indonesia siswa SD. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas 3 SD yang dipilih dengan metode purposive sampling. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitiatif dengan rancangan Pretest-Posttest Control Group Design. Hasil analisis menunjukkan bahwa ada perbedaan hasil belajar siswa dimana pada kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan metode Mind Mapping mendapat hasil belajar yang lebih baik dibandingkan dengan kelompok kontrol yang tidak mendapatkan perlakuan diterima. Kata Kunci : Hasil Belajar, Metode Mind Mapping 
Dinamika Psikososial Remaja Korban Kekerasan Seksual Sri Indaryani
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v3i1.3677

Abstract

Merujuk pada judul penelitian lebih ditekankan pada kekerasan seksual kategori perkosaan, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1988) merupakan perbuatan pelanggaran dengan kekerasan.Perbuatan ini dilakukan dengan menggunakan paksaan, ancaman, suap, tipuan bahkan tekanan (Noviana, 2015).Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap makna informatif yang terkandung dalam pikiran dan benak remaja yang mengalami kekerasan seksual.Metode yang dipakai kualitatif dengan pendekatan fenomenologi persepsi Ponty menitikberatkan pada wawancara tidak terstruktur dengan subjek penelitian adalah remaja korban kekerasan seksual. Data yang diperoleh melalui wawancara ataupun observasi akan berupa kata-kata, perilaku ataupun dokumentasi yang kesemuanya bersifat informantif dari pemahaman masing-masing individu korban kekerasan seksual sebagaimana pengalaman hidupnya dan bagaimana individu memberikan makna pada kejadian tersebut.Hasil penelitian menunjukkan pemaknaan tubuh yang berbeda pada korban dengan latar belakang keluarga (nuclear family) berbeda. Refleksi dari Ponty tentang pemaknaan tubuh antara teori dan temuan, signifikan. Sebelum peristiwa kekerasan seksual terjadi semua korban menganggap bahwa tubuh mereka sangat penting dan harus dijaga. Setelah peristiwa kekerasan seksual dengan proses berbeda maka masing-masing korban dalam memaknai tubuhnya mengalami perbedaan.
Hubungan Perilaku Prososial Dan Religiusitas Dengan Moral Pada Remaja Julia Jurnal Aridhona
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v2i1.2218

Abstract

Penurunan moral merupakan isu yang paling penting untuk diperbincangkan, berbagai macam pengaruh yang dapat menurunkan perkembangan moral seseorang, terlebih pada usia remaja yang merupakan masa yang terjadinya perubahan yang sangat pesat yang mudah terpengaruh oleh lingkungannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui hubungan perilaku prososial dan religiusitas dengan moral pada remaja. Penelitian ini menggunakan subjek remaja dengan jumlah 100 orang yang berada di SMP, yang terdiri dari usia 13 sampai 16 tahun. Penelitian ini menggunakan teknik kuota sampling.  Data  dikumpulkan melalui kuisioner yang terdiri dari pembagian kuisioner perilaku prososial, religiusitas, dan moral dengan menggunakan skala likert. Analisis korelasi ganda yang digunakan untuk mengetahui adanya hubungan prososial dan religiusitas dengan moral pada remaja. Hasil analisis menunjukan ada hubungan positif antara perilaku prososial, religiusitas, dan moral yang artinya semakin tinggi perilaku prososial dan religiusitas maka semakin bagus pula moral yang dimiliki remaja. Perilaku prososial yang tinggi menunjukkan bahwa remaja tengah mengalami perkembangan moral dalam rentang kehidupannya sebagai manusia. Moral yang tinggi juga mempengaruhi tingginya religiusitas yang tinggi menunjukkan bahwa remaja telah mampu menyesuaikannya. Hubungan yang signifikan menunjukkan moral pada remaja dapat dipengaruhi oleh perilaku prososial dan religiusitas yang remaja kembangkan selama masa remaja. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi moral diluar perilaku prososial dan religiusitas seperti usia, kelas sosial ekonomi, relasi sosial dan faktor kepribadian
Hubungan Antara Persepsi Remaja Terhadap Keberfungsian Keluarga Dengan Kematangan Emosi Pada Remaja Akhir Pebby Ayu Ramadhany; Triana Noor Edwina Dewayani Soeharto; Metty Verasari
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 1, No 1 (2016): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v1i1.1076

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir. Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah ada hubungan positif antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir. Karakteristik subjek yakni : remaja berusia 16-18 tahun dan tinggal bersama orang tua. Jumlah subjek dalam penelitian sebanyak 93 subjek. Data penelitian di ungkap dengan Skala McMaster Family Assessment Device (FAD) yang disusun oleh Epstein,dkk (1983) untuk mengungkap persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dan Skala Kematangan Emosi untuk mengungkap kematangan emosi. Analisis data dilakukan dengan teknik korelasi Product Moment dari Karl Pearson dengan menggunakan bantuan aplikasi SPSS 16. Berdasarkan analisis data antara variabel persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir diperoleh diperoleh koefisien (rxy) sebesar 0,546 (p lebih kecil dari 0,01) sehingga hipotesis yang diajukan dapat diterima. Hal ini menunjukan bahwa adanya hubungan positif antara persepsi remaja terhadap keberfungsian keluarga dengan kematangan emosi pada remaja akhir.Kata kunci: persepsi remaja, keberfungsian keluarga, kematangan emosi, remaja akhir
Studi Pendahuluan : Emosi Moral Pada Remaja MM Shinta Pratiwi; Maria Goretti Adiyanti
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 2, No 2 (2017): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v2i2.2672

Abstract

Perkembangan dalam aspek moral sangat penting untuk diperhatikan terutama pada masa remaja. Salah satu aspek penting dalam perkembangan moral adalah emosi moral. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan studi awal dari penelitian tentang emosi moral guna mengetahui macam-macam pelanggaran moral pada remaja, macam-macam emosi moral remaja, dan faktor-faktor yang mempengaruhi munculnya emosi moral. Penelitian awal ini dilakukan dengan menggunakan studi survey pada 276 remaja usia 10 – 19 tahun di Semarang. Analisis data yang digunakan adalah dengan menghitung frekuensi serta prosentase. Pelanggaran moral yang paling banyak dialami oleh remaja adalah mencotek, Perilaku bully, perilaku berpacaran berisiko melanggar peraturan sekolah, melanggar peraturan lalu lintas, berbohong, merokok, membantah orangtua, berkelahi , menonton film porno, dan mencuri. Emosi moral yang muncul pada remaja adalah takut, sedih, bingung, prihatin, merasa bersalah,jijik, gelisah, kecewa, biasa saja, kasihan, kawatir, dan senang. Faktor yang paling kuat memunculkan emosi moral terdiri dari dua faktor yaitu eksternal (seperti pengaruh orang tua,teman, dan guru)  dan internal(seperti nilai yang dimiliki, karakter dan identitas moral).
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DENGAN KOMUNIKASI INTERPERSONAL YANG EFEKTIF ANTARA IBU DAN ANAK Rozan Ismatul Maula Sofwan; Triana Noor Edwina D S
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 1, No 2 (2016): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v1i2.1638

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal yang efektif antara ibu dan anak pada masa remaja tengah. Hipotesis yang diajukan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal yang efektif antara ibu dan anak. Semakin tinggi konsep diri subjek dalam penelitian ini maka semakin efektif komunikasi interpersonal dengan ibunya, sebaliknya semakin rendah konsep diri subjek maka semakin tidak efektif komunikasi dengan ibunya. Penelitian ini dilakukan di salah satu sekolah menengah atas di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dengan karakteristik subjek penelitian adalah remaja pada usia pertengahan yang berusia 15 – 18 tahun yang tinggal bersama ibu. Pengumpulan data penelitian menggunakan skala konsep diri dan skala komunikasi interpersonal yang efektif antara ibu dan anak. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, ditemukan ada hubungan antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal yang efektif antara ibu dan anak pada masa remaja tengah. Koefisien korelasi antara konsep diri dengan komunikasi interpersonal yang efektif antara ibu dan anak sebesar rxy = 0,552 (p lebih kecil dari 0,01). Kata kunci: komunikasi interpersonal yang efektif; konsep diri; anak remaja pertengahan 
HUBUNGAN EFIKASI DIRI KARIR DENGAN KEMATANGAN KARIR PADA SISWA KELAS XII SMKN 2 JEPARA Ribka Desy Ariana
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 3, No 1 (2018): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v3i1.2240

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan positif yang signifikan antara efikasi diri karir dengan kematangan karir pada siswa kelas XII SMKN 2 Jepara. Hipotesis dari penelitian ini yaitu adanya hubungan yang positif signifikan antara efikasi diri karir dengan kematangan karir pada siswa kelas XII SMKN 2 Jepara. Jumlah populasi dalam penelitian ini yakni 451 siswa dengan jumlah sampel 171 siswa. Variabel efikasi diri karir diambil dengan menggunakan angket career decision making self-efficacy scale, sedangkan kematangan karir menggunakan angket career maturity inventory. Data analisis dengan menggunakan teknik analisa korelasi product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif signifikan antara efikasi diri karir dengan kematangan karir pada siswa kelas XII SMKN 2 Jepara, dengan r = 0,381 dengan p lebih kecil dari 0,05.This study aims to determine whether there is a significant positive correlation between career self efficacy and career maturity in twelfth graders students at SMKN. 2 Jepara. The hypothesis of this study is that there is a significant positive correlation between career self efficacy and career maturity in twelfth graders students at SMKN. 2 Jepara. In total there are 451 students and 171 students were participate. Variable career self efficacy were collected using career decision making self-efficacy scale by Taylor Betz and variable career maturity were collected using career maturity inventory by Crites. Data were analyzed using correlation product moment. The result shows r = 0,381 with p smaller than 0,05 which means there is significant positive correlation between career self efficacy and career maturity in twelfth graders student at SMKN. 2 Jepara. Keywords: Career self efficacy, Career maturity, Student.
Work Conflict Pada Seorang Karyawan Yang Mengalami Bullying Rooswita Santia Dewi; Muhammad Irfan Fauzan
Jurnal Psikologi Perseptual Vol 2, No 1 (2017): Jurnal Psikologi Perseptual
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/perseptual.v2i1.2219

Abstract

Salah satu faktor yang mempengaruhi pekerjaan seseorang ialah faktor kepemimpinan. Faktor kepemimpinan ialah kualitas dalam memberikan dorongan semangat, arahan, dan dukungan yang diberikan manajer dan team leader. Namun, apabila seorang pemimpin tidak memberikan semangat dan dorongan kepada anggotanya bahkan seperti melakukan tindakan bullying kepada anggotanya, tentu saja hal tersebut membawa dampak negatif kepada anggotanya. Karyawan yang mengalami bullying akan kurang mampu mengatasi tugas sehari-sehari dan bekerja sama di lingkungan kerjanya. Hal tersebut dapat menimbulkan konflik dalam sebuah organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran work conflict pada seorang karyawan yang mengalami bullying. Penelitian ini menggunakan metodologi kualitatif dengan teknik observasi dan wawancara. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa subyek memiliki konflik individu dengan koordinator di dalam organisasi yang dikarenakan perilaku bullying. Konflik yang terjadi antara subjek dan koordinator adalah konflik disfungsional. Hal tersebut membawa dampak negatif bagi subjek yaitu terhambatnya tujuan yang dikehendaki oleh organisasi.

Page 4 of 15 | Total Record : 145