cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
TVRI Yogyakarta in the era of disruption: Maintaining the existence of cultural wisdom through the broadcast of "Canthing Nurrohmah, Shinta; Rifa'i, Akhmad
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.16308

Abstract

The existence of social media, which intensively displays similarities with television shows, has resulted in the decline of the television industry. Thus shifting the tastes of the younger generation by offering modern trends rather than local culture. This also happened on local Republic of Indonesia television, such as TVRI Yogyakarta. This article aims to reveal TVRI Yogyakarta's strategy for maintaining cultural wisdom through the Canthing program amid an era of media disruption. Data was obtained through observation, interviews, and documentation related to research. The results of this research show that TVRI Yogyakarta's strategy in maintaining the existence of the Canthing program is through the use of professional human resources, packaging the program with the main content of Javanese culture, methods of approaching and involving the youth community and socializing the program through advertisements on various TVRI Yogyakarta programs. by using social media as a form of divergence, convergence, and cyclone methods. TVRI Yogyakarta tries to provide innovations in the programs presented according to current developments so that they continue to be in demand by the current generation and beyond. This study contributes to the development of theories and concepts of the function of media as a cultural medium, which is also the orientation of Islamic communication. ***Eksisnya media sosial yang gencar menampilkan kemiripan dengan tayangan televisi mengakibatkan menurunnya industri pertelevisian sehingga menggeser selera generasi muda dengan penawaran trend modern daripada budaya lokalnya. Hal tersebut juga terjadi di televisi lokal Republik Indonesia seperti TVRI Yogyakarta. Tulisan ini bertujuan untuk membongkar bagaimana strategi TVRI Yogyakarta dalam menjaga eksistensi kearifan budaya di tengah era disrupsi media melalui program Canthing. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi yang terkait dengan penelitian. Hasil dari penelitian ini diperoleh bahwa strategi TVRI Yogyakarta dalam mempertahankan eksistensi program Canthing melalui penggunaan sumber daya manusia yang profesional, pengemasan program dengan mengusung konten utama budaya Jawa, metode pendekatan dengan melibatkan komunitas anak muda, dan sosialisasi program melalui iklan pada berbagai program acara TVRI Yogyakarta dengan pemanfaatan media social sebagai bentuk dari metode divergensi, konvergensi, dan siklon. TVRI Yogyakarta berusaha memberikan inovasi baru terhadap program-program yang disajikan sesuai perkembangan zaman sehingga terus diminati oleh generasi masa kini dan seterusnya. Studi ini berkontribusi bagi pengembangan teori dan konsep fungsi media sebagai sarana kebudayaan, yang juga menjadi orientasi dari komunikasi Islam.
The religious transformation of Gen Z in the new media era Pabbajah, Mustaqim
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20557

Abstract

New Media becomes an effective bridge of religious transformation in Gen Z. The presence of new media with various features offered is a new way of obtaining religious knowledge.  This paper wants to explain that there has been a diverse religious pattern of Gen Z experiencing transformation due to the intensity of the use of religion-based new media. The research in this study was conducted through observations, interviews and literature studies related to the formal objects, material objects and contexts studied, then analyzed with a qualitative descriptive approach. The results of this study explain the forms of religious transformation of Gen Z in the midst of the rise of new media. The transformation occurs due to the emergence of new media that offers various religion-based platforms. The implication is that intense religious learning accessed through new media can be said to be not in line with the ideally expected understanding of religion. In other words, religious understanding, which is actually the main orientation in religious learning, has undergone a transformation as shown by the religious experience of Gen Z. Where the presence of new media can be a tool that can change a person's paradigm in religion. This study suggests the need for a balance between media literacy and religious literacy to be balanced, along with the intensity of technological penetration that is continuously evolving.*****Media Baru menjadi jembatan tranformasi agama yang efektif pada Gen Z. kehadiran media baru dengan berbagai fitur yang ditawarkan menjadi cara baru dalam mendapatkan pengetahuan agama.  Tulisan ini hendak menjelaskan bahwa telah terjadi pola beragama beragam Gen Z mengalami transformasi akibat intensitas penggunaan new media berbasis agama. Penelitian dalam ttudi ini dilakukan melalui observasi, wawancara dan studi litertur terkait objek formal, objek material dan konteks yang dikaji, kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Hasil studi ini menjelaskan terkait bentuk-bentuk transformasi beragama Gen Z di tengah maraknya media baru. Transformasi itu terjadi akibat munculnya media baru yang menawarkan berbagai platform yang berbasis agama. Implikasinya adalah pembelajaran agama yang intens diakses melalui media baru dapat dikatakan belum sejalan dengan pemahaman agama yang diharapkan secara ideal. Dengan kata lain, pemahaman agama yang sejatinya menjadi orientasi utama dalam pembelajaran agama telah mengalami transformasi sebagaimana pengalaman beragama yang diperlihatkan Gen Z. Di mana kehadiran media baru dapat menjadi alat yang dapat mengubah paradigma seseorang dalam beragama. Studi ini menyarankan perlunya keseimbangan antara literasi media dan lierasi agama dapat seimbang, seiring dengan intensitas penetrasi teknologi yang terus berkembang.
Social media revolution and trends of da‘wah propagation in Ijebuland, Ogun State, Nigeria: An empirical survey Dauda, Kazeem Oluwaseun
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.18104

Abstract

Da‘wah plays a crucial role in spreading the teachings and principles of Islām globally. Different Islamic scholars have employed variety of techniques and platforms to fulfil this hallowed act of worship. Over the last two decades, social media revolution (SMR) has changed the dynamics of communication, democratized access to information, and promoted cross-cultural dialogue. Accordingly, Muslim preachers (Du‘āt) in Nigeria have considerably boosted their use of social media platforms, such as Facebook, X, Instagram, and YouTube, among others, for da‘wah. However, the extent to which SMR has influenced da‘wah activities in Ijebuland has received little attention in literature. This paper conducted an empirical survey into the impact of SMR on da‘wah propagation in Ijebuland, Ogun State. It used a descriptive survey design and content analysis approach. It argued that SMR has significantly changed the dynamics of da‘wah in the region. Despite the identified challenges facing their utilization, Ijebu Du‘āt have effectively utilized social media outlets with rational record of abuse. The study concludes that social media has indeed become a potent tool for da‘wah practice in Ijebuland. The findings justify the need for further studies to ascertain steps to take to strengthen SMR application to propagate da‘wah within the Islamic framework of tolerance, dialogue, mutual understanding and harmonious coexistence.***Dakwah memainkan peran penting dalam menyebarkan ajaran dan prinsip-prinsip Islam secara global. Berbagai cendekiawan Islam (ulama) telah menggunakan berbagai teknik dan platform untuk memenuhi ibadah suci ini. Selama dua dekade terakhir, revolusi media sosial (social media revolution/SMR) telah mengubah dinamika komunikasi, mendemokratisasikan akses terhadap informasi, dan mendorong dialog lintas budaya. Oleh karena itu, para pendakwah Muslim (du‘āt) di Nigeria telah meningkatkan penggunaan platform media sosial, seperti Facebook, X, Instagram, dan YouTube, antara lain, untuk dakwah. Namun sejauh mana pengaruh SMR terhadap kegiatan dakwah di Ijebuland hanya mendapat sedikit perhatian dalam literatur. Makalah ini melakukan survei empiris mengenai dampak SMR terhadap penyebaran dakwah di Ijebuland, Negara Bagian Ogun. Penelitian ini menggunakan desain survei deskriptif dan pendekatan analisis isi. Mereka berpendapat bahwa SMR telah mengubah dinamika dakwah di wilayah ini secara signifikan. Terlepas dari tantangan yang dihadapi dalam pemanfaatannya, para pendakwah Ijebu telah secara efektif memanfaatkan media sosial yang memiliki catatan penyalahgunaan yang rasional. Kajian tersebut menyimpulkan bahwa media sosial memang menjadi alat yang ampuh dalam praktik dakwah di Ijebuland. Temuan ini membenarkan perlunya studi lebih lanjut untuk memastikan langkah-langkah yang perlu diambil untuk memperkuat penerapan SMR guna menyebarkan dakwah dalam kerangka toleransi, dialog, saling pengertian dan hidup berdampingan secara harmonis dalam Islam.
From fatwa to social media: Unleashing global muslim solidarity through fatwa and digital activism movement Alfarisi, Muhammad Fahmi Reksa; Huda, Ahmad Nashikhul; Asharsyira, Almeyda
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20501

Abstract

The Israel-Palestine war has brought an enormous amount of attention to religious tension, global solidarity, and humanitarian movement in the Muslim world. This study investigates the underlying factor behind the fatwa issuance and its impact on the new trend of global solidarity in the digital sphere. The theory of mediation of meaning and new media by Hoover has been used to navigate the Fatwa of the Indonesian Ulama Council. This fatwa, regarding boycotts, divestments, sanctions movement, and the spread of Julid Fisabilillah digital activism, is a significant factor in shaping global Muslim solidarity. The digital activism is conducted by Indonesian and Malaysian netizens on specific social media platforms such as X, Instagram, and Telegram. This paper aims to contribute to the promotion of solidarity, compassion, and moral principles as fundamental aspects of humaneness. The research methods involved using a desk research methodology to collect data by analyzing scientific papers, digital media such as news, social media platforms, and literature reviews. The results indicated that this new trend of movements served as a means of expressing concern and advocating for humanity's values. It also aimed to create social justice and beneficial impact through humanitarian aid and establish emotional and moral connections to the Palestinian cause. Subsequently, the elements of religious tension, intrinsic and extrinsic religiosity, have intertwined roles in influencing this situation.*****Perang antara Israel-Palestina telah menyita banyak perhatian dari mulai esensi ketegangan agama, solidaritas global, hingga gerakan kemanusiaan di dunia Muslim. Studi ini berusaha untuk menyelidiki faktor yang mendasari diterbitkannya Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) terkait dukungan terhadap Palestina dan dampaknya terhadap tren baru solidaritas global di ranah digital. Teori mediasi makna dan media baru oleh Hoover diaplikasikan untuk menavigasi dampak dari Fatwa Majelis Ulama Indonesia yang berkenaan dengan gerakan boikot, divestasi, sanksi terhadap produk yang mendukung Israel dan penyebarannya melalui aktivisme digital Julid Fisabilillah yang banyak digalakkan oleh warganet Indonesia dan Malaysia di beberapa platform media sosial seperti X, Instagram dan Telegram. Tulisan ini memiliki kontribusi untuk meningkatkan solidaritas, kasih sayang, dan menegakkan prinsip-prinsip moral sebagai aspek dasar kemanusiaan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kepustakaan untuk mengumpulkan data dengan menganalisis beberapa karya ilmiah terdahulu, media digital seperti berita, platform media sosial, dan tinjauan literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tren gerakan baru ini berfungsi sebagai sarana efektif untuk mengekspresikan kepedulian dan mengadvokasi nilai-nilai kemanusiaan yang bertujuan untuk menciptakan keadilan sosial dan dampak yang bermanfaat melalui bantuan kemanusiaan, membangun hubungan emosional dan moral sejalan dengan perjuangan warga Palestina. Selanjutnya, elemen-elemen ketegangan agama, baik religiusitas intrinsik maupun ekstrinsik, memiliki peran yang saling terkait dalam mempengaruhi situasi ini. 
Communication of the Religious Harmony Forum (FKUB) in developing religious moderation in Salatiga City Hidayanti, Ulfah; Ali, Mukti
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.16207

Abstract

Religious moderation is part of the 2020-2024 National Medium-Term Development Plan (RPJMN). Religious moderation is a form of government effort to counteract violent extremism. This program must be supported by all elements in Indonesia, such as society, government, and interfaith organizations such as the Forum for Religious Harmony (FKUB). The city of Salatiga is a portrait of diversity because of its diversity of cultures and religions. Communication is vital in the organization's center, uniting and integrating all elements to achieve organizational goals. This study aims to determine the communication the Forum for Religious Harmony (FKUB) uses in developing religious moderation in Salatiga City. This study uses a qualitative method with an interpretive approach and data collection techniques using interviews, observation, and documentation. The results of the study show that there are five communications carried out by the Forum for Religious Harmony (FKUB) in developing religious moderation in Salatiga City, namely (1) social services, (2) counseling/socialization, (3) mock studies/work visits, (4) intensive involvement in the activities of other agencies and (5) building religious tourism sites. The obstacles faced by FKUB in developing religious moderation in Salatiga City are (1) the lack of Human Resources (HR) and (2) the lack of budgetary funds provided by the government. This study contributes to developing an interfaith organizational communication model for creating religious harmony in society. ***Moderasi beragama merupakan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Moderasi beragama adalah bentuk usaha pemerintah dalam menangkal adanya ekstremisme-kekerasan. Program ini harus didukung oleh seluruh elemen yang ada di Indonesia seperti masyarakat, pemerintah dan organisasi-organisasi lintas agama seperti Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB). Kota Salatiga adalah salah satu kota yang menjadi potret kemajemukan karena keanekaragaman budaya dan agama yang ada didalamnya. Komunikasi memegang peranan penting dalam pusat organisasi untuk menyatukan dan mengintegrasikan semua elemen untuk mencapai tujuan organisasi Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komunikasi yang digunakan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam mengembangkan moderasi beragama di Kota Salatiga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan interpretif. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian bahwa ada lima komunikasi yang dilakukan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dalam mengembangkan moderasi beragama di Kota Salatiga yaitu (1) bakti sosial, (2) penyuluhan/sosialisasi, (3) studi tiru/kunjungan kerja, (4) pelibatan intensif dalam kegiatan instansi lain dan  (5) membangun tempat wisata religi. Hambatan yang dihadapi FKUB dalam mengembangkan moderasi beragama di Kota Salatiga adalah (1) minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) dan (2) kurangnya anggaran dana yang diberikan oleh pemerintah. Studi ini berkontribusi bagi pengembangan model komunikasi organisasi lintas agama dalam menciptakan harmoni beragama dalam masyarakat.
Da'wah in the digital era: Analysis of Husain Basyaiban's da'wah message in TikTok content Amelia, Riska; Riyadi, Agus; Murtadho, Ali
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.18930

Abstract

This study is motivated by the development of social media as a means of preaching, including Husain Basyaiban's Tiktok. This study aims to find out what da'wah messages are contained in the TikTok content in terms of the meaning of denotation, connotation, and myth. Therefore, this study is library research with a descriptive qualitative approach. The semiotic analysis used is the Roland Barthes model, a theoretical framework that examines signs and their meanings in cultural contexts. In this analysis, we identified and interpreted the signs (visual and textual elements) in Husain Basyaiban's TikTok video, considering their cultural and social contexts. The results of the analysis show that the video contains several meanings and messages, namely: mutual respect between religious communities, not insulting other people's beliefs, respecting other people's religious rituals when religion is insulted, fighting, being careful in protecting your beliefs, the importance of conscience in maintaining tolerance, Islam is the true religion, there is no prejudice against religions other than Islam, preaching is an obligation, and Muslims carry a great trust. Then, in Husain Basyaiban's TikTok video, researchers also found the meaning of the video's denotation, connotation, and myth. With the meaning obtained, this study implies the importance of disseminating da'wah content through social media. Social media like TikTok can display short moral content but with deep meaning.*****Studi ini dilatarbelakangi oleh perkembangan media sosial sebagai sarana dalam berdakwah diantaranya adalah Tiktok Husain Basyaiban. Studi ini bertujuan untuk mengetahui apa saja pesan dakwah yang terkandung dalam konten tiktok tersebut dilihat dari makna denotasi, konotasi, dan mitos. Oleh karenanya studi ini merupakan studi kepustakaan (library research) dengan pendekatan penelitian kualitatif deskriptif. Analisis yang digunakan merupakan analisis semiotika dengan model Roland Barthes. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam video tersebut mengandung beberapa makna dan pesan, yakni: saling menghormati antar umat beragama, tidak menghina keyakinan orang lain, menghormati ritual agama orang lain, ketika agama dihina wajib dilawan, berhati-hati dalam menjaga akidah, pentingnya hati nurani dalam menjaga toleransi, Islam adalah agama yang benar, tidak berburuk sangka terhadap agama selain Islam, berdakwah merupakan suatu kewajiban dan umat Islam mengemban amanah yang besar. Kemudian dalam video tiktok Husain Basyaiban, peneliti juga menemukan makna denotasi, konotasi dan mitos dari video tersebut. Dengan makna yang didapat tersebut, studi ini mengimplikasikan pentingnya diseminasi konten dakwah melalui media sosial. Media sosial seperti TikTok dapat menampilkan konten moral singkat tetapi dengan makna yang mendalam.
Social semiotics of news reports on the change of the halal logo in detik.com for March 2022 Khotimah, Nurul; Mastika, Silma Ulqiatul
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.17374

Abstract

The news reports on the change of the halal logo issued by the Halal Product Assurance Organizing Agency (BPJPH) officially replaced the current halal logo from the Indonesian Ulema Council (MUI), followed by its authority, based on Law Number 33/2014 on Halal Product Assurance. The halal logo is not only an accessory of the label but also the leading indicator to identify and guarantee the halalness of a product. This paper aims to show the social semiotics of news reports by examining issues on the new halal logo on Detik.com for March 2022. The research data was collected from the online news portal Detik.com and other articles and supporting journals. Based on this problem, this study used a descriptive qualitative method using the social semiotic analysis approach by M.A.K Halliday. The result showed that Detik.com delivered various news reports; some favored the new halal label, while other reports were neutral and even harmful. The implications of this research suggest that our perspective on the news discerns more from the text and its context. ***Pemberitaan perubahan logo halal yang dikeluarkan Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) resmi menggantikan logo halal yang ada saat ini dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut kewenangannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal. Logo halal tidak hanya menjadi pelengkap label tetapi juga menjadi indikator utama untuk mengidentifikasi dan menjamin kehalalan suatu produk. Tulisan ini bertujuan untuk mengkaji semiotika sosial terkait pemberitaan isu logo halal baru di Detik.com bulan Maret 2022. Data penelitian dikumpulkan dari portal berita online Detik.com dan artikel serta jurnal pendukung lainnya. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis semiotika sosial oleh M.A.K Halliday. Hasilnya menunjukkan bahwa Detik.com menyampaikan pemberitaan yang beragam; beberapa mendukung label halal baru, sementara laporan lainnya netral dan bahkan negatif. Implikasi dari penelitian ini menunjukkan bahwa perspektif kita terhadap berita lebih memahami teks dan konteksnya.
Transformation of new media in Aswaja al-Nahdliyyah da'wah: Strategies and challenges in the contestation of religious authority in Indonesia Mudhofi, M.; Karim, Abdul
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.22071

Abstract

The presence of new media has caused contestation between religious authorities in Islamic society. However, what stands out most is that new media has given birth to new spaces where every individual and group, including those who are often considered splinter, are free to present themselves and their identities in public. This research aims to examine the specific challenges Aswaja Al-Nahdliyyah faces in maintaining doctrinal purity, combating misinformation, and navigating the complexities of digital communications. This research uses qualitative research in an interpretive paradigm, utilizing online data from the NU Website and YouTube channels.  The narrative of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah is very important to be promoted and mainstreamed, so that it is increasingly strengthened into a complete narrative which is called the new cultural environment of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah. This new environment can be seen from the digitization of Nahdlatul Ulama (NU) figures and the yellow books (turats) taught at NU Islamic boarding schools. This digitalization seeks to show that new religious spaces in the online world must be under the control of authorized religious figures.*****Kehadiran media baru telah menimbulkan kontestasi antar otoritas agama dalam masyarakat Islam. Namun yang paling menonjol adalah media baru telah melahirkan ruang-ruang baru di mana setiap individu dan kelompok, termasuk mereka yang kerap dianggap pecahan (sempalan), bebas menampilkan diri dan identitasnya di depan publik. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tantangan spesifik yang dihadapi Aswaja Al-Nahdliyyah dalam menjaga kemurnian doktrin, memerangi misinformasi, dan menavigasi kompleksitas komunikasi digital. Penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif dengan paradigma interpretatif, memanfaatkan data online dari Website NU dan channel YouTube.  Narasi Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah al-Nahdliyyah sangat penting untuk dipromosikan dan diarusutamakan, agar semakin kuat menjadi sebuah narasi utuh yang disebut dengan lingkungan budaya baru Ahl al-Sunnah wa al- Jama'ah al-Nahdliyyah. Lingkungan baru ini terlihat dari digitalisasi tokoh Nahdlatul Ulama (NU) dan kitab kuning (turats) yang diajarkan di pesantren NU. Digitalisasi ini berupaya menunjukkan bahwa ruang keagamaan baru di dunia online harus berada di bawah kendali tokoh agama yang berwenang.
Gen Z voter behavior in the 2024 presidential election: A virtual ethnographic study on the Instagram accounts of presidential candidates Fitri, Alifa Nur; Fitri, Fitri; Fabriar, Silvia Riskha; Rachmawati, Farida; Hilmi, Mustofa
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.18945

Abstract

The 2024 presidential and vice-presidential general election is a topic that is being highlighted by the public, including young voters or what could be called Gen Z. The use of Instagram media by three presidential candidates to launch self-introductions and election campaigns is a reference for Gen Z voters in providing comments and assessment. This research aims to determine the behavior of Gen Z voters in the 2024 presidential election using qualitative ethnographic methods and descriptive analysis. The findings of this study show that Gen Z's behavior in responding to the 2024 presidential election includes two behaviors, namely rational and irrational. The rational behavior of Gen Z is shown by assessing the vision and mission of the presidential candidate pair and their track record of achievements. In contrast, the irrational behavior of Gen Z voters is shown by assessing the presidential candidate pair based on exciting content or popularity, even though it lacks substance. Therefore, these findings contribute to the development of user-based discourse that can deconstruct the dominance of discourse by those in power. This aligns with Islamic communication values in the form of 'freedom of action,' which guarantees each individual to accept or reject a discourse.***Pemilihan umum presiden dan wakil presiden 2024 menjadi topik yang disoroti oleh khalayak, termasuk para pemilih muda atau bisa disebut Gen Z.   Penggunaan media instagram oleh tiga kandidat calon presiden untuk melancarkan pengenalan diri dan kampanye pemilu menjadi rujukan pemilih gen Z dalam memberikan komentar dan penilaian. Riset ini bertujuan untuk mengetahui perilaku pemilih Gen Z pada Pilpres 2024, dengan menggunakan metode kualitatif netnografis dan analisis deskriptif. Hasil temuan kajian ini menunjukkan bahwa perilaku Gen Z dalam menyikapi Pilpres 2024 meliputi dua perilaku, yaitu perilaku rasional dan irasional. Perilaku rasional Gen Z ditampilkan dengan menilai visi dan misi pasangan calon presiden serta track record prestasinya., sedangkan perilaku irasional pemilih Gen Z ditunjukkan dengan memberikan penilaian kepada pasangan calon presiden berdasarkan konten yang menarik atau kepopuleran meskipun minim substansi. Oleh karena itu, temuan ini berkontribusi bagi pengembangan wacana berbasis pengguna yang dapat mendekonstruksi dominasi wacana oleh penguasa. Hal ini sejalan dengan nilai-nilai komunikasi Islam berupa ‘kebebasan berbuat’ yang menjamin setiap individu untuk menerima atau menolak suatu wacana.
A century of struggle: Afghanistan’s media development under monarchies Pamirzad, Qurban Hussain
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.19593

Abstract

This paper has used a series of historical sources, mainly in the Persian language, to explore the one-century history of Afghanistan’s media. The country has 150 years of media history, of which a century occurred during the monarchy's political system. This study explains the chronological order and structure of the media from the first newspaper, Shams-u-Nahar, which was founded in 1873 during the reign of Amir Shir Ali Khan. In addition to explaining the press's role in the war for the independence of Afghanistan, it also explores the media’s situation during King Zaher Shah’s (1933-1973) reign, when a diverse media environment emerged; simultaneously, systematic political repression was carried out and derailed the achievements. This comprehensive centenary review of Afghanistan’s media history fills the research gap about Afghanistan's media, which has only been accessible to readers and researchers in the Persian language so far. Hence, this paper will be the first of its kind to cover this era in detail, address this research void, and pave the way for researchers to learn more about Afghanistan's media history.*****Makalah ini menggunakan serangkaian sumber sejarah, terutama dalam bahasa Persia, untuk mengeksplorasi sejarah satu abad media Afghanistan. Negara ini memiliki sejarah media selama 150 tahun, dan satu abad di antaranya terjadi pada masa sistem politik monarki. Kajian ini menjelaskan urutan kronologis dan struktur media dari surat kabar pertama, Shams-u-Nahar, yang didirikan pada tahun 1873 pada masa pemerintahan Amir Shir Ali Khan. Selain menjelaskan peran pers dalam perang kemerdekaan Afghanistan, artikel ini juga mengeksplorasi situasi media pada masa pemerintahan Raja Zaher Shah (1933-1973), ketika lingkungan media yang beragam muncul; secara bersamaan, represi politik sistematis dilakukan dan menggagalkan pencapaian. Tinjauan komprehensif sejarah media Afganistan yang berusia seratus tahun ini mengisi kesenjangan penelitian tentang media Afganistan, yang sejauh ini hanya dapat diakses oleh pembaca dan peneliti dalam bahasa Persia. Oleh karena itu, makalah ini akan menjadi makalah pertama yang membahas era ini secara rinci, mengatasi kekosongan penelitian, dan membuka jalan bagi para peneliti untuk mempelajari lebih lanjut tentang sejarah media Afghanistan.