cover
Contact Name
Amelia Rahmi
Contact Email
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
icjfakdakom@walisongo.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota semarang,
Jawa tengah
INDONESIA
Isamic Communication Journal
ISSN : 25415182     EISSN : 26153580     DOI : -
Core Subject : Education, Social,
Islamic Communication Journal, ISSN: P-2541-5182 E-2615-3580, published by the Department of Communication and Islamic Broadcasting Faculty of Da'wa and Communication UIN Walisongo Semarang. This journal has a scope of studies and research on the science of communication, media and da'wah. Incoming articles can be either research or conceptual results of classical or current scholarship.
Arjuna Subject : -
Articles 302 Documents
The existence of the media market in Indonesia: Study of media economics at Kumparan.com and Tirto.id from an Islamic standpoint Amallah, Nurlaillah Sari; Heryanto, Gun Gun; Sanjaya, Makroen; Marini, Marini Marini; Nisa, Ishmatun; Salas, Hagi Julio
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.18568

Abstract

Kumparan.com and Tirto.id now exist as online news portals that are not only written. But also through videos, images, and infographics. Like other companies, Kumparan.com and Tirto.id are profit-oriented in media economics. This research aims to reveal the existence of the media market in Indonesia related to Kumparan.com and Tirto.id reviewed from an Islamic economic perspective. This research uses an instrumental case study method that explicitly covers all aspects of the media economy at Kumparan.com and Tirto.id. This study finds that in their market role, Kumparan.com and Tirto.id make the customer the king (service market), providing full service in the form of customization to clients. As viewed from an Islamic economic perspective, universal values are the foundation for building Islamic economic theory. Such as the prophetic values (nubuwwah) that should be emulated by the Prophet Muhammad by business people, especially honesty (siddiq), responsibility (amanah), intelligence (fathanah), marketing (tabligh), and government (khalifah), then justice ('adl) must be implemented at all stages of the economy. A good business is a business that can uphold justice for its perpetrators. This study implies that media business people are prohibited from pursuing personal gain, and other parties are exploited.***Kumparan.com dan Tirto.id kini hadir sebagai sebuah portal berita online yang tidak hanya berupa tulisan, tetapi juga melalui video, gambar, dan infografik. Dalam ranah ekonomi media sama halnya dengan perusahaan lain, Kumparan.com dan Tirto.id juga berorientasi pada profit. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap eksistensi pasar media di Indonesia terkait Kumparan.com dan Tirto.id ditinjau dalam perspektif ekonomi Islam. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus instrumental yang mencakup semua aspek secara eksplisit dari ekonomi media di Kumparan.com dan Tirto.id. Temuan studi ini adalah bahwa dalam peran pasar, Kumparan.com dan Tirto.id menjadikan konsumen sebagai raja (service market) yaitu memberikan servis penuh dalam bentuk kostumisasi kepada klien. Adapun ditinjau dari perspektif ekonomi Islam, terdapat nilai-nilai universal yang menjadi pondasi untuk membangun teori ekonomi Islam tersebut, seperti nilai kenabian (nubuwwah) yang patut diteladani dari Nabi Muhammad oleh para pelaku bisnis khususnya jujur (siddiq), bertanggung jawab (amanah), cerdas (fathanah), pemasaran (tablig), dan pemerintahan (khalifah), kemudian adil (‘adl) yang harus diimplementasikan pada semua tahapan ekonomi. Bisnis yang baik adalah bisnis yang dapat memegang teguh keadilan bagi para pelakunya. Implikasi dari studi nilai ini adalah bahwa pelaku bisnis media tidak dibolehkan untuk mengejar keuntungan pribadi dan adanya unsur eksploitasi kepada pihak lain.
Da’wah approach to the strawberry generation: A study on Yuk Ngaji TV channel Rohman, Angga Nur; Nurdin, Ali; Eken, Metin; Bax, Wazir Baksh
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.16331

Abstract

The strawberry generation, Generation Z, has much potential but a fragile mentality like a strawberry, even though Indonesia will get a demographic bonus at a productive age. This is the responsibility of da'wah because it is part of the object of da'wah. YukNgaji TV is a channel that seeks to overcome the problems of millennial teenagers. The research aims to examine the da'wah approach of the YukNgaji TV channel for the strawberry generation using a content analysis approach, where data is collected using documentation and observation techniques. The findings were that the preacher of the channel was chosen from Generation Z (still young), an influencer with advanced knowledge. The da’wah method uses casual sharing discussions, lectures, inspirational stories, and brainstorming. The YouTube media is packaged with live streaming and live events and posting da'wah content, which contains themes of youth, morals, and relationships for the strawberry generation. The effects on the strawberry generation can be cognitive and affective, but further investigation is needed regarding the behavioral effects of the strawberry generation. In this way, the study can contribute to developing preaching approaches that are always required to be dynamic. ***Generasi strawberi merupakan generasi Z yang memiliki banyak potensi, namun memiliki mental rapuh seperti layaknya buah strawberi, padahal Indonesia akan mendapatkan bonus demografi di usia yang produktif. Hal tersebut menjadi tanggungjawab dakwah, karena menjadi bagian dari objek dakwah. YukNgaji TV menjadi channel yang berupaya untuk mengatasi permasalahan remaja milenial ini. Tujuan penelitian untuk mengkaji pendekatan dakwah channel YukNgaji TV bagi generasi strawberi dengan menggunakan pendekatan content analysis, dimana data dikumpulkan dengan teknik dokumentasi dan observasi. Temuannya adalah bahwa pada penelitian channel dakwah ini, berbagai pendekatan dakwah digunakan untuk menjawab persoalan dari generasi strawberi. Pendakwah dipilih dari generasi Z (masih muda), seorang influencer yang memiliki keilmuan yang mumpuni. Metode dakwah dilakukan dengan diskusi sharing santai, ceramah, cerita inspiratif dan brainstorming yang jarang dipakai didunia dakwah. Media pengantar pesan dakwah melalui youtube yang dikemas dengan live streaming dan live event serta postingan konten dakwah, yang berisikan tema keremajaan dan akhlak serta pergaulan bagi generasi strawberi. Efek bagi generasi strawberi ini dapat berupa kognitif dan afektif, namun perlu pendalaman terkait efek behavioral bagi generasi strwaberi. Dengan demikian studi dapat berkontribusi bagi pengembangan pendakatan dakwah yang dituntut untuk selalu dinamis.
Reinventing jihad’s meaning: A discourse on jihad among salafist figures in Indonesia Bazikh, Moh. Rofqil
Islamic Communication Journal Vol 9, No 1 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.1.20649

Abstract

The jihad discourse can never be separated from the Islamic intellectual tradition. This doctrine partly causes negative views of Islam. Because Islam has a doctrine of jihad, quite a few people think that Islam is closely related to violence. This study aims to examine one group that is often considered to be closely linked to violence in Indonesia, namely the Salafi group. Several Salafi figures have even received much rejection in various regions, plus there is a simplistic perception of Salafi groups, which varies. Methodologically, this study uses a type of qualitative research where data is obtained through observation of the social media channels of three Salafi figures related to discussing the topic of jihad, namely Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, and Firanda Andirja. All three are Salafi figures with authority and influence, especially on social media. This study shows that they are trying to cleanse the meaning of jihad. This is proven by their opposing position to acts of violence in the name of jihad. However, they do not deny that jihad is synonymous with war. They are just trying to ensure that jihad does not always mean war. This effort is a step in reinventing the pejorative meaning of jihad. This also provides clarification that not all Salafis support acts of violence as understood so far. This study implies that new media can build new discourse about the identity of splinter groups (Salafi) in the public sphere.*****Diskursus jihad tidak pernah bisa dilepaskan dari tradisi intelektual Islam. Pandangan-pandangan negatif terhadap Islam di antaranya disebabkan oleh doktrin ini. Sebab Islam memiliki doktrin jihad, tidak sedikit pihak yang menganggap Islam lekat kaitannya dengan kekerasan. Studi ini bertujuan untuk mengkaji salah satu kelompok yang kerap dianggap lekat dengan kekerasan di Indonesia, yaitu kelompok Salafi. Beberapa figur Salafi bahkan banyak mendapat penolakan di berbagai daerah, ditambah terdapat persepsi yang simplistis terhadap kelompok Salafi yang sejatinya bervariasi. Secara metodologis, studi ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dimana data diperoleh melalui observasi terhadap saluran media sosial tiga figur Salafi terkait pembahasan topik jihad, yaitu Syafiq Riza Basalamah, Khalid Basalamah, dan Firanda Andirja. Ketiganya merupakan figur Salafi yang mempunyai otoritas dan pengaruh, utamanya di media sosial. Studi ini menunjukkan bahwa mereka melakukan upaya pembersihan terhadap makna jihad. Ini dibuktikan dengan posisi kontra mereka terhadap aksi kekerasan yang mengatasnamakan jihad. Kendati demikian, mereka tidak membantah bahwa jihad identik dengan perang. Mereka hanya mencoba agar jihad tidak senantiasa berarti perang. Upaya ini merupakan langkah menemukan kembali (reinventing) makna jihad dari yang peyoratif. Ini sekaligus memberikan klarifikasi bahwa tidak semua Salafi mendukung aksi-aksi kekerasan sebagaimana dipahami selama ini. Studi ini mengimplikasikan bahwa new media dapat menjadi sarana untuk membangun diskursus baru tentang identitas kelompok sempalan (salafi) di ruang publik.
Public opinion analysis on social media about the establishment of Indonesia's New Capital City Kadewandana, Donie; Cahyadiputra, Angga
Islamic Communication Journal Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2023.8.2.18283

Abstract

One of the policies of President Joko Widodo's administration that is currently receiving various opinions is the issue of moving the Indonesian capital city from DKI Jakarta Province to East Kalimantan Province, to be precise, in Kutai Kartananegara Regency, which uses the name of the new capital city, Ibu Kota Nusantara (IKN). President Joko Widodo officially announced the transfer of the national capital on Monday, August 26, 2019, at the state palace. There were a variety of opinions regarding the capital city relocation policy. This study aims to find out the sentiment of public opinion regarding the move of the Indonesian capital to Kalimantan based on the hashtag #MovingCapitalCity on Twitter social media (now called "X"), as well as to understand the process of forming this public opinion. By using a quantitative approach based on content analysis with thematic analysis units in the form of pro, con, and neutral categorization, this study found that opinions on social media Twitter (now called "X") regarding the hashtag #MovingCapitalCity in the government's policy to move the country's capital tend to be contra or not supportive. Therefore, this study contributes to the power of community-based discourse, which is relevant to the principle of taghyir (change from bottom) in Islamic communication.***Salah satu kebijakan pemerintahan Presiden Joko Widodo yang kini menuai beragam opini adalah isu pemindahan ibu kota negara Indonesia dari Provinsi DKI Jakarta ke Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya di Kabupaten Kutai Kartananegara yang menggunakan nama ibu kota baru, Ibu Kota Nusantara (IKN). Pemindahan ibu kota negara diumumkan secara resmi oleh Presiden Joko Widodo pada Senin, 26 Agustus 2019, di Istana Negara. Ada beragam pendapat mengenai kebijakan pemindahan ibu kota. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengetahui sentimen opini masyarakat mengenai pemindahan ibu kota Indonesia ke Kalimantan berdasarkan hastag #MovingCapitalCity di media sosial Twitter (kini bernama “X”), serta memahami proses terbentuknya opini publik tersebut. Dengan menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis analisis isi dengan unit analisis tematik berupa kategorisasi pro, kontra, dan netral, studi ini menemukan bahwa opini di media sosial Twitter (kini bernama “X”) mengenai tagar #MovingCapitalCity dalam kebijakan pemerintah untuk memindahkan ibu kota negara cenderung kontra atau tidak mendukung. Karena itu, studi ini berkontribusi bagi kuasa wacana berbasis masyarakat, yang relevan dengan prinsip taghyir (perubahan dari bawah) dalam komunikasi Islam. 
Pro-Palestinian netizen cyber activism through the Julid Fi Sabilillah movement on Instagram Amrullah, Haekal Fajri; Bate, Andi Pajolloi; Briandana, Rizki
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22395

Abstract

This study investigates the Julid Fi Sabilillah movement, a pro-Palestinian cyber activism initiative on Instagram formed by Indonesian netizens in response to the Al-Aqsa Hurricane attack by Israel. The emergence of a social movement on social media called Julid Fi Sabilillah became a mutually supportive virtual community that was formed to fight Israeli propaganda and its supporters on social media by trolling, cursing, and terrorizing the social media accounts of Israeli supporters. This research aims to find out and analyze how Julid Fi Sabilillah's activism on Instagram social media creates propaganda and mental attacks and creates negative issues for Israeli supporters on social media. Using a qualitative approach and case study method, this research revealed that the Julid Fi Sabilillah movement successfully countered the narrative supporting Israel on Instagram. Findings reveal that the movement has effectively disrupted pro-Israel accounts, causing psychological distress among supporters and amplifying global awareness of Palestine's plight. This digital activism highlights the potential of social media in uniting global efforts toward political and humanitarian causes. ***** Penelitian ini menyelidiki gerakan "Julid Fi Sabilillah", sebuah inisiatif aktivisme siber pro-Palestina di Instagram yang dibentuk oleh warganet Indonesia sebagai respons terhadap serangan Badai Al-Aqsa oleh Israel. Munculnya gerakan sosial di media sosial yang bernama Julid Fi Sabilillah menjadi komunitas virtual yang saling mendukung yang terbentuk karena adanya tujuan melawan propaganda Israel dan pendukungnya di media sosial dengan cara trolling menghujat dan meneror akun media sosial pendukung Israel. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis bagaimana aktivitisme Julid Fi Sabilillah di media sosial Instagram dalam membuat propaganda, menyerang mental dan membuat isu negatif bagi pendukung Israel di media sosial. Dengan pendekatan Kualilatif dan metode studi kasus penelitian ini mengungkap bahwa gerakan Julid Fi Sabilillah berhasil melawan narasi pendukung Israel di Instagram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan tersebut telah secara efektif mengacaukan akun-akun pro-Israel, menyebabkan tekanan psikologis di antara para pendukung dan meningkatkan kesadaran global akan penderitaan Palestina. Aktivisme digital ini menyoroti potensi media sosial dalam menyatukan upaya global menuju tujuan politik dan kemanusiaan.
Digitalization and the shifting religious literature of Indonesian Muslims in the Era of Society 5.0 Ichwan, Moh. Nor; Amin, Faizal; Khusairi, Abdullah; Andrian, Bob
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22515

Abstract

The advent of science and technology, which has resulted in the digitalization of the Indonesian Muslim community during the Industrial Revolution 4.0 and the advent of Society 5.0, has prompted a shift in the religious literature of Indonesian Muslims. This research aims to examine the impact of digitalization in the post-truth era on the behavior of Muslims who tend to seek solutions to their religious problems outside the traditional religious authority. The data sources for this study were collected through observation, interviews, and a review of relevant literature in the form of documents or online data. In terms of socio-religious factors, this research identified three key elements that have contributed to the shift in the religious literature of Indonesian Muslims from the ulama to social media. Firstly, the internet and social media provide Muslims with convenient access to information and resources that can address their daily religious concerns promptly and effectively. Secondly, the rise in community religious activity has not been accompanied by a corresponding increase in digital literacy, particularly in the use of social media. Thirdly, the solutions to religious problems obtained by Muslims through social media are immediate, leading to a less comprehensive and more partial understanding of Islam. Digitalization has led Indonesian Muslims to be more pragmatic in search of religious meaning. ***** Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang bermuara pada digitalisasi di era Revolusi Industri 4.0 menuju Society 5.0 saat ini telah menggeser literatur keagamaan umat Islam Indonesia. Penelitian ini bertujuan mengkaji dampak digitalisasi di era post-truth terhadap prilaku umat Islam yang cenderung meninggalkan ulama dalam menyelesaikan masalah keagamaan yang dihadapinya. Sumber data dalam penelitian ini dikumpukan melalui observasi, wawancara, dan studi pustaka yang berupa dokumen atau data online. Secara sosio-religius, penelitian ini menemukan tiga aspek penting yang menjadi sebab pergeseran  literatur keagamaan umat Islam Indonesia dari ulama ke media sosial. Pertama,  mudahnya akses internet dan media sosial yang mampu menjawab secara cepat dan efisen atas problem yang dihadapi oleh umat Islam sehari-hari. Kedua, meningkatnya geliat kagamaan masyarakat yang tidak dibarengi dengan pemahaman yang baik tentang literasi digital dalam bentuk media sosial. Ketiga, solusi atas problem keagamaan yang diperoleh umat Islam melalui media sosial bersifat instan sehingga mengakibatkan pemahaman masyarakat atas agama Islam menjadi tidak kompehensif dan lebih bersifat parsial. Digitalisasi telah menyebabkan umat Islam Isndonesia menjadi lebih pragmatis dalam mencari makna dan pesan keagamaan.
The role of the mosque as a medium of da'wah in building religious tolerance in the community: An analysis of Kampung Toleransi Ilyasa, Faisal Fauzan; Fakhruddin, Agus; Faqihuddin, Achmad; Ramdan, Muhammad Ramdan Mubarok; Muflih, Abdillah
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22620

Abstract

Tolerance is a serious discussion in Indonesia. Establishing Kampung Toleransi (Tolerance Village) is among the government's efforts to create harmony between religious communities. This research aims to examine the role of mosques in building tolerance in society in an area known as the Village of Tolerance. Data for this research was obtained through in-depth interviews with community members and religious figures involved in religious activities in the Tolerance Village. Analysis was carried out using NVivo12 software to enable collection, organization, and a deeper understanding of this tolerance practice. The results of this research reveal diverse tolerance practices in the religious context of the Village of Tolerance. Social, cultural, and religious factors are essential in shaping tolerance practices. Nonetheless, the village stands out for its ability to encourage interfaith dialogue, cooperation, and respect for differences. The results of this research can provide a deeper view of how society can achieve greater tolerance in religious contexts through interfaith cooperation and dialogue. This research has the potential to make an essential contribution to understanding the practice of tolerance in religiously and culturally diverse societies. ***** Toleransi menjadi pembahasan yang serius di Indonesia. Di antara upaya pemerintah dalam mewujudkan kerukunan antarumat beragama yaitu dengan membentuk Kampung Toleransi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran masjid dalam membangun toleransi di masyarakat pada sebuah daerah yang dikenal dengan sebutan Kampung Toleransi. Data untuk penelitian ini diperoleh melalui wawancara mendalam dengan anggota masyarakat dan tokoh agama yang terlibat dalam kegiatan keagamaan di Kampung Toleransi. Analisis dilakukan menggunakan perangkat lunak NVivo12 agar pengumpulan, pengorganisasian, dan pemahaman yang lebih mendalam tentang praktik toleransi ini. Hasil penelitian ini mengungkap praktik toleransi yang beragam dalam konteks keagamaan di Kampung Toleransi. Faktor-faktor sosial, budaya, dan agama memainkan peran penting dalam membentuk praktik-praktik toleransi. Meskipun demikian, kampung ini menonjol karena kemampuannya dalam mendorong dialog antaragama, kerjasama, dan penghormatan terhadap perbedaan. Hasil penelitian ini dapat memberikan pandangan yang lebih dalam tentang bagaimana masyarakat dapat mencapai toleransi yang lebih baik dalam konteks agama melalui kerja sama dan dialog antaragama. Penelitian ini berpotensi memberikan kontribusi penting dalam memahami praktik toleransi dalam masyarakat yang beragam secara agama dan budaya.
Representation of equality and gender justice in narrative discourse about the COVID-19 pandemic on social media Nuryani, Nuryani; Sholeha, Monita; Kasman, Suf; Budiman, Arif
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22766

Abstract

This study aims to describe the representation of gender equality and justice in the narrative of the Covid-19 pandemic that is developing on social media. Many narratives have developed on social media related to gender that represent various things of gender equality and justice. The data in this study is in the form of narratives that develop and spread on various social media. The social media that is the focus of this study is WhatsApp and Facebook. Data analysis used a qualitative approach, utilizing representation, gender, and linguistic theories. Based on the analysis that has been carried out, it is concluded that in the narrative about COVID-19, female greetings such as mbak (sister), nyonya (madam), and tante (aunt) are often used. However, in some narratives, the greetings mas (brother) and pakdhe are also used. In addition, it was also found that the use of interjection showed annoyance and sarcasm, such as the Corona and the virus. The diversity of greeting choices does not fully reflect the gender of the post-writer. The use of greetings in the narrative also represents the existence of images that gender influences the choice of language and the direction of the narrative on positive and negative images. Based on the findings above, this study enriches our perspective on the pattern of narrative formation in discourse analysis studies. The findings also enrich the repertoire in representation theory related to the selection of diction that represents gender equality and justice. ***** Tujuan penelitian ini adalah untuk menggambarkan representasi kesetaraan dan keadilan gender dalam narasi pandemi COVID-19 yang berkembang di media sosial. Banyak narasi-narasi yang berkembang di media sosial berkaitan dengan gender yang merepresentasikan berbagai hal kesetaraan dan keadilan gender. Data dalam penelitian ini berupa narasi-narasi yang berkembang dan tersebar di berbagai media sosial. Media sosial yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah WhatsApp dan Facebook. Analisis data dilakukan dengan menggunakan pendekatan kualitatif dengan memanfaatkan teori representasi, gender, dan linguistik. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan didapatkan simpulan bahwa dalam narasi tentang COVID-19 sering menggunakan kata sapaan perempuan, seperti mbak, nyonya, dan tante. Meskipun demikian, pada beberapa narasi juga ditemukan penggunaan sapaan mas dan pakdhe. Selain itu, juga ditemukan penggunaan interjeksi yang menunjukkan kekesalan dan sindiran, seperti si Corona dan sang virus. Keberagaman pilihan sapaan tidak sepenuhnya mencerminkan jenis kelamin penulis posting-an. Penggunaan sapaan dalam narasi juga merepresentasikan adanya gambaran-gambaran bahwa gender ikut memengaruhi dalam pemilihan bahasa dan arah narasi tersebut pada gambaran yang positif dan negatif. Berdasarkan temuan di atas maka kajian ini memperkaya perspektif kita mengenai pola pembentukan narasi dalam kajian analisis wacana. Temuan tersebut juga memperkaya khazanah dalam teori representasi yang berkaitan dengan pemilihan diksi yang mewakili kesetaraan dan keadilan gender.
Ideology and power relations in Ice-Cold documentary film: An Islamic communication perspective Afifah, Afifah; Bakti, Andi Faisal; Hamad, Ibnu
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.22861

Abstract

The Ice-Cold documentary exposes Jessica Wongso's cyanide case, revealing legal irregularities and sparking critical discussion on media narratives. Prior studies highlight media’s influence on public opinion but overlook how ideology and power are embedded in narratives. This research fills that gap by analyzing their reflection in the documentary Ice Cold. This theory incorporates Islamic concepts such as istidl’af (Al-Qasas 5), musyawarah (Ali Imran 159), and khalaqah from the Prophet’s hadiths. Using qualitative discourse analysis, it explores the relationship between messages, ideology, and power. This study examines the relationship between ideology and power in the film Ice Cold, using Gill Branston and Roy Stafford’s theory and public perceptions post-release. Using media, communication, and da'wah approaches resulted in an analysis showing the power behind this case and how the social class between Jessica and Mirna can lead to public opinion. It is essential to acknowledge the possible non-neutrality of media and documentary films and the importance of critically assessing information obtained from the press. This research makes an academic contribution by expanding the study of ideology and power in the media by integrating Islamic concepts in discourse analysis. It also offers a new interdisciplinary perspective, linking communication theory, da'wah, and social representation to reveal power dynamics and ideological construction in documentary film narratives. ***** Film dokumenter Ice-Cold mengulas kasus sianida Jessica Wongso yang mengungkap kejanggalan hukum dan memicu dialog kritis mengenai narasi media. Studi sebelumnya membahas pengaruh media terhadap opini publik, tetapi mengabaikan bagaimana ideologi dan kekuasaan tertanam dalam narasi tersebut. Penelitian ini melengkapi gap tersebut dengan menganalisis refleksinya dalam dokumenter Ice-Cold. Teori ini mengintegrasikan konsep-konsep Islam seperti istidl’af (Al-Qasas ayat 5), musyawarah (Ali Imran ayat 159), dan khalaqah dari hadits Nabi. Dengan menggunakan metode kualitatif dan analisis wacana, teori ini mengeskplorasi hubungan antara pesan film, ideologi dan kekuasaan. Penelitian ini mengkaji hubungan antara ideologi dan kekuasaan dalam film ice Ice-Cold dengan menggunakan teori Gill Branston dan Roy Stafford serta persepsi publik setelah film tersebut dirilis. Dengan menggunakan pendekatan media, komunikasi, dan dakwah menghasilkan sebuah analisis yang menunjukkan kekuatan di balik kasus ini serta bagaimana kelas sosial antara Jessica dan Mirna dapat menggiring opini publik. Penting untuk mengakui kemungkinan ketidaknetralan media dan film dokumenter dan pentingnya menilai secara kritis informasi yang diperoleh dari pers.  Penelitian ini memberikan kontribusi akademik dengan memperluas kajian ideologi dan kekuasaan dalam media melalui integrasi konsep-konsep Islam dalam analisis wacana. Juga menawarkan perspektif baru yang bersifat interdisipliner, yang menghubungkan teori komunikasi, dakwah, dan representasi sosial, untuk mengungkap dinamika kekuasaan dan konstruksi ideologi dalam narasi film dokumenter.
Deradicalization da'wah: Religious rehabilitation efforts for former terrorism convicts Rozi, Fachrur; Supena, Ilyas; Riyadi, Agus
Islamic Communication Journal Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/icj.2024.9.2.23317

Abstract

Terrorist acts that often claim religious grounds have become a significant threat to national stability. Based on data from the National Counterterrorism Agency (BNPT), Indonesia, terrorist attacks not only cause casualties but also have an impact on public perception of Islam. This study aims to understand why radical ideology often persists among former terrorist convicts and how deradicalization preaching plays a role in their rehabilitation. This descriptive qualitative study uses a sociological approach, using data collection techniques through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that radical ideology persists due to limited social support, non-holistic deradicalization programs, ideological backgrounds, and social stigma. External factors such as the lack of special programs, limited officer training, and inconsistent funding also contribute. Deradicalization preaching plays a crucial role by teaching peaceful religious values, empowering socially and economically, reducing social stigma, and involving families and communities. For effective rehabilitation, deradicalization preaching must be holistic, involve various parties, and consider cultural, social, and economic aspects to address the root causes of radicalization. ***** Aksi terorisme yang sering mengklaim landasan agama telah menjadi ancaman besar terhadap stabilitas nasional. Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Indonesia, serangan teror tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga berdampak pada persepsi publik terhadap Islam. Penelitian ini bertujuan untuk memahami mengapa faham radikal sering kali tetap bertahan di kalangan mantan narapidana terorisme dan bagaimana dakwah deradikalisasi berperan dalam rehabilitasi mereka. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan sosiologis, menggunakan teknik pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faham radikal tetap bertahan disebabkan oleh dukungan sosial yang terbatas, program deradikalisasi yang tidak holistik, serta latar belakang ideologi dan stigma sosial. Faktor eksternal seperti kurangnya program khusus, keterbatasan pelatihan petugas, dan pendanaan yang tidak konsisten juga berkontribusi. Dakwah deradikalisasi memainkan peran krusial dengan mengajarkan nilai-nilai agama yang damai, memberdayakan secara sosial dan ekonomi, mengurangi stigma sosial, dan melibatkan keluarga serta komunitas. Untuk rehabilitasi yang efektif, dakwah deradikalisasi harus holistik dan melibatkan berbagai pihak, serta mempertimbangkan aspek budaya, sosial, dan ekonomi untuk mengatasi akar penyebab radikalisasi secara menyeluruh.