cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta selatan,
Dki jakarta
INDONESIA
ZOO INDONESIA
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Arjuna Subject : -
Articles 438 Documents
ON A COLLECTION OF IXODID TICKS (ACARINA:IXODOIDEA) FROM LONG ALANGO, KAYAN MENTARANG (EAST KALIMANTAN) Kadarsan, Sampurno
ZOO INDONESIA No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak
Parasitoid serangga pengorok daun Liriomyza: intensitas parasitisasi, perubahan sebaran dan komposisinya Erniwati, Erniwati; Lupiyanindyah, Pungki; Tantowijoyo, Warsito
ZOO INDONESIA Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Serangga invasif lalat pengorok daun merupakan hama penting berbagai tanaman sayuran. Serangga ini berasosiasi dengan berbagai musuh alami sebagai agen pengendali populasinya. Penelitian ini bertujuan mengetahui potensi, perubahan sebaran dan komposisinya. Komposisi dan populasi musuh alami diamati dengan metode sampling daun yang terserang. Di masing-masing titik sampling, koleksi daun yang terserang dilakukan pada semua jenis tanaman dan gulma. Parasitoid serangga pengorok daun Liriomyza lebih menyukai untuk memarasit inang yang menyerang tanaman kacang buncis (50%), ceisin (55%), kentang (57%), kacang babi (70%), dan kacang merah (75%). Intensitas parasitoid meningkat (10,4% - 74,5%) menurut ketinggian tempatnya mulai dari 200 – 2200 m dpl. Sebaran dan komposisi parasitoid berubah dimana Opius chromatomyiae ditemukan di dataran rendah dan lebih dominan dibanding Hemiptarsenus varicornis. Opius chromatomyiae di dataran rendah mempunyai ukuran toraks yang lebih kecil
Respon Ukuran Kelompok terhadap Efek Tepi dan Kepadatan Populasi Surili (Presbytis comata) pada Hutan Dataran Rendah dan Perbukitan di Kabupaten Kuningan Supartono, Toto; Prasetyo, Lilik Budi; Hikmat, Agus; Kartono, Agus Priyono
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.396 KB)

Abstract

Ekosistem hutan dataran rendah memiliki peranan penting bagi konservasi keanekaragaman hayati. Fragmentasi yang menyebabkan terpecah-pecahnya hutan alam dan memicu terjadinya efek tepi telah menjadi kendala dalam pelestarian populasi. Memahami pengaruh habitat tepi terhadap ukuran kelompok surili (Presbytis comata) dan tersedianya data kepadatan populasi sangat penting dalam konservasi populasi. Ukuran kelompok dapat menjadi indikator kualitas habi-tat. Akan tetapi, respon kelompok terhadap tepi hutan belum banyak diketahui dan informasi kepadatan populasi surili pada ekosistem hutan dataran rendah juga masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis ukuran kelompok surili (Presbytis comata), pengaruh tepi hutan terhadap ukuran kelompok, dan kepadatan populasi surili. Pengumpulan data dilakukan pada tutupan hutan yang mencakup hutan alam, hutan tanaman, dan kebun campuran, dengan total panjang jalur 59 km di kelompok hutan Gunung Subang, Kabupaten Kuningan. Penelitian ini menemukan bahwa ukuran ke-lompok surili bervariasi dari 2 sampai 22 dengan rata-rata 8,52 individu. Rata-rata ukuran kelompok surili tidak berubah sejalan dengan bertambahnya jarak dari tepi hutan. Kepadatan populasi surili pada interval kepercayaan 95% berkisar 44,39 – 82,36 dengan rata 60,47 ind/km2. Hasil penelitian ini dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan strategi konservasi populasi surili pada ekosistem hutan dataran rendah yang merupakan kumpulan dari sisa hutan alam, hutan tanaman, dan kebun campuran.
Gambaran Umum Kajian Profil Hormon Steroid Menggunakan Metode Non-Invasif dari Sampel Feses Nugraha, R. Taufiq Purna; Purwantara, Bambang; Supriatna, Iman; Agil, Muhammad; Semiadi, Gono
ZOO INDONESIA Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.391 KB)

Abstract

Kajian terhadap profil hormon-hormon steroid merupakan kunci penting dalam upaya memahami aspek fisiologis satwa. Beberapa dekade terakhir telah dikembangkan metode alternatif untuk mengetahui profil hormon steroid, yaitu melalui pengukuran metabolit hormon steroid yang diekskresikan melalui ekskreta tubuh seperti feses. Metode tersebut dikenal sebagai metode non-invasif. Metode ini memungkinkan pengumpulan sampel secara terus menerus dalam jangka panjang dengan meminimalisasi gangguan terutama pada satwa liar. Kajian terhadap profil metabolit hormon steroid yang terukur dapat diaplikasikan antara lain untuk mengetahui status reproduksi, penentuan jenis kelamin, studi perilaku hingga monitoring tingkat stres satwa. Berbagai kajian dengan memanfaatkan metabolit hormon steroid telah berhasil diaplikasikan pada berbagai taksa vertebrata. Tulisan ini memberikan gambaran terkini mengenai aplikasi metode non-invasif untuk kajian profil metabolit hormon steroid dari sampel feses.
Catatan Pertama Siklus Hidup Cyrestis Themire (Lepidoptera: Nymphalidae) pada Streblus ilicifolius di Hutan Kondang Merak, Malang Wafa, Imti Yazil; Sari, Herlina Putri Endah
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1209.487 KB)

Abstract

Kupu-kupu Cyrestis themire umumnya ditemukan di hutan primer atau sekunder di wilayah Asia Tenggara. Siklus hidup C. themire selama ini masih belum terdokumentasi. Tulisan ini bertujuan untuk memaparkan siklus hidup C. themire pada tumbuhan Streblus ilicifolius. Observasi dilakukan pada bulan Juli - Agustus 2014. Telur C. themire yang ditemukan pada daun tumbuhan S. ilicifolius diperoleh di Hutan Kondang Merak, Kabupaten Malang. Telur yang ditemukan selanjutnya dipelihara dan diamati hingga menjadi imago. Hasil observasi menunjukkan bahwa telur akan menetas 3 hari setelah diletakkan pada tumbuhan inang. Larva memiliki 5 instar dengan sedikit perbedaan morfologi pada tiap instar. Lama tahap larva menjadi pupa yaitu 8 hari. Tahapan pupa hingga menetas menjadi imago yaitu 5 hari. Observasi lebih lanjut diperlukan untuk melengkapi informasi mengenai pengetahuan biologi dan ekologi dari C. themire.
Keong Darat dari Sumatera (Moluska, Gastropoda) Marwoto, Ristiyanti
ZOO INDONESIA Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengamatan pada koleksi ilmiah keong darat dari Sumatera yang disimpan di MZB dan studi pustaka telah dilakukan dengan tujuan memutakhirkan informasi tentang keberadaan keong darat di Sumatera. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jumlah jenis keong darat dari Sumatera tercatat 280 jenis, 33 diantaranya endemik dan kurang dari 40% dari jumlah total tersimpan di MZB. Delapan jenis merupakan “catatan baru” (new record) bagi Sumatera, yakni Lagochilus obliquistriatum, Diplommatina calcarata, D. cyclostoma, Philalanka micromphala, Coneoplecta bandongensis, Liardetia densetorta, L. viridula dan Landouria monticola yang dikoleksi dari Pesawahan, Provinsi Lampung, Sumatra Selatan. Tulisan ini merangkum seluruh informasi tentang keberadaan dan status keong darat di Sumatera, beberapa jenis berstatus endemik, namun beberapa juga terbatas sebarannya, bahkan tergolong langka dan terancam punah.
A Preliminary Study of Aphrodisiac Property from Porcupine Tail Meat Ethanol Extract in Male Mice Agusta, Andria; Farida, Wartika Rosa; Nugroho, Herjuno Ari; Wulansari, Dewi; Anita, Syahfitri
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (383.075 KB)

Abstract

This study aim to examine the aphrodisiac activity of ethanol extract from the tail meat of porcupine (Hystrix javanica F. Cuvier, 1823) that is traditionally believed by people in Java (Indonesia) could enhance male vitality and sexual perfor-mance. Twenty sexually inexperienced male mice were randomly divided into four groups and paired with artificially estrus female mice after one hour of drug an extract administration. Two doses of ethanol extract; 150 and 750 mg/kg were administered (p.o) to male mice. Sildenafil citrate was used as the positive control while 5% Tween 80 solution used as the negative control. Sexual behavior parameters such as mounting and intromission were observed for three hours of mating. Male mice treated with ethanol extract of porcupine tail meat at the dose 750 mg/kg BW showed higher mounting and intromission frequency compared to the group of ethanol extract dose 150 mg/kg. After 2 hours of admin-istration showed the highest frequency compared to all groups. However, the ethanol extract could not reduce the mount-ing and intromission latency as low as sildenafil citrated treated group. Present findings provide preliminary evidence of aphrodisiac properties from the ethanol extract of porcupine tail meat.
Avifauna Diversity in Kangean Archipelago Irham, Mohammad
ZOO INDONESIA Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Research on the avifauna of Kangean Archipelago were conducted between 2007-2008. Objective of the studies were to obtain new data on the species numbers and community diversity at the main islands in various types of habitat. Three methods were applied i.e. opportunistic observation, point counts and mist netting. Each method would be complemen-tary in order to get a complete list of Kangean avifauna, while point counts were intended to be used for community di-versity study. A total of 82 species were recorded from which some of them especially migrating birds were new to the island. The richest diversity was found in natural habitat i.e. natural forest (28 species, Shannon index = 3.07), open area (32 species, Shannon index = 3.18) and mangrove (34 species, Shannon index = 3.09). Avian diversity was poor at teak plantation with only 26 species observed (Shannon index = 2.86). The threats to avian communities were apparent at song birds such as white-rumped shama and hill mynah. Those birds were hardly encountered during the survey. To be con-cluded, Kangean archipelago were richer in avifauna diversity than previously known, however hunting pressure and illegal logging might become serious threats to its existence.
The Use of Internal Marker to Estimate Digestibility in Black-Capped Lory (Lorius Lory., 1758) Sari, Andri Permata; Rachmatika, Rini
ZOO INDONESIA Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.221 KB)

Abstract

Studi ini bertujuan untuk menghitung nilai serapan nutrien menggunakan metode koleksi total dan rasio abu pada nuri kepala hitam (LoriusloryL.,1758) yang diberi pakan bubur jagung giling (K1), bubur pollard (K2), dan bubur bekatul (K3). Penelitian ini terdiri dari 7 hari uji pendahuluan, dan 2 periode koleksi data masing-masing 28 hari untuk tiap perlakuannya. Jadi total waktu penelitian untuk setiap perlakuan adalah 73 hari. Burung nuri kepala hitam yang digunakan sebanyak 5 ekor. Variabel yang diamati adalah konsumsi pakan, nilai energi metabolis semu (EMS) dan nilai kecernaan protein semu. Konsumsi tertinggi selama penelitian didapat dari perlakuan bubur pollard (K2). Bubur bekatul (K3) memiliki nilai EMS, efisiensi metabolik, dan nilai kecernaan protein semu (ADP) tertinggi dibandingkan yang lain. Penggunaan marker rasio abu menghasilkan nilai kecernaan nutrien yang lebih tinggi dibandingkan penggunaan metode koleksi total. Sebagai kesimpulan, metode rasio abu dapat digunakan sebagai metode alternatif untuk menentukan kecernaan nutrien. Selain itu, bubur bekatul direkomendasikan untuk diberikan kepada burung nuri kepala hitam
Karakteristik Semen Segar Domba Garut Tipe Laga pada Tiga Waktu Penampungan Semen Herdis, Herdis
ZOO INDONESIA Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017
Publisher : Masyarakat Zoologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (435.57 KB)

Abstract

Penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh waktu penampungan semen yang berbeda terhadap karakteristik semen segar domba garut tipe laga. Penelitian menggunakan tujuh ekor domba garut jantan. Penampungan semen dilakukan seminggu sekali menggunakan vagina buatan. Karakteristik semen segar yang diamati adalah warna, volume, kekenta-lan, keasaman, konsentrasi, abnormalitas, persentase motil, persentase hidup dan persentase membran plasma spermato-zoa. Waktu penampungan semen yang berbeda berpengaruh terhadap karakteristik semen segar yang dihasilkan. Waktu penampungan semen pukul 06.00 menghasilkan kualitas semen segar domba garut tipe laga paling baik berbeda nyata (p<0,05) dibandingkan waktu penampungan semen pukul 12.00 namun tidak berbeda nyata (p>0,05) dibandingkan dengan waktu penampungan semen pukul 09.00. Dari penelitian yang dilakukan disimpulkan bahwa perbedaan waktu berpengaruh terhadap suhu dan kelembaban ruangan. Guna mendapatkan kualitas semen segar yang lebih baik disarank-an waktu penampungan semen domba garut tipe laga dilakukan pada pukul 06.00-09.00.

Filter by Year

1983 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 33, No 1 (2024): Juli 2024 Vol 32, No 2 (2023): Desember 2023 Vol 32, No 1 (2023): Juli 2023 Vol 31, No 2 (2022): Desember 2022 Vol 31, No 1 (2022): Juli 2022 Vol 30, No 2 (2021): Desember 2021 Vol 30, No 1 (2021): Juli 2021 Vol 29, No 2 (2020): Desember 2020 Vol 29, No 1 (2020): Juli 2020 Vol 28, No 2 (2019): Desember 2019 Vol 28, No 1 (2019): Juli 2019 Vol 27, No 2 (2018): Desember 2018 Vol 27, No 1 (2018): Juli 2018 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 2 (2017): Desember 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 26, No 1 (2017): Juli 2017 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 2 (2016): Desember 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 25, No 1 (2016): Juli 2016 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 2 (2015): Desember 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 24, No 1 (2015): Juli 2015 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 2 (2014): Desember 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 23, No 1 (2014): Juli 2014 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 2 (2013): Desember 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 22, No 1 (2013): Juli 2013 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 2 (2012): Desember 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 21, No 1 (2012): Juli 2012 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 2 (2011): Desember 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 20, No 1 (2011): Juli 2011 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 2 (2010): Desember 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 19, No 1 (2010): Juli 2010 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 2 (2009): November 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 18, No 1 (2009): Juli 2009 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 2 (2008): November 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 17, No 1 (2008): Juni 2008 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 2 (2007): November 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 16, No 1 (2007): Juni 2007 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 Vol 15, No 2 (2006): November 2006 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 29 (2002): Zoo Indonesia No. 29 Desember 2002 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 28 (2001): Zoo Indonesia No. 28 September 2001 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 31 (1997): Zoo Indonesia No. 31 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 30 (1997): Zoo Indonesia No. 30 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 29 (1997): Zoo Indonesia No. 29 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 28 (1996): Zoo Indonesia No 28 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 27 (1996): Zoo Indonesia No 27 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 26 (1995): Zoo Indonesia No 26 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 25 (1995): Zoo Indonesia No 25 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 24 (1994): Zoo Indonesia No 24 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 23 (1994): Zoo Indonesia no 23 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 22 (1993): Zoo Indonesia No 22 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 21 (1993): Zoo Indonesia No 21 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 20 (1993): Zoo Indonesia No 20 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 19 (1993): Zoo Indonesia No 19 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 18 (1993): Zoo Indonesia No 18 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 17 (1993): Zoo Indonesia No 17 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 16 (1992): Zoo Indonesia No 16 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 15 (1992): Zoo Indonesia No. 15 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 14 (1992): Zoo Indonesia No.14 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 13 (1992): Zoo Indonesia No. 13 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 12 (1991): Zoo Indonesia No. 12 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 11 (1991): Zoo Indonesia No. 11 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 10 (1990): Zoo Indonesia No. 10 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 9 (1990): Zoo Indonesia No. 9 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 8 (1989): Zoo Indonesia No. 8 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 7 (1987): Zoo Indonesia No. 7 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 6 (1986): Zoo Indonesia No 6 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 5 (1985): Zoo Indonesia No. 5 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 4 (1985): Zoo Indonesia No. 4 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 3 (1985): Zoo Indonesia No. 3 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 2 (1983): Zoo Indonesia No. 2 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 No 1 (1983): Zoo Indonesia No. 1 More Issue