cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
E-Jurnal Medika Udayana
Published by Universitas Udayana
ISSN : 23031395     EISSN : 25978012     DOI : -
Core Subject : Health,
Majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana menerima naskah dari mahasiswa PSPD FK UNUD, baik berupa karangan asli atau laporan penelitian, ikhtisar pustaka, laporan kasus, maupun surat-surat untuk redaksi. Naskah yang dikirimkan untuk majalah ilmiah E-Jurnal Medika Udayana adalah naskah belum pernah atau tidak akan dikirim ke majalah lain. Bahasa yang digunakan adalah bahasa Indonesia
Arjuna Subject : -
Articles 1,956 Documents
LUMBAR SPINAL CANAL STENOSIS, DIAGNOSTIC AND MANAGEMENT Putu Indah Budi Apsari; I Ketut Suyasa; Sri Maliawan; Siki Kawiyana
E-Jurnal Medika Udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.476 KB)

Abstract

Lumbar spinal canal stenosis is a narrowing of the osteoligamentous vertebral canal and/or the intervertebral foramina causing compression of the thecal sac and/or the caudal nerve roots. The prevalence are five per 1000 person over 50 years old in USA. Male more than female, the most affect L4 -L5 and L3-L4. Low back pain is the most symptom. Routine diagnostic examination can be done plain x-ray lumbosacral, CT scan, and MRI. Management therapy can divide to two conservative and operative therapy. Complication of operative therapy is infection, vacular injury, cardiorespiratory disturbance due to embolization and death. The prognosis related with severity of symptom, degree of stenosis, surgical procedure and comorbid conditions.
POLA KONSUMSI DAN EFEK SAMPING MINUMAN MENGANDUNG KAFEIN PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA Liveina Liveina; Artini I G A
E-Jurnal Medika Udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (191.537 KB)

Abstract

Kafein merupakan zat psikoaktif yang memiliki efek stimulan dan paling luas digunakan di seluruh dunia. Pengaruh gaya hidup membuat konsumsi produk berkafein khususnya kopi dan minuman energi meningkat, termasuk di kalangan mahasiswa. Kafein dalam dosis rendah mampu memberikan efek positif. Namun tidak semua produk mencantumkan kadar kafein didalamnya sehingga perlu diwaspadai resiko efek samping yang dapat terjadi. Oleh karena itu, penelitian ini ingin melihat bagaimana pola konsumsi dan efek samping minuman mengandung kafein pada mahasiswa kedokteran. Penelitian ini adalah studi deskriptif cross sectional yang dilakukan dengan membagikan structured questionnaire pada 600 mahasiswa program studi pendidikan dokter Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Pengambilan sampel menggunakan teknik convenience sampling. Sebanyak 491 mahasiswa bersedia menjadi responden. Proporsi konsumsi kopi pada responden sebesar  91,9%. Sebanyak 76,1% peminum kopi mengalami efek samping meliputi kesulitan tidur (50,5%), palpitasi (33,7%), peningkatan frekuensi urinasi (31,9%), nyeri kepala (20,2%), tremor (10,9%), mual dan muntah (14,8%), gejala anxietas (15,7%), nyeri ulu hati (15,3%) peningkatan frekuensi defekasi (10,0%) dan gejala lain. Proporsi konsumsi minuman energi pada responden yaitu 46,2% responden dengan proporsi pria yang lebih signifikan. Sebanyak 52,9% peminum minuman energi mengalami efek samping berupa palpitasi (25,6%), kesulitan tidur (18,5%), peningkatan frekuensi urinasi (5,3%), mual dan muntah (3,1%), gejala anxietas (2,2%), peningkatan mood dan energi (1,8%), tremor (1,3%), dan gejala lain. Dapat disimpulkan bahwa penggunaan kafein di kalangan mahasiswa kedokteran cukup luas. Efek samping konsumsi kafein juga banyak terjadi. Palpitasi dan kesulitan tidur merupakan efek samping yang paling sering dilaporkan. Studi lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji faktor yang mempengaruhi timbulnya efek samping kafein.    
HUBUNGAN ANTARA PREVALENSI DEPRESI DENGAN TIPE LOCUS OF CONTROL (LOC) PADA PESERTA MEDITASI DI KOTA DENPASAR Cahya Rustina; Susy Purnawati
E-Jurnal Medika Udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Depresi merupakan penyebab utama gangguan mental dan dapat mempengaruhi setiap individu di dunia. Depresi berhubungan dengan kemampuan mengontrol diri atau locus of control (LOC). Terdapat dua tipe LOC yaitu internal (LOC-i) dan eksternal (LOC-e). Individu dengan LOC-e disebutkan mempunyai hubungan signifikan dengan kejadian depresi. Di sisi lain, peningkatan LOC-i dikaitkan dengan penurunan tingkat depresi. Peningkatan LOC-i disertai dengan penurunan LOC-e pada individu itu sendiri. Peningkatan LOC-i didapatkan pada individu yang melakukan meditasi. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara prevalensi depresi dengan tipe LOC pada peserta meditasi di kota Denpasar yang dilakukan pada bulan Maret sampai November 2015. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan mengikutkan 180 responden. Responden mengisi kuesioner Beck’s Depression Inventory dan IPC-LOC. Depresi dan tipe LOC kemudian dianalisis menggunakan uji statistik Spearman correlation. Hasil penelitian didapatkan hubungan bermakna antara depresi dengan tipe LOC ( R=0,6). Prevalensi depresi pada peserta meditasi di kota Denpasar adalah 35,56%. Mayoritas peserta meditasi berumur 36 sampai 45 tahun (32,2%), perempuan (78,9%), menikah (62,8%), pendidikan terakhir diploma/sarjana (73,9%), tidak mempunyai kebiasaan merokok (95,0%), tidak mempunyai kebiasaan mengkonsumsi alkohol (96,7%), pendapatan keluarga/bulan >Rp 3.500.000,00 (47,8%), indeks massa tubuh normal (68,3%), dan LOC-e (57,2%). Disimpulkan terdapat hubungan bermakna antara depresi dengan tipe LOC, dengan prevalensi depresi lebih sedikit daripada yang tidak depresi pada peserta meditasi yang mayoritas berumur 36 sampai 45 tahun, perempuan, menikah, pendidikan terakhir diploma/sarjana, tidak mempunyai kebiasaan merokok dan mengkonsumsi alkohol, pendapatan keluarga/bulan >Rp 3.500.000,00, indeks massa tubuh
HUBUNGAN DISFUNGSI EREKSI PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE 2 TERHADAP KUALITAS HIDUP DI POLIKLINIK PENYAKIT DALAM RSUP SANGLAH PROVINSI BALI Muhammad Aris Sugiharso; Made Ratna Saraswati
E-Jurnal Medika Udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.776 KB)

Abstract

Erectile dysfunction was one of the complication of diabetes mellitus that often ignored. Besides, erectile dysfunction could be a sign of uncontrolled blood glucose and microvascular complication. This condition coexist with strict management of therapy will cause the psychological distress to the patient and will affect his health-related quality of life. This study purposed to determine the prevalence of diabetic man with erectile dysfunction, quality of life and its relation with the quality of life. This study used the cross – sectional descriptive and analytic design that held on Outpatient Department of Diabetic Sanglah General Hospital Center Bali with 34 participants enrolled in this research. The International Index of Erectile Function (IIEF) 15 quissionaire given to assess the erectile dysfunction, Diabetic Distress Scale (DDS) to assess the psychological pressure and RAND Short Form (SF) 36 to assess the quality of life of patient. From this study found that the prevalence of erectile dysfunction is 61.8%. From Kruskal – Wallis test found that the decrease of quality of life, particularly in physical functioning, role limitations due to physical health, energy / fatigue, social functioning and general health domain,  meanwhile with DDS questionnaire found the value of p>0.05 on all of the domain so that it concluded that there is no association between erectile dysfunction on diabetic patient with diabetic-related distress. From the Pearson correlation test found that the medium correlation (0.4 – 0.6) between erectile dysfunction on diabetic patient with physical functioning, emotional well-being and social functioning. Weak correlation (0.4) found on energy/fatigue and general health domain. The correlation was negative, which mean that higher the score of dysfunction on the patient will give the lower quality of life. It can be concluded that from this study found that there is a association between erectile dysfunction on diabetic patient and their quality of life. Meanwhile, there is no association between erectile dysfunction with the diabetic-related stress.
OLAHRAGA SENAM SATRIA NUSANTARA, OLAHRAGA JALAN CEPAT MENURUNKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA HIPERTENSI DI LAPANGAN RENON, DENPASAR Mauritius Septa Kristiawan; I Nyoman Adiputra
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.709 KB)

Abstract

Proses penuaan pada lansia akan menghasilkan perubahan dari fisik, mental, sosial, ekonomi, dan fisiologi. Salah satu perubahan yang terjadi adalah perubahan pada struktur vena besar yang dapat mengakibatkan terjadinya hipertensi. Senam lansia dan Olahraga jalan cepat merupakan salah satu dari terapi non-farmakologi untuk penderita hipertensi. Telah dilaksanakan penelitian dengan studi cohort pada Kelompok Olahraga Senam dan Kelompok Olahraga Jalan Cepat. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan olahraga terhadap hipertensi pada lansia. Penelitian ini menggunakan 77 orang sampel, 58 orang laki-laki dan 19 orang perempuan. Penelitian ini dilakukan selama 3 bulan dengan menggunakan Sphygmomanometer melalui pengukuran langsung di Lapangan Renon Denpasar. Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah olahraga. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata tekanan darah sistolik pada responden sebelum melakukan senam yaitu sebesar 140,03 mmHg dan diastoliknya sebesar 87,87 mmH, dan setelah melakukan senam sistoliknya turun 132,18 mmHg dan diastoliknya 85,46 mmHg. Nilai p <0,001 untuk Kelompok Olahraga Senam dan nilai p <0,001 untuk Kelompok Olahraga Jalan Cepat, nilai tersebut menunjukkan bahwa Olahraga Senam dan Olahraga Jalan Cepat efektif menurunkan tekanan darah pada penderita hipertensi. Olahraga senam dan Olahraga Jalan Cepat efektif menurunkan tekanan darah pada lansia hipertensi dan perlu upaya untuk meningkatkan pengetahuan lansia mengenai manfaat olahraga. Kata kunci :olahraga senam Satria Nusantara, jalan cepat, lansia, hipertensi
IDENTIFIKASI BAKTERI Eschericia coli SEROTIPE O157 DENGAN MEDIA SORBITOL MAC CONKEY AGAR (SMAC) PADA BUAH SEMANGKA POTONG DARI PEDAGANG BUAH KAKI LIMA DI KOTA DENPASAR I Made Nugraha Gunamanta Sabudi; Made Agus Hendrayana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.098 KB)

Abstract

coli is a bacteria that can cause clinical manifestations from mild to severe diarrhea, especially E. coli serotipe O157 as pathogenic bacterium that can cause bloody diarrhea. Watermelon pieces sold by street vendors is a fruit that is processed in a minimalist way and have a chance contaminated with E. coli in various ways during the cutting process, storage, till packing up to the consumer. Therefore it was important to identify the E. coli serotipe O157 on watermelon pieces sold by street vendors. The aim of study was to determine whether there was E. coli serotipe O157 or not in watermelon pieces that sold by fruit street vendor in Denpasar. The method used TSB grower medium, McConkey, EMBA, SMAC and gram staining to identificate of E. coli serotipe O157 on watermelon pieces samples. The study found five samples showed positive signs of E. coli, and none showed signs of positive E. coli O157 from ten samples. As a conclusion there was no E. coli serotipe O157 showed on watermelon pieces, but found positive E.coli (non serotipe O157) in Denpasar, especially on North, West and East Denpasar Keywords: Identification, E. coli, serotipe O157, Watermelon, Watermelon pieces, fruits street vendors
Kadar antioksidan superoksida dismutase (SOD) hati tikus pada aktivitas fisik berat I Putu Prananta Andi Yunarsa; I Putu Gede Adiatmika
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.758 KB)

Abstract

Heavy physical activity will be increased the production of free radicals or reactive oxygen species (ROS) in the body, so it can decreased intracellular antioxidant enzymes liver, including superoxide dismutase (SOD). This study aims to determine antioxidant superoxide dismutase activity in liver on heavy physical activity. This research was a laboratory experiment with randomized post-test only control group design. This study was used of 20 male rats albino Wistar strain with an average body weight of 200 g. Rats were divided into two groups, without treatment or control treatment (K1) and treatment with heavy physical activity (K2). Heavy physical activity treatment are given swimming for one hour/day. This research was carried out for 3 weeks. At the end of the treatment, all rats ware sacrificed by euthanasia using ketamine-HCl 1 mL/200 g bw. Rat liver were taken and divided into two, namely for SOD level analysis and for immunohistochemical staining. Data were analyzed by independent t test. The results showed that treatment of heavy physical activity have a negative impact. Level of SOD in rat liver tissue by 34.84% lower compared to the control treatment (K1) of 68.39% (p<0.01). By immunohistochemistry, on liver tissue of normal control rats (K1), qualitatively appear SOD react positively on nucleus and the cytoplasm with a strong brown color intensity compared to liver tissue rat with heavy physical activity treatment (K2). It can be concluded that heavy physical activity can reduce level of SOD enzyme in the liver. Keywords: heavy physical activity, SOD, free radical, oxidative stress.
PERBEDAAN SKOR KEBERHASILAN TERAPI PADA PASIEN PATAH TULANG PERGELANGAN KAKI YANG DILAKUKAN PEMBEDAHAN DAN TANPA PEMBEDAHAN DENGAN INSTRUMEN FOOT AND ANKLE ABILITY MEASURE (FAAM) DI RSUP SANGLAH TAHUN 2014-2016 Ni Putu Sri Wulandari; IGL Ngr Agung Artha Wiguna; I Wayan Niryana
E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (162.101 KB)

Abstract

Patah tulang pergelangan kaki adalah salah satu patah tulang yang paling sering ditemui di UGD. Penanganan patah tulang pergelangan kaki masih kontroversi. Terdapat instrumen yang dapat digunakan untuk menilai fungsi fisik terkait gangguan pada pergelangan kaki. Peneliti ingin mengetahui perbedaan skor keberhasilan terapi pada pasien patah tulang pergelangan kaki yang dilakukan pembedahan dan tanpa pembedahaan dengan instrumen FAAM di RSUP Sanglah dari tahun 2014-2016. Penelitian ini merupakan penelitian analitik cross-sectional, diperoleh total 60 sampel yang dibagi dalam kelompok pembedahan (30 pasien) dan tanpa pembedahan (30 pasien). Data diambil secara sekunder dengan melihat rekam medis pasien dan juga diambil secara primer dengan melakukan wawancara kuesioner. Data dianalisis menggunakan program SPSS. Hasil penelitian menunjukkan pasien pada kelompok pembedahan dan tanpa pembedahan lebih banyak berjenis kelamin laki-laki dengan persentase 53,3% dan 70,0%, status pendidikan SMA (66,7%), status pekerjaan pegawai dengan persentase 53,3% dan 46,7%, dan jenis patah tulang SER dengan persentase 46,7% dan 56,7%. Kelompok pembedahan rerata berusia 39,10 tahun dan lama patah tulang 1,20 tahun yang lalu. Kelompok tanpa pembedahan rata-rata berusia 35,43 tahun dan lama patah tulang 1,11 tahun yang lalu. Uji normalitas Saphiro-Wilk skor ADL dan skor sports berdistribusi normal dengan nilai p = >0,05. Uji independent sample t-test menunjukkan perbedaan rerata skor ADL dan skor sports yang signifikan pada kelompok pembedahan dan tanpa pembedahan dengan nilai p=0,000 dan 0,028. Terdapat perbedaan skor keberhasilan terapi pada kelompok pembedahan dan tanpa pembedahan dengan nilai p yang signifikan secara statistik. Kata kunci : fraktur ankle, ORIF, gips, skor FAAM
KORELASI FAKTOR PREDIPOSISI KEJADIAN SKABIES PADA ANAK- ANAK DI DESA SONGAN, KECAMATAN KINTAMANI, KABUPATEN BANGLI, PROVINSI BALI Pande Mirah Dwi Anggreni; I Gusti Ayu Agung Elis Indira
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.731 KB)

Abstract

kabies adalah kelainan dermatologi yang diakibatkan infestasi dari Sarcoptes scabei,yang biasanya ditemukan di daerah pedesaan. Desa Songan merupakan suatu desa yang beradadi Kabupaten Bangli dengan tingkat insiden skabies yang tinggi khususnya di musim dingin.Padahal daerah di sekitar Desa Songan, kasus skabiesnya tergolong rendah. Penelitian skabiesini dimaksudkan untuk mengetahui faktor prediposisi terkait dengan fenomena skabies padaanak-anak sekolah dasar di Desa Songan. Studi dengan metode potong lintang ini dilaksanakandari bulan Maret hingga Oktober 2015. Sejumlah 178 anak dari dua sekolah dasar di DesaSongan menjadi subjek penelitian. Kejadian skabies beserta faktor prediposisi yangberhubungan dinilai melalui kuesioner dan wawancara. Data kemudian dianalisis dengan analisaunivariat dan bivariat. Dari 178 anak dalam penelitian ini, prevalensi skabies sejumlah 23,6%.Prevalensi pada anak laki-laki lebih besar dibanding anak perempuan (69,0% dan 31,0%).Mayoritas kasus skabies ditemukan pada anak dengan personal hygiene yang buruk (92,6%),status nutrisi yang buruk (85,7%), status ekonomi rendah (78,6%), tingkat pengetahuan orangtua pada skabies yang rendah (85,7%). Beberapa faktor yang ditemukan berhubungan secarasignifikan dengan kejadian skabies adalah jenis kelamin (p=0,004) dan personal hygiene(p=0,001). Kejadian skabies di Desa Songan secara signifikan dipengaruhi oleh faktor jeniskelamin dan personal hygiene. Program edukasi terkait personal hygiene dan kebersihanlingkungan dengan target anak-anak sekolah dasar sangat perlu dikembangkan. Determinansosial dan ekonomi yang mendasari lainnya yang berkontribusi terhadap kebersihan pribadiyang rendah juga perlu ditangani. Kata kunci : skabies, anak, faktor risiko, Desa Songan
RERATA UKURAN GINJAL DEWASA NORMAL DENGAN COMPUTED TOMOGRAPHY DI RSUP SANGLAH TAHUN 2017 Gusti Ayu Made Lindya Dewi; Ni Nyoman Margiani; I Made Dwijaputra Ayusta
E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana
Publisher : Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (278.226 KB)

Abstract

Ginjal merupakan salah satu organ vital pada tubuh manusia yang sangat penting peranannya dalam metabolisme tubuh. Ukuran ginjal merupakan salah satu parameter dalam menentukan ginjal yang sehat. Bila ada kelainan, yang kemungkinan terjadi pada kelainan kronis atau akut ditandai dengan pembesaran ukuran ginjal. Sehingga sangat penting untuk mengetahui ukuran ginjal yang sesungguhnya karena akan sangat membantu dalam menegakkan diagnosis dan salah satu metode yang dapat dilakukan untuk mengetahui ukuran ginjal yaitu melalui pemeriksaan CT Scan. Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat deskriptif dengan rancangan penelitian cross sectional. Subjek penelitian ini adalah semua pasien yang melakukan pemeriksaan radiologi abdominal CT Scan tanpa ada kelainan fungsi ginjal di Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah dengan melakukan total sampling dari pasien radiologi yang melakukan abdominal CT Scan. Terdapat 80 orang subjek yang menjadi sampel dalam penelitian ini. Dari 80 orang sampel didapatkan ukuran rerata ginjal kanan dengan panjang 83,61 mm, lebar 55,59 mm dan tinggi 94,18 mm. Ukuran rerata ginjal kiri dengan panjang 87,58 mm, lebar 58,71 mm dan tinggi 95,83 mm. Pada 80 orang subjek didapatkan bahwa rerata ukuran ginjal kanan lebih kecil dibandingkan rerata ukuran ginjal kiri. Berdasarkan jenis kelamin, laki – laki memiliki rerata ukuran ginjal yang lebih besar dibandingkan perempuan. Kata kunci : Ginjal, CT- Scan, Jenis Kelamin.

Page 81 of 196 | Total Record : 1956


Filter by Year

2012 2024


Filter By Issues
All Issue Vol 13 No 07 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 9 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 8 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 6 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 5 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 4 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 3 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 2 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 13 No 1 (2024): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 12 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 11 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 10 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 9 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 8 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 7 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 6 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 5 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 4 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 3 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 2 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 12 No 1 (2023): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): Vol 11 No 06(2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 12 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 11 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 10 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 9 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 8 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 7 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 6 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 5 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 4 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 3 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 2 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 11 No 1 (2022): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 12 (2021): Vol 10 No 12(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 11 (2021): Vol 10 No 11(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 10 (2021): Vol 10 No 10(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 9 (2021): Vol 10 No 09(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 8 (2021): Vol 10 No 08(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 7 (2021): Vol 10 No 07(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 6 (2021): Vol 10 No 06(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 5 (2021): Vol 10 No 05(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 4 (2021): Vol 10 No 04(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 3 (2021): Vol 10 No 03(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 2 (2021): Vol 10 No 02(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 10 No 1 (2021): Vol 10 No 01(2021): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 12 (2020): Vol 9 No 12(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 11 (2020): Vol 9 No 11(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 10 (2020): Vol 9 No 10(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 9 (2020): Vol 9 No 09(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 8 (2020): Vol 9 No 08(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 7 (2020): Vol 9 No 07(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 6 (2020): Vol 9 No 06(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 5 (2020): Vol 9 No 05(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 4 (2020): Vol 9 No 04(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 3 (2020): Vol 9 No 03(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 2 (2020): Vol 9 No 02(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 9 No 1 (2020): Vol 9 No 01(2020): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): Vol 8 No 5 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): Vol 8 No 4 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 12 (2019): Vol 8 No 12 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 11 (2019): Vol 8 No 11 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 10 (2019): Vol 8 No 10 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 9 (2019): Vol 8 No 9 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 8 (2019): Vol 8 No 8 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 7 (2019): Vol 8 No 7 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 6 (2019): Vol 8 No 6 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 3 (2019): Vol 8 No 3 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 2 (2019): Vol 8 No 2 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 12 (2018): Vol 7 No 12 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 11 (2018): vol 7 no11 2018 E-jurnal medika udayana Vol 7 No 10 (2018): Vol 7 No 10 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 9 (2018): Vol 7 No 9 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 8 (2018): Vol 7 No 8 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 7 (2018): Vol 7 No 7 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 6 (2018): Vol 7 No 6 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 5 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 4 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 3 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 2 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 7 No 1 (2018): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 12 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 11 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 10 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 9 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 8 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 7 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 6 (2017): E-Jurnal Medika Udayana Vol 6 No 5 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 4 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 3 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 2 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 6 No 1 (2017): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 12 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5, No 11 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 10 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 9 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 8 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 7 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 6 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 5 (2016): E-jurnal medika udayana Vol 5 No 4 (2016): E-jurnal medika udayana vol 5 no 3(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 2(2016):e-jurnal medika udayana vol 5 no 1(2016):e-jurnal medika udayana vol 4 no 12(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 11(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 10(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 9(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 8(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 7(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 6(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 5(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 4(2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 3 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 2 (2015):e-jurnal medika udayana vol 4 no 1 (2015):e-jurnal medika udayana vol 3 no 12(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 11(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 10(2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 9 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 8 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 7 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 6 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 5 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 4 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 3 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 2 (2014):e-jurnal medika udayana vol 3 no 1 (2014):e-jurnal medika udayana vol 2 no 12 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 11 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 10 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 9 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 8 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no 7 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no6(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no5(2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no4 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no3 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no2 (2013):e-jurnal medika udayana vol 2 no1 (2013):e-jurnal medika udayana Vol 1 No 1 (2012): e-jurnal Medika Udayana More Issue