cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota adm. jakarta pusat,
Dki jakarta
INDONESIA
Sari Pediatri
ISSN : 08547823     EISSN : 23385030     DOI : -
Core Subject : Health,
Arjuna Subject : -
Articles 1,519 Documents
Demam Berkepanjangan pada Anak di RSUP Fatmawati Tahun 2008-2010 Debbie Latupeirissa
Sari Pediatri Vol 14, No 4 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.898 KB) | DOI: 10.14238/sp14.4.2012.241-5

Abstract

Latar belakang. Demam berkepanjangan merupakan penyebab penting morbiditas dan mortalitas padaanak, terutama di negara-negara tropis dan sedang berkembang. Diagnosis sering sulit ditentukan sehinggaperlu diteliti etiologi dan karakteristik demam berkepanjangan pada anak, khususnya di RSUP Fatmawati,Jakarta.Tujuan. Mengetahui karakterisrik penyebab demam berkepanjangan pada anak di RSUP Fatmawati.Metode. Penelitian deskriptif retrospektif dilakukan untuk melihat karakteristik dan etiologi pasiendemam berkepanjangan yang dirawat di SMF Kesehatan Anak RSUP Fatmawati. Populasi anak dengandiagnosis demam berkepanjangan diambil dari data rekam medis sejak Januari 2008 hingga Desember2010.Hasil. Angka kejadian pasien demam berkepanjangan di SMF Kesehatan Anak RSUP Fatmawati 0,68%(60/8808 pasien), sebagian besar laki-laki. Rerata usia adalah 7,28±3,91 tahun. Penyebab terbanyak penyakitinfeksi 97%, yaitu demam tifoid, tuberkulosis paru dan infeksi saluran kemih. Sebagian besar pasien berusia> 6 tahun, memiliki status gizi kurang. Kuman terbanyak ditemukan pada biakan darah dan urin yaituSalmonella typhi dan E.coli.Kesimpulan. Penyakit infeksi masih merupakan penyebab utama demam berkepanjangan pada anak.
Surveilans Influeza pada Pasien Rawat Jalan Putu Siadi Purniti; Ida Bagus Subanada; Ida Sri Iswari
Sari Pediatri Vol 12, No 4 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.688 KB) | DOI: 10.14238/sp12.4.2010.278-82

Abstract

Latar belakang. Influenza merupakan infeksi yang sering terjadi dan memberikan dampak yang besar padakelompok usia anak. Informasi mengenai tingkat kunjungan pasien seasonal influenza diperlukan untukmenilai besarnya dampak yang ditimbulkan penyakit influenza Rapid influenza test dapat membantu diagnosisdan penanganan pasien yang datang dengan manifestasi klinis seasonal influenza.Tujuan. Untuk mengetahui tingkat kunjungan pasien dengan seasonal influenza dan nilai diagnostik pemeriksaanrapid influenza test.Metode. Surveilans seasonal influenza dilaksanakan di Poliklinik Rawat Jalan Bagian//SMF Ilmu KesehatanAnak RSUP Sanglah Denpasar Bali selama periode 1 Januari 2005 sampai 31 Desember 2006. Pasien usia1 bulan sampai dengan 12 tahun dengan manifestasi klinis influenza like illness berdasarkan kriteria WHOdiikutsertakan dalam penelitian. Pada subyek penelitian dilakukan apusan hidung untuk pemeriksaan rapid influenzadan apusan tenggorok untuk pemeriksaan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RT-PCR).Hasil. Didapatkan prevalensi seasonal influenza pada anak di RSUP Sanglah Denpasar Bali 16,8%. Duapuncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari sampai April dan September sampai Desember. Pemeriksaanrapid influenza memiliki sensitivitas 12,87% (IK 95%: 12,54-12,89%), spesifisitas 99,6% (IK 95%:99,59-99,61%), nilai duga positif 86,67% (IK 95%: 86,47-86,94%), nilai duga negatif 84,98% (IK 95%:82,18-87,78%), rasio kemungkinan positif 32,18% (IK 95%: 28,45-35,91%), dan rasio kemungkinannegatif 0,88% (IK 95%:62,1-113,8%).Kesimpulan. Prevalensi seasonal influenza pada penderita rawat jalan di Poliklinik anak RSUP SanglahDenpasar Bali 16,8%. Dua puncak kejadian terjadi pada periode bulan Januari–April dan September–Desember. Pemeriksaan rapid influenza memiliki sensitivitas yang rendah tetapi spesifisitas dan nilai dugapositif yang tinggi
Hipermetilasi Promoter Gen Apoptotic Protease-Activating Factor-1 (APAF1) pada Leukimia Limfoblastik Akut Anak Ika Fidianingsih; Eddy Supriyadi; Dewajani Purnomosari
Sari Pediatri Vol 14, No 2 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (104.626 KB) | DOI: 10.14238/sp14.2.2012.79-83

Abstract

Latar belakang. Hipermetilasi DNA ditengarai berperan penting dalam inaktivasi gen tumor supresor (tumor suppressor gene= TSG) pada keganasan hematologi. Gen APAF1 mempunyai frekuensi hipermetilasi cukup tinggi pada leukemia limfoblastik akut (LLA) anak. Inaktivasi gen APAF1 menyebabkan sel progenitor limfoid mengalami gangguan apoptosis. Tujuan.Mengetahui frekuensi hipermetilasi promoter APAF1 pada pasien yang terdiagnosis LLA anak di RSUP DR. Sardjito Yogyakarta, serta hubungannya dengan karakteristik umur, jumlah leukosit dan imunofenotip.Metode.Dari 32 DNA sampel mononuklaer darah perifer pasien LLA anak saat terdiagnosis (Oktober 2004-Mei 2009) dideteksi menggunakan methylation spesific polymerase chain reaction(MSP). Analisis statistik dilakukan dengan menggunakan uji Fisher exact.Hasil.Hipermetilasi APAF1 terjadi pada 26 (81,3%) pasien LLA anak. Hipermetilasi APAF1 lebih banyak terjadi pada kelompok umur 1-10 tahun, jumlah leukosit t50000/μl, dan imunofenotip B, dibanding kelompok umur <1 tahun dan >10 tahun, jumlah leukosit <50000/μl, dan imunofenotip T, walaupun demikian perbedaannya tidak bermakna (p>0,05).Kesimpulan. Frekuensi hipermetilasi APAF1 mempunyai frekuensi cukup tinggi pada pasien LLA anak dan tidak berhubungan dengan umur, jumlah leukosit dan imunofenotip.
Korelasi Kadar Plasminogen Activator Inhibitor-1 (PAI-1) Plasma dengan Enzim Transaminase Serum pada Demam Berdarah Dengue Budi Santosa; Kisdjamiatun RMD; Tatty Ermin; Ni Putu Aniek Mahayani
Sari Pediatri Vol 12, No 1 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp12.1.2010.6-10

Abstract

Latar belakang. Plasminogen activator inhibitor-1 (PAI-1) adalah inhibitor fibrinolisis yang berperan padapatogenesis demam berdarah dengue (DBD). Peningkatan PAI-1 akan menyebabkan peningkatan statusprokoagulasi yang menyebabkan terbentuknya mikrotrombi dan menyebabkan gagal multi organ dan kematian.Serum SGOT dan SGPT digunakan sebagai penanda kerusakan hepatoselular. Peningkatan kadar keduapenanda ini dapat menjadi indikator keparahan penyakit DBD.Tujuan. Mengetahui korelasi antara PAI-1 plasma terhadap SGOT dan SGPT serumMetode. Penelitian observasional analitik dengan cross sectional time series. Subjek adalah pasien DBD yangdirawat di bangsal anak RSUP Dr. Karyadi selama bulan Juli 2005 –Juli 2006, berusia 3-14 tahun yangbersedia berpartisipasi secara tertulis. Dilakukan pemeriksaan kadar PAI-1 dan SGOT, SGPT pada hari ke0 dan 2, di Lab Patologi Klinik RSDK menggunakan alat Dade Behring seri Dimension RXL. Dilakukanuji korelasi Spearman untuk mengetahui hubungan PAI-1 dengan SGOT dan SGPTHasil. Jumlah subjek penelitian 49 orang. Sebagian besar berjenis kelamin perempuan dengan rerata umur(7,3±2,7) tahun, rerata kadar PAI-1 hari 0 (98,8±142,60 ng/ml) lebih tinggi daripada hari ke 2 (55,1±29,59ng/ml) ; p=0,001. Kadar SGOT hari ke 0 (173,3 ± 159,11) U/L lebih tinggi daripada hari ke 2 (132,3 ±110,78) U/L p<0, sedangkan serum SGPT hari ke 2 (72,4 ± 68,92 U/L) lebih tinggi daripada hari ke 0(65,1 ± 49,35 U/L) p=0,8 .Uji korelasi kadar PAI-1 dengan serum SGOT dan SGPT hari ke 0 (r=0,33,p=0,02)dan (0,49 p<0,001); hari ke 2 (r=0,30 p=0,03) dan (r=0,35, p=0,01)Kesimpulan. Terdapat korelasi positif derajat lemah antara kadar PAI-1 plasma dengan kadar SGOT danSGPT serum pada pemeriksaan hari ke-0 dan ke-2. (
Prevalens dan Profil Klinis pada Anak Palsi Serebral Spastik dengan Epilepsi Alinda Rubiati Wibowo; Deddy Ria Saputra
Sari Pediatri Vol 14, No 1 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp14.1.2012.1-7

Abstract

Latar belakang. Epilepsi setiap kali ditemukan pada anak palsi serebral (15%-90%), khususnya pada palsi serebral spastik. Pengobatan epilepsi pada palsi serebral biasanya lebih sulit dan membutuhkan waktu lebih lama. Berbagai profil klinis pada anak palsi serebral, di antaranya adalah berat lahir rendah, kejang neonatal, kejang pertama pada usia ≤1 tahun, riwayat epilepsi pada keluarga, retardasi mental, dan kelainan CT scan/MRI kepala.Tujuan. Mengetahui prevalens dan profil klinis pada anak palsi serebral spastik dengan epilepsi.Metode. Penelitian deskriptif potong lintang menggunakan data sekunder pasien palsi serebral spastik di SMF Kesehatan Anak RSUP Fatmawati sejak 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2010. Hasil. Didasarkan 191 pasien palsi serebral spastik diikutsertakan dalam penelitian. Rasio laki-laki dan perempuan 1:1.1. Prevalens epilepsi pada palsi serebral spastik 50,8%. Profil klinis pada anak palsi serebral spastik dengan epilepsi yang ditemukan adalah asfiksia, usia gestasi kurang bulan, proses persalinan dengan tindakan, berat lahir rendah, infeksi susunan saraf pusat, kejang neonatal, kejang pertama pada usia ≤1 tahun, riwayat epilepsi dalam keluarga, CT scankepala, dan kelainan EEG. Angka kejadian anak palsi serebral spastik dengan epilepsi yang belum bebas kejang yaitu 49,5%.Kesimpulan. Prevalens epilepsi pada anak palsi serebral spastik sebesar 50,8%. Profil klinis ditemukan pada anak palsi serebral spastik dengan epilepsi di antaranya adalah asfiksia, usia gestasi kurang bulan, proses persalinan dengan tindakan, berat lahir rendah, infeksi susunan saraf pusat, kejang neonatal, kejang pertama pada usia ≤1 tahun, riwayat epilepsi dalam keluarga, kelainan lingkar kepala, kelainan CT scankepala, dan kelainan EEG. Angka kejadian anak palsi serebral spastik dengan epilepsi yang belum bebas kejang 49,5%.
Pengaruh Kepatuhan Latihan Senam Kesegaran Jasmani 1988 Terhadap Perilaku Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas Listya Tresnanti Mirtha; Rini Sekartini
Sari Pediatri Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.397 KB) | DOI: 10.14238/sp18.2.2016.146-56

Abstract

Latar belakang. Gangguan Pemusatan Perhatian/Hiperaktivitas (GPP/H) merupakan gangguan neuropsikiatrik yang disinyalir memberikan dampak negatif bagi kesehatan ketika dewasa.Tujuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dan sosiodemografis anak dengan GPP/H, dan pengaruh kepatuhan latihan fisik terhadap perubahan prilaku pada anak GPP/H.Metode. Penelitian eksperimen, pre-post design dengan perlakuan latihan SKJ ’88 dilakukan pada subjek penelitian di Sekolah Khusus Al-Ikhsan selama 8 minggu. Pemilihan sampel digunakan metode tanpa acak (non probability sampling) dengan jenis metode consecutive sampling, yaitu semua anak dengan GPP/H yang memenuhi kriteria pemilihan akan diikutsertakan dalam penelitian. Analisis data digunakan uji t satu sampel dan uji t berpasangan.Hasil. Di antara 40 subjek penelitian, didapatkan 19 (47,5%) sangat patuh dan 21 (52.5%) patuh. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI orangtua (SPPAHI-O) tiap tipe GPP/H didapatkan inatentif 46,2 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 60,4 (p<0,001), campuran 47,6 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di rumah. Nilai selisih rata-rata skor SPPAHI guru (SPPAHI-G) tiap tipe GPP/Hdidapatkan inatentif 41,7 (p<0,001), hiperaktif-impulsif 56,8 (p<0,001), campuran 42,2 (p<0,001) ditunjukkan adanya perbaikan perilaku di sekolah.Kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan melakukan latihan SKJ ’88 berpengaruh terhadap perbaikan perilaku di rumah (p<0.001) dan di sekolah (p<0.001) pada kelompok subjek sangat patuh maupun patuh.
Gambaran Pola Resistensi Bakteri di Unit Perawatan Neonatus Pertin Sianturi; Beby S. Hasibuan; Bugis M. Lubis; Emil Azlin; Guslihan Dasa Tjipta
Sari Pediatri Vol 13, No 6 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (76.882 KB) | DOI: 10.14238/sp13.6.2012.431-6

Abstract

Latar belakang. Angka kejadian sepsis neonatus di negara sedang berkembang masih cukup tinggi. Sepsis neonatus paling sering disebabkan oleh infeksi bakteri. Penundaan pengobatan akan menyebabkan perburukan penyakit dan mengakibatkan kematian. Sebaliknya penanganan yang berlebihan akan meningkatkan penggunaan antibiotik, lama rawatan, dan kejadian infeksi nosokomial.Tujuan. Untuk menentukan pola kuman dan resistensi antibiotik di unit perawatan neonatus RSUP. H Adam Malik Medan sebagai acuan pemilihan antibiotik.Metode. Penelitian observasional deskriptif berdasarkan data rekam medik pasien dirawat di Unit Perawatan Neonatus RSUP.HAM sejak 1 Januari 2008 sampai 31 Desember 2010. Semua bayi dengan gejala klinis sepsis diberikan antibiotik empirik sampai hasil kultur diperoleh. Semua hasil biakan diuji kepekaan dan resistensi terhadap berbagai jenis antibiotik.Hasil. Jumlah pasien rawatan 1403 orang dengan sangkaan sepsis 239 bayi. Hasil biakan darah yang diperoleh tahun 2008 sampai 2010 berturut-turut 43/66 kasus, 80/118 kasus, dan 35/55 kasus. Sepsis neonatus dominan laki-laki, yaitu 86 (54,4%). Bayi prematur menderita sepsis 45(28,5%). Kuman paling banyak dijumpai adalah kuman gram negatif. Kuman penyebab sepsis paling banyak adalah Staphylococcus spdiikuti Pseudomonas spdan Enterobacter sp. Vancomycin merupakan antibiotik paling sensitif tahun 2008 dan 2009 sedangkan tahun 2010 antibiotik paling sensitif adalah amikacin. Resistensi kuman terhadap antibiotik golongan Penicillin sudah sangat tinggi. Bakteri staphylococcus sp,pseudomonas sp,enterobacter spmasih sensitif terhadap antibiotik vankomisin, amikasin dan meropenem.Kesimpulan. Pola kuman paling banyak dijumpai di unit perawatan neonatus RSUP.HAM adalah Staphylococcus sp, Pseudomonas sp dan Enterobacter spsensitif terhadap vancomycin, meropenem dan amikacin sedangkan penggunaan antibiotik lini pertama yaitu ampisilin, gentamicin dan cefotaxime telah resisten.
Pediatric Early Warning Score: Bagaimana langkah kita selanjutnya? Rismala Dewi
Sari Pediatri Vol 18, No 1 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp18.1.2016.68-73

Abstract

Pengenalan secara dini tanda dan gejala perburukan klinis pada pasien anak di ruang perawatan merupakan faktor utama demi kelangsungan hidup dan memperbaiki prognosis. Anamnesis dan pemeriksaan fisis singkat diperlukan untuk mendapatkan data yang akurat agar intervensi oleh tim medis reaksi cepat (TMRC) dapat dilakukan segera, sehingga mencegah perburukan klinis menjadi gagal sirkulasi, gagal napas, atau henti kardiopulmonal. Pediatric early warning score (PEWS) merupakan salah satu alat atau sistem skoring menggunakan karakteristik pasien yang dapat mendeteksi perburukan klinis pada anak di ruang rawat inap saat ini belum ada konsensus dan juga bukti sistem PEW yang paling berguna atau ‘optimal’ untuk kasus anak. 
Kolonisasi Kuman dan Kejadian Omfalitis pada Tiga Regimen Perawatan Tali Pusat pada Bayi Baru Lahir Riza Yefri; Mayetti Mayetti; Rizanda Machmud
Sari Pediatri Vol 11, No 5 (2010)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp11.5.2010.341-7

Abstract

Latar belakang. Infeksi merupakan penyebab terbanyak kematian bayi baru lahir dan salah satunya disebabkanoleh infeksi tali pusat (omfalitis). Untuk mencegah timbulnya omfalitis bermacam antiseptik atauantimikroba sudah digunakan secara luas. Rekomendasi pemilihan regimen perawatan harus didasarkanpola kolonisasi kuman di institusi tersebut. Badan Kesehatan dunia WHO dan AAP merekomendasikanperawatan tali pusat cara kering tanpa antiseptik ataupun antimikroba.Tujuan. Mengetahui pola kolonisasi kuman, kejadian omfalitis, dan lama puput tali pusat pada regimenperawatan dengan alkohol 70%, povidon iodin 10%, dan cara kering di RS Dr. M. Djamil Padang.Metode. Penelitian klinis eksperimental di Ruang Rawat Kebidanan dan Rawat Gabung RS dr. M. Djamilselama April hingga Agustus 2009. Bayi yang memenuhi kriteria penelitian dirandomisasi untuk mendapatkansatu metode perawatan tali pusat dengan alkohol 70%, povidon iodin 10%, atau cara kering. Swabumbilikal untuk biakan kuman dilakukan di rumah sakit saat bayi berusia 48-72 jam. Bayi diamati sampaitali pusat puput. Analisis data dengan uji chi-square dan Fischer exact.Hasil. Jumlah bayi yang diteliti 147, masing-masing kelompok terdiri dari 49 bayi. Hasil biakan ditemukanpertumbuhan kuman 97,3%, di antaranya 47,5% ditumbuhi lebih 1 kuman (polimikroba). Klebsiella speciesdan Staphylococcus aureus merupakan kuman dominan pada ketiga regimen. Kuman Gram negatif lebihbanyak dari Gram positif. Ditemukan satu kasus omfalitis pada cara kering. Lama puput tali pusat lebihcepat pada cara kering.Kesimpulan. Tidak terdapat perbedaan kolonisasi kuman pada ketiga regimen perawatan tali pusat. Kejadianomfalitis ditemukan satu kasus pada cara kering. Lama puput tali pusat lebih cepat pada cara kering.
Diare Rotavirus pada Anak Usia Balita Titis Widowati; Nenny S Mulyani; Hera Nirwati; Yati Soenarto
Sari Pediatri Vol 13, No 5 (2012)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp13.5.2012.340-5

Abstract

Latar belakang. Rotavirus merupakan penyebab tersering diare akut berat pada anak balita. Peningkatan yang pesat di bidang teknologi diagnostik memungkinkan dilakukan identifikasi genotipe rotavirus penyebab diare. Belum banyak penelitian di Indonesia yang melaporkan hubungan antara genotipe rotavirus dengan manifestasi klinisnya. Tujuan. Mengetahui hubungan antara genotipe rotavirus dengan gambaran klinis.Metode. Penelitian potong lintang dengan subyek pasien diare akut yang berobat di Poliklinik Anak atau dirawat inap di RS DR Sardjito. Subyek yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian diambil data klinis dan sampel tinja untuk dilakukan pemeriksaan rotavirus dengan enzyme immunoassaydan deteksi genotipe dengan pemeriksaan RT-PCR (Gentsch, 1992). Dilakukan penilaian derajat keparahan diare menggunakan 20-point severity scoring systemyang dimodifikasiHasil.Selama Januari 2006 - Maret 2007 didapatkan 353 kasus diare akut, 116 (32,68%) di antaranya positif terinfeksi rotavirus. Prevalensi tertinggi dijumpai pada kelompok usia 6-23 bulan (65,5%). Diare rotavirus menunjukkan gejala klinis yang lebih berat (severity score>11) dibanding diare karena penyebab lain (RR=1,27, IK 95% 1,08-1,49). Jenis genotipe rotavirus yang paling banyak ditemukan adalah G1 (27,5%) diikuti dengan G9 (18%), G2 (17%), G4 (3%), G3 (2%). Kombinasi G-P terbanyak adalah G1 P[6] (20%). Tipe untypeable(28.6%) dan G 1 (28.6%) paling sering memberikan gejala klinis berat (severity scoring >11) diikuti dengan G 9 (23.8%). Kesimpulan. Pasien diare rotavirus yang untypeable dan G 1 lebih sering mengalami dehidrasi dan muntah serta memberikan gambaran klinis yang lebih berat. Sangat penting mendeteksi lebih jauh jenis genotipe dari untypeableuntuk kepentingan pembuatan vaksin rotavirus yang mampu melindungi terhadap berbagai macam galur rotavirus.

Page 13 of 152 | Total Record : 1519


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 27, No 4 (2025) Vol 27, No 3 (2025) Vol 27, No 2 (2025) Vol 27, No 1 (2025) Vol 26, No 6 (2025) Vol 26, No 5 (2025) Vol 26, No 4 (2024) Vol 26, No 3 (2024) Vol 26, No 2 (2024) Vol 26, No 1 (2024) Vol 25, No 6 (2024) Vol 25, No 5 (2024) Vol 25, No 4 (2023) Vol 25, No 3 (2023) Vol 25, No 2 (2023) Vol 25, No 1 (2023) Vol 24, No 6 (2023) Vol 24, No 5 (2023) Vol 24, No 4 (2022) Vol 24, No 3 (2022) Vol 24, No 2 (2022) Vol 24, No 1 (2022) Vol 23, No 6 (2022) Vol 23, No 5 (2022) Vol 23, No 4 (2021) Vol 23, No 3 (2021) Vol 23, No 2 (2021) Vol 23, No 1 (2021) Vol 22, No 6 (2021) Vol 22, No 5 (2021) Vol 22, No 4 (2020) Vol 22, No 3 (2020) Vol 22, No 2 (2020) Vol 22, No 1 (2020) Vol 21, No 6 (2020) Vol 21, No 5 (2020) Vol 21, No 4 (2019) Vol 21, No 3 (2019) Vol 21, No 2 (2019) Vol 21, No 1 (2019) Vol 20, No 6 (2019) Vol 20, No 5 (2019) Vol 20, No 4 (2018) Vol 20, No 3 (2018) Vol 20, No 2 (2018) Vol 20, No 1 (2018) Vol 19, No 6 (2018) Vol 19, No 5 (2018) Vol 19, No 4 (2017) Vol 19, No 3 (2017) Vol 19, No 2 (2017) Vol 19, No 1 (2017) Vol 18, No 6 (2017) Vol 18, No 5 (2017) Vol 18, No 4 (2016) Vol 18, No 3 (2016) Vol 18, No 2 (2016) Vol 18, No 1 (2016) Vol 17, No 6 (2016) Vol 17, No 5 (2016) Vol 17, No 4 (2015) Vol 17, No 3 (2015) Vol 17, No 2 (2015) Vol 17, No 1 (2015) Vol 16, No 6 (2015) Vol 16, No 5 (2015) Vol 16, No 4 (2014) Vol 16, No 3 (2014) Vol 16, No 2 (2014) Vol 16, No 1 (2014) Vol 15, No 6 (2014) Vol 15, No 5 (2014) Vol 15, No 4 (2013) Vol 15, No 3 (2013) Vol 15, No 2 (2013) Vol 15, No 1 (2013) Vol 14, No 6 (2013) Vol 14, No 5 (2013) Vol 14, No 4 (2012) Vol 14, No 3 (2012) Vol 14, No 2 (2012) Vol 14, No 1 (2012) Vol 13, No 6 (2012) Vol 13, No 5 (2012) Vol 13, No 4 (2011) Vol 13, No 3 (2011) Vol 13, No 2 (2011) Vol 13, No 1 (2011) Vol 12, No 6 (2011) Vol 12, No 5 (2011) Vol 12, No 4 (2010) Vol 12, No 3 (2010) Vol 12, No 2 (2010) Vol 12, No 1 (2010) Vol 11, No 6 (2010) Vol 11, No 5 (2010) Vol 11, No 4 (2009) Vol 11, No 3 (2009) Vol 11, No 2 (2009) Vol 11, No 1 (2009) Vol 10, No 6 (2009) Vol 10, No 5 (2009) Vol 10, No 4 (2008) Vol 10, No 3 (2008) Vol 10, No 2 (2008) Vol 10, No 1 (2008) Vol 9, No 6 (2008) Vol 9, No 5 (2008) Vol 9, No 4 (2007) Vol 9, No 3 (2007) Vol 9, No 2 (2007) Vol 9, No 1 (2007) Vol 8, No 4 (2007) Vol 8, No 3 (2006) Vol 8, No 2 (2006) Vol 8, No 1 (2006) Vol 7, No 4 (2006) Vol 7, No 3 (2005) Vol 7, No 2 (2005) Vol 7, No 1 (2005) Vol 6, No 4 (2005) Vol 6, No 3 (2004) Vol 6, No 2 (2004) Vol 6, No 1 (2004) Vol 5, No 4 (2004) Vol 5, No 3 (2003) Vol 5, No 2 (2003) Vol 5, No 1 (2003) Vol 4, No 4 (2003) Vol 4, No 3 (2002) Vol 4, No 2 (2002) Vol 4, No 1 (2002) Vol 3, No 4 (2002) Vol 3, No 3 (2001) Vol 3, No 2 (2001) Vol 3, No 1 (2001) Vol 2, No 4 (2001) Vol 2, No 3 (2000) Vol 2, No 2 (2000) Vol 2, No 1 (2000) More Issue