cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Tingkah Laku Harian Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Bali Safari and Marine Park, Gianyar YUDARINI, NURI DWI; WIDYASTUTI, SRI KAYATI; SOMA, I GEDE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (4) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (333.706 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkah laku harian gajah sumatera (Elephas maximus sumatranus) di penangkaran Bali Safari and Marine Park, Gianyar. Dua ekor gajah sumatera berjenis kelamin betina (Rini dan Juleha) diamati pada pukul 09.00 – 17.00 wita selama 20 hari. Data tingkah laku harian dikumpulkan dengan metode pengamatan focal animal sampling selama 20 menit dengan mencatat kejadian tingkah laku setiap kurun waktu 30 detik. Selama 20 hari pengamatan, sehari sebelumnya dilakukan pengenalan terhadap satwa gajah dan lokasi pengamatan sehingga akan didapat suatu tingkah laku harian gajah sumatera.Dari hasil pengamatan diperoleh 500 data focal animal sampling dengan total 20500 kejadian tingkah laku. Hasil pengamatan tingkah laku harian pada kedua ekor gajah sumatera di BSMP menunjukkan bahwa gajah memiliki proporsi tingkah laku paling banyak untuk makan (43,76%), istirahat (26,20%), pergerakan (15,73%), berkubang (7,53%), lain-lain (4,84%), salt lick (1,40%) dan minum (0,54%).Untuk proporsi tingkah laku makan di BSMP memiliki proporsi yang sama dengan tingkah laku makan yang ada di habitat aslinya. Proporsi tingkah laku pergerakan dan berkubang di BSMP menunjukkan hasil presentase lebih kecil dari proporsi tingkah laku di habitat asli. Sedangkan, proporsi tingkah laku istirahat di BSMP menunjukkan presentase lebih tinggi dibandingkan di habitat aslinya. Dan untuk proporsi tingkah laku salt lick dan minum di BSMP menunjukkan hasil yang dengan presentase tingkah laku di habitat aslinya.
Polimorfisme Lokus Mikrosatelit D18S536 pada Populasi Monyet Ekor Panjang di Pancasari, Bali PAUJIAH MUR, MIKEU; SOMA, I GEDE; WANDIA, I NENGAH
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (2) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.378 KB)

Abstract

Marka molekul mikrosatelit merupakan segmen langsung dari genom (DNA) sehingga variasi genetik yang ditemukan mencerminkan variasi genetik yang sebenarnya. Penelitian ini untuk mengkaji polimorfisme lokus mikrosatelit D18S536 pada populasi monyet ekor panjang di Pancasari, Bali. Sejumlah 10 sampel darah telah dikoleksi dan DNA total diekstraksi menggunakan QIAamp DNA Blood Mini Kit dari Qiagen. Lokus mikrosatelit D18S536 di amplifikasi dengan tekhnik polymerase chain reaction (PCR) dengan suhu annealing 54o C. Alel dipisahkan dengan elektroforesis pada gel poliakrilamid 7% dan dimunculkan dengan pewarnaan perak. 4 jenis alel pada lokus D18S536 dalam populasi monyet ekor panjang di Pancasaril dengan panjang alel berkisar 160-172 bp. Frekuensi alel bervariasi, alel 168 (0,45) memiliki frekuensi tertinggi disusul alel 164 (0,25), alel 160 (0,2) dan alel 172 (0,1). Heterosigositas lokus D18S536 sebesar h= 0,72. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa lokus D18S536 pada populasi monyet ekor panjang di Pancasari bersifat polimorfik.
Aktivitas Vermisidal dan Ovisidal Daun Biduri (Calotropis Spp.) Terhadap Cacing Fasciola Gigantica Secara In Vitro Maulana, Gilang Kala; Oka, Ida Bagus Made; Dwinata, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (4) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.013 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas vermisidal dan ovisidal daun Biduri (Calotropis spp.) terhadap cacing F. gigantica. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu telur dan cacing F. gigantica yang diperoleh dari Rumah Potong Hewan Pesanggaran dan daun biduri diambil dari pantai Sanur, Denpasar Bali. Konsentrasi daun biduri dibuat menggunakan daun segar yang dihancurkan dan kemudian dicampurkan dengan cairan empedu untuk vermisidal dan aquades untuk ovisidal. Konsentrasi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%. Pengujian dilakukan secara in vitro dengan menggunakan lima perlakuan dan empat kali ulangan. Pengamatan vermisidal dilakukan setiap 30 menit sedangkan untuk ovisidal dilakukan pada hari ke-21 dan ke-28. Hasil dari penelitian didapatkan konsentrasi daun biduri (2,5%, 5%, 7,5%, dan 10%) pada masing-masing kelompok perlakuan memiliki pengaruh vermisidal, tidak berbeda nyata (P>0.05) terhadap satu dengan yang lainnya. Efek ovisidal pada hari ke-21 dan ke-28 didapatkan adanya pengaruh yang nyata (P<0.05) terhadap daya hambat tetas telur cacing F. gigantica. Disimpulkan bahwa daun biduri memiliki aktivitas vermisidal dan ovisidal terhadap cacing dan telur F. gigantica. Konsentrasi yang paling efektif untuk vermisidal dan ovisidal terhadap cacing F. gigantica adalah 5%.
Profil Umur, Jenis Kelamin, Berat Badan dan Jejas Eksternal pada Kulit Sapi Bali yang Disembelih di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar Periode Mei-Juni 2015 Yuliantika, I Made Yuda; Adnyana, Ida Bagus Windia; Sukada, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (4) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (554.646 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran profil umur, jenis kelamin, berat badan danjejas eksternal pada kulit sapi bali yang disembelih di Rumah Potong Hewan Kota Denpasar periode Mei-Juni 2015. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, menggunakan metode survey. Padapenelitian ini digunakan 200 ekor sapi bali, tercatat umur sapi bali yang disembelih paling tinggi beradapada kisaran umur dibawah 2 tahun dengan jumlah 58 ekor (29%). Dari jenis kelamin menunjukansebanyak 147 ekor (73,5%) berjenis kelamin betina dan hanya 53 ekor (26,5%) berjenis kelamin jantan.Dari berat badan yang di potong terbanyak berada pada kategori berat 300-400 kg. Dari penelitiantersebut ditemukan jejas eksternal pada 2 ekor sapi (1%) dari 200 ekor sapi yang diamati di RPH kotaDenpasar. Hasil penelitian ini mengindikasikan diperlukan perhatian khusus dari pemerintah Balikhususnya dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan terkait untuk mengambil langkah antisipasi untukmencegah berkurangnya populasi sapi Bali di masa-masa mendatang.
Respons Imun Humoral Anjing Lokal Betina Umur Lebih dari Satu Tahun Pasca Vaksinasi Rabies Norawigaswari, Nengah Desy; Suardana, Ida Bagus Kade; Suartha, I Nyoman
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (1) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.284 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.1.1

Abstract

Pencegahan penyebaran rabies dilakukan dengan cara vaksinasi pada hewan pembawa rabies (HPR) antara lain anjing, kucing, dan kera dalam rangka pemberantasan penyakit rabies. Vaksinasi anjing di lapangan dilakukan oleh Dinas Peternakan Kabupaten Kota setiap tahun, di setiap banjar-banjar dan bahkan mendatangi rumah penduduk dari pintu ke pintu. Untuk mengetahui apakah HPR yang telah divaksinasi rabies memiliki titer antibodi yang protektif, telah dilakukan penelitian respons imun humoral anjing lokal betina pasca vaksinasi rabies. Penelitian dilakukan di Desa Gulingan, Kabupaten Badung dengan sampel darah dari 10 ekor anjing. Darah diambil dari vena cephalica antibrachii anterior menggunakan spuit 3 ml, kemudian dibiarkan agar terjadi pemisahan antara serum dengan darah. Serum dipindahkan ke eppendorf dan disentrifuse. Dari hasil pengujian menggunakan uji ELISA, 50% memiliki titer antibodi protektif (nilai OD > 0,5 IU) dan 50% titer antibodinya tidak protektif (nilai OD < 50%). Simpulannya adalah perlu dilakukan vaksinasi ulangan pada anjing yang tidak memiliki titer antibodi protektif dengan peningkatam metode vaksinasi untuk menghasilkan antobodi yang protektif.
Laporan Kasus: Demodekosis Pada Anjing Lokal Bali Wirawan, I Gede; Widiastuti, Sri Kayati; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (1) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (368.946 KB) | DOI: 10.19087/imv.2019.8.1.9

Abstract

Seekor anjing lokal bernama Ame berumur 2,5 bulan mengalami masalah kulit berupa alopesia, lichenifikasi, dan hiperpigmentasi pada wajah. Pada bagian dorsal tubuh ditemukan adanya alopesia dan scale, dan pada bagian ventral tubuh ditemukan adanya eritema, papula, dan pustula. Pada pemeriksaan kerokan kulit ditemukan tungau Demodex sp. Pemeriksaan hematologi rutin menunjukkan hewan mengalami anemia makrositik normokromik, limfositosis, neutropenia. Anjing kasus didiagnosis demodekosis. Pengobatan dilakukan dengan pemberian ivermectin, dimedryl, fish oil, amitraz dan shampoo benzoil peroksida. Evaluasi pada minggu keempat kondisi hewan menunjukkan adanya perbaikan.
Studi Histopatologi Mukosa Saluran Empedu Sapi Bali yang Terinfeksi Cacing Hati (Fasciola Gigantica) Putu Adriyati, Gusti Agung Ayu; Winaya, Ida Bagus Oka; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (1) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.147 KB)

Abstract

Fasciolosis adalah infeksi parasit pada jaringan hati yang disebabkan oleh Fasciola hepatica dan F. gigantica. Perubahan patologi pada kejadian fasciolosis sapi terutama disebabkan oleh adanya aktivitas migrasi dan iritasi spini tegumen F. gigantica. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya variasi lesi seperti nekrosis, peradangan, perdarahan, dan fibrosis pada mukosa saluran empedu sapi bali yang terinfeksi oleh cacing hati F. gigantica. Penelitian ini menggunakan 35 sampel saluran empedu sapi bali yang terinfeksi F. gigantica dan tujuh sampel yang tidak terinfeksi F. gigantica. Sampel saluran empedu kemudian diproses untuk dibuat preparat histopatologi dan diwarnai menggunakan metode Harris Haematoxylin Eosin. Hasil pemeriksaan mikroskopis pada mukosa saluran empedu sapi bali yang terinfeksi F. gigantica sesuai variasi lesi yang diperiksa,diperoleh lesi nekrosis pada 35 sampel saluran empedu (100%), perdarahan pada 18 sampel (51,4%), lesi peradangan pada 35 sampel (100%), dan fibrosis pada 35 sampel (100%). Dapat disimpulkan bahwa dari kasus fasciolosis sapi dari kasus lapangan terjadi variasi lesi akibat infeksi F. gigantica.
Laporan Kasus : Prolapsus Bola Mata yang Disertai Miasis pada Anjing Shih-Tzu Dada, I Ketut Anom; Erika, Erika; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.687 KB)

Abstract

Prolapsus bola mata adalah keluarnya bola mata dari rongga mata. Prolapsus bola mata yang tidak mendapatkan penanganan segera dapat mengakibatkan komplikasi. Hewan kasus adalah seekor anjing rescue ras Shih-Tzu berjenis kelamin jantan, berumur kurang lebih dua tahun, berat badan 2,7 kg. Hewan kasus menujukkan adanya kelainan pada bagian mata dengan kondisi mata bagian kiri mengalami prolapsus disertai miasis yang parah. Hematologi rutin menunjukkan adanya anemia, leukositosis, limfositosis, dan trombositopenia. Anjing diperiksa dalam keadaan lemas, tidak mau makan dan minum, urinasi normal, tetapi terjadi konstipasi. Penanganan dilakukan dengan debridement dan penjahitan pada bagian palpebrae. Perawatan pascaoperasi dilakukan dengan pemberian antibiotika injeksi amoxicilin dan salep neomycin sulphate dan placental extract, pemberian multivitamin dan meloxicam per oral. Setelah empat hari penanganan, anjing kasus mati.
Penyebaran dan Korelasi Kejadian Rabies pada Anjing dan Manusia di Kabupaten Karangasem Tahun 2009-2014 Septianingsih, Rayni; Kardena, I Made; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (3) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.423 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui daerah penyebaran, pola penyebaran, dan korelasi kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kabupaten Karangasem pada tahun 2009-2014. Data yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali, Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Balai Besar Veteriner Denpasar, Dinas Peternakan, Kelautan dan Perikanan Kabupaten Karangasem dan, Dinas Kesehatan Kabupaten Karangasem serta beberapa media massa yang memberitakan kasus rabies di Bali terutama di Kabupaten Karangasem pada tahun 2009-2014. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan uji normalitas dengan Shapiro Wilk atau Kolmogorov Smirnov, uji homogenitas dengan Lavene Statistic test, dan analisis korelasi dilakukan dengan uji Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kawasan yang tertular rabies adalah 58 dari 77 desa yang ada di Kabupaten Karangasem. Kejadian rabies dari tahun 2009 sampai 2014 sebanyak 103 ekor pada anjing dan 40 orang pada manusia. Kejadian rabies terbanyak pada anjing dan manusia terjadi pada tahun 2010. Kejadian rabies pada anjing dan manusia di Kabupaten Karangasem memiliki korelasi kejadian yang sangat nyata (P<0,01) dan hubungan sebab akibat yang positif, artinya jika kejadian rabies pada anjing meningkat maka diikuti pula dengan meningkatnya kejadian rabies pada manusia, begitupun sebaliknya. Kesadaran masyarakat untuk tidak melepasliarkan anjing peliharaannya sangat dibutuhkan guna mengurangi kasus terkait penyakit rabies. Hasil penelitian ini diharapkan dapat membantu dalam upaya pencegahan dan penanggulangan rabies di Kabupaten Karangasem.
Total Dan Diferensial Leukosit Sapi Bali Lepas Sapih yang Diberi Pakan Dengan Kandungan Protein dan Energi Berbeda Andini, Ni Putu Mega; Mahardika, I Gede; Dharmawan, Nyoman Sadra
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (4) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.758 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.4.434

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan dengan kandungan protein dan energi berbeda terhadap total leukosit dan hitung jenis leukosit (neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit dan monosit) pada sapi bali lepas sapih. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Sampel yang digunakan adalah sampel darah dari 12 ekor sapi bali lepas sapih. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian formula pakan A= PK 12% dan ME 2000 kkal/kg; B= PK 13% dan ME 2100 kkal/kg; C= PK 14% dan ME 2200 kkal/kg; D= PK 15% dan ME 2300 kkal/kg. Pemeriksaan leukosit dilakukan selama tiga kali di awal, pertengahan, dan akhir pemberian perlakuan. Pemeriksaan dengan cara otomatis menggunakan alat hematology analyzer. Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pemberian pakan dengan kandungan protein dan energi yang berbeda tidak berpengaruh (P>0.05) terhadap total dan diferensial leukosit, baik antar perlakuan maupun antar waktu pemeriksaan. Disimpulkan bahwa keempat formula pakan aman diberikan kepada sapi bali lepas sapih dan perlakuan A dinilai efektif dan efisien.

Page 11 of 85 | Total Record : 843