cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Survei Infestasi Lalat Hippobosca Sp. Pada Sapi Bali di Kabupaten Badung Septianingsih, Ni Luh Putu Diah; Dwinata, I Made; Oka, Ida Bagus Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.317 KB)

Abstract

Lalat Hippobosca sp. merupakan ektoparasit pengisap darah yang berperan sebagai vektor penyakit. Keberadaan lalat Hippobosca sp. sangat mempengaruhi kesehatan sapi bali. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi serta hubungan antara faktor jenis kelamin, umur, cara pemeliharaan dan kondisi wilayah terhadap infestasi lalat Hipposbosca sp. pada sapi bali di Kabupaten Badung. Hasil pemeriksaan terhadap 300 sampel didapatkan prevalensi infestasi lalat Hippobosca sp. pada sapi bali di Kabupaten Badung sebesar 11,3%. Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi sapi bali jantan 11,8% dan betina 11,1%. Prevalensi sapi bali pada umur muda 10,5%, dewasa 12,0% dan tua 9,1%. Jenis kelamin dan umur tidak berpengaruh terhadap prevalensi infestasi lalat Hipposbosca sp. pada sapi bali di Kabupaten Badung. Berdasarkan cara pemeliharaan, prevalensi sapi bali yang dikandangkan 0%, sedangkan yang diikat 34%. Berdasarkan kondisi wilayah, sapi bali yang dipelihara di wilayah lahan basah 0% dan di wilayah lahan kering 34%. Cara pemeliharaan dan kondisi wilayah berpengaruh terhadap prevalensi infestasi lalat Hipposbosca sp. pada sapi bali di Kabupaten Badung.
Ekologi dan Demografi Anjing di Kecamatan Denpasar Timur Cintya Dalem, TJOKORDA ISTRI AGUNG; KARDENA, I MADE; PUJA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.952 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ekologi dan demografi anjing di kecamatan Denpasar Timur. Penelitian ini menggunakan metode observasional study, dengan melakukan pengumpulan data mengenai sosio-ekologi anjing yang meliputi: populasi, jenis kelamin, umur dan sterilisasi, status vaksinasi dan kasus gigitan dan profil pemilik anjing. Pengambilan sampel penelitian menggunakan metode WHO Expanded Programme on Immunization (EPI) cluster survey yang dimodifikasi di Kota Denpasar. Penentuan area sampling kecamatan dan kelurahan dilakukan secara purposive, yaitu masing-masing di kecamatan Denpasar Timur di Kelurahan Kesiman dan Kelurahan Sumerta. Sedangkan untuk wilayah banjar, dilakukan secara acak dengan memilih 2 wilayah banjar pada masing-masing kelurahan yang disampling.Dari penelitian ini diperoleh data hasil per April 2011 sebagai berikut: rasio manusia dengan anjing yang dipelihara adalah 8,7 : 1. Rasio jenis kelamin anjing yang dipelihara antara jantan dan betina adalah 2,2 : 1. Penduduk lebih banyak memelihara anjing yang berumur di atas 3 bulan. Cakupan vaksinasi anti rabies pada anjing adalah sebesar 82% dan jumlah akhir kasus gigitan anjing dari tahun 2010 yakni sebanyak 17 kasus gigitan.
Gambaran Histopatologi Hati Tikus Putih yang Diberikan Deksametason dan Vitamin E Insani, Aulia; Suri, Sam; Berata, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (377.425 KB)

Abstract

Deksametason merupakan glukokortikosteroid yang banyak digunakan di masyarakat, penggunaan jangka waktu lama dan dosis besar dapat mengganggu fungsi dan struktur hati. Untuk mengurangi efek samping pemberian deksametason, maka diberikan vitamin E. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa  vitamin E dapat memperbaiki organ hati akibat efek samping deksametason, yang diperiksa secara histopatologi. Penelitian menggunakan 25 ekor tikus putih jantan, dibagi dalam lima kelompok perlakuan, yaitu kontrol(-), tidak diberi deksametason dan vitamin E; kontrol (+) diberikan deksametason  dosis 0,13 mg/kg, P1  diberikan deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 100 mg/kg, P2 deksametason dosis 0,13 mg/kg dan vitamin E  dosis 150 mg/kg, P3 deksametason 0,13 mg/kg dan vitamin E dosis 200 mg/kg. Setelah 14 hari, semua tikus dikorbankan nyawanya (nekropsi), selanjutnya diambil organ hatinya untuk pembuatan preparat histopatologi dengan pewarnaan hematoksilin eosin (HE). Variabel yang diperiksa didasarkan pada perubahan normal (skor1) perdarahan (skor 2), degenerasi (skor 3) dan nekrosis (skor 4). Dari hasil pengamatan histologi dari semua subyek perlakuan. Kontrol negatif (-) tergolong dalam kategori skor 1, kontrol positif (+) ini tergolong dalam skor 4, kelompok tikus putih P1 4 subyek skor 2 dan 1 subyek skor 3, kelompok P2 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4, dan kelompok P3 4 subyek skor 3 dan 1 subyek skor 4. Hasil penelitian menunjukkan nilai rerata skor perbaikan hati yang signifikan pada semua perlakuan, namun pada kelompok perlakuan P1 hasil rerata skoring yang paling mendekati kontrol (-). Kesimpulan penelitian ini adalah vitamin E dosis 100 mg/kg terbukti terbaik mengurangi efek samping deksametason.
Kadar Glukosa Darah Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) Obesitas di Pura Luhur Uluwatu Bali Aryana, Carissa Saraswati Putri; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 5 (4) 2016
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.602 KB)

Abstract

darah pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) obesitas di Pura Luhur Uluwatu, Badung, Bali. Sampel yang digunakan adalah dua belas serum darah monyet ekor panjang obesitas. Obesitas monyet ekor panjang ditentukan dengan menghitung indeks massa tubuh (IMT). Monyet ekor panjang dengan bobot badan lebih dari 8 kg dan IMT di atas 33,92 kg/m2 dikategorikan obesitas. Pemeriksaan kadar glukosa darah menggunakan mesin automatic biochemistry analyzer by Indiko- Thermo Scientific. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar glukosa darah monyet ekor panjang di Uluwatu berkisar antara 44-208 mg/dL dengan rata-rata 120,58±46,94 mg/dL. Monyet ekor panjang dengan IMT tertinggi (61,51 kg/m2) memiliki kadar glukosa darah 124 mg/dL sedangkan kadar glukosa tertinggi yaitu 208 mg/dL dimiliki oleh monyet ekor panjang dengan IMT 52,00 kg/m2. Dapat disimpulkan bahwa tidak semua monyet ekor panjang obesitas di Pura Luhur Uluwatu memiliki kadar glukosa darah yang tinggi.
Prevalensi dan Distribusi Plak Gigi pada Gigi Anjing (Canis familiaris) di Daerah Denpasar – Bali Utama, Iwan Harjono; Widyastuti, Sri Kayati; Kartikasari, Citra Dewi
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.965 KB)

Abstract

Penyakit periodontal muncul akibat adanya plak pada gigi yang mengandung bakteri dan dapat menumpuk bila tidak dibersihkan. Penumpukan plak gigi terus menerus dapat menyebabkan timbulnya karang gigi, radang pada gusi (ginggivitis), bau mulut, karies pada gigi, hingga menyebabkan tanggalnya gigi. Hal ini mengindikasikan pentingnya data mengenai prevalensi dan distribusi plak gigi pada anjing yang dapat menjadi pedoman untuk menunjang peningkatan kesadaran kesehatan gigi hewan. Penelitian ini menggunakan 50 ekor anjing yang dipelihara di daerah Denpasar, Bali yang dianalisa menjadi 3 kelompok yaitu, kelompok umur, jenis anjing (ras dan non ras), serta jenis kelamin. Gigi anjing diamati pada tempat yang gelap dengan menggunakan Wood’s lamp untuk mengidentifikasi keberadaan plak gigi. Keberadaan plak gigi ditandai dengan adanya fluorecent merah yang mucul setelah gigi disinari dengan Wood’s lamp. Hasil memperlihatkan 42 anjing yang positif memiliki plak gigi, hasil menunjukan anjing yang berumur diatas 3 tahun memiliki prevalensi yang tinggi yakni sebesar 100% terhadap munculnya plak gigi dan pada anjing non ras didapat prevalensi yang juga tinggi sebesar 100% , namun jenis kelamin tidak berpengaruh terhadap timbulnya plak gigi dengan hasil prevalensi yang hampir sama. Distribusi plak gigi terbesar terdapat pada gigi molar sebesar 84% dan berikutnya pada gigi premolar sebesar 82%. Sehubungan dengan prevalensi dan distribusi tersebut, perlu dilakukan sosialisasi bagi para pemilik hewan agar tidak mengabaikan kesehatan gigi dan mulut anjing.
Laporan Kasus: Mukosil Sublingualis pada Anjing Lokal Putra, I Gede Putu Alit Anggara; Sudisma, I Gusti Ngurah
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.249 KB)

Abstract

Mukosil sublingualis merupakan akumulasi saliva dengan komposisi mukus sepanjang dasar lidah. Mukosil sublingual disebabkan karena kelainan pada kelenjar saliva ataupun salurannya. Kelainan tersebut secara pasti tidak diketahui penyebabnya, namun dapat diakibatkan oleh trauma benda tumpul, benda asing ataupun neoplasia. Komposisi dari mukus pada mukosil dapat berupa campuran darah dengan saliva. Penanganan operasi dapat dilakukan dengan cara pembersihan mukosil, drainase atau marsupialisasi serta cara yang paling efektif dengan pengangkatan kelenjar saliva. Seekor anjing lokal jantan dengan bobot badan 12 kg dan umur 1 tahun mengalami pembengkakan dibawah lidah setelah dilakukan pembedahan ditemukan komposisi saliva dengan bercampur darah. Hal tersebut mengarahkan diagnosa pada mukosil sublingualis. Pada kasus ini hanya dilakukan pembersihan mukosil. Pada pengamatan pasca operasi luka operasi sudah menutup dengan baik pada hari ke 5, namun belum ada tanda-tanda kekambuhan. Pada hari ke 10 terlihat terjadi kekambuhan pada bagian berbeda dibawah lidah.
Aktivitas Harian Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) di Bali Safari and Marine Park, Gianyar rayan, Nikmatur; Widyastuti, Sri Kayati; Soma, I Gede
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.091 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas harian orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus). Penelitian ini dilakukan di Bali Safari and Marine Park, Gianyar. Pengamatan dilakukan dengan menggunakan metode focal animal sampling pada dua ekor orangutan kalimantan jantan dewasa. Kedua ekor orangutan tersebut diamati aktivitasnya pada pagi hari pukul 09.00-12.00 Wita dan pada sore hari pukul 14.00-17.00 Wita selama 20 hari. Data aktivitas harian dicatat selama tiga jam dengan mencatat kejadian aktivitas setiap satu menit. Orangutan kalimantan di Bali Safari and Marine Park yang ditempatkan di habitat buatan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk beristirahat (63,75%), diikuti makan (23,38%), bergerak (9,07%), bermain (2,79%), agresif (0,53%), grooming (0,38%) dan seksual (0,11%). Orangutan kalimantan lebih banyak melakukan aktivitas pada sore hari dari pada pagi hari. Aktivitas harian orangutan kalimantan yang diamati di Bali Safari and Marine Park berturut-turut dari yang paling banyak ke aktivitas paling sedikit yaitu istirahat, makan, bergerak bermain, grooming, agresif, dan seksual.
Gambaran Mikroanatomi Cermin Hidung (Muzzle) Sapi Bali YONITA, PRANSIKA EKSY; BATAN, I WAYAN; KARDENA, I MADE
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (3) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (921.19 KB)

Abstract

Cermin hidung sapi bali berupa moncong /planum nasolabialis adalah bagian dari hidung yang memiliki struktur kulit tidak berambut dan umumnya berwarna hitam. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur dan jumlah kelenjar keringat (merokrin) pada moncong sapi bali betina dengan jantan, serta mengetahui pada bagian manakah dari moncong sapi yang memiliki kelenjar keringat paling banyak. Penelitian ini menggunakan sampel moncong (muzzle) sapi bali diambil dari Rumah Potong Hewan (RPH) Pesanggaran Kota Denpasar. Dalam penelitian ini digunakan 10 sampel sapi bali (lima jantan dan 5 betina). Sampel diambil secara acak. Sampel untuk setiap satu ekor sapi diambil dibagian atas nostril moncong secara melintang dan dibagi menjadi tiga bagian. Sampel dibuat preparat histologi dengan pewarnaan HE (hematoksilin dan eosin) untuk selanjutnya diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x dan 400x. Hasil pengamatan dibawah mikroskop menunjukkan bahwa struktur kelenjar merokrin antara sapi bali jantan dan betina secara struktur sama, terdiri atas lumen, sel sekretori/ sel gelap, myoepitel, dan plasmalema. Jumlah kelenjar merokrin pada sapi bali jantan yang berkulit hitam lebih banyak dibandingkan betina yang berkulit merah bata. Jumlah kelenjar merokrin sapi bali relatif tidak berbeda jauh di berbagai lokasi pada moncong tersebut.
Prevalensi dan Distribusi Cacing Pada Berbagai Organ Ikan Selar Bentong FRISKA TAMBA, MORI; DAMRIYASA, I MADE; ADI SURATMA, NYOMAN; THEISEN, STEFAN
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (4) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (52.704 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan distribusi cacingpada berbagai organ ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yangdipasarkan di Kedonganan, Badung. Sampel yang digunakan adalah 35 ekor ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) yang berasal dari pasar ikan Kedonganan. Ikan diperiksa di laboratorium secara kasat mata yang dilanjutkan dengan pemeriksaan dibawah mikroskop. Selanjutnya data mengenai distribusi cacing pada berbagai organ yang didapat dalam penelitian dapat digunakan rancangan penelitian Crosss Sectional Study yang dilaporkan secara deskriptif. Hasil pengamatan terhadap sampel adalah ditemukannya 4 jenis parasit cacing, yaitu dari filum cacing Nemathelminthes (Anisakis spp, Camallanus spp, dan Acanthocephala) dan Plathyhelminthes (Digenea). Cacing Anisakiss spp ditemukan pada organ rongga perut, usus, pylorik, perut, dan gonad. Hal ini diakibatkan karena Anisakis spp pada ikan selar bentong (Selar crumenophthalmus) masih berupa larva yang hidupnya motil sehingga bisa berpindah tempat. Sedangkan Anisakis spp dewasa terdapat pada mamalia laut (lumba-lumba dan paus), dimana cacingnya sudah bersifat dormant/ menetap pada jaringan otot. Organ alami Camallanus spp adalah pada organ usus, tetapi dalam penelitian ini cacing Camallanus spp ditemukan pada organ gonad. hal ini disebabkan karena adanya migrasi cacing. Acanthocephala merupakan cacing berkepala duri, karena kekhasan tubuhnya yang memiliki proboscis yang dilengkapi dengan kait. Dalam penelitianini Acanthocephala ditemukan pada organ usus. Serta cacing lainnya dari filum Plathyhelminthes yaitu Digenea. Dimana Digenea memiliki ciri yang khas yaitu mempunyai oral sucker dan ventralsucker. Anisakis spp merupakan cacing yang paling banyak ditemukan yaitu 83,8% dari total jumlah cacing yang ditemukan. Sedangkan cacing Camallanus spp dan Acanthocephala merupakan parasit cacing yang paling sedikit ditemukan yaitu sekitar 0,95%. Serta cacing lainnya adalah Digenea yaitu sekitar 14,3%.
Gambaran Histopatologi dan Klasifikasi Tumor Mamae pada Anjing di Kota Denpasar idah, Ruwa; Mirah Adi, Anak Agung Ayu; Eli Supartika, I Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (5) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (556.24 KB)

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai gambaran histopatologi dan klasifikasi tumor mamae pada anjing penderita tumor mamae di kota Denpasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran histopatologi serta jenis tumor mamae terbanyak pada anjing penderita tumor di kota Denpasar tahun 2008-2014. Penelitian ini menggunakan 20 sampel preparat histopatologi dari anjing positif menderita tumor mamae. Preparat diamati dengan menggunakan mikroskop. Hasil pemeriksaan menunjukan terdapat 7 jenis tumor mamae diantaranya mix malignant, adenocarcinoma, solid carcinoma, papillary adenocarcinoma, mucinius carcinoma, fibrosarcoma, dan malignant myoepithelioma. Gambaran umum yang menonjol pada kasus tumor mamae dari anjing penderita yang diamati adalah: ditemukannya nukleus hiperkromatik, hilangnya struktur parenkim dan stroma, ditemukan sel-sel yang pleomorfik, serta ditemukannya bentukan asini sel-sel tumor. Berdasarkan hasil penelitian menggunakan perhitungan frekuensi dapat disimpulkan dari 7 jenis tumor mamae, tumor jenis mix malignant memiliki frekuensi tertinggi dengan persentase sebesar 35% .