cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Indonesia Medicus Veterinus
Published by Universitas Udayana
ISSN : 24776637     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Menerima artikel ilmiah yang berhubungan dengan bidang kedokteran dan kesehatan hewan. Naskah yang berkaitan dengan hewan dan segala aspeknya juga kami terima untuk dipublikasikan. Penulis naskah minimal terdiri dari dua orang. Naskah yang ditulis seorang diri belum bisa diterima oleh redaksi, karena kami berpandangan suatu penelitian merupakan suatu kerja sama untuk menghasilkan sesuatu karya. Artikel yang diterima adalah naskah asli, belum pernah dipublikasikan pada majalah ilmiah atau media masa. Naskah ditulis dalam bahasa Indonesia atau bahasa inggris. Panjang artikel sekitar 3000 kata. Artikel harap dilengkapi dengan abstrak dalam bahasa Indonesia dan bahasa inggris. Artikel harus telah disetujui untuk dipublikasikan oleh seluruh penulis yang tercantum dalam artikel yang ditandai dengan bubuhan tanda tangan pada hard copy yang dikirim ke redaksi.
Arjuna Subject : -
Articles 843 Documents
Penambahan ?-Karoten untuk Motilitas dan Daya Hidup Spermatozoa Anjing Kintamani yang Diencerkan Bovine Serum Albumin Subagyo, Widodo Cipto; Bebas, Wayan; Budiasa, Made Kota
Indonesia Medicus Veterinus Vol 2 (5) 2013
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (343.988 KB)

Abstract

Anjing kintamani merupakan hewan peliharaan yang berfungsi sebagai hewan kesayangan, penjaga maupun peliharaan. Namun dalam usaha pembudidayaannya sering mengalami kesulitan, sehingga perlu diterapkan inseminasi buatan (IB). Walaupun demikian perlu diperhatikan bahwa kualitas semen yang diperoleh harus baik. Pada saat proses pengambilan, pengenceran dan penyimpanan semen berlangsung akan terjadi reaksi antara spermatozoa dengan oksigen yang akan menyebabkan radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penambahan ?-karoten terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang diencerkan dengan BSA kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 50C. Penelitian ini menggunakan anjing jantan kintamani yang berumur 2,5 tahun. Setelah semen diambil dibuatkan pengencer kuning telur fosfat + BSA 1% dan ?-karoten konsentrasi 0,001%, konsentrasi 0,002%, dan konsentrasi 0,003%. Pengencer BSA kuning telur fosfat tanpa campuran (sebagai kontrol) pengencer BSA kuning telur fosfat ditambah dengan etanol 0,05 ml (sebagai kontrol etanol). Selanjutnya semen anjing yang sudah di beri BSA kuning telur fosfat dan ?-karoten disimpan pada suhu 50C. Pemeriksaan motilitas dan daya hidup spermatozoa dilakukan setiap 12 jam selama 60 jam. Pemeriksaan motilitas dilakukan terhadap spermatozoa yang memiliki gerakan progresif dan pemeriksaan daya hidup dilakukan dengan pewarnaan eosin negrosin. Rataan hasil penelitian terhadap motilitas spermatozoa anjing kintamani dengan waktu pengamatan 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Pada kelompok T0 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,84%, 74,20±0,84%, 63,40±1,67%, 52,60±2,51%, 41,80±3,35%. Pada kelompok T1 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,45%, 74,40±1,14%, 63,60±1,95%, 52,80±2,78%, 42,00±3,61%. Pada kelompok T2 adalah : 85,00±0,00%, 83,80±0,84%, 74,40±1,14%, 63,60±1,95%, 52,80±2,78%, 42,00±3,61%. Pada kelompok T3 adalah : 85,00±0,00%, 84,40±0,55%, 76,00±0,71%, 66,40±1,52%, 56,80±2,39%, 47,20±3,27%, dan pada kelompok T4 adalah : 85,00±0,00%, 83,00±1,73% 75,40±0,89%, 65,20±1,30%, 55,00±1,73%, 45,00±2,24%. Rataan hasil penelitian terhadap daya hidup spermatozoa anjing kintamani dengan waktu pengamatan 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam, 48 jam, dan 60 jam. Pada kelompok T0 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,84%, 84,20±0,84%, 73,40±1,68%, 62,60±2,51%, 51,80±3,35%. Pada kelompok T1 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,45%, 84,40±1,14%, 73,60±1,95%, 62,80±2,78%, 52,00±3,61%. Pada kelompok T2 adalah : 95,00±0,00%, 93,80±0,84%, 84,40±1,14%, 73,60±1,95%, 62,80±2,78%, 52,00±3,61%. Pada kelompok T3 adalah : 95,00±0,00%, 94,40±0,55%, 86,00±0,71%, 76,40±1,52%, 66,80±2,39%, 57,20±3,27%, dan pada kelompok T4 adalah : 95,00±0,00%, 93,00±1,73%, 85,40±0,89%, 75,20±1,30%, 65,00±1,73%, 54,80±2,17%. Analisis dan pengujian statistik dilakukan dengan General Linear Model (Multivariate), hasil pengujian statistik menunjukkan bahwa penambahan ?-karoten memberikan perbedaan yang nyata (p<0,05) terhadap motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang diencerkan dengan BSA kuning telur fosfat yang disimpan pada suhu 50C. Uji lanjutan dengan uji Duncan diperoleh bahwa penambahan ?-karoten dengan konsentrasi 0,002% memberikan hasil rata-rata motilitas dan daya hidup spermatozoa anjing kintamani yang nyata (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok T0, T1, T2 dan T4.
PENGASINAN MEMPENGARUHI KUALITAS TELUR ITIK MOJOSARI KUSUMAWATI, ELIYA; RUDYANTO, MAS DJOKO; SUADA, I KETUT
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (5) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.017 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pengasinan dan lama penyimpanan terhadap kualitas telur itik ditinjau dari Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT), Haugh Unit (HU) dan warna kuning telur dan untuk mengetahui interaksi antara pengasinan dan lama penyimpanan terhadap kualitas telur itik ditinjau dari Indeks Putih Telur (IPT), Indeks Kuning Telur (IKT), Haugh Unit (HU) dan warna kuning telur. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola faktorial 2 x 4 x 5, dengan 2 faktor perlakuan yaitu faktor pertama meliputi telur itik segar dan telur itik asin. Sedangkan faktor kedua yaitu jangka waktu pengamatan yang dimulai dari hari ke-1, ke-8, ke-15 sampai hari ke-22 (4 kali pengamatan). Variabel bebas dalam penelitian ini adalah telur itik segar dan telur itik asin. Variabel terikatnya adalah IPT, IKT, HU dan warna kuning telur. Variabel kendali/kontrol adalah asal telur dan suhu penyimpanan. Setiap kombinasi perlakuan diulang sebanyak 5 kali. Data yang terkumpul dianalisis dengan sidik ragam dan apabila didapatkan hasil yang berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Untuk warna kuning telur diuji dengan uji Kruskal-Wallis dan jika terdapat perbedaan yang signifikan dilanjutkan dengan uji Mann-Whitney. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rataan nilai IPT telur itik segar pada hari ke-1 (0.083). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (0.060), hari ke-15 (0.029), dan hari ke-22 (0.021). Sedangkan rataan nilai IPT telur itik asin pada hari ke-1 (0.094). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (0.120), hari ke-15 (0.159), dan hari ke-22 (0.201). Rataan nilai IKT telur itik segar pada hari ke-1 (0.374). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (0.253), hari ke-15 (0.083), dan hari ke-22 (0.045). Sedangkan rataan nilai IKT telur itik asin pada hari ke-1 (0.455). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (0.837), hari ke-15 (0.954), dan hari ke-22 (1.019). Rataan nilai HU telur itik segar pada hari ke-1 (65.162). Kemudian menurun berturut-turut dari hari ke-8 (54.998), hari ke-15 (21.008), dan hari ke-22 (6.060). Sedangkan rataan nilai HU telur itik asin pada hari ke-1 (69.540). Kemudian meningkat berturut-turut dari hari ke-8 (73.975), hari ke-15 (80.602), dan hari ke-22 (86.398). Untuk warna kuning telur itik segar, warnanya semakin menurun yaitu pada hari ke-1 dengan skor 3 dan pada hari ke-22 dengan skor 1. Sedangkan pada telur itik asin, warnanya semakin meningkat yaitu pada hari ke-1 dengan skor 5 dan pada hari ke-22 dengan skor 12.
Perkembangan Secara Histologi Vili Duodenum Ayam Pedaging yang Diberikan Imbuhan Asam Butirat pada Pakan Budiartawan, I Komang Alit; Darmawan, I Gusti Ayu Chintya; Berata, I Ketut; Setiasih, Ni Luh Eka
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (5) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (355.007 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.5.522

Abstract

Kendala suatu peternakan ayam adalah berbagai penyakit, salah satu upaya pencegahan yang banyak dilakukan yaitu dengan pemberian antibiotik. Namun, antibiotik dapat menimbulkan residu dan resistensi. Sebagai gantinya digunakan zat kimia non-antibiotika dengan asam butirat. Telah dilakukan penelitian terhadap 24 ekor ayam pedaging (Gallus domesticus) yang bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi dosis dan lama pemberian asam butirat terhadap struktur histologi duodenum ayam pedaging. Penelitian ini menggunakan ayam pedaging dengan umur 1 hari berkelamin jantan yang dibagi atas tiga kelompok yaitu P0 = diberi asam butirat 0 g/kg pakan, P1 = diberi asam butirat 0,5 g/kg pakan, P2 = diberi asam butirat 1g/kg pakan. Pakan yang diberikan yaitu jenis pakan Broiler I Comfeed. Penelitian dilakukan selama 4 minggu dengan masing-masing diambil dua ekor ayam perminggu dinekropsi dan diambil bagian duodenumnya. Jaringan duodenum diproses untuk pembuatan preparat histologi dengan pewarnaan Hematoxylin-Eosin (HE). Pemeriksaan histologi duodenum dilakukan dengan membandingkan panjang vili dan jarak antar vili duodenum. Hasil analisis dengan sidik ragam diperoleh ada perbedaan yang signifikan antara kontrol dengan pemberian asam butirat 0,5 g/kg pakan maupun dengan 1 g/kg pakan. Pada pemberian asam butirat dengan dosis 0,5 g/kg pakan menunjukkan pertumbuhan vili terpanjang dengan panjang vili 520,06 ± 30,40 µm daripada dosis pemberian asam butirat 1 g/kg pakan. Rata-rata jarak antar vili duodenum kelompok kontrol, perlakuan dosis asam butirat 0,5 g/kg pakan, dan perlakuan dosis asam butirat 1 g/kg pakan adalah 3,97 ± 0,85 µm, 3,82 ± 1,07 µm, dan 4,01 ± 1,17 µm.
Laporan Kasus: Kistik Endometritis pada Kucing Persia Azizah, Hidayatul; Batan, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (2) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.149 KB) | DOI: 10.19087/imv.2018.7.2.177

Abstract

Seekor kucing persia berumur satu tahun berjenis kelamin betina menunjukkan gejala klinis: adanya leleran putih kental (leucorrhoea) meleleh keluar dari vulva, tidak berbau, sering menjilati vulvanya, perut nyeri saat ditekan dan nafsu makan menurun. Pada pemeriksaan hematologi rutin hasil menunjukkan eosinofil meningkat dan pemeriksaan ultrasonografi terhadap uterus diperoleh gambaran adanya cairan (anechoic) dan penebalan (hyper echoic). Hasil histopatologi menunjukkan uterus mengalami hemoragi, kistik, infiltrasi sel radang, nekrosis, dan hiperplasia. Berdasarkan pemeriksaan yang telah dilakukan kucing didiagnosis kistik endometritis. Tindakan yang dilakukan adalah ovariohisterectomy.
Pemberian Infusa Daun Dadap (Erythrina Subumbrans) Terhadap Profil Eritrosit Ayam Broiler yang Mengalami Stres Transportasi Putra, Rama Adi; Merdana, I Made; Sudira, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (2) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.716 KB)

Abstract

Kegiatan transportasi dapat menimbulkan stres transportasi pada ayam broiler yang akan mengakibatkan penurunan bobot badan dan mortalitas yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh pemberian vitamin C dan infusa daun dadap terhadap profil eritrosit ayam broiler yang mengalami stres transportasi dilihat dari total eritrosit, hematokrit dan hemoglobin. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima kelompok perlakuan dan enam ulangan dengan total 30 sampel darah. Kontrol negatif dengan hanya pemberian minum (P0), pemberikan vitamin C dosis 2 gram/L sebagai kontrol positif (P1), kelompok perlakuan P2, P3, dan P4 dengan pemberian infusa daun dadap dengan dosis 1000 ppm, 2000 ppm, dan 3000 ppm. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total eritrosit, hematokrit dan hemoglobin dari kelompok kontrol negatif mengalami penurunan, kontrol positif mengalami peningkatan, sedangkan perlakuan dengan pemberian infusa daun dadap dengan dosis 1000 ppm mengalami peningkatan mendekati kontrol positif dan kelompok perlakuan dengan dosis 2000 ppm dan 3000 ppm menunjukkan peningkatan pada total eritrosit namun mengalami penurunan nilai hematokrit dan hemoglobin. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa dosis infusa daun dadap 1000 ppm menunjukkan hasil yang paling mendekati kontrol positif (kelompok pemberian vitamin C) dilihat dari total eritrosit, hematokrit dan hemoglobin.
Hubungan antara Umur dengan Berat Karkas Depan (Fore Quarter) Ditinjau dari Potongan Primal Sapi Bali Jantan SRIWIJAYANTI, DEWA AYU; PUTU, I GEDE; RUDYANTO, MAS DJOKO
Indonesia Medicus Veterinus Vol 1 (2) 2012
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (491.198 KB)

Abstract

Hasil penelitian hubungan antara umur dengan berat karkas depan (forequarter) ditinjau dari potongan primal sapi bali jantan yaitu : pada umur muda (1,5-2,5 tahun) rata-rata berat karkas depan sebesar 40.73kg dan umur dewasa 3-4 tahun sebesar 46.77kg. Sedangkan pada potongan primal umur muda persentase berat cuberoll sebesar 5.42%, blade sebesar 16.42%, brisket sebesar 10.71%, chuck sebesar 20.83%, dan chuck tender sebesar 2.67%; pada umur dewasa persentase berat cuberoll sebesar 5.01%, blade sebesar 16.82%, brisket sebesar 10.95%, chuck sebesar 22.33%, dan chuck tender sebesar 2.56%. Hasil penelitian ini dipengaruhi beberapa faktor seperti metode pelayuan, pakan, berat hidup (badan), aktivitas otot, dan umur. Hasil tersebut disimpulkan bahwa berat karkas depan (forequarter) umur muda lebih kecil daripada umur dewasa. Potongan primal (blade, brisket, chuck) pada umur muda lebih kecil daripada umur dewasa dan persentase potongan primal chuck yang paling besar. Sapi bali umur muda dan dewasa tidak memiliki hubungan dengan berat karkas depan (forequarter) ditinjau dari potongan primal sapi bali jantan.
Perbedaan Cara Penyebaran Suspensi terhadap Jumlah Bakteri pada Media Eosin Methylene Blue Agar Kadri, Ahmad Nuzuludin; Gelgel, Ketut Tono Pasek; Suarjana, I Gusti Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 4 (3) 2015
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (461.981 KB)

Abstract

Dalam rangka pengawasan mutu secara biologis dilakukan pengujian laboratorium untuk mengisolasi dan melakukan jumlah penghitungan jumlah bakteri patogen (enumerasi). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri yang terhitung pada media Eosin Methylene Blue Agar. Sampel diambil dari air susu kambing yang kemudian dihitung jumlah bakteri-nya dengan tiga kelompok perlakuan yaitu menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan sidik ragam, bila hasilnya berbeda nyata maka dilanjutkan dengan uji Duncan. Jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok, mikropipet dan ose per ml berturut-turut mengandung 9.722.222 cfu, 68.944.444 cfu dan 116.444.444 cfu. Dengan sidik ragam, perlakuan cara penyebaran dengan menggunakan mikropipet dan ose berbeda sangat nyata (P<0,01) terhadap jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan batang gelas bengkok. Setelah di uji dengan uji Duncan, rata-rata jumlah bakteri yang terhitung dengan menggunakan mikropipet dan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan batang gelas bengkok, sedangkan rata-rata jumlah bakteri yang terhitung menggunakan ose lebih tinggi sangat nyata (P<0,01) dibandingkan dengan menggunakan mikropipet. Kesimpulan dari penelitian ini adalah terdapat perbedaan cara penyebaran suspensi dengan menggunakan batang gelas bengkok,mikropipet dan ose terhadap jumlah bakteri pada media EMBA. Penyebaran bakteri menggunakan ose lebih banyak (P<0,01) dibandingkan mikropipet dan batang gelas bengkok. Sedangkan penyebaran bakteri menggunakan mikropipet lebih banyak (P<0,01) dibandingkan dengan gelas bengkok.
Histopatologi Kulit pada Kesembuhan Luka Insisi Tikus Putih Pasca Pemberian Extracellular Matrix (ECM) yang Berasal dari Vesica Urinaria Babi Gunawan, Stefanus Andre; Berata, I Ketut; Wirata, I Wayan
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 (3) 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1704.758 KB)

Abstract

Luka merupakan kasus yang sering ditemui di tempat praktek atau klinik dokter hewan. Luka menjadi penting karena dapat menjadi pintu masuk mikroorganisme yang merugikan ke dalam tubuh. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan inovasi baru dalam mempercepat kesembuhan luka pada kulit dengan menggunakan extracellular matrix (ECM) yang berasal dari vesica urinaria babi, sehingga dapat mencegah masuknya mikroorganisme merugikan kedalam tubuh. Penelitian ini menggunakan 32 ekor tikus putih jantan yang diinsisi di bagian punggungnya. Sampel terbagi menjadi 2 kelompok, yaitu kelompok kontrol (tanpa perlakuan), dan kelompok perlakuan dengan pemberian extracellular matrix (ECM) pada luka insisi. Proses kesembuhan luka dari hewan coba diteliti secara histopatologi pada hari ke-1, ke-5, ke-10, dan ke-15 setelah insisi. Hasilnya adalah pemberian bahan ECM terbukti mempercepat proses kesembuhan luka insisi pada kulit tikus putih (Rattus novergicus) dilihat dengan membandingkan infiltrasi seluler, produksi kolagen, ketebalan epitel, dan angiogenesis antara kelompok kontrol dan kelompok perlakuan.
Efek Ovicidal Albendazole 10% terhadap Telur Cacing Fasciola gigantica secara In Vitro Astuti, Komang Regi Kusuma; Ardana, , Ida Bagus Komang; Anthara, Made Suma
Indonesia Medicus Veterinus Vol 6 (5) 2017
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.966 KB)

Abstract

Fasciola gigantica merupakan cacing golongan trematoda yang dapat menyebabkan fascioliosis pada ternak ruminansia termasuk sapi bali. Pengobatan menggunakan albendazole memiliki kemampuan vermisidal, larvasidal, dan ovicidal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian albendazole 10% terhadap daya berembrio telur cacing Fasciola gigantica secara in vitro. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) terdiri dari 4 perlakuan, setiap perlakuan terdiri dari 5 ulangan sehingga jumlah sampel 4 x 5 x 1 = 20 pengamatan. Data yang diperoleh diuji dengan Uji Sidik Ragam yang kemudian dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan. Pengamatan daya berembrio telur dilakukan, pada hari ke-10 mendapatkan hasil pengaruh kontrol sangat berbeda nyata (P<0,01) dengan dosis P1, P2 dan P3. Dosis P1 berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan kontrol dan dosis P3, namun tidak berbeda nyata (P>0,05) dengan dosis P2. Pengaruh dosis P2 berbeda sangat nyata (P<0,01) dengan kontrol namun tidak berbeda nyata dengan dosis P1 dan P3. Sedangkan hasil hari ke-30 menunjukkan daya ovicidal telur cacing dengan dosis P1, P2 dan P3 menunjukkan tidak berbeda nyata (P>0,05).
Seroprevalensi Penyakit Flu Burung (Avian Influenza) pada Ayam Kampung di Kerta, Payangan, Gianyar, Bali Yuliantari, Ida Ayu Made; Kencana, Gusti Ayu Yuniati; Kardena, I Made
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 (6) 2018
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (235.334 KB)

Abstract

Desa Kerta berbatasan dengan Kecamatan Kintamani yang merupakan sentra industri peternakan ayam petelur. Penyakit AI pernah dilaporkan ditemukan pada peternakan ayam petelur di Kintamani. Lalu lintas perdagangan ayam pedaging maupun ayam petelur dari Kintamani ke Denpasar melewati desa Kerta. Populasi ayam kampung di desa Kerta cukup tinggi yakni 486.863 pada tahun 2015. Ayam kampung di Desa Kerta dipelihara secara ekstensif. Hal tersebut berpotensi besar dalam penularan virus flu burung (Avian Influenza = AI). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui seroprevalensi penyakit AI pada ayam kampung di Desa Kerta, Kecamatan Payangan, Kabupaten Gianyar, Bali. Sampel penelitian sebanyak 80 ekor ayam kampung yang belum pernah divaksin dan dipelihara secara ekstensif. Lokasi penelitian di empat dusun desa Kerta yakni Dusun Pilan, Dusun Kerta, Dusun Buhu, dan Dusun Marga Tengah. Sampel serum diambil secara acak dari masing-masing dusun sebanyak 20 ekor. Pengujian dilakukan dengan uji haemaglutinasi (HA/HI). Analisis data dilakukan secara deskriptif. Hasil analisis data serologi diperoleh prevalensi flu burung pada ayam kampung di Dusun Pilan sebesar 5%, Dusun Kerta 0%, Dusun Buhu 5%, dan Dusun Marga Tengah 0%. Tingkat seroprevalensi flu burung di Desa Kerta sebesar 2,5% dengan titer antibodi 22 HI unit dan 24 HI unit. Fakta tersebut menunjukkan bahwa ayam yang disampling pernah terpapar virus flu burung secara alami. Disarankan agar ayam kampung di Desa Kerta dan sekitarnya divaksinasi untuk meningkatkan titer antibodi.