cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
WAWASAN SEJARAH PANDEMI UNTUK PENGUATAN KARAKTER MAHASISWA DI ERA COVID-19 Pernantah, Piki Setri; Fikri, Asyrul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p154-163

Abstract

In Indonesia's historical records, it was explained that pandemic events related to infectious diseases did not only occur in the Covid-19 era but also occurred in the past. An insight into the history of this pandemic supposed to be owned by the historical student so that it can be used as educational material and build a spirit of optimism that the Indonesian nation is a strong and warrior nation, continue to be able to escape from the pandemic and rise again to organize the future. This research uses a qualitative method with an analysis-descriptive approach. This study seeks to describe the historical insights of the pandemic possessed by history students at the University of Riau and analyzing its relationship in improving the students’ character during this pandemic. Based on the current situation, students really need to develop a good character about how to behave well towards others and themselves and respond well to the pandemic that is happening. Dalam catatan sejarah Indonesia dijelaskan bahwa peristiwa pandemi terkait penyakit menular tidak hanya terjadi pada era Covid-19 tetapi juga terjadi di masa lalu. Wawasan sejarah pandemi ini hendaknya dimiliki oleh para mahasiswa sejarah agar dapat dijadikan sebagai materi pendidikan dan membangun semangat optimisme bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang tangguh dan pejuang, terus dapat lepas dari keterpurukan wabah pandemi dan bangkit kembali untuk mengatur masa depan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analisis. Penelitian ini berupaya mendeskripsikan wawasan historis pandemi yang dimiliki oleh mahasiswa sejarah Universitas Riau dan menganalisis hubungannya dalam meningkatkan karakter mahasiswa selama pandemi ini. Berdasarkan situasi pandemi saat ini, mahasiswa sangat perlu mengembangkan karakter tentang bagaimana berperilaku baik dan positif terhadap orang lain dan dirinya sendiri serta merespon dengan baik pandemi yang sedang terjadi.
MENELISIK SEJARAH GUDEG SEBAGAI ALTERNATIF WISATA DAN CITRA KOTA YOGYAKARTA Kurniawati, Laurencia Steffanie Mega Wijaya; Marta, Rustono Farady
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p26-35

Abstract

Culinary is one of the sectors that provides great opportunities for Yogyakarta regional products which are a form of work of indigenous people who participate in improving the regional economy. Besides being able to improve the economy, it can also help preserve regional investment by introducing local regional cuisine. Through this background, the researcher raised one of the culinary specialties of Yogyakarta which has become the city's nickname, Gudeg, which is seen as a historic culinary tourism attraction in Yogyakarta. Qualitative descriptive is used to explain this research with Gottchalk's historical data collection techniques and Anholt's hexagon theory in explaining the diversity and uniqueness of Yogyakarta. Kuliner merupakan salah satu sektor pariwisata yang memberikan peluang besar bagi produk-produk daerah Yogyakarta yakni sebagai bentuk karya asli masyarakat daerah yang turut serta dalam meningkatkan perekonomian daerah setempat. Selain dapat meningkatkan perekonomian, dapat pula ikut melestarikan kebudayaan daerah dengan memperkenalkan kuliner daerah setempat. Melalui latar belakang berikut ini, peneliti mengangkat salah satu kuliner khas Yogyakarta yang telah mejadi julukan kota tersebut yakni Gudeg yang dilihat sebagai daya tarik wisata kuliner bersejarah di Yogyakarta. Deskriptif kualitatif digunakan untuk menjelaskan penelitian ini dengan teknik pengumpulan data historis Gottchalk dan teori hexagon milik Anholt dalam menjelaskan adanya keragaman serta keunikan yang dimiliki Yogyakarta
DEWAN KABUPATEN BATAVIA: SEJARAH DESENTRALIASASI DI HINDIA BELANDA (1928-1934) Noor, Muhamad Mulki Mulyadi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p45-61

Abstract

AbstractThis article attepts to analyze the decentralization issue in the Dutch East Indies, specifically the activities of the Dewan Kabupaten Batavia (Batavia Regency Council) in Tangerang between 1928 and 1934. With the adoption of bestuurvormingwet which is governing the expansion of regional administration, the role of regional government becomes greater in regulating its territory independently. This research tries to place the Dewan Kabupaten Batavia as an autonomous and active regional government in solving local problems that occur in Tangerang and its surroundings. The study shows that the activities of the regional government in Tangerang experienced several problems given the socio-economic conditions inherited from the post-purchase conditions of private lands. In addition, the decision-making process was also colored by the interests between groups including European, Chinese, Priyayi and Nationalist figures. This was reflected in the discussions carried out during the District Council session.  AbstrakArtikel ini berupaya menganalisa tentang desentralisasi di Hindia Belanda khususnya aktivitas Dewan Kabupaten Batavia di Tangerang antara tahun 1928 hingga 1934. Dengan ditetapkannya bestuurvormingwet di Hindia Belanda yang mengatur pemekaran administrasi wilayah, maka peran pemerintahan daerah menjadi lebih besar dalam mengatur wilayahnya secara mandiri. Penelitian ini berusaha menempatkan Dewan Kabupaten Batavia sebagai pemerintahan daerah yang otonom dan aktif dalam menyelesaikan masalah-masalah lokal yang terjadi di Tangerang dan sekitarnya. Penelitian ini menunjukkan bahwa aktivitas pemerintahan daerah di Tangerang mengalami beberapa problem mengingat kondisi sosial-ekonomi yang diwarisi dari kondisi pasca pembelian tanah-tanah partikelir. Selain itu dalam pengambilan keputusan juga banyak diwarnai oleh kepentingan antar golongan diantaranya adalah golongan Eropa, Cina, Priyayi dan tokoh Nasionalis. Hal tersebut tercermin dari diskusi yang dilakukan selama sidang Dewan Kabupaten. Disamping itu catatan kolonial menunjukkan bahwa Dewan berhasil menjalankan urusan-urusan daerah yang sebelumnya sempat diabaikan oleh pemerintah pusat khususnya pemberdayaan serta advokasi masyarakat di bekas tanah-tanah partikelir, pengembangan industri lokal, peningkatan sistem ekonomi pasar tradisional, serta pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum setempat.
MENELISIK SEJARAH PEREKONOMIAN KERAJAAN SRIWIJAYA ABAD VII-XIII Suswandari, Suswandari; Absor, Nur Fajar; Tamimah, Salsabila; Nugroho, Yudha Faiz; Rahman, Hanandita
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p91-97

Abstract

This research aims to explore further the economic history of Sriwijaya Kingdom in the VII-XIII century. This research method uses historical research approach with steps: (1) Heuristic; (2) Critic; (3) Interpretation; (4) Historiography. The results showed that Sriwijaya was a maritime kingdom that had close relations with India and China in trade. At that time the famous commodities were spices, forest products, foodstuffs, and workers or slaves. This is what makes Sriwijaya Kingdom famous as the international economy center.Penelitian ini bertujuan untuk menelisik lebih jauh sejarah perekonomian Kerajaan Sriwijaya pada abad VII-XIII. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian sejarah atau historis dengan langkah-langkah: (1) Heuristis; (2) Kritik; (3) Interpretasi; (4) Historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sriwijaya adalah sebuah kerajaan maritim yang memiliki hubungan erat dengan India dan Tiongkok dalam perdagangan. Saat itu komoditas yang terkenal adalah rempah-rempah, hasil hutan, bahan pangan, hingga pekerja atau budak. Hal inilah yang menjadikan Kerajaan Sriwijaya terkenal sebagai pusat perekonomian internasional. KATA KUNCIKerajaan Sriwijaya, Kerajaan Maritim, Pusat Perekonomian Internasional.
The Management of Natural Resources in 10 – 14 AD, The Hindu-Buddhist Era, based on Old Javanese Inscription in the Malang Highlands, East Java: Environmental Archeology Study Suprapta, Blasius
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p120-141

Abstract

Abstract: Based on geological studies, the Malang Highlands, East Java, Indonesia is a former ancient lake that dried up and turned into a wide and fertile plateau. Such natural conditions allow the growth and development of Hindhu-Buddhist civilization in 10 - 14  AD, namely the socio-cultural life of a well-ordered community. This includes the structure of natural resource management by the state and society. Around 19 old Javanese Inscription certificates were issued by the king at that time. Some of these inscriptions contain the standard rules of the kingdom in relation to the management of natural resources, but so far there has not been an in-depth study of the rules of natural resource management in this region. In connection with this problem, the need to conduct a study of natural resource management based on Old Javanese Inscription through an environmental approach: Environmental Archeology. The study was conducted by literature study, toponymy analysis, geographical spatial analysis on topographical maps, and interpretation of natural resource management, through an environmental management approach. The results showed that there were rules for felling trees in primary forest areas, state forest management for the benefit of maintaining sacred buildings and there were rules for the sale and purchase of endemic plants, namely spices. Abstrak: Berdasarkan studi geologi, Dataran Tinggi Malang, Jawa Timur, Indonesia merupakan bekas danau purba yang mengering dan berubah menjadi dataran tinggi yang luas dan subur. Kondisi alam yang demikian memungkinkan tumbuh dan berkembangnya peradaban Hindhu-Budha pada 10 - 14 Masehi, yaitu kehidupan sosial budaya masyarakat yang tertata rapi. Ini termasuk struktur pengelolaan sumber daya alam oleh negara dan masyarakat. Sekitar 19 akte Prasasti Jawa kuno dikeluarkan oleh raja saat itu. Beberapa prasasti tersebut memuat aturan baku kerajaan dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya alam, namun sejauh ini belum ada kajian yang mendalam tentang aturan pengelolaan sumber daya alam di wilayah ini. Sehubungan dengan masalah tersebut, perlu dilakukan kajian pengelolaan sumber daya alam berbasis Prasasti Jawa Kuno melalui pendekatan lingkungan: Arkeologi Lingkungan. Penelitian dilakukan dengan studi literatur, analisis toponimi, analisis spasial geografis pada peta topografi, dan interpretasi pengelolaan sumber daya alam, melalui pendekatan pengelolaan lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan adanya aturan penebangan pohon di kawasan hutan primer, pengelolaan hutan negara untuk kepentingan pemeliharaan bangunan suci dan terdapat aturan jual beli tanaman endemik yaitu rempah-rempah.
TINJAUAN KONSEPTUAL PEREMPUAN DAN MODERNITAS DALAM RUANG KOLONIALISME Subekti, Arif
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p183-194

Abstract

Under colonial rule, native women are double subordinated, both by colonialism, as a colonized objects, and by the patriarchal system. However, it does not hinder the absorption of Western ideas of modernity, particularly among native women. This article aims to describe the absorption and spread of Western modernity values onto native women under colonial rule. This article identifies the social roles, occupations, positions in society, and the influence of modernity received by native women.Nusantara pada masa kolonial memosisikan perempuan Bumiputera dalam penjajahan yang berganda. Pertama, ia dijajah oleh sistem patriarki berdasarkan nilai-nilai tradisional dan tempatan. Kedua, ia bersama segenap warga Bumiputera pria, adalah hamba jajahan. Namun, hal ini tidak menghambat penyerapan ide-ide modernitas Barat terhadap perempuan Bumiputera. Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan penyerapan dan penyebaran nilai-nilai modernitas Barat terhadap perempuan Bumiputera dalam ruang kolonialisme. Dengan menggunakan studi pustaka, hasil dari artikel ini adalah identifikasi peran sosial, prestasi yang diduduki, posisi dalam masyarakat, serta pengaruh modernitas yang diterima perempuan Bumiputera.
NILAI-NILAI FILOSOFIS TRADISI DUEK PAKAT DI GAMPONG TUNONG PAYA KRUEP KECAMATAN DARUL FALAH KABUPATEN ACEH TIMUR Hanafiah, Hanafiah
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p36-51

Abstract

Philosophical values in society and many social problems occur, as well as the customs that are owned by each Gampong, which has a custom in every social problem and its resolution, including in terms of marrying children (duuk pakat event meukawen), circumcision (sunah rasul ), farming (farming) and solving other problems. This article aims to examine the philosophical values of the tradition of Duek Pakat in Gampong Tunong Paya Kruep in depth, in detail and in full. The results of the study show that the tradition of Duek Pakat is based on a tradition that has been passed down for a long time, namely that Aceh had begun in the era of the kingdom, because the process of duat pakat was a deliberation carried out in the Tunong Paya Kruep Village, Duek pakat also had an impact on promoting deliberation in making decisions and overcoming problems shows that the community likes a peaceful life and tries to avoid conflict, so that the two groups have a very positive impact on the community. The philosophical values contained in the twelfth pakat include: Tradition Values, Cultural Preservation Values, Social Values and Philosophical Values. Masing-masing masyarakat mempunyai adat dalam menyelesaikan setiap permasalahan sosial, termasuk masyarakat gampong di Aceh, di antaranya dalam hal menikahkan anak (duek pakat acara meukawen), sunatan (sunah rasul), bercocok tanam (kenduri blang) dan penyelesaian masalah-masalah lainnya. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai tradisi duek pakat di Gampong Tunong Paya Kruep secara mendalam, rinci dan tuntas. Hasil studi menunjukkan, bahwa tradisi duek pakat didasari dari tradisi turun temurun sejak dari dulu yaitu sudah mulai ada di Aceh pada zaman kerajaan. Proses duek pakat merupakan musyawarah yang dilakukan di Gampong Tunong Paya Kruep. Duek pakat juga berdampak dalam upaya mengedepankan musyawarah dalam mengambil keputusan dan mengatasi masalah menunjukkan bahwa masyarakat menyukai kehidupan damai dan berusaha untuk menghindari konflik, sehingga duek pakat berdampak sangat positif terhadap masyarakat. Nilai-nilai tradisi yang terkandung dalam duek pakat, antara lain nilai tradisi, nilai pelestarian budaya, nilai sosial dan nilai agama.
PERJUANGAN RAKYAT MUSI RAWAS PADA MASA REVOLUSI FISIK (1947 -1949) Syafruddin, Yusuf; Asmi, Adhitya Rol; Pahlevi, Muhammad Reza
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p62-79

Abstract

Penelitian ini mengkaji mengenai peristiwa perjuangan rakyat Musi Rawas pada masa Revolusi Fisik (1947-1949). Penelitian ini bertujuan menganalisis keadaan Musi Rawas pada masa revolusi fisik (1947-1949), dan mendeskripsikan perjuangan rakyat dan elit tradisional Musi Rawas dalam perang gerilya. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode historis dengan langkah penelitian heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Sejak awal peristiwa proklamasi kemerdekaan Indonesia, rakyat Musi Rawas telah berperan aktif dalam melakukan perjuangan membela kemerdekaan. Perjuangan tersebut berupa perlawanan menghadapi Belanda yang merupakan kelanjutan dari perjuangan yang telah dilakukan masa sebelumnya. Perjuangan menghadapi Belanda diawali dengan upaya untuk mempertahankan kota Muara Beliti (Musi Rawas) yang diserang oleh pasukan militer Belanda melalui dua jalur darat, yaitu jalur Lahat- Tebing - Muara Beliti, dan jalur Mangunjaya – Sekayu - Muara Beliti. Kota Muara Beliti mendapat serangan Belanda dikarenakan daerah ini merupakan pusat pertahanan dan markas Sub Teritorial Palembang (STP). Melalui kedua jalur ini Belanda selanjutnya menyerbu Lubuk Linggau yang menjadi markas Divisi VIII Garuda atau Sub Komandemen Sumatera Selatan (Subkoss). Perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia bukan hanya dilakukan oleh pihak TNI dan laskar perjuangan lainnya, tetapi juga diikuti oleh kelompok - kelompok elite tradisional yang berada di Musi Rawas, seperti Pangeran Mantap, Pangeran Moh. Amin dan keluarganya. Pasukan TNI dan pejuang lainnya berjuang melalui jalur pertempuran, maka pihak elite tradisional ini berjuang dengan cara memberikan dukungan berupa bantuan logistik untuk keperluan selama perjuangan mempertahankan Musi Rawas. Selama masa perang kemerdekaan itu Belanda tidak berhasil menguasai secara keseluruhan wilayah Musi Rawas, dikarenakan berbagai macam perlawanan yang dilakukan oleh seluruh golongan dari rakyat Musi Rawas sehingga membuat pasukan Belanda mengalami kesulitan dalam upaya merebut Musi Rawas. Perang kemerdekaan ini berakhir setelah Belanda memberikan pengakuan kedaulatan pada 27 Desember 1949.  
KARET DAN PEMBATALAN PEMBANGUNAN JALUR KERETA API DI KALIMANTAN SELATAN PADA TAHUN 1930-AN Tundjung, Tundjung; Noviyanti, Rani
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 1 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i12021p98-105

Abstract

Rubber is one of the mainstay products of South Kalimantan at the beginning of the twentieth century. Netherlands Indies Government tried to develop rubber plantations there in order to meet the demand of the world market. The distance between the place of production and the port that is what gave rise to the idea of an entrepreneur building a railway line to transport the rubber from the headwaters to Banjarmasin. As long as this is done through the rubber transport streams, which often encountered obstacles. In the mid 1920 's, the Semarang-Chirebon Stoomtram Maatschappij doing feasibility calculation the construction of railway lines, especially for the transport of the rubber. When planning has been made, at the beginning of the year 1930-ness of the world economic crisis, which promoted trade in rubber. Rubber trade not profitable yet, then the construction of the railway line is not implemented.Karet adalah salah satu produk andalan Kalimantan Selatan pada awal abad kedua puluh. Pemerintah Hindia Belanda berusaha mengembangkan perkebunan karet di sana untuk memenuhi permintaan pasar dunia. Jarak antara tempat produksi dan pelabuhan itulah yang memunculkan ide seorang pengusaha membangun jalur kereta api untuk mengangkut karet dari hulu ke Banjarmasin. Selama ini dilakukan melalui aliran transportasi karet, yang kerap menemui kendala. Pada pertengahan 1920-an, Stoomtram Maatschappij Semarang-Chirebon melakukan perhitungan kelayakan pembangunan jalur kereta api, terutama untuk pengangkutan karet. Ketika perencanaan telah dibuat, pada awal tahun 1930-an krisis ekonomi dunia, yang mempromosikan perdagangan karet. Perdagangan karet belum menguntungkan, maka pembangunan jalur kereta api belum dilaksanakan.
LITERASI DIGITAL MELALUI PEMANFAATAN MEDIA PEMBELAJARAN EDMODO PADA PEMBELAJARAN SEJARAH Shavab, Oka Agus Kurniawan
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p142-152

Abstract

The purpose of this article is to describe digital literacy by utilizing edmodo learning media on learning history in class. Towards society 5.0, digital literacy should be owned by every student now. The use of technology is not new for students and in almost every activity, they cannot be separated from technology products. Seeing this situation, even history teachers should be able to use or create learning media based on information and communication technology. One that can be made or used is edmodo learning media. With this media, the teacher can provide historical resources that can be accessed by students and package their learning activities by utilizing the features in Edmodo and based on digital literacy. Utilization of edmodo by the teacher provides experience to students to select and analyze information needed in history learning activities in class.The stages contained in digital literacy include: digital competence, digital usage, and digital transformation. Broadly speaking, this article will explain the edmodo learning media, digital literacy, and history learning through digital literacy-based edmodo learning media. Tujuan artikel ini adalah untuk menggambarkan literasi digital dengan memanfaatkan media pembelajaran edmodo tentang pembelajaran sejarah di kelas. Terhadap masyarakat 5.0, literasi digital harus dimiliki oleh setiap siswa sekarang. Penggunaan teknologi bukanlah hal baru bagi siswa dan dalam hampir setiap kegiatan, mereka tidak dapat dipisahkan dari produk teknologi. Melihat situasi ini, bahkan guru sejarah harus dapat menggunakan atau membuat media pembelajaran berdasarkan teknologi informasi dan komunikasi. Salah satu yang bisa dibuat atau digunakan adalah media pembelajaran edmodo. Dengan media ini, guru dapat menyediakan sumber daya sejarah yang dapat diakses oleh siswa dan mengemas kegiatan belajar mereka dengan memanfaatkan fitur-fitur dalam Edmodo dan berdasarkan pada literasi digital. Pemanfaatan edmodo oleh guru memberikan pengalaman kepada siswa untuk memilih dan menganalisis informasi yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran sejarah di kelas. Tahapan yang terkandung dalam literasi digital meliputi: kompetensi digital, penggunaan digital, dan transformasi digital. Secara garis besar, artikel ini akan menjelaskan media pembelajaran edmodo, literasi digital, dan pembelajaran sejarah melalui media pembelajaran edmodo berbasis literasi digital.