cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
JIMPITAN SEBAGAI SARANA GOTONG ROYONG DALAM MENGHADAPI PANDEMI COVID-19 Izzati, Fathia Rahmi; Putri, Fathia Rahima; Salim, Athira Syifa Puti; Putri, Sandra Alifa; Valentin, Rianto Jose; Hamda, Aisyah Al
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p344-354

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jimpitan sebagai solusi dalam membantu masyarakat menghadapi pandemi dari segi ekonomi. Penelitian ini berfokus pada ragam jimpitan di Indonesia, hubungan jimpitan dengan gotong royong, hubungan jimpitan dengan pandemi COVID-19 dan hal baru mengenai jimpitan di masa modern dan saat pandemi. Teknik pengumpulan data menggunakan studi literatur, wawancara, dan observasi. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan model interaktif dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian menemukan bahwa: 1) Jimpitan di Indonesia terdapat dua model yaitu dengan beras dan uang serta pelaksanaan nya beberapa dilakukan bersama dengan kegiatan ronda. Hasil jimpitan umumnya digunakan untuk membiayai kegiatan RT. 2) Jimpitan, sebagai kebudayaan asli dari Indonesia, adalah sebuah kebudayaan yang sangat mewakili semangat gotong-royong. Hal ini akan berdampak sangat baik karena untuk mencapai kehidupan yang baik di tengah masyarakat, diperlukan sebuah semangat saling peduli dan saling membantu, yaitu semangat gotong-royong, yang salah satunya ditunjukkan pada kegiatan Jimpitan ini. 3) di beberapa tempat, jimpitan pada masa pandemi masih dilakukan. Selain itu, jimpitan sebagai salah satu sarana pengumpulan dana sosial bisa digunakan untuk membantu perekonomian warga yang terdampak pandemi. Jimpitan pada masa pandemi harus memperhatikan protokol kesehatan agar mencegah penularan virus. 4) terdapat kegiatan jimpitan pada masa modern yang berbasis IPTEK. Selain itu, program Jogo Tonggo dari pemerintah Jawa Tengah bisa digunakan sebagai kombinasi kegitan jimpitan.
MONUMEN PALAGAN TUMPAK RINJING DAN INGATAN MASYARAKAT KABUPATEN PACITAN ATAS REVOLUSI FISIK 1949 Azifambayunasti, Azril
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p198-209

Abstract

The Palagan Tumpak Rinjing Monument is a symbol of preserving memory for the events of the 1949 Physical Revolution in Pacitan Regency. In general, this research aims to describe the historical narrative behind the construction of the Palagan Tumpak Rinjing Monument and collective memory of 1949 Physical Revolution symbolized in the monument. This study uses a qualitative method, in which the researcher collects information through interview with relevant informants by purposive sampling technique and studies of some supporting literature. The results showed that the events behind the construction of the Palagan Tumpak Rinjing Monument was local people's resistance to the Dutch troops during Physical Revolution in several parts of Indonesia. However, the monument that was built three decades after the incident displays the icons of General Soedirman and B. S. Riyadi. It then affects the formation of collective memory of the people who tend to forget the role of local fighters and see the big man as central figures who contributed to heroic events around them. Monumen Palagan Tumpak Rinjing adalah simbol melestarikan memori untuk peristiwa Revolusi Fisik 1949 di Kabupaten Pacitan. Secara umum, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan narasi sejarah di balik pembangunan Monumen Palagan Tumpak Rinjing dan memori kolektif Revolusi Fisik 1949 yang dilambangkan dalam monumen. Studi ini menggunakan metode kualitatif, di mana peneliti mengumpulkan informasi melalui wawancara dengan informan yang relevan dengan teknik purposive sampling dan studi dari beberapa literatur pendukung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peristiwa di balik pembangunan Monumen Palagan Tumpak Rinjing adalah perlawanan masyarakat setempat terhadap pasukan Belanda selama Revolusi Fisik di beberapa bagian Indonesia. Namun, monumen yang dibangun tiga dekade setelah kejadian menampilkan ikon Jenderal Soedirman dan B. S. Riyadi. Ini kemudian mempengaruhi pembentukan memori kolektif dari orang-orang yang cenderung melupakan peran pejuang lokal dan melihat orang besar sebagai tokoh sentral yang berkontribusi pada peristiwa heroik di sekitar mereka.
PERJUANGAN SULTAN MAHMUD RI’AYAT SYAH MELAWAN BELANDA DITINJAU DARI ASPEK STRATEGI PEPERANGAN Anwar, Syaiful
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p277-290

Abstract

Sultan Mahmud Ri'ayat Syah was a king with the title "Yang Dipertuan Besar Riau-Lingga-Johor-Pahang Kingdom", who led his kingdom to fight against the Dutch troops who attacked his kingdom. This research analyzes his struggle from the aspect of warfare strategy. This research is a qualitative research, using the method of Biographical History Research, to dig deeper into his superiority in leading the war series. The theory used is strategy theory and several other relevant theories. Data was collected using literature study techniques, and then analyzed and interpreted so that they have the expected meaning. From the discussion it was found that his decision to fight, move the defense area, and carry out a sea guerrilla war, was very precise and effective, so that he achieved a series of victories and his kingdom could last quite a long time.
DANGDUT: SEBUAH REALITA GLOBALISASI KEBUDAYAAN TIMUR DAN BARAT Arjaya, Derta -; Afiyanto, Hendra -; Nurullita, Hervina -
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p210-226

Abstract

This research come from a reason how to reconstruction of development dangdut music as a national identity. During this time we know that dangdut music has a label as a nusantara music which come from acculturation and adoption from India music. Dangdut music that we enjoying today cannot be separated from political influence from old orde till new orde. This political power interesting to explored not only from art and culture perspective but also from the existence of dangdut music today. To answer those curiousity, this research using historical methode. Book and archive is a primary source in this research. Purpose of this research is reconstruction of rising dangdut music till making dangdut music as a national identity. Conclusion of this research is dangdut is genre of music which seen as identity, actually dangdut music come from acculturation between India, China, Melayu and Far East. In the Rhoma Irama era that called as Raja Dangdut (King of Dangdut) the rock music feel so deep in dangdut music. This is because influence of westernization come to Indonesia in new orde. Penelitian ini muncul sebagai sebuah upaya untuk merekonstruksi perkembangan music dangdut sebagai identitas nasional. Selama ini dangdut mendapat label sebagai music nusantara yang lahir dari hasil akulturasi atau adobsi dari music India. Nyatanya dangdut yang sekarang kita nikmati tidak telepas dari pengaruh politik dari masa orde lama hingga orde baru. Kuasa politik inilah yang menarik untuk diteliti tidak hanya dari perspektif kesenian dan budaya namun juga dalam melihat music dangdut saat ini. Untuk menjawab kuriositas tersebut, maka penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah. Buku dan arsip menjadi sumber primer dalam penelitian ini. Tujuan dari penelitian ini antara lain: untuk mengonstruksi munculnya music dangdut hingga pembentukan music dangdut sebagai identitas nasional. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu: Dangdut, sebagai suatu genre musik yang dipandang sebagai identitas, ternyata jika lihat sejarah perkembangannya, merupakan suatu yang hadir atau tercipta berkat akulturasi. Budaya yang bercampur tersebut dari India, China, Melayu, Timur Tengah. Bahkan pada era Rhoma Irama (raja dangdut) muncul, nuansa rock yang sangat terlihat sekali dalam dangdut. Nuansa Rock ini sebagai hasil dari pengaruh westernisasi yang masuk ke Indonesia pada masa Orde Baru.
PERAN INLANDS BESTUUR SIDOARDJO DALAM MENANGANI PERISTIWA GEDANGAN TAHUN 1904 Illahi, Nanda Pramudya Fadli
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p227-238

Abstract

The Gedangan, Sidoarjo event that occurred in 1904 was an event of rebellion carried out by a man named Kyai Kassan / Hassan Moekmin with his followers. It was motivated by problems that arose in Regentschap Sidoardjo in the late 19th and early 20th centuries about the increasingly miserable conditions of society with new projects from the Dutch East Indies colonial government. He carried out an uprising that took many lives both on the rebel side and the government. In this case the Colonial government relied on its employees in the surrounding area ranging from regents, Wedana, to Lurah. By the colonial government, these employees were referred to as Inlandsch Bestuur or indigenous employees. Their role in dealing with this rebellion was decisive in the decision that would be taken by the Dutch East Indies officials at that time. Peristiwa Gedangan, Sidoarjo yang terjadi tahun 1904 merupakan peristiwa pemberontakan yang dilakukan oleh seorang bernama Kyai Kassan / Hassan Moekmin bersama para pengikutnya. Dilatar belakangi oleh berbagai permasalahan yang muncul di Regentschap Sidoardjo pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 tentang kondisi masyarakat yang semakin sengsara dengan proyek-proyek baru dari pemerintah kolonial Hindia-Belanda. Dirinya melakukan pemberontakan yang memakan tidak sedikit korban jiwa baik di pihak pemberontak maupun pemerintah. Dalam hal ini pemerintah Kolonial mengandalkan pegawainya yang ada di daerah sekitar mulai dari Bupati, Wedana, sampai Lurah. Oleh pemerintah kolonial, para pegawai ini disebut sebagai Inlandsch Bestuur atau  pegawai pribumi. Peranan mereka dalam menangani pemberontakan ini sangat menentukan keputusan yang akan diambil oleh para pejabat Hindia-Belanda saat itu.
KEARIFAN LOKAL PADA PERWUJUDAN TATHAGATA DI CANDI BOROBUDUR (LOCAL GENIUS IN TATHAGATA STATUE IN BOROBUDUR TEMPLE) Mentari, Gaya
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p355-368

Abstract

This study describes about the form of local genius from tathagata Statue in Borobudur temple. Tathagata is a term to call someone who reach the truth of life. This Tathagata becomes the Buddha image which has certain characteristic (like hand gesture or mudra, and sit gesture). This study using 20 Tathagata in Rupadhatu terrace of Borobudur. Five characteristic of local genious which told by Ayatrohaedi (1986) become reference for showing the local genious that exist in Tathagata statue in Borobudur temple. The purpose of this article is giving new opinion that since Hindu-Buddha period, the old Javanesche artist (silpin) had been able to integrate foreign culture within local culture in the art and placement form of tathagata image. The research found that Tathagata have unique charateristic in art style and the placement which are the form of local genious from the Javanesche artist.Kajian ini membahas tentang bentuk kearifan lokal yang terdapat pada arca Tathagata di Candi Borobudur. Tathagata merupakan istilah yang digunakan untuk seseorang yang mencapai kebenaran sejati dalam kehidupan agama Buddha. Tathagata tersebut diwujudkan dalam bentuk arca Buddha yang memiliki beberapa bentuk karakteristik. Kajian ini menggunakan 20 sampel arca Tathagata yang terdapat di tingkat Rupadhatu pada Candi Borobudur. Lima ciri kearifan lokal yang disebutkan oleh Ayatrohaedi (1986) menjadi acuan utama untuk menunjukkan kearifan lokal yang melekat pada perwujudan arca Tathagata di Candi Borobudur. Dengan demikian, tulisan ini bertujuan untuk memberikan pandangan bahwa sejak masa Hindu-Buddha, para seniman Jawa Kuno (silpin) telah memiliki kemampuan dalam mengintegrasikan unsur kebudayaan dari luar dengan kebudayaan asli setempat dalam bentuk kesenian arca. Penelitian menunjukkan bahwa arca Tathagata di Candi Borobudur memiliki keunikan dalam hal gaya seni dan penempatan arca yang merupakan suatu bentuk kearifan lokal para seniman Jawa Kuno..
PEMANFAATAN GEOLISTRIK UNTUK IDENTIFIKASI BENDA TERDUGA ARTEFAK DI DESA PEKAUMAN, KABUPATEN BONDOWOSO Hudiyanto, Reza; Lutfi, Ismail
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 1 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i12022p66-79

Abstract

Problem the oftenly rises is when an artefacts remain buried and unintentionally unearth thereafter by any activities which unrelated to cultural preservation.  In order to keep the artefact from the treath of changing land used, such as when company expanded their land. This study tried to discuss the use of geolectrical methods in assuming the position of artefak particularly artificial stone laid beneath land surface nearby Megalitic Garden of Pekauman. The geoelectric method is a way to obtain the image of the subsurface structure by using of different resistivity on each material. Through this method, we can depicted material composition such as clay, water, gravel and andesite. This shows that the geoelectric method could provide a based to determine average position of any artefak under the surface. The results of the research indicate that from four test area in the Plywood Industry complex development area in Bondowoso, we detected a figure of cuboid shape stone lied 4 meter under surface.  Therefore it can be concluded that this method proved effective in determine position of suspected artefak before doing excavation. In it will help archeolog in searching the right position of unearthen artefak. As the time pass on and the land came to scarce, this method will give preliminary information of suspected-artefak, so the owner will not removed artefak when they make expansion area or contruction building.Permasalahan yang sering muncul adalah adanya artefak yang berada di bawah permukaan tanah dan baru diketahui secara tidak sengaja setelah adanya aktivitas penggalian. Oleh karena itu diperlukan cara untuk mengetahui potensi budaya yang masih terpendam di bawah permukaan tanah. Kajian ini bertujuan untuk membahas pemanfaatan geolistrik dalam memprediksi keberadaan artefak yang diperkirakan berada di bawah permukaan tanah disekitar Taman MegalitikPekauman. Metode geolistrik adalah suatu cara untuk memperoleh gambaran struktur bawah permukaan tanah melalui pemanfaatan perbedaan sifat resistivitas suatu material. Metode ini bertujuan untuk mendapatkan citra bawah permukaan tanah yang menggambarkan lapisan tanah liat, air, kerikil dan batu andesit. Ini menunjukkan bahwa metode geolistrik mampu memberikan dasar asumsi posisi koordinat dugaan benda artefak di dalam tanah. Hasil dari penelitian dengan ini menunjukkan bahwa dari tiga lintasan uji geo listrik di kawasan pengembangan kompeks Industri Plywood di Bondowoso ini, ditemukan satu batu berbentuk kubus di kedalaman 4 meter. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa metode ini juga memudahkan penentuan titik bidang ekskavasi di lahan terduga terdapat artefak. Di masa yang akan datang geolistrik akan mempermudah penentuan titik galian ekskavasi. Metode ini juga dapat pihak pemilik lahan ketika menentukan posisi penggalian pondasi bangunan supaya tidak menghancurkan benda cagar budaya.
KYAI DALAM PERUBAHAN SOSIAL DI PARE TAHUN 1970-1990 Loliyana, Nilan; Abdurakhman, Abdurakhman
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 1 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i12022p129-143

Abstract

Proyek akhir ini akan menjelaskan bahwa Kyai Yazid telah melakukan perubahan yang sangat signifikan terhadap dinamika kehidupan masyarakat pare dengan kemampuannya menguasai dan memahami berbagai macam bahasa asing. Bahasa Arab dan Belanda menjadi acuan untuk menguasai bahasa-bahasa asing seperti bahasa Ibrani, German, Inggris, Jepang, Persia, Perancis dan Hebrew.  Permasalahan yang diangkat dari penelitian ini yaitu, Mengapa terjadi perubahan masyarakat Pare dan bagaimana kyai Yazid melakukan perubahan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode historis, berdasarkan metode sejarah tersebut maka yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Huristik (pencarian sumber), verivikasi data atau kritik sumber, interpretasi (penafsiran terhadap fakta yang telah melalui proses verifikasi sumber), Tahapan terakhir dari metode sejarah adalah historiografi (penulisan sejarah). Selain menggunakan metode sejarah, penelitian ini menggunakan pendekatan sejarah biografi. Sumber yang digunakan dalam penelitian ini merupakan sumber primer dan sumber sekunder yang terdapat dalam arsip, foto, kamus-kamus bahasa asing, surat kabar sezaman seperti koran-koran dari Jerman yang dikirim khusus untuk kyai Yazid, buku-buku yang merupakan bacaan atau tulisan kyai Yazid, serta sumber dari media cetak maupun media online. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu, Kyai Yazid yang tumbuh sebagai agency yang merubah struktur masyarakat wilayah Pare melalui dua cara berikut: (Mengajarkan bahasa asing dalam sistem pembelajaran dan menggunakan sistem getok tular dalam memperluas kemampuan berbahasa asing di lingkungan pondok pesantren Darul Fallah).
KEDAULATAN SEMU: PRAKTIK PEMERINTAHAN NEGARA DAN DAERAH BENTUKAN BELANDA 1947-1948 Prabowo, Mohammad Rikaz; Aman, Aman
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 1 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i12022p18-32

Abstract

This research aims to find out the extent of the sovereignty possessed by the countries and regions formed by the Netherlands around 1947-1948, by taking the example of the Pasundan State and the Special Region of West Kalimantan (DIKB). The results of the study is 1) The Pasundan State was founded by Kertalegawa on May 4, 1947, with the support of van Mook. Kertalegawa's efforts ran aground because of the lack of support from Sundanese leaders. The Dutch again tried to establish Pasundan after West Java has controlled thanks to the Renville Agreement. This effort was successful on February 26, 1948, with the Mayor, namely R.A.A Wiranatakusumah, and Prime Minister Adil Puradiredja. The two figures were actually pro-republican, elected based on a session of the Pasundan State Parliament. 2) DIKB was formed on May 12, 1947, which was attended by van Mook, chaired by Sultan Hamid II with the assistance of five members of the Daily Governing Body and a Secretary who was held by Dutch officials. Meanwhile, the West Kalimantan Council (DKB) as parliament is also chaired by Dutch officials. The DKB consists of 40 representatives of ethnic/customary figures and self-government leaders such as the Sultan and Panembahan. 3) The State of Pasundan and DIKB are constituents of the Provisional Federal Government of the Netherlands by adopting a federal system. There was a dualism of government in which the Dutch kept their officials and employees. The State and Regions do not have authority and independence in making policies because they are not implemented 100 percent by the Indonesian people. Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mana kedaulatan yang dimiliki oleh negara-negara dan daerah bentukan Belanda sekitar tahun 1947-1948, dengan mengambil contoh pada Negara Pasundan dan Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB). Penelitian menggunakan metode sejarah melalui tahapan seperti heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Berdasarkan hasil telaah didapatkan hasil penelitian sebagai berikut. 1)Negara Pasundan didirikan oleh Kertalegawa pada 4 Mei 1947 yang didukung oleh van Mook. Usaha Kertalegawa kandas karena kurangnya dukungan dari tokoh Sunda. Belanda kembali mencoba mendirikan Pasundan setelah Jawa Barat dikuasai berkat Perjanjian Renville. Usaha ini berhasil pada 26 Februari 1948 dengan Wali Negaranya yakni R.A.A Wiranatakusumah, dan Perdana Menteri  Adil Puradiredja. Kedua tokoh sebenarnya pro-republik, terpilih berdasarkan sidang Parlemen Negara Pasundan. 2)DIKB dibentuk pada 12 Mei 1947 yang dihadiri oleh van Mook, diketuai oleh Sultan Hamid II dengan dibantu oleh lima orang anggota Badan Pemerintahan Harian dan seorang Sekretaris yang dipegang oleh pejabat Belanda. Sedangkan Dewan Kalimantan Barat (DKB) sebagai parlemen juga diketuai oleh pejabat Belanda. DKB beranggotakan 40 perwakilan tokoh-tokoh etnis/adat dan pemimpin swapraja seperti Sultan dan Panembahan. 3)Negara Pasundan dan DIKB adalah konstituen dari Pemerintahan Federal Sementara Belanda dengan mengadopsi sistem federal. Terjadi dualisme pemerintahan dimana Belanda tetap mempertahankan para pejabat dan pegawainya. Negara dan Daerah tidak memiliki kewibawaan dan kemerdekaan dalam membuat kebijakan karena tidak dijalankan 100 persen oleh masyarakat Indonesia.
KONTEKSTUALISASI PEMBELAJARAN SEJARAH MELALUI PERISTIWA BENCANA Listyaputri, Dinar Rizky; Patridina, Esa P.B.G.G.
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 16, No 1 (2022): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v16i12022p200-210

Abstract

AbstractThe challenges of learning history are increasingly diverse. One of the issues that often get repeated is regarding how irrelevant and out-of-context the history subjects are for students. According to the reason, designing a contextual history learning plays an important role. Learning history throughout the disaster events is an attempt to serve history, not only as part of human's past life but also as a widened field that is quite relevant to students' life. The fact that Indonesia is a disaster-prone country with a total of 763 natural disasters in the first quarter of 2021 is another reason that shows the urgency of learning disaster history. Bringing disaster events into history learning has a particular purpose of improving people's awareness of disaster hazards. This study used the literature studying method by analyzing every related reference. The purpose of this study is to find possibilities to design history learning through disaster events by analyzing the curriculum draft, collecting any sources about disaster histories, and concluding how it benefits students. Using environmental and disaster history as learning material is expected to be an inspiration for educators to develop and create a learning process that accommodates factual issues around students so that the subject does not lose its relevance.