cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
-
Editorial Address
-
Location
Kota malang,
Jawa timur
INDONESIA
Jurnal Sejarah dan Budaya
ISSN : -     EISSN : -     DOI : -
Core Subject :
Arjuna Subject : -
Articles 232 Documents
INFOGRAFIK SEJARAH DALAM MEDIA SOSIAL: TREN PENDIDIKAN SEJARAH PUBLIK Kurniawan, Hendra
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 14, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v14i22020p1-13

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tren pendidikan sejarah publik pada era digital saat ini. Fokus utama yang disoroti yakni hadirnya salah satu produk digital berupa infografik sejarah yang umum dijumpai dalam media sosial Instagram. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi dan studi literatur. Analisis data dilakukan dengan analisis kualitatif model induktif. Hasil penelitian memaparkan bahwa saat ini sejarah publik tidak melulu disajikan secara konvensional. Tren sejarah publik telah mengikuti perkembangan era digital dengan memanfaatkan keberadaan berbagai media sosial. Infografik sejarah menjadi salah satu produk digital yang tumbuh subur di lahan media sosial khususnya Instagram dengan berbagai tipe sajiannya. Sebagai sebuah tayangan visual, infografik sejarah menyajikan informasi sejarah secara singkat, padat, dan menarik. Hal ini dapat menjadi alternatif pendidikan sejarah publik yang efektif di era digital dalam mendekatkan sejarah pada masyarakat. Sebuah kesempatan emas untuk menumbuhkembangkan kesadaran akan sejarah bangsa dalam sanubari setiap warga negara.
Perancangan Kreatif Kolaboratif Arsitektur Gapura Berkarakter Lokal Wisata Bumi Perkemahan Bedengan desa Wisata Selorejo Ponimin, Ponimin; Wardana, Mitra Istiar; Raharjo, Timbul; Rakuti, Nurhadi
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p331-343

Abstract

Designing iconic gate architecture for Bumi Perkemahan Bedengan of Selorejo Village tourism area with local character plays important role for tourism area development. The design meant not only for beauty aspect, but also build local-based artistic visual image as tourists attraction. It can be reached by collaborative creative method. Done by cooperation of local tourism area administrator team with LP2M UM as implementer. This collaborative work started from user partner needs analysis. The analysis result used as reference to formulate design concept for gate architecture, realized gate design concept, analysing the result, evaluating and improving collaborative work result. The activity result comes in design and gate product set built on tourism area to strengthen tourism area image through gate design icon with local character from environment and local culture as creation idea.
LANGKAH-LANGKAH HEURISTIK DALAM METODE SEJARAH DI ERA DIGITAL Sayono, Joko
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p369-376

Abstract

Penelitian sejarah dilakukan dengan menggunakan metode sejarah, yang terdiri atas heuristik, kritik, interpretasi, dan historiografi. Heuristik adalah tahap awal yang sangat penting dalam penelitian sejarah, keberhasilan dalam heuristik akan sangat membantu para peneliti menyelesaikan penyusunan historigrafi.  Dalam berbagai referensi yang ada heuristik dijelaskan sebatas mencari dan menemukan sumber, belum dijelaskan secara kongkrit apa sebenarnya yang harus dilakukan pada tahap heuiristik. Bagaimana heuristik harus dilakukan era digital, juga belum banyak dibahas.  Artikel ini menguraikan heuristik lebih terinci, mulai dari pengertian, prasyarat untuk dapat melakukan heuristik dengan baik, langkah-langkah kongkrit dalam melaksanakan heuristik dan bagaimana aplikasinya dalam penelitian sejarah.  Uraian ini akan memberikan pengetahuan dan gambaran   yang nyata bagaimana seseorang melakukan heuristik dalam konteks  metode sejarah  di Era digital.  Secara khusus tulisan ini sangat berguna bagi para mahasiswa yang menekuni bidang sejarah dan bagi para peneliiti pemula maupun peminat bidang sejarah. Heuristik merupakan tahap awal dalam metode sejarah, tetapi pelaksanaannya akan terus berlangsung terintegrasi dengan tahap selanjutnya. Heuristik berhenti dilakukan ketika historiografi dinyatakan selesai oleh penulisnya.
PRAKSIS KONSERVASI ALAM PADA ETNIS LAMAHOLOT: PARADIGMA ECO-RELIGI Kenoba, Marianus Ola; Bala, Alexander
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p291-304

Abstract

The discourse of traditional ecological knowledge and nature conservation in an eco-religious perspective is an essential issue to studie. This is because collective memory determines the relationship between environment, the Creator, humans, and the surrounding ecosystem. The purpose of this study is to explore the local wisdom of the Lamaholot ethnic that are still visible. The research method used qualitative approach with critical hermeneutic data presentation. Literature study is used to obtain data. The data were analyzed using the Gadamerian hermeneutic approach. The resulst showed that most of the Lamaholot ethnic communities live from and in agricultural culture. When opening new land for the agricultral area, it is always preceded by the practice of special rites that support farming activities. The agricultural culture practiced by the Lamaholot ethnicity is not a type of exploitative culture but is a representation of symbiotic mutualism. More than, farming rituals, mythology, fables, totems, taboos and metaphors in the Lamaholot ethnic agrarian culture are part of a very rich plus genius religious ecological folklore.Diskursus mengenai pengetahuan tradisional dan konservasi alam dalam persepktif eco-religi menjadi isu yang menarik untuk diteliti. Sebab, ingatan kolektif itulah yang menentukan relasi antara alam, Sang Pencipta, manusia, dan ekosistem lingkungan di sekitarnya. Tujuan penelitian ini adalah menggali kearifan lokal etnis Lamaholot yang masih nampak. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan pemaparan data secara hermeneutis kritis. Studi pustaka digunakan untuk memperoleh data. Analisis data menggunakan pendekatan hermeneutik Gadamerian. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat etnis Lamaholot hidup dari dan dalam kultur agrikultural. Saat membuka lahan baru untuk area ladang, selalu didahului dengan praktik ritus-ritus khusus yang menunjang aktivitas berladang. Kultur agrikultural yang dipraktikkan oleh etnis Lamaholot bukanlah sebuah tipe kultur eksploitatif melainkan bercorak mutualisme simbiosis. Lebih dari itu, ritual-ritual perladangan, mitologi,  fabel, totem, tabu-tabu dan metafora di dalam kultur agraris etnis Lamaholot merupakan bagian dari folklor ekologi religius yang sangat kaya plus genius.    
MENDAYAGUNAKAN PENINGGALAN SEJARAH, MEWARISKAN HARMONI: KONTRUKSI MODEL HARMONI SOSIAL KEHIDUPAN MULTIETNIS MENGGUNAKAN TEKS ISTANA DALAM LOKA Ismain, Kasimanuddin; Khakim, Moch. Nurfahrul Lukmanul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p377-390

Abstract

The meaning of social harmony in the Dalam Loka Palace is reflected in the layout and architecture of  multi-ethnic city. The learning model research methods include problem analysis, formulating a draft model, expert validation, model revision stage 1, limited trial of the initial model, model revision stage 2, extensive trial, final revision, and model preparation. Through validation and testing, a suitable model has been produced to foster the harmony of multiethnic life. The uniqueness of the model is the partnership of the regent as regional leader and the sultan as the holder of the Samawa tradition and culture according to the regional motto of Sabalong Samalewa. With the uniqueness of the model, it is hoped that it can eliminate the potential for conflict through the implementation of policies on internal and external factors of the model in development in the area concerned, which touches various aspects of multi-ethnic life. Makna kerukunan sosial di Keraton Dalam Loka tercermin dalam tata ruang dan arsitektur kota multietnis. Metode penelitian model pembelajaran meliputi analisis masalah, merumuskan rancangan model, validasi ahli, revisi model tahap 1, uji coba terbatas model awal, revisi model tahap 2, uji coba ekstensif, revisi akhir, dan penyusunan model. Melalui validasi dan pengujian, dihasilkan model yang cocok untuk membina kerukunan hidup multietnis. Keunikan model tersebut adalah kemitraan bupati sebagai pemimpin daerah dan sultan sebagai pemegang tradisi dan budaya Samawa sesuai semboyan daerah Sabalong Samalewa. Dengan keunikan model tersebut, diharapkan dapat menghilangkan potensi konflik, melalui penerapan kebijakan faktor internal dan eksternal model dalam pembangunan di daerah yang menyentuh berbagai aspek kehidupan multi etnis
SERAT JANGKA JAYABAYA: RELEVANSI DAN PENGARUHNYA TERHADAP KEHIDUPAN BANGSA INDONESIA Erlangga, Gery
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p239-248

Abstract

The long-term fibre created by Prabu Jayabaya, who was a king of the Kediri kingdom, wrote a prophecy or clues regarding future circumstances. The predictions are based on the book of Musasar and the narrative of the guru Maulana Ngali Sjamsuzein. The prediction of Jayabaya remains an existence because of the relevance of the prophecy content to the life of Indonesia. The writing of this article discusses related to the relevance of Jayabaya term fibre content with Indonesian state. The method used in the writing of this article uses a method of qualitative descriptive that explains the phenomenon that occurs Jayabaya forecast. Data collection techniques are performed by documentation techniques by reviewing documentation materials such as books and journals. Then the data is processed using a library study technique. Long term fibre There are life values that can instill character in a person and one of Jayabaya term content that is the concept of Ratu Adil can foster a spirit of nationalism and influence the concept of leadership in Indonesia. Serat Jangka Jayabaya yang diciptakan oleh Prabu Jayabaya yang merupakan seorang raja dari kerajaan Kediri menuliskan ramalan atau petunjuk-petunjuk terkait keadaan di masa depan. Ramalan-ramalan tersebut bersumber pada Kitab Musasar dan penuturan dari sang guru yakni Maulana Ngali Sjamsuzein. Ramalan Jayabaya ini tetap eksistensi karena relevansinya isi ramalan tersebut dengan kehidupan bangsa Indonesia. Penulisan artikel ini membahas terkait relevansi isi Serat Jangka Jayabaya dengan keadaan bangsa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penulisan artikel ini menggunakan metode kualitatif deskriptif yang menjelaskan fenomena yang terjadi terkait ramalan Jayabaya. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi dengan meninjau bahan-bahan dokumentasi seperti buku dan jurnal. Kemudian data tersebut diolah menggunakan teknik studi pustaka. Serat Jangka Jayabaya terdapat nilai-nilai kehidupan yang dapat menanamkan karakter pada diri seseorang dan salah satu isi Jangka Jayabaya yang berupa konsep Ratu Adil dapat menumbuhkan jiwa nasionalisme dan mempengaruhi konsep kepemimpinan di Indonesia.  
PERUBAHAN BIROKRASI MARGA WILAYAH MUSI ULU DI AFDEELING PALEMBANGSCHE BOVENLANDEN 1906-1942 Susetyo, Berlian; Ravico, Ravico
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p305-320

Abstract

Marga is the lowest level of government system led by a pesirah  as the head of the clan that has existed since the Sultanate of Palembang Darussalam which refers to the Simbur Cahaya Act made by Queen Sinuhun Sending in 1630. After the Sultanate of Palembang Darussalam fell to the Dutch in 1821, the Dutch East Indies colonials replaced it with The Palembang Karesidenan. The clan government continued the Dutch so as to form new clans based on colonial interests. This research uses historical research methods with steps: heuristics, source criticism, interpretation, and historiography. The results showed that there was the formation of a new clan, namely the Kepungut Tiang clan, combining the Ark Pumpung clan with the Middle Kepungut Tribe. Then the clans in Musi Ulu were included in the  onder district  (Muara Beliti, Semangus and Terawas). Then the clans that are in  semangus district onder are replaced and put into the muara kelingi district onder.  Finally, the clan Sindang Kelingi Ilir was raised to the status of  onder Afdeeling  Musi Ulu.Marga ialah sistem pemerintahan tingkat terendah yang dipimpin seorang pesirah sebagai kepala marga yang telah ada sejak Kesultanan Palembang Darussalam yang mengacu pada Undang-Undang Simbur Cahaya dibuat oleh Ratu Sinuhun Sending tahun 1630. Setelah Kesultanan Palembang Darussalam jatuh ke tangan Belanda tahun 1821, kolonial Hindia Belanda mengganti dengan Karesidenan Palembang. Pemerintahan marga tetap diteruskan Belanda sehingga membentuk marga-marga baru berdasarkan kepentingan kolonial. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah dengan langkah-langkah: heuristik, kritik sumber, intepretasi, dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pembentukan marga baru yaitu marga Tiang Pumpung Kepungut, menggabungkan marga Tiang Pumpung dengan Suku Tengah Kepungut. Kemudian marga-marga di Musi Ulu dimasukan ke dalam wilayah onder district (Muara Beliti, Semangus dan Terawas). Lalu marga-marga yang berada di onder district Semangus diganti dan dimasukkan ke onder district Muara Kelingi. Terakhir, marga Sindang Kelingi Ilir dinaikkan statusnya menjadi ibukota Onder Afdeeling Musi Ulu.
ANJIR SERAPAT SEBAGAI JALUR EKONOMI MASYARAKAT KAWASAN ALIRAN SUNGAI SEJAK ERA KOLONIAL Susanto, Heri; Subiyakto, Bambang; Khairullah, Muhammad
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p321-330

Abstract

The Banjar people recognize various kinds of terms related to watershed management. One of them is an anjir. Anjir is a kind of primary channel that generally connects rivers with functions focused on transportation and agriculture. The existence of the Anjir had existed before the era of colonial rule. Still, during the colonial period, the government saw that the Anjir was a potential that could be developed for economic resources and the infrastructure for controlling territorial powers in the interior. This fact caused the colonial government to open anjir, including Anjir Serapat. This historical study describes how the development and function of anjir in encouraging economic development and the growth of new areas in the area currently known as Anjir Pasar District, Barito Kuala Regency. The results showed how the development of the waterway's function from time to time and its influence on the historical development of the watershed area in Anjir Pasar District. Masyarakat Banjar mengenal berbagai macam istilah yang berhubungan dengan pengelolaan wilayah aliran sungai. Satu diantaranya adalah anjir. Anjir yaitu semacam saluran primer yang pada umumnya menghubungkan antara sungai dengan fungsi dititik beratkan untuk urusan transportasi dan pertanian. Keberadaan anjir telah eksis sebelum era kekuasaan kolonial, akan tetapi pada masa kolonial, pemerintah melihat bahwa anjir adalah potensi yang dapat dikembangkan untuk sumber perekonomian dan prasarana pengawasan wilayah kekuasaan di daerah pedalaman. Fakta tersebut menyebabkan pemerintah kolonial melakukan pembukaan anjir, antara lain adalah Anjir Serapat. Kajian historis ini menguraikan bagaimana perkembangan dan fungsi anjir dalam mendorong perkembangan perekonomian dan pertumbuhan kawasan baru di wilayah yang saat ini dikenal sebagai Kecamatan Anjir Pasar Kabupaten Barito Kuala. Hasil penelitian menunjukkan bagaimana perkembangan fungsi anjir dari masa ke masa dan pengaruhnya dalam perkembangan sejarah kawasan aliran sungai di Kecamatan Anjir Pasar.
REFORMASI EKONOMI HABIBIE 1998-1999: SEBUAH KEBIJAKAN ATASI KRISIS EKONOMI ORDE BARU Afiyah, Mahilda Saidatul
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p249-262

Abstract

Indonesia's economy experienced a monetary crisis during the leadership of President Suharto where from 1997-1998 there were various economic problems that ended with the decline of President Suharto's power. Leadership turned to the hands of B.J Habibie who tried hard to restore the condition of the national economy through his economic policies. President B.J Habibie focused his economic policy on strengthening and recovering the economy after the monetary crisis. Ada improvement in terms of the economy that experienced inflansi and decreased exchange rate or rupiah exchange rate against the US dollar. On the other hand,  there is a decrease in people's purchasing power as well as a lack of public trust in the  president who is considered part of the New Order.Perekonomian Indonesia mengalami krisis moneter pada era kepemimpinan Presiden Soeharto dimana dari tahun 1997-1998 terjadi berbagai permasalahan ekonomi yang berakhir dengan penurunan kekuasaan Presiden Soeharto. Kepemimpinan beralih ke tangan B.J Habibie yang mana berusaha keras untuk mengembalikan kondisi perekonomian nasional lewat kebijakan ekonominya. Presiden B.J Habibie memfokuskan kebijakan ekonominya pada penguatan serta pemulihan ekonomi pasca krisis moneter yang terjadi. Ada perbaikan dari segi perekonomian yang mengalami inflansi serta penurunan nilai tukar atau kurs rupiah atas dollar AS. Di sisi lain, ada penurunan daya beli masyarakat serta kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap presiden yang dianggap sebagai bagian dari Orde Baru.
KAJIAN HISTORIS INTEGRASI POLRI KE DALAM STRUKTUR ABRI 1961-1999 Gemini, Galun Eka
Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 15, No 2 (2021): Sejarah dan Budaya: Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um020v15i22021p263-276

Abstract

TNI and Polri are state instruments in charge of maintaining the country's defenses. Both are the main pillars in maintaining state security and sovereignty, both for disturbances that come from within and outside. For this reason, both are required to be coordinative in each carrying out state duties. However, this does not mean that the positions of the TNI and Polri can be included in the same structure as the one that took place in 1961-1999. The research method used is the historical method. Consists of four stages: heuristics, criticism, interpretation, and historiography. The results showed that the integration of Polri into ABRI was based on historical reasons. Since the beginning of independence, physical revolution, until the threat of rebellions that threatened the disintegration of the nation at that time: DI / TII, PRRI / Permesta, and PKI, for example. Instead of strengthening the country's defense and security sector, the National Police was combined with ABRI to maintain militancy in maintaining the integrity of the country. TNI dan Polri merupakan alat negara yang bertugas menjaga pertahanan-kemanan negara. Keduanya menjadi pilar utama dalam memelihara keamanan dan kedaulatan negara, baik gangguan-gangguan yang datangnya dari dalam maupun luar. Untuk itu keduanya dituntut koordinatif dalam tiap-tiap menjalankan tugas negara. Walau demikian, tidak berarti bahwa kedudukan TNI dan Polri dapat dimasukkan ke dalam satu struktur yang sama sebagaimana yang pernah berlangsung antara 1961-1999. Bagaimana kedudukan Polri dalam struktur ABRI menjadi latar belakang kajian ini dilakukan. Pertanyaan itu kemudian dirumuskan ke dalam beberapa pertanyaan: apa latar belakang integrasi Polri dalam struktur ABRI?; bagaimana keberadaan Polri ketika di bawah ABRI?; apa dampak akibat pengintegrasian Polri dengan ABRI? Metode penelitian yang digurnakan adalah metode sejarah. Terdiri dari empat tahap: heuristik, kritik, interpretasi dan historiografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi Polri ke dalam ABRI dilatari oleh alasan historis. Sejak awal kemerdekan, revolusi fisik, hingga sering kali terjadinya ancaman pemberontakan-pemberontakan yang mengancam terjadinya disintegrasi bangsa kala itu: DI/TII, PRRI/Permesta dan PKI, misalnya. Alih-alih untuk memperkuat sektor pertahanan dan keamanan negara, kemudian Polri digabungkan dengan ABRI guna menyamakan semangat juang dalam memelihara keutuhan negara. Akan tetapi, integrasi Polri dalam struktur ABRI menjadikan tugas dan peran Polri menjadi tumpang tindih. Tidak jarang peran dan tugas yang seharusnya ditangani oleh Polri diselesaikan oleh TNI. Hal ini mengakibatkan menurunnya kepercayaan masyarakat terhadap Polri. Polri dipandangnya sebagai institusi yang tidak profesional dan mandiri. Di lain pihak karakter dan mental anggota Polri yang cenderung militeristik karena hasil pembinaan, doktrinasi yang diterima Polri disamakan dan disejajarkan dengan unsur ABRI lainnya seperti TNI AD, AL dan AU semakin memperburuk citra Polri di mata masyarakat.