cover
Contact Name
Tri Wahyono
Contact Email
wahyonotri25@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hsosiati@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur)
ISSN : 25803271     EISSN : 26565897     DOI : 10.18196/jmpm
Core Subject : Engineering,
Jurnal Material DAN Proses Manufaktur focuses on the research and research review in the field of engineering material and manufacturing processes. The journal covers various themes namely Design Engineering, Process Optimization, Process Problem Solving, Manufacturing Methods, Process Automation, Material research and investigation, Advanced Materials, Nanomaterials, Mechanical solid and fluid, Energy Harvesting and Renewable Energy.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
Unjuk Kerja Generator Listrik Berbahan Bakar Biogas Novi Caroko; Fredy Surahmanto; Rizki Sulistiyo
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3137

Abstract

AbstrakPengujian unjuk kerja generator berbahan bakar biogas belum banyak dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui unjuk kerja genset berbahan bakar biogas. Bahan baku biogas yang digunakan pada penelitian ini berasal dari kotoran sapi. Pengambilan biogas dilakukan di kelompok ternak sapi Pandan Mulyo, Bantul, Yogyakarta. Generator yang digunakan berkapasitas daya 2.200-Watt dan variasi pembebanan 660, 720, 780, 840, dan 900 Wat. Parameter yang diambil berupa tegangan, arus, putaran mesin, dan debit biogas. Hasil penelitian menunjukkan daya keluaran genset dari 5 variasi pembebanan yaitu 660, 720, 780, 840, dan 900 Watt berturut-turut adalah 599,4; 651; 681,6; 676,5; dan 668,5 Watt. Nilai konsumsi bahan bakar dari 5 variasi pembebanan yaitu 0,645; 0,652; 0,673; 0,680; dan 0,727 kg/jam. Dari 5 variasi pembebanan menunjukkan bahwa unjuk kerja paling optimal dari genset berbahan bakar biogas ini berada pada tingkat pembebanan 660 Watt dengan daya keluaran yang dihasilkan sebesar 599,4 Watt.AbstrakThe performance testing of biogas-fueled generators has not been carried out much. This study aims to determine the performance of biogas fueled generators. The biogas raw material used in this study was cow dung. Biogas extraction was carried out in the Pandan Mulyo cattle group, Bantul, Yogyakarta. The generator used is 2,200-Watt power capacity and variations in loading 660, 720, 780, 840, and 900 Watt. The parameters are taken in the form of voltage, current, engine rotation, and flow of biogas. The results showed the generator output power of 5 experiment variations, 660, 720, 780, 840, and 900 Watt, respectively, were 599.4; 651; 681.6; 676.5; and 668.5 Watt. The fuel consumption of 5 variations are 0.645; 0.652; 0.673; 0.680; and 0.727 kg / hour. From all variations, showed that the optimal performance of the biogas fueled generator is at 660 Watt with the output power of 599.4 Watt.
Analisis Desain Tie Rod Alat Penukar Kalor Shell dan Tube Berdasarkan TEMA Standard Krisdiyanto Krisdiyanto; Rahmad Kuncoro Adi
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 4, No 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v4i1.9348

Abstract

Heat exchanger adalah peralatan yang digunakan untuk memindahkan energi kalor tanpa disertai perpindahan massa. Perancangan heat exchanger harus memenuhi standar yang telah ditentukan. Salah satu standard yang digunakan yaitu dokumen yang dikeluarkan oleh TEMA. Standar tersebut masih belum optimal sehingga perlu dilakukan optimasi pada komponennya. Salah satu komponen heat exchanger yaitu tie rod. Komponen tersebut dianalisis menggunakan metode finite element. Simulasi pemberian tekanan pada geometri dapat dilakukan menggunakan platform SimScale. Tekanan yang dipakai sebagai beban dapat dipakai untuk menghitung von mises pada shell. Hasil penelitian ini menunjukkan nilai overdesign pada komponen tie rod yaitu 475,19%. Heat exchanger is an equipment that is used to transfer heat energy without mass transfer. The design of the heat exchanger must meet predetermined standards. One of the standards used is the document issued by TEMA. The standard is still not optimal so it needs to be optimized for its components. One component of the heat exchanger is tie rod. The components were analyzed using the finite element method. Simulations of applying stress to the geometry can be done using the SimScale platform. Pressure used as a load can be used to calculate von mises on the shell. The results of this study indicate the value of overdesign on the tie rod component is 475.19%.
Pengaruh Penambahan Serbuk Tongkol Jagung pada Pembuatan Biobriket dari Pelepah Pisang dengan Perekat Tetes Tebu Dini Kurniawati; Noor Diansyah Januardi; Nur Subekhi
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 2, No 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.2115

Abstract

Biomass can be used as an alternative fuel such as making biobriquettes. This study aimed to determine the effect of the comparison of mixtures of banana midrib and corn cobs, the effect of molasses used to obtain biobriquettes according to standards, and the results of chemical and physical analysis of its briquettes. The material used in this study were banana midrib and corn cobs which use molasses as an adhesive. The composition variations used were 100: 0 to 10:90. The material was dried to the appropriate moisture content then burned to become charcoal. Those charcoal mixed together according to the composition and were added by 50 grams of molasses. It were pressed and dried. Testing of biobriquette characteristics was carried out by testing moisture content, compressive strength, density, ash content, and calorific value. The result of it was the composition of the material 10:90 with a value of 11.18% moisture content, compressive strength 7,03 kg/cm2, density 0,70 g/cm3, ash content 9,18%, calorific value 4724 kal/g.
Sifat Tarik, Bending dan Impak Komposit Serat Sabut Kelapa-Polyester dengan Variasi Fraksi Volume Gugun Gundara; Muhammad Budi Nur Rahman
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3132

Abstract

AbstrakPotensi serat sabut kelapa perlu diteliti untuk dibuat komposit. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh fraksi volume serat sabut kelapa terhadap sifat tarik, sifat bending dan ketangguhan impak komposit dengan matrik polyester, katalis MEKPO, dan NaOH. Serat sabut kelapa yang digunakan ber diameter 0.2 mm. Komposit dibuat dengan metode cetak tekan pada fraksi volume 20-35%. Pengujian sesuai standar ASTM D638 (uji tarik), ASTM D790 (uji bending) dan ASTM D5941 (uji impak) dengan metode impak izot. Pengamatan foto makro untuk menganalisis kegagalan. Kekuatan tarik dan regangan tarik semakin meningkat dengan peningkatan fraksi volume. Modulus elastisitas tertinggi pada Vf 31,4% sebesar 0,206 GPa dan menjadi 0,11 GPa pada Vf 34,88% dengan kekuatan tarik 17,48 MPa, regangan 16.64%. Kekuatan bending meningkat dengan penambahan fraksi volume. Peningkatan kekuatan bending tertinggi (tanpa perlakuan alkali) pada fraksi volume 33,7% sebesar 34.17 MPa dan modulus bending sebesar 2.10 GPa. Peningkatan fraksi volume serat sabut kelapa dapat meningkatkan ketangguhan impak, dengan nilai tertinggi sebesar 26,42 kJ/m2 pada fraksi volume 35,84%. Penampang patah pada pengujian tarik didominasi patahan tunggal sedangkan pada pengujian bending dan impak terjadi patahan banyak serta terjadi fiber pull-out. AbstractThe potential of large coir fibers needs to be investigated to make composites. The purpose of this study was to determine the effect of the volume fraction of coconut coir fiber on tensile properties, bending properties and toughness of composite impacts with a polyester matrix, MEKPO catalyst, and NaOH. Coconut coir fiber used has diameter of 0.2 mm. Composites are made by compressive with fiber volume fraction 20-35%. Tests were according to ASTM D638 standard (tensile test), ASTM D790 (bending test) and ASTM D5941 (impact test) with the izot impact method. Observation macro photo is used to analyze failure. Tensile strength and tensile strain increase with increasing volume fraction. The highest modulus of elasticity at Vf 31.4% was 0.206 GPa and it became 0.11 GPa at Vf 34.88% with a tensile strength of 17.48 MPa, strain of 16.64%. Bending strength increases with the addition of a volume fraction. The highest increase in bending strength (without alkali treatment) at 33.7% volume fraction was 34.17 MPa and bending modulus was 2.10 GPa. Increasing the volume fraction of coconut coir fiber can increase impact toughness with the highest was 26.42 kJ / m2 in the volume fraction of 35.84%. The fracture crossing in tensile testing is dominated by a single fracture while in bending and impact testing there is a lot of fracture and fiber pull-out occurs.  
Optimasi Pembuatan Scaffold dengan Struktur Pori-Pori Beraturan Menggunakan Metode Response Surface Method Adhi Setya Hutama; Adi Nugroho
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 4, No 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v4i1.8819

Abstract

 Cedera yang diakibatkan kecelakaan lalu lintas dapat menyebabkan korban menderita patah tulang, cacat tubuh, hingga kematian. Korban yang mengalami kerusakan tulang dapat disembuhkan dengan restorasi tulang, yaitu dengan menanamkan tulang buatan pada jaringan tulang yang rusak. Salah satu contoh metode implan adalah dengan membuat scaffold yang terbuat dari biomaterial hidroksiapatit (HA). scaffold dirancang bersarkan pada ukuran kerusakan tulang, dan dicetak dengan mesin cetak 3D ABEF (Aqueous-based extraction fabrication). Penelitian terkait pengoptimalan pembuatan scaffold dilakukan menggunakan Response Surface Method, dengan menggunakan grafik kontur plot dan response optimizer. Parameter pembuatan scaffold yang dioptimasikan adalah kecepatan gerak sumbu, kecepatan ekstrusi, dan diameter nozzle. Analisis ini bertujuan untuk menemukan nilai kesalahan terkecil dari pembuatan scaffold, sehingga didapatkan bentuk scaffold yang optimal dari dimensi scaffold dan ukuran rongga. Berdasarkan hasil penelitian, optimasi pembuatan scaffold menggunakan Response Surface Method menghasilkan kombinasi parameter pembentuk scaffold, dengan kecepatan ekstrusi 30 mm / s, kecepatan sumbu 30 mm / s, dan diameter nozzle 0,8 mm. Injuries caused by traffic accidents can cause victims to suffer broken bones, disability, and even death. Victims who have bone damage can be cured by bone restoration, which is by implanting artificial bone in damaged bone tissue. One example of an implant method is to make a scaffold made from hydroxyapatite (HA) biomaterials. The scaffold is designed based on the size of the bone damage, and is printed with a 3D ABEF (Aqueous-based extraction fabrication) printing machine.Research related to optimizing scaffold making is done using the Response Surface Method, using plot contour graphs and response optimizers. Optimized scaffold manufacturing parameters are the axis of movement speed, extrusion speed, and nozzle diameter. This analysis aims to find the smallest error value from making scaffold, so we get the optimal form of scaffold from scaffold dimensions and cavity size. Based on the research results, optimization of scaffold making using the Response Surface Method produces a combination of scaffold forming parameters, with an extrusion speed of 30 mm / s, an axis speed of 30 mm / s, anda nozzle diameter of 0.8 mm
Kontribusi Lapisan Hidroksiapatit pada Purwarupa Implan Titanium terhadap Nilai Osseointegrasi Melalui Removal Torque Test Gunawarman, Gunawarman; Affi, Jon; Ilhamdi, Ilhamdi; Nuswantoro, Nuzul Ficky; Tjong, Djong Hon; Manjas, Menkher
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13904

Abstract

Biomaterial titanium mulai banyak digunakan sebagai bahan implan karena mempunyai kekuatan tinggi, lentur, tahan korosi dan biokompatibilitas yang baik. Namun demikian, titanium bersifat bioinert yang membuatnya tidak bisa berinteraksi dan menyatu dengan jaringan hidup. Untuk menutup kelemahan ini, titanium perlu dilapisi dengan bahan yang mempunyai bioaktivitas tinggi seperti biokeramik hidroksiapatit (HA). Pada studi ini, pelapisan HA telah dilakukan pada purwarupa implan berbentuk sekrup yang terbuat dari paduan titanium tipe β yang relatif baru dikembangkan, yakni Ti-29Nb-13Ta-4.6Zr (TNTZ). Proses pelapisan dilakukan dengan menggunakan metode Electrophoretic Deposition (EPD). Lapisan HA pada permukaan TNTZ meningkatkan bioaktivitas implan logam ini sehingga memicu proses penyatuan implan dengan jaringan hidup (osseointegration). Parameter yang digunakan untuk menentukan nilai osseointegrasi ini adalah besarnya gaya puntiran (torsi) yang dibutuhkan untuk melepaskan sekrup dari tulang dengan menggunakan alat removal torque tester (RTT). Untuk itu, sekrup TNTZ berukuran M3x0.5 yang tidak dilapisi HA (tanpa HA) dan yang sudah dilapisi HA (lapis HA) ditanamkan pada paha atas (tibia) hewan uji mencit Rattus norvegicus Wistar kemudian dipelihara selama 2 (dua) minggu. Setelah itu, hewan uji dimatikan, dan besaran torsi untuk melepaskan masing-masing sekrup dari tibia mencit diukur dengan alat RTT tersebut, dan dilanjutkan dengan analisis histopatologi pada jaringan bekas pemasangan implan. Hasil studi menunjukkan bahwa implan TNTZ dengan lapis HA memiliki nilai osseointegrasi yang jauh lebih tinggi (470%) dari implan tanpa HA. Analisis histopatologi menunjukkan bahwa proses pembentukan jaringan baru (osteogenesis) yang jauh lebih banyak pada jaringan tulang yang dipasangi implan TNTZ lapis HA dibandingkan dengan tanpa HA. Disamping itu, adanya lapisan  HA pada permukaan implan juga mampu mengurangi reaksi inflamasi yang berlebihan pada jaringan tulang hewan uji dalam waktu yang relatif singkat.Titanium biomaterials are starting to be widely used as implant materials because they have high strength, flexibility, corrosion resistance and good biocompatibility. However, titanium is bioinert which makes it unable to interact and blend with living tissue. To cover this weakness, titanium needs to be coated with a material that has high bioactivity such as hydroxyapatite (HA) bioceramic. In this study, HA coating was carried out on a screw-shaped implant prototype made of a relatively recently developed -type titanium alloy, namely Ti-29Nb-13Ta-4.6Zr (TNTZ). The coating process is carried out using the Electrophoretic Deposition (EPD) method. The HA layer on the TNTZ surface increases the bioactivity of these metallic implants thereby triggering the process of implant integration with living tissue (osseointegration). The parameter used to determine the osseointegration value is the amount of torsion required to remove the screw from the bone using a removal torque tester (RTT). For this reason, TNTZ screws measuring M3x0.5 which were not coated with HA (without HA) and which had been coated with HA (HA coated) were implanted in the upper thigh (tibia) of Rattus norvegicus Wistar mice and then reared for 2 (two) weeks. After that, the test animals were turned off, and the magnitude of the torque to remove each screw from the tibia of mice was measured with the RTT device, and continued with histopathological analysis of the implanted tissue. The results of the study showed that TNTZ implants with HA coating had a much higher osseointegration value (470%) than implants without HA. Histopathological analysis showed that the process of new tissue formation (osteogenesis) was much more abundant in bone tissue with HA-coated TNTZ implants compared to those without HA. In addition, the presence of an HA layer on the surface of the implant was also able to reduce the excessive inflammatory reaction in the bone tissue of the test animals in a relatively short time.
Studi Termodinamika Pembakaran Kombinasi Batu Bara dan Biomassa Limbah Riyanto, Hendi; Hardianto, Toto; Adriansyah, Willy; Jeffry, Gavriel Y
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13903

Abstract

Pembakaran bersama batubara dan biomassa di pembangkit listrik tenaga batubara yang ada sedang dipertimbangkan sebagai alternatif yang layak untuk transisi pemanfaatan energi yang tidak terbarukan ke terbarukan. Dalam hal ini, berbagai penelitian telah dilakukan dalam dua puluh tahun terakhir, yang sebagian besar kesimpulan umum adalah bahwa efisiensi boiler menurun sehubungan dengan peningkatan persentase biomassa dalam co-firing, namun studi tambahan dianggap diperlukan, terutama untuk limbah biomassa yang melimpah di Indonesia. Biomassa limbah yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tandan kosong kelapa sawit (TKKS), sekam padi, dan wood pellet yang dihasilkan dari serbuk gergaji. Karakteristik termodinamika pembakaran co-firing yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah air-to-fuel ratio (AFR), emisi CO2 pembakaran, dan temperatur nyala adiabatik. Sebuah open source Cool Prop formulasi sifat termodinamika diimplementasikan untuk mengevaluasi sifat termodinamika bahan yang sesuai yang terlibat dalam penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa AFR menurun dengan bertambahnya komposisi biomassa dalam bahan bakar, dimana laju perubahan masing-masing AFR per persen biomassa adalah -0,018, -0,0406, dan -0,026 untuk campuran batubara-TKKS, batubara-sekam padi, dan batubara-kayu. Adapun karakteristik AFR, emisi karbon dioksida menurun dengan meningkatnya persen massa biomassa dalam komposisi bahan bakar. Laju perubahan CO2 sehubungan dengan persen biomassa dalam komposisi bahan bakar adalah masing-masing -6.3x10-3, -1.12x10-2, dan -6.48x10-3 untuk campuran batubara-TKKS, batubara-sekam padi, dan batubara-kayu. Suhu nyala adiabatik juga menurun sehubungan dengan peningkatan persentase massa biomassa dalam komposisi bahan bakar. Laju perubahan suhu nyala adiabatik dalam K/%biomassa berturut-turut adalah -13,93, -10,70, dan -12,81 untuk campuran TKKS batubara, sekam padi, dan kayu batubara.Co-firing of coal and biomass in an existing coal fired power plant is being considered as a viable alternative to transition from non-renewable-to-renewable energy utilization. In this regard, various researches have been conducted in the last twenty years, in most of which the general conclusion is that the boiler efficiency decreases with respect to increasing biomass percentage in co-firing, nonetheless, additional study is deemed to be required, especially for waste biomass which are abundantly available in Indonesia. The waste biomass to be employed in this study are palm empty fruit bunch (EFB), rice husk, and wood pellet produced from sawdust. Co-firing combustion thermodynamic characteristics which are to be deployed in this study are air-to-fuel ratio (AFR), combustion CO2 emission, and adiabatic flame temperature. An open source CoolProp of thermodynamics properties formulations were implemented in order to evaluate thermodynamic properties of corresponding materials involved in this study. The results of the study show that AFR decreases with increasing biomass composition in the fuel, where the AFR rate of change per percent of biomassa are -0.018, -0.0406, and -0.026 for blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively. As to the AFR characteristic, the emission of carbon dioxide is decreasing with increasing percent mass of biomass in the fuel composition. The CO2 rate of change with respect to percent biomass in fuel composition are -6.3x10-3, -1.12x10-2, and -6.48x10-3 for the blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively. The adiabatic flame temperature is also decreasing with respect to increasing biomass mass percentage in fuel composition. The adiabatic flame temperature rate of change in K/%biomass are -13.93, -10.70, and -12.81 for the blend of coal-EFB, coal-rice husk, and coal-wood, respectively.
Perancangan dan Pembuatan Propeller Perahu Nelayan Dengan Metode Investment Casting Pola Lilin dan Cetakan Pasir Andhika Krismaintya Putera; Agus Suprihanto; Yusuf Umardani
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.11774

Abstract

Propeller atau baling-baling adalah salah satu bagian yang penting dalam perahu nelayan. Geometri propeller yang rumit membuat proses permesinan sulit untuk dilakukan dan memerlukan banyak biaya. Tujuan penelitian Tugas Akhir ini adalah membuat propeller perahu nelayan dengan metode investment casting untuk mengurangi proses permesinan dan mendapatkan geometri produk yang akurat. Selain itu menganalisa geometri, kerataan dan cacat yang mungkin terjadi pada produk akhir pengecoran. Pemodelan dilakukan pada jenis propeller perahu nelayan yang sudah ditentukan. Cetakan master die propeller dibuat menggunakan material silicone rubber RTV 497. Cetakan investment casting yang digunakan berbahan pasir silika mesh 10 -30 dan mesh 80-100, gypsum, serta alumina. Pola lilin yang digunakan berbahan lilin parafin. Cetakan investment casting dilakukan proses sintering pada suhu 250°C selama 30 menit. Material pengecoran yang digunakan adalah aluminium paduan Al-Si yang dileburkan pada suhu 770°C. Hasil penelitian menunjukkan pada produk pengecoran ditemukan penyusutan sebesar 2.95 – 8.08 % dengan menggunakan alat ukur vernier caliper dan 2.83 – 8.34 % dengan pengukuran 3D Scan. Pada pengukuran kerataan permukaan daun propeller ditemukan perbedaan tingkat kerataan permukaan daun propeller disebabkan karena propeller coran mengalami penyusutan dan cacat kekasaran erosi. Hasil identifikasi cacat pengecoran menunjukkan pada pemeriksaan visual ditemukan cacat ekor tikus, sirip, lubang jarum, membengkak, penetrasi logam, salah alir dan kekasaran erosi. Sedangkan pada pemeriksaan dengan cairan dye penetrant ditemukan cacat rongga penyusutan dan udara.
Analisis Karakteristik Aliran Fluida Melewati Model Sayap Pesawat Swayasa Nasaruddin Salam; Rustan Tarakka; Jalaluddin Jalaluddin; Sarwan Sarwan
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.13902

Abstract

Pesawat swayasa adalah pesawat eksperimental, di mana setidaknya 51% dari suku cadang pesawat dibuat oleh amatir dan tidak diproduksi di pabrik. Untuk itu tema penelitian ini adalah menentukan model sayap pesawat swayasa. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana karakteristik model sayap pesawat swayasa, berapakah koefisien lift (Cl) dan koefisien drag (Cd), dan bagaimana model sayap yang optimal dari pesawat swayasa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menjawab permasalahan yang disebutkan di atas. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD) dan program eksperimen. Pendekatan eksperimental dilakukan di terowongan angin di Laboratorium Mekanika Fluida, Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin, Gowa. Model sayap pesawat independen adalah model airfoil NACA 23012, dengan memodifikasi rasio ketebalan terhadap chord (t/c) pada t/c = 9%, t/c = 12%, dan t/c = 15%. Selanjutnya masing-masing model diberi perlakuan kecepatan aliran bebas (U) sebesar 40 m/s, dengan variasi angle of attack (α) -20˚, -15˚, -10˚, -5˚, 0˚, 5˚ , 10˚, 15 , dan 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan t/c ratio meningkatkan nilai Cl maksimum. Untuk nilai maksimum Cl diperoleh pada = 150 yaitu pada t/c = 9%, Cl = 1,4299, pada t/c = 12%, Cl = 1,4466, dan pada t/c = 15 %, Cl = 1,4979 . Cl/Cd maksimum sebesar 1,4999 diperoleh pada t/c = 15 % dan = 5˚, dengan demikian model sayap pesawat swayasa yang paling sesuai adalah model airfoil NACA 23012 dengan t/c = 15 %.Homebuilt aircraft are experimental aircraft, of which at least 51% of the aircraft parts are amateur-built and not manufactured in factory. For this reason, the theme of this research is to determine the wing model of a homebuilt aircraft. The formulation of the problem in this study is how the characteristics of wing model of  a homebuilt aircraft, how much is the lift coefficient (Cl) and drag coefficient (Cd), and what is the optimal model of the wing of a homebuilt aircraft. The purpose of this research is to answer the problems mentioned above. This research method uses Computational Fluid Dynamics (CFD) and experimental program approach. The experimental approach was carried out in a wind tunnel at the Fluid Mechanics Laboratory, Faculty of Engineering, Hasanuddin University, Gowa. The wing model of the independent aircraft is the NACA 23012 airfoil model, by modifying the thickness to chord ratio (t/c) at t/c = 9 %, t/c = 12 %, and t/c = 15 %. Furthermore, each model was treated with a freestream velocity (U) of 40 m/s, with variations in the angle of attack (α) -20˚, -15˚, -10˚, -5˚, 0˚, 5˚, 10˚, 15˚ , and 20˚. The results showed that the addition of the t/c ratio increased the maximum Cl value. For the maximum value of Cl obtained at = 150, namely at t/c = 9%, Cl = 1.4299, at t/c = 12 %, Cl = 1.4466, and at t/c = 15 %, Cl = 1 ,4979. The maximum Cl/Cd is of 1.4999 obtained at  t/c = 15 % and α = 5˚, thus the most suitable homebuilt aircraft wing model is the NACA 23012 airfoil model with t/c = 15 %.
Corrosion monitoring of friction welded joints results between low carbon steel-SS 202 Ahmad Kafrawi Nasution; M Arif Fadillah; Legisnal Hakim
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 5, No 2 (2021): December
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v5i2.14110

Abstract

Pada penelitian ini, pemantauan korosi dilakukan pada sambungan las gesekan baja karbon rendah dan baja tahan karat austenitik (SS 202) yang disimulasikan dalam larutan biologis. Penelitian ini bertujuan menghitung laju korosi sambungan las gesek baja karbon rendah dan SS 202 serta mengevaluasi kekasaran permukaan yang terjadi pada zona pengelasan. Dari hasil sambungan las, dibuat sampel uji korosi dengan mewakili zona pengelasan. Sebelum perendaman, permukaan sampel dibersihkan dan dipoles sebelum perendaman menggunakan larutan elektrolit NaCl 0,9wt.%. Percobaan dijalankan pada 2, 4, 6, dan 8 minggu masing-masing sampel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi sambungan las gesek baja karbon rendah dan SS 202 tertinggi sebesar 0,0167 mm/tahun, dan terendah 0,0127 mm/tahun. Pada saat yang sama, area sambungan las yang memiliki kekasaran permukaan tertinggi terjadi pada zona plastis. Disimpulkan bahwa seluruh zona pengelasan menunjukkan potensi korosi yang seragam kecuali zona plastis yang menunjukkan perilaku korosi galvanik.   ABSTRACT In this study, corrosion monitoring was carried out in the friction welded joint of low carbon steel and austenitic stainless steel (SS 202) simulated in a biological solution. This study aims to calculate the corrosion rate of friction welding joints of low carbon steel and SS 202 and evaluate the surface roughness that occurs in the welding zone. From the results of welded joints, corrosion test samples were made by representing the welding zone. Prior to immersion, the surface of the sample was cleaned and polished before immersion using a 0.9wt.% NaCl electrolyte solution. Experiments were run at 2, 4, 6, and 8 weeks of each sample. The results showed that the corrosion rate of friction welding joints for low carbon steel and SS 202, the highest was 0.0167 mm/year, and the lowest was 0.0127 mm/year. At the same time, the welded joint area that has the highest surface roughness occurs in the plasticized zone. It was concluded that the entire welding zone showed uniform corrosion potential except for the plasticized zone, which showed galvanic corrosion behavior.

Page 11 of 28 | Total Record : 275