cover
Contact Name
Tri Wahyono
Contact Email
wahyonotri25@gmail.com
Phone
-
Journal Mail Official
hsosiati@gmail.com
Editorial Address
-
Location
Kab. bantul,
Daerah istimewa yogyakarta
INDONESIA
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur)
ISSN : 25803271     EISSN : 26565897     DOI : 10.18196/jmpm
Core Subject : Engineering,
Jurnal Material DAN Proses Manufaktur focuses on the research and research review in the field of engineering material and manufacturing processes. The journal covers various themes namely Design Engineering, Process Optimization, Process Problem Solving, Manufacturing Methods, Process Automation, Material research and investigation, Advanced Materials, Nanomaterials, Mechanical solid and fluid, Energy Harvesting and Renewable Energy.
Arjuna Subject : -
Articles 275 Documents
Perancangan Ulang Tataletak Fasilitas Industri Sandal dengan Metode CORELAP Muhammad Faishal; Muhammad Khrisna Putra
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 2 (2019): DESEMBER 2019
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3245

Abstract

Tata letak pabrik yang baik dapat menempatkan berbagai fasilitas dan peralatan fisik secara teratur sehingga mendukung pekerjaan berjalan secara produktif. Penelitian kali ini dilakukan di perusahaan yang memproduksi sandal spon sebagai fasilitas di penginapan. Perusahaan ini memiliki masalah yaitu pemborosan pada aliran material di beberapa area yang seharusnya tidak diperlukan seperti dari gudang ke proses pengeleman berjarak ± 50 m. selain itu juga masih terdapat lintasan yang bersimpangan seperti pada penjahitan cup ke penjahitan sol. Penelitian ini bertujuan untuk membuat tata letak fasilitas baru yang tepat dan baik untuk mengurangi pemborosan jarak material handling yang terjadi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan Computerized Relationship Layout Planning (CORELAP). Dengan membuat  layout alternative sebanyak 5 dengan nilai score berbeda. Layout dengan score terkecil yang akan dipilih. Metode CORELAP merupakan metode construction yang mengubah data kualitatif menjadi data kuantitatif sehingga menentukan fasilitas pertama yang diletakkan didalam layout diperlukan data keterkaitan hubungan aktivitas. Hasil penelitian ini mendapatkan usulan tata letak fasilitas dengan CORELAP lternatif terpilih yang melakukan pengoptimalan dengan merubah 9 departemen sehingga mendapatkan pegurangan jarak total sebesar 46%, atau  menjadi 125.8 m. A good layout can assign various facilities and physical equipment on a systematically to support activities running productively. This research was conducted at a company that manufactures sponge slippers as a facility at the inn. This company has a problem that is waste in the flow of material in some areas that should not be needed such as from the warehouse to the gluing process within ± 50 m. besides that, there are still crossing trajectories such as the sewing of the cup to the sewing of the sol. This study aims to make the layout of new facilities appropriate and good to reduce the waste of material handling distance that occurs. The method used in this study uses Computerized Relationship Layout Planning (CORELAP). By making alternative layouts of 5 with different score values. The layout with the smallest score will be chosen. CORELAP method is a construction method that converts qualitative data into quantitative data so as to determine the first facility that is placed in the layout, it requires data related to the activity relationship. The results of this study get a proposed layout of facilities with selected alternative CORELAP who optimize by changing 9 departments to get a reduction in a total distance of 46% or reduce until 125.8 m.
Perancangan dan Simulasi Trainer Human Machine Interface (HMI) untuk media pembelajaran berbasis CX Designer PLC Fitroh Anugrah Kusuma Yudha; Bambang Riyanta
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v4i2.10607

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuat rancangan media pembelajaran pada mata kuliah Programmable Logic Controller (PLC) berupa trainer Human Machine Interface (HMI) berbasis CX Designer yang terintergrasi dengan CX-Programmer. Desain HMI yang tepat akan membuat pengujian program lebih mudah dan efisien. Sebagai media pembelajaran HMI memberikan efektifitas informasi yang dibutuhkan, sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan efisiensi yang maksimal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimental dan pembuatan rancangan produk berupa trainer untuk penguji program oleh mahasiswa atau operator. Dapat disimpulkan hasil dari penelitian ini bahwa penggunaan simulasi HMI berbasis CX Disigner dapat digunakan untuk memahami logika rangkaian suatu program dengan sangat mudah dan cepat untuk melatih ketrampilan pemograman PLC.
PERANCANGAN MESIN VACUUM FORMING UNTUK MATERIAL PLASTIK POLYSTYRENE (PS) DENGAN UKURAN MAKSIMAL CETAKAN 400x300x150 (mm3) Diki Irwansyah; Cahyo Budiyantoro; Sunardi Sunardi
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 1, No 2 (2017): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v1i2.3286

Abstract

Tujuan dari Perancangan ini adalah untuk menghasilkan desain mesin Vacuum Forming dengan ukuran maksimal cetakan (Mold) 400 x 300 x 150 (mm3), menggunakan 2 unit heater tipe strip dengan daya 250 watt/unit, dan menggunakan vacuum cleaner untuk proses vakum dengan vacuum (max) : 20 kPa (20.000 Pa) dan Airflow (max) : 26,6 l/s (0,0266 m3/dt) yang akan digunakan sebagai acuan dalam proses pembuatan mesin Vacuum Forming. Salah satu dari metode thermo forming yang sederhana adalah vacuum forming. Pada dasarnya metode ini dilakukan dengan memberikan perlakuan panas pada lembaran plastik hingga lembaran plastik menjadi lunak kemudian dibentuk pada cetakan dengan memberikan tekanan vakum. Ada beberapa parameter yang menentukan kualitas hasil cetakan plastik pada proses vacuum forming antara lain, jenis plastik, ketebalan plastik, temperatur pemanasan dan tekanan vakum yang digunakan. Pada perancanga mesin thermoforming vacuum ini sebagai bahan uji digunakan lembaran plastik polystyrene (PS) dengan panjang 420 (mm), lebar 320 (mm) dengan ketebalan 0,5 sampai 2 (mm). Hasil dari Perancangan ini selanjutnya digunakan sebagai acuan dalam proses pembuatan mesin Vacuum Forming.
Pengaruh Sudut Kemiringan Tool Friction Stir Welding terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro pada Sambungan Plat AA5083 Bayu Prabandono; Wisnu Wijayanto; Yohanes Nugroho
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 2, No 2 (2018): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.2225

Abstract

 AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh sudut kemiringan tool pada proses friction stir welding (FSW) terhadap sifat mekanik dan struktur mikro sambungan las pelat aluminium sheet 5083. Pengelasan menggunakan mesin milling dan material welding tool dari jenis Bohler K100 dengan kekerasan 59HRc. Proses pengelasan ini memiliki kecepatan putar spindle 1125 rpm, kecepatan pengelasan 30 mm/menit, dan kedalaman pembenaman tool 3,9 mm. Variasi sudut kemiringan tool terdiri dari 1°, 2°, 3° dan 4°.  Pengujian spesimen  dengan uji tarik, uji tekuk, uji kekerasan dan pengamatan secara makro dan mikro. Hasil penelitian menunjukan kekuatan tarik tertinggi (312,5MPa ) pada sudut kemiringan 3°. Kekuatan tekuk uji face bending tertinggi (655,1MPa ) dan root bending tertinggi (651,8MPa ) pada sudut kemiringan 2°. Daerah retreating side rata-rata mempunyai kekerasan yang lebih tinggi dibanding advancing side. Sudut kemiringan tool sampai 3° meningkatkan kekuatan tarik dan di atas sudut tersebut membuat kekuatan tarik menurun, sedangkan nilai  kekuatan tekuk optimal terjadi pada sudut 2°. Pada foto mikro, semakin besar sudut kemiringan tool membuat ukuran butir pada daerah HAZ semakin besar tetapi tidak terlalu berpengaruh terhadap nugget.AbstractThis research aims to study he effect of tool tilt angle of friction stir welding (FSW) process on the microstructure and mechanical properties of 5083 aluminum plate weld joints. The welding used a milling machine and welding tool material is from the Bohler K100 type possessing 59HRc hardness. This welding used spindle rotational speed of 1125 rpm, welding speed of 30 mm/minute, and tool immersion depth of 3.9 mm. The variations  of tool tilt angle are 1°, 2°, 3° and 4°. The specimens were tested tension, bending, hardness, as well as macron and microstructure observations. The results showed the highest tensile strength (312.5MPa) was obtained at a slope of 3°. The highest bending strength of the face bending test (655,1MPa) and the highest root bending (651,8MPa)are at a slope angle of 2°. The average retreating side area has higher hardness than the advancing side does. The increase of tilt angle up to 3° increases the tensile strength and futher increase makes tensile strength decrease, while the optimum buckling strength obtained at an angle of 2°. Photo micrograph shows that the larger the angle of the tool makes the grain size in the HAZ area coarser but not too influential on the nugget.
Disain dan Pembuatan Alat Preheat Induksi pada Pengelasan Gesek Logam Dissimilar Reza Taufikur Rahman; Aris Widyo Nugroho; Totok Suwanda
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 2 (2019): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3240

Abstract

Pengelasan gesek diketahui memiliki keunggulan mampu menyambung dua logam yang berbeda (dissimilar). Meskipun demikian, pengelasan ini masih mengalami kesulitan dalam proses penyambungan karena perbedaan titik lebur dari kedua logam yang disambung. Agar perbedaan suhu pada daerah yang bergesekan tidak terlalu besar, perlu dilakukan pemanasan awal /preheat pada logam dengan titik lebur yang lebih tinggi. Tulisan ini membahas disain dan pembuatan mesin preheat induksi pada las gesek logam dissimilar. Pemanas induksi yang digunakan adalah prinsip-prinsip arus eddy dengan frekuensi tinggi. Mesin preheat induksi ini terdiri atas komponen utama yaitu transformator, diode, transistor mosfet, kapasitor, kumparan kerja, induktor, dan resistor. Kumparan kerja terbuat dari pipa pejal tembaga berdiameter 5 mm, jumlah lilitan, n = 6 lilit dengan tinggi kumparan 35 mm dan diameter lilitan 40 mm. Setelah terangkai, dilakukan pengujian pada silinder pejal stainless steel berdiameter 14 mm dan panjang daerah pemanasan 30 mm. Pemanasan dilakukan sehingga silinder mencapai temperatur 600 °C. Termokopel tipe K digunakan untuk mengukur temperatur silinder. Hasil pengujian menunjukkan bahwa mesin memiliki spesifikasi berupa tegangan kerja rangkaian 20 Volt dan arus maksimal 44 ampere. Temperatur naik dengan cepat hingga 600 °C setelah 70 detik pertama kemudian naik sedikit dan stabil sampai dengan maksimum temperatur 683 °C dengan waktu pengujian sampai dengan 300 detik. Daya listrik berkisar antara 320-674 watt. Hasil ini menunjukkan bahwa mesin preheater telah berhasil dibuat dan berpotensi dapat digunakan sebagai preheater pada proses las gesek dissimilar. Friction welding is known to have the advantage of being able to connect two different metals (dissimilar). However, this welding is still experiencing difficulties in the joining process because of the different melting points of the two metals being joined. In order the temperatur difference in the rubbing area is not too large, it is necessary to do preheat the metal with a higher melting point. This paper discusses the design and manufacture of induction preheat machines in dissimilar metal friction welding. Induction heaters are applied using the principle of eddy current with high frequency. This induction preheat machine consists of main components namely transformer, diode, mosfet transistor, capacitor, working coil, inductor and resistor. The working coil was made of solid copper pipe with a diameter of 5 mm, number of turns, n = 6 turns with coil height of 35 mm and diameter of coil of 40 mm. After being assembled, testing was carried out on a solid stainless steel cylinder with a diameter of 14 mm and a length of 30 mm heating area. The heating process was conducted to achieve temperatur of the higher than 600 °C. A K type thermocouple was used to measure the temperatur. The test results showed that the machine had specifications as follows: a 20 Volt circuit working voltage, with a maximum current of 44 amperes. Temperatur rose rapidly up to 600 °C after the first 70 seconds then increased slightly and was stable up to a maximum temperatur of 683 °C during 300 seconds. Electrical power ranged from 320-674 watts. These results indicated that the preheater machine was successfully fabricated and was potentially be used as a preheater equipment in the dissimilar friction welding process.
Studi Simulasi Numerik dan Eksperimental Perpindahan Panas Konduksi 2 Dimensi di Permukaan Pahat Bubut Karbida Pada Proses Pembubutan Muka Perwita Kurniawan; Adhi Setya Hutama; Cahyo Budiantoro
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 4, No 2 (2020): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v4i2.10303

Abstract

Proses pembubutan menimbulkan sebaran panas pada permukaan alat potong atau pahat. Sebaran panas pada permukaan pahat dapat dianalisa dengan penentuan persamaan perpindahan panas di awal. Dalam penelitian ini, persamaan perpindahan panas 2 dimensi diselesaikan dengan metode beda hingga. Metode komputasi digunakan untuk menyelesaikan model perpindahan panas secara dua dimensi, sebab sangat sulit untuk diselesaikan dengan analisis secara matematis. Metode Alternating Direct Implicit digunakan untuk mendiskritisasi persamaan perpindahan panas 2 dimensi. Temperatur hasil komputasi dapat diilustrasikan dengan tampilan Matlab. Luaran penelitian ini adalah data sebaran temperatur hasil eksperimen dan komputasi. Temperatur maksimal hasil komputasi sebesar 309,99 Kelvin di titik 1, dan mulai stabil pada detik ke-110. Temperatur terendah hasil komputasi berada pada titik 3 dan 4 sebesar 309,60 Kelvin, dan mulai stabil pada detik ke-110. Temperatur maksimal hasil pengujian sebesar 388,00 Kelvin di titik 1 pada detik ke-120, saat akhir pengujian. Temperatur terendah hasil komputasi berada pada titik 3 sebesar 310,44 Kelvin pada detik ke-120, saat akhir pengujian. Berdasarkan hasil penelitian, rata-rata perbedaan temperatur antara kondisi nyata dengan hasil komputasi adalah sebesar 1,03 Kelvin.
KOMPARASI PARAMETER INJEKSI OPTIMUM PADA LDPE RECYCLED DAN VIRGIN MATERIAL Ghanim Raihan; Cahyo Budiyantoro; Harini Sosiati
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 1, No 1 (2017): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v1i1.2695

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan nilai cacat sink mark produk plastik low density polyethylene (LDPE) murni dengan LDPE daur ulang dengan meningkatkan mutu kualitas menggunakan proses injection molding. Metode design of experiment (DOE) Taguchi digunakan untuk mendapatkan variasi parameter proses paling optimal, parameter proses yang berpengaruh terhadap cacat sink mark adalah injection pressure, melting pressure, holding pressure, dan cooling time. Penelitian ini mendapatkan hasil nilai sink mark near dan far gate pada produk plastik LDPE murni sebesar 0,04 mm dan LDPE daur ulang 0,08 mm.
Pengembangan Metode Deteksi Cacat Bantalan Berbasis Analisis Envelope pada Prototipe Fan Industri Berli Paripurna Kamiel; Adib Muhammad Nuh; Sudarisman Sudarisman
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 2, No 1 (2018): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.2118

Abstract

 This paper examines the spectrum and envelope spectrum for detection of ball bearing fault using vibration signals taken from a prototype of industrial fan. It presents a procedure to detect fault on the outer and inner race of roller bearing. Three conditions of ball bearing i.e., normal, outer race fault and inner race fault is tested. The artificial fault on the bearing is 2 mm depth and 0,7 mm width. The vibration signals are taken by using an accelerometer mounted on the vertical-radial direction of bearing pillow block. The waveforms are then transformed into spectrum and envelope spectrum. The differences between spectrum and envelope spectrum for both types of faults are analyzed and discussed. The paper explains the effect of amplitude modulation (AM) on the inner race fault to the spectrum and envelope spectrum. The discussion about the ability of spectrum and envelope spectrum for bearing fault detection is presented and compared in detail. The results show that spectrum has good ability for fault detection since it gives clear and high amplitude of bearing fault frequencies. However the spectrum often fails when the size of fault is relatively small, in this case the envelope spectrum gives better results.
Perancangan Sistem Autonomous pada Pesawat Model UAV Jenis Glider Azhim Asyratul Azmi; Wahyudi Wahyudi
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 3, No 1 (2019): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.3134

Abstract

AbstrakPesawat model jenis glider merupakan pesawat yang mampu terbang dangan kecepatan rendah dan memiliki efisiensi tinggi dalam penggunaan sumber daya tenaga yang digunakan, sehingga banyak digunakan untuk misi pemantauan. Misi pemantauan menggunakan pesawat glider memiliki keterbatasan. Pilot sebagai ahli kemudi pesawat memiliki keterbatasan jarak pandang, sehingga misi pemantauan yang dilakukan hanya sebatas jarak pandang pilot itu sendiri. Untuk meningkatkan luas area pemantauan, pesawat harus dapat terbang secara mandiri atau biasa disebut dengan aotonomous. Pesawat model yang mampu terbang secara autonomous disebut dengan pesawat model Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Paenerapan sistem autonomous pada pesawat model UAV dilakukan dengan menggunakan perangkat autonomous berupa flight controller, GPS, software GCS dan telemetri. Pemilihan perangkat autonomous disesuaikan terhadap spesifikasi pesawat model Solfix yang meripan pesawat model jenis glider untuk pemantauan titik api kebakaran hutan. Pemberian parameter atur yang merupan kontrol PID dilakukan dengan metode eksperimen uji terbang secara langsung. Nilai parameter atur diperoleh dari observasi yang dilakukan terhadap pergerakan pesawat ketika auto mode. Waypoint uji terbang berbentuk persegi dengan jarak 500m untuk setiap sisi.Pesawat model Solfix dapat terbang secara autonomous dengan stabil melewati waypointyang ditentukan. AbstractGlider model airplane is an aircraft model with low speed cruising capability and high energy efficiency, widely used for observation missions. The main problem of using glider model plane to observation missions is the limitation of pilot visibility. Glider model airplane must be able to fly autonomously that also known as Unamanned Aerial Vehicle (UAV) to increase observation area futher. Implimitation of autonomous system on glider model airplane can be carried out by applying flight controller, GPS, GCS software and telemetry. Autonomous system was applied and adjusted to glider model airplane called Solfix. Arduflyer 1.5 Flight controller was used in this topic with flight test experimental approach to reach flight setup and tuning. Rectangle shape waypoint was set up with 90 m width and 100 m long. The flying set up and tuning was reached by observed airplane movement behavior on auto mode to follow the waypoint. Solfix model airplane was successfully flown on auto mode by following the waypoint with flight tuning: RLL2SRV_P=1,5;RLL2SRV_D=0,1;PTCH2SRV_P=1,5; PTCH2SRV_D =0,12; YAW2SRV_RLL=1,0; YAW2SEV_DAMP=0,3 and Rudder Mix=0,250.       
Pengukuran Laju Pelepasan Kalor pada Tangki SWH dengan Pipa Berisi Campuran Paraffin Wax dan Serbuk Tembaga 10% Berat Tito Hadji Agung Santosa; Sri Hannadhitya Farhan Yustianto
JMPM (Jurnal Material dan Proses Manufaktur) Vol 4, No 1 (2020): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jmpm.v4i1.9306

Abstract

Penggunaan air panas banyak digunakan pada hotel, homestay, dan lain-lain. Pemanas air masih banyak menggunakan bahan bakar gas LPG yang semakin berkurang sehingga diperlukan sumber energi alternatif. Solar Water Heater (SWH) adalah aplikasi pemanas air yang menggunakan energi panas matahari untuk memanaskan air. Pada SWH konvensional, air sebagai media penyimpan panas di tangki. Air memiliki densitas yang besar sehingga konstruksi akan berat dan memerlukan penguatan pada rangka atap untuk pemasangan SWH. Paraffin wax adalah jenis phase change material (PCM) yang memiliki densitas yang rendah sehingga ringan dan memiliki densitas energi yang besar sehingga dapat menampung energi yang besar untuk volume yang kecil. Namun, paraffin wax memiliki konduktivitas termal yang rendah sehingga perlu ditambahkan serbuk Cu untuk meningkatkan konduktivitas termalnya. Pada penelitian ini, digunakan campuran paraffin wax dengan serbuk Cu 10% berat. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui laju pelepasan kalor air dan laju pelepasan kalor campuran PCM. Penelitian ini menggunakan empat variasi debit air, yaitu 1; 1,5; 2; dan 2,5 LPM. Penelitian ini dilakukan dengan cara discharging bertahap pada setiap lima menit, air keran dibuka kemudian setelah lima menit ditutup. Pengambilan data dilakukan mulai pada suhu tangki 70 ̊C dan berakhir ketika suhu bak air penampung mencapai 35 ̊C. Data yang diambil saat proses discharging adalah suhu air pada tangki dan suhu PCM di dalam kapsul di tangki. Laju pelepasan kalor ditentukan dengan perhitungan kalor kumulatif yang dilepaskan oleh air dan campuran PCM serta waktunya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar debit air, semakin besar pula laju pelepasan kalornya. Laju pelepasan kalor air terbesar sebesar 790 J/s, sedangkan laju pelepasan kalor oleh campuran PCM dan serbuk Cu sebesar 101,44 J/s. Dari hasil ini, masih diperlukan penelitian lanjutan dengan persentase serbuk Cu yang lebih besar sehingga laju pelepasan kalor campuran PCM dapat mendekati laju pelepasan kalor air. Hot water is widely used in hotels, homestays, and others. Water heaters still use a lot of LPG gas fuel, decreasing so that alternative energy sources are needed. Solar Water Heater (SWH) is a water heater application that uses solar thermal energy to heat water. In conventional SWH, water is used as a heat storage medium in the tank. Water has a large density, so the construction will be heavy and requires reinforcement on the roof frame for SWH installation. Paraffin wax is a type of phase change material (PCM) with a low density so that it is light and has a large energy density to accommodate large amounts of energy for a small volume. However, paraffin wax has low thermal conductivity, so it is necessary to add Cu powder to increase its thermal conductivity. In this study, a mixture of paraffin wax and 10% Cu powder was used. This study aimed to determine the rate of heat release of water and the rate of heat release of the PCM mixture.This study uses four water discharge variations, namely 1; 1.5; 2; and 2.5 LPM. This research was conducted through gradual discharging where tap water was opened every five minutes and then closed for five minutes. Data collection was carried out starting at a tank temperature of 70 ̊C and ending when the reservoir water temperature reached 35 ̊C. During the discharging process, the data taken are the water temperature in the tank and the PCM temperature in the capsule in the tank. Rate of heat released is determined by calculating cumulative heat released by the water dan the mixture of PCM and the total time. The results showed that the greater the water discharge, the greater the rate of heat release. The largest water heat release rate was 790 J / s, while the heat release rate by a mixture of PCM and Cu powder was 101.44 J / s. From these results, further research is needed with a larger percentage of Cu powder so that the rate of heat release of the PCM mixture can approach the rate of water heat release 

Page 8 of 28 | Total Record : 275