cover
Contact Name
-
Contact Email
-
Phone
-
Journal Mail Official
madesrisatyawati@yahoo.co.id
Editorial Address
-
Location
Kota denpasar,
Bali
INDONESIA
Linguistika
Published by Universitas Udayana
ISSN : 08549613     EISSN : 26566419     DOI : -
Core Subject : Education,
The linguistic journal as a vehicle for the development of the linguistic horizon is published by the Linguistics Master Program (S2) Linguistics and Doctoral Program of Udayana University Graduate Program. The publication of this journal in 1994, led by the Chairman and Secretary of Master Program (S2) and S3 Postgraduate Program of Udayana University, Prof. Dr. I Wayan Bawa and Prof. Dr. Aron Meko Mbete. In its development, there are various changes in linguistic journals, such as cover colors, style selingkung, and the number of articles published.
Arjuna Subject : -
Articles 344 Documents
KOSAKATA MARSITOGOL: SEBAGAI PERSPEKTIF PEMBANGUNAN MANUSIA: BAHASA BATAK ANGKOLA Marida G. G. Siregar, M.Hum.
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 15 (2008): March 2008
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.418 KB)

Abstract

Abstrak Bahasa Batak Angkola (selanjutnya disingkat dengan BBA) adalah salah satu (ragam) bahasa yang ada di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Bahasa ini dipakai sebagai pengantar dalam pergaulan sehari-hari dan upacara adat. Bahasa Batak Angkola mempunyai beberapa ragam dan salah satu dari ragam itu disebut Marsitogol. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan kosakata bahasa BBA, terutama semantic Marsitogol. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi muatan local yang memperkaya jumlah bahasa daerah dan pembinaan atau pengembangan bahasa Indonesia. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskripsi analitis (melalui empat tahap, pengumpulan data, pengklasifikasian data, pengnalissan data dan penyimpulan).Teori yang digunakan adalah teori semantic.Hasil penelitian ini, menyimpulkan, dilihat dari makna semantik yang digunakan dapat menjadi perspektif. pembangunan manusia, khususnya di masyarakat BA. Abstract Bahasa Batak Angola (BBA) is one of language varieties in South Tapanuli, North Sumatera. This language is used in daily communication and Bataknese ceremonies. BBA has some varieties and one of those varieties is Marsitogol. The aim of this research is to describe the vocabulary of BBA, especially semantics of Marsitogol. Besides, this research can be used to enrich local languages quantity as well as to develop Indonesia language. Method which is used in this research is descriptive-analytic method (there are four steps, collecting data, classifying data, analyzing data, & summarizing). Theory which is used is semantic theory. The summary of this research is that semantic meaning can be used as a perspective of human development especially in BA society.
Proses dan Kaidah Fonologis Posleksikal Bahasa Helong Kajian Generatif Dominikus Dominikus; I Wayan Pastika; A.A. Pt Putra
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 23 (2016): September 2016
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (691.491 KB)

Abstract

The study aims to know sound changing process or phoneme changing process as the result of phonology post lexical process. Data is taken from list of phrases and simple sentence of Helong language. Theory applied in this study is generative phonology. This study found five processes there are (1) vowel deletion (2) konsonants deletion (3) metathesis (4) dissimilation (5) gemination.
KETIDAKSETARAAN DAN SISTEM KESANTUNAN MASYARAKAT TUTUR JAWA Majid Wajid
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 19 (2012): March 2012
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (265.55 KB)

Abstract

Bahasa Jawa (BJ) dikenal dengan tingkat tutur ngoko ‘tingkat tutur rendah’ dan basa ‘tingkat tutur tinggi’ dalam istilah lokal. Karena adanya tingkat tutur ngoko dan basa, BJ diidentifikasi dan diklasifikasikan sebagai bahasa yang hidup dalam situasi diglosia dan memungkinkan para penuturnya memperlihatkan keakraban, penghormatan, dan jenjang (hierarki) dengan sesama anggota masyarakat. Penelitian ini menerapkan dengan kritis teori sapaan (Brown & Gilman 1960) untuk menganalisis pola ketidak-setaraan, faktor yang mempengaruhi, dan kesantunan penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa BJ.                                                                                                                      Temuan penelitian menunjukkan bahwa dalam komunikasi diadik tak-setara, yakni penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa memperlihatkan fenomena alih kode, campur kode, dan fenomena yang mendasar, temuan penelitian ini, adalah fenomena “silang kode”. Ketika dua partisipan tak setara berkomunikasi, yakni partisipan atasan (superior) menggunakan tingkat tutur ngoko dan partisipan bawahan (inferior) menggunakan tingkat tutur basa, fenomena komunikasi tak-setara ini diinterpretasi sebagai komunikasi “silang kode”.       Penggunaan tingkat tutur ngoko dan basa BJ secara asimetris yang melahirkan komunikasi silang kode, dapat disimpulkan diglosia BJ adalah “diglossia par excellence”. Dalam sebuah penelitian penting untuk mengadopsi, mengadaptasi, dan mereinterpretasi teori yang diaplikasikan.
RESUMPTIVE REPETITION?INTRODUCTION TO A UNIVERSAL DISCOURSE FEATURE Phil Quik Sil
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 14 (2007): March 2007
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.131 KB)

Abstract

Abstract When repetition is used to resume a previous topic after a digression, interruption or some other interlude, then we can call this ?resumptive repetition?. The focus of this paper introduces resumptive repetition as a leading cognitive device used for topic continuity in the environment of digressions. Resumptive repetition is an important universal discourse feature because it is a cognitive part of human language that ?wraps around? or ?encapsulates? the syntax of any language. It is one of the few features of language that transparently shows the human mind working the same way cross-linguistically in the area of topic continuity. Abstrak Bila pengulangan dipakai untuk melanjutkan topik sebelumnya setelah terjadi digresi, interupsi atau selingan maka pengulangan tersebut distilahkan sebagai ?pengulangan resumptif?. Permasalahan utama yang dibahas dalam makalah ini adalah pengulangan resumptif sebagai satu piranti kognitif terutama yang dipakai untuk mempertahankan kontinuitas topik dalam konteks digresi. Pengulangan resumptif adalah ciri universal wacana yang sangat penting karena sebagai bagian kognitif bahasa manusia yang ?membungkus? atau ?mengenkapsulasi? sintaks bahasa-bahasa. Ciri ini merupakan salah satu dari beberapa ciri bahasa yang memperlihatkan dengan transparan bahwa otak manusia bekerja dengan cara yang sama secara lintas bahasa di dalam bidang kontinuitas topik. Kata Kunci: pengulangan, pengulangan resumptif, penyimpangan, kontinuitas topik, wacana
Componential Analysis of Indonesian Immigration Terms And Their Translations In English Ni Komang Yohana Wandira
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 22 (2015): September 2015
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nowadays, translation becomes more essential in people’s everyday communication. This is due to people’s mobility in and out from one country into another. This also happens in Indonesia where people from all over the world come to Indonesia not only for travelling but also for other purposes such as investing, working, studying as well as retiring. Thus, the translations of Law in Indonesian Immigration should be taken into account so that the regulation is easily understood and read by those people. The selected data taken from two translation versions of Undang-UndangNomor 6 Tahun 2011 tentangKeimigrasianwere analyzed based on the theory of textual equivalence proposed by Allan (1986), supported by Newmark’s Componential Analysis Theory (1988). The result showed that some translations of the Indonesian Immigration Terms into English in both versions are commonly used in the Immigration section such as sponsor, permanent resident permit, Immigration Clearance etc. Some are not common in daily use such as guarantor, temporary resident permit, etc. The translation equivalents were found using componential analysis. However, in some cases,componential analysis theory is insufficient to describe the words in both versions. Therefore, meaning postulate is also applied
SISTEM MOOD BAHASA BALI Putu Sutama
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 18 (2011): September 2011
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.386 KB)

Abstract

Terminologi mood sangat populer dikenal dalam aliran Linguistik Sistemik Fungsional (LSF). Kata mood berarti pandangan, pertimbangan, atau pendapat pribadi pemakai bahasa terhadap makna paparan pengalaman dalam bentuk klausa yang disampaikan dalam interaksi (Saragih, 2002 : 97). Dalam bahasa Bali (BB) system mood berada dalam kerangka metafungsi bahasa, yaitu fungsi mempertukarkan pengalaman. Jadi fungsi mempertukarkan tersebut merupakan fungsi interpersonal dengan menghasilkan makna pertukaran yang direalisasikan oleh gramatika sistem mood, khususnya struktur mood. Dengan demikian, realisasi sistem mood dalam BB berada pada fungsi berbicara (speech function) yaitu fungsi menyampaikan pernyataan (statement), mengajukan pertanyaan (question), memberikan perintah (command ) serta menyampaikan penawaran (offer). Fungsi-fungsi inilah yang direalisasikan oleh modus tertentu termasuk modalitas (Eggins, 2004 : 148).
TRANSITIVITAS PANGIWA TEKS AJI BLEGODAWA I WAYAN RASNA
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 17 (2010): September 2010
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.811 KB)

Abstract

This article investigates the transitivity of Pangiwa (black magic) of Aji Bl?godawa text. The study was conducted by using Functional Systemic Linguistics. The data were analyzed by document recording method following the procedures : (1) classification of Aji Bl?godawa text based on similarity of content, (2) modification of the text, (3) analysis by using the functional systemic linguistics model (Halliday, 1985, 2004, 2005 ; Halliday and Matthiessen, 2004). The results showed that material process totaled 553 (48.47%) or ranked first. The second ranking went to relational process, with the total of 175 (20.42%). The third ranking was occupied by mental process with the total of 147 (15.70%). In the light the findings, as a procedural text, Aji Bl?godawa text necessitates the presence of action as the procedure in realizing the transitivity of procedural text.
PERAN TU’A GOLO SEBAGAI PEMIMPIN TERTINGGI DALAM STRUKTUR SOSIAL KELOMPOK ETNIK MANGGARAI DITINJAU DARI PERSPEKTIF LINGUISTIK KEBUDAYAAN Fransikus Bustan
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 16 (2009): March 2009
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (67.836 KB)

Abstract

Abstract This study examines roles of tu’a golo as top leader in social structure Manggarai ethnic group in terms of cultural linguistics, with reference to characteristics of forms and meanings of verbal expressions used as attribute-adjectives for tu’a golo. This study is descriptive based on phenomenology. Methods and techniques of data collection are observation, interview, focus group discussion, recording, note-taking, and documentation study. Data sources are Manggarai ethnic group representing by four key informants. Data is analyzed qualitatively by using inductive method and encoding technique. Result of study shows, requirement for tu’a golo is primogenitor having spiritual authority. As top leader in social structure of wa’u as patrilineal-genealogic clan, tu’a golo shares executive and judicative role, acting as traditional house manager, clan leader, and village chief. It suggested revitalizing roles of tu’a golo to be partner of Manggarai government in succeeding community development programs.
Faktor-Faktor Yang Memengaruhi Pemilihan Ungkapan Perintah Bahasa Jepang dalam Teks Percakapan : Kajian Kesantunan Berbahasa Wahyuning Diah
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 25 No 1 (2018): Maret
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.996 KB) | DOI: 10.24843/ling.2018.v25.i01.p05

Abstract

Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan ungkapan perintah bahasa Jepang dalam teks percakapan Yan-san to Nihon no Hitobito (1994), Minna no Nihon-go (1999), dan Erin (2009). Penelitian ini menerapkan teori tindak tutur tentang tindak tutur dalam praktik penggunaan bahasa dan teori kesantunan berbahasa. Sementara itu, analisis penelitian ini menggunakan analisis data kualitatif. Data yang diperoleh disajikan dalam bentuk deskriptif. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa ada beberapa faktor yang memengaruhi penutur dalam pemakaian ungkapan perintah bahasa Jepang (UPBJ). Pengkajian faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan UPBJ mengacu pada apa yang dikemukakan Mizutani dan Nobuko (1987), Hirabayashi dan Hama (1988:15-25), dan Makino dan Tsutsui (1986). Faktor-faktor yang memengaruhi pemilihan UPBJ, yaitu: (1) hubungan keakraban dengan mitra tutur, (2) usia, (3) hubungan sosial, (4) status sosial, (5) gender, (6) keanggotaan dalam grup, dan (6) situasi tutur. Pada faktor keanggotaan dalam grup, hanya ada satu data yang menunjukkan bahwa penutur menggunakan UPBJ berdasarkan faktor tersebut. Keanggotaan dalam grup tersebut bukan menunjuk antar perusahaan, tetapi antarkeluarga.
TUTURAN MAJEJIWAN DALAM RITUAL MAPASELANG DI BALI: KAJIAN LINGUISTIK KEBUDAYAAN Made Reland Udayana Tangkas
Linguistika: Buletin Ilmiah Program Magister Linguistik Universitas Udayana Vol 22 (2015): March 2015
Publisher : Program Magister Linguistik Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (363.093 KB)

Abstract

Majejiwan merupakan tuturan ritual yang memiliki bentuk berbeda dari kebanyakan tuturan ritual di Bali. Tuturan ini selalu dilakukan pada saat ritual mapaselang. Ritual mapaselang termasuk ritual inti yang memiliki fungsi yang sangat penting. Di samping itu, tuturan majejiwan pun memiliki peranan yang sangat penting dalam kesuksesan upacara. Permasalahan yang dikaji meliputi (1) bentuk-bentuk lingual yang digunakan dalam tuturan majejiwan, dan (2) fungsi dan makna budaya tuturan majejiwan. Landasan teori yang digunakan adalah teori Linguistik Kebudayaan. Penelitian ini menggunakan pendekatan etik, emik, dan deskriptif-kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa majejiwan disusun oleh bentuk lingual seperti leksikon (nomina dan verba) dan kalimat (interogatif, deklaratif, dan negatif). Secara kontekstual, fungsi dan makna majejiwan meliputi (1) fungsi dan makna teologis, (2) fungsi dan makna kosmologis, (3) fungsi dan makna sosiologis, (4) fungsi dan makna magis, dan (5) fungsi dan makna religius.