cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Protesa obturator definitif resin akrilik pada pasien systemic lupus erythematosus (SLE) pasca maksilektomiAcrylic resin definitive obturator prosthesis in systemic lupus erythematosus (SLE) patients post-maxillectomy Pramudya Aditama; Erwan Sugiatno; Murti Indrastuti; Endang Wahyuningtyas
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 2 (2020): November 2020 (Suplemen 1)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i2.28175

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Systemic lupus erythematosus (SLE) merupakan inflamasi kronis yang dapat melibatkan sistem saraf, membran mukosa, dan organ lain dalam tubuh. Avascular bone necrosis (AVN) merupakan gejala yang muncul pada penderita SLE. Maksilektomi dilakukan pada tulang maksila yang mengalami AVN. Penutupan celah pasca maksilektomi tersebut dilakukan dengan cara  menggunakan protesa maksilofasial intraoral yaitu obturator. Tujuan laporan kasus ini mengkaji rehabilitasi prostetik menggunakan protesa obturator definitif resin akrilik pada penderita SLE pasca maksilektomi. Laporan kasus: Seorang wanita berusia 21 tahun datang ke Poli Gigi dan Mulut RSUP Dr. Sardjito dengan keluhan bau mulut, hilangnya gusi pada langit-langit, dan kegoyahan gigi rahang atas. Pasien didiagnosis SLE sejak lebih dari 1 tahun yang lalu. Pada pemeriksaan intraoral, selain lesi pada mukosa palatum, ditemukan juga nekrosis pada tulang palatum, kehilangan gigi 14, 15, 16, dan 25, serta kegoyahan derajat 3 pada seluruh gigi rahang atas yang tersisa. Pasien dirawat dengan obat Myfortic (2 x 180 mg/hari) dan Fluconazole (1x150 mg/hari) kemudian dirujuk ke Poli Bedah Mulut untuk dilakukan maksilektomi, dilanjutkan dengan pembuatan protesa obturator oleh tim prostodonti. Pasien dibuatkan obturator pasca bedah untuk menutup celah palatum pasca maksilektomi. Pencetakan menggunakan bahan hydrocolloid irreversible sebelum operasi untuk pembuatan obturator pasca bedah. Insersi obturator menunjukkan celah palatum tertutup rapat oleh plat akrilik. Retensi didapatkan menggunakan kawat stainless pada titanium wire mesh pengganti tulang maksila. Tidak ada keluhan saat kontrol, penelanan baik. Tiga bulan pasca pemakaian obturator pasca bedah dilakukan pemasangan obturator definitif resin akrilik rahang atas. Pemeriksaan klinis menunjukkan suara sengau berkurang, estetis, dan pengunyahan baik. Simpulan: Protesa obturator definitif resin akrilik pada pasien SLE pasca maksilektomi dapat mengembalikan fungsi estetik, mengurangi suara sengau (mengembalikan fungsi bicara), mengembalikan fungsi penelanan, dan pengunyahan.Kata kunci: Maksilektomi, obturator definitif resin akrilik, systemic lupus erythematosus. ABSTRACTIntroduction: Systemic lupus erythematosus (SLE) is a chronic inflammation that involves the nervous system, mucous membranes, and other organs. Avascular bone necrosis (AVN) is a symptom that appears in people with SLE. Maxillectomy is performed on the maxillary bone affected with AVN. The post-maxillectomy gap closure was performed using an intraoral maxillofacial prosthesis, namely an obturator. This case report was aimed to examine the prosthetic rehabilitation using Acrylic resin definitive obturator prosthesis in SLE patients post-maxillectomy. Case report: A 21-years-old woman came to Dr Sardjito Oral Clinic with complaints of bad breath, palatogingival loss, and loose maxillary teeth. The patients was diagnosed with SLE for more than one year prior. The intraoral examination result showed that apart from the palatal mucosa lesions, there was also found necrosis of the palate bone, loss of teeth 14, 15, 16, and 25, and grade 3 loose of all of the remaining maxillary teeth. The patient was treated with Myfortic® (2 x 180 mg/day) and Fluconazole® (1 x 150 mg/day), then referred to the Oral Surgery Clinic for maxillectomy, followed the fabrication of obturator prostheses by the prosthodontist team. The patient was assigned a postoperative obturator to close the palate gap after maxillectomy. An imprint was carried out using an irreversible hydrocolloid material before surgery for the manufacture of a post-surgical obturator. The obturator insertion shows that the palate gap was tightly closed by an acrylic plate. Retention was obtained using the stainless wire on titanium wire mesh instead of the maxillary bone—the patients presented no complaints during control and had adequate ingestion. Three months after wearing a postoperative obturator, the acrylic resin definitive obturator prosthesis was then installed. Clinical examination showed reduced nasal sound, and better aesthetical and mastication aspect. Conclusion: Acrylic resin definitive obturator prosthesis in post-maxillectomy SLE patients can restore aesthetic function, reduce nasal sound (restore speech function), restore swallowing and mastication function.Keywords: Maxillectomy, acrylic resin definitive obturator prosthesis, systemic lupus erythematosus.
Korelasi antara gangguan sendi temporomandibular dengan tingkat stres pada personel korps Pasukan Khas Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara di JakartaCorrelation between temporomandibular joint disorders and stress levels in corps personnel typical of Indonesian Air Force Special Forces Corps in Jakarta Irna Nadhira Aulia; Endang Syamsudin; Kismanto Kismanto; Thomas Budi Satria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i1.28896

Abstract

Pendahuluan: Tugas yang dihadapi oleh personel TNI AU mengandung tantangan baik secara mental maupun fisik terhadap tubuh sehingga dapat menimbulkan stres dan berpotensi mempengaruhi fungsi sendi temporomandibular. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis korelasi gangguan sendi temporomandibular dengan tingkat stres pada personel Korps Paskhas TNI AU yang bertugas di Jakarta. Metode: Jenis penelitian survei dengan pendekatan analisis korelasional. Teknik yang digunakan menggunakan purposive sampling sesuai kriteria inklusi yang ditetapkan. Pengukuran menggunakan masing-masing 10 pertanyaan menggunakan kuesioner Fonseca dan Perceived Stress Scale. Jumlah responden yang terlibat sebanyak 95 orang yang ditentukan dengan menggunakan metode Slovin. Hasil: Penilaian gangguan sendi temporomandibular berdasarkan skor kuesioner Fonseca didapatkan kategori ringan 33,7% dan sedang 6,3%. Penilaian tingkat stress berdasarkan skor Perceived Stress Scale, ringan 65,2%, sedang 32,7%, dan berat 2,1%. Hasil analisis korelasi Spearman memperlihatkan terdapat korelasi yang signifikan antara gangguan sendi temporomandibular dengan tingkat stres sebesar 17,97% (p-value<0,05). Simpulan: Terdapat korelasi antara gangguan sendi temporomandibular dengan tingkat stres pada personel Korps Paskhas TNI AU di Jakarta.Kata kunci: Gangguan sendi temporomandibular, stres, Korps Paskhas TNI AU. ABSTRACT Introduction: Duties carried out by Indonesian Air Force personnel challenges both mentally and physically, leading to stress and the potential to affect the temporomandibular joint function. The purpose of this study was to analyse the correlation of temporomandibular joint disorders with the stress level of the Indonesian Air Force Special Forces Corps personnel on duty placement in Jakarta. Methods: This research was survey research with a correlational analysis approach. The technique used was purposive sampling according to established inclusion criteria. The measurement used ten questions, each using the Fonseca questionnaire and the Perceived Stress Scale. The number of respondents involved was 95 people who were determined using the Slovin method. Results: Assessment of temporomandibular joint disorders based on the Fonseca questionnaire score resulted in 33.7% of respondents found in the mild category while 6.3% were in the moderate category. Assessment of stress levels based on the Perceived Stress Scale score resulted as follows: light 65.2%, moderate 32.7%, and heavy 2.1%. The Spearman correlation analysis results showed a significant correlation between temporomandibular joint disorders and a stress level, in the value of 17.97% (p-value<0.05). Conclusion: There is a correlation between temporomandibular joint disorders with the level of stress on the Indonesian Air Force Special Forces Corps personnel on duty placement in Jakarta.Keywords: Temporomandibular disorder, stress, the Indonesian Air Force Special Forces Corps.
Etiopatogenesis dan terapi kasus multipel sialolithiasis kelenjar submandibulaEtiopathogenesis and treatment of multiple cases of submandibular gland sialolithiasis Nyoman Ayu Anggayanti; Endang Sjamsudin; Melita Sylvyana
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 3 (2021): Februari 2021 (Suplemen 2)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i3.23759

Abstract

Pendahuluan: Sialolithiasis adalah penyakit umum kelenjar saliva. Gejalanya termasuk pembengkakan kelenjar yang terlibat, terutama selama makan, dan nyeri tekan, yang mungkin mereda tetapi dapat kambuh kembali. Sialolith terjadi terutama di kelenjar submandibula (80-90%) dan pada tingkat yang lebih rendah di kelenjar parotid (5-20%). Sialolith bisa tunggal atau jamak. Multipel sialolith di kelenjar submandibula jarang terjadi. Tujuh puluh dari delapan puluh persen kasus memiliki sialolith tunggal, hanya sekitar 5% pasien yang memiliki tiga atau lebih sialolith. Faktor etiopatogenesis terkait dengan pembentukan sialolith adalah obstruksi, penurunan laju aliran saliva, dehidrasi, infeksi kelenjar saliva, dan terganggunya kelarutan kristaloid. Tujuan penulisan laporan kasus ini untuk menjelaskan etiopatogenesis dan terapi kasus multipel sialolithiasis kelenjar submandibula. Laporan kasus: Seorang wanita 24 tahun datang dengan pembengkakkan dan nyeri pada submandibula kanan. Radiografi panoramik menunjukkan massa radiopak terdefinisi dengan baik dalam submandibula kanan. Interpretasi ultrasonografi menunjukkan massa tak homogen hypoechoic dengan kalsifikasi ganda. Pengangkatan kelenjar submandibula dilakukan dengan pendekatan ekstraoral. Laporan kasus ini menunjukkan Gambaran sebanyak sembilan sialolith di kelenjar submandibula, yang dihilangkan dengan pendekatan ekstraoral. Simpulan: Etiopatogenesis dari pembentukan multipel sialolithiasis pada duktus kelenjar, yaitu faktor mekanis, inflamasi, kimiawi, dan infeksi. Diperkirakan bahwa alkalin serta saliva kental yang mengandung banyak sel mukus, memiliki persentase kalsium fosfat lebih tinggi seperti pada kelenjar saliva submandibula yang mendukung pembentukan sialolith. Pengangkatan kelenjar submandibula beserta sialolith dilakukan sebagai standar baku perawatan dan dapat menghindari kekambuhan. Pasien kontrol kembali satu minggu pasca operasi dengan kondisi baik dan dijadwalkan untuk pemeriksaan radiografis ulang enam bulan kemudian untuk memastikan tidak terjadinya pembentukan sialolith baru di saluran kelenjar saliva.Kata kunci: Multipel, sialolithiasis, kelenjar submandibula. ABSTRACTIntroduction: Sialolithiasis is a common disease of the salivary glands. Symptoms include the glands inflammation, especially during eating, and tenderness, which may subside but may recur. Sialoliths occur mainly in the submandibular glands (80-90%) and to a lesser extent in the parotid glands (5-20%). Sialolith can be singular or plural. Multiple sialoliths in the submandibular gland rarely occur. Seventy out of eighty per cent of cases have a single sialolith. Only about 5% of patients have three or more sialoliths. The etiopathogenetic factors associated with sialolith formation are obstruction, decreasing salivary flow rate, dehydration, salivary gland infection, and impaired crystalloid solubility. The purpose of this case report was to describe the etiopathogenesis and treatment of multiple cases of submandibular gland sialolithiasis. Case report: A 24-year-old woman presented with inflammation and pain in the right submandibular. Panoramic radiograph shows a well-defined radiopaque mass in the right submandibular. Ultrasound interpretation revealed a hypoechoic homogeneous mass with multiple calcifications. Removal of the submandibular gland was carried out with an extraoral approach. This case report showed the appearance of as many as nine sialoliths in the sub-mandibular gland, removed by an extraoral approach. Conclusion: Etiopathogenesis of the formation of multiple sialolithiasis in the glandular duct are mechanical, inflammatory, chemical, and infectious factors. It is thought that alkaline and thick saliva, which contains many mucus cells, has a higher percentage of calcium phosphate than in the submandibular salivary glands, which support the formation of sialoliths. Submandibular gland removal along with the sialoliths is performed as the treatment standard, which can avoid recurrence. The control visit is carried out one week postoperatively in good condition, and the patient is scheduled for another radiographic examination six months after to ensure that no new sialoliths occurred in the salivary gland.Keywords: Multiple, sialolithiasis, submandibular gland.
Perbedaan Leeway space pada anak yang menyusu ASI dari puting ibu dan botol susuThe difference in Leeway space between breastfeeding and bottle-feeding children Hilda Fitria Lubis; Dyah Hakiki Pratiwi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i2.27637

Abstract

Pendahuluan: Pemberian ASI dari puting ibu merupakan upaya kesehatan primer untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas. Menyusu ASI dari puting ibu berperan dalam memberikan nutrisi, serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan gigi anak. Kenyataannya, banyak ibu yang tidak memberikan ASI langsung dari puting ibu dan menggantinya dengan penggunaan botol. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan Leeway space anak-anak yang menyusu melalui puting dan anak-anak yang diberi susu melalui botol. Metode: Jenis penelitian analitik cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah 40 orang anak usia 6-8 tahun yang dibagi menjadi 2 kelompok. Penelitian dilakukan melalui pencetakan rahang dan pembuatan model gigi, kemudian dilakukan perhitungan Leeway space dengan metode Moyers. Hasil: Hasil penelitian ditemukan bahwa pada anak yang menyusu ASI langsung dari puting memiliki rerata Leeway space mandibula sebesar 4,230 mm dan maksila 2,770mm. Rerata Leeway space mandibula pada anak yang menyusu dari botol sebesar 3,105mm dan maksila 0,640 mm. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat perbedaan nilai Leeway space  yang signifikan antara anak yang menyusu ASI langsung dari puting ibu dan botol. Simpulan: Tidak terdapat perbedaan Leeway space anak-anak yang menyusu melalui puting dan anak-anak yang menyusu melalui botol, baik pada maksila maupun mandibula.Kata kunci: Leeway space, ASI, pemberian susu botol. ABSTRACTIntroduction: Breastfeeding is one of the efforts to develop high-quality human resource to maintain primary health. It provides nutrition and supports the growth and development of the children’s teeth. In practice, however, many women tend to replace breastfeeding with bottle-feeding. This study was aimed to analyse the difference of the Leeway space between breastfeeding and bottle-feeding children. Methods: Type of research was cross-sectional analytic. The total sample of this study was 40 children aged 6-8 years who were divided into two groups. The study was carried out through the model study; then, the Leeway space was calculated using the Moyers method. Results: Breastfed children had a mean Leeway space of 4.230mm for the mandibular and 2.770 mm for the maxillary, while bottle-fed children had a mean Leeway space of 3.105 mm for mandibular and 0.640mm for the maxillary. According to the analysis based on the results obtained, the value of Leeway space between breastfed children and bottle-fed children bears similarities. Conclusion: There is no difference of the Leeway space between breastfed children and bottle-fed children, both in the maxillary and the mandibular.Keywords: Leeway space, breastfeeding, bottle-feeding.
Hubungan jam tidur kurang optimal terhadap laju alir saliva pada dokter mudaThe relationship of less optimal sleep hour on the salivary flow rate in young doctor Indah Puti Rahmayani Sabirin; Ratih Widyasari; Nanda Denia Astika Putri
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i3.28958

Abstract

Pendahuluan: Saliva merupakan komponen di dalam mulut yang memiliki fungsi yang sangat penting dalam menentukan kondisi lingkungan di dalam rongga mulut. Jam tidur yang kurang optimal dapat memengaruhi irama sirkadian dan tingkat laju alir saliva mengikuti irama sirkadian. Kecepatan laju alir saliva yang tinggi dapat menurunkan risiko terjadinya karies. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisispengaruh jam tidur yang kurang optimal terhadap laju alir saliva. Metode: Jenis penelitian ini adalah analitik dengan rancangan penelitian studi cross-sectional. Sampel penelitian ini adalah dokter muda di Rumah Sakit Dustira yang diambil secara total sampling dengan jumlah 55 sampel. Pemeriksaan laju alir saliva diambil menggunakan metode tanpa stimulasi yang diukur dengan stopwatch selama 60 detik. Data laju alir saliva dianalisis secara statistik menggunakan korelasi Spearman. Hasil: Terdapat hubungan antara jam tidur yang kurang optimal terhadap laju alir saliva (p=0,017, r=0,320). Simpulan: Jam tidur yang kurang optimal dapat memengaruhi kecepatan laju alir saliva menjadi lebih tinggi.Kata kunci : Irama sirkadian, jam tidur kurang optimal, laju alir saliva, saliva. ABSTRACTIntroduction: Saliva is a component in the oral cavity with a vital function in determining the environmental conditions. Less optimal sleep hours can affect the circadian rhythms and the salivary flow rates along with the circadian rhythms. High salivary flow rate can reduce the risk of caries. This study was aimed to analyse the effect of less optimal sleep hour on the salivary flow rate. Methods: This research was an analytic study with a cross-sectional study design. This study’s sample was young doctors at Dustira Hospital who were taken by total sampling, which obtained 55 samples. The salivary flow rate examination was taken using the non-stimulation method measured by a stopwatch for 60 seconds. The salivary flow rate data were statistically analysed using the Spearman correlation. Results: There was a relationship between less optimal sleep hour and the salivary flow rate (p=0.017; r=0.320). Conclusion: Less optimal sleep hour can increase the salivary flow rate.Keywords: Circadian rhythm, less optimal sleep hour, salivary flow rate, saliva.
Pengaruh penambahan hidroksiapatit terhadap porositas dan compressive strength basis resin akrilik heat-curedEffect of hydroxyapatite addition towards porosity level and compressive strength of heat-cured acrylic resin base Chaterina Diyah Nanik Kusumawardani; Ronaldo Triputro Chondro; Ivan Andrian; Rima Parwati Sari
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 2 (2020): Agustus 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i2.26627

Abstract

Pendahuluan: Resin akrilik heat cured (HC) merupakan pilihan utama bahan sebagai basis gigi tiruan. Hidroksiapatit (HAP) adalah molekul kristalin yang sudah banyak digunakan di kedokteran gigi. Penelitian terdahulu membuktikan bahwa HAP mampu mengurangi monomer sisa pada resin akrilik HC, yang akan mengurangi juga porositas resin akrilik tersebut. Berkurangnya porositas resin akrilik, diharapkan akan meningkatkan kekuatan mekanik resin akrilik tersebut. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh penambahan hidroksiapatit terhadap porositas dan compressive strength resin akrilik HC. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris. Sampel penelitian 20 resin akrilik HC berbentuk silindris (6x3mm), dibagi menjadi 4 kelompok. Kelompok kontrol (tanpa penambahan HAP), kelompok HAP 2%, kelompok HAP 5%, dan kelompok HAP 10%. Permukaan sampel diteliti menggunakan SEM untuk porositasnya. Penghitungan compressive strength sampel menggunakan Universal Testing Machine (load cell 300kg/mm2). Hasil: Uji one-way ANOVA dan Tukey-HSD menunjukkan perbedaan signifikan (p<0,05) antara kelompok kontrol (90±13,5MPa) dengan 5%HAP (105±4,3MPa) dan 10%HAP (113±10,2MPa), begitu pula antara 2%HAP (96±8,4MPa) dengan 10%HAP. Uji SEM menunjukkan tidak adanya reaksi kimia antara HAP dan resin akrilik HC. Tampak pula bercak putih tersebar tidak merata pada permukaan sampel akrilik di kelompok-kelompok perlakuan. Bercak putih ditemukan meningkat sebanding dengan peningkatan konsentrasi HAP, dengan diameter yang semakin besar. Simpulan: Penambahan HAP pada basis resin akrilik HC mampu menurunkan tingkat porositas dan meningkatkan nilai compressive strength. Penurunan tingkat porositas meningkat seiring dengan penambahan HAP. Compressive strength yang paling tinggi didapatkan pada basis resin akrilik heat cured dengan penambahan 10% hidroksiapatit.Kata kunci: Compressive strength, uji SEM, resin akrilik heat cured, hidroksiapatit. ABSTRACT Introduction: Heat-cured acrylic resin has been commonly used as a denture base, whereas hydroxyapatite (HAP) is a crystalline molecule widely used in the field of dentistry. Previous research has been proofed that HAP could reduce the residual monomer of heat-cured acrylic resin, which will reduce the porosity level in advance, so it was expected for better mechanical properties. This research was aimed to analyse the effect of HAP addition towards the porosity level and compressive strength of heat-cured acrylic resin. Methods: An experimental laboratory research was conducted towards 20 cylindrical samples (6 x 3 mm) of heat-cured acrylic resins, which were divided into four groups: Control group (without HAP addition), 2% HAP addition group, 5% HAP addition group, and 10% HAP addition group. Compressive strength was tested using Universal Testing Machine (load cell of 300kg / mm2). Each sample surface porosity was observed using the scanning electron microscope (SEM). Results: One-way ANOVA and Tukey-HSD tests results showed significant differences (p < 0.05) between compressive strength in the control group (90 ± 13.5 MPa) compared to 5% (105 ± 4.3 MPa) and 10% HAP addition group (113 ± 10.2 MPa), significant differences were also shown between the 2% (96±8.4MPa) and 10% HAP addition group. SEM imaging showed that there was no chemical reaction between HAP and heat-cured acrylic resin. It showed uneven white spots in acrylic sample’s surface in all treatment groups. Those white spots were likely to be found more in the higher concentration of HAP, so did the diameter of white spots was also found more in the higher concentration. Conclusion: The addition of hydroxyapatite to the base of heat-cured acrylic resin can reduce the level of porosity and increase the compressive strength value. The decrease in the porosity level increases with the addition of hydroxyapatite. The highest compressive strength is obtained with the addition of 10% hydroxyapatite.Keywords: Compressive strength, SEM imaging, heat-cured acrylic resin, hydroxyapatite.
Pengalaman karies, kondisi jaringan periodontal, dan kualitas hidup ibu hamilCaries experience, periodontal condition, and quality of life of pregnant women Arcynthia Widya Rahmayanti; Netty Suryanti; Anne Agustina Suwargiani
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 3 (2020): Desember 2020
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i3.29404

Abstract

Pendahuluan: Kesehatan gigi dan mulut merupakan salah satu bagian terpenting dari kesehatan untuk wanita hamil, yang biasanya terjadi perubahan di rongga mulut yang berkaitan dengan penyakit periodontal dan karies. Tingginya masalah kesehatan gigi dan mulut berdampak negatif  pada kualitas hidup wanita hamil. Tujuan penelitian untuk mengetahui pengalaman karies, kondisi jaringan periodontal, kebutuhan perawatan serta kualitas hidup ibu hamil dalam aspek kesehatan gigi dan mulut. Metode: Metode penelitian deskriptif dengan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan dari 50 pasien di Puskesmas Ibrahim Adjie. Pengalaman karies diukur dengan indeks DMF-T, kondisi periodontal diukur dengan Community Periodontal Index for Treatment Needs (CPITN), dan kualitas hidup diukur menggunakan kuesioner OHIP-14. Hasil: Indeks DMF-T ibu hamil 9,86 termasuk kriteria sedang. Hasil CPITN yaitu jaringan periodontal sehat 0%, perdarahan saat probing 0%, kalkulus 68%, kedalaman poket 4-5 mm 32%, dan kedalaman poket lebih dari 6 mm 0%. Perbaikan oral hygiene, scaling dan menghilangkan faktor retentif  plak merupakan jenis perawatan jaringan periodontal yang dibutuhkan pada ibu hamil. Kualitas hidup ibu hamil dalam aspek kesehatan gigi dan mulut tergolong dalam kategori baik dan dimensi yang berdampak pada kualitas hidup yaitu rasa sakit, ketidakmampuan fisik dan ketidakmampuan psikis. Simpulan: Pengalaman karies ibu hamil di Puskesmas Ibrahim Adjie berada pada kriteria sedang. Kondisi jaringan periodontal paling banyak mengalami gingivitis, yang memerlukan perawatan berupa perbaikan oral hygiene, scaling dan menghilangkan faktor  retentif plak. Kualitas hidup secara umum tergolong dalam kategori baik. Dimensi rasa sakit, ketidakmampuan fisik, dan ketidakmampuan psikis merupakan kondisi yang paling berdampak pada kualitas hidup.Kata kunci: Ibu hamil, indeks DMF-T, CPITN, kualitas hidup. ABSTRACTIntroduction: Oral health is one of the essential parts of health for pregnant women, and usually changes the oral cavity in association with periodontal disease and caries. High levels of oral health problems have a negative impact on the quality of life for pregnant women. The research objective was to determine caries’ experience, periodontal conditions, treatment needs, and oral health-related quality of life of pregnant women. Methods: Descriptive method with purposive sampling technique. Data were collected from 50 patients at Ibrahim Adjie Community Health Centre (Puskesmas). The DMF-T index measured caries experience, the periodontal condition was measured by the Community Periodontal Index for Treatment Needs (CPITN), and the quality of life was measured using the OHIP-14 questionnaire. Results: The DMF-T index for pregnant women was 9.86, which included in the moderate criteria. The CPITN results were 0% had healthy periodontal tissue, 0% experienced bleeding on probing, 68% had calculus, 32% had 4-5 mm pocket depth, and 0% had more than 6 mm pocket depth. Improved oral hygiene, scaling and eliminating plaque retentive factors were the types of periodontal tissue treatment needed in pregnant women. The oral health-related quality of life of pregnant women was in a good category, with the dimensions that impact the quality of life were pain, physical disability, and psychological disability. Conclusion: The caries experience of pregnant women at Ibrahim Adjie Community Health Centre is in moderate criteria. Periodontal tissue conditions mostly experience gingivitis, which requires treatment to improve oral hygiene, scaling and removing plaque retentive factors. The oral health-related quality of life is generally in the good category. The dimensions of pain, physical disability, and psychological disability are the conditions that have the most impact on the quality of life.Keywords: Pregnant women, DMF-T index, CPITN, quality of life.
Potensi ekstrak daun singkong (Manihot esculenta Crantz.) terhadap profil leukosit darah tepi model tikus disfungsi ovarium dan periodontitisPotential of cassava leaves (Manihot esculenta Crantz.) extract on peripheral blood leukocyte profile in ovary dysfunction and periodontitis rat model Lutfi Meiga Sari; Zahara Meilawaty; Pudji Astuti; Amandia Dewi Permana Shita; Agustin Wulan Suci Dharmayanti; Zahreni Hamzah
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 33, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v33i1.30751

Abstract

Pendahuluan: Disfungsi ovarium merupakan keadaan ovarium yang mengalami kegagalan dalam sekresi hormon seks steroid. Penurunan sekresi hormon terutama estrogen dapat memicu peningkatan sitokin proinflamasi seperti IL-1, IL-6 dan TNF-α yang berperan dalam resorpsi tulang dan reaksi inflamasi periodontal. Salah satu drug of choice dari periodontitis adalah metronidazole. Penggunaan metronidazole secara sistemik dapat mengakibatkan efek samping, sehingga diperlukan bahan alternatif yang memiliki efek terapi antiinflamasi. Salah satu tanaman yang memiliki efek antiinflamasi adalah daun Singkong. Tujuan penelitian adalah menganalisis potensi ekstrak daun Singkong sebagai antiinflamasi terhadap profil leukosit darah tepi model tikus disfungsi ovarium dan periodontitis. Metode: Jenis penelitian eksperimental laboratoris dengan post-test only control group design. Sampel penelitian sebanyak 18 ekor tikus betina yang dibagi menjadi dua kelompok besar yakni kelompok disfungsi ovarium dan kelompok kecil periodontitis. Pembuatan model tikus disfungsi ovarium dan tikus periodontitis dilakukan selama 28 hari. Setelah masing-masing kelompok dibagi menjadi 3 kelompok yang diberikan perlakuan aquades, metronidazole dan ekstrak daun Singkong selama 7 hari. Setiap tikus diambil darahnya melalui plexus infraorbitalis pada hari ke-1, hari ke-3 dan hari ke-7. Darah yang diambil selanjutnya dilakukan perhitungan jumlah sel leukosit darah tepi menggunakan kamar hitung dan perhitungan jenis dengan cara visual. Hasil: Hasil uji LSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan bermakna jumlah leukosit darah tepi antar hari pada kelompok tikus yang mengalami disfungsi ovarium (p≤0,05). Simpulan: Ekstrak daun Singkong (Manihot esculenta Crantz) dapat menurunkan profil leukosit perifer model tikus disfungsi ovarium dan periodontitis.Kata kunci: Disfungsi ovarium, periodontitis, profil leukosit perifer, ekstrak daun singkong. ABSTRACTIntroduction: Ovarian dysfunction is when the ovaries fail in the secretion of steroid sex hormones. Decreased secretion of hormones, especially estrogen, can trigger an increase in pro-inflammatory cytokines such as IL-1, IL-6 and TNF-α, which play a role in bone resorption and periodontal inflammatory reactions. One drug of choice for periodontitis is metronidazole. Systemic use of metronidazole can cause side effects, so an alternative material with a therapeutic anti-inflammatory effect is needed. One of the plants that have an anti-inflammatory effect is cassava leaves. The research objective was to analyse the potential of cassava leaf extract as an anti-inflammatory against the peripheral blood leukocyte profile in a mouse model of ovarian dysfunction and periodontitis. Methods: This was an experimental laboratory study with a post-test only control group design. The research sample consisted of 18 female rats divided into two large groups: the ovarian dysfunction group and the small periodontitis group. The making of mouse models of ovarian dysfunction and periodontitis rats was carried out for 28 days. After each group was divided into three groups treated with distilled water, metronidazole and cassava leaf extract for seven days. Blood was drawn from each mouse through the infraorbital plexus on day 1, day three, and 7. The blood that was taken was then performed to calculate the number of peripheral blood leukocytes using the counting room and the calculation of the type by visual means. Results: The results of the LSD test showed that there was a significant difference in the number of peripheral blood leukocytes between days in the group of rats with ovarian dysfunction (p≤0.05). Conclusion: Cassava leaf extract (Manihot esculenta Crantz) can reduce the profile of peripheral leukocytes in a mouse model of ovarian dysfunction and periodontitis.Keywords: Ovarian dysfunction, periodontitis, peripheral leukocytes profile, cassava leaf extract.
Necrotizing ulcerative stomatitis mimicking erythema multiforme pada pasien dengan HIV seronegatifNecrotizing ulcerative stomatitis mimicking erythema multiforme in HIV seronegative patients Eliza Kristina Munthe; Riani Setiadhi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 2 (2020): November 2020 (Suplemen 1)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i2.23868

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Necrotizing ulcerative stomatitis (NUS) merupakan inflamasi akut yang ditandai destruksi, ulserasi serta nekrosis epitel, jaringan ikat dan papila. Umumnya terjadi pada pasien malnutrisi dan Human Immunodeficiency Virus (HIV) seropositif. Lesi awal berupa necrotizing gingivitis kemudian berkembang menjadi necrotizing periodontitis, selanjutnya menjadi NUS. Gambaran klinis kasus NUS kadang serupa dengan Erythema multiforme (EM), sehingga perlu dilakukan pemeriksaan penunjang yang dapat menegakkan diagnosa dengan tepat. Tujuan laporan kasus ini melaporkan cara menegakkan diagnosis NUS yang menyerupai EM secara tepat pada pasien dengan suspek infeksi HIV. Laporan kasus: Pasien laki-laki berusia 49 tahun dirujuk ke departemen Ilmu Penyakit Mulut dengan diagnosis EM disertai suspek terinfeksi HIV. Keluhan utama berupa rasa nyeri disertai sariawan pada lidah dan bibir bagian dalam. Pemeriksaan ekstraoral tidak ada kelainan, pada intraoral ditemukan ulser multipel dilapisi sloughing kekuningan pada mukosa labial, mukosa bukal, dorsal lidah, lateral lidah dan ventral lidah. Gingiva anterior rahang bawah terdapat lesi ulseratif disertai jaringan nekrosis. Pemeriksaan darah menunjukkan penurunan hematokrit, peningkatan leukosit, serta negatif pada pemeriksaan tes HIV. Actinomyces naeslundii ditemukan pada pemeriksaan mikrobiologi. Ditegakkan diagnosis NUS dan terapi yang diberikan amoxicillin 500mg, metronidazol 500mg, chlorhexidine gluconate 0,2% dan asam folat. Lesi oral mengalami perbaikan dalam 2 minggu. Simpulan: Lesi oral mengalami perbaikan secara signifikan setelah kontrol ketiga atau seminggu dari kunjungan pertama, pasien sudah dapat makan tanpa rasa nyeri. Gambaran klinis lesi mukosa oral yang khas, serta pemeriksaan penunjang mikrobiologi berperan dalam menunjang diagnosis NUS. Tes HIV perlu dilakukan untuk mengkonfirmasi status infeksi HIV pada pasien. Dokter gigi sebaiknya mengenali tanda dan gejala NUS, sehingga dapat menegakkan diagnosis dan memberikan terapi adekuat serta mencegah meluasnya kerusakan jaringan.Kata kunci: Human immunodeficiency virus, lesi oral, necrotizing ulcerative stomatitis, erythema multiforme. ABSTRACTIntroduction: Necrotizing ulcerative stomatitis (NUS) is an acute inflammation characterised by destruction, ulceration, and necrosis of the epithelium, connective tissue, and papillae. Generally occurs in malnourished and Human Immunodeficiency Virus (HIV) seropositive patients. The initial lesion is found in the form of necrotizing gingivitis then developed into necrotizing periodontitis, which later became NUS. The clinical feature of NUS sometimes similar to the erythema multiforme (EM); thus, it is necessary to conduct investigations to make the diagnosis correctly. This case report was aimed to report on how to properly diagnose an EM-like NUS in a patient with suspected HIV infection. Case report: A 49-years-old male patient referred to the Oral Medicine department with an EM diagnosis with suspected HIV infection. The main complaint is pain accompanied by mouth sores on the tongue and inner lips part. Extraoral examination showed no abnormality, multiple ulcers coated with yellowish sloughing on the labial mucosa, buccal mucosa, dorsal tongue, lateral tongue, and ventral tongue. The anterior mandibular gingiva had ulcerative lesions with tissue necrosis. Blood tests showed a decrease in hematocrit, an increase in leukocytes, and a negative result of the HIV test. Actinomyces naeslundii was found on microbiological examination. Diagnosis of NUS was confirmed, and therapy given were amoxicillin 500 mg, metronidazole 500 mg, chlorhexidine gluconate 0.2%, and folic acid. The oral lesions improved within two weeks. Conclusion: Oral lesions improved significantly after the third control in a week from the first visit, the patient was able to eat without pain. The clinical feature of typical oral mucosal lesions, as well as microbiological examinations, play a role in supporting the diagnosis of NUS. An HIV test needs to be carried out to confirm the HIV infection status of the patient. Dentists should recognise the signs and symptoms of NUS to determine a diagnosis, provide adequate therapy, and prevent the spread of tissue damage.Keywords: Human immunodeficiency virus, oral lesions, necrotizing ulcerative stomatitis, erythema multiforme.
Mandibulektomi segmental dengan rekonstruksi cangkok tulang fibula non-vaskularisasi pada pasien ameloblastoma tipe folikulerSegmental mandibulectomy with non-vascularised fibular bone graft reconstruction in follicular ameloblastoma patient Rumartha Putri Swari; Arfan Badeges; Vera Julia
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 32, No 3 (2021): Februari 2021 (Suplemen 2)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v32i3.31485

Abstract

Pendahuluan: Ameloblastoma adalah tumor invasif lokal dengan insidensi kekambuhan yang tinggi jika tidak dieksisi sepenuhnya. Mandibulektomi segmental sebagai pilihan tatalaksana yang dapat menyebabkan deformitas dan asimetri pada wajah, serta masalah pengunyahan. Pemulihan defek setelah reseksi mandibula menimbulkan masalah yang cukup berat. Tujuan laporan kasus ini untuk melaporkan hasil rekontruksi menggunakan cangkok tulang non-vaskularisasi mandibulektomi segmental pada pasien dengan ameloblastoma mandibula. Laporan kasus: Pria berusia 33 tahun datang ke Poliklinik Rawat Jalan Bagian Bedah Mulut dan Maksilofasial RS Persahabatan dengan keluhan utama pembengkakan mandibula yang perlahan bertambah dan tidak nyeri sejak enam tahun lalu. Pemeriksaan ekstra oral tampak asimetri wajah, bukaan mulut tidak ada limitasi, tidak teraba pembesaran kelenjar getah bening regio leher. Pemeriksaan intraoral didapatkan adanya benjolan regio mandibula kiri dengan batas tegas, konsistensi padat, permukaan tampak trauma oklusi gigi antagonis, immobile, dan terdapat nyeri tekan. Gambaran radiologis menunjukan lesi radiolusen multilokuler menyerupai honeycomb pada corpus mandibula kiri meluas ke regio ramus mandibula kiri. Pemeriksaan biopsi menunjukkan hasil ameloblastoma tipe folikuler pada mandibula kiri dan dilakukan mandibulektomi segmental dengan rekonstruksi cangkok tulang fibula non-vaskularisasi. Sembilan bulan setelah operasi, cangkok tulang non-vaskularisasi tidak menunjukkan komplikasi intraoral dengan bekas luka submandibular ekstraoral baik. Simpulan: Cangkok tulang fibula non-vaskular dapat dipertimbangkan sebagai salah satu pilihan untuk rekonstruksi setelah mandibulektomi segmental pada pasien ameloblastoma.Kata kunci: Mandibulektomi segmental, cangkok fibula non-vaskularisasi, ameloblastoma folikuler. ABSTRACTIntroduction: Ameloblastoma is a locally invasive tumour with a high incidence of recurrence if not completely excised. Segmental mandibulectomy as a treatment option that can cause facial deformities and asymmetry and mastication problem. Recovery of the defect after mandibular resection presents a severe problem. This case report was aimed to report the results of reconstruction using a segmental non-vascularised mandibulectomy bone graft in a patient with mandibular ameloblastoma. Case report: A 33-year-old male came to the Outpatient Polyclinic of the Oral and Maxillofacial Surgery Division of Persahabatan General Hospital with the chief complaint of mandibular inflammation, which was slowly increasing yet painless since six years prior. Extraoral examination showed facial asymmetry, no limitation in mouth opening, no palpable enlargement of lymph nodes in the neck region. Intraoral examination revealed a lump in the left mandibular region with firm borders, solid consistency. The surface appears to be traumatic occlusion of the antagonist tooth, immobile, and tenderness was found. Radiological features showed a multilocular, honeycomb-like radiolucent lesion on the left mandibular body extending into the left mandibular ramus region. A biopsy showed follicular ameloblastoma in the left mandible, and a segmental mandibulectomy was performed with non-vascular fibular bone graft reconstruction. Nine months after surgery, non-vascular bone grafts showed no intraoral complications with either extraoral submandibular scar. Conclusion: Non-vascular fibular bone graft can be considered an option for reconstruction after segmental mandibulectomy in ameloblastoma patients. Keywords: Segmental mandibulectomy, non-vascularised fibula graft, follicular ameloblastoma.