cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Tingkat pengetahuan dan perilaku terjadinya trauma gigi pada siswa asrama Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga PelajarThe level of knowledge and behavior of the occurrence dental trauma to Education And Training Student Sports (PPLP) boarding students Nurhayani Putri; Satria Yandi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.22842

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Trauma gigi merupakan suatu masalah yang sering terjadi pada usia muda ketika pertumbuhan dan perkembangan terjadi dengan sangat pesat. Cabang olahraga seperti bola basket, sepak bola, hoki, seni bela diri dan tinju memiliki risiko yang sangat tinggi untuk terjadinya trauma gigi. Tujuan penelitian dalah mengetahui pengetahuan dan perilaku  siswa  terjadinya trauma gigi pada siswa asrama Pusat Pendidikan dan Latihan Olahraga Pelajar (PPLP) . Metode: Jenis penelitian observational descriptive dengan pendekatan cross sectional. Populasi penelitian adalah siswa asrama. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode total sampling dengan penentuan jumlah sampel menggunakan rumus slovin diperoleh sampel sebanyak 71 siswa. Lokasi penelitian di Asrama PPLP Kota Padang. Analisis data dilakukan dengan menggunakan distribusi frekuensi. Hasil: Siswa yang memiliki pengetahuan kurang mempunyai persentase terbesar yaitu sebanyak 65 orang (91,5%) dan siswa yang memiliki perilaku kurang mempunyai persentase terbesar yaitu sebanyak yaitu 44 orang (62%). Simpulan: Siswa asrama memiliki pengetahuan dan perilaku yang kurang terhadap terjadinya trauma gigi.Kata kunci: trauma gigi; pengetahuan; perilakuABSTRACTIntroduction: Dental trauma was a problem that often occurs in teenager when growth and development occur rapidly. Sports such as basketball, soccer, hockey, martial arts, and boxing have a high risk of dental trauma. This study aimed to determine the knowledge and behavior on dental trauma of Education And Training Student Sports (PPLP) boarding students in Padang city. Methods: The population of this study were students of PPLP Padang City. The type of study design was descriptive observational with cross sectional approach. The sampling technique used a total sampling method, with a number of participants (n = 71). The research held in PPLP dormitory of Padang city, from May until December 2018. Result: Most of the students had less knowledge, namely 65 people (91.5%) and most students had less behavior, namely 44 people (62%). Conclusion: PPLP boarding students had less knowledge and behavior toward dental trauma.Keywords: dental trauma; knowledge; behavior
Perawatan maloklusi skeletal kelas II disertai kaninus ektopik menggunakan penjangkar Temporary Anchorage DeviceManagement of skeletal class II malocclusion and ectopic canine with Temporary Anchorage Device Dinda Tegar Jelita; Nia Ayu Ismaniati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.34106

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Maloklusi kelas II seringkali menjadi alasan pasien dalam mencari perawatan ortodonti. Maloklusi ini juga dapat disebabkan oleh mandibula retrognati, maksila prognati, ataupun kombinasi keduanya. Perbedaan dalam ukuran gigi dan lengkung rahang dapat menyebabkan gigi berjejal karena kekurangan ruang. Perbedaan ini juga merupakan salah satu etiologi dari kaninus yang ektopik, atau gigi yang erupsi di luar lengkung rahang. Temporary Anchorage Device (TAD) digunakan pada perawatan ortodonti sebagai alat penjangkar absolut dengan bahan titanium alloy atau stainless steel. Beberapa keunggulan TAD yaitu, kemudahan dalam pemasangan dan pelepasan, kenyamanan untuk pasien, dan terutama untuk memberikan penjangkaran absolut untuk pergerakan gigi dengan variasi yang beragam. Tujuan laporan kasus ini membahas penatalaksanaan perawatan ortodontik pada maloklusi skeletal kelas II dengan gigi kaninus ektopik dan gigi geligi yang berjejal berat, dengan menggunakan alat ortodontik cekat sistem MBT disertai TAD. Laporan kasus: Seorang pasien perempuan berusia 26 tahun, datang ke Klinik Spesialis Ortodonti Rumah Sakit Kesehatan Gigi dan Mulut Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia (RSKGM FKG UI), dengan keluhan gigi depan tidak teratur dan kesulitan untuk membersihkan gigi secara menyeluruh. Secara klinis diketahui bahwa pasien memiliki maloklusi kelas II dengan gigi kaninus yang ektopik disertai gigi yang berjejal berat. Perawatan ortodonti dilakukan menggunakan breket preadjusted sistem MBT slot.022 serta penjangkaran Temporary Anchorage Device (TAD) Simpulan: Senyum pasien yang lebih estetik dengan inklinasi gigi anterior yang normal dan hubungan insisif, kaninus, dan molar yang terkoreksi dengan baik menjadi kelas I.Kata kunci: gigi berjejal; kaninus ektopik; maloklusi kelas I; temporary anchorage device (TAD)ABSTRACT Introduction: Class II malocclusion is often a reason for patients to seek orthodontic treatment. Malocclusion can also be caused by the retrognathic mandible, prognathic maxilla, or a combination of both. In addition, differences in the teeth’ size and the jaw arch can cause crowding due to lack of space. This difference is also one of the etiologies of ectopic canines, or teeth that erupt outside the jaw arch. A temporary Anchorage Device (TAD) is used in orthodontic treatment as an absolute anchor device with titanium alloy or stainless steel material. Some of the TAD advantages are ease of installation and removal and comfort received by the patient, mainly to provide absolute anchorage for tooth movement with lots of variety. This case report will discuss the management of orthodontic treatment in class II skeletal malocclusion with ectopic canines and severe crowding of teeth, using fixed orthodontic appliances MBT system with TAD. Case report: A 26-year-old female patient came to the Orthodontics Specialist Clinic of the University of Indonesia’s Dental Hospital with the chief complaint of dissatisfaction with the front teeth and inability to brush properly. From the clinical examination, the patient has a Class II malocclusion with an ectopic canine and severe crowding. Orthodontic treatment was performed using pre-adjusted brackets with MBT slot .022 system and TADs. Conclusion: The treatment result shows a more aesthetic smile and a normalized anterior tooth inclination and class I relationships of the incisive, canines, and molars.Keywords: severe crowding; ectopic canine; class II malocclusion; temporary anchorage device (TAD)
Perbedaan volume, pH saliva dan kondisi rongga mulut wanita perokok dan non perokokThe differences of salivary volume, pH and oral cavity conditions of women smokers and non-smokers Alia Intan Kusuma Ramadhani; Sri Tjahajawati; Hening Tjaturina Pramesti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.34906

Abstract

ABSTRAK Pendahuluan: Prevalensi wanita perokok meningkat dari 4,2% menjadi 6,7% dari tahun 1995-2013. Bahaya rokok dapat berdampak kepada semua orang, namun wanita perokok memiliki risiko yang lebih tinggi. Panas hasil pembakaran rokok dan kandungan kimia yang terdapat dalam rokok dapat menyebabkan penurunan aliran darah dan fungsi kelenjar saliva yang memengaruhi kondisi rongga mulut wanita perokok. Tujuan penelitian menganalisis perbedaan nilai volume saliva, pH saliva dan kondisi rongga mulut antara wanita perokok dan non perokok. Metode: Jenis penelitian deskriptif komparatif. Data yang digunakan data sekunder dengan pengambilan sampel secara consecutive sampling. Penentuan jumlah sampel menggunakan Lemeshow. Data objektif volume saliva diperoleh dengan metode spitting dan pH saliva ditentukan menggunakan pH paper test. Data kondisi rongga mulut diperoleh dari pengisian kuesioner. Responden dalam penelitian ini 26 wanita perokok dan 26 wanita non perokok. Data volume dan pH saliva dianalisis dengan uji t independen dan data kondisi rongga mulut dianalisis dengan uji z parametrik dengan nilai signifikansi p<0,05. Hasil: Terdapat perbedaan signifikan pada sampel pH saliva (p=9,60) dan adanya kondisi karies (p=0,0523), dan tidak terdapat perbedaan signifikan pada volume saliva (p=1,25), ulserasi (p=0,3989), gusi berdarah (p=0,1237) dan mulut kering (p=0,0864)  antara wanita perokok dan wanita non perokok. Simpulan: Terdapat perbedaan nilai pH saliva antara wanita perokok dan wanita non perokok. Tidak terdapat perbedaan pada nilai volume saliva dan kondisi rongga mulut antara wanita perokok dan wanita non perokok.Kata kunci: kondisi rongga mulut; pH saliva; volume saliva; wanita perokokABSTRACTIntroduction: The prevalence of female smokers increased from 4.2% to 6.7% on 1995 untill 2013. The dangers of smoking can affect everyone, but women who smoke have a higher risk. Burning cigarettes  heat and the chemicals in cigarettes can cause a decrease in blood flow and salivary gland function. Then, it will affect the oral cavity condition of the women smoker. This study aimed to determine the difference in the value of saliva volume, salivary pH and oral cavity conditions between women smokers and non-smokers. Methods: This research was a comparative descriptive study. The data used was secondary with consecutive sampling, determination of the number of samples using the Lemeshow formula. Spitting method was used to obtain the objective data of saliva volume and the salivary pH was determined using the pH paper test. Oral cavity data condition was obtained using a questionnaire. The study subjects were 26 women smokers and 26 non- smokers. Salivary volume and pH data were analyzed by independent t-test and oral condition data were analyzed by parametric z-test with a significance value of p<0.05. Results: There was a significant difference in the saliva pH sample (p=9.60) and the presence of caries conditions (p=0.0523), and there was no significant difference in saliva volume (p=1.25), ulceration (p=0.3989), bleeding gums (p=0.1237) and dry mouth (p=0.0864) between women smokers and non-smokers. Conclusion: There was a difference in the salivary pH, and no difference in salivary volume and oral conditions between women smokers and non-smokers.Keywords: oral cavity conditions; salivary pH; salivary volume; women smokers
Pengaruh Ekstrak Jahe Gajah (Zingiber officinale var. Officinarum) Terhadap Streptococcus mutans (in vitro)The effect of elephant ginger (Zingiber officinale var. Officinarum) extract on Streptococcus mutans (in vitro) Eko Fibryanto; Rosita Stefani; Brandon Winaldy
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.37554

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Karies merupakan penyakit yang mengenai jaringan keras gigi. Streptococcus mutans merupakan salah satu mikroorganisme yang dapat menyebabkan karies karena memfermentasi karbohidrat menjadi asam. Zingiber officinale var. Officinarum merupakan tanaman rimpang yang banyak tumbuh di Indonesia dan memiliki daya antibakteri. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi 6,25%, 12,5%, 25%, 50%, dan 100% ekstrak Zingiber officinale var. Officinarum terhadap jumlah koloni Streptococcus mutans. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental murni yang terdiri dari 7 kelompok, yaitu: konsentrasi 6,25; 12,5; 25, 50; 100%, kontrol positif, dan negatif. Kontrol positif adalah klorheksidin glukonat 0,2% dan kontrol negatif adalah dimetilsulfoksida (DMSO) 20%. Metode ekstraksi yang digunakan adalah metode maserasi dengan etanol 96%. Uji daya hambat pertumbuhan Streptococcus mutans (ATCC 25175, USA) dilakukan dengan metode dilusi menggunakan media Brain Heart Infusion (BHI) dan perhitungan jumlah koloni menggunakan metode hitung cawan. Data dianalisis dengan uji One-way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji post-hoc Tukey (p<0,05). Hasil: Ekstrak Zingiber officinale var. Officinarum mempengaruhi pertumbuhan jumlah koloni Streptococcus mutans. Konsentrasi 100% (0 CFU/mL) berbeda bermakna (p<0,05) terhadap konsentrasi 6,25% (2,42±0,19x108 CFU/mL); 12,5% (2,06±0,19x108 CFU/mL), dan 25% (1,46±0,11x108 CFU/mL). Tidak ada perbedaan bermakna (p>0,05) antara ekstrak 100% terhadap konsentrasi 50% (0,81±0,50.108 CFU/ml) dan klorheksidin glukonat (0 CFU/mL). Simpulan: Terdapat pengaruh ekstrak Z. officinale var. Officinarum terhadap jumlah koloni S. mutans. Konsentrasi ekstrak 100% mampu mengeliminasi S.mutans (minimum bactericidal concetration). Konsentrasi 100% sama efektifnya dengan 0,2% klorheksidin glukonat.Kata kunci: streptococcus mutans; zingiber officinale var. officinarum; karies; konsentrasi hambat minimal; konsentrasi bunuh minimalABSTRACTIntroduction: Caries is a disease that affects the hard tissue of the teeth. Streptococcus mutans is one of the microorganisms that can cause caries because it ferments carbohydrates into acids. Zingiber officinale var. Officinarum is a rhizome plant that is widely grown in Indonesia and has antibacterial properties. This study aimed to analyze the effects of 6.25%, 12.5; 25; 50; and 100% Zingiber Officinale Var Officinarum extract against the growth of Streptococcus mutans. Methods: This was a true experimental study consisting of 7 groups, concentration 6.25; 12.5; 25, 50; 100%, positive control, and negative. The Zingiber officinale var. Officinarum extract was prepared with the maceration method using 96% ethanol. The positive control was 0.2% chlorhexidine gluconate and the negative control was 20% dimethylsulfoxide (DMSO). The growth inhibition test of Streptococcus mutans (ATCC 25175, USA) was carried out by dilution method using Brain Heart Infusion (BHI) media and the number of colonies were measured using the plate count method. Data was analyzed by One-way ANOVA and post-hoc Tukey test (p<0.05). Results: Different concentrations of Z. officinale var. Officinarum extract had various effects on the growth of Streptococcus mutans. The 100% extract differed significantly (p<0.05) compared to 6.25% extract (2.42±0.19x108 CFU/mL), 12.5% (2.06±0.19x108 CFU/mL), and 25% (1.46±0.11x108 CFU/mL). There was no difference between 100%, 50% extract (0.81±0.50x108 CFU/ml) and chlorhexidine gluconate (p>0.05). Conclusion:  Zingiber officinale var. Officinarum 50% is able to inhibit the growth of S. mutans (minimum inhibitory concentration). In addition, the extract concentration of 100% is able to eliminate S. mutans (minimum bactericidal concentration) and as effective as 0.2% chlorhexidine gluconate.Keywords: streptococcus mutans; zingiber officinale var. officinarum; caries; minimum inhibitory concetration; minimum bactericidal concentration
Aplikasi gel serbuk membran telur ayam ras 10% (Gallus gallus domesticus) terhadap penyembuhan luka sayat gingiva tikus galur WistarEffect of 10% chicken egg membrane gel powder (Gallus gallus domesticus) on gingival wound healing time in Wistar strain rats Florence Meliawati; Nadya Paramitha; Atia Nurul Sidiqa; Saskia Lenggogeni Nasroen
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.36010

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Luka merupakan gangguan kontinuitas lapisan epitel kulit atau mukosa. Gingiva merupakan mukosa mulut yang seringkali mengalami luka yang dapat timbul karena trauma pada perawatan penyakit periodontal ataupun ekstraksi gigi. Membran telur ayam mengandung bahan bioaktif karbohidrat kompleks yang dapat berfungsi mempercepat perbaikan jaringan. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh aplikasi gel serbuk membran telur ayam 10% terhadap penyembuhan luka sayat gingiva tikus galur Wistar pada hari ke 3,7, dan 14. Metode: Jenis penelitian eksperimental murni dengan jumlah sampel 30 ekor tikus galur Wistar. Luka sayat sepanjang 3 mm arah horizontal kedalaman 0,25 mm dibuat pada gingiva cekat anterior rahang atas. Kelompok uji terdiri dari 3, yaitu apikasi gel membran telur 10% (n=10), aplikasi povidone iodine 10% sebagai kontrol postitif (n=10), dan aplikasi aquades sebagai kontrol negatif (n=10). Pengamatan panjang luka seluruh sampel dilakukan pada hari ke-0, 3, 7, dan 14. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan uji Kruskal Wallis dan dilanjutkan uji post hoc Mann Whitney dengan p<0,05. Hasil: Seluruh kelompok mengalami pengurangan panjang luka sayat dimulai dari hari ke 3, 7, hingga 14. Kelompok perlakuan aplikasi gel membran telur 10% dapat menyembuhkan luka sayatan lebih cepat dibandingkan kelompok kontrol positif pada hari ke-3 (1,74±0,14)mm, hari ke-7 (0,81±0,16)mm dan hari ke-14 (0,07±0,14)mm. Pengukuran panjang luka sayat di hari ke-3 dan ke-7 kelompok aplikasi gel membran telur 10% signifikan berbeda dibandingkan kontrol positif (p<0,05). Simpulan: Gel serbuk membran telur 10% dapat mempercepat penyembuhan luka sayat gingiva tikus galur Wistar pada hari ke-3, ke-7 dan ke-14.Kata kunci: luka sayat; membran telur ayam; penyembuhan luka; galur wistar ABSTRACTIntroduction: The epithelial layer of the skin or mucosa is disrupted when there is a wound. The gingiva is the oral mucosa that frequently sustains wounds from trauma that can happen during the treatment of periodontal disease or tooth extraction. Complex carbohydrate bioactive ingredients found in chicken egg membranes, it can speed up tissue repair. This study aimed to analyzed the impact of application egg membrane gel 10% on the length of the wound on Wistar strain on day 3, 7, and 14. Methods: A (3x0.25)mm incision was made on the maxillary anterior attached gingiva Wistar strain rats. There were 3 groups, egg membrane gel 10%, povidone iodine 10% as a positive control, and aquades as a negative control. Observation of wound length for all samples was carried out on days 0, 3, 7, and 14. The data obtained were then analyzed by the Kruskal Wallis test and followed by the Mann Whitney post hoc test with p<0.05. Results: All groups experienced a reduction in the length of the incision starting from days 3, 7, to 14. The egg membrane gel 10% application treatment group healed the incision faster than the positive control group on day 3 (1.74±0.14)mm, day 7 (0.81±0.16)mm, and day 14 (0.07±0.14)mm. The measurement of the length of the incision on days 3 and 7 of the egg membrane gel 10% application group was significantly different from the positive control (p<0.05). Conclusion: egg membrane gel 10% can accelerate the healing of gingival incisions in Wistar strain rats started on days 3 to 14.Keywords: cut wounds; wound healing; chicken egg membrane; wistar strain
Hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pola asuh kesehatan gigi dan mulut pada anak usia prasekolahThe relationship between a mother’s education level and oral health care pattern for preschool children Dwi Kurniawati; Deddy Hartarto
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.37329

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pola asuh kesehatan gigi dan mulut adalah bentuk pola asuh yang diterapkan dalam upaya merawat, memelihara, membimbing, melatih, dan memberikan pengaruh terhadap kesehatan gigi dan mulut anak. Ibu memiliki peran dalam pengasuhan anak dikarenakan ibu adalah orang terdekat yang banyak menghabiskan waktu bersama anak. Salah satu faktor yang mempengaruhi pola asuh orang tua adalah tingkat pendidikan. Informasi dan pengetahuan orang tua didapatkan dari pendidikan formal yang ditempuh. Orang tua yang memiliki pendidikan tinggi lebih mudah menangkap informasi, mudah beradaptasi, serta mampu membuat keputusan yang tepat untuk anaknya. Tujuan penelitian menganalisis hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pola asuh kesehatan gigi dan mulut pada anak. Metode : Jenis penelitian deskriptif korelasional. Sampel penelitian 51 ibu dari seluruh murid Taman Kanak-kanak Islam Terpadu Darul Athfal Cokroaminoto 02 Gumiwang, Kabupaten Banjarnegara. Teknik sampling yang dipilih adalah total sampling. Tingkat pendidikan diukur menggunakan kuesioner berdasarkan 4 kategori jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh, sedangkan pola asuh diukur menggunakan kuesioner berdasarkan dimensi mengasuh dan mendidik. Data yang diperoleh diuji menggunakan uji statistik spearman. Hasil: Mayoritas ibu berpendidikan SMP (37,3%), dan pola asuh yang cukup (45,1%). Uji statistik spearman diperoleh nilai r sebesar 0,731 dengan p value sebesar 0,000 (< 0,05) bahwa terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pola asuh kesehatan gigi dan mulut pada anak dengan kekuatan hubungan termasuk kuat. Simpulan: terdapat hubungan tingkat pendidikan ibu dengan pola asuh kesehatan gigi dan mulut pada anak.Kata kunci: anak; karies; pemeliharaan kesehatan gigi; pola asuh; tingkat pendidikan ABSTRACTIntroduction: Oral health parenting is a form of parenting that is applied to care for, maintain, guide, train, and have an influence on children’s dental and oral health. Mothers have a role in child care because mothers are the closest people who spend a lot of time with children. One of the factors that influence parenting is the level of education. Information and knowledge of parents obtained from formal education taken. Higher education parents can easily capture data, adapt quickly, and make the right decisions for their children. This study aimed to determine the relationship between a mother’s education level and a child’s oral health care pattern. Methods: This type of research is a descriptive correlational study. The sample consisted of 51 mothers from all students of the Integrated Islamic Kindergarten Darul Athfal Cokroaminoto 02 Gumiwang, Banjarnegara Regency. The sampling technique chosen is total sampling. Education level was measured using a questionnaire based on the last 4 categories of education levels taken, while parenting was measured using questionnaires based on the dimensions of nurturing and educating. The data obtained were tested using the Spearman statistical test. Results: Most mothers are middle school educated (37.3%) and have good parenting (45.1%). Spearman statistical test obtained an r-value of 0.731 with a p-value of 0.000 (<0.05) that there is a relationship between a mother’s education level and oral health care for children with the strength of the relationship including strong. Conclusion: There is a relationship between the mother’s level of education and the child’s oral health care pattern.Keywords: caries; education level; oral health care; parenting; preschool
Identifikasi DNA porcine pada bahan mahkota sementara, bahan basis gigi tiruan dan bahan cetak hydrocolloid irreversible menggunakan Real-Time PCRIdentification of porcine DNA in temporary crown, denture base and impression materials using Real-Time PCR Hubban Nasution; Ika Andryas
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.36859

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Banyak bahan kedokteran gigi yang beredar diimpor dari luar negeri dan dijual bebas di pasaran. Hal ini sempat menimbulkan kegelisahan bagi para muslim yang mencari perawatan gigi yang halal. Status halal bahan yang digunakan untuk perawatan gigi masih belum jelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi DNA porcine pada bahan mahkota sementara, bahan basis gigi tiruan, dan bahan cetak hydrocolloid irreversible menggunakan Real-Time PCR. Metode: Jenis penelitian menggunakan penelitian deskriptif,  metode quota sampling digunakan untuk pengambilan sampel. Tiga bahan mahkota sementara, tiga bahan basis gigi tiruan dan tiga bahan cetak hydrocolloid irreversible dengan merk yang berbeda digunakan sebagai sampel. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap. Pertama, ekstraksi DNA pada sampel dan kedua dan dilakukan analisis Real-Time PCR berdasarkan kurva amplifikasi dan skor Ct pada channel yellow dan channel green. Hasil: Analisis sampel berdasarkan channel green menunjukkan bahwa semua bahan tidak mengandung DNA porcine, tetapi empat dari sembilan sampel mengandung DNA vertebrata. Simpulan: Semua jenis bahan yang diuji tidak satupun yang mengandung DNA porcine.Kata kunci: identifikasi DNA porcine; mahkota sementara; basis gigi tiruan; bahan cetak; Real-Time PCR. ABSTRACTIntroduction: Most of dental materials circulates are imported from abroad and sold freely on the market. It cause an anxiety for Muslim community who looking for halal dental treatment. Halal status for dental treatments still unclear. This study aimed to identify porcine DNA in temporary crown, denture base, and hydrocolloid irreversible impression materials using Real-Time PCR. Methods: This research type is descriptive, quota sampling method was used for sampling. Three temporary crown materials, three denture base materials and three irreversible hydrocolloid impression materials were used as the specimens. This study was conducted in two stages. Extraction of DNA sample and Real-Time PCR analysis based on amplification curve and Ct score in yellow and green channel. Results: An analysis of samples based on green channel showed that all materials were not containing porcine DNA, but four out of nine samples were containing vertebrae DNA. Conclusion: All tested specimens were not containing porcine DNA.Keywords: identification of porcine DNA; temporary crown; denture base; impression material; Real-Time PCR.
Karakteristik pasien dan diagnosis pencabutan gigi pada pasien di klinik eksodonsia RSGM Universitas PadjadjaranCharacteristics patient and indications of tooth extraction of patients at the exodontia clinic Padjadjaran University Dental Hospital Cynthia Deianira Dewi; Endang Syamsudin; Indra Hadikrishna
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.37719

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Pencabutan gigi adalah tindakan mengeluarkan gigi dari soketnya. Pencabutan gigi dilakukan jika terdapat indikasi medis dan sosial dengan epidemiologi di tiap negara berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik dan indikasi pencabutan gigi pasien di klinik Eksodonsia RSGM Universitas Padjadjaran dari tahun 2014-2018. Metode: Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif retrospektif. Data diambil dari rekam medis pasien yang datang untuk dilakukan tindakan pencabutan gigi. Data meliputi jenis kelamin, usia, pekerjaan, tingkat pendidikan, dan diagnosis. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik total sampling. Hasil: Terdapat 2165 gigi yang dicabut dari 1535 pasien. Pencabutan gigi yang dilakukan karena penyakit periodontal 1465 gigi (67,67%), karies dan penyakit pulpa 517 gigi (23,88%), persistensi gigi sulung 76 gigi (3,50%), gigi dengan lesi patologis 60 gigi (2,80%), impaksi 14 gigi (0,64%), perawatan preprostetik 11 gigi (0,50%), perawatan ortodontik 10 gigi (0,50%), gigi supernumerary 5 gigi (0,23%), gigi malposisi 6 gigi (0,27%), dan gigi patah atau fraktur 1 gigi (0,05%). Karakteristik pasien didapatkan terbanyak pada jenis kelamin perempuan 861 (56%), kelompok umur 12-25 tahun 626 (41%), kelompok pelajar/mahasiswa 495 (32%), dan tingkat pendidikan SMA sebanyak 794 (52%). Simpulan: Perempuan dewasa muda dari kalangan pelajar atau mahasiswa merupakan karakteristik pasien yang paling banyak ditemukan di Klinik eksodonsia RSGM Universitas Padjadjaran dengan indikasi pencabutan gigi terbanyak yaitu penyakit periodontal, karies, dan penyakit pulpa.Kata kunci: indikasi; pencabutan gigi; karies; periodontal; penyakit pulpaABSTRACTIntroduction: Tooth extraction is a procedure to remove the tooth from its socket. Tooth extraction performed if there are any medical and social indications with different epidemiology in each country. This study aimed to determine tooth extraction indication and characteristic of patients at exodontia clinic Padjadjaran University Dental Hospital in 2014-2018. Methods: The research used descriptive retrospective as the method. Data were taken from the medical record of patients who came for tooth extraction procedure. The data include gender, age, occupation, level of education, and diagnosis. Sampling was done using total sampling. Results: There were 2165 teeth extracted from 1535 patients. Tooth extraction performed due to periodontal disease were 1465 teeth (67.67%), followed by caries and pulp disease 517 teeth (23.88%), over-retained primary teeth 76 teeth (3.50%), teeth associated with pathologic lesions 60 teeth (2.80%), impacted teeth 14 teeth (0.64%), preprosthetic extraction 11 teeth (0.50%), orthodontic reasons 10 teeth (0.50%), supernumerary teeth 5 teeth (0.23%), malposed teeth 6 teeth (0,27%), and fractured teeth 1 teeth (0.05%). The most common patient characteristics were female 861 patients (56%), 12-25 years old age group 626 patients (41%), students 495 patients (32%), and level of educations was high school 794 pasien (52%). Conclusion: Female young adult among students or college students were the most common characteristic of patients in exodontia clinic Padjadjaran University Dental Hospital with the most common reasons for tooth extraction were Periodontal disease, caries and pulp disease.Keywords: indication; tooth extraction; caries; periodontal; pulp disease
Tingkat pengetahuan mahasiswa kedokteran gigi tentang faktor risiko karsinoma sel skuamosa rongga mulutKnowledge level of oral squamous cell carcinoma risk factors Among dental students Gostry Aldica Dohude; Cindy Audria
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.34845

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Karsinoma sel skuamosa rongga mulut (KSS) merupakan salah satu jenis tumor ganas yang berasal dari displasia jaringan lunak epitelium, hal ini ditandai dengan perubahan proliferasi sel skuamosa displastik pada permukaan lapisan epitelium yang ada di rongga mulut. Insidensi kanker mulut yang masih terus meningkat diakibatkan karena adanya perbedaan faktor risiko di berbagai negara terutama Asia. Selain faktor dari dalam (endogen) seperti genetik dan malnutrisi, faktor risiko KSS dapat berasal dari lingkungan (eksogen) yaitu paparan sinar matahari secara kronis, Human papillomavirus dan kebiasaan buruk (merokok, menyirih, mengonsumsi alkohol serta makanan dan minuman yang panas secara berlebihan). Tujuan penelitian untuk mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa program profesi tentang faktor risiko karsinoma sel skuamosa rongga mulut. Metode Jenis penelitian survei deskriptif dengan desain cross sectional. Penelitian dilakukan dengan menggunakan kuesioner online yang diberikan kepada 106 mahasiswa Program Profesi Kedokteran Gigi. Responden dipilih dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil ukur pengetahuan responden dikategorikan menjadi baik jika skor yang didapat >75%, cukup jika skor yang didapat 56-75% dan kurang jika skor yang didapat <56% dari seluruh pertanyaan. Hasil: Terdapat 47 responden (44,3%) memiliki tingkat pengetahuan baik, 42 responden (39,6%) yang memiliki pengetahuan cukup dan 17 responden (16%) yang memiliki tingkat pengetahuan kurang. Simpulan: Pengetahuan mahasiswa program profesi tentang faktor risiko KSS sudah termasuk dalam kategori baik, meskipun terdapat beberapa responden yang memiliki pengetahuan cukup hingga kurang.Kata kunci: pengetahuan; faktor risiko; karsinoma sel skuamosa; mahasiswa kedokteran gigi ABSTRACTIntroduction: Oral squamous cell carcinoma (OSCC) is a type of malignant epithelial neoplasm originating from epithelial soft tissue dysplasia, it is characterized by proliferation changes of dysplastic squamous cells on epithelium layer surface in oral cavity. In addition to internal factors such as genetics and malnutrition, risk factors of OSCC can come from the environment namely chronic sun exposure, human papillomavirus and lifestyle (smoking, betel chewing, drinking alcohol and consuming hot food and drinks). Methods: This study was a descriptive study with cross sectional design and was conducted using an online questionnaire that was given to 106 clinical dental students. Respondents were selected using simple random sampling technique. Respondents knowledge measurement results were categorized as good if the obtained score was >75%, sufficient if the obtained score was 56-75 and low if the obtained score was <56 of all questions. Results: Based on the distribution of respondents knowledge level about OSCC, 47 respondents (44.3%) had good knowledge level of OSCC, 39.6% of respondents had sufficient knowledge and 16% of respondents had low knowledge level. Conclusion: Clinical dental students knowledge about OSCC is in good category, although there were some respondents who have sufficient to less knowledge.Keywords: knowledge; risk factors; oral squamous cell carcinoma; dental students
Gambaran risiko karies anak gangguan spektrum autisme (GSA) di Yayasan Prananda pada masa pandemi COVID-19Description Caries Risk of Children with Autism Disorders (ASD) at Prananda Institution During Pandemic COVID-19 Bani Gidel; Sri Susilawati; Inne Suherna Sasmita
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i2.34272

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Anak dengan gangguan spektrum autisme (GSA) termasuk ke dalam kelompok berisiko terjadinya penyakit karies gigi karena kesulitan menjaga kebersihan gigi dan mulut sendiri. Karies gigi merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh demineralisasi email dan dentin yang erat hubungannya dengan konsumsi makanan yang kariogenik Salah satu upaya yang dapat dilakukan dalam menanggulangi masalah karies yaitu dengan penilaian risiko karies. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui risiko karies anak GSA pada masa pandemi COVID-19 agar dapat melakukan perawatan dan pencegahan dini. Metode: Jenis penelitian deskriptif dengan teknik survei. Sampel sebanyak 16 anak GSA dengan teknik pengambilan sampel dengan cara total sampling dan menggunakan kuesioner risiko karies dari The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD). Data diolah dengan distribusi frekuensi dan disajikan dalam bentuk tabel. Penelitian dilakukan pada anak usia 6-12 tahun di Yayasan Prananda Kota Bandung dengan menggunakan kuesioner. Hasil: Terdapat 16 responden pada anak GSA usia 6-12 tahun menunjukkan bahwa risiko karies anak pada masa pandemi COVID-19 yaitu 25 % risiko tinggi, 18,75% risiko sedang, 56,25% risiko rendah. Simpulan: Sebagian besar risiko karies anak GSA usia 6-12 tahun pada masa pandemi COVID-19 berisiko karies rendah.Kata kunci: penilaian risiko karies; anak; gangguan spektrum autism; usia 6-12 tahunABSTRACT Introduction: Children with autism spectrum disorders (ASD) are at risk for caries because it is difficult to maintain their own oral and dental hygiene. Dental caries is an infectious disease caused by the demineralization of enamel and dentin, which is closely related to the consumption of cariogenic foods. One of the efforts that can be done to overcome the problem of caries is caries risk assessment. This study aimed to determine the risk of caries for ASD children during the COVID-19 pandemic so early treatment and prevention can be carried out. Methods: This research method is descriptive with survey techniques. The sample was 16 children with ASD (Autistic Syndrome Disorder) with a sampling technique or total sampling using the caries risk questionnaire from Permenkes 89 of 2015. The data was processed with frequency distribution and presented in table form. The research was conducted on children aged 6-12 years at the Prananda Institution in Bandung using a questionnaire. Results: The study showed that 16 respondents with ASD children aged 6-12 years showed that the risk of caries in children during the COVID-19 pandemic was 25 % high, 18.75 % moderate, and 56.25 % low. Conclusion: The risk of caries for ASD children aged 6-12 years n during the COVID-19 pandemic has low risk of caries.Keywords: caries risk assessment; children; autism disorder; aged 6-12 year