cover
Contact Name
Cecilia Soeriawidjaja
Contact Email
cecilia.soeriawidjaja@unpad.ac.id
Phone
-
Journal Mail Official
jurnal.fkg@unpad.ac.id
Editorial Address
-
Location
Kota bandung,
Jawa barat
INDONESIA
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran
ISSN : 08546002     EISSN : 25496514     DOI : -
Core Subject : Health,
Bidang cakupan Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran adalah semua bidang ilmu kedokteran gigi, yaitu biologi oral; ilmu dan teknologi material gigi; bedah mulut dan maksilofasial; pedodonsia; ilmu kesehatan gigi masyarakat, epidemiologi, dan ilmu kedokteran gigi pencegahan; konservasi gigi, endodontik, dan kedokteran gigi operatif; periodonsia; prostodonsia; ortodonsia; ilmu penyakit mulut; radiologi kedokteran gigi dan maksilofasial; serta perkembangan dan ilmu kedokteran gigi dari pendekatan ilmu lainnya.
Arjuna Subject : -
Articles 483 Documents
Keberhasilan perawatan kombinasi lesi endo-perio pada gigi insisivus sentral dengan kegoyangan derajat 3Successful treatment of combined endo-perio lesions in central incisors with grade 3 mobility Trijani Suwandi; Karina Natalie Kuntjoro; Joceline Angela Tjandrawinata
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.38239

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Lesi endo-perio cukup sering ditemukan pada praktik kedokteran gigi. Lesi endo-perio merupakan lesi akibat produk inflamasi yang ditemukan pada jaringan pulpa dan periodontal secara bersamaan. Keterlibatan masalah pulpa dan periodontal dapat mempersulit diagnosis dan rencana perawatan. Perawatan lesi endo-perio dapat dirawat tanpa bedah. Tujuan dari laporan kasus ini adalah untuk memperlihatkan keberhasilan perawatan inisial lesi endo-perio pada gigi 11 dengan kegoyangan derajat 3. Laporan kasus: Pasien perempuan berusia 40 tahun dengan periodontitis kronis menyeluruh diikuti dengan lesi endo-perio pada gigi 11 diperberat plak dan kalkulus. Dilakukan gabungan antara perawatan endodontik dan periodontal pada pasien tersebut. Perawatan inisial periodontal terdiri dari kontrol plak, skeling, penghalusan akar, penyesuaian oklusal, splinting intrakoronal dengan Fibre Reinforced Composite (FRC), dan terapi antimikroba, lalu diikuti perawatan endodontik. Setelah 2 tahun perawatan, didapatkan hasil yang baik ditandai dengan tidak ada lagi inflamasi, gigi tidak goyang, serta pengurangan kedalaman poket. Simpulan: Keberhasilan perawatan lesi endo-perio dapat dicapai dengan perawatan periodontal fase inisial dan perawatan endodontik yang memadai.Kata kunci: lesi endo-perio; goyang derajat 3; perawatan lesi endo-perioABSTRACTIntroduction: Combined endodontic and periodontic lesions are common in dental practice. Endo-perio lesions are lesions due to inflammatory products found in the pulp and periodontal tissues simultaneously. The involvement of inflammatory periodontal disease and pulpal problems can complicate diagnosis and treatment planning. Endodontic-periodontic lesions can be treated non-surgically. This case report was aimed to show the successful treatment of endodontic-periodontic lesions on tooth 11 with 3rd degree of mobility. Case Report: A 40 years old female with chronic generalized periodontitis followed by endodontic-periodontic lesion on upper anterior tooth worsened by plaque and calculus. She received initial periodontal treatment with adequate endodontic treatment and usage of local antimicrobial metronidazole gel. The initial periodontal treatment consists of plaque control, scaling and root planning, occlusal adjustment, intra coronal splinting with Fibre-Reinforced Composite (FRC), and antimicrobial therapy, then followed by endodontic treatment. After 2 years of treatment, a significant amount of bone fill of the treated tooth and pocket depth reduction can be observed on the patient. Conclusion: Successful treatment of endodontic-periodontic lesion can be achieved by adequate comprehensive initial periodontal and endodontic treatment.Keywords: endodontic-periodontic lesion; 3rd degree of mobility; endodontic-periodontic treatment
Pola kehilangan gigi berdasarkan klasifikasi Kennedy serta penyebab utama kehilangan gigi pada rahang atas atau rahang bawah usia dewasa mudaEdentolous patterns according to Kennedy’s classification and the main cause of young adults tooth loss in the maxilla or mandible Gina Ayu Puspitasari; Lisda Damayanti; An-Nissa Kusumadewi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.43786

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kehilangan gigi sebagian dapat terjadi pada semua kelompok usia termasuk diantaranya usia dewasa muda. Ruang yang ditinggalkan oleh hilangnya gigi membentuk suatu pola dan dapat diklasifikasikan berdasarkan klasifikasi Kennedy. Berbagai penyebab kehilangan gigi dapat terjadi pada kelompok usia dewasa muda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola kehilangan gigi berdasarkan klasifikasi Kennedy serta penyebab utama kehilangan gigi pada rahang atas atau rahang bawah usia dewasa muda. Metode: Penelitian ini adalah penelitian survei deskriptif dengan desain cross-sectional pada mahasiswa Program Studi Sarjana angkatan 2017 sampai 2020 dan Program Studi Profesi angkatan 2019 sampai 2020 Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran, yang berusia antara 18 sampai 24 tahun dan berjenis kelamin perempuan atau laki-laki. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive non-random sampling. Sampel dihitung untuk setiap rahang atas atau bawah sehingga didapatkan 87 rahang. Data yang diperoleh melalui pengisian kuesioner berupa google form dan foto intraoral kemudian dianalisis menggunakan program komputer Microsoft Excel 2016. Hasil: Pola kehilangan gigi tertinggi adalah kelas III Kennedy sebesar 65,52%. Kelas III Kennedy menjadi mayoritas pada perempuan sebesar 55,17% dan pada laki-laki sebesar 10,35%. Kelas III Kennedy menjadi mayoritas pada kelompok usia 18 hingga 20 tahun sebesar 25,29% dan kelompok usia 21 hingga 24 tahun sebesar 40,23%. Simpulan: Pola kehilangan gigi berdasarkan klasifikasi Kennedy pada rahang atas atau rahang bawah usia dewasa muda, mayoritas adalah kelas III Kennedy dengan penyebab utama kehilangan gigi adalah karies.Kata kunci: kehilangan gigi sebagian; klasifikasi Kennedy; dewasa muda ABSTRACTIntroduction: Partial edentulous can occur in all age groups, including young adults. The space left by tooth loss forms a pattern and can be classified according to Kennedy’s classification. Various causes of tooth loss can occur in young adults. This study aims to find the patterns of edentulous based on Kennedy’s classification and the leading cause of tooth loss in young adulthood’s upper or lower jaw. Methods: This study was a descriptive survey with a cross-sectional design on undergraduate students from 2017 to 2020 and clinical students from 2019 to 2020 at the Faculty of Dentistry, Padjadjaran University, who were between 18 to 24 years old and were either female or male. The sampling technique used purposive non-random sampling. The sample was calculated for each upper or lower jaw so that 87 jaws were obtained. The data was obtained from the questionnaire in the google form and intraoral photos. The computer program Microsoft Excel 2016 was used for data analysis. Results: The highest pattern of tooth loss was Kennedy’s class III at 65,52%. Kennedy’s class III became the majority in women at 55,17 and 10,35% in men. Kennedy’s class III became the majority in the 18 to 20 age group at 25,29 and 40,23% in the 21 to 24 age group. Conclusion: The majority of tooth loss patterns in young adulthood’s upper lower jaw was Kennedy’s class III, with the leading cause of partial tooth loss being caries.Keywords: partial edentulous; kennedy’s classification; young adult
Evaluasi Hubungan Perubahan Sudut I-NA dengan Tinggi Puncak Tulang Alveolar Empat Gigi Insisif Rahang Atas Sesudah Perawatan Ortodonti pada Kasus Retraksi Empat Gigi AnteriorEvaluation of the Relationship between I-NA Angle Changes and the Height of Alveolar Bone Crest of the Four Upper Incisors After Orthodontic Treatment in Four Anterior Teeth Retraction Cases Riri Febrina; Ida Ayu Evangelina; Avi Laviana; Endah Mardiati
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.43882

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Perawatan ortodonti cekat dengan retraksi gigi anterior rahang atas dapat menyebabkan penurunan tinggi puncak tulang alveolar, karena setiap pergerakan gigi menimbulkan proses resorbsi dan aposisi tulang, bila proses resorbsi lebih besar maka dapat terjadi penurunan puncak tulang alveolar. Besarnya retraksi empat gigi insisif rahang atas dapat dinilai dengan mengukur sudut I-NA. Kaitan antara besarnya retraksi dengan perubahan tinggi puncak tulang alveolar perlu dievaluasi. Metode: Metode penelitian ini adalah penelitian analitik komparatif yang melihat  hubungan antara perubahan sudut I-NA dengan tinggi puncak tulang alveolar empat gigi insisif rahang atas sesudah perawatan ortodonti pada kasus retraksi empat gigi anterior. Sampel pada penelitian ini berjumlah 38 sampel dari pasien dengan maloklusi Kelas I dan II. Pengukuran tinggi puncak tulang alveolar dilakukan pada gambaran radiografi panoramik digital dengan menggunakan software Image J dan plugin dari Preus. Perubahan sudut I-NA didapatkan dari analisis sefalometri metode Steiner pada rekam medik. Hasil: Hasil analisis t-test berpasangan memperlihatkan bahwa tinggi puncak tulang alveolar empat gigi insisif rahang atas sesudah perawatan ortodonti pada kasus retraksi empat gigi anterior mengalami perubahan signifikan (p<0,05) berupa penurunan dengan rerata rasio 0,024, dibandingkan dengan tinggi tulang alveolar sebelum perawatan. Hasil analisis korelasi Pearson memperlihatkan bahwa hubungan antara perubahan sudut I-NA dan penurunan puncak tulang alveolar empat gigi insisif rahang atas tidak signifikan (p>0,05). Simpulan: Tinggi puncak tulang alveolar empat gigi insisif rahang atas mengalami penurunan yang signifikan sesudah perawatan ortodonti pada kasus retraksi empat gigi anterior. Perubahan sudut I-NA tidak berhubungan tinggi puncak tulang alveolar empat gigi insisif rahang atas.Kata kunci: alveolar; insisif; software; retraksi; ortodonti; panora ABSTRACTIntroduction: Fixed orthodontic treatment with anterior maxillary teeth retraction can cause a decrease in the height of the alveolar bone crest. Bone resorption and apposition are caused by tooth movement; if the resorption process is more significant than apposition, there can be a decrease in the height of the alveolar bone crest. The magnitude of the retraction of the four maxillary incisors can be assessed by measuring the I-NA angle. The relationship between the magnitude of retraction and the alveolar crest height changes needs to be evaluated. Methods: This research method is a comparative analysis to study the relationship between the changes in I-NA angle and the height of the alveolar bone crest of the four maxillary incisors after orthodontic treatment with four anterior teeth retraction. The 38 samples from patients with Class I and II malocclusion were obtained. The height of the alveolar bone was measured on a digital panoramic radiograph using Image J software and a plugin from Preus, and the changes in the I-NA angle were measured with the Steiner cephalometric analysis. Results: The results of paired t-test analysis showed that the height of the alveolar bone crest of the four maxillary incisors after orthodontic treatment with four maxillary incisors retraction experienced a significant change (p<0.05) in the form of a decrease with a mean ratio of 0.024, compared to the alveolar bone height before treatment. The results of Pearson correlation analysis showed that the relationship between changes in the I-NA angle and the decrease in the alveolar crest of the four maxillary incisors was not significant (p>0.05). Conclusion: The height of the alveolar bone crest of the four maxillary incisors decreased significantly after orthodontic treatment in the retraction of the four anterior teeth. Changes in the I-NA angle were not related to the height of the alveolar crest of the four maxillary incisors.Keywords :  alveolar; incisor;  software;  retraction;  orthodontic ; panoramic
Uji antibakteri ekstrak daun singkong (manihot esculenta crantz) terhadap fusobacterium nucleatum dan aggregatibacter actinomycetemcomitans Antibacterial activity test of cassava leaves extract (manihot esculenta crantz) against fusobacterium nucleatum and aggregatibacter actinomycetemcomitans Zahara Meilawaty; Amandia Dewi Permana Shita; Rendra Chriestedy Prasetya; Agustin Wulan Suci Dharmayanti; Rido Tri Andika Firdyansyach; Dhea Ayu Dewanti
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.37875

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Prevalensi periodontitis di Indonesia masih terbilang tinggi. Data Riskesdas 2018 menunjukkan persentase kasus periodontitis di Indonesia sebesar 74,1%. Periodontitis merupakan penyakit inflamasi pada jaringan periodontal yang disebabkan oleh mikroorganisme spesifik seperti Fusobacterium nucleatum dan Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Perawatan suportif menggunakan antibiotik, seperti metronidazole, diperlukan dalam perawatan periodontitis tetapi penggunaan antibiotik dapat memberikan efek samping sehingga perlu digantikan oleh tanaman herbal yang memiliki efek samping minimal, yaitu daun singkong (Manihot esculenta crantz). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis daya antibakteri ekstrak daun singkong terhadap Fusobacterium nucleatum dan Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Metode: Jenis penelitian in vitro experimental laboratories dengan rancangan penelitian post test only control group design. Daun singkong yang sudah teridentifikasi di ekstrak dengan metode maserasi. Ekstrak kasar yang didapatkan kemudian dijadikan ke dalam beberapa dosis (6,25; 12,5; 25; 50; 100; dan 200 µg/mL). Kelompok dosis tersebut kemudian diuji menggunakan metode disk diffusion dan dibandingkan dengan kontrol positif yaitu metronidazole dan kontrol negatif yaitu propilen glikol.Data hasil penelitian diuji normalitasnya menggunakan uji Shapiro Wilk dan uji homogenitas menggunakan Levene test. Selanjutnya dilakukan uji Mann Whitney untuk melihat perbedaan antara dua kelompok sampel. Hasil: Terdapat zona jernih pada sekeliling kertas cakram dengan ekstrak daun singkong dosis 200 µg/mL yang menandakan adanya hambatan pertumbuhan dari F. nucleatum dan A. actinomycetemcomitans. Hasil statistik terlihat adanya perbedaan yang bermakna antara kelompok ekstrak daun singkong dosis 200 µg/mL dan kontrol positif (p=0,009) untuk F. Nucleatum, dan p=0,05 untuk A. actinomycetemcomitans. Simpulan: Ekstrak daun singkong dapat menghambat pertumbuhan dari F. nucleatum dan A. actinomycetemcomitans.Kata kunci: ekstrak daun singkong; fusobacterium nucleatum; aggregatibacter actinomycetemcomitans; antibakteriABSTRACTIntroduction: The prevalence of periodontitis in Indonesia is relatively high. The 2018 RISKESDAS data shows that the percentage of periodontitis cases in Indonesia is 74.1%. Periodontitis is an inflammatory disease of the periodontal tissue caused by specific microorganisms or groups of microorganisms such as Fusobacterium nucleatum and Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Supportive care using antibiotics, such as metronidazole, is required to treat periodontitis. However, antibiotics can have side effects, so they need to be replaced by herbal plants with minimal side effects, namely cassava leaves (Manihot esculenta Crantz). This study aims to analyze the antibacterial effect of cassava leaf extract against Fusobacterium nucleatum and Aggregatibacter actinomycetemcomitans. Methods: This study was an in vitro laboratory experimental study with a post-test only control group design. The identified cassava leaves were extracted by the maceration method. The crude extract obtained was then made into several doses. The dose group was then tested using the disk diffusion method and compared with the positive control, metronidazole, and the negative control, propylene glycol.The research data were tested for normality using the Shapiro Wilk test and the homogeneity test using the Levene test. Then the Mann Whitney test was carried out to see the difference between the two sample groups Results: The results showed a clear zone around the disc paper with a 200 µg/ml dose of cassava leaf extract, which indicates the growth inhibition of F. nucleatum and A. actinomycetemcomitans. The statistical results showed a significant difference between the 200 µg/ml group and the positive control(p= 0,009 for F. Nucleatum; p=0,05 for A. actinomycetemcomitans). Conclusion: Cassava leaves extract can inhibit the growth of F. nucleatum and A. actinomycetemcomitans.Keywords: cassava leaf extract; fusobacterium nucleatum; aggregatibacter actinomycetemcomitans; antibacterial 
Efek pemberian astaxanthin (Haematococcus pluvialis) terhadap ukuran diameter pada model ulkus traumatikusThe effect of astaxanthin (Haematococcus pluvialis) on diameter measurement in traumatic ulcer model Anastasia Natasa Aripin; Dwi Andriani; Meinar Nur Ashrin
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.38504

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Prevalensi ulser rongga mulut di Indonesia tinggi (96,6%). Astaxanthin yang berasal dari mikroalga hijau Haematococcus pluvialis merupakan salah satu alternatif pengobatan ulser karena adanya sifat antioksidan yang tinggi dan efek anti inflamasinya. Tujuan penelitian menganalisis pengaruh efektivitas pemberian astaxanthin terhadap selisih ukuran diameter ulser hari ke-1 dan hari ke-3 pada model ulkus traumatikus. Metode: Sampel 30 ekor tikus putih Wistar dibagi secara acak menjadi 5 kelompok penelitian yang diberi perlakuan ulkus traumatikus kemudian di terapi selama 3 hari sesuai dengan kelompok masing-masing: K- (kelompok kontrol yang diberi basis gel); K+ (kelompok kontrol yang diberi asam hialuronat); P1 (pemberian astaxanthin 0,1%); P2 (pemberian astaxanthin 0,5%); P3 (pemberian astaxanthin 1%). Data hasil penelitian selanjutnya dilakukan uji one way ANOVA dan dilanjutkan dengan uji Post Hoc LSD dengan p=0,05. Hasil: Hasil analisis uji parametrik One Way ANOVA menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) diameter ulser pada hari ke-1 dan hari ke-3. Uji Post Hoc LSD menunjukkan terdapat perbedaan bermakna (p<0,05) antara K- (5,300 ± 2,832) dibandingkan dengan K+ (2,297 ± 1,045), P1(1,740 ± 1,168), P2(1,993 ± 0,738), dan P3 (2,448 ± 1,320). Simpulan: Terdapat pengaruh pemberian astaxanthin gel dalam menurunkan selisih diameter ulser pada hari ke-1 dan hari ke-3 terhadap proses penyembuhan ulkus traumatikus.Kata kunci: antiinflamasi; astaxanthin; haematococcus pluvialis; ulkus traumatikusABSTRACTIntroduction: The prevalence of traumatic ulcers in Indonesia is high (96,6%). Astaxanthin, derived from the green microalgae Haematococcus Pluvialis, is one of the alternative treatments for ulcer healing due to its potent antioxidant and anti-inflammatory effect. This study aimed to analyze astaxanthin’s effectiveness on the difference in the diameter of the ulcer on day 1 and day 3 in a traumatic ulcer model. Methods: Samples of 30 Wistar rats were randomly divided into 5 groups which were treated with traumatic ulcers and then treated for 3 days according to their respective groups: K- (control group given gel base); K+ (control group given hyaluronic acid); P1 (application of 0.1% astaxanthin); P2 (application of 0.5% astaxanthin); P3 (application of 1% astaxanthin). The data results were then carried out with one way ANOVA test, and the Post Hoc LSD test proceeded with p=0,05. Results: The statistical parametric test using One Way ANOVA showed a significant difference (p<0,05) in the diameter ulcer on day 1 and day 3. Post Hoc LSD test showed a significant difference (p<0,05) between K- (5,300  ± 2,832) compare to K+ (2,297 ± 1,045), P1(1,740 ± 1,168), P2(1,993 ± 0,738), and P3 (2,448 ± 1,320). Conclusions: There is an effect of giving astaxanthin gel in reducing the difference in the diameter of the ulcer on day 1 and day 3 on the healing process of traumatic ulcer.Keywords: anti-inflammatory; astaxanthin; haematococcus pluvialis; traumatic ulcer
Indeks karies dan asupan gizi pada anak stuntingCaries index and nutritional intake of stunted children Tedy Alfian Normansyah; Dyah Setyorini; Roedy Budirahardjo; Berlian Prihatiningrum; Surartono Dwiatmoko
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.34080

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Stunting merupakan ketidakcukupan asupan gizi yang bersifat kronis pada 1000 hari pertama kelahiran, yang dipresentasikan dengan tinggi badan menurut umur berada di bawah -2SD  dari standar median WHO. Stunting dikategorikan menjadi kategori pendek (Z-Score -2 SD) dan sangat pendek (Z-Score -3 SD). Stunting menyebabkan berbagai masalah yang berkaitan dengan rongga mulut, yaitu memengaruhi waktu erupsi gigi susu, atrofi perkembangan kelenjar saliva, flow saliva menurun dan akan semakin meningkatkan risiko terjadinya karies gigi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan indeks karies anak stunting dengan menggunakan indeks def-t dan mengetahui asupan gizi pada anak stunting. Metode: Penelitian observasional deskriptif dengan pendekatan cross sectional, menggunakan purposive sampling dengan sampel 46 anak stunting berusia 24-60 bulan. Teknik pengambilan data indeks karies menggunakan indeks def-t dan asupan gizi menggunakan kuesioner.Teknik analisis data menggunakan deskriptif untuk deft dan asupan gizi. Klasifikasi indeks karies berdasarkan WHO dan untuk asupan gizi berdasarkan angka kecukupan gizi (AKG). Hasil: Sebanyak 24 anak (53,3%) dengan indeks karies sangat tinggi, 8 anak (17,8%) dengan indeks karies tinggi, 5 anak (11,1%) dengan indeks karies sedang, 3 anak (6,7%) dengan indeks karies rendah, dan 5 anak (11,1%) dengan indeks karies sangat rendah. Hasil pemetaan asupan gizi didapatkan pada anak stunting menunjukkan angka kurang dengan persentase masing-masing asupan gizi yaitu Vitamin A (51,1%), Kalsium (62,2%), Zat Besi (68,9%), Zinc (55,6%), Protein (57,8%), dan asupan Fosfor (68,9%). Simpulan: Indeks karies def-t pada anak stunting termasuk ke dalam kategori tinggi. Asupan gizi yang dikonsumsi oleh anak stunting menunjukkan hasil kurang.Kata kunci: stunting; indeks karies; asupan gizi, def-t, angka kecukupan giziABSTRACTIntroduction: Stunting is a chronic insufficiency of nutritional intake in the first 1000 days of birth, which is represented by height for age below minus 2 Standard Deviations (<-2SD) from the WHO median standard. Stunting was categorized into short category with Z-Score -2 SD and very short with Z-Score -3 SD. Stunting causes various problems related to the oral cavity, affecting the time of eruption of milk teeth, atrophy of salivary gland development, decreased salivary flow, and further increased risk of dental caries. This study aims to obtain the caries index of stunted children using the def-t index and determine the nutritional intake of stunted children. Methods: The type of research used is descriptive observational with a cross sectional approach, with a sampling technique that is purposive sampling as many as 46 stunting children aged 24-60 months. Results: A total of 24 children (53.3%) with very high caries index, 8 children (17.8%) with high caries index, 5 children (11.1%) with moderate caries index, 3 children (6.7%) ) with low caries index, and 5 children (11.1%) with very low caries index. The results of the mapping of nutritional intake showed that the nutritional intake of stunted children showed a lack of percentage of each nutrient intake, namely Vitamin A (51.1%), Calcium (62.2%), Iron (68.9%), Zinc ( 55.6%), Protein (57.8%), and Phosphorus intake (68.9%). Conclusion: The caries index def-t in stunted children is 6.51 which is in the high category according to WHO. The nutritional intake consumed by stunting children showed fewer results.Keywords: stunting; caries index; nutritional intake; def-t; AKG
Tingkat pengetahuan dan pengalaman dokter gigi di Kota Bandung dalam penanganan darurat fraktur dentoalveolarKnowledge and experience level of dentists in the emergency management of dentoalveolar fractures Refiga Andistiara; Endang Sjamsudin; Abel Tasman Yuza
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 34, No 3 (2022): Desember 2022
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v34i3.39360

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Fraktur dentoalveolar merupakan trauma yang paling umum terjadi pada wajah dibandingkan dengan semua trauma yang terjadi pada wajah. Fraktur dentoalveolar memiliki dampak buruk bagi pasien jika tidak diberikan perawatan yang memadai. Perawatan fraktur dentoalveolar merupakan prosedur kompleks yang butuh pengetahuan, diagnosis, dan rencana perawatan yang akurat dari seorang dokter gigi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengetahuan dan pengalaman dokter gigi dalam penanganan darurat fraktur dentoalveolar. Metode: Jenis penelitian cross-sectional  dengan teknik pengambilan sampel proportionate stratified random sampling. Penelitian dilakukan terhadap 306 responden yaitu dokter gigi umum, dokter gigi residen, dan dokter gigi spesialis di Kota Bandung. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner dengan 15 pertanyaan untuk mengukur pengetahuan dan 3 pertanyaan untuk mengetahui pengalaman dokter gigi. Analisis data menggunakan Microsoft excel dan disajikan dalam bentuk tabel, tingkat pengetahuan menggunakan kategori Arikunto. Hasil: Untuk tingkat pengetahuan, sebanyak 3 responden (1%) memiliki tingkat pengetahuan kurang, 78 responden (25%) pada kategori cukup, dan 225 responden (75%) pada kategori baik. Pengalaman dokter gigi dalam menemukan kasus fraktur dentoalveolar 1-5 kali selama praktik, pengalaman tindakan yang dilakukan adalah perdarahan dihentikan lalu segera dirujuk, dan mayoritas dokter gigi tidak pernah mengikuti pelatihan darurat fraktur dentoalveolar. Simpulan: Tingkat pengetahuan dokter gigi di Kota Bandung dalam penanganan darurat fraktur dentoalveolar secara keseluruhan berada dalam kategori baik. Pengalaman dokter gigi dalam menjumpai kasus fraktur dentoalveolar cukup sedikit selama praktik dengan kasus terbanyak menghentikan perdarahan dan segera dirujuk serta tanpa adanya pengalaman dalam mengikuti pelatihan perawatan fraktur dentoalveolar.Kata kunci: fraktur dentoalveolar; pengetahuan dokter gigi; pengalaman dokter gigi; cedera gigi traumatis ABSTRACTIntroduction: Dentoalveolar fractures are the most common trauma compared to all traumas to the face. It harms the patient if they do not have adequate treatment. Dentoalveolar fractures are a complex procedure requiring a dentist knowledge, diagnosis, and an accurate treatment plan. This study aimed to determine dentist knowledge and experience level in emergency management of dentoalveolar fractures. Methods: Cross-sectional using a proportionate stratified random sampling technique. The study was conducted on 306 respondents, namely general dentists, resident dentists, and specialist dentists in Bandung. The research used a questionnaire with 15 questions to measure knowledge and 3 questions to determine the experience of dentists. Data analysis was performed using Microsoft Excel and presented as a frequency distribution table. the level knowledge categorized using arikunto. Results: For the level of knowledge, as many as 3 respondents (1%) had a low level of knowledge, 78 respondents (25%) in the good category, and 225 respondents (75%) in the good category. When dentist found cases of dentoalveolar fracture 1-5 times during practice, dentists stopped bleeding and referred immediately, but most dentists never participated in emergency dentoalveolar fracture training. Conclusion: Bandung Dentists’ knowledge in handling dentoalveolar fractures is good. The experience of dentists in cases of dentoalveolar fractures is relatively small during practice, with most cases stopping bleeding and referred immediately without any experience participating in dentoalveolar fracture treatment training.Keywords: Dentoalveolar fracture; dentist knowledge; dentist experience; traumatic dental injury
Perbedaan panjang palatum lunak, kedalaman nasofaring, dan Need’s ratio pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal Nadya Okta Mulyani; Mimi Marina Lubis
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i1.38911

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Kasus celah palatum, pembesaran adenoid, Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS), serta maloklusi skeletal kraniofasial sering disertai disfungsi palatum lunak. Penelitian menunjukkan panjang palatum lunak pada laki-laki secara signifikan lebih besar dibanding perempuan, namun tidak ada perbedaan yang signifikan dari kedalaman nasofaring serta Need’s ratio antara laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan panjang palatum lunak dan kedalaman nasofaring (Need’s ratio) pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal, serta perbandingannya antara laki-laki dan perempuan. Metode: Penelitian observasional analitik cross sectional dan menggunakan uji hipotesis dengan sampel sefalogram lateral pasien pada usia 16-40 tahun. Subjek maloklusi skeletal diperoleh melalui pengukuran berdasarkan metode Steiner, kemudian dilakukan pengukuran panjang palatum lunak dan kedalaman nasofaring, serta perhitungan nilai Need’s ratio menggunakan aplikasi Corel-Draw X8. Hasil: Tipe palatum lunak yang paling umum ditemukan pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal adalah tipe Leaf shaped. Analisis data dengan uji ANOVA menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan pada panjang palatum lunak (p=0,054), kedalaman nasofaring (p=0,617), dan Need’s ratio (p=0,229) antara maloklusi klas I, II, dan III skeletal. Hasil uji t-independent menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan pada panjang palatum lunak antara laki-laki dan perempuan (p=0,002), akan tetapi tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada kedalaman nasofaring (p=0,179) dan Need’s ratio (p=0,130) antara laki-laki dan perempuan. Simpulan: Panjang palatum lunak, kedalaman nasofaring, dan Need’s ratio tidak berbeda pada maloklusi klas I, II, dan III skeletal, Sedangkan antara laki-laki dan perempuan yang berbeda hanya panjang palatum lunak.Kata Kunci : gigi artifisial akrilik; ekstrak kulit manggis; stabilitas warna.Kata Kunci : palatum lunak, nasofaring, Need’s ratio, maloklusiThe differences of soft palate length, nasopharyngeal depth, and need’s ratio in class I, II, and III skeletal malocclusion  ABSTRACTIntroduction: Cases of cleft palate, adenoid enlargement, Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS), and craniofacial skeletal malocclusion often accompanied by soft palate dysfunction. Research found the soft palate length in men is significantly higher than women. No significant differences were found in nasopharyngeal depth and Need’s ratio between men and women. The aim of this study is to determine the differences of soft palate length, nasopharyngeal depth, and Need’s ratio in class I, II, and III skeletal malocclusion and its differences between men and women. Method: This research was analytic observational with cross-sectional method using patient’s lateral cephalograms between 16 to 40 years old. The sample in lateral cephalogram were obtained and classified through measurement based on Steiner method. The calculation were determined using Corel-Draw X8 software.  Result: The most common type of soft palate found was leaf shaped type. Data analysis using ANOVA test showed there was no significant differences in the length of soft palate (p=0,054), the depth of nasopharynx (p=0,617), and the Need’s ratio (p=0,229) between class I, II, and III skeletal malocclusion. The result of independent T-test showed there was a significant difference in the length of soft palate between men and women (p=0,002). However, there was no significant difference in nasopharyngeal depth (p=0,179) and Need’s ratio (p=0,130) between men and women. Conclusion: Soft palate length, nasopharyngeal depth, and Need’s ratio had no significant difference in class I, II and III skeletal malocclusion, but there was a significant difference in soft palate length between men and women.Keywords: soft palate, nasopharynx, Need’s ratio, malocclusion
Daya antibakteri ekstrak buah okra hijau (Abelmoschus esculentus) terhadap Streptococcus mitis Safrida Nur Islamiah Ika Putri; Sri Lestari; Supriyadi Supriyadi
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i1.40921

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Streptococcus mitis (S.mitis) adalah bakteri yang dominan ditemukan pada infeksi saluran akar primer dan sangat berkaitan dengan rasa nyeri. Irigasi merupakan suatu langkah penting dalam mengeliminasi bakteri pada saluran akar yang terinfeksi. Penggunaan NaOCl 2,5% sebagai bahan irigasi memiliki beberapa kekurangan, diantaranya adalah bersifat toksik dan iritatif, sehingga diperlukan alternatif yang lebih aman. Ekstrak buah okra hijau berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif karena memiliki kandungan flavonoid, alkaloid, saponin, tanin dan terpenoid yang bersifat antibakteri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui daya antibakteri ekstrak buah okra hijau terhadap pertumbuhan S.mitis. Metode: Jenis penelitian adalah eksperimental laboratoris dengan desain posttest-only control group design. Uji antibakteri dilakukan dengan metode disk diffusion, menggunakan 4 kelompok perlakuan yaitu ekstrak buah okra hijau konsentrasi 1,563, 3,125, 6,25, 12,5 dan NaOCl 2,5%. Hasil penelitian dianalisis menggunakan uji nonparametrik Kruskal Wallis dan Mann Whitney (α=0,05). Hasil: Rerata diameter zona hambat yang terbentuk pada ekstrak buah okra hijau konsentrasi 1,563% (0 mm), 3,125% (0 mm), 6,25% (14,68 mm), 12,5% (18,13 mm) dan NaOCl 2,5% (23,79 mm). Uji Kruskal Wallis menunjukkan nilai p=0,001, artinya terdapat perbedaan antar semua kelompok. Uji Mann Whitney menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antar semua kelompok penelitian kecuali pada ekstrak buah okra hijau konsentrasi 1,563% dan 3,125%. Simpulan: Ekstrak buah okra hijau mempunyai daya antibakteri terhadap pertumbuhan S.mitis  pada konsentrasi 6,25% dan 12,5%, namun antibakteri ini masih lebih rendah dibanding NaOCl 2,5%. Konsentrasi 1,56% dan 3,125% belum memiliki daya antibakteri terhadap pertumbuhan S.mitis.Kata Kunci : Buah okra hijau, streptoccus mitis, daya antibakteri Antibacterial activity of green okra fruit (Abelmoschus esculentus) extract against Streptococcus mitis ABSTRACTIntroduction: Streptococcus mitis (S.mitis) is the predominant bacterium found in primary root canal infections and strongly associated with pain. Irrigation is an important step in eliminating bacteria in infected root canals. The use of 2.5% NaOCl as an irrigant has several disadvantages including being toxic and irritating. Green okra fruit extract has the potential to be used as an alternative because it contains antibacterial properties such as flavonoids, alkaloids, saponins, tannins and terpenoids. This study aimed to determine the antibacterial activity of green okra fruit extract on the growth of S.mitis. Methods: This research is an experimental laboratory research with a posttest-only control group design. Inhibition test was carried out using disk diffusion method which consisted of 4 research groups (green okra fruit extract with a concentration of 1.563%, 3.125%, 6.25%, 12.5% and NaOCl 2.5%). The results were analyzed using nonparametric test Kruskal Wallis and Mann Whitney(α=0,05). Results: The average diameter of the inhibition zone formed in the green okra fruit extract were 1.563% (0 mm), 3.125% (0 mm), 6.25% (14.68 mm), 12.5% (18.13 mm) and NaOCl. 2.5% (23.79 mm). Kruskal Wallis test showed p=0.001, means that there were differences between all groups. Mann Whitney test showed that there were significant differences between all research groups except for the green okra fruit extract at concentrations of 1.563% and 3.125%. Conclusion: Green okra fruit extract had antibacterial activity against the growth of S. mitis at concentrations of 6.25% and 12.5%, but this antibacterial was still lower than NaOCl 2,5%. Concentrations of 1.56% and 3.125%, they did not have antibacterial activity against the growth of S. mitis.Keywords: green okra, fruit extract, streptococcus mitis, antibacterial
Pengaruh perendaman gigi artifisial akrilik dalam ekstrak kulit manggis dan klorheksidin terhadap stabilitas warna Muthiah Izni Afifah lubis; Siti Wahyuni
Jurnal Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran Vol 35, No 1 (2023): April 2023
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkg.v35i1.41112

Abstract

ABSTRAKPendahuluan: Gigi artifisial akrilik berbahan dasar resin akrilik memiliki fungsi estetis yang sangat diperhatikan dan harus selalu dijaga kebersihannya. Ekstrak kulit manggis 15% dan klorheksidin 0,2% dapat digunakan sebagai bahan pembersih gigi tiruan.  Tujuan penelitian ini bertujuan untuk menganalisis apakah ada pengaruh perendaman gigi artifisial akrilik dalam ekstrak kulit manggis 15% dan klorheksidin 0,2% selama 1 tahun dan 2 tahun terhadap stabilitas warna. Metode: Jenis penelitian ini adalah eksperimental laboratoris. Sampel yang digunakan adalah gigi artifisial akrilik yang ditanam pada basis gigi tiruan akrilik berukuran 20x20x6 mm. Total sampel yang digunakan sebanyak 30 sampel untuk setiap uji dibagi atas tiga kelompok yaitu, ekstrak kulit manggis 15%, klorheksidin 0,2% dan akuades. Pengujian stabilitas warna menggunakan colorimeter CS-10. Pengaruh perendaman antar kelompok dianalisis dengan menggunakan uji Kruskal Wallis dan ANOVA satu arah dan dilanjutkan dengan uji Mann Whitney dan Least Significant Different (LSD), serta pengaruh lama perendaman dianalisis dengan menggunakan uji T independen. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan pengaruh yang signifikan pada perendaman gigi artifisial akrilik dalam setiap kelompok selama 1 tahun dan 2 tahun terhadap stabilitas warna (p<0,05) dan hasil uji T independen didapatkan bahwa ada pengaruh lama perendaman gigi artifisial akrilik yang signifikan antara 1 tahun dan 2 tahun dalam setiap kelompok terhadap stabilitas warna (p<0,05). Simpulan: Stabilitas warna gigi artifisial akrilik yang direndam selama 1 tahun dan 2 tahun pada kelompok ekstrak kulit manggis 15% lebih baik dibandingkan dengan kelompok klorheksidin 0,2%.Kata Kunci : gigi artifisial akrilik; ekstrak kulit manggis; stabilitas warnaEffect of immersion acrylic artificial teeth in mangosteen peel extract and chlorhexidine on color stabilityABSTRACT  Introduction: Acrylic artificial teeth are based on acrylic resin, have a great importance to aesthetic function and must always be kept clean. Aim: This study aims to determine whether there is an effect of immersion acrylic artificial teeth in 15% mangosteen peel extract and 0.2% chlorhexidine for 1 year and 2 years on color stability. Methods: This type of research is an experimental laboratory. The sample used was an acrylic artificial tooth implanted on an acrylic denture base measuring 20x20x6 mm. The total sample used was 30 samples for each test divided into three groups that is, 15% mangosteen peel extract, 0.2% chlorhexidine and distilled water. Color stability testing using a colorimeter CS-10. Results: The effect of immersion between groups was analyzed using the Kruskal Wallis test and one-way ANOVA and continued with the Mann Whitney and Least Significant Different (LSD) tests, and the effect of immersion time was analyzed using the independent t-test. The results showed that there was a significant difference in the effect of immersion on acrylic artificial teeth in each group for 1 year and 2 years on color stability (p<0.05) and the results of independent t-test showed that there was a significant effect of immersion time on acrylic artificial teeth between 1 year and 2 years in each group on color stability (p<0.05). Conclusion: The color stability of acrylic artificial teeth immersed for 1 year and 2 years in the 15% mangosteen peel extract group was better than the 0.2% chlorhexidine group. Keywords: acrylic artificial teeth, color stability, mangosteen peel extract