Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

IDENTIFIKASI POTENSI INTEGRASI ANTAR PUSAT KEGIATAN (NODES) DI KAWASAN PERKOTAAN BANDAR LAMPUNG Ayu Komalasari Dewi; Tiya Suryadi Putri; Suci Lestari; Moh. Faisal Faris
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 10 No 2 (2026): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2026
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v10i2.4350

Abstract

Abstract: The lack of Public Open Spaces (POS) in Bandar Lampung is still a fundamental challenge in achieving sustainable urban development. The city also shows a polycentric pattern, where various activity centers grow in different districts, but this is not yet supported by proper planning or spatial integration. At the same time, understanding how communities actually use urban spaces is important to see how these areas function in everyday life. This study aims to develop a concept for urban nodes in Bandar Lampung that is adaptive, integrated, and responsive by considering community behavior. The methods used include mapping observations (to identify activity center points) and questionnaires (to understand user behavior in POS). The results show that among the four districts studied, Enggal District has the strongest potential to serve as a primary node that can integrate other surrounding nodes. Keyword: Public Open Space, Urban Nodes, Community Behavior, Integrated Development Abstrak: Keterbatasan Ruang Terbuka Publik (RTP) di Kota Bandar Lampung masih menjadi isu mendasar dalam pengembangan perkotaan yang berkelanjutan. Selain itu, struktur ruang Kota Bandar Lampung menunjukkan kecenderungan perkembangan pusat kegiatan yang bersifat polisentrik, dengan sebaran aktivitas di berbagai kecamatan, namun belum diimbangi oleh sistem perencanaan dan integrasi spasial yang memadai. Di sisi lain, aktivitas komunitas di ruang kota penting untuk diketahui dan dipahami untuk mendapatkan perspektif bagaimana ruang digunakan oleh masyarakat secara nyata. Tujuan penelitian ini yaitu untuk dapat merumuskan konsep pengembangan pusat kegiatan atau nodes di Bandar Lampung yang adaptif, terintegrasi, dan responsif dengan mempertimbangkan perilaku komunitas disekitarnya. Metode yang digunakan yaitu observasi pemetaan (titik-titik pusat kegiatan) dan kueisioner (perilaku pengguna RTP). Adapun hasil nya memperlihatkan bahwa dari empat kecamatan yang ada di Bandar lampung, Kecamatan Enggal mempunyai potensi untuk menjadi node primer yang dapat mengintegrasikan node node lain disekitarnya. Kata Kunci: Ruang Terbuka Publik, Nodes Perkotaan, Perilaku Komunitas, Terintegrasi
Identifikasi Ruang Publik dan Perancangan Konsep Integrasi Jalur Pejalan Kaki pada Koridor Perkotaan Strategis Kota Bandar Lampung untuk Penguatan Identitas dan Daya Tarik Wisata Kota Citra Persada; Ayu Komalasari Dewi; Suci Lestari; Ahmad Baqir Adrian
Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik Dan Aplikasi Industri Fakultas Teknik Universitas Lampung Vol. 8 (2025): Prosiding Seminar Nasional Ilmu Teknik dan Aplikasi Industri (SINTA) 2025
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Bandar Lampung memiliki potensi ruang publik yang besar, terutama pada koridor perkotaan strategis yang berfungsi sebagai pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Namun, ruang-ruang publik tersebut belum terintegrasi secara optimal sehingga belum mampu membentuk jaringan ruang kota yang saling terhubung dan mendukung identitas kawasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ruang publik eksisting pada koridor strategis kota serta merumuskan konsep integrasi jalur pejalan kaki yang berperan dalam memperkuat identitas dan daya tarik wisata kota. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan observasi lapangan, dokumentasi visual, dan analisis hubungan spasial antar-ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa koridor Stasiun Tanjung Karang – Masjid Al Bakrie – Tugu Adipura merupakan jalur dengan intensitas aktivitas tertinggi dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai jalur transit wisata kota. Konsep integrasi yang dihasilkan menekankan peningkatan kualitas konektivitas antar-node ruang publik melalui jalur pedestrian yang aman, nyaman, dan berkesinambungan. Selain itu, integrasi antara fungsi ruang publik, kegiatan wisata, dan elemen identitas lokal juga menjadi fokus utama dalam perancangan. Rekomendasi konsep ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan kawasan perkotaan yang inklusif, adaptif terhadap kebutuhan pengguna, serta mencerminkan karakter khas Kota Bandar Lampung.
SOSIALISASI INOVASI RUMAH APUNG SEBAGAI STRATEGI TANGGAP BENCANA DI KECAMATAN PANJANG Fadhilah Rusmiati; Ayu Komalasari Dewi; Tiya Suryadi Putri; Moh. Faisal Faris
Nemui Nyimah Vol. 6 No. 1 (2026): Nemui Nyimah Vol. 6 No. 1 2026
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v6i1.228

Abstract

Panjang Subdistrict, located in Bandar Lampung City, is a coastal area vulnerable to tidal flooding and coastal abrasion due to climate change and rising sea levels. This Community Service Program (PKM) aims to enhance community knowledge and preparedness through the dissemination of floating house innovations as an environmentally based disaster response strategy. The methods employed in this program include coordination with local government authorities, field observations, problem identification, formulation of adaptive solutions, and socialization activities using visual educational media such as posters, leaflets, and information boards. The results indicate that the community still has limited understanding of coastal disaster mitigation. Therefore, the service team introduced three main innovations: floating houses as an adaptive architectural response to rising sea levels, biopore infiltration holes to improve soil absorption and reduce waterlogging, and retaining walls as protection against coastal abrasion. The socialization process was carried out through interactive discussions and simulations of simple innovation applications involving active community participation. The outcomes demonstrate an increase in community awareness, knowledge, and participation in disaster mitigation efforts, further supported by the installation of mitigation signage and evacuation maps in the coastal area. Overall, this program contributes to the development of a resilient, adaptive, and sustainable coastal community in facing disaster threats
Perencanaan Gazebo sebagai Pengembangan Ruang Sosial di Kawasan Masjid Ali Wal Asri Kota Bengkulu: Bahasa Indonesia Tiya Suryadi Putri; Moh. Faisal Faris; Suci Lestari; Ayu Komalasari Dewi
Nemui Nyimah Vol. 6 No. 1 (2026): Nemui Nyimah Vol. 6 No. 1 2026
Publisher : FT Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/nm.v6i1.234

Abstract

Masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga berkembang sebagai pusat aktivitas sosial masyarakat. Peningkatan aktivitas jamaah pasca renovasi ruang dalam di Masjid Ali Wal Asri menimbulkan kebutuhan terhadap fasilitas penunjang pada area luar masjid. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberikan bantuan teknis perencanaan gazebo sebagai ruang semi-terbuka yang dapat mendukung aktivitas sosial, interaksi jamaah, dan kegiatan non-ritual lainnya. Metode pelaksanaan dilakukan melalui pendekatan partisipatif dengan tahapan observasi lapangan, wawancara, identifikasi kebutuhan pengguna, analisis tapak, serta penyusunan konsep desain. Hasil kegiatan menghasilkan rancangan gazebo yang menyesuaikan karakter arsitektur masjid melalui penggunaan bentuk atap limasan, material bernuansa natural, serta konsep ruang terbuka yang mendukung kenyamanan termal dan interaksi sosial. Selain itu, desain juga dilengkapi elemen kolam dan lanskap sebagai bagian dari pendekatan arsitektur tropis untuk meningkatkan kualitas visual dan kenyamanan ruang. Keberadaan gazebo diharapkan mampu mengoptimalkan fungsi ruang luar masjid sebagai ruang sosial, edukatif, dan interaktif bagi masyarakat. Kegiatan ini menunjukkan bahwa bantuan teknis perencanaan dapat menjadi solusi dalam pengembangan fasilitas penunjang masjid yang lebih kontekstual, fungsional, dan berkelanjutan. Kata Kunci : Gazebo, Masjid, Ruang Sosial, Pengabdian Masyarakat
Implementasi Prinsip Net Zero Energy Building (NZEB) pada Bangunan Tinggi di Iklim Tropis: Studi Kasus TechnoPark Tower, Hanoi Lestari, Suci; Dewi, Ayu Komalasari; Putri , Tiya Suryadi; Faris, Moh. Faisal
JURNAL TEKNIK SIPIL-ARSITEKTUR Vol. 25 No. 1 (2026): EDISI BULAN MEI 2026
Publisher : FTSP Universitas Jayabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The need to reduce the impact of climate change has pushed the development of buildings that use less energy, including the idea of Net Zero Energy Building (NZEB). NZEB means a building can produce as much energy as it uses in a year, usually from renewable sources. This study looks at how NZEB is applied in TechnoPark Tower, Hanoi, as an example of a tall building in a tropical climate. The method used is descriptiveanalytical, based on literature review, observation of design strategies, and evaluation of the building’s energy performance.The results show that the biggest challenge in tropical high-rise buildings is the high need for cooling, because of strong sunlight and high humidity. To deal with this, the building uses passive design strategies such as proper orientation, double-layer façades, and shading elements to reduce heat from the sun. These are supported by active systems like efficient air conditioning, smart energy control, and the use of renewable energy such as solar panels. Because the roof area is limited, additional solar systems are also used outside the main building area. In conclusion, applying NZEB in high-rise buildings needs a good mix between design and technology. TechnoPark Tower shows that even in tropical conditions, energy efficiency can still be achieved, and it can be a useful example for future building design.