Mochamad Whilky Rizkyanfi
Pendidikan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing, Universitas Pendidikan Indonesia

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Peningkatan Kualitas Pelayanan Katering melalui Pelatihan Komunikasi Bahasa Indonesia yang Santun Sitompul Lita Agustin Kristania; Danisha Sahnon Filzah Erdevra Fahrizal; Dain Nathan Zhu; Syifa Efendi; Tsabita Nurulazmi; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38513

Abstract

Industri catering merupakan salah satu sektor dalam bidang kuliner yang terus berkembang seiring meningktanya kebutuhan masyarakat akan layanan makanan dalam berbagai acara. Kualitas pelayanan menjadi factor kunci dalam membangun kepuasan dan loyalitas pelanggan, Dimana komunikasi yang santun dan professional berperan penting dalam menciptakan pengalaman layanan yang positif. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana pelatihan komunikasi bahasa Indonesia yang santun dapat meningkatkan kualitas pelayanan di industri katering. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif melalui studi pustaka, dengan menganalisis berbagai sumber literatur terkait kualitas pelayanan, etika komunikasi, dan pengembangan sumber daya manusia di bidang katering. Hasil kajian menunjukkan bahwa pelatihan komunikasi yang terstruktur mampu meningkatkan kemampuan verbal maupun nonverbal karyawan, sehingga berdampak positif terhadap kepuasan pelanggan, citra perusahaan, serta loyalitas jangka panjang. Komunikasi yang santun tidak hanya berfungsi sebagai alat penyampaian informasi, tetapi juga sebagai sarana membangun hubungan yang harmonis antara penyedia layanan dan pelanggan. Dengan demikian, integrasi pelatihan komunikasi bahasa Indonesia yang santun ke dalam program pengembangan sumber daya manusia katering merupakan langkah strategis yang perlu diprioritaskan.
Representasi Cita Rasa Kuliner Nusantara dalam Unggahan ‘Food Blogger’ Jaisy Zakia Zahwa; Ghefira Azzahra Dwi Ariani; Vannisya Azzahra Ramadhani; Razkya Fakih Nurihsan; Rahma Nur Oktavia; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38555

Abstract

Makanan sangat penting di Indonesia, berfungsi sebagai kebutuhan dasar dan mencerminkan beragam tradisi budaya yang dibentuk oleh berbagai bahan dan cara memasak. Dengan cepatnya perkembangan media sosial, food blogger menjadi salah satu pihak yang paling berpengaruh dalam memperkenalkan hidangan tradisional Indonesia ke khalayak yang lebih luas. Penelitian ini menggunakan tinjauan pustaka, dengan memanfaatkan jurnal, buku, dan sumber-sumber yang relevan untuk memahami bagaimana masakan dan cita rasa Indonesia digambarkan dalam unggahan media sosial para blogger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa food blogger tidak hanya memperkenalkan makanan sebagai sesuatu untuk dimakan; mereka juga berbagi nilai-nilai budaya, keunikan bahan-bahan lokal, dan kekayaan rempah-rempah Indonesia. Melalui gambar yang menarik dan cerita pribadi, mereka membentuk bagaimana audiens memandang keaslian dan kesegaran. Dengan demikian, food blogger merupakan tokoh berpengaruh di dunia digital yang membantu mempromosikan dan melestarikan masakan tradisional Indonesia saat ini.
Representasi Budaya Lokal dalam Teks Promosi Wisata Kuliner Berbahasa Indonesia Calosa Chiquita Engracia; Carrisha Hamiz Abassy Prasetya; Kaila Bilqis Sabira; Muhammad Bagas Fakhril Al Gifari; Shaila Mursidatullatifah; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38612

Abstract

Penelitian ini menganalisis representasi budaya lokal dalam teks promosi wisata kuliner berbahasa Indonesia menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) tiga dimensi Fairclough yang dipadukan dengan analisis semiotik Barthes. Sampel terdiri dari 35 teks promosi yang dipilih secara purposive dari berbagai kawasan di Indonesia, diterbitkan antara tahun 2019–2024. Hasil penelitian mengidentifikasi tujuh strategi linguistik dominan, di antaranya penggunaan leksikon tradisi dan ritual (89,5%), bahasa sensorik dan emotif (77,1%), serta metafora identitas budaya (68,6%). Konstruksi identitas budaya direpresentasikan melalui lima dimensi utama: tradisi dan ritual makan, filosofi dan nilai komunal, identitas geografis lokal, warisan historis leluhur, serta spiritualitas dan kosmologi. Analisis CDA mengungkap gejala standardisasi narasi budaya, komodifikasi identitas, serta ketimpangan representasi antara budaya dominan dan budaya perifer. Analisis semiotik menunjukkan bahwa teks promosi beroperasi secara berlapis, dari level denotatif hingga mitis, yang berpotensi menciptakan stereotifikasi budaya. Penelitian ini merekomendasikan pendekatan representasi yang etis, inklusif, dan berkeadilan ekonomi bagi komunitas pemilik warisan budaya.
Perbedaan Makna Istilah ’Tumis’, ’Oseng’, ’Cah’ serta Implikasinya terhadap Khazanah Kosakata Bidang Gastronomi Indonesia Muhammad Adriel Nugraha; Muhammad Fachri Azzam; Muhammad Raufal Azizurrahman; Rusdi Purwasasmita; Zidan Jaylani Rukmana; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38671

Abstract

Masalah utama yang kami temukan dalam dunia gastronomi adalah sulitnya membedakan makna istilah "Tumis", "Oseng", dan "Cah". Maka penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbedaan makna leksikal antara istilah "Tumis", "Oseng", dan "Cah" serta implikasinya terhadap khazanah kosakata gastronomi Indonesia. Menggunakan metode penelitian studi literatur, data dikumpulkan melalui penelusuran sistematis terhadap sumber primer seperti KBBI, kamus dialek, serta literatur gastronomi. Analisis semantik komponensial menunjukkan bahwa meskipun ketiganya merujuk pada teknik memasak dengan sedikit minyak, terdapat perbedaan signifikan pada intensitas api, durasi, asal etimologis, dan konteks penggunaannya. "Tumis" merupakan istilah formal asal Melayu, "Oseng" merupakan variasi dialektal Jawa dengan api sedang, dan "Cah" merupakan serapan Tionghoa yang menggunakan api sangat tinggi (teknik stir-fry). Hasil penelitian menegaskan bahwa ketiga istilah ini adalah sinonim parsial yang memperkaya identitas budaya kuliner Nusantara. Pemahaman perbedaan ini penting untuk pendidikan bahasa, standarisasi leksikografi, dan promosi pariwisata gastronomi Indonesia.
Perbedaan Makna Istilah Onde-Onde di Berbagai Daerah dan Pengaruhnya Terhadap Persepsi Konsumen Anak Agung Ayu Canna Chadija; Dzaky Harun Panjaitan; Hamidah Nargis; Kania Widyana Nugroho; Maura Fasha Khairunnisa; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.38930

Abstract

Penelitian ini mengkaji perbedaan makna istilah “onde-onde” di berbagai daerah di Indonesia serta dampaknya terhadap persepsi konsumen. Metode yang digunakan adalah kualitatif melalui studi literatur dari jurnal, artikel, dan penelitian terdahulu. Hasil menunjukkan bahwa makna “onde-onde” berbeda secara signifikan antara Jawa dan Sumatera. Di Jawa, onde-onde adalah kue goreng berlapis wijen berisi pasta kacang hijau, sedangkan di Sumatera istilah ini merujuk pada kue ketan rebus berbalut kelapa, yang di Jawa dikenal sebagai klepon. Perbedaan ini dipengaruhi oleh faktor budaya, bahasa daerah, sejarah migrasi, dan ketersediaan bahan. Secara semantik, fenomena ini termasuk homonimi geografis. Perbedaan makna tersebut berdampak pada ekspektasi konsumen, potensi miskomunikasi, dan pengalaman konsumsi. Temuan ini penting bagi strategi penamaan dan pemasaran kuliner.
Gastronomi Nusantara dalam BIPA: Strategi Pengajaran Kosakata Katering melalui Hidangan Tradisional Kyannissa Linggana Zahira; Yasmin Ambar Sari; Amanda Aprilla; Ainun Nazhifah; Ladisha Putri Sugiono; Mochamad Whilky Rizkyanfi
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 2 (2026): Agustus
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i2.39109

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh risiko degradasi terminologi kuliner asli Indonesia akibat modernisasi. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi dan mengklasifikasikan kosakata gastronomi Nusantara dalam literatur anak sebagai materi pengayaan katering bagi pemelajar BIPA tingkat menengah-atas. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan analisis konten terhadap tujuh korpus buku cerita anak bertema kuliner regional. Hasil penelitian berhasil menginventarisasi 49 unit lingual yang terbagi ke dalam kategori bahan, peralatan, proses, dan penyajian. Temuan menunjukkan bahwa kategori proses memiliki frekuensi tertinggi dan didukung sepenuhnya oleh ilustrasi visual sebesar 100% sebagai jembatan kognitif. Simpulan penelitian menegaskan bahwa literatur anak efektif digunakan untuk mengenalkan leksikon teknis gastronomi yang bersifat Indonesia-sentris dan non-Javasentris. Strategi pengajaran melalui tiga pilar pendidikan, promosi, dan diplomasi budaya direkomendasikan untuk memperkuat kompetensi komunikatif kultural pemelajar asing di kancah internasional.