Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

ASUHAN  KEPERAWATAN  SOCIAL  SKILL  TRAINING  PADA PASIEN ISOLASI SOSIAL MENARIK DIRI DI RUMAH SAKIT JIWA Prof. DR. MUHAMMAD ILDREM  MEDAN Nababan, Erica Lasmauli; Gustina, Erita; Af’idah, Huwaina
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 12 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Desember 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i12.2014

Abstract

ABSTRACT Mental disorders are syndromes characterized by patterns of individual behavior associated with distress symptoms affecting one or more essential human functions- psychological, behavioral, and biological. These disorders are not only marked by fundamental disturbances in thought and perception but also by abnormal or blunted affect. Social isolation and withdrawal is a condition in which an individual has difficulty or is unable to interact with others, leading to feelings of neglect, rejection, loneliness, and difficulty establishing communication. An intervention that can be applied to address this issue is Social Skills Training (SST), a structured learning process aimed at improving communication skills in individuals with mental disorders to enhance social interaction and identify interpersonal problems. This descriptive case study design was conducted through a psychiatric nursing process from assessment to evaluation on two patients diagnosed with social isolation and withdrawal at Prof. Dr. Muhammad Ildrem Mental Hospital, Medan. The results showed that after implementing Social Skills Training (SST) using SP1 to SPS strategies over three days (08.00 to 18.00 WIB, six sessions), both respondents successfully improved their ability to communicate and interact effectively. The conclusion and recommendation indicate that Social Skills Training (SST) with five strategies was effectively implemented and improved communication skills as well as social engagement. This study suggests that SST can serve as a reference for future research in psychiatric nursing care for patients experiencing social isolation and withdrawal. ABSTRAK Gangguan jiwa merupakan sindrom dari pola perilaku individu yang dihubungkan dengan suatu gejala distres pada satu atau lebih fungsi penting manusia, yaitu fungsi psikologis, perilaku, dan biologis, dan gangguan ini tidak hanya ditandai oleh penyimpangan yang mendasar dari pikiran dan presepsi, serta adanya efek yang tidak wajar atau tumpul. Isolasi sosial menarik diri merupakan kondisi dimana seseorang mengalami  kesulitan atau tidak dapat berinteraksi dengan orang di sekitarnya, klien dengan masalah ini merasa diabaikan, tidak diterima, merasa kesepian, dan kesulitan dalam menjalin komunikasi dengan orang lain. Intervensi yang dapat diterapkan untuk mengatasi masalah ini adalah terapi Social Skiil Training (SST) yaitu suatu  proses pembelajaran terencana untuk meningkatkan keterampilan komunikasi individu dengan gangguan mental dalam berinteraksi secara sosial, mampu mengenali masalah dalam hubungan interpersonal. Desain penelitian deskriptif dengan jenis  studi kasus melalui proses keperawatan jiwa dari pengkajian sampai dengan evaluasi. Dilakukan pada 2 pasien dengan diagnosa yang sama isolasi sosial menarik diri di Rumah Sakit Jiwa Prof.DR. Muhammad Ildrem Medan. Hasil penelitian setelah dilakukan penerapan terapi Social Skill Training (SST) dengan SP 1 sampai  SP 5  selama 3 hari mulai dari jam 08.00 Wib sampai 18.00 Wib dengan 6 kali pertemuan didapatkan kedua responden berhasil, Dimana pasien mampu meningkatkan komunikasi dan  berinteraksi dengan baik. Kesimpulan dan saran Social Skill Training (SST) dengan 5 strategi berhasil diterapkan dan menunjukkan efektivitas dalam meningkatkan kemampuan komunikasi serta keterlibatan sosial. Saran penelitian diharapkan  dapat menjadi acuan dalam melakukan penelitian lanjutan pada kasus keperawatan jiwa dengan isolasi sosial menarik diri dengan menggunakan terapi social skill training (SST).
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN TERAPI OKUPASI AKTIVITAS WAKTU LUANG PADA PASIEN HALUSINASI PENDENGARAN DI RUMAH SAKIT JIWA PROF.DR.MUHAMMAD ILDREM MEDAN Rawati, Siti; Gustina, Erita; Af’idah, Huwaina
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 2 No. 12 (2025): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, Desember 2025
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v2i12.2022

Abstract

ABSTRACT Mental health is a form of professional service that is an integral part of healthcare services, applying theories of human behavior as its science and the therapeutic use of self as its technique. Auditory hallucinations are one of the most common perceptual disturbances experienced by patients with mental disorders, in which patients hear unreal sounds that cannot be perceived by others. This symptom can trigger risky behaviors such as aggression, social withdrawal, and impaired social functioning. One of the nursing interventions that can be used to reduce the intensity of hallucinations is occupational therapy, particularly through leisure-time activities. This study aims to examine the effectiveness of implementing leisure-time occupational therapy in reducing auditory hallucination symptoms in patients at Prof. Dr. Muhammad Ildrem Mental Hospital, Medan. Occupational therapy is a form of supportive psychotherapy involving activities that foster independence in a manual, creative, and educational manner to adapt to the environment and improve the patient's physical and mental health status, as well as their sense of life purpose. The research method used is a case study involving two patients diagnosed with sensory perception disturbances: auditory hallucinations. The nursing care process included assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Leisure-time occupational therapy activities included sweeping and tidying up the bed, conducted over three days in six sessions. The results showed a decrease in hallucination frequency in both patients after they were able to carry out the activities independently and in a scheduled manner. Conclusion and recommendation: Leisure-time occupational therapy is an effective nursing intervention for managing auditory hallucinations. It is expected that this study can serve as a reference for future research on mental health nursing cases involving auditory hallucinations using leisure-time occupational therapy. ABSTRAK Kesehatan jiwa adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan, menerapkan teori perilaku manusia sebagai ilmunya dan penggunaan diri sendiri secara terapeutik sebagai kiatnya. halusinasi pendengaran merupakan salah satu gangguan persepsi yang sering dialami oleh pasien dengan gangguan jiwa, di mana pasien mendengar suara-suara yang tidak nyata dan tidak dapat didengar oleh orang lain. Gejala ini dapat memicu perilaku berisiko seperti kekerasan, penarikan diri, hingga gangguan fungsi sosial. Salah satu intervensi keperawatan yang dapat digunakan untuk mengurangi intensitas halusinasi adalah terapi okupasi,salah satunya adalah aktivitas waktu luang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas implementasi terapi okupasi aktivitas waktu luang dalam menurunkan gejala halusinasi pendengaran pada pasien di Rumah Sakit Jiwa Prof. Dr. Muhammad Ildrem Medan. Terapi okupasi merupakan salah satu bentuk psikoterapi suportif berupa aktivitas yang membangkitkan kemandirian secara manual, kreatif dan edukatif untuk beradaptasi dengan lingkungan dan meningkatkan derajat kesehatan fisik dan mental pasien serta makna hidup tentang terapi okupasi berpengaruh pada perubahan gejala halusinasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada dua pasien dengan diagnosis gangguan persepsi sensori: halusinasi pendengaran. Asuhan keperawatan yang dilakukan meliputi pengkajian hingga evaluasi. Kegiatan terapi okupasi aktivitas waktu luang antara lain menyapu, merapikan tempat tidur. proses terapi ini dilakukan selama tiga hari dalam enam kali pertemuan . Hasil penelitian terapi okupasi pada kedua pasien terjadinya penurunan frekuensi halusinasi setelah pasien mampu melakukan kegitan secara mandiri dan terjadwal. Kesimpulan dan saran : terapi okupasi aktivitas waktu luang merupakan intervensi keperawatan yang efektif dalam menangani halusinasi pendengaran. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan dalam melakukan penelitian lanjutan pada kasus keperawatan jiwa dengan halusinasi pendengaran menggunakan terapi okupasi aktivitas waktu luang.
IMPLEMENTASI  KEPERAWATAN  KELUARGA PERILAKU  HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS) UNTUK PENCEGAHAN DIARE BERULANG PADA ANAK Pahlevi, M. Reza; Af ‘idah, Huwaina; Gustina, Erita
SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah Vol. 3 No. 1 (2026): SINERGI : Jurnal Riset Ilmiah, January 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/sinergi.v3i1.2266

Abstract

Diarrhea in children remains a public health problem that can lead to dehydration, impaired growth and development, and even death. One preventive effort against recurrent diarrhea is the implementation of Clean and Healthy Living Behavior (CHLB) within families. This study aims to describe the implementation of family nursing care in applying CHLB to prevent recurrent diarrhea in children. The research method used a case study approach through stages of family nursing care, including assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation. Instruments consisted of observation and interviews with families. The results showed an increase in family knowledge and attitudes after being provided with health education on CHLB, including handwashing with soap, consumption of clean water, maintaining food hygiene, and using sanitary latrines. The implementation of CHLB was effective in reducing the risk of recurrent diarrhea in children by promoting healthier family behaviors. The conclusion of this study is that family nursing care through CHLB implementation is effective in enhancing the prevention of recurrent diarrhea in children. It is recommended that CHLB education be developed as a routine program in family health services to reduce the incidence of recurrent diarrhea in children.
PENGARUH JALAN KAKI TERHADAP KETIDAKSTABILAN GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE 2 Fentiana, Nina; Ariyanti, Ika; Gustina, Erita; Gea, Handerman Vitu; Faradiba, Kayla Azuri
EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan Vol. 3 No. 1 (2026): EMPIRIS : Jurnal Sains, Teknologi dan Kesehatan, Maret 2026
Publisher : Lembaga Pendidikan dan Penelitian Manggala Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62335/empiris.v3i1.2464

Abstract

Diabetes mellitus is a chronic non-communicable disease whose incidence continues to increase globally. This disease occurs due to insufficient insulin production or insulin does not work effectively, making blood glucose levels difficult to control. The purpose of this study was to determine whether physical walking can stabilize blood glucose in type II diabetes mellitus patients at Putri Hijau Class II Hospital, Medan. This study used a quasi-experimental study with a control group. The sampling technique used was a purposive sampling technique so that the number of samples obtained according to the inclusion criteria was 40 participants who were divided into two groups: 20 participants in the intervention group and 20 participants in the control group. Based on the Wilcoxon test, there was a significant effect p <0.000. The results of the study showed that physical activity intervention walking can stabilize blood sugar levels in type II diabetes mellitus patients. It can be concluded that doing walking regularly can stabilize blood glucose. Suggestions are expected for type II diabetes mellitus patients to apply walking as a non-pharmacological therapy. It is hoped that it can be a complementary therapy for type II diabetes mellitus sufferers who are treated in hospital or at home