Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

INVESTIGATION OF ACTIVATED CARBON CHARACTERISTICS IN POLYETHYLENE TEREPHTHALATE PLASTIC WASTE Irhamni Irhamni; Atika Ruhayyah; T Muhammad Ashari
Jurnal Inovasi Pendidikan dan Sains Vol 4 No 2 (2023): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Nahdlatul Wathan Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jips.v4i2.1521

Abstract

Abstract: TPA is the final location of the urban waste processing process by hoarding waste in landfills. The decomposition of waste and exposure to rainwater in landfills will produce a concentrated liquid, leachate. The presence of heavy metals at certain concentrations will turn toxic to aquatic ecosystems. In addition, high COD levels indicate the presence of large amounts of organic pollutants. One alternative to removing these contaminants is by using the adsorption method. In particular, this study aimed to determine the characteristics of activated carbon and the best dose variation in reducing pollutants in leachate. The analysis results of the characteristics of activated carbon in PET plastic waste are 2.2% moisture content, 2.6% ash content, 62.2% volatile matter content, and 33% bound carbon content. The water and ash content values complied with SNI 06-3730-1995, but for volatile matter content and bound carbon content, they did not comply with SNI 06-3730-1995. The best dose in reducing levels of heavy metals Fe and COD was at a 15-gram dose with a final value of Fe of 0.106 mg/L with an efficiency of 96.4% and COD of 3404 mg/L with an efficiency of 36.7%. Overall, the Fe metal content for all cases tested met the RI Minister of Health Regulation Number 32 of 2017. However, the COD level had not yet reached the quality standard of the Minister of Environment and Forestry Regulation Number 59 of 2016. Keywords: Adsorption, polyethylene terephthalate and characteristics.
Fermentasi Limbah Kulit Durian Menjadi Cuka Organik Dengan Menggunakan Acetobacter aceti Irhamni Irhamni; Diana Diana; Saudah Saudah; Ernilasari Ernilasari; Mulia Aria Suzanni; Dewi Mulyati; Lukmanul Hakim
Elkawnie Vol. 5 No. 1 (2019)
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v5i1.3902

Abstract

Cuka merupakan hasil olah makanan dari proses fermentasi glukosa dengan menggunakan Sacharomyces cervisiae menghasilkan etanol. Fermentasi etanol secara aerob dengan menggunakan bakteri Acetobacter aceti menghasilkan asam cuka. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah fermentasi, kemurnian cuka dianalisis dengan menggunakan GC-MS. Hasil yang didapatkan pembentukan asam cuku terbaik terbentuk pada minggu ke-3 hingga ke-4 dengan pH 3,5, dengan puncak kromatogram pada waktu retensi 8,473. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan upaya pemberdayaan dalam meminalisir volume limbah dengan mengolah menjadi produk yang ekonomis
Pengurangan Limbah Tekstil melalui Edukasi Mode Berkelanjutan dan Program Berbagi Sandang Layak Pakai Mia Erpinda; Suci Wulandari; Nur Faizaturrohmah; Irhamni Irhamni; Yuni Lisafitri; Aulia Annas Mufti; Erlina Kurnianingtyas; Rifka Noor Azizah; Dion Awfa; Devi Kurnia Sari
IKRA-ITH ABDIMAS Vol. 10 No. 1 (2026): IKRAITH-ABDIMAS Vol 10 No 1 Maret 2026
Publisher : Universitas Persada Indonesia YAI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37817/ikra-ithabdimas.v10i1.7174

Abstract

Permasalahan limbah tekstil dan konsumsi pakaian berlebihan merupakan isu lingkungan yang semakin mendapat perhatian karena berkontribusi terhadap peningkatan timbulan sampah serta penggunaan sumber daya alam yang tidak berkelanjutan. Perkembangan tren fesyen yang cepat mendorong masyarakat untuk membeli pakaian secara berulang, sementara pakaian yang masih layak pakai sering kali tidak dimanfaatkan kembali. Rendahnya kesadaran mengenai konsumsi sandang yang bertanggung jawab turut meningkatkan potensi limbah tekstil yang berdampak pada lingkungan. Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai konsep mode berkelanjutan (sustainable fashion) serta menumbuhkan kepedulian sosial melalui Program Berbagi Sandang Layak Pakai. Kegiatan ini dilakukan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui sosialisasi mengenai dampak lingkungan dari limbah tekstil, prinsip mode berkelanjutan, konsumsi pakaian yang bijak, serta praktik penggunaan kembali (reuse) pakaian layak pakai. Selain edukasi, kegiatan ini mencakup pengumpulan, penyortiran, pengemasan, dan penyaluran pakaian layak pakai kepada mahasiswa yang membutuhkan. Kegiatan ini memanfaatkan momentum bulan Ramadhan sebagai sarana untuk memperkuat nilai empati, solidaritas, dan kepedulian sosial. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya memperpanjang usia pakai produk pakaian melalui praktik penggunaan kembali dan donasi pakaian yang masih layak pakai. Edukasi ini dapat mendorong partisipasi masyarakat dalam kegiatan sosial sekaligus mengurangi potensi limbah tekstil. Integrasi edukasi mode berkelanjutan dan kegiatan berbagi sandang layak pakai dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam menanamkan nilai keberlanjutan serta mendukung implementasi SDG 12 (Responsible Consumption and Production) dan SDG 13 (Climate Action).
Edukasi Bank Sampah Sebagai Implementasi Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) Di Dusun Pal Putih Dian Neli Pratiwi; Irhamni Irhamni; Nabila Putriyandri Alifa; Sela Diyah Maulani; Olyvia Salsabila; Dina Selvia Sinambela; Irvina Prameswary; Pasha Apriyanti Manalu; Muhammad Zhafir Estungkara; Andre Ananda Fajri
Jurnal Masyarakat Madani Indonesia Vol. 5 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Alesha Media Digital

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59025/c58eyt39

Abstract

Sampah rumah tangga masih menjadi tantangan utama dalam upaya meningkatkan kesehatan lingkungan, khususnya di Provinsi Lampung. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui integrasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan konsep bank sampah di Dusun Pal Putih-1, Desa Karanganyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Kegiatan dilaksanakan di rumah Kepala Dusun dengan melibatkan 20 peserta yang terdiri atas ibu rumah tangga, anggota Karang Taruna, serta aparatur desa. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan dan diskusi interaktif mengenai pengelolaan sampah berbasis prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle), praktik pemilahan sampah, edukasi mengenai bank sampah, serta evaluasi kegiatan melalui pemberian pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa rata-rata nilai peserta mengalami peningkatan sebesar 10–20 poin setelah mengikuti program edukasi, yang mengindikasikan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pengelolaan sampah, PHBS, dan kesehatan lingkungan. Selain meningkatkan pengetahuan, kegiatan ini juga mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah, yang ditandai dengan mulai diterapkannya pemilahan sampah organik, anorganik, dan bahan berbahaya dan beracun (B3), berkurangnya kebiasaan membakar sampah, serta munculnya inisiatif pembentukan bank sampah Dusun Pal Putih-1 yang dikelola oleh Karang Taruna. Program ini memberikan dampak positif dalam memperkuat kesadaran kolektif masyarakat akan pentingnya lingkungan yang bersih, sehat, dan memiliki nilai ekonomi. Oleh karena itu, sosialisasi dan edukasi pengelolaan sampah melalui program bank sampah dapat menjadi strategi yang memberikan manfaat dalam meningkatkan pemahaman masyarakat dalam mendukung penerapan PHBS serta pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang berkelanjutan
Application of Bentonite-Based Sediment Capping for Eutrophication Control: A Case Study of Lake Batur, Bali Annisa Rehan Fadhila; Irhamni; Astried Sunaryani
Jurnal Serambi Engineering Vol. 11 No. 3 (2026): Juli 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increasing nutrient inputs, particularly phosphate and nitrogen, have contributed to eutrophication in Lake Batur and increased the risk of water quality degradation. This study evaluated the effectiveness of sediment capping using activated and non-activated bentonite for nutrient removal, including total phosphorus (TP), total nitrogen (TN), nitrate, and ammonia. Characterization using SEM-EDX and FTIR showed that the activation process altered the surface morphology and chemical properties of bentonite, resulting in a more open structure and higher silicon and aluminum contents. Shifts in the absorption bands of –OH, Si–OH, and Si–O–Si groups indicated surface modification without damaging the montmorillonite framework. The results demonstrated that non-activated bentonite achieved the highest removal efficiency for total phosphorus, reaching 87%. Activated bentonite showed better performance in reducing total nitrogen and nitrate, with removal efficiencies of 61% and 79%, respectively. Meanwhile, nitrate removal by non-activated bentonite reached 78%. Ammonia removal remained relatively limited, where activated bentonite reduced ammonia concentration by 30%, while non-activated bentonite showed a slight increase in ammonia concentration of −12%. Overall, both activated and non-activated bentonite exhibited potential as sediment capping materials for controlling nutrient release in aquatic systems.
Cassava-Derived Microbial Pre-Fermentation Enhances BSF Bioconversion of Cabbage Waste: A Trade-Off Between Larval Performance and Compost Maturity Lisafitri, Yuni; Arta Sinaga, Yuni; Annas Mufti, Aulia; Hasiany, Sillak; Irhamni
Elkawnie Vol. 12 No. 2 (2026): Article In Press
Publisher : Faculty of Science and Technology Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/ekw.v12.i2.35977

Abstract

Abstract: The high moisture content and rapid decay of cabbage residues make organic market waste challenging to manage, and the black soldier fly larvae can turn this waste into protein-rich biomass and nutrient-rich residues. This study evaluated how different fermentation durations (0, 4, 7, and 10 days; coded F0, F4, F7, F10) with cassava-derived local microorganisms affect the bioconversion of cabbage waste during a 14-day BSF feeding period, focusing on waste reduction, larval performance, conversion efficiency, and residue chemistry. All measurements used three biological replicates per treatment and were analysed by one-way and mixed ANOVA with Tukey HSD post-hoc tests. Pre-fermentation significantly raised the waste reduction index (WRI) from 6.88 ± 0.01 in F0 to 7.01–7.03 in all fermented treatments (F = 114.8, p < 0.001, η² = 0.98). Final larval biomass, efficiency of conversion of ingested feed (ECI), and feed conversion ratio (FCR) all peaked at F4 (251.7 ± 1.7 mg larva⁻¹; ECI = 12.96 ± 0.12 %; FCR = 7.72 ± 0.07), each significantly outperforming F0 (p < 0.05). Specific growth rate was lowest at F10 (31.6 ± 1.5 % day⁻¹), significantly below F4 (36.0 ± 0.2 % day⁻¹), indicating that prolonged fermentation depresses larval performance, an effect not previously emphasised in the literature. Liquid residue potassium showed a non-monotonic response, peaking at F4–F7 and dropping back to control levels at F10 (0.45 ± 0.04 %; F = 75.2, p < 0.001), while liquid carbon collapsed from 0.55 % to 0.14 % at F10. Solid residue C/N ratios met the SNI 19-7030-2004 mature-compost range (10–20) only for F7 and F10. Overall, 4-day pre-fermentation with cassava-derived MOL best balances bioconversion efficiency, larval yield, and compost maturity, providing a practical, low-cost strategy for sustainable BSF-based valorisation of cabbage market waste by industries and local farmers through shorter processing times sustainably. Abstrak: Kadar air yang tinggi dan laju pembusukan yang cepat pada limbah kubis menjadikan limbah organik pasar sulit dikelola, sementara larva black soldier fly (BSF) mampu mengubah limbah tersebut menjadi biomassa kaya protein dan residu yang kaya nutrisi. Penelitian ini mengevaluasi pengaruh berbagai lama fermentasi (0, 4, 7, dan 10 hari; dikodekan sebagai F0, F4, F7, dan F10) menggunakan mikroorganisme lokal (MOL) berbahan dasar singkong terhadap biokonversi limbah kubis selama periode pemeliharaan larva BSF selama 14 hari, dengan fokus pada reduksi limbah, performa larva, efisiensi konversi, dan karakteristik kimia residu. Seluruh pengukuran dilakukan menggunakan tiga ulangan biologis untuk setiap perlakuan dan dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dan ANOVA campuran yang dilanjutkan dengan uji lanjut Tukey HSD. Pra-fermentasi secara signifikan meningkatkan waste reduction index (WRI) dari 6,88 ± 0,01 pada F0 menjadi 7,01–7,03 pada seluruh perlakuan fermentasi (F = 114,8; p < 0,001; η² = 0,98). Biomassa akhir larva, efficiency of conversion of ingested feed (ECI), dan feed conversion ratio (FCR) semuanya mencapai nilai tertinggi pada F4 (251,7 ± 1,7 mg larva⁻¹; ECI = 12,96 ± 0,12%; FCR = 7,72 ± 0,07), yang secara signifikan lebih baik dibandingkan F0 (p < 0,05). Specific growth rate terendah ditemukan pada F10 (31,6 ± 1,5% hari⁻¹), secara signifikan lebih rendah dibandingkan F4 (36,0 ± 0,2% hari⁻¹), yang menunjukkan bahwa fermentasi berkepanjangan menurunkan performa larva, suatu fenomena yang belum banyak ditekankan dalam literatur. Kandungan kalium pada residu cair menunjukkan respons yang tidak monoton, mencapai puncak pada F4–F7 sebelum kembali ke tingkat kontrol pada F10 (0,45 ± 0,04%; F = 75,2; p < 0,001), sedangkan kandungan karbon cair menurun drastis dari 0,55% menjadi 0,14% pada F10. Rasio C/N residu padat memenuhi kisaran kompos matang menurut SNI 19-7030-2004 (10–20) hanya pada F7 dan F10. Secara keseluruhan, pra-fermentasi selama 4 hari menggunakan MOL berbahan dasar singkong memberikan keseimbangan terbaik antara efisiensi biokonversi, hasil biomassa larva, dan kematangan kompos, sehingga menjadi strategi yang praktis dan berbiaya rendah untuk mendukung valorisasi limbah kubis berbasis BSF yang berkelanjutan oleh industri dan petani lokal melalui waktu pengolahan yang lebih singkat.
The Potency of Capa Plant (Blumea balsamifera L.) as a Source of Wound Medicine : Systematic Review Khalisah Khalisah; Masyudi Masyudi; Saudah Saudah; Jailani Jailani; Irhamni Irhamni
JURNAL HURRIAH: Jurnal Evaluasi Pendidikan dan Penelitian Vol. 7 No. 1 (2026): Jurnal Hurriah: Journal of Educational Evaluation and Research
Publisher : Yayasan Pendidikan dan Kemanusiaan Hurriah Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56806/jh.v7i1.399

Abstract

Background: Blumea balsamifera L., locally known as CAPA, has long been used by the people of Aceh for various traditional treatments, particularly wound healing. In South Aceh, the leaves are commonly applied topically by squeezing the juice directly onto injured skin. Previous studies indicate that excessive use of chemical wound medications may cause allergic reactions, dryness, and delayed wound healing. The World Health Organization (WHO) also recommends the utilization of traditional medicines, including herbal remedies, for public health maintenance. Objectives: This study aims to review the potential of Blumea balsamifera L. as a wound healing agent and to assess its feasibility for development into a gel-based topical formulation. Methods: A literature review was conducted by collecting 100 articles related to the medicinal use of Blumea balsamifera L. From these, selected articles specifically discussing its application for wound healing were analyzed. Sources were obtained from indexed international journals and SINTA-accredited national journals, followed by a discussion of a proposed research plan for CAPA leaf extract gel formulation. Results: The reviewed studies indicate that Blumea balsamifera L. possesses antibacterial and anti-inflammatory properties and shows strong potential to be developed as a wound healing agent in gel form, which supports effective drug delivery and wound moisture balance. Conclusion: Blumea balsamifera L. is a promising natural alternative for wound healing. The development of a gel-based formulation may provide a safe, practical, and effective approach that aligns with modern wound care principles and supports the use of traditional medicinal plants.
Co-Authors A.A. Ketut Agung Cahyawan W Alam, Firdha Cahya Alfian Zurfi Ali Akbar Ambia, Dona ANDALIA, RIZKI Andre Ananda Fajri Annas Mufti, Aulia Annisa Rehan Fadhila Arief Rahman Arta Sinaga, Yuni Astried Sunaryani Atika Ruhayyah Aulia Annas Mufti Aulia Annas Mufti Bahagia Bahagia Burhanuddin AG Chalid Mucharrabin Devi Kurnia Sari Dewi Mulyati Dewi Mulyati Dian Neli Pratiwi Diana Diana Diana Diana Diana Diana Diana Diana Dina Akmila Dina Selvia Sinambela Dion Awfa Edison Purba Edison Purba Edison Purba Edison Purba Edison Purba Erdiwansyah Erdiwansyah, Erdiwansyah Erlina Kurnianingtyas Ernilasari Ernilasari Ernilasari Ernilasari Ernilasari Ernilasari Ernilasari Ernilasari Fajriharish Nur Awan Gabriella Anggi Renca Husnawati Yahya Husnawati Yahya Irda Yunita Irvina Prameswary Israwati Israwati Jailani Jailani Khalisah Khalisah Lukmanul Hakim Lukmanul Hakim Masyudi Masyudi Mia Erpinda Muhammad Zhafir Estungkara Munawir Munawir Murtaja, Rian Mutiara Fajar Nabila Putriyandri Alifa Nabila Putriyandri Alifa Nadia Dhannov Nadia Fachriana Nur Faizaturrohmah Olyvia Salsabila Pasha Apriyanti Manalu Rifka Noor Azizah Rina Pratiwi Pudja I. A Ruben Thomson Napitupulu Salian Salian Salsabila, Unik Hanifah SAUDAH SAUDAH Saudah Saudah Saudah Saudah Saudah Saudah Saudah Saudah Sela Diyah Maulani Sentia, Prima Denny Setiaty Pandia Setiaty Pandia Setiaty Pandia Setiaty Pandia Sillak Hasiany Sillak Hasiany, Sillak Suci Wulandari Suci Wulandari Susmanto Susmanto Suzanni, Mulia Aria T Muhammad Ashari Taufik Hidayat Teuku Iskandar Shah Teuku Muhammad Ashari Vera Viena Vera Viena Wirsal Hasan Wirsal Hasan Wirsal Hasan Wirsal Hasan Wirsal Hasan Yeggi Darnas Yuni Lisafitri, Yuni Zulfami A Zulfan Zulfan Zulkifli AK