Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

PENINGKATAN PEMAHAMAN KONSEP DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN PETA KONSEP DALAM PEMBELAJARAN SEJARAH PADA MAHASISWA PROGRAM STUDI PENDIDIKAN SEJARAH Syaifulloh, Muhammad
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 13, No 1 (2015): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.691 KB) | DOI: 10.31571/edukasi.v13i1.18

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pemahaman konsep sejarah dengan menggunakan pendekatan peta konsep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yaitu meliputi kegiatan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan tes dan observasi. Instrument menggunakan tes dan angket, Sedangkan analisa data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan pengajaran dengan menggunakan pendekatan peta konsep dapat meningkatan hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah pada mata kuliah sejarah Afrika dan Historiografi. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep sejarah Afrika dan Historiografi mengalami peningkatan. Hasil belajar sesudah pembelajaran dengan pendekatan peta konsep mengalami peningkatan sebesar 16% untuk mata kuliah sejarah Afrika siklus II dan 33.8% pada siklus selanjutnya. Sedangkan untuk mata kuliah Historiografi, hasil belajar dengan pendekatan peta konsep mengalami peningkatan sebesar 15%. Mahasiswa yang merasa terbantu dengan pendekatan peta konsep untuk memahami konsep-konsep yang berlaku pada mata kuliah sejarah adalah sebesar 95%. Perhatian mahasiswa dalam pembelajaran dengan pendekatan peta konsep lebih terfokus, sehingga meningkatkan keefektifan proses belajar mengajar. Kata Kunci: Peta Konsep, dan Pemahaman Konsep Sejarah.
PEMANFAATAN LABORATORIUM SEJARAH SEBAGAI SUMBER BELAJAR SEJARAH (Studi Kasus Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Semester III STKIP PGRI Pontianak) Siswandi, Muhammad Syaifulloh, Basuki Wibowo,
Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial Vol 1, No 1 (2014): Sosial Horizon: Jurnal Pendidikan Sosial
Publisher : IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (320.753 KB) | DOI: 10.31571/sosial.v1i1.148

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; (1) Mendeskripsikan wilayah dan latar belakang sejarah Keraton Kadariyah,(2) Mendeskripsikan upaya pengembangan dan pelestarian yang dilakukan oleh  Pemerintah Kota Pontianak terhadap Kraton Kadariyah sebagai objek wisata, dan (3) Mendeskripsikan manfaat pengembangan dan pelestarian Kraton Kadariah terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Lokasi penelitian di wilayah Kota Pontianak Kalimantan Barat dan Penelitian dilakukan pada keluarga besar keraton Kadariah Pontianak, dinas pariwisata Kota Pontianak  dan masyarakat yang tinggal disekitar keraton Kadariah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Barat termasuk daerah yang belum melakukan optimalisasi terhadap cagar budaya sebagai daya tarik wisata termasuk Keraton Kadariyah. Keraton Kadriyah sebagai daya tarik wisata kota pontianak memberi peran yang cukup besar bagi masyarakat yang bermukim di area keraton, terutama bagi sektor ekonomi masyarakat dengan melihat antusias pembukaan-pembukaan area perdagangan di sekitar Keraton. Upaya pemerintah kota Pontianak dalam pengembangan dan pelestarian kraton kadariyah sebagai objek wisata hanya sebatas promosi saja.Peneliti menyarankan perlunya  kesadaran akan pentingnya bangunan sejarah sebagai simbol kejayaan masa lalu yang dapat tercermin pada saat kini serta menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga. Pemerintah daearah diharapkan membantu Pembinaan terhadap masyarakat disekitar keraton harus dilakukan oleh pemerintah, hal ini dikarenakan dalam prinsip pariwisata keramahan masyarakat pendukung sangat diperlukan. Penataan kembali bangunan pendukung juga sangat diperlukan, hal ini untuk menunjang kenyamanan para wisatawan.Kata Kunci: Pengembangan dan Pelestarian Pariwisata, Kraton Kadriyah 
OPTIMALISASI KRATON KADARIYAH DALAM PENGEMBANGAN PARIWISATA DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Muhammad Syaifulloh, Basuki Wibowo,
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 12, No 1 (2014): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (242.769 KB) | DOI: 10.31571/edukasi.v12i1.187

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; (1) Mendeskripsikan wilayah dan latar belakangsejarah Keraton Kadariyah,(2) Mendeskripsikan upaya pengembangan dan pelestarian yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak terhadap Kraton Kadariyah sebagai objek wisata, dan (3) Mendeskripsikan manfaat pengembangan dan pelestarian Kraton Kadariah terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Lokasi penelitian di wilayah Kota Pontianak Kalimantan Barat dan Penelitian dilakukan pada keluarga besar keraton Kadariah Pontianak, dinas pariwisata Kota Pontianak dan masyarakat yang tinggal disekitar keraton Kadariah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Barat termasuk daerah yang belum melakukan optimalisasi terhadap cagar budaya sebagai daya tarik wisata termasukKeraton Kadariyah. Keraton Kadriyah sebagai daya tarik wisata kota pontianak memberi peran yang cukup besar bagi masyarakat yang bermukim di area keraton, terutama bagi sektor ekonomi masyarakat dengan melihat antusias pembukaan-pembukaan area perdagangan di sekitar Keraton. Upaya pemerintah kota Pontianak dalam pengembangan dan pelestarian kraton kadariyah sebagai objek wisata hanya sebatas promosi saja. Peneliti menyarankan perlunya kesadaran akan pentingnya bangunan sejarah sebagai simbol kejayaan masa lalu yang dapat tercermin pada saat kini serta menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga. Pemerintah daearah diharapkan membantu Pembinaan terhadap masyarakat disekitar keraton harus dilakukan oleh pemerintah, halini dikarenakan dalam prinsip pariwisata keramahan masyarakat pendukung sangat diperlukan. Penataan kembali bangunan pendukung juga sangat diperlukan, hal ini untuk menunjang kenyamanan para wisatawan.Kata Kunci: Pengembangan dan Pelestarian Pariwisata, Kraton Kadriyah
Peningkatan Pemahaman Konsep dengan Menggunakan Pendekatan Peta Konsep dalam Pembelajaran Sejarah pada Mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah Muhammad Syaifulloh
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 13, No 1 (2015): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/edukasi.v13i1.18

Abstract

Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan pemahaman konsep sejarah dengan menggunakan pendekatan peta konsep. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas yaitu meliputi kegiatan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dengan tes dan observasi. Instrument menggunakan tes dan angket, Sedangkan analisa data menggunakan analisis deskriptif kualitatif dan uji t. Hasil penelitian menunjukkan pengajaran dengan menggunakan pendekatan peta konsep dapat meningkatan hasil belajar mahasiswa Program Studi Pendidikan Sejarah pada mata kuliah sejarah Afrika dan Historiografi. Hal ini mengindikasikan bahwa pemahaman mahasiswa terhadap konsep-konsep sejarah Afrika dan Historiografi mengalami peningkatan. Hasil belajar sesudah pembelajaran dengan pendekatan peta konsep mengalami peningkatan sebesar 16% untuk mata kuliah sejarah Afrika siklus II dan 33.8% pada siklus selanjutnya. Sedangkan untuk mata kuliah Historiografi, hasil belajar dengan pendekatan peta konsep mengalami peningkatan sebesar 15%. Mahasiswa yang merasa terbantu dengan pendekatan peta konsep untuk memahami konsep-konsep yang berlaku pada mata kuliah sejarah adalah sebesar 95%. Perhatian mahasiswa dalam pembelajaran dengan pendekatan peta konsep lebih terfokus, sehingga meningkatkan keefektifan proses belajar mengajar.
Optimalisasi Kraton Kadariyah dalam Pengembangan Pariwisata di Kota Pontianak Kalimantan Barat Basuki Wibowo; Muhammad Syaifulloh
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 12, No 1 (2014): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/edukasi.v12i1.187

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah; (1) Mendeskripsikan wilayah dan latar belakangsejarah Keraton Kadariyah,(2) Mendeskripsikan upaya pengembangan dan pelestarian yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Pontianak terhadap Kraton Kadariyah sebagai objek wisata, dan (3) Mendeskripsikan manfaat pengembangan dan pelestarian Kraton Kadariah terhadap kehidupan masyarakat di sekitarnya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis yang meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi dan historiografi. Lokasi penelitian di wilayah Kota Pontianak Kalimantan Barat dan Penelitian dilakukan pada keluarga besar keraton Kadariah Pontianak, dinas pariwisata Kota Pontianak dan masyarakat yang tinggal disekitar keraton Kadariah. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dan studi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan Kalimantan Barat termasuk daerah yang belum melakukan optimalisasi terhadap cagar budaya sebagai daya tarik wisata termasukKeraton Kadariyah. Keraton Kadriyah sebagai daya tarik wisata kota pontianak memberi peran yang cukup besar bagi masyarakat yang bermukim di area keraton, terutama bagi sektor ekonomi masyarakat dengan melihat antusias pembukaan-pembukaan area perdagangan di sekitar Keraton. Upaya pemerintah kota Pontianak dalam pengembangan dan pelestarian kraton kadariyah sebagai objek wisata hanya sebatas promosi saja. Peneliti menyarankan perlunya kesadaran akan pentingnya bangunan sejarah sebagai simbol kejayaan masa lalu yang dapat tercermin pada saat kini serta menjadi potensi pariwisata yang sangat berharga. Pemerintah daearah diharapkan membantu Pembinaan terhadap masyarakat disekitar keraton harus dilakukan oleh pemerintah, halini dikarenakan dalam prinsip pariwisata keramahan masyarakat pendukung sangat diperlukan. Penataan kembali bangunan pendukung juga sangat diperlukan, hal ini untuk menunjang kenyamanan para wisatawan.
Pendidikan Sejarah Bangsa: Tunas Bangsa Indonesia Muhammad Syaifulloh
Edukasi: Jurnal Pendidikan Vol 11, No 2 (2013): Edukasi: Jurnal Pendidikan
Publisher : LPPM IKIP PGRI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31571/edukasi.v11i2.214

Abstract

Sejarah bangsa perlu dan penting diajarkan di sekolah. Sejarah bangsa memuat isi bagaimana bangsa ini terbentuk, dari asal mula terbentuknya sampai menjadi bangsa yang bersatu. Dengan menyadari asal-usul tersebut membuat siswa semakin sadar akan jati dirinya. Memberikan pendidikan sejarah bangsa sejak dini menjadi alternatif yang penting dalam pembentukan bangsa yang kuat. Teori belajar sejarah berbasis kesadran sejarah bangsa dapat digunakan agar menjadi tunas dalam pembentukan bangsa Indonesia yang kuat. Tunas semakin tumbuh besar seiring dengan perkembangan zaman. Demikianlah pendidikan sejarah bangsa sebagai tunas-tunas Indonesia. 
PENDIDIKAN TRANSFORMATIF DALAM PERSPEKTIF SEJARAH Muhammad Syaifulloh
SOSIOHUMANIORA: Jurnal Ilmiah Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 2 No 1 (2016)
Publisher : LP2M Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (281.156 KB) | DOI: 10.30738/sosio.v2i1.488

Abstract

Education is a transformative educational change. Changes toward a better understanding of the processes are required to undergo a change. Education is an alternative history in the development of changes in the realm of time. Time dimension that includes past a provision lesson "real" to determine the present and future. Theory of history can be used in describing and realizing the transformative education of a linear path toward civilization. History education is one of the driving transformative education.Keyword: Transformative Education and History Education
PEMANFAATAN BENDA CAGAR BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF BAGI MASYARAKAT SEKITAR DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Muhammad Syaiful
Jurnal Sejarah dan Budaya Vol 10, No 2 (2016): DESEMBER 2016
Publisher : Jurnal Sejarah dan Budaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.7 KB) | DOI: 10.17977/sb.v10i2.7671

Abstract

Abstrak: Benda cagar budaya di  kota Pontianak tersebar sangat banyak dan belum teridentifikasi secara mendalam. Peninggalan itu sebagai warisan budaya dan saksi bisu budaya lokal yang penting dalam membangun kesadaran sejarah dan budaya lokal menuju identitas budaya nasional. Dengan keberadaan benda cagar budaya tersebut mempunyai potensi yang besar dalam pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Semboyan larut tapi tidak hanyut menjadi bekal yang berguna dalam mengahadapi  arus globalisasi yang semakin cepat.  Peninggalan-peninggalan budaya lokal yang menjadi benda cagar budaya perlu untuk diteliti lebih lanjut mengingat telah terjadi percampuran dan penambahan akibat renovasi bangunan. Kesadaran lokal melalui kesadaran menjaga, merawat, melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia. Dengan demikian seluruh elemen masyarakat harus turut andil besar dalam menjaga, merawat, melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya tersebut. Benda cagar budaya yang ditemukan salah satu pihak terletak memusat sehingga dapat berpotensi menjadi basis pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif disekitarnya, dan di lain pihak masih menyebar secara luas sehingga “Teori Citra” dapat digunakan untuk memanfaatkannya berdasarkan letak/posisi daerah tersebut. Potensi pariwisata yang dapat dikembangkan meliputi potensi wisata budaya, wisata desa, wisata alam/air/penyususran sungai, dan wisata pendidikan dan penelitian. Pemanfaatam ekonomi kreatif dapat ditawarkan beberapa produk hasil kerajinan rakyat, souvenir dan wisata kuliner. Teori Alvin Tofler mengenai jiwa zaman “creatifity” dapat digunakan dalam rangka pengembangan masyarakat berbasis ekonomi kreatif. Pemanfaatan melalui ekonomi kreatif adalah salah satu alternatif dalam mengembangkan pariwisata yang berbasis budaya lokal.Kata Kunci: Benda Cagar Budaya, Budaya Lokal, Potensi Pariwisata, Ekonomi KreatifAbstract: Objects of cultural heritage in the town of Pontianak spread very much and have not been identified in depth. Heritage as cultural heritage and local culture silent witness important in building awareness of local history and culture to the national cultural identity. In the presence of objects of cultural heritage has a great potential in the development of tourism and creative economy. Motto late but do not drift into stock that is useful in facing the increasingly rapid globalization. Local cultural relics that become objects of cultural heritage need to be further investigated in light of the mixing and addition due to the renovation of the building. Local awareness through consciousness keep, care for, conserve and utilize objects of cultural heritage is very important for Indonesia. Thus all elements of society must contribute in maintaining, caring for, conserve and utilize the cultural heritage objects. Cultural heritage objects are found one of the parties is centered so could potentially be the basis of development of tourism and creative economy around, and on the other hand are still widely spread so that "Image Theory" can be used to exploit based on location / position of the area. Tourism potential that can be developed include the potential of cultural tourism, village tourism, nature / water / penyususran rivers, and tourist education and research. Pemanfaatam creative economy can offer some products of folk handicrafts, souvenirs and culinary tours. Alvin Tofler theory about the soul of the age "creatifity" can be used in the development of community-based creative economy. Utilization through creative economy is one of the alternatives in developing local culture-based tourism.Keyword: Objects of Cultural, Local Culture, Tourism Potential, Creative Economy
NILAI-NILAI EDUKATIF SYAIR GULUNG SEBAGAI UPAYA PENDIDIKAN KEBENCANAAN BERBASIS KOMUNITAS PADA MASYARAKAT MELAYU DI KABUPATEN KETAPANG KALIMANTAN BARAT Muhammad Syaifulloh; Basuki Wibowo
Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol 8, No 1 (2017): Refleksi Edukatika : Jurnal Ilmiah Kependidikan (Desember 2017)
Publisher : Universitas Muria Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24176/re.v8i1.1785

Abstract

This research aims to know and describe about 1) background of Syair Gulung in Ketapang Malay society of West Kalimantan, 2) Educative values contained in Syair Gulung, 3) Potential of Syair Gulung as a community-based disaster education efforts in Ketapang Malay society. This research uses qualitative research method with form of stuck case study strategy. Sources of data used are informants, places and events, and documents. Data collection techniques used direct observation techniques, in-depth interviews, and document studies. The sampling technique used is purposive sampling. Data validity uses triangulation and data analysis techniques using interactive analysis techniques.Syair Gulung is a typical Malay cultural art. The educational values that exist in the Syair Gulung can be developed as a tool of dissemination of disaster education which recently happened such as forest fire and flood. Natural disasters that occur in the Ketapang community can not be separated from the fading and shifting values of local wisdom that developed in the community. As a preventive form for the preservation of the natural environment, it reinvents the educational values implicit in Syair Gulung contributing greatly in the effort to preserve the nature of the disaster. Educational theories of local wisdom and disaster risk education are important in helping the realization of a disaster-conscious society. Community communities are highly effective targets for awareness of the importance of disaster education.
PEMANFAATAN BENDA CAGAR BUDAYA SEBAGAI POTENSI PARIWISATA DAN EKONOMI KREATIF BAGI MASYARAKAT SEKITAR DI KOTA PONTIANAK KALIMANTAN BARAT Muhammad Syaifullah; Basuki Wibowo
Sejarah dan Budaya : Jurnal Sejarah, Budaya, dan Pengajarannya Vol 10, No 2 (2016)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (913.7 KB)

Abstract

Abstrak: Benda cagar budaya di kota Pontianak tersebar sangat banyak dan belum teridentifikasi secara mendalam. Peninggalan itu sebagai warisan budaya dan saksi bisu budaya lokal yang pent-ing dalam membangun kesadaran sejarah dan budaya lokal menuju identitas budaya nasional. Dengan keberadaan benda cagar budaya tersebut mempunyai potensi yang besar dalam pengem-bangan pariwisata dan ekonomi kreatif. Semboyan larut tapi tidak hanyut menjadi bekal yang berguna dalam mengahadapi arus globalisasi yang semakin cepat. Peninggalan-peninggalan bu-daya lokal yang menjadi benda cagar budaya perlu untuk diteliti lebih lanjut mengingat telah terjadi percampuran dan penambahan akibat renovasi bangunan. Kesadaran lokal melalui kesadaran menjaga, merawat, melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya menjadi san-gat penting bagi bangsa Indonesia. Dengan demikian seluruh elemen masyarakat harus turut andil besar dalam menjaga, merawat, melestarikan dan memanfaatkan benda cagar budaya tersebut. Benda cagar budaya yang ditemukan salah satu pihak terletak memusat sehingga dapat berpotensi menjadi basis pariwisata dan pengembangan ekonomi kreatif disekitarnya, dan di lain pihak masih menyebar secara luas sehingga “Teori Citra” dapat digunakan untuk memanfaatkannya berdasarkan letak/posisi daerah tersebut. Potensi pariwisata yang dapat dikembangkan meliputi potensi wisata budaya, wisata desa, wisata alam/air/penyususran sungai, dan wisata pendidikan dan penelitian. Pemanfaatam ekonomi kreatif dapat ditawarkan beberapa produk hasil kerajinan rakyat, souvenir dan wisata kuliner. Teori Alvin Tofler mengenai jiwa zaman “creatifity” dapat digunakan dalam rangka pengembangan masyarakat berbasis ekonomi kreatif. Pemanfaatan me-lalui ekonomi kreatif adalah salah satu alternatif dalam mengembangkan pariwisata yang berbasis budaya lokal.Kata Kunci: Benda Cagar Budaya, Budaya Lokal, Potensi Pariwisata, Ekonomi KreatifAbstract: Objects of cultural heritage in the town of Pontianak spread very much and have not been identified in depth. Heritage as cultural heritage and local culture silent witness important in building awareness of local history and culture to the national cultural identity. In the presence of objects of cultural heritage has a great potential in the development of tourism and creative economy. Motto late but do not drift into stock that is useful in facing the increasingly rapid globalization. Local cultural relics that become objects of cultural heritage need to be further investigated in light of the mixing and addition due to the renovation of the building. Local aware-ness through consciousness keep, care for, conserve and utilize objects of cultural heritage is very important for Indonesia. Thus all elements of society must contribute in maintaining, caring for, conserve and utilize the cultural heritage objects. Cultural heritage objects are found one of the parties is centered so could potentially be the basis of development of tourism and creative economy around, and on the other hand are still widely spread so that "Image Theory" can be used to exploit based on location / position of the area. Tourism potential that can be developed include the potential of cultural tourism, village tourism, nature / water / penyususran rivers, and tourist education and research. Pemanfaatam creative economy can offer some products of folk handicrafts, souvenirs and culinary tours. Alvin Tofler theory about the soul of the age "creatifity" can be used in the development of community-based creative economy. Utilization through cre-ative economy is one of the alternatives in developing local culture-based tourism.Keyword: Objects of Cultural, Local Culture, Tourism Potential, Creative Economy