Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN 5R PADA KARYAWAN BAGIAN BENGKEL TRAILER DAN WORKSHOP AREA PT. X Sarbiah, Andi; Maulina, Dina; Pramawati, Anita
Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (j-kis) Vol. 1 No. 01 (2019): Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (J-KIS)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/j-kis.v1i01.493

Abstract

Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) adalah proses pembersihan semua kotoran agar dapat menggunakan benda yang diperlukan pada waktu yang diperlukan dalam jumlah yang secukupnya. Pemahaman tentang penerapan 5R yang baik pada karyawan di PT. X Batam bertujuan agar para karyawan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional yang bersifat cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang karyawan bagian bengkel trailer dan workshop area PT.X Batam Tahun 2020. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dan analisis statistic menggunakan uji chisquare. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapan 5R (p-value=0,025), hubungan ketersediaan fasilitas dengan penerapan 5R (pvalue=0,024) dan hubungan pelatihan dengan penerapan 5R (p-value=0,003). Disimpulkan dari hasil penelitian bahwa ada hubungan antara pengetahuan, ketersediaan fasilitas dan pelatihan dengan penerapan 5R, sehingga disarankan untuk perusahaan agar meningkatkan penerapan program 5R dan melakukan sosialisasi pada karyawan mengenai pentingnya penerapan 5R di tempat kerja, serta mengadakan pelatihan 5R bagi karyawan.
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PAPARAN PESTISIDA PADA PETANI PERKEBUNAN KELAPA DI PARIT III SOKOI KECAMATAN KUALA KAMPAR KABUPATEN PELALAWAN TAHUN 2019 Sundaru, Agung; Pramawati, Anita
Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (j-kis) Vol. 1 No. 01 (2019): Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (J-KIS)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/j-kis.v1i01.495

Abstract

Kelainan dan gangguan kesehatan yang terjadi akibat keracunan akut pada pestisida salah satunya berupa iritasi kulit dan mata, keracunan pestisida yang akut ada yang bersifat sistemikdapat menyerang sistem syaraf, hati,perut, sistem kekebalan dan keseimbangan hormonal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara faktor Alat Pelindung diri, masa kerja, dan lama kontak dengan paparan pestisida pada petani perkebunan kelapa di parit III sokoi kecamataan kuala Kampar kabupaten pelalawan. Metodologi yang digunakan adalah metode survey analitik pendekatan cross sectional. Populasi adalah pekerja kelapa, dengan sampel 41 responden teknik purposive sampling. Hasil penelitian ini diperoleh hasil nilai P value APD,Masa Kerja, lama konta kurang dari 0,05. Artinya Ho Di Tolak Ada Hubungan Yang Signifikan Antara Faktor Alat Pelindung Diri, Masa Kerja, Dan Lama Kerja Dengan Paparan Pestisisda. Kesimpulkan Ada Hubungan Yang Signifikan Antara Faktor Alat Pelindung Diri, Masa Kerja, Dan Lama Kerja Dengan Paparan Pestisisda Pada Petani Perkebunan Kelapa Diparit III Sokoi. Kecamatan Kuala Kampar Kabupaten Pelalawan Tahun 2019. Saran diharapkan kepada petani untuk menggunakan alat pelindung diri secara lengkap saat melakukan penyemprotan pestisida.
FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENERAPAN 5R PADA KARYAWAN BAGIAN BENGKEL TRAILER DAN WORKSHOP AREA PT. X pramawati, anita; Sarbiah, Andi; Dewita, Trisna
Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (j-kis) Vol. 1 No. 02 (2020): Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (J-KIS)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/j-kis.v1i02.496

Abstract

Penerapan 5R (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat dan Rajin) adalah proses pembersihan semua kotoran agar dapat menggunakan benda yang diperlukan pada waktu yang diperlukan dalam jumlah yang secukupnya. Pemahaman tentang penerapan 5R yang baik pada karyawan di PT. X Batam bertujuan agar para karyawan lebih meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam bekerja. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional yang bersifat cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 30 orang karyawan bagian bengkel trailer dan workshop area PT.X Batam Tahun 2020. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling dan analisis statistic menggunakan uji chi-square.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada hubungan antara pengetahuan dengan penerapan 5R (p-value=0,025), hubungan ketersediaan fasilitas dengan penerapan 5R (p-value=0,024) dan hubungan pelatihan dengan penerapan 5R (p-value=0,003). Disimpulkan dari hasil penelitian bahwa ada hubungan antara pengetahuan, ketersediaan fasilitas dan pelatihan dengan penerapan 5R,sehingga disarankan untuk perusahaan agar meningkatkan penerapan program 5R dan melakukan sosialisasi pada karyawan mengenai pentingnya penerapan 5R di tempat kerja, serta mengadakan pelatihan 5R bagi karyawan.
HUBUNGAN FAKTOR LINGKUNGAN DAN RIWAYAT PENYAKIT DIARE PADA KEJADIAN BALITA STUNTING DI PULAU SETOKOK KECAMATAN BULANG KOTA BATAM TAHUN 2023 Sagita, Devi; oktarizal, Hengky; Pramawati, Anita; yustisia, Firdaus
Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (j-kis) Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Ibnu Sina
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/j-kis.v5i1.636

Abstract

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan faktor lingkungan dan riwayat penyakit diare pada kejadian balita stunting di Pulau Setokok Kecamatan Bulang Kota Batam Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode pendekatan cross-sectional, sampel penelitian ini sebanyak 78 anak balita. Analisa data menggunakan Analisa univariat dan analisa bivariat dengan menggunakan uji chi-square pada derajat kepercayaan 95% dengan nilai p-value ≤ 0.05. Berdasarkan hasil penelitian ini didapatkan nilai p-value α yang memiliki arti constant, dengan demikian maka diketahui bahwa tidak terdapat hubungan antara kualitas air bersih dengan kejadian balita stunting. Dari hasil ini didapatkan nilai p-value 0.02 (≤ 0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara kepemilikan jamban pada kejadian balita stunting. Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai p-value 0.02 (≤ 0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara tipe rumah pada kejadian balita stunting. Dari hasil penelitian ini didapatkan nilai p-value 0.00 (≤ 0.05), dengan demikian dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan antara riwayat penyakit diare pada kejadian balita stunting.
Hubungan Sanitasi Dasar Rumah dan Kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Kejadian Diare pada Balita di RW 011 Kelurahan Baloi Permai Kota Batam Tahun 2023 Awaldi, Doifi; Pramawati, Anita; Herdianti
Jurnal Kesehatan Ibnu Sina (j-kis) Vol. 5 No. 1 (2024): Jurnal Kesehatan Ibnu Sina
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibnu Sina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36352/j-kis.v5i1.676

Abstract

Diare adalah buang air besar yang dapat terjadi tiga kali atau lebih dalam sehari dengan frekuensi cair. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan sanitasi dasar rumah dan kebiasaan cuci tangan pakai sabun dengan kejadian diare pada balita di RW 011 Kelurahan Baloi Permai Kota Batam tahun 2023. Jenis penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah semua ibu yang memiliki balita di RW 011 Kelurahan Baloi Permai Kota Batam yang berjumlah 38 sampel. Teknik sampling yang digunakan yaitu Purposive Sampling. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa adanya hubungan antara kondisi sarana penyediaan air bersih dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,027), kondisi bangunan jamban dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,050), kondisi tempat sampah rumah tangga dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,011), kondisi Saluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,005), kebiasaan Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) dengan kejadian diare pada balita (p value = 0,024).
Hubungan Faktor Kimia Udara (PM2.5, PM10) dan Kondisi Psikososial dengan Keluhan Sick Building Syndrome Pramawati, Anita; Oktarizal, Hengky; Rarasati, Fauziah
Jurnal Kesehatan Komunitas Vol 11 No 3 (2025): Jurnal Kesehatan Komunitas
Publisher : Universitas Hang Tuah Pekanbaru

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25311/keskom.Vol11.Iss3.2338

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) was a collection of symptoms associated with poor indoor air quality, with higher symptom severity among individuals experiencing psychosocial issues. This study aimed to determine the relationships between air chemical factors (PM2.5, PM10) and psychosocial conditions and sick building syndrome complaints. The research methodology used was quantitative with a cross-sectional study design. The sampling technique employed was total sampling, with a sample size of 41 individuals. Data analysis was conducted using the chi-square test at a 95% confidence level (α = 0.05). The results showed that 24 workers (58.5%) experienced SBS complaints. There was no significant association between CO and SBS complaints (p-value = 0). However, there was a significant correlation between PM2.5 (p-value = 0.031), PM10 (p-value = 0.031), and psychosocial conditions (p-value = 0.007) with SBS complaints. This study concluded that there was no significant correlation between CO and SBS complaints. However, a correlation was found between PM2.5, PM10, and psychosocial conditions with SBS complaints. It was recommended that the company improve the work environment by enhancing air circulation, maintaining workplace cleanliness, conducting regular environmental monitoring, and improving workers’ psychosocial conditions to reduce SBS complaints.