Claim Missing Document
Check
Articles

Tingkat pengetahuan orang tua dengan penerapan diet pada anak autis di Kota Banda Aceh Nunung Sri Mulyani; Novita Putri; Arnisam Arnisam
Darussalam Nutrition Journal Vol 5, No 1 (2021): Darussalam Nutrition Journal
Publisher : University of Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/dnj.v5i1.4878

Abstract

Latar belakang : Autisme merupakan gangguan sebagian perkembangan fungsi otak yang dapat di tandai dengan ketidakmampuan berkomunikasi, interaksi sosial, dan perilaku adaptif. Prevalensi autis di dunia saat ini mencapai 15-20 kasus per 10.000 anak atau berkisar 0,l5-0,20%. Penelitian ini dengan tujuan mengidentifikasi hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan penerapan diet pada anak autis di kota Banda Aceh 2018. Metode: Jenis penelitian ini deskriptif analitik menggunakan desain  crossectional. Subjek diambil sebanyak 36 orang, cara pengambilan sampel dengan cara  total sampling. Penelitian di Pusat Layanan Autis, TNCC, Bintang Kecil, dan My Hope Need Children kota Banda Aceh pada April-Juli 2018. Analisis menggunakan uji chi-square meliputi data primer dan sekunder. Hasil : Tingkat pengetahuan orang tua tentang penerapan diet pada anak autis di Kota Banda Aceh sudah baik, sebagian besar orang tua mempunyai pengetahuan baik 72,2 % dan penerapan diet pada anak autis di Kota Banda Aceh telah diterapkan pada anak sebanyak 77,8 %. Kesimpulan : Ada hubungan tingkat pengetahuan orang tua dengan penerapan diet pada anak autis. Saran : Bagi pihak terapi dapat meningkatkan konseling atau edukasi kepada orang tua terkait penerapan diet pada anak autis agar dapat meningkatkan pengetahuan sehingga dapat mengubah perilaku makan anak menjadi lebih baik lagi. 
ASUPAN PROTEIN, ZAT BESI, DAN VITAMIN C DENGAN KEJADIAN ANEMIA PADA MAHASISWI GIZI POLTEKKES KEMENKES ACEH Nunung Sri Mulyani; Cut Nabila Sadrina
Jurnal GIZIDO Vol 13 No 1 Mei (2021): Jurnal GIZIDO edisi Mei 2021
Publisher : POLTEKKES KEMENKES MANADO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47718/gizi.v13i1 Mei.1177

Abstract

Abstract Young women are at higher risk of developing anemia compared to adolescent males because each month is subjected to menstrual cycles and has wrong eating habits such as lack of protein intake, iron intake and vitamin C intake which plays an important role in preventing anemia. The purpose to know the relation of protein intake, iron, and vitamin C with the incidence of anemia in the student college Poltekkes in Aceh Kemenkes. This type of research using Cross sectional method is performed in January 2020 in the Department of Nutrition Poltekkes Kemenkes Aceh. The process of collecting the intake data using a SQ-FFQ questionnaire and calculated with the nutrisurvey software while Hb Using the Easy Touchtool. Then data is processed by testing the statistical Chi-Square. Most of protein intake is adequate 48sample (84,2%),iron intake isdecrease 49 sample (86%),vitamin C is adequate 32 sample (56,1%). There is a significant connection between intake of proteins with the incidence of anemia. While iron and vitamin C with the incidence of anemia has no significant relation. It is expected to student of D-IV Nutrition in Health Polytechnic of Aceh can increase the intake of iron and vitamin C to prevent anemia. Keywords: Protein intake, iron intake, Vitamin C intake, incidence of Anemia
Faktor resiko kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa Nunung Sri Mulyani; Agus Hendra Al Rahmad; Raudatul Jannah
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 3, No 2 (2018): AcTion Vol 3 No 2 Tahun 2018
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.148 KB) | DOI: 10.30867/action.v3i2.113

Abstract

Coronary heart disease generally occurs due to an increase in irregular cholesterol levels. Blood cholesterol is influenced by several factors, including genetic, gender, diet, obesity, and excessive coffee drinking. This study aims to determine the factors that influence blood cholesterol levels in outpatients with coronary heart disease at Meuraxa Regional Hospital. This study is a descriptive-analytical Case Control design, conducted in patients with coronary heart disease as many as 45 cases and 45 controls in May 2017 Data analysis using Chi-Square test. Diet data was collected using food recall, genetic data, sex collected by interview using questionnaires, nutritional status data collected through body mass index (BMI) measurements and cholesterol data collected through blood tests. Bivariate analysis showed a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels with OR 2.768 (p = 0.033). There was no significant relationship between coffee consumption with HDL, LDL, and triglycerides (0.292; 0.088; 0.125). There was no significant correlation between genetic, gender, diet and nutritional status with levels of total cholesterol, LDL, HDL, and Triglycerides.T here is a significant relationship between coffee consumption and total cholesterol levels in patients with coronary heart disease, so it is necessary to limit coffee consumption for people with coronary heart disease.Penyakit jantung koroner umumnya terjadi karena peningkatan kadar kolesterol yang tidak teratur. Kolesterol darah dipengaruhi oleh beberapa faktor, diantaranya genetik, jenis kelamin, pola makan, obesitas, serta minum kopi yang berlebihan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kadar kolesterol darah pada pasien rawat jalan penderita jantung koroner di RSUD Meuraxa. Penelitian deskriptif analitik berdesain Case Control, yang dilakukan pada  pasien penderita jantung koroner sebanyak 45 kasus dan 45 kontrol pada bulan Mei 2017. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Data pola makan dikumpulkan dengan menggunakan food recall, data genetik, jenis kelamin dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuisioner, data status gizi dikumpulkan melalui pengukuran indeks massa tubuh (IMT) dan data kolesterol dikumpulkan melalui pemeriksaan darah. Analisis bivariat  menunjukkan ada hubunganyang signifika konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total dengan OR 2,768 (p= 0,033). Tidak ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan HDL, LDL dan trigliserida (0,292; 0,088; 0,125). Tidak ada hubungan yang signifikan genetik, jenis kelamin, pola makan dan status gizi dengan kadar kolesterol total, LDL, HDL dan Trgliserida. Ada hubungan yang signifikan konsumsi kopi dengan kadar kolesterol total pada penderita jantung koroner sehingga perlu kiranya pembatasan konsumsi kopi bagi penderita jantung koroner.
Pengaruh Pemberian Aktifitas Fisik (Aerobic Exercise) terhadap Tekanan Darah, IMT dan RLPP pada Wanita Obesitas Yulia Fitri; Nunung Sri Mulyani; Eva Fitrianingsih; Suryana Suryana
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 1, No 2 (2016): Volume 1 No 2 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (623.683 KB) | DOI: 10.30867/action.v1i2.19

Abstract

Based on data from the Indonesian health profile 2011 for the province of Aceh alone prevalence of nutritional status of the adult population (> 18 years) are overweight get into the top ten highest in Indonesia, namely by 10.9% and 13.4% were obese. Granting activity physical (gymnastics healthy heart) is one activity that can affect blood pressure in obese people. Researchers in the United States explains that physical activity at least 15 minutes a day is estimated to decrease by 14% the risk of hypertension obesity which can lead to death. Usefulness study: the development of science can be known benefits of physical activity (aerobic exercise) on blood pressure, BMI and waist-hip ratio in obese women. The study design used was quasi-experimental, with a pre-posttest observational approach, to examine the provision of physical activity (aerobic exercise) on blood pressure, BMI and waist-hip ratio in women Obesity. The results showed that research there is the effect of physical activity (aerobic exercise) for IMT (p = 0,000), and blood pressure (p = 0,000) in obese women but no effect of physical activity on the ratio of the circumference pelvic waist (waist-hip ratio) (p = 0,230). Conclusion: From the results, it can be concluded that there is the influence of physical activity on blood pressure, BMI, and waist-hip ratio, but physical activity does not affect the waist-hip ratio. Keywords: Blood pressure, BMI, waist-hip ratio, obesity
Hubungan Rasio Lingkar Pinggang Pinggul (RLPP) dengan Kadar Gula Darah pada Pegawai di Puskesmas Sakti Pidie Nunung Sri Mulyani; Novia Rita
AcTion: Aceh Nutrition Journal Vol 1, No 2 (2016): Volume 1 No 2 Tahun 2016
Publisher : Jurusan Gizi Politeknik Kesehatan Kemenkes Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.235 KB) | DOI: 10.30867/action.v1i2.17

Abstract

Obesity risk of developing the degenerative disease is eight times larger than the nutritional status normal.Prevalensinya increased not only in developed countries but also in developing countries, including Indonesia. Prevalence in Aceh on the nutritional status obtained meager 11.1%, 61.1% normal weight and 11.6% were obese as much as 16.3%. Insulin resistance happens in the obese group then lead to reduced insulin, causing glucose to enter the cells difficult. This situation ends to elevated levels of glucose in the blood. The aim of research to measure the relationship waist-hip ratio (waist-hip ratio) with blood sugar levels in employees in Puskesmas Sakti Pidie 2016. This research is descriptive analytic conducted cross-sectional. The number of samples 60 people. Data collected by measuring waist circumference, hip circumference, and blood sugar levels respondents. Data analysis statistical test Spearman Rank Correlation. The results of the study the majority of respondents have an abnormal waist-hip ratio of 93.3%, and most respondents had a low blood sugar level of 75%. Spearman Rank Correlation Analysis Results in Waist Hip Ratio (waist-hip ratio) with Blood Sugar Levels in Employees that have a weak correlation (rs = 0.024) and a positive pattern, the greater Waist Hip Ratio, the higher the blood sugar levels. Statistical test results obtained p = 0.856 means that there is no relationship Waist Hip Ratio with Blood Sugar Levels in Pidie Sakti Employees in the health center. Conclusion: There lies an association between the ratio of waist to hip circumference (waist-hip ratio) with blood sugar levels in employees in Puskesmas Sakti Pidie. Keywords : Waist hip ratio, blood sugar levels
Konsumsi Natrium Lemak Jenuh Dan Serat Berhubungan Dengan Kejadian Penyakit Jantung Koroner Di Rumah Sakit dr. Zainoel Abidin Banda Aceh Wiqayatun Khazanah; nunung sri mulyani; Ramadhaniah Ramadhaniah; Cut Siti Novia Rahma
Jurnal Kesehatan Vol 7 No 1 (2019): April
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/j-kes.v7i1.72

Abstract

Penyakit jantung koroner merupakan kondisi yang terjadi akibat penumpukan plak di arteri jantung sehingga mengakibatkan suplai darah ke jantung terganggu sehingga dapat menyebabkan serangan jantung. Prevalensi PJK khususnya di daerah Aceh berkisar 0,7%. Penyebab terjadinya PJK yaitu usia, jenis kelamin, genetik, merokok, hipertensi, diabetes, stress, pola makan. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juli 2018 di poliklinik rawat jalan RSUZA Banda Aceh. Penelitian bersifat Deskriptif Analitik dengan desain cross sectional dengan sampel 178 orang. Data dikumpulkan terdiri dari primer dan sekunder yang diuji dengan statistik Chi-square. Sampel yang mengakami PJK paling didominasi dengan jenis kelamin laki-laki, dan mengkonsumsi natrium yang berlebih, sampel yang tidak memiliki keturunan PJK tidak mengalami PJK dan yang memiliki riwayat hipertensi mengalami PJK. Ada hubungan yang signifikan antara konsumsi natrium, konsumsi lemak jenuh dan konsumsi serat pada kejadian PJK di RSUZA Banda Aceh (p-value ≤ 0,01). Kata Kunci: PJK, Konsumsi natrium,  Lemak Jenuh,  Serat.
Pengaruh Penambahan Tepung Maizena Terhadap Daya Terima Velva Jambu Biji Nunung Sri Mulyani
Jurnal Pendidikan Kimia (JPKim) Vol 8, No 1 (2016): April
Publisher : Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.458 KB) | DOI: 10.24114/jpkim.v8i1.4423

Abstract

Abstract. Guava is one type of fruit that has not received special attention in Indonesia. Guava fruit in unfavorable environmental conditions will cause damage guava fruit, both in appearance, texture, aroma and nutritional value. One way to overcome this problem is by low temperature processing such as Velva. To obtain good results Velva with a soft texture and smooth to use stabilizers with the right amount. Objective: To determine the effect of various concentrations of adding cornstarch to receive power Velva guava. This study is an experimental test using a hedonic liking organoleptic test. Conducted at the Laboratory of Food Technology Nutrition Department Banda Aceh, on the 29th until August 31, 2012 with the number of panelists somewhat trained 25 students from the Department of Nutrition Level III. The research design uses completely randomized design (CRD) non factorial, processing and analyzing data using Analysis Fingerprint Car (ANSIRA) and continued with Duncan test to see some real treatment effect. From the test results mean organoleptic guava Velva Velva acquired taste panelists are most preferred in treatment B (1%), the most preferred color Velva panelist is in treatment C (1.5%), the most preferred scents Velva panelist is on C treatment (1.5%), and the texture of the most preferred Velva panelist is in treatment B (1%). The addition of cornstarch concentration significantly affect flavor and texture, but did not significantly affect the color and aroma of guava Velva. Keywords: velva, guava, meizena
Faktor risiko yang mempengaruhi kadar asam urat pada penderita hiperurisemia di wilayah kerja Puskesmas Muara Satu Kota Lhokseumawe Ira Riswana; Nunung Sri Mulyani
Darussalam Nutrition Journal Vol 6, No 1 (2022): Darussalam Nutrition Journal
Publisher : University of Darussalam Gontor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21111/dnj.v6i1.6909

Abstract

Background: Hyperuricemia is caused by increased levels of uric acid in the body. One of the factors that increase uric acid levels is the intake factor, namely excessive purine intake. However, body mass index, age, gender, and genetics are also risk factors. Objective: The purpose of this study was to determine the risk factors that affect uric acid levels in hyperuricemic patients. Methods: This research is descriptive-analytic using a case-control design. This research was conducted at the Muara Satu Health Center, Lhokseumawe City in February 2021. The total sample was 21 people aged 45-65 years for each case and control group. Age, sex, and genetic data were collected using a questionnaire using interviews. BMI was collected using weight and TB measurements, and purine intake was collected using food recall. Data were analyzed using Chi-Square. Results: The risk factor that influenced the increase in uric acid levels was higher purine intake (p=0.004; OR=1.79), while age, sex, and BMI had no significant risk factors with uri c acid levels (OR=0.298, OR= 0.178, OR=0.277). Conclusion: Purine intake as a risk factor for increased uric acid levels and age, sex and BMI did not have a significant risk factor with uric acid levels.Keywords : Purine intake, genetics, BMI, gender, ageAbstrakLatar Belakang : Penyebab Hiperurisemia terbagi 2 yaitu faktor yang tidak dapat dikontrol dan dapat dikontrol. Faktor yang tidak dapat dikontrol umur, jenis kelamin dan genetik, sedangkan faktor yang dapat dikontrol IMT dan asupan purin. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor risiko yang mempengaruhi kadar asam urat pada penderita hiperurisemia di Wilayah Kerja Puskesmas Muara Satu Kota Lhokseumawe. Metode : Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan menggunakan desain case control. Penelitian ini dilaksanakan di Puskesmas Muara Satu Kota Lhokseumawe pada bulan Februari 2021. Data umur, jenis kelamin dan genetik dikumpulkan menggunakan kuesioner dengan cara wawancara. IMT dikumpulkan menggunakan pengukuran BB dan TB dan asupan purin dikumpulkan menggunakan recall dengan cara wawancara. Data dianalisis dengan menggunakan Chi-Squarae.  Hasil : Sebagian besar penderita hiperurisemia berusia lansia awal sebanyak 11 orang (52.4%) dan berjenis kelamin perempuan sebanyak 18 orang (85.7%). IMT sebagian besar kelebihan BB ringan sebanyak 14 orang (66.7%) dan memiliki riwayat genetik sebanyak 12 orang (57.1%) dengan asupan purin sebagian besar lebih banyak 18 orang (85.7%). Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara genetik dan asupan purin dengan kadar asam urat dan tidak ada hubungan yang signifikan antara umur, jenis kelamin dan IMT dengan kadar asam urat pada pasien hiperurisemia yang rawat jalan di Puskesmas Muara Satu Lhokseumawe.
ASUPAN SERAT DAN AIR SEBAGAI FAKTOR RISIKO KONSTIPASI DI KOTA BANDA ACEH Nunung Sri Mulyani
Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA) Vol 2, No 1 (2019): Majalah Kesehatan Masyarakat Aceh (MaKMA)
Publisher : Universitas Serambi Mekkah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/makma.v2i1.884

Abstract

Konstipasi adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perubahan konsistensi feses menjadi keras, ukuran besar, penurunan frekuensi atau kesulitan defekasi. Angka menunjukkan bahwa sekitar 2,5 juta kunjungan ke dokter setiap tahun adalah untuk mengobati konstipasi dan jumlah orang yang menderita konstipasi meningkat dengan usia. Serat makanan di dalam feses dapat menyerap banyak air, sehingga membuat feses menjadi lunak atau mencegah konstipasi. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional studi. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 60 orang. Data yang dikumpulkan yaitu asupan serat, asupan cairan dan aktivitas fisik yang dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan food recall dan kuisioner. Analisis statistik yang digunakan yaitu Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian konstipasi di Puskesmas Batoh sebesar 66,7%. Hasil analisis bivariat menunjukkan ada hubungan yang bermakna antara asupan serat dengan kejadian konstipasi (p value = 0,002), ada hubungan yang bermakna antara asupan cairan dengan kejadian konstipasi (p value= 0,005), dan tidak ada hubungan yang bermakna antara aktivitas fisik dengan kejadian kontipasi (p value = 0,057). Diharapkan pihak Puskesmas memberikan komunikasi informasi edukasi (KIE) agar masyarakat meningkatkan kualitas kesehatan agar mengurangi risiko yang dapat menyebabkan terjadinya konstipasi.Kata Kunci:  Asupan Cairan, Aktivitas Fisik, Asupan Serat, Kejadian Konstipasi
Pengetahuan Ibu dan Dukungan Keluarga dengan Keberagaman Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MP-ASI) pada Balita Usia 6-24 Bulan Eva Fitriyaningsih; Nunung Sri Mulyani; Rachmawati Rachmawati; Nurasiah Nurasiah
JGK:Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2 No 1 Juni (2022): Jurnal Gizi dan Kesehatan
Publisher : Jurusan Gizi, Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.916 KB)

Abstract

Latar Belakang: Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan yang pesat yang sering diistilahkan sebagai periode emas. Tingginya gizi kurang sangat terkait dengan praktek pemberian makanan. Pengetahuan akan menentukan perilaku seseorang. Seorang ibu yang memiliki pengetahuan tinggi akan berpikir dalam bertindak. Tujuan penelitian ini untuk melihat hubungan pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan keberagam MP-ASI balita di desa Lamjruen dan Alue Rindang. Metode: Penelitian ini bersifat Deskriptif Analitik, dengan menggunakan pendekatan Cross Sectional dengan sampel 32 balita. Pengambilan sampel secara total Sampling yang dilakukan pada 6-12 juli 2018. Pengolahan data menggunakan uji Chi Square. Hasil: balita beragam MP-ASI sebesar 54,9%, ibu-ibu berpengetahuan baik sebesar 81,3%, dukungan keluarga yang baik 53,1% keluarga mendukung pemberian ASI eksklusif dan 25,8% ibu-ibu bersikap positif terhadap ASI eksklusif. Hasil uji statistik pengetahuan ibu menunjukkan p=0,666 (p>0,05), dukungan keluarga p = 0,721 (p>0,05). Kesimpulan: tidak ada hubungan antara pengetahuan ibu dan dukungan keluarga dengan keberagaman MP-ASI balita usia 6-23 bulan. Saran: Disarankan bagi tenaga kesehatan untuk memberikan penyuluhan tentang keberagaman MP-ASI balita.