Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Deconstructing Aestheticism in Oscar Wilde’s The Picture of Dorian Gray: Beauty and Moral Corruption Yuliandini, Nabila; Istiningdias, Dini Sri; Gusthini, Misyi
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 3 (2026): Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora (Maret)
Publisher : CV Insan Kreasi Media

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57248/jishum.v4i3.779

Abstract

This analysis of Oscar Wilde's The Picture of Dorian Gray using an aestheticism approach and decadence theory. This study aims to analyze the representation of aestheticism influenced by the thoughts of Walter Pater and the concept of decadence rooted in the ideas of Charles Baudelaire through the main character Dorian Gray. The method used is a descriptive qualitative analysis of the elements of characterization and symbolism in the novel. The analysis shows that Dorian Gray represents the extreme application of aestheticism, placing beauty, youth, and pleasure as the main goals of life without considering the moral consequences. The separation between Dorian's body, which remains beautiful, and the portrait that bears the inner decay becomes the main symbol of the paradox of aestheticism. From the perspective of decadence, Dorian's life reflects the decline of moral values, the excessive pursuit of pleasure, and the state of "spleen" in the form of boredom and existential emptiness. This study concludes that The Picture of Dorian Gray not only celebrates beauty but also critiques aesthetic life detached from ethical values.
TINDAK TUTUR DALAM PIDATO SAMBUTAN MENTERI KEUANGAN ‘SRI MULYANI’ (KONVENSI SAINS-TEKNOLOGI 2025) : KAJIAN PRAGMATIK Gusthini, Misyi; Fitriyani, Risa; Istiningdias, Dini Sri
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2090

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fungsi dan makna tuturan yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, yang memberikan sambutan pada Konvensi Sains-Teknologi 2025 di kampus Institut Teknologi Bandung pada 7 Agustus 2025. Dalam pidatonya, terdapat pernyataan yang membuat para pendidik di seluruh Indonesia memberikan perhatian khusus terhadap momen tersebut, “Banyak yang di media sosial selalu mengatakan, oh menjadi dosen atau guru tidak dihargai karena gajinya tidak besar, apakah semuanya harus keuangan negara? Ataukah ada partisipasi masyarakat?” Tuturan tersebut menimbulkan berbagai interpretasi dari kalangan pendidik maupun non-pendidik sehingga penulis merasa perlu untuk menganalisis secara mendalam makna dari tuturan tersebut. Dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif, penulis menganalisis teks transkripsi pidato Menteri Keuangan dalam Konvensi Sains-Teknologi 2025. Penelitian ini memberikan kontribusi terhadap pemahaman pola tindak tutur dalam konteks pidato politik formal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 12 data, yang terdiri dari 9 data representatif termasuk representatif-direktif, serta 3 data ekspresif termasuk ekspresif-representatif-direktif. Tindak tutur representatif digunakan untuk menyampaikan pernyataan, serta menginformasikan asal dana pendidikan dari APBN, jumlahnya, dan bagaimana dana tersebut didistribusikan dalam klaster 1, 2, dan 3 beserta tujuan masing-masing. Sementara itu, tindak tutur ekspresif digunakan untuk mengungkapkan sudut pandang pribadi Menteri Keuangan terkait keluhan para pendidik di Indonesia mengenai dana tunjangan kinerja.