Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Model Pembelajaran Mapan dalam Pembelajaran Menulis Huruf Arab pada Siswa Madrasah Ibtidaiyah Dayudin Dayudin; Bambang Samsul Arifin
Jurnal al-Thullab Vol 5, No 1 (2020): Atthulab: Islamic Religion Teaching and Learning Journal
Publisher : Laboratory of Islamic Religious Education Faculty of Tarbiyah and Teacher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ath.v5i1.7500

Abstract

This article aims to get an effective learning model in learning to write Arabic letters for madrasah diniyah students. This research uses the Research and Development method with 76 research subjects as madrasah ibtidaiyah students. The results obtained indicate that the Mapan learning model is very effective in achieving goals and improving learning outcomes in writing Arabic letters for students of Madrasah Ibtidaiyah. During the implementation of the learning model only faces obstacles in the form of engineering learning facilities and infrastructure. Supporting factors which are the strengths of this learning model are the awakening of student learning participation, the learning model is easy to learn and implemented by teachers and students easily follow and capture learning material.Artikel ini bertujuan untuk mendapatkan sebuah model pembelajaran yang efektif dalam pembelajaran menulis huruf Arab bagi siswa madrasah diniyah. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development dengan subjek penelitian 76 orang siswa madrasah ibtidaiyah. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa model pembelajaran Mapan sangat efektif dalam mencapai tujuan dan peningkatan hasil pembelajaran dalam menulis huruf Arab bagi siswa Madrasah Ibtidaiyah. Selama implementasi model pembelajaran hanya menghadapi kendala berupa rekayasa sarana dan prasarana pembelajaran. Faktor pendudukung  yang menjadi kelebihan model pembelajaran ini yaitu membangkitkan partisipasi belajar siswa, model pembelajaran mudah dipelajari dan dilaksanakan oleh para guru dan siswa mudah mengikuti dan menangkap materi pembelajaran.
METODE MAPAN Menggagas Metode Baru Menulis Huruf Arab Lebih Singkat Dayudin Subangkit; Ateng Rohendi
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 16, No 1 (2019): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v16i1.3778

Abstract

One aspect of learning Arabic is writing Arabic. The ability to write Arabic is supported by the ability to write letters properly and correctly. The better writing of Arabic letters will have an impact on the quality, accuracy and beauty of Arabic writing. The ability to write Arabic letters among Islamic students, even students majoring in Arabic, are on average low and do not meet the standards. This has an impact on the weak and good ability of Arabic. Research on early semester at the Arabic Language and Literature Department of the Faculty of Adab and Humanities at UIN Sunan Gunung Djati Bandung showed that students were still having difficulty writing Arabic letters properly. The difficulty is due to the following factors: First, the unfamiliarity of students writing sentences in Arabic. Second, the unfamiliarity of writing from the right side with the peculiarities of Arabic letters that require their own expertise. Third, weak Arabic language ability requirements and Arabic writing tests in the entrance test for admissions to Arabic majors. This study initiated a new method of writing Arabic letters more effectively through the anatomical approach of letters to facilitate the learning of Arabic writing. This new method is named Metode Mapan which dissects anatomically the structure of Arabic letters by separating the letters based on loose letters, connecting letters, variations in letters, punctuation marks, and numbers to create ease of Arabic writing so that more effective, easier, methodologically correct and aesthetically beautiful. The psychological impact of the findings of this study is expected to lead to a penchant for Arabic writing which has been considered difficult.
FRASA NOMINA DALAM BAHASA INDONESIA DAN TARKIB ISMI DALAM BAHASA ARAB (KAJIAN KONTRASTIF) Syifa Satia Salsabila; Edi Komarudin; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v4i1.13519

Abstract

Peneltian ini berjudul “Analisis Kontrastif Kajian Frase Nominal dalam Bahasia Indonesia dan Tarkib Ismi dalam Bahasa Arab”. Dengan tujuan untuk menemukan perbedaan dan persamaan pada FN dalam bahasa Indonesia (BI) dan tarkib Ismi dalam Bahasa Arab (BA). Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif kontrastif dengan pendekatan linguistik. Data dalam penelitian ini diambil dari dua jenis sumber data yaitu (1) sumber data primer diantaranya kitab Tijan Addarari, durusul fiqih, cerpen daulatul ‘ashafir beserta ketiga tarjamahnya, (2) sumber data sekunder yaitu jumlatul ‘arabiyah, Jami’ud Durus, TBBI dan Linguistik Umum. Dan untuk tehnik pengumpulan data penelitian ini adalah tehnik studi kepustakaan dengan jenis data, data purposive. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa Persamaan antara FN BI dan tarkib ismi terdapat pada Unsur pusatnya, dan perbedaanya terdapat pada setiap jenisnya. (a) Tidak semua tarkib idhafi termasuk kedalam kategori frasa yaitu jika mudhafnya mengandung makna predikatif, sedangkan frasa nomina pewatas nomina semuanya masuk kedalam kategori frasa.(b) frasa nomina penentu numeralia tidak memiliki aturan gender sedangkan tarkib ‘adadi memiliki aturan gender dan dibagi kedalam dua kategori yaitu tarkib idhafi dan tarkib tamyiz.(c) Frasa nomina dengan atribut ketakrifan, semua tanda ketakrifan masuk kedalam kategori frase, sedangkan tanda ketakrifan dalam BA yang masuk kedalam kategori frasa hanya dua yaitu, idhafat dan isyarah. (d) Tarkib ismi na’ti mempunyai syarat tertentu antara unsur pusat dan atribut, yaitu gender, jumlah dan umum-khusus, sedangkan dalam frasa nomina pewatas adjektiv tidak ada syarat pembentuk apapun. Terakhir (e) Tarkib ismi mempunyai tarkib tamyiz sedangkan FN BI tidak, namun setelah diteliti padanan dari tarkib ismi tamyizi dalam BI ada pada kategori FN dengan pewatas numeralia dan FN dengan pewatas nomina. Dan juga, Pada tataran jenis FN BI memiliki pewatas penggolong sedangkan tarkib ismi tidak. Untuk perbedaan secara keseluruhan FN dengan tarkib ismi adalah syarat pembentuknya, baik dalam jumlah, gender ataupun jenis.
Simbol Mistisisme dalam Naskah Mihir Nur Buwwat (Kajian Semiotika Rolland Barthes) Septi Anjani; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v3i1.6524

Abstract

Penelitian ini berujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan interpretasi dan ideologi makna dasar yang terdapat dalam simbol mistisisme naskah mihir nūr bwwat. Metodelogi yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif-hermeneutik dengan jenis penelitian kualitatif. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis semiotika Rolland Barthes, dengan mengusung teori signifikasi tanda melalui dua proses tahapan, yaitu sistem signifikasi tingkat pertama atau tataran denotasi dan sistem signifikasi tingkat dua yaitu tataran konotasi, untuk mengurai sebuah mitos dalam ruang mistisime yang termuat dalam simbol-simbol naskah mihir nūr buwwat dengan cara menginterpretasikan makna mitos dan ideologi yang terkandung di dalamnya.
PRINSIP KESOPANAN MAKSIM KEDERMAWANAN TOKOH UTAMA DALAM NOVEL “AULĀD HĀRATINĀ” EPISODE JABAL KARYA NAJĪB MAHFŪZ (KAJIAN PRAGMATIK) Suci Asari Rochman; Ajang Jamjam; Dayudin Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v2i1.6477

Abstract

Sebuah novel karya Najīb Mahfūz berjudul Aulād Hāratinā Episode Jabal menceritakan tentang Jabal, yaitu seorang tokoh yang menjadi pemimpin untuk melawan bentuk ketidakadilan penguasa dan orang-orang yang kaya di lingkungannya. Jabal terlahir dari keturunan Al-Jabalāwi, yaitu keluarga Hamdān. Kakeknya ialah pendiri kampung yang bernama Adham. Ia diangkat menjadi putera oleh keluarga yang tidak memiliki putra, yaitu keluarga Al-Afandī yang merupakan keluarga yang memiliki kekayaan sekaligus kekuasaan. Terdapat prinsip kesopanan maksim kedermawanan pada  tuturan tokoh Jabal dalam novel Aulād Hāratinā episode Jabal. Dengan demikian, dalam penelitian ini akan dibahas satu permasalahan, yaitu bagaimana menggunakan prinsip kesopanan maksim kedermawanan pada tokoh utama dalam novel Aulād Hāratinā episode Jabal Karya Najīb Mahfūz; Berlandaskan batasan masalah tersebut maka dapat diidentifikasi tujuan penelitian ini yaitu mendeskripsikan prinsip kesopanan guna mengetahui penggunaan prinsip dan adanya maksim kedermawanan yang terdapat pada tokoh utama dalam novel Aulād Hāratinā episode Jabal Karya Najīb Mahfūz. Untuk mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik. Dalam teknik pengumpulan data-data menggunakan metode simak yang selanjutnya akan dianalisis dengan menggunakan metode padan ekstralingual dan menganalisis tuturan tokoh utama Jabal dengan menggunakan pendekatan pragmatik teori prinsip kesopanan. Penggunaan metode tersebut akan menghasilkan sebuah penelitian penggunaan prinsip kesopanan tuturan yang terdapat pada tokoh utama Jabal dalam novel Aulād Hāratinā episode Jabal Karya Najīb Mahfūz, yaitu adanya maksim kedermawanan.
AFIKSASI INFLEKTIF KATA KERJA MASA LAMPAU DALAM BAHASA ARAB DAN BAHASA JEPANG Mutaqin, Ihsan Anwar; Ainusyamsi, Fadlil Yani; Dayudin, Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v7i1.28852

Abstract

Bahasa sebagai sebuah alat komunikasj yang digunakan oleh manusia dalam segala aspek kehidupannya merupakan sistem yang dibangun oleh sistem - sistem lainnya.  Morfologi merupakan salah satu sistem yang membangun sebuah bahasa. Afiksasi merupakan proses pembentukan kata sehingga kata dapat digunakan dalam sebuah ujaran. Proses afiksasi ini dapat bersifat inflektif dan devariatif. Bahasa Arab dan bahasa Jepang merupakan salah satu bahasa yang produktif dalam proses afiksasi inflektif. Untuk mengetahui persamaan dan perbedaan dari proses afiksasi inflektif dalam bahasa Arab dan bahasa Jepang dapat digunakan metode analisis kontrastrif. Proses afiksasi inflektif dalam kata kerja bentuk lampau bahasa Arab dan bahasa Jepang memiliki persamaan dari posisi penempatan afiksnya yakni berupa sufiks dan berbeda dari makna yang diberikan oleh afiks yang mengimbuhi kata kerja lampaunya.
PELANGGARAN PRINSIP KERJA SAMA DAN IMPLIKATUR PERCAKAPAN DALAM FILM “MOANA” KARYA JOHN GRIERSON: KAJIAN PRAGMATIK Qolbi, Shafira Nurul; Dayudin, Dayudin
Hijai - Journal on Arabic Language and Literature Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Bahasa dan Sastra Arab, Fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hijai.v6i2.14424

Abstract

"Moana" is a film by John Grierson that tells the story of a teenage girl,the daughter of a leader in the village of Motunui who wants to save her village from natural destruction. In the conversation in the film Moana, there are several violations of the principle of cooperation which give rise to conversational implicatures. This research aims to describe the types of violations of the principle of cooperation committed by characters in the animated film "Moana" by John Grierson and to describe the conversational implicatures that occur as a result of violations of the principle of cooperation in the animated film "Moana" by John Grierson. The research method used is descriptive-analytical, with data collection techniques using the listening method followed by note-taking techniques, while the analytical method used in this research uses the extra lingual matching method for data sources taken from the speech of characters in the film "Moana". The results of the research revealed that in the animated film "Moana" there was a violation of the principle of cooperation, namely a violation of the maxim of quantity, quality,  relevance, and method or implementation. Violations of the principle of cooperation give rise to conversational implicatures which include: inviting, refusing, winning, commanding, praising, helping, belittling, asking for help, protecting, defending,seeking attention, influencing, stopping, reprimanding, proving, correcting mistakes, and encouraging.Film “Moana” merupakan film karya John Griersin yang menceritakan tentang seorang gadis remaja, anak dari seorang pemimpin di desa Motunui yang ingin menyelamatkan desanya dari kerusakan alam. Dalam percakapan film Moana terdapat sejumlah pelanggaran prinsip kerja sama. Adanya pelanggaran tersebut memunculkan adanya implikatur percakapan. Tujuan dari penelitian ini ialah: 1) Untuk mendeskripsikan jenis pelanggaran prinsip kerja sama yang dilakukan tokoh dalam film animasi “Moana” karya John Grierson. 2) Untuk mendeskripsikan implikatur percakapan yang terjadi akibat adanya pelanggaran prinsip kerja sama dalam film animasi “Moana” karya John Grierson. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitik. Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan dan menganalisis data. Metode pengambilan data yaitu dengan menggunakan metode simak yang diikuti dengan teknik catat. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan metode padan ekstralingual. Sumber data yang digunakan diambil dari tuturan tokoh dalam film “Moana”. Pendekatannya menggunakan kajian pragmatik. Hasil penelitian yang terungkap adalah bahwa dalam film animasi “Moana” terdapat pelanggaran prinsip kerja sama yaitu pelanggaran terhadap maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim relevansi, dan maksim cara atau pelaksanaan. Pelanggaran prinsip kerjasama tersebut memunculkan implikatur percakapan yang meliputi: ajakan, menolak, menangkan, memerintah, memuji, membantu, meremehkan, meminta bantuan, melindungi, membela, mencari perhatian, mempengaruhi, menghentikan, menegur, membuktikan, membetulkan kesalahan, dan menyemangati.
Nilai Religiusitas dan Solidaritas dalam Film Farha Karya Darin J. Sallam (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce) Ramadhan, Gia; Rohanda, Rohanda; Dayudin, Dayudin
JURNAL Al-AZHAR INDONESIA SERI HUMANIORA Vol 9, No 3 (2024): November 2024
Publisher : Universitas Al Azhar Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36722/sh.v9i3.3596

Abstract

This research analyses the social and cultural values in Darin J. Sallam's Farha by examining the relationship between Representament, Object, and Interpretant. The research uses a qualitative paradigm with a Charles Sanders Peirce semiotic analysis approach. Literature study is the method used based on data sources in the form of snippets of dialogue scenes from Farha's film published on the Netflix platform. The formal Object of this research is Charles Sanders Peirce's semiotics and the material Object is Farha Film by Darin J. Sallam. The results and discussion show several representations that can produce several interpretations. The explanation of the interpretation in this film is in the form of social and cultural values based on the theory expressed by Eduard Spranger. In this film, there are at least five social and cultural values consisting of religious, power, solidarity, theoretical, and art or aesthetic values. The various values presented in the film illustrate the setting of this film in Palestine, which at that time was hit by the Nakba Day event. The values in the film are expected to inspire many people, especially in seeing the phenomena in Palestine This research using Charles Sanders Peirce's Semiotics theory only found five social and cultural values and it is hoped that other researchers will continue this research with different theories.Keywords – Farha Film, Palestine, Peirce’s Semiotic,.
Analisis Afiks pada Fi`il Mujarrad dalam Surat Hud Rohanda, Rohanda; Cahya Mahesa, Dzikri; Dayudin, Dayudin
Kalamuna: Jurnal Pendidikan Bahasa Arab dan Kebahasaaraban Vol. 6 No. 1 (2025): Journal of Arabic Education & Arabic Studies
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) STAI DR. KHEZ. Muttaqien Purwakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52593/klm.06.1.05

Abstract

In an Arabic verb, there are several morphemes that form it. These morphemes are located at the beginning, middle, and end, which are usually called affixes. Affixes have an important role in a word, because the existence of these affixes can affect the meaning. One of the affixes that is often found in an Arabic verb is the affix located at the end (suffix), which functions to determine the subject, including in terms of distinguishing between masculine and feminine. This research aims to present some forms of affixes that exist in fi'il mujarrad in al-Qur'an surah Hud. The data of this research are Arabic words which are fi'il. This research belongs to descriptive qualitative research. The approach applied in this research is affixes on fi'il mujarrad viewed from the perspective of morphology. The data collection technique used is the documentation method with reading and recording techniques, and through two data analysis techniques, namely identification and analysis. The result of this research shows that in al-Qur'an surah Hud there are affixes on fi'il which are influential in (1) translation of fi'il mujarrad (2) formation of fi'il mujarrad (3) determination of subject or actor (4) distinguishing between masculine and feminine or determining gender (5) determination of quantity (6) determination of time (7) Indicators of command and prohibition sentences (8) Indicator of negation sentence . This research provides an overview of the influence of affixes on fi'il mujarrad, as well as providing a deeper understanding of the form and function of affixes in Arabic verbs
Hāl: Bentuk dan Fungsinya Dalam Novel Ibnu Jubair Fi Misr Wa Al-Hijāz Karya Kamil Kailani: Kajian Nahwu Heriady, Rifqi Zahran Azizi; Rohanda Rohanda; Dayudin Dayudin
Shaut al Arabiyyah Vol 12 No 2 (2024): JURNAL SHAUT AL-'ARABIYAH
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v12i2.52925

Abstract

Penelitian ini menganalisis jenis-jenis hal berdasarkan bentuk dan fungsinya dalam novel Ibn Jubair Fī Miṣr wa Al-Hijāz karya Kamil Kailani. Novel ini menggambarkan perjalanan Ibn Jubair dari Mesir ke Hijaz dengan menonjolkan aspek sosial, politik, arsitektur, dan perbendaharaan Islam. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menjelaskan jenis-jenis hal berdasarkan bentuk dan fungsinya dalam novel Ibn Jubair Fī Miṣr wa Al-Hijāz karya Kamil Kailani. Penelitian kualitatif ini menggunakan teknik baca dan catat untuk pengumpulan data, dengan analisis data menggunakan metode agih dengan teknik dasar ketentuan unsur langsung (BUL) dan pendekatan nahwu yang disajikan secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa novel ini mengandung hal yang berupa hal mufrad, hal syibhu al-jumlah yang berupa jar majrur dan zharf, serta hal jumlah yang berupa jumlah ismiyyah, namun tidak ditemukan hal jumlah yang berupa jumlah fi'liyyah. Berdasarkan fungsinya, hal muassasah ditemukan dalam novel ini. Sementara itu, hal muakkadah tidak ditemukan.